A/N:
Makasih buat reviewers di chapter 7: Lovely Orihime, NN, Ren-Mi3 NoVantA, NaruDobe Listachan, Sieg hart, dan baka nesiachan.
Seperti biasa bales review dari reviewers yang ga login:
NN: Betul sekali! Tapi yang jadi pertanyaan, apa semudah itu Naruto membujuk Naruko pulang? Nah, baca aja ya.
Sieg Hart: Siapa ya? Kalau dibilang yang nyebar itu author ada benernya juga. Saya kan yang nulis skenarionya. Hahaha. Jawaban dari pertanyaanmu nanti juga akan terjawab. Tungguin aja.
baka nesiachan: ini udah secepatnya kok. Review lagi buat chapter ini ya.
Review yang lain seperti biasa dibales lewat message.
Semoga chapter ini ga mengecewakan kalian. Selamat membaca Chapter 8 ;)
Onee-san
Naruto © Masashi Kishimoto
Genre: Family
Rate: T
Summary: Naruto sangat sayang pada kakaknya Karin. Sampai suatu hari terjadi hal yang paling ditakutkan Naruto. "Ini semua gara-gara Naruko dan Tou-san! Kalau saja mereka tidak datang dalam kehidupanku mungkin Nee-san masih..."
Warning: AU. OOC. Banyak kosa kata yang diulang. Mungkin juga ada typo. Jangan pedulikan keadaan ataupun peraturan di Konoha Airport yang 'agak' aneh, intinya jangan samakan dengan bandara pada umumnya.
Cerita Sebelumnya:
"Tak apa, karena mulai saat ini aku tidak akan menganggapmu saudaraku. Aku tidak pernah mengharapkan saudara sepertimu!"
Kata-kata Naruko kembali terngiang di telingaku. Aku benar-benar menghancurkan hubungan persaudaraan kami. Aku menunduk di bawah pohon itu, meratapi satu lagi kebodohan yang kuperbuat. Naruko baka!
"Naruto-kun?" Aku tersadar saat seseorang menepuk pundakku, Hinata. "Kamu baik-baik saja?" tanya Hinata. Dia semakin cemas pada keadaanku. Rupanya jam sekolah sudah berakhir karena Hinata membawakan tas sekolahku.
"Tidak apa-apa." Kurasakan HP di saku celanaku bergetar. "Dari Kaa-san."
"Halo Kaa-san?"
"Naruto, cepat pulang!"
"A-ada apa Kaa-san?"
"Naruko... dia... "
Glek! Aku punya firasat buruk tentang ini. Aku mohon jangan sampai terjadi apa-apa dengan Naruko.
"Naruko kenapa Kaa-san?" tanyaku panik.
"Dia pulang ke Inggris..."
"A-apa?!"
.
.
.
Chapter 8
-Akhir Dari Segalanya?-
"Naruko kenapa Kaa-san?"
"Dia pulang ke Inggris..."
"A-apa?!"
"Naruko... dia pulang ke Inggris..."
"..." Aku terpaku mendengar kabar kepulangan Naruko. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku saking kagetnya. Mulutku yang menganga semakin memperjelas kalau aku sedang amat sangat kaget. Jantungku berdetak nyaring dan berkali lipat lebih cepat dari biasanya. Dadaku terasa sesak seolah pasokan oksigen tidak mau masuk ke paru-paruku. Sungguh ini kabar yang jauh dari bayanganku. Aku memang sempat memikirkan kemungkinan terburuk dari perkataanku tadi siang, tapi ini jauh lebih parah dari apa yang aku pikirkan.
"Naruto?"
"A-aku segera pulang Kaa-san," kataku terburu-buru dan menutup telpon.
Aku memandang Hinata sejenak, dan tampaknya dia mengerti keadaanku. "Pulanglah, aku bisa pulang sendiri." Aku membalasnya dengan anggukan dan segera berlari mengambil motorku.
