A/N: Makasih buat reviewers di chapter 10: Sketsa Gelap, ' ' (kosong, bingung manggil apa), Kara is Lluvia Farron (wah, ganti username ya), Meg chan, Ren-Mi3 NoVantA, FR33ZE, dei-chan, Kudo Widya-chan Edogawa, NaruDobe Listachan, baka nesiachan, dan Sieg hart.

Seneng juga kalo reviewnya banyak gitu, bikin tambah semangat.

Bales reviewers yang ga login dulu:

' ': Tenang aja, Deidara ga bakalan ngeledakin rumah. Cuma menghancurkan 'sesuatu'. Baca aja. Hhe

Meg chan: Semoga segini udah masuk chapter panjang menurut kamu ya.

FR33ZE: ga lah, kalo Naruto mati genrenya berubah dong. Terus siap-siap aja nanti reader yang lain ngamuk kalo Naruto dibikin mati. Haha

dei-chan: seneng ada yang nungguin, hehe. Udah update tuh, selamat baca.

Baka nesiachan: gpp. Wow, memukau? Arigato

Sieg hart: kalo dibilang mirip sih mungkin ia. Tapi ga nyontek drama barbie kok, soalnya nonton aja ga pernah, ahaha.

...

Review lainnya dibales lewat message. Yosh! Ga usah banyak basa-basi lagi, selamat membaca Chapter 11 alias chapter terakhir ini. Semoga endingnya ga mengecewakan dan kalian suka ;)

Onee-san

Naruto © Masashi Kishimoto

Genre: Family

Rate: T

Summary: Naruto sangat sayang pada kakaknya Karin. Sampai suatu hari terjadi hal yang paling ditakutkan Naruto. "Ini semua gara-gara Naruko dan Tou-san! Kalau saja mereka tidak datang dalam kehidupanku mungkin Nee-san masih..."

Warning: AU. OOC. NON INCEST, hanya menceritakan kasih sayang diantara saudara kembar, tidak lebih dan jangan berharap lebih. Banyak kosa kata yang diulang. Ada perkataan kasar. Ada adegan perkelahian yang agak sadis. Adegan bertarungnya masih kaku, baru pertama bikin action soalnya, gomen kalo jelek. Mungkin juga ada typo. Dan yang pasti endingnya gampang ketebak.


Cerita Sebelumnya:

"Lihat aku Naruko, akan kutunjukan seberapa kuat tekadku untuk membawamu pulang. Oh ya, satu hal yang harus kamu tau. Dari tadi aku mau bilang, kalau aku kesini karena keinginanku sendiri." Aku menatap Naruko sekali lagi, memperlihatkan senyumanku kepadanya. Menatapnya tepat di mata. Entah kenapa aku menganggap kalau matanya itu lebih indah dari punyaku meskipun kami kembar.

Naruko kaget mendengar kata-kataku. Saat tatapan kami bertemu, dia lebih memilih membuang mukanya.

"Aku ingin segera membawamu pulang bersamaku..."

BUKHH!

Sebuah pukulan mendarat dengan telak di pipiku.

"Ughhh..." Darah segar keluar dari mulutku, mengalir sampai ke dagu.

"Cukup basa-basinya!" teriak Deidara. "Pertarungan sudah dimulai!"

"Gomen. Baiklah aku akan serius sekarang." Deidara tersenyum mendengarnya. Senang karena dia akan mendapatkan perlawanan kali ini. Kubuka jaketku, memperlihatkan tangan kiriku yang penuh perban gara-gara insiden kemarin. Naruko kaget melihat tanganku yang dibalut banyak perban itu, karena dia tau persis kalau sehari sebelumnya aku sama sekali tidak apa-apa. Kuhapus aliran darah di daguku dengan punggung tanganku. Kupasang kuda-kudaku, kukepalkan kedua tanganku dan kutatap Deidara tajam.

"MAJULAH!"

.

.

.

Chapter 11

-Ayo Pulang, Onee-san-

"MAJULAH!"

"Heyaaa!" Deidara melesat menerjangku kemudian melakukan tendangan, pukulan dan gerakan kombinasi secara beruntun. Tapi beruntung aku bisa menangkis semua serangannya.

Deidara terus menghujaniku dengan pukulan dan tendangan seolah staminanya sama sekali tidak berkurang. Aku dipaksa terus mundur, dia tidak memberiku jeda sedikitpun untuk menyerang balik. Kalau begini terus aku bisa terpojok. Aku harus menyerang balik dan mematahkan serangannya.

