A/N: Makasih buat reviewers di chapter 8: Lovely Orihime, Ren-Mi3 NoVantA, sketsa gelap, NaruDobe Listachan, Kara 'Lluvia' Couleurs dan Sieg hart.
Bales reviewers yang ga login dulu:
Kara 'Lluvia' Couleurs: Iya nih, kalo kamu ga review rasanya ada yang kurang. Ahaha *lebay* Sesama anak kuliahan saya juga ngerti kok, saya aja sibuk, apalagi kamu semester 8. (Meskipun saya kaget juga baru tau kamu udah kuliah *bungkuk bungkuk sama senior*)
Iya emang abal, malah Karin 'kan ga tau kalo di hari kematiannya Naruto udah makan 1 eskrimnya.
Biarin Sasuke cuma minjemin laptop, kalo ga ada dia, rencana ga bisa jalan toh?
Jangan salah, Akamaru 'kan 'penjaga' gerbang yang pas. Dijamin satpam sekolah juga takut ngadepin anjing guede gitu. haha
Gomen gomen *bungkuk bungkuk lagi* waktu itu salah ketik nama. Kirain itu huruf 'I'. Ok deh, saya tunggu review selanjutnya Senpai :)
Sieg Hart: Woah, Naruto gak mati kok. Kalo mati ga seru dong. Itu 'kan cuma judul doang. Lagipula ada tanda tanya d akhirnya. 'Akhir dari segalanya?'
Tunggu aja chapter selanjutnya ya. Pokoknya yang jelas Naruto ga mati, kalo luka parah sih iya. Bayangin dulu aja separah apa luka-luka Naruto dari chapter kemaren. Hehe
Review lagi ya.
...
Hmmm, dari awal reviewersnya segitu terus ga nambah. Padahal di story stat, visitor fanfic ini lumayan banyak (meski itu ga menjamin). Tunjukanlah diri kalian wahai para silent readers, bentar lagi fanfic ini selesai lho. Paling tidak, saya pengen tau siapa aja yang udah baca fanfic ini.
Wokeh, seperti udah dijanjikan sebelumnya, khusus chapter 9 ini full Naruko POV dengan tujuan agar para readers tau konflik sebenarnya. Selamat membaca Chapter 9 ;)
Onee-san
Naruto © Masashi Kishimoto
Intro terinspirasi dari fanfic Grown Out of You © Cecily-chan
Genre: Family
Rate: T
Summary: Naruto sangat sayang pada kakaknya Karin. Sampai suatu hari terjadi hal yang paling ditakutkan Naruto. "Ini semua gara-gara Naruko dan Tou-san! Kalau saja mereka tidak datang dalam kehidupanku mungkin Nee-san masih..."
Warning: AU. OOC. Alur kecepetan. Banyak kosa kata yang diulang. Mungkin juga ada typo. Full Naruko POV.
Naruto: Namaku Naruto.
Naruko: Namaku Naruko.
Naruto: Remaja biasa yang yang menjalani kehidupan biasa pula.
Naruko: Remaja biasa yang yang menjalani kehidupan biasa pula.
Naruto: Keadaan berubah saat aku bertemu dengan kembaranku, Naruko.
Naruko: Keadaan berubah saat aku bertemu dengan kembaranku, Naruto.
Naruto: Aku tidak bisa menerima Naruko di kehidupanku.
Naruko: Naruto belum bisa menerimaku dalam kehidupannya.
Naruto: Namun Naruko tidak menyerah agar berusaha dekat denganku.
Naruko: Namun aku terus berusaha agar bisa dekat dengan Naruto.
Naruto: Seiring berjalannya waktu, kami mulai dekat. Sampai sesuatu terjadi dan merusak kedekatan kami.
Naruko: Seiring berjalannya waktu, kami mulai dekat. Sampai sesuatu terjadi dan merusak kedekatan kami.
Naruto: Persaudaraan kami hancur, dan kupikir itu salahku.
Naruko: Persaudaraan kami hancur, dan kupikir itu salah Naruto.
Naruto: Aku terus berusaha meminta maaf kepada Naruko.
Naruko: Aku tidak akan pernah memaafkan Naruto.
Naruto: Naruko tidak tau betapa berartinya kehadirannya disini untukku.
Naruko: Naruto tidak pernah sepenuhnya menginginkan kehadiranku di sini.
Naruto: Sekarang aku sadar...
Naruko: Sekarang aku sadar...
Naruto: Aku sangat menyayangi Naruko...
Naruko: Aku sangat membenci Naruto...
.
.
.
Chapter 9
-Kenyataan-
"Masih kurang pas. Kurang manis."
"Sudahlah Naruko-chan, mau sampai kapan kamu mengulang-ulang bikin kue? Sudah 4 kue yang kamu buat lho. Yang terakhir itu juga menurut Kaa-san sudah enak kok."
"Tapi Kaa-san, aku ingin memberikan kue yang benar-benar spesial untuk Naruto-kun."
"Hmm, kamu emang kakak yang baik ya."
"Hehe."
"Ok, tapi ini yang terakhir ya, udah ini Kaa-san ga bakal bantu lagi, udah ngantuk."
"Haaaiii, kali ini pasti berhasil."
Jam menunjukkan pukul 2 A.M saat ini. Wah, sekarang sudah tanggal 10 Oktober! Hari ulang tahunku dan juga Naruto. Aku tersenyum bahagia menyadari kalau umurku sekarang sudah 17 tahun. Umur yang sering orang bilang 'sweet seventeen'. Semoga benar apa kata orang-orang itu.