Akhir-akhir ini masalah datang begitu bertubi-tubi. Dan rupanya ini adalah puncak dari masalah-masalah itu. Aku tidak mau Naruko pulang ke Inggris! Aku tidak mau kehilangan Naruko! Aku harus bergerak cepat! Saat kunaiki motorku, tanganku bergetar hebat. Rasa panik ini memang tidak bisa aku sembunyikan. Jangan panik Naruto! Semua pasti akan baik-baik saja!
Di gerbang sekolah aku bertemu dengan Shikamaru. Kebetulan! Aku butuh bantuannya saat ini.
"Shikamaru!" Shikamaru menoleh ke arahku. "Aku butuh bantuanmu. Aku ingin kau cari penyebar gambar ini bagaimanapun caranya!" Kuberikan poster yang diberikan Naruko waktu istirahat tadi.
"Ok, aku sudah mengira kau akan menyuruhku ini. Jadi dari tadi aku sudah punya rencana." Shikamaru tersenyum dan menepuk pundakku.
"Oh ya?"
"Heh, kau pikir aku ini siapa? Baiklah, aku butuh beberapa kru tambahan. Bekerja sebagai team akan lebih cepat. Jadi mereka juga akan membantu," katanya sambil menunjuk ke belakangku. Kulihat teman-temanku yang lain sudah berkumpul di belakangku.
"Ta-tapi aku 'kan cuma minta bantuanmu," sergahku kembali menoleh kepada Shikamaru. Aku tidak mau merepotkan yang lain. Mereka sudah terlalu baik kepadaku.
"Hei, Naruto! Kami juga ingin membantu! Lu pikir temen lu cuma Shikamaru, hah!?" bentak Kiba. Kupandang wajah Kiba, kemudian kualihkan kepada teman-temanku yang lain. Mereka begitu bersemangat. Aku jadi terharu, mereka mau menolongku disaat seperti ini.
"Arigato... Minna..." Kubungkukkan badanku kepada mereka semua. Aku tidak tau harus membalas kebaikan mereka dengan apa. Tapi paling tidak ini menunjukkan rasa terima kasihku kepada mereka.
"Simpan ucapan terima kasihmu untuk nanti," lanjut Shikamaru. Kemudian dia melihat sekeliling, seperti mencari seseorang. "Oi, Ino, aku pinjam pacarmu sebentar."
Orang yang dimaksud Shikamaru, Sai, bergabung bersama kami.
"Baiklah aku jelaskan secara singkat." Wajah Shikamaru berubah serius. "Chouji, Kiba, Sasuke, Shino, Lee, Sai, kita punya misi besar sekarang. Dengar baik-baik. Kita akan mencari tau siapa penyebar foto ini."
Shikamaru menatap wajah teman-temanku yang lain bergantian, mereka semua mengangguk menyanggupi.
"Sai, kau selidiki gambar ini. Cari tau apa ada sidik jari yang bisa kau lihat. Lee, tolong kau bujuk Gai sensei agar mau meminjamkan kunci ruang komputer. Sasuke, aku pinjam laptopmu. Shino, gunakan laptop Sasuke untuk menjebol database siswa di sekolah ini dan mencocokan dengan sidik jari yang Sai temukan. Chouji, Kiba, aku butuh kalian untuk mengamankan gerbang sekolah selagi Shino dan Sasuke bekerja. Kiba, kalau perlu kau bawa juga anjingmu Akamaru. Kita bergerak tepat tengah malam! Detailnya akan aku ceritakan nanti malam. Mengerti?" lanjut Shikamaru panjang lebar. Yang lain kembali mengangguk bersamaan tanda mengerti. Rencana yang sempurna! Di saat seperti ini cowok berambut nanas itu memang selalu bisa diandalkan.
"A-arigato... aku berhutang budi kepada kalian." Aku kembali membungkuk di depan teman-temanku.
"Sudah jangan banyak bicara! Sekarang pulanglah. Kau akan kuberitahu secepatnya jika sudah ada hasilnya," kata Shikamaru lagi.
"Roger!"