Di tengah kesibukanku berpikir, Deidara mengarahkan tendangan ke arah kepalaku. Shit! Aku lengah! Aku menghindarinya dengan cara menunduk, tapi ujung kakinya sudah berjarak 15 cm dari kepalaku! Dengan jarak sedekat itu aku tidak yakin bisa menghindar! Waktu seolah berubah ke mode slow motion...

WHOOSSHHH!

Kurasakan hembusan angin di puncak kepalaku. Rambut spike-ku terkena sapuan kaki Deidara. Fiuuh... Telat sedetik saja maka kepalaku yang akan dihantam kaki itu. Hei, ini kesempatanku untuk menyerang! Disaat kaki Deidara masih diatas, aku bisa menjatuhkannya! Kulakukan tendangan memutar ke arah kaki Deidara yang lain yang menopang tubuhnya. Aku yakin dia tidak sempat menghindar.

"Hup!" Deidara menyadari arah seranganku dan segera melompat menjauhiku.

Apa?! Dia masih bisa melompat dengan satu kaki? Dia bukan orang sembarangan. Aku tidak boleh menyepelekannya. Aku mengatur nafasku yang tidak beraturan gara-gara serangan beruntun tadi.

"Deidara-sama, Naruto-sama, apa yang sebenarnya terjadi?" Kepala pembantu yang tadi menyambutku di luar memandangku dan Deidara bergantian. Pandangan cemas jelas sekali terlihat dari satu bola mata dibalik topeng orange itu. "A-apa yang kalian lakukan?"

"Tobi-kun? Oh, aku hanya akan memberi pelajaran bocah kurang ajar ini," kata Deidara tenang.

"Ta-tapi..."

"Sudah tidak apa-apa un, menjauhlah. Setelah ini pertarungan akan semakin kasar." Deidara kembali memasang kuda-kudanya. Kalau dia bilang 'akan semakin kasar' berarti yang tadi itu belum kasar dong? Aku harus siap mengantisipasi serangannya, tidak boleh lengah seperti tadi.

"Haaaaaa!" Deidara mengarahkan pukulan ke perutku dan aku menahannya dengan kedua tanganku. Tapi... Tapi kekuatan pukulannya kuat sekali, melebihi pukulannya di awal. Sehingga membuatku terjatuh ke belakang.

"Ukh." Berniat menahan pukulan Deidara, tapi malah tanganku yang jadi sakit begini. Pukulan yang hebat!

Belum sempat aku bangun, Deidara menendang perutku bertubi-tubi tanpa ampun. Membuat darah segar kembali keluar dari mulutku. Disaat yang bersamaan aku menahan kakinya dan menariknya hingga terjatuh. Kutarik kerah bajunya dan kududuki badannya.

"Giliranku!" teriakku sebelum memukuli wajah Deidara. Kupukuli wajah itu sekuat yang aku bisa. Tapi aku hanya bisa memukulnya sekitar 5 kali sebelum Deidara menarik bahuku dan menghempaskanku ke samping.

Kami berdua kembali memasang mode bertahan. Deidara bertahan? Yah, kulihat dia juga sekarang mulai menganggap 'serius' pertarungan ini.

"Hmm, tidak buruk un," kata Deidara sambil menghapus darah yang mengalir dari mulut dan hidungnya.

"Kau harus tau aku ini berandalan terhebat di sekolahku," kataku dengan percaya diri.

"Oh begitu? Kalau begitu kau juga harus tau kalau aku karateka sabuk hitam un. Dan tentu saja teknik bertarung jalanan milikmu tidak ada apa-apanya dibanding teknik bela diri sungguhan seperti milikku," balasnya dengan senyum meremehkan. Ah sial ternyata dia karateka, pantas saja pukulannya kuat sekali.

"Kita lihat saja," kataku tidak mau kalah.


Selanjutnya pertarungan berlangsung sengit. Kami berdua saling menyerang bergantian. Dalam pertarungan yang berlangsung lama seperti ini mulai terlihat kalau staminaku masih kalah kalau dibandingkan dengan Deidara, kalah jauh malah. Beberapa kali dia berhasil memukul wajah dan perutku gara-gara kelengahanku. Konsentrasiku mulai berkurang.

"Kenapa kau tidak menyerah saja un?" tanya Deidara saat dia berhasil mencekik leherku.