Tapi sudahlah, bukan saatnya memikirkan hal itu. Aku harus tetap konsentrasi membuat kue ulang tahun ini. Kue ulang tahun spesial yang akan kuberikan kepada Naruto. Aku tersenyum-senyum sendiri membayangkan apa tanggapan Naruto mengenai kue ini. Aku juga sudah menyiapkan pesta kejutan sederhana untuknya dari 2 hari lalu. Tentunya dengan bantuan Tou-san dan Kaa-san. Mereka berdua juga sudah berjanji akan meluangkan waktu di hari Minggu ini.
Kucampur adonan kue dengan beberapa sendok orange juice yang sudah dibuat Kaa-san. Dengan bahan alami seperti ini rasanya juga akan lebih enak. Yummy, Naruto pasti suka kue dengan rasa jeruk ini.
"Segitu cukup juice-nya?" tanya Kaa-san.
"Cukup Kaa-san."
"Nah, tinggal kita masukan ke oven. Semoga rasa kue kali ini pas."
Kulihat Kaa-san sudah capek sekali. Wajar saja sih, dari kemarin malam dia sudah membantuku membuat kue ini.
TING!
Bunyi oven yang menandakan kue sudah matang mengalihkan perhatianku. Bahkan Kaa-san yang dari tadi sudah terkantuk-kantuk kembali tersadar.
"Bagaimana rasanya?" tanya Kaa-san penasaran. Aku memotong sebagian kecil kue berwarna orange muda yang sudah matang itu untuk mencobanya. Dan setelah kumakan, rasanya...
"Perfect!" kataku sambil mengacungkan jempol.
"Fiuuhh, bagus deh." Kaa-san menghela nafas lega.
"Yaudah Kaa-san tidur aja, biar urusan menghias aku yang urus. Aku bisa kok," ujarku, tak tega melihat Kaa-san yang sudah capek begitu.
"Yakin?" tanya Kaa-san lagi.
"Hn," kataku memastikan, "cepat sana tidur." Kudorong badan Kaa-san setengah memaksa agar segera menuju kamarnya.
"Baiklah, jangan terlalu maksain diri ya. Oh ya, ada yang lupa," Kaa-san berbalik dan memelukku tiba-tiba, "happy birthday Naruko-chan..." Aku membalas pelukannya. Pelukan seorang ibu yang kurindukan sudah sejak lama. Aku bersyukur dia menjadi ibu kandungku, karena bagiku dia ibu yang sempurna.
"Terima kasih Kaa-san..."
"Naruko-chan? Masih menghias kue?" Kaa-san datang dari arah kamarnya memasuki dapur.
"Udah selesai kok Kaa-san," jawabku sambil nyegir.
Kemudian Kaa-san mulai memasak untuk sarapan pagi ini. Setelah semua matang, aku membantu Kaa-san menata meja makan dan pandangan kami bertemu. Kaa-san memperhatikan mataku yang memerah dan area hitam di bawah mataku.
"Hei, jangan bilang kamu ga tidur semalaman?" Kaa-san mulai curiga.
"Eh, itu..." Sekarang sudah jam 6 A.M. Kalau boleh jujur memang aku tidak tidur semalaman. Mataku sudah berat dan pandanganku mulai kabur. Ditambah lagi badan yang lelahnya minta ampun. Tapi aku puas karena sudah selesai menghias kue buatanku. Naruto pasti akan senang menerimanya.
"Ohayou Kaa-san, Naruko," sapa Naruto yang saat itu menuruni tangga. Baguslah Naruto datang, dengan begitu perhatian Kaa-san teralihkan dan aku tidak harus menjawab pertanyaan Kaa-san tadi. Aneh juga ya Naruto sudah bangun sepagi ini. Untung aku sudah menyimpan kue di tempat yang aman jadi dia tidak melihatnya.
"Ohayou Naru-chan," seru Kaa-san.
"Naruto-kuuunnnn, selamat ulang tahuuuun..." Aku berlari dan langsung memeluk Naruto. Dia balas memelukku dan mengusap pelan rambutku.
"Selamat ulang tahun untukmu juga, Naruko," balas Naruto setelah kami melepas pelukan dan tersenyum ke arahku. Uuuh, senyuman manis yang bisa melelehkan hati gadis manapun, termasuk aku kakaknya. Aku bersyukur dia sudah mulai ramah kepadaku. Usahaku beberapa minggu ke belakang ini tidak sia-sia.
"Selamat ulang tahun ya." Kali ini Kaa-san yang memeluk Naruto. "Kaa-san doakan yang terbaik buat kamu."
"Terima kasih Kaa-san," kata Naruto.
"Hei Naruko, kamu membantu Kaa-san memasak ya?" tanya Naruto. Hah? Kenapa dia tanya gitu? Sepertinya ada yang membuatnya penasaran. Ah, pasti ada noda di pipiku. Aku membersihkannya panik.
"Kaa-san dan Naruko-chan baru selesai membuat..." Tidak! Kaa-san jangan bocorkan rahasia kita!
"Aku membantu Kaa-san memasak sarapan!" seruku cepat, sebelum Kaa-san keceplosan. Kupandang Kaa-san, memberi sinyal yang kuharap dimengerti olehnya.
"Ah, ia maksud Kaa-san juga itu. Sekarang ayo kita sarapan." Fiuhhh, syukurlah Kaa-san menyadarinya. Hampir saja.
"Tou-san, sarapan dulu." Kaa-san berteriak memanggil Tou-san yang ada di teras belakang rumah. Tak lama kemudian Tou-san masuk ke dapur.