"Kaa-san..." Aku masuk ke rumah terburu-buru. Kulihat Kaa-san duduk di kursi ruang tamu, wajahnya kusut. Saat melihat aku masuk, Kaa-san berdiri kemudian mendekatiku dan...
PLAKKK!
Kurasakan pipiku ditampar dengan sangat keras. Ini pertama kalinya Kaa-san menamparku. Semarah-marahnya dia kepadaku, dia belum pernah menamparku. Kalau memukul memang sering. Tapi kalau menampar pipi... ini pertama kalinya. Aku pikir pukulan dan tamparan jika dibandingkan dari segi tingkat kemarahan Kaa-san, maka lebih parah tamparan. Dan aku yakin Kaa-san sudah sangat sangat sangat marah sampai dia menamparku seperti ini.
"Kaa-san?" Kupandang wajah Kaa-san sekali lagi. I-ini buruk! Kaa-san SANGAT marah!
"Kali ini kau keterlaluan Naruto! Kaa-san pikir Kaa-san bisa mempercayaimu! Tapi lihat apa yang kau lakukan? Naruko pulang ke Inggris dalam keadaan menangis. Dia bilang kau tidak ingin dia jadi kakakmu. Apa sebenarnya yang ada di pikiranmu? Apa salah Naruko? Apa dia pernah punya salah kepadamu?"
"Bukan begitu Kaa-san..."
"Dari awal Kaa-san lihat kau sama sekali tidak berusaha menerima Naruko di keluarga ini. Kaa-san pikir kau akan berubah. Tapi akhirnya tetap seperti ini. Kenapa kau ini!? Kaa-san tidak mengerti jalan pikiranmu!"
"Kaa-san..."
"CUKUP! Sekarang kejar Naruko ke bandara!"
Tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung menuruti perintah Kaa-san.
"Satu hal lagi. Kaa-san tidak akan pernah memaafkanmu sebelum kau bawa Naruko pulang."
GLEK!
Kalimat terakhir Kaa-san tajam sekali. Aku tau dia serius dengan apa yang dikatakannya barusan. Dengan kata lain aku harus membawa pulang Naruko bagaimanapun caranya! Harus!
BEEP! BEEP! BEEP!
"Woy, jalaaannn!"
Entah sudah berapa kali aku berteriak-teriak. Setengah jam aku hanya diam di jalanan ini. Aku terjebak macet. Kemacetan yang parah! Bahkan motor saja tidak bisa lewat.
"Berisik! Di depan macet!" bentak pengendara lain di depanku.
Cih! Kalau seperti ini aku akan lama sampai ke bandara. Tak lama kemudian ada polisi lalu lintas yang berjalan di dekatku.
"Pak, di depan ada apa?" tanyaku kepada polantas tersebut.
"Ada mobil container yang mogok. Kemungkinan evakuasinya akan lama."
"Arggghhh sial!" rutukku lagi. Pengendara lain sudah mulai memandangku tidak suka, rupanya sudah kesal dengan ulahku yang dari tadi berteriak-teriak tidak jelas.
Hmph! Padahal masih sekitar 2 kilometer lagi dari bandara. Kalau menunggu evakuasi mobil, aku tidak akan cepat sampai di bandara. Aku tidak tau jam keberangkatan pesawat yang ke Inggris jam berapa. Tapi yang jelas semakin cepat aku sampai di bandara, maka kemungkinan aku mengejar Naruko akan lebih besar.
Kuparkirkan motor di pinggir jalan dan memutuskan untuk berlari. Berlari di antara kemacetan kendaraan disana. Paling tidak dengan berlari, aku semakin mendekati tempat dimana Naruko berada. Tunggu aku Naruko!
100 m
200 m
300 m
Aku terus berlari sekuat tenaga. Jarak sejauh ini tidak akan menjadi penghalang untukku! Terbayang senyuman Naruko yang manis itu. Aku ingin melihat senyuman itu lagi. Bayangan-bayangan itu membuatku tambah bersemangat untuk terus berlari.