"Uhuk uhuk... Aku tidak akan menyerah! Seorang lelaki sejati tidak akan melanggar janji yang sudah dibuatnya!" kataku sambil menendang perut Deidara. Disaat pegangannya ke leherku melonggar, aku berhasil meloloskan diri.

"Teknikku memang bisa kau sebut teknik bertarung jalanan. Tapi dalam teknik bertarung jalanan ini aku tidak perlu mengikuti peraturan bodoh seperti teknik bela dirimu. Aku bisa menggunakan semua anggota badanku untuk melawan! Dan badan babak belur seperti ini sudah biasa bagi seorang petarung jalanan sepertiku. Camkan itu!" Deidara berlutut, meringis memegang perutnya yang tadi kutendang. Kuharap itu cukup untuk membuatnya berhenti menyerangku. Aku sudah tidak kuat kalau harus bertarung lagi.

"Nonsense! Kemampuanmu lumayan un. Tapi masih butuh 10 tahun lagi agar kau bisa mengalahkanku!" Deidara kembali bangkit. Ah, aku salah. Ternyata Deidara bukan tipe orang yang gampang menyerah. Apa semua Namikaze seperti itu ya? Selalu pantang menyerah dalam mencapai tujuannya.

"Hiaaaa..." Deidara melempar jubah hitam bergambar awan merahnya ke arahku. Dan itu sukses mengalihkan perhatianku. Tanpa kuduga Deidara justru menyerangku dari arah kanan. Memukul rusuk kananku dan membuat pertahananku hancur. Kedua tanganku berhasil dia pegang dan dia putar kebelakang badanku, mengunci gerakanku. Sementara tangan Deidara yang lain menahan leherku.

Dengan posisi seperti ini aku tidak bisa apa-apa, aku tidak bisa bergerak. Sepertinya memang sampai sini saja perjuanganku. Dengan melihat aksi Deidara yang memelintir tanganku dan mencekik leherku tanpa ampun ini, aku semakin yakin kalau dia tidak bercanda saat bilang akan membunuhku. Tamatlah riwayatku...

"Deidara-kun..." Kudengar suara Naruko memanggil Deidara. Aku tidak tau pasti apa yang dilakukannya karena posisinya yang berada di belakangku (di belakang Deidara juga).

"Tenang saja Naruko, aku tidak jadi membunuhnya un. Aku hanya ingin memberinya pelajaran saja," kata Deidara. Apanya yang memberi pelajaran? Kalau memberi pelajaran sampai membuatku kehabisan nafas karena dicekik begini keterlaluan namanya!

Hei, tunggu dulu! Kalau barusan Deidara berubah pikiran dan berjanji tidak akan membunuhku, berarti ada yang dilakukan Naruko yang tidak kuketahui dibelakangku untuk mencegah perbuatan Deidara. Pasti Naruko memberikan isyarat kepada Deidara agar tidak membunuhku dan itu berarti kalau Naruko masih peduli kepadaku. Ya, tentu saja itu alasannya!

Menyadari fakta itu membuatku mendapat energi tambahan.

Kugigit tangan Deidara yang menahan leherku hingga Deidara melepas pegangannya.

"Argghhh, sialan kau Naruto!"

"Heh. Aku akan melakukan apapun untuk membawa Naruko pulang. Seandainya tanganku patah, akan kutendang kau dengan kakiku ini. Kalau kakiku patah, akan ku gigit kau dengan gigiku ini. Kalau gigiku dihancurkan juga, akan kulihat kau dengan tatapan penuh kebencian. Dan kalau mataku dihancurkan juga, akan kugunakan kutukan untuk melawanmu, aku pasti akan berhasil membawa Naruko pulang!"

"Cih!"

Tangan kiri Deidara pasti masih sakit karena kugigit, pertahanannya juga pasti berkurang, ini kesempatanku! Aku menendang sisi kiri badannya, tapi dengan sigap dia menangkap kakiku dengan tangan kanannya. Aku tidak kehabisan akal, kutendang dia dengan kakiku yang lain. Deidara yang tidak menyangka akan mendapat serangan seperti itu tidak sempat menghindar sehingga kepalanya terkena tendangan dengan telak. Merasa belum cukup, aku melesat ke arahnya mengirim pukulanku ke perutnya. Tapi Deidara mampu mengantisipasinya dan malah berbalik memukul perutku. Aku tidak mau menyerah, kupojokkan dia ke tembok dan kupukuli wajahnya. Sesaat kemudian Deidara menarik kaosku dan berbalik memojokkanku ke tembok, memukuli wajahku.