"Hei, selamat ulang tahun untuk kalian berdua." Tou-san mengacak rambutku dan Naruto kemudian bergabung duduk bersama kami. "Mau hadiah ulang tahun apa?"
"Jangan repot-repot Tou-san, aku sudah cukup bahagia bisa berkumpul dengan kalian di hari ulang tahun ini," ucapku tulus.
"Setuju!" seru Naruto semangat.
"Kalian jangan sungkan, kalau begitu biar Tou-san yang tentukan. Kalian tunggu saja," kata Tou-san. Setelah itu sarapan kami berjalan seperti biasa, diselingi candaan dan penuh tawa. Aku senang berada di keluarga ini. Inilah keluarga yang selama ini aku impikan.
"Email dari siapa?" tanyaku kepada Naruto saat ringtone HPnya terdengar. Saat itu kami sedang duduk berdua di sofa sambil nonton Naruto Shippuden Movie 4: The Lost Tower.
"Sasuke. Dia menyuruhku ke rumahnya. Mau ikut?" Jujur, aku kecewa mendengarnya. Disaat aku ingin seharian menghabiskan waktu dengan Naruto, minimal di hari ulang tahun seperti ini, dia malah pergi ke luar rumah. Padahal aku tidak berharap banyak, hanya ingin Naruto tetap disini.
"Aku disini saja," jawabku, berusaha bersikap biasa. Naruto beranjak dari sofa, kutahan tangannya. "Pulangnya jangan lama-lama ya?"
"Kenapa?"
"Ti-tidak, hanya saja... ah, pokoknya jangan lama-lama."
"Baiklah, akan kuusahakan. Aku pergi."
"Hati-hati," pesanku kepadanya sambil tersenyum.
Mudah-mudahan Naruto pergi ke rumah Sasuke tidak akan lama. Sebenarnya aku merencanakan pesta kejutan untuk Naruto siang ini, saat Tou-san dan Kaa-san pulang dari membeli kado. Melihat keadaannya seperti ini, terpaksa aku mengundurnya sampai Naruto kembali dari rumah Sasuke. Tapi tidak apa-apa, aku harus yakin kalau Naruto akan pulang secepatnya. Sambil menunggunya, aku bisa mempersiapkan pesta dengan lebih leluasa.
Tak banyak waktu yang kuhabiskan untuk mempersiapkan pesta. Karena sebenarnya sudah disiapkan dari kemarin. Aku tinggal menatanya saja. Meja makan sudah kutata dengan teratur, kutambahkan beberapa hidangan tambahan dan kuhias dengan beberapa bunga.
Tak lama kemudian, Tou-san dan Kaa-san pulang.
"Woah, sudah siap semua ya? Oh ya Naruko-chan, ini hadiah dari kami." Tou-san memberikan 4 potongan kertas. "Bagaimana menurutmu?"
"Wah, ini tiket wisata keluarga ya? Pas sekali! Pasti asik kalau kita berempat kesana. Wow, ada outbond-nya juga. Tou-san, Kaa-san, arigato," kataku sambil memeluk Tou-san dan Kaa-san.
"Ya, sama-sama," kata Tou-san, Kaa-san juga ikut tersenyum senang.
Baiklah! Semua sudah siap, sekarang tinggal menunggu Naruto pulang. Kupandang kue buatanku sekali lagi. Aku tersenyum sendiri, Naruto pasti akan suka kue ini. Hihi, lama-lama aku bisa gila karena sering tersenyum sendiri seperti ini.
Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, tapi orang yang kunanti-nanti belum juga kembali. Hari sudah sore, aku masih tetap menunggu di meja makan. Kuyakinkan diriku kalau Naruto pasti datang sebentar lagi. Tiba-tiba HPku berbunyi menandakan ada email masuk.
From: Naruto
Subject: Kesini
Message: Naruko, datanglah ke Yakiniku Q. Aku mau mentraktir semua teman-temanku, jadi kamu juga harus ikut. Selain itu hari ini 'kan ulang tahunmu juga. Kita rayakan bersama disana.
Aku kaget membaca email tersebut. Kalau seperti ini, Naruto pasti tidak akan ada waktu untuk merayakan pesta denganku dan juga dengan Tou-san serta Kaa-san. Pasti pesta dengan teman-temannya akan sampai malam. Ini tidak beres. Naruto harus pulang bagaimanapun caranya. Aku harus menjemputnya.
Kulangkahkan kakiku menuju pintu keluar, sebelum Kaa-san memanggilku.
"Naruko-chan? Mau kemana?"
"Menjemput Naruto-kun," jawabku tanpa menghentikan langkahku.
Dari kejauhan kulihat restoran Yakiniku Q. Sudah banyak teman-teman sekelasku yang berada disana, ada beberapa yang masih ngobrol di luar. Tapi sebelum aku masuk ke dalam restoran, seseorang menarik tanganku dan membawaku ke suatu gang yang sepi. Oh, kuralat. Bukan seseorang, tapi beberapa orang, 3 orang tepatnya.
"A-apa mau kalian? Lepaskan!" Dua orang diantara mereka memegang tanganku.
"Ow, tuan putri yang satu ini rupanya pandai memberontak. Tapi itu tidak berguna karena kau kalah jumlah."
"Tayuya?" Setelah kuperhatikan dengan seksama, aku mengenali mereka bertiga. Perempuan di depanku adalah Tayuya, dan yang memegang tanganku adalah Shion dan Yakumo, mereka teman sekelasku. "Apa yang kalian lakukan?"