400 m
600 m
800m
1000 m
Nafasku terengah-engah. Otot-otot kakiku sudah mulai protes ingin diistirahatkan. Reaksi normal yang ditunjukkan badanku. Tapi sekarang bukan saatnya menuruti keinginan badanku. Aku tidak bisa istirahat sekarang. Satu detik saja sangat berharga sekarang ini. Aku harus terus berlari! Entah darimana semangat yang kudapat ini. Seakan tidak mempedulikan keadaan kakiku yang mulai melemah.
1200 m
CLEK!
"Argghhhh..."
Sial! Kenapa ini? Otot pergelangan kakiku sakit sekali. Seolah dihantam oleh puluhan palu. Urat-uratnya menegang. Apa ini pengaruh dari terjun dari lantai 2 tadi siang? Kenapa baru terasa sekarang?
"Ugh..."
Aku memegang pergelangan kaki kiriku menahan rasa sakit yang tidak tertahankan ini.
Tidak! Ini belum seberapa dibanding apa yang aku lakukan kepada Naruko. Aku yakin rasa sakit di hati Naruko lebih dari ini. Jauh melebihi ini! Anggap saja ini sebagai hukuman untukku. Aku harus kuat. Kulangkahkan kakiku kembali, semakin cepat dan semakin cepat. Tiap langkah kakiku terasa sangat sakit seolah-olah kakiku ingin copot.
1400 m
1600 m
Konoha Airport sudah dekat. Aku kembali mempercepat lariku. Kakiku sudah mulai mati rasa. Ayolah, sedikit lagi. Tolong bertahan sebentar lagi.
1800 m
1900 m
1950 m
Pintu masuk bandara sudah di depan mata. Tunggu aku Naruko, aku akan membawamu pu...
BRAKKK!
Hal yang terakhir yang kuingat adalah sebuah mobil SUV yang melaju kencang dari arah kiri. Terdengar decitan rem melengking tapi bahkan rem sebagus apapun tidak akan mampu menghentikan mobil pada jarak sedekat itu. Kejadiannya sangat cepat sampai aku tidak bisa menghindar, begitu juga si pengemudi. Jangan salahkan pengemudinya, karena akulah yang salah karena menerobos lalu lintas saat lampu memang sedang hijau. Aku tidak hati-hati karena terlalu fokus ingin mencapai bandara. Mobil tersebut menghantam sisi kiri tubuhku dan mengirimku hingga terpental beberapa meter. Kurasakan tubuhku melayang dan 2 detik kemudian membentur aspal. Dan kesadaranku mulai menghilang...
"Naruko..."
Hitam.
Hitam kelam.
Itulah yang kulihat sekarang. Sebuah warna gelap yang mengelilingiku. Kemudian aku bangun dan melihat sekeliling. Tidak ada apa-apa lagi kecuali kegelapan, bahkan yang kupijak juga berwarna hitam. Memberikan kesan kalau tubuhku terlihat melayang.
"Apa aku sudah mati?"
Tiba-tiba setitik cahaya muncul di belakangku. Semakin lama semakin terang, membuat kegelapan yang tadi mengelilingiku menghilang. Tak lama kemudian muncul sosok seseorang berambut merah pendek.
BLETAK! Kurasakan kepalaku ada yang menjitak.
"Baka! Kau belum mati!"
"Ka-Karin Nee-san?" Karin-Neesan, sosok yang benar-benar kurindukan. Amat sangat kurindukan.
"Lama tidak bertemu Naruto..."
"N-N-Nee-saaaannn..." Tanpa pikir panjang, serta merta aku langsung menghambur memeluk Karin-Neesan.
"Heh, sebegitu kangennyakah kau kepadaku?" tanya Karin-Neesan sambil mengacak rambut jabrikku.
"Tentu saja! Kau pergi begitu cepat. Aku sangat kehilanganmu, hiks.." Air mata keluar dari kedua bola mata saphire-ku tanpa bisa kukontrol. Air mata yang bertahun-tahun tidak pernah aku keluarkan. Aku mengeratkan kembali pelukanku, seolah tidak mau melepasnya.