Setelah itu pertarungan benar-benar berlangsung alot. Aku sudah sangat lelah, aku banyak menerima pukulan dan tendangan telak di badanku. Tapi sebaliknya, aku juga berhasil menghadiahi Deidara dengan pukulan dan tendangan yang telak pula. Aku berdiri mencoba menegakkan badanku. Tapi percuma saja badanku sudah tidak bisa tegak, otot-ototku sudah sangat lelah. Pertarungan sudah berlangsung lebih dari satu jam. Tapi salah satu dari kami tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda akan kalah, maupun akan menyerah. Kulihat Deidara juga keadaannya tidak berbeda denganku. Wajah putih pucatnya sudah dihiasi merahnya darah dan birunya luka memar. Dia juga dengan susah payah berpegangan pada tembok mencoba berdiri tegak.

Pandangan kami beradu. Kemudian Deidara mulai berjalan mendekatiku, semakin cepat, semakin cepat hingga akhirnya dia berlari menerjang. Dia mengepalkan tangan kanannya, bersiap meninjuku. Ini buruk, kalau aku diam saja bisa-bisa aku kalah. Aku harus menangkisnya, tapi dengan keadaan badanku yang sekarang rasanya sulit. Lebih baik aku menghindarinya saja, selain bisa menghemat tenaga, setelah itu aku juga bisa berbalik menyerangnya. Counterattack!

Deidara semakin mendekat dan tinjunya sudah melayang ke arahku. Aku menghindarinya secepat yang aku bisa. Di sisi lain aku menyiapkan pukulan balasan untuk Deidara. Kena kau Deidara!

Di luar dugaan, Deidara sudah membaca gerakanku dan mengubah arah pukulannya dan...

BUUUKH!

Tinju Deidara mengenai pipi kiriku. Di lain pihak, aku juga berhasil memukul pipi kiri Deidara. Kami sama-sama terlempar akibat kerasnya pukulan kami. Aku terkapar di dekat pintu kamar Naruko. Kali ini otot-otot kakiku sudah menyerah dan tidak mau diajak berdiri lagi. Tapi aku bersyukur karena Deidara juga kelihatannya mengalami hal yang sama.

Kualihkan pandangan ke arah Naruko yang saat itu sedang berdiri di pintu masuk kamarnya. Melihat tatapan matanya aku tau kalau dia khawatir padaku. Tapi dia sepertinya masih marah kepadaku makanya dia hanya diam melihatku dipukuli, lebih memilih menyembunyikan kekhawatirannya. Aku tidak menyalahkannya, yang membuatnya marah 'kan aku sendiri.

"Naruko, aku tidak akan memaksa lagi," ucapku pelan, tapi kupastikan bisa didengar Naruko. "Terserah kamu mau mendengarkanku atau tidak."

Jeda sesaat, aku menghela nafas panjang. Aku melihat ekspresi wajah Naruko tapi dia malah berpaling ke arah lain.

"Aku hanya ingin kamu pulang. Aku kesini menjemputmu."

Lagi-lagi Naruko tidak merespon.

"Hei, apa kamu ingat pertama kali kita bertemu? Waktu itu aku sangat membencimu karena menganggap kedatanganmu telah menyebabkan Karin-Neesan meninggal. Aku tau aku memang baka seperti yang kamu bilang. Aku sadar kalau kematian seseorang itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Jadi dengan kata lain kematian Karin-Neesan memang sudah takdir. Bukan gara-gara kehadiaranmu atau Tou-san. Setelah mendapat saran dari Hinata, aku tambah menyadari kalau aku yang salah dan harus meminta maaf padamu. Tapi emang dasar egoku yang besar, bukannya meminta maaf aku malah bersikap dingin padamu. Beruntung kamu masih sabar menghadapiku. Dan kuakui karena kesabaranmu itu hatiku mulai luluh dan bisa menerimamu. Ukh..." Aku menahan rasa sakit di pipiku. Naruko kali ini memandangku. Tapi ekspresinya masih datar.

"Setelah itu tanpa sadar aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu di dekatku. Mulai tumbuh perasaan peduli dan ingin melindungi. Asal kamu tau, saat berpasang-pasang mata siswa mesum memandangmu dengan nafsu, aku selalu ingin memukul mereka. Apalagi saat kita dalam kereta di perjalanan ke pantai Konoha. Sebenarnya aku ingin sekali menendang keluar semua lelaki mesum itu. Meskipun itu bukan sepenuhnya kesalahan mereka sih. Siapa suruh kamu terlahir cantik dan sexy? Hehe." Aku mengembangkan senyumanku ke arah Naruko. Dia berpaling ke arah lain, tapi aku yakin tadi aku melihat rona merah di pipinya.