"Diam!" bentak Tayuya, "aku sudah muak denganmu!"
"Ya, berlagak seperti tuan putri, sok cantik. Menyebalkan!" timpal Shion. Gadis pirang berambut panjang itu mengeratkan pegangannya di tanganku.
"A-apa maksud kalian?" tanyaku tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan mereka.
"Kau pikir semua teman sekelas menyukaimu? Tidak! Kami bertiga membencimu!" Tayuya memegang leherku seperti akan mencekik.
"Dan yang membencimu bukan hanya kami, dari kelas lain juga banyak!" timpal Shion lagi.
"Mereka juga tidak suka sikapmu yang sok kecentilan! Dasar cewek murahan!" Tayuya menjentikan telunjukknya di keningku
"Cukup!" teriakku. Aku sudah tidak kuat. Apa benar ada banyak orang yang tidak menyukai kehadiranku disini? Kukira semua orang senang kalau aku disini.
"Kenapa? Mau mengelak? Kau pikir rok pendek dan baju seragam ketat yang selalu kau pakai itu apa hah?"
Aku menunduk menyembunyikan mukaku. Tayuya benar, aku akui aku suka memakai pakaian minim. Tapi kalau masalah berpakaian, itu memang sudah kebiasaanku. Mau bagaimana lagi? Kebiasaan itu susah aku hilangkan.
"Sekarang kenapa kau kemari? Ingin berpesta bersama kami?" tanya Shion.
"Bukan!" jawabku dengan intonasi yang keras. Aku tidak mau mereka salah paham akan maksud kedatanganku kesini. "Asal kalian tahu, aku kesini cuma akan membawa Naruto-kun pulang."
"Hah?" Tayuya bertukar pandang dengan Shion kemudian keduanya terseyum sinis. "Mana mungkin Naruto akan menurutimu?"
"Tentu saja dia mau!" bentakku tidak mau kalah.
"Oh ya? Jangan terlalu percaya diri. Naruto pasti akan memilih teman-temannya daripada kakak tidak berguna sepertimu! Hahaha." Tayuya dan Shion tertawa puas sekali. Tapi karena kata-kata mereka, aku jadi berpikir apa iya Naruto akan memilih pulang bersamaku. Mulai muncul keraguan di hatiku.
"Tayuya, Shion, cukup! Ini sudah berlebihan, cepat kita akhiri saja." Kali ini Yakumo yang dari tadi diam, angkat bicara.
"Huh, kamu ga asik Yakumo." Tayuya mendekat dan menatap mataku tajam, sekarang aku benar-benar takut. "Hei, cewek murahan, dengar baik-baik! Tujuan kami sebenarnya adalah ingin memperingatimu. Kami ingin kau pergi jauh-jauh dari hadapan kami, pergi dari sekolah kami, atau kalau perlu pergi dari Jepang! Kami sudah muak melihatmu!"
Aku kaget mendengar kata-kata Tayuya. Sebegitu bencikah mereka padaku? Mereka melepasku dengan kasar dan meninggakanku sendiri. Kemudian aku bersandar di tembok, badanku gemetar. Aku yakin mereka tidak main-main dengan ucapan mereka.
"Satu hal lagi." Tayuya berbalik, menoleh ke arahku. "Kalau kau memberitahu Naruto tentang pertemuan kita ini, kau akan tau akibatnya."
GLEK!
Aku menelan ludahku. Tadinya aku sempat berpikir untuk menceritakan hal ini kepada Naruto.
Tapi tunggu dulu, kalau aku bisa mematahkan pendapat Tayuya tadi, mungkin bisa sedikit menenangkan hatiku. Baiklah, sekarang aku harus membawa pulang Naruto. Akan kubuktikan kalau Naruto akan memilihku dibanding teman-temannya, kemudian pulang denganku. Akan kubuktikan kalau pendapat Tayuya mengenai Naruto itu salah!
Aku berjalan memasuki restoran Yakiniku Q. Kucari keberadaan kembaranku di antara keramaian restoran. Tak lama kemudian aku menemukannya, aku berjalan ke arahnya.
"Naruko..." Naruto berdiri dan tersenyum ke arahku.
"Naruto-kun..." Aku menghela nafas sesaat. "Aku kesini bukan untuk bergabung bersama kalian."
"A-apa?" Naruto tampak kebingungan. Kuputuskan untuk membawanya ke tempat yang sepi agar bisa bicara dengan leluasa.
Setelah dirasa pas, aku melanjutkan perkataanku. "Aku kesini ingin mengajakmu pulang. Aku sudah menyiapkan pesta kecil di rumah."
Naruto terlihat berpikir keras. Sesekali dia mengarahkan pandangannya ke arah teman-teman sekelas kami yang sudah berkumpul. Setelah itu dia menatapku tepat di mata. "Aku tidak bisa pulang sekarang, aku sudah janji pada teman-temanku..."
"A-apa tidak bisa diundur?" tanyaku kecewa. Bukan ini jawaban yang aku harapkan Naruto. "Tou-san dan Kaa-san sudah menunggu di rumah."
"Tapi... mana bisa aku seenaknya begitu. Kamu lihat? Sekarang teman-teman sudah berkumpul." Dia memandang teman-teman sekelas kami sekali lagi. "Aku tidak enak kalau harus mengundur atau membatalkan acara ini."
"Aku mohon, sekali ini saja..." ucapku pelan. Kupegang tangan kanan Naruto berharap hatinya luluh.