"Gomen, aku juga tidak tau kalau aku akan pergi secepat ini," ujar Karin-Neesan membalas pelukanku. Ada nada kesedihan disana. "Sudah jangan cengeng, kau sudah 17 tahun 'kan sekarang?"
"Ya," ucapku sambil mengangguk.
"He, adikku sudah besar sekarang."
"Ehehehe. Begitulah," kataku sambil menunjukkan cengiran khasku. Kulepas pelukanku kepada Karin-Neesan, "Nee-san..."
"Hmm?" Karin Nee-san menghapus air mata dipipiku dengan jari tangannya.
"Apa kau akan pulang bersamaku?" tanyaku ragu-ragu.
"Baka! Aku 'kan sudah mati. Mana bisa pulang denganmu."
"Eh? Terus kalau kita bertemu seperti ini berarti aku juga sudah mati?"
"Sudah kubilang 'kan kau belum mati!"
BLETAK!
"Ouw, jangan menjitakku terus. Jadi kita ini dimana sebenarnya?"
"Entahlah aku juga tidak tau." Karin-Neesan mengedarkan pandangan ke segala arah kemudian kembali menatapku. "Ngomong-ngomong yang seharusnya kau ajak pulang bukan aku tapi adikku, yaitu Nee-sanmu yang satu lagi, Naruko."
"Ah, aku baru ingat, aku sedang mengejarnya ke bandara! Dan aku... aku tertabrak..." Aku mulai mengingat kejadian-kejadian sebelumnya.
"Ya, tapi tenang saja kau tidak apa-apa. Aku tau kau itu kuat. Tertabrak seperti itu tidak berarti bagimu. Yang terpenting sekarang cepatlah bangun, carilah Naruko dan ajak dia pulang."
"Tapi aku ingin tetap bersamamu Nee-san." Jujur aku masih ingin menghabiskan waktu dengan Karin-Neesan. Masih banyak hal-hal yang ingin kulakukan bersamanya.
"Jangan khawatir," ucap Karin-Neesan memegang kedua pundakku, " karena aku akan selalu ada di hatimu..."
"Nee-san..." Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Kata-kata Karin-Neesan memang selalu bisa menenangkanku. Lagipula kata-katanya itu benar, biar bagaimanapun dunia kami sudah berbeda, kami tidak mungkin terus bersama seperti ini. Aku harus kembali ke duniaku dan menyelesaikan urusan yang belum aku selesaikan: membawa pulang Naruko.
"Oh ya, satu lagi. Aku punya sebuah permintaan. Aku ingin kau membantuku mengabulkannya."
"Tentu saja. Apa itu?" tanyaku penasaran.
"Aku ingin..." Karin-Neesan terdiam sejenak, kemudian melanjutkan, "ingin keluarga Namikaze berkumpul dan hidup bahagia kembali seperti 15 tahun lalu. Apa kau mau berjanji untuk mengabulkan permintaanku itu?"
"Ya, aku janji!" jawabku mantap.
"Aku pegang janjimu. Dan sepertinya waktuku sudah habis. Aku harus pergi..."
"Tu-tunggu Nee-san aku masih ingin ngobrol denganmu."
"Sssstt, dengarkan pesan terakhirku," Karin-Neesan menarikku kedalam pelukannya, "jangan jadi anak yang rewel, makan yang banyak, tapi jangan ramen terus, jangan bangun kesiangan terus, mandi setiap hari, jangan lupa kasih makan gamakichi, eskrim di freezer buatmu saja, jangan lupa siram bunga kesayanganku, dan yang paling penting jangan buat Kaa-san, Tou-san dan tentu saja Naruko bersedih, buat mereka senang. Sayonara, Naruto..."
"Nee-saaaannnn..." Sosok Karin-Neesan perlahan-lahan menghilang bersamaan dengan pandanganku yang mengabur.
"Nee-saaannnn!" Aku terbangun dan mendapati diriku terduduk di aspal. Orang-orang mengeliliku bermaksud menolong, tak ketinggalan pengemudi yang tadi menabrakku juga tampak khawatir di sampingku.