Aku kembali menghela nafas dan melanjutkan perkataanku. "Dan saat liburan di pantai itu, perasaan benci dan dinginku padamu seolah-olah terkikis habis. Kamu tau tidak? Dibalik sikap cuekku waktu itu, sebenarnya aku menikmati liburan kita lho. Oh ya, gelang yang kamu belikan dan kamu masukkan diam-diam ke kantongku juga aku menyukainya. Meskipun kadang aku tidak memakainya, tapi aku selalu membawanya kemanapun aku pergi. Umm, tapi maaf tali gelangku putus kemarin, makanya aku ganti talinya dan menjadikannya kalung seperti ini." Aku memegang kalung Kyuubi yang tergantung di leherku. "Masih untung aku menemukan liontinnya. Waktu talinya putus, liontin ini terlempar ke halaman sekolah. Aku sampai nekat loncat dari lantai 2 tidak mau kehilangan benda ini. Tapi sepertinya kamu membenciku ya? Gelang Kyuubi betinamu, kamu tinggalkan di kamar. Aku maklumi sih, kamu pasti membenciku sekarang." Ekspresiku berubah sedih, Naruko membuka mulutnya seolah mau berbicara tapi tidak jadi. Aku beringsut dan duduk bersandar di pintu kamar lain yang posisinya hanya semeter dari kamar Naruko.

Hening. Aku tau Naruko masih belum mau menanggapi perkataanku, jadi aku melanjutkan kata-kataku.

"Aku memang keterlaluan ya? Aku tidak menghargai hasil kerja kerasmu mempersiapkan pesta kejutan untuk ulang tahunku waktu itu. Aku juga tidak ada disisimu saat kamu mendapat masalah. Terlebih lagi masalah itu muncul gara-gara kecerobohanku. Gomen. Aku tau permintaan maaf ini tidak cukup."

Kupandang mata biru Naruko lekat-lekat sebelum melanjutkan kata-kataku.

"Tapi meskipun kamu membenciku, tolong pulanglah bersamaku. Aku tidak memintamu memaafkanku, aku hanya ingin kamu pulang. Rumahmu di Konoha, di Jepang, bukan disini. Karena saat kamu disini, jauh dariku, meninggalkanku, hatiku sakit. Aku seperti kehilangan setengah jiwaku. Aku kehilangan seseorang yang sangat berharga untukku. Mungkin kata Hinata benar, saat seorang saudara kembar hatinya sakit, maka kembarannya yang lain akan merasakan kesakitan yang sama. Aku awalnya tidak mempercayai hal itu sebelum aku merasakannya sendiri. Apalagi saat kamu pulang ke Inggris, aku benar-benar merasakan sakit yang amat sangat, yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Saat itu pula aku sadar kalau aku tidak ingin jauh darimu, aku tidak ingin kehilanganmu... aku... aku sangat menyayangimu."

Naruko kaget mendengar perkataanku, wajahnya kembali merona merah. Aku senang dengan respon Naruko, aku yakin hatinya mulai luluh. Yah, setidaknya usahaku menahan rasa maluku untuk mengatakan hal itu terbayarkan sudah. Aku menunduk menyembunyikan wajahku yang juga memerah, namun perkataanku masih kulanjutkan.

"Karena itu Naruko, pulanglah. Kami semua menginginkan kehadiranmu di Jepang. Tou-san, Kaa-san, bahkan Karin-neesan juga di surat yang ditinggalkannya menginginkan kita berkumpul kembali. Dan terutama aku... akulah yang paling menginginkanmu pulang. Aku yang paling menginginkanmu kembali. Jadi..."

Aku terdiam sejenak mempersiapkan kalimat selanjutnya. Kubuang jauh-jauh ego yang selama ini menguasaiku. Sudah cukup aku menuruti ego itu, sekarang saatnya memperbaiki semuanya. Kumantapkan hatiku, kubuka mulutku dan akhirnya kalimat itu aku katakan...

"Ayo pulang, Onee-san."

Naruko menutup mulutnya dengan kedua tangan saking kagetnya, kaget yang melebihi rasa kaget yang sebelumnya. Mata birunya berkaca-kaca. Tapi meskipun begitu, aku melihat kebahagiaan disana.