"Tidak bisa Naruko, sudah kubilang 'kan, aku tidak enak pada teman-teman."
"Ayolah, please..." ucapku lagi masih tidak mau menyerah.
"Gomen."
Ukh, satu kata terakhir yang menjelaskan kalau Naruto memang tidak akan merubah keputusannya. Aku melepas pegangan tanganku dan menunduk menyadari usahaku sia-sia.
"Naruto... Kelihatannya kamu lebih memilih berkumpul dengan teman-temanmu dari pada dengan keluargamu."
"Bu-bukannya begitu, aku kan sudah janji kepada mereka." Naruto panik kemudian memegang pundakku. "La-lagipula aku 'kan bisa berkumpul dengan kalian setelah aku mentraktir teman-temanku. Aku yakin Kaa-san dan Tou-san mengerti dengan alasanku."
Aku tidak pedulikan penjelasannya. "Apa keluarga tidak penting bagimu? Apa aku tidak penting bagimu? Jangan-jangan kehadiranku disini saja tidak kamu inginkan. Ya, 'kan?"
"He-heii, jangan aneh. Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?" Naruto malah balik bertanya.
"Benar kan?"
"Tidak, aku..."
"Sudahlah! Aku pulang. Selamat bersenang-senang." Kulepaskan pegangannya di pundakku dan pergi meninggalkannya.
"Naruko! Hei!"
Benar juga kata Tayuya. Naruto tidak mungkin memilihku dibanding teman-temannya. Aku sama-sekali tidak penting baginya.
Tidak terasa air mata membasahi pipiku. Usahaku 2 hari terakhir ini sia-sia saja.
Sesampainya di rumah, Kaa-san dan Tou-san memandangku khawatir karena melihatku menangis. Aku langsung saja menuju kamarku.
"Naruko-chan? Kenapa menangis?" tanya Kaa-san. Aku mengabaikannya dan terus berjalan ke kamar.
"Naruko-chan?"
Kukunci kamarku dan kuhempaskan badanku di kasur, kutumpahkan semua kesedihanku disana. Entah berapa lama aku menangis, yang jelas sampai aku kelelahan dan tertidur.
Tok, tok, tok!
Bunyi ketukan di pintu kamarku kembali membawaku dari alam mimpi ke dunia nyata.
"Naruko, ini aku... Boleh aku masuk?"
Kukumpulkan kembali kesadaranku hingga kukenali siapa yang memanggilku. Naruto.
"Naruko..." Naruto kembali memanggilku.
Kulihat jam dinding, sudah menjelang jam setengah 7 malam. Untuk apa dia pulang? Kenapa tidak sekalian saja habiskan waktu dengan teman-temannya sampai tengah malam atau sampai besok?
"Pergi!" bentakku emosi, tapi ada kesedihan disana sehingga teriakanku sedikit bergetar. Pilu.
"Aku minta maaf soal kejadian tadi," kata Naruto terdengar jelas meskipun dia dibalik pintu.
Heh, gampang sekali dia minta maaf. Kalau minta maaf berguna, untuk apa ada polisi?
"Tolong buka pintunya, kita makan kue sama-sama."
Kubiarkan saja dia bicara sendiri.
"Naruko, aku mohon... temani aku."
"PERGIIII!" bentakku lagi, lebih keras dari sebelumnya.
Tak ada lagi tanggapan. Apa dia pergi? Tapi samar-samar kudengar bunyi piring beradu dengan lantai. Kudekati pintu dan kurapatkan telingaku di pintu. Ya, Naruto masih berada disana. Kemudian aku duduk memeluk lutut, bersandar ke pintu.
"Hei, kamu tau Naruko? Aku suka sekali kue buatanmu. Ini kue ulang tahun terenak yang pernah kumakan..."
DEG!
Aku tau aku ingin pujian seperti itu tapi bukan disaat seperti ini. Aku kembali menangis, terisak diatas tanganku yang kuletakkan di atas lutut.
Dadaku kembali terasa sakit.
Naruto baka!
Senin, 11 Oktober 2010
"Naruko..."
Naruto memanggilku, entah sudah berapa kali dia melakukan itu. Aku terus saja mengacuhkannya.
"Hei, kamu masih marah?"
Aku beranjak dari kursi dan mencuci piring serta gelas bekas sarapanku. Sesudah itu, kupakai sepatu dan bersiap berangkat sekolah. Tanpa diduga, Naruto menghalangi pintu keluar.
"Naruko, aku mohon, maafkan aku. Harus bagaimana lagi agar kamu mau memaafkanku?"
Melihatku hanya diam, Naruto melanjutkan kalimatnya. "Apa kamu mau aku menemanimu seharian kemanapun kamu pergi? Apa mau liburan ke pantai lagi? Apa kamu mau aku belikan film-film bagus? Atau mau kalau kita berangkat dan pulang sekolah bersama setiap hari? Atau..."
Mau sampai kapan dia seperti ini? Aku berdiri dan menatap Naruto tajam.
"MINGGIR!" bentakku sambil kudorong badan Naruto.
"Na-Naruko..."
"Naruko, gomen. Lebih baik kamu pukul atau marahi aku dari pada kamu mengacuhkanku seperti ini. Aku... I-ini lebih menyiksaku kamu tau?" Hah, lama-lama aku bosan mendengar Naruto minta maaf kepadaku.
"Namikaze-san!"
Kami berdua menoleh saat Kurenai-sensei memanggil, pasti ini gara-gara Naruto melihat ke belakang terus.