"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir." ujarku berusaha berdiri.
Sang pengemudi SUV membanduku berdiri. "Kau yakin tidak apa-apa?" tanyanya masih khawatir. Aku membalasnya dengan anggukkan.
"Aku harus cepat pergi, permisi," kataku sambil menerobos kerumunan orang dan bergegas memasuki bandara.
"Wuow, hebat! Dia tidak apa-apa setelah tertabrak begitu keras." Terdengar ucapan-ucapan kekaguman dari orang-orang disana. Sebenarnya aku TIDAK 'tidak apa-apa'. Kurasakan tangan kiriku sakit. Aku yakin tulangku ada yang retak di beberapa tempat. Aku tidak mempedulikannya, yang terpenting sekarang adalah Naruko.
Baru saja beberapa langkah aku memasuki bandara, kulihat rambut pirang yang diikat twintails dari kejauhan. Tidak salah lagi, itu pasti Naruko! Aku berlari menuju sosok tadi. Tenaga yang tadi terkuras entah kenapa kembali muncul lagi pada diriku. Rasa sakit pada pergelangan kaki, tangan kiri dan bahu kiriku sama sekali tidak aku pedulikan. Sosok tadi berjalan mendekati gate 2, aku harus mengejarnya sebelum dia masuk kesana. Kupercepat lagi lariku hingga aku berhasil mengejarnya, kutahan pergelangan tangannya.
"Naruko!"
"Kyaaaaa! What the hell are you doing?" Hah? Ternyata sosok berambut pirang itu bukan Naruko! Hanya rambut mereka saja yang mirip.
"Ah, I'm sorry, I thought you were my sister."
"Ju-Just leave me alone!"
"Sorry about that."
Argghhhh! Aku hanya membuang-buang waktu! Aku tidak akan berhasil menemukan Naruko kalau begini terus. Kuputuskan untuk bertanya ke bagian informasi tentang penerbangan ke Inggris. Dan mereka bilang penerbangan ke Inggris penumpangnya masuk lewat gate 8 dan pesawat tujuan Inggris sebentar lagi akan take off.
Tanpa pikir panjang aku kembali berlari dan menuju gate 8. Jaraknya lumayan jauh dari tempatku berada sekarang. Tapi aku harus tetap yakin! Aku pasti berhasil menemui Naruko!
Sesampainya di dekat gate 8, kuedarkan pandangan ke segala arah mencari Naruko sambil tetap berlari. Kali ini aku menemukannya. Naruko... Aku menemukannya. Dan tidak salah orang karena sekarang wajah Naruko yang kulihat. Aku senang bukan main karena sebentar lagi aku bisa membawanya pulang.
Naruko sudah akan masuk ke gate 8 tapi kemudian ia berbalik seperti mencari seseorang. Siapa yang dicarinya? Aku tidak peduli itu. Kupercepat lagi lariku agar bisa mencapai tempat Naruko dengan segera.
"Naruko!" Aku berteriak sekuat tenaga agar Naruko bisa mendengarku. Tapi percuma, jarak kami masih terlalu jauh. Naruko akhirnya masuk ke gate 8 dan bersamaan dengan itu pintu gate ditutup.
Aku tidak percaya ini terjadi, ini tidak mungkin. Ini pasti hanya mimpi. Padahal aku sudah menemukannya, hanya kurang beberapa detik saja. Kulanjutkan lariku sebelum 2 orang petugas bandara menahanku.
"Maaf anda harus punya tiket dulu Tuan."
"Sebentar saja pak, sebentar lagi saudara saya ke Inggris. Saya harus mengejarnya."
"Tidak bisa. Ini sudah prosedur."
"Tolonglah pak." Aku membungkuk berharap bisa diizinkan masuk.
"Tetap tidak bisa Tuan."
Bagaimana ini? Aku tidak boleh menyerah hanya karena 2 orang petugas ini menahanku. Tidak ada jalan lain...
"Aku tidak punya waktu berurusan dengan kalian."
BUGH! DZIGH!
Kupukul wajah kedua orang petugas bandara itu. Gomen, aku sedang buru-buru, tidak ada waktu untuk berdebat.
"Ugh... Security! Tangkap bocah pirang itu."
"All unit-all unit-need back up-... Segera kepung dari segala arah."
"Tangkaaap!"
"Narukoooooooo!" Setelah sampai di gate 8, kupukul-pukul pintu gate 8 yang sudah tertutup itu sambil berteriak-teriak. Masa bodoh dengan tanggapan orang-orang disana!
"Hei dasar bocah keras kepala! Ayo kesini... Hei..."
"Narukooooo!"
BUKH!
Kurasakan pukulan sebuah tongkat di tengkukku, rupanya Security bandara sudah mengepungku. Badanku melemas. Kesadaranku mulai melemah. Kulihat dari jendela besar disana pesawat yang Naruko naiki sudah take off. Aku terjatuh berlutut. Aku terlambat. Semuanya sia-sia.
Kenapa akhirnya jadi seperti ini? Ini sama sekali bukan yang aku harapkan. Kupukul-pukul pintu gate 8 itu dengan sisa-sisa tenagaku meskipun aku tau itu tidak merubah keadaan. Air mata kembali mengalir di kedua bola mata shapire-ku. Tidak, ini berbeda dengan air mata sebelumnya. Ini kenyataan, bukan di dalam alam bawah sadar seperti tadi. Aku bisa merasakan alirannya turun ke bibir dan daguku.
Aku memegang dadaku yang kembali terasa sakit. Rasa sakit yang berlipat-lipat dari sebelumnya. Ini terlalu sakit. Efeknya menyebar ke seluruh badanku, kerongkonganku mengejang, wajahku memanas dan air mata terus mengalir tanpa henti.
Ditengah kesadaran yang semakin menipis, aku sadar sesuatu.
Disaat Naruko meninggalkanku seperti ini, hatiku merespon dengan rasa sakit yang luar biasa. Ini bukan suatu kebetulan semata. Tapi sebuah respon naluriah seorang adik kembar kepada kakak kembarnya, sebuah perasaan yang muncul dari seorang adik kembar kepada kakak kembarnya, sebuah respon yang murni berasal dari hatiku. Oleh karena itu aku sadar...
Aku sangat menyayangi Naruko...
Bersamaan dengan itu kesadaranku menghilang...
Apa ini akhir dari segalanya?
To Be Continue...
A/N:
Naruto: Ano, apa ini akhir dari segalanya?
rifuki: Ya...
Naruko-chan: NANIII?
rifuki: Ahaha, bercanda. Tentu saja tidak berakhir seperti ini. Saya cuma bosen aja kalo endingnya di bandara. Pemeran utama mau keluar negeri, tapi di detik-detik terakhir pemeran utama lainnya mencegah dan memohon agar pemeran utama itu ga pergi. Akhirnya ga jadi pergi dan berpelukan. Ending yang pasaran dan gampang ditebak kalo gitu (Jangan-jangan para readers juga berpikir kalo endingnya akan seperti itu ya? haha). Saya cuma pengen bikin yang agak beda aja.
Dan satu lagi, apa readers ada yang menyadari kalo di chap 6, 7 dan chap 8 ini Naruko sifatnya berubah dari chapter-chapter sebelumnya? Sebagai contoh di chap 6 dia bisa marah hanya karena Naruto tidak bisa merayakan pesta dengannya? Padahal kalo dilihat dari sikap-sikapnya di chapter awal, harusnya dia bisa memaafkan Naruto 'kan? Nah, sebenernya masalahya ga se-simple itu.
Apa yang terjadi sebenarnya? Nantikan chapter 9. Dan khusus chapter 9 ceritanya dari sudut pandang Naruko (Naruko POV). (Yeeee... *Naruko sorak kegirangan*).
Ok deh, sampai ketemu di chapter 8. Jangan lupa review, review, review... :D
Arigato
-rifuki-