"Uh, maksudku Namikaze Naruto-san," kata Kurenai-sensei mengoreksi perkataannya, "tolong perhatikan ke depan. Dari tadi kamu melihat ke belakang terus."
"Go-gomenasai, sensei," kata Naruto.
"Sensei." Aku berdiri dan mengangkat tanganku.
"Ya Namikaze Naruko-san?"
"Boleh aku pindah tempat duduk ke sebelah sana?" tanyaku menunjuk bangku kosong di depan yang berada jauh dari tempat duduk Naruto.
Kurenai-sensei melihat bangku yang kumaksud, "Umm, ya boleh saja."
"Hei Naruko, kenapa kamu pindah hei?" Kurapikan alat tulisku dan langsung pergi ke bangku depan tanpa menghiraukan Naruto.
Setelah beberapa jam pelajaran, diam-diam kuperhatikan Naruto dari kejauhan. Dia terlihat frustasi sekali. Apa aku beri kesempatan saja ya?
Tak terasa jam pelajaran sudah selesai. Waktunya pulang. Saat sedang menunggu bis di halte, kurasakan HPku bergetar. Saat kucek ternyata ada email masuk. Pengirimnya Naruto.
Eh? Naruto? Ada apa ya?
From: Naruto
Subject: Penting
Message: Aku tunggu di taman belakang sekolah, ada yang ingin aku bicarakan. Penting.
Aku bingung antara menemuinya atau tidak. Tapi... Mungkin dia akan meminta maaf lagi, aku harus memberinya kesempatan. Siapa tau kalau aku sudah baikan dengan Naruto, dia bisa membantu atau melindungiku dari gangguan Tayuya CS. Biar bagaimanapun aku tidak punya siapa-siapa lagi yang cukup dekat yang bisa aku ajak curhat. Ditambah lagi dia kembaranku, mungkin saja dia bisa lebih mengerti kesulitanku.
Taman belakang sekolah sudah sepi karena sebagian besar siswa sudah pulang ke rumah. Kupilih kursi yang mudah dilihat agar Naruto tidak susah mencariku.
Lama aku menunggunya disana. Aku sudah 2 jam menunggu tapi Naruto belum juga datang. Apa sebenarnya tujuannya menyuruhku datang kesini? Jangan-jangan dia mempermainkanku. Langit yang mendung mulai menurunkan tetes demi tetes hujan ke bumi. Lama-kelamaan gerimis itu berubah jadi hujan yang lebat. Aku sama sekali tidak pedulikan itu. Aku benar-benar kesal. Aku sudah menunggu lama tapi ini balasannya. Naruto baka!
"Oh, kasihan. Menunggu Naruto-kun mu ya? Dia tidak akan datang." Guyuran air hujan yang membasahi badanku tiba-tiba berhenti, seperti ada yang memayungi. Kuangkat wajahku dan kulihat Tayuya, Shion dan Yakumo di hadapanku.
"Kalian? Kenapa disini?" tanyaku ketakutan. Tapi aku berusaha menyembunyikannya. Sebenarnya kalau disuruh melawan 1 orang aku tidak takut, tapi kalau 3 seperti ini... Aku juga berpikir dua kali. Huft, disaat seperti ini... Aku ingin seseorang menyelamatkanku. Aku takut... Naruto, kau dimana? Tolong aku...
"Kau pikir Naruto yang mengirimimu pesan? Hahaha, jangan bermimpi!" kata Shion tertawa puas.
"Lagipula kau ini keras kepala sekali! Sudah kubilang pergi dari hadapan kami, pergi dari sekolah kami! Tapi kau masih saja berani kesini." Tayuya menjambak rambutku sampai aku tersungkur ke tanah yang becek. "Kalau begini sepertinya kami harus memakai cara kasar. Kau tunggu saja."
"Nah, ambil ini." Tayuya memberikan sebuah HP kepadaku, itu HP Naruto. "Sampaikan ucapan terima kasihku kepada Naruto karena telah meminjamkan HPnya."
Lagi-lagi Naruto. Disaat aku bermaksud memaafkannya, dia melakukan hal yang membuatku marah lagi. Aku terdiam disana, dibawah guyuran hujan lebat, aku kembali menangis. Menangis karena kesal kepada Naruto dan menangis karena takut oleh ancaman Tayuya.
"Aku pulang." ucapku pelan saat sampai di rumah. Kulihat Naruto tidak jauh dari pintu masuk. Dari jas hujan yang dipakainya, pasti Kaa-san menyuruhnya mencariku. Kualihkan pandanganku darinya, melihat wajahnya saja membuatku tambah kesal.
"Syukurlah kamu pulang Naruko-chan. Kaa-san khawatir sekali," kata Kaa-san mengusap pipiku, "aduh kamu hujan-hujanan gini, 'kan bisa berteduh dulu kalau hujan."
"Gomen," ucapku pelan.
"Tidak apa-apa, tunggu Kaa-san ambilkan handuk." Kaa-san pergi mengambil handuk tapi kemudian menoleh ke arahku. "Nanti langsung ganti baju dan makan ya."
Aku mengangguk dan berusaha tersenyum ke arah Kaa-san meskipun itu susah sekali dalam keadaan hatiku yang seperti sekarang. Akhirnya tinggal aku dan Naruto.
"Naruko..." Sebelum Naruto bicara lebih jauh lagi, kulempar HP miliknya ke arahnya. "Eh? Dari mana kamu temukan ini?" tanya Naruto.
"Lain kali jangan pernah kau 'pinjamkan' HPmu kepada orang lain," kataku dingin.
"Apa maksudmu dengan meminjamkan HP? Aku tidak sengaja meninggalkannya di kelas."
"Whatever."
"Naruko-chan, ini handuknya." Syukurlah Kaa-san segera datang. Aku malas meladeni Naruto.
"Makasih Kaa-san." Kaa-san membantuku mengeringkan rambutku. "Oh ya Kaa-san, makananku apa bisa diantarkan saja ke kamarku? Aku ingin langsung istirahat."
"Tentu. Kamu istirahat saja."
Setelah rambutku kering, aku menuju kamarku. Hari ini benar-benar melelahkan. Lelah fisik maupun mental. Aku ingin langsung istirahat.
Tok! Tok! Tok!
Nah, makanan datang! Semoga seporsi makanan bisa menenangkan pikiranku yang kacau ini.
"Ini makananmu. Um, boleh aku masuk?" Di luar dugaan, Narutolah yang membawakan makanan. Ini malah membuat mood-ku kembali jelek.
"Tidak. Serahkan makanannya dan pergi!" bentakku.
"Sebentar saja," kata Naruto.
"Aku ingin istirahat, jangan ganggu aku!" Kurebut piring yang dibawa Naruto dan menutup pintu kamarku dengan kasar.
"Tung-"
BLAMMM!
Aku tidak akan semudah itu memaafkanmu Naruto! Apalagi setelah hal yang terjadi padaku sore tadi! Ini mutlak kesalahanmu!
Selasa, 12 Oktober 2010
Pagi ini aku berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali, untuk menghindari Naruto tentunya.
Dengan posisi bangku yang sekarang ini, saat pelajaran berlangsung aku bisa terbebas dari godaan Naruto yang terkutuk, eh maksudku yang mengesalkan. Aku hanya harus meladeninya kalau sedang pergantian pelajaran dan istirahat saja.
Waktu istirahat sudah tiba, siswa-siswa mulai berbondong-bondong menuju kantin. Begitu juga denganku yang langsung melesat menuju kantin sedetik setelah bel istirahat berbunyi. Untuk apa lagi selain untuk menghindari Naruto? Lorong-lorong mulai penuh dengan siswa-siswa. Tapi tunggu, ini tidak seperti biasanya. Ini terlalu penuh. Kuperhatikan lebih teliti. Siswa-siswa itu sedang melihat mading. Tumben mading banyak peminatnya. Sepertinya ada berita menarik. Karena penasaran, kuputuskan untuk melihatnya juga.
Setelah berdesak-desakan di depan mading, akhirnya aku bisa melihat...
Fotoku sendiri...
Fotoku waktu liburan di pantai yang sedang memakai bikini two-piece. Wajahku memerah karena malu. Semua orang disana yang menyadari kehadiranku mulai ribut. Para siswi memberikan komentar-komentar tidak enak, sementara para siswa menggodaku dan menatapku dengan pandangan mesum.
Ini pasti 'cara kasar' yang dimaksud oleh Tayuya.
Kulepas 5 poster yang terdapat disana, 4 diantaranya kurobek kecil-kecil, dan 1 lagi kubawa. Aku keluar dari kerumunan orang-orang dan bergegas mencari seseorang. Ada satu orang yang bertanggung jawab atas semua ini!
"Naruko, ada apa?" Ah, kebetulan orang yang kucari malah mendekatiku.
"Ini semua salahmu!" bentakku menunjuk mukanya.
"Eh? Apa maksudmu?" tanyanya kebingungan.
"Lihat ini." Kulempar poster tadi ke arah mukaku.
"Yang punya foto liburan ini hanya kita berdua. Aku tidak akan mungkin mempermalukan diriku sendiri. Jadi dari mana lagi mereka dapat foto ini kalau bukan darimu?"
"He-hei! Jangan menuduhku sembarangan." Aku sudah tidak mau mendengarkannya dan berlari ke kelas. Naruto mengejarku dan masih terus mengoceh "Udah kubilang 'kan kalau HPku kemarin ketinggalan di kelas dan..."
"Justru karena itu, gara-gara kau meninggalkan HPmu sembarangan, semua foto-foto liburan kita tersebar."
"Aku 'kan tidak sengaja..."
"Aku sudah dipermalukan satu sekolah, aku malu sekali. Apa kau sadar itu? Baka!" bentakku makin keras.
"Tapi jangan sembarangan menyalahkanku. Sudah kubilang aku tidak sengaja meninggalkannya di kelas,"
"Itu tidak mengubah keadaan! Kalau saja kau tidak ceroboh pasti semua ini tidak akan terjadi! Jadi tetap saja kau yang salah!"
"Berhentilah menyalahkanku Naruko..."
"Berisik! Ini fakta!"
"Cukup!" Tampaknya Naruto sudah kehilangan kesabaran. "Biarpun kau kakakku, bukan berarti kau bisa seenaknya. Dasar kau ini, terlahir 10 menit lebih cepat memang tidak membuatmu berfikir dewasa! Kau hanya beruntung terlahir lebih dulu! Dengan sifatmu ini, kau lebih pantas jadi adikku dari pada kakakku!"
Aku mundur selangkah, kaget bukan main mendengar perkataan Naruto. Aku menunduk sedih. Baiklah aku memang marah kepadanya, tapi apa dia harus sampai berkata seperti itu kepadaku? Kalau begini caranya, lebih baik aku akhiri saja semuanya. Dia pikir aku membutuhkan dia?
"Oh, begitu. Tak apa, karena mulai saat ini aku tidak akan menganggapmu saudaraku. Aku tidak pernah mengharapkan saudara sepertimu!"
"A-apa?" Naruto terpaku setelah aku mengatakan hal itu. Biar saja agar dia menyadari kesalahannya. Kemudian aku berlari meninggalkan sekolah.
Bersamaan dengan itu aliran basah air mata mengalir menuruni pipiku. Mulutku tadi dengan lantang menyatakan kalau aku tidak akan menganggap Naruto sebagai saudaraku lagi. Tapi hatiku tetap tidak bisa berbohong, hatiku tetap menentang perkataanku tadi. Hatiku memberontak dengan menghasilkan perasaan sakit yang amat sangat. Bodoh! Kenapa aku begitu cengeng? Menangisi hal seperti ini tidak ada gunanya.
"Naruko-chan? Kenapa sudah pulang jam segini?" tanya Kaa-san saat aku sampai di rumah. Tanpa kuduga, Kaa-san sudah berada di rumah jam segini. Pasti pekerjannya hari ini tidak terlalu banyak jadi bisa pulang cepat. Aku tidak menghiraukan pertanyaannya dan langsung menuju kamarku.
"Naruko-chan? Eh, kenapa menangis?" Menyadari kalau aku menangis, Kaa-san mengejarku ke kamar tapi dengan sigap aku mengunci pintu kamarku sehingga Kaa-san tidak bisa masuk. Kaa-san menggedor-gedor pintu minta dibukakan tapi tetap tidak kubuka.
Kupandang diriku di cermin. Kulap pipi basahku oleh kedua punggung tanganku. Sudah kubulatkan tekad, aku akan pulang ke Inggris. Kehadiranku disini tidak diharapkan.
Kusiapkan koper, baju-baju dan barang-barang pentingku yang lain. Aku tidak punya banyak waktu. Aku ingin terbang ke Inggris siang ini juga, lama-lama di Jepang hanya membuat hatiku sakit.
"He-hei, kenapa kamu berkemas seperti ini?" tanya Kaa-san saat aku membuka pintu kamar dan membawa koper besar.
"Naruto tidak ingin aku jadi kakaknya, dia tidak mengharapkan kehadiranku disini," jawabku dingin.
"A-apa? Tunggu Naruko-chan. Kamu mau kemana? Jangan-jangan kamu mau..."
Aku berlari menuju keluar rumah, diikuti Kaa-san yang terus-menerus meminta penjelasanku. Kaa-san berhenti mengejar saat aku naik taxi. Maaf Kaa-san, aku ingin cepat-cepat ke Inggris.
Perjalanan ke bandara memakan waktu 2 jam karena macet parah. Tapi beruntung aku masih mendapat tiket untuk penerbangan jam 3 sore. Masih ada sekitar 1 jam lagi sebelum keberangkatan.
Aku duduk di kursi tunggu gate 8. Kuarahkan pandangan ke jendela besar disana, melihat pemandangan Konoha untuk terakhir kalinya. Kota yang indah, tapi aku tidak bisa terus-menerus tinggal disini.
Kulihat jam tangan yang berada di tangan kiriku. 5 menit lagi pesawat berangkat. Kuperhatikan kembali jam tangan itu. Tidak, bukan jam tangannya yang kuperhatikan, tapi tanganku. Sebelumnya selalu ada gelang Kyuubi yang melingkar manis di tanganku ini. Sepertinya gelang itu ketinggalan di kamar. Tapi sudahlah, gelang itu hanya akan mengingatkanku pada Naruto. Belum tentu juga Naruto menyimpan pasangan dari gelangku itu.
Pengumuman keberangkatan sudah terdengar. Semua penumpang tujuan Inggris memasuki gate 8 satu per satu hingga tersisa aku sendiri. Entahlah, ada sesuatu yang mengganjal seolah menahanku untuk tidak menuju pesawat.
Disaat-saat penting seperti ini aku berharap Naruto datang men... Tunggu dulu kenapa aku mengaharapkan Naruto? Ukh, air mataku kembali mengalir, dan kali ini deras sekali seolah tidak mau berhenti berapa kalipun aku menghapusnya dengan tanganku. Baiklah aku memang mengharapkan Naruto. Aku harap dia datang dan mencegahku, memohon kepadaku agar jangan pergi. Andai saja dia melakukan itu sekarang, aku pasti akan menurutinya.
"Na-Naruto... hiks hiks..."
Kuedarkan pandangan ke sekelilingku mencari sosok pirang jabrik bermata shapire, berharap harapanku jadi kenyataan. Pandanganku agak buram karena air mata yang terus keluar. Tapi cerita seperti itu hanya di film-film 'kan? Ini bukanlah film yang selalu berakhir bahagia. Ini kenyataan yang harus aku terima.
"Nona, sudah saatnya berangkat," kata seorang pramugari, "um, anda tidak apa-apa?"
"Ya, gomen." Kulangkahkan kakiku mengikuti pramugari tersebut memasuki pesawat. Aku menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, tidak ada siapa-siapa. Sudahlah, aku terlalu banyak berharap. Sudah saatnya berangkat.
"Selamat tinggal... Naruto..." ucapku lirih, diiringi tetesan air mata yang terus saja keluar tanpa henti.
To Be Continue...
A/N: Fiuuhhh chapter yang panjaaaang, gabungan 3 chapter sebelumnya. Ga perlu banyak omong lagi deh udah kepanjangan. Jadi, bagaimana pendapat kalian? Review review review... ;)
Arigato
-rifuki-