"Naruto!" Suara Deidara mengalihkan perhatianku, dia berdiri dan berlari ke arahku kemudian bersiap memukulku lagi. "Tamat riwayatmuuuu!"

Hmmph! Kuat sekali orang ini, masih bisa menyerangku lagi, padahal aku sudah tidak bisa apa-apa. Aku memaksakan diri untuk berdiri dengan susah payah.

"CUKUUUPPPPP DEIDARA-KUUUNNN!" Di luar dugaan Naruko mengahalangi pukulan Deidara

ke arahku dengan merentangkan tangannya.

"MINGGIR NARUKOOO!" Deidara berteriak, kelihatannya dia tidak akan menghentikan pukulannya, apalagi dengan kecepatan dan jarak yang sedekat itu. Ini buruk, Naruko bisa kena pukulannya!

"NARUKOOOO!" Aku ikut berteriak tapi Naruko sama sekali tidak bergeming. Mode slow motion kembali terjadi. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, kupeluk Naruko dan kutarik dari jalur pukulan Deidara kemudian kutendang rahang Deidara. Tapi itu belum berakhir, Deidara memutar badannya dan menyiapkan tangan kirinya untuk memukulku lagi. Astaga, seberapa kuat sebenarnya Deidara ini? Tendanganku di rahangnya sama sekali tidak berarti! Kali ini pukulannya semakin cepat mengarah ke wajahku karena jarak kami yang lebih dekat dari sebelumnya. Aku tidak punya waktu lagi, kudorong Naruko menjauh. Begitu aku menoleh ke arah Deidara kepalan tangannya sudah berada tepat di depan hidungku. Aku sudah pasrah. Dengan kecepatan dan kekuatan seperti itu wajahku pasti hancur! Aku memejamkan mataku berharap itu akan mengurangi rasa sakit yang sebentar lagi kurasakan.

.

.

BRUAKKKKK!

.

.

Rasa sakit yang kutunggu tak kunjung datang. Kubuka mataku ragu. Deidara berada di depanku, menatapku tajam. Dan tinjunya... berada tepat di samping kepalaku. Menembus pintu kayu di belakangku. Eh? Dia tidak jadi memukulku?

"Sepertinya kau memang layak jadi pelindung Naruko. Jaga dia baik-baik un. Kalau sampai dia sedih lagi kau akan berhadapan denganku lagi. Jika saat itu tiba, aku akan mengeluarkan semua kemampuanku! Dan tinjuku yang seperti barusan akan tepat mengenai wajahmu un. Hanya karena kau keponakanku, bukan berarti aku tidak berani melakukannya. Ingat itu!"

Aku awalnya tidak mengerti kenapa aku dianggap 'layak' sebelum melihat Deidara memegang lehernya ketika berlalu meninggalkanku. Oh, tendanganku tadi pasti meninggalkan 'rasa sakit' disana. Aku jadi merasa sedikit bangga.

"Aku akan menjaganya baik-baik kali ini. Kau bisa pegang kata-kataku!" ucapku mantap sambil membungkuk hormat, meskipun aku tau Deidara tidak melihatnya. Dari perilaku Deidara tadi, aku sadar kalau dari awal Deidara memang tidak berniat membunuhku. Dia hanya mengetes kemampuan bertarungku apa aku layak untuk menjaga Naruko menggantikannya.

"Naruto..." Aku menoleh ke arah suara, Naruko. "A-apa aku tadi tidak salah dengar? 'Onee-san' katamu?"

"Ya, ayo pulang Onee-san," kataku berusaha tersenyum.

"Katakan sekali lagi! Aku... aku sudah lama ingin dipanggil Onee-san..." Matanya kembali berkaca-kaca.

"Baiklah, aku katakan sekali lagi." Kudekati Naruko dan kupegang bahunya dengan kedua tanganku. Kutarik nafas dalam-dalam. "Onee-san... Aku sangat menyayangimu. Ayo pulang Onee-san."

"Baka Otouto... Hiks... Hiks... " Naruko menghambur memelukku.

Aku membalas pelukannya, mengelus kepalanya menenangkan. "Onee-san, mau pulang bersamaku?" tanyaku memastikan.

Naruko mengangguk antusias. Tidak terasa air mata mengalir dari kedua mataku, membuat badanku sedikit bergetar. Akhirnya perjuanganku menjemput Naruko kesini tidak sia-sia.

"Ke-kenapa ikut nangis?" tanya Naruko menyadari badanku yang bergetar. Ia melepas pelukannya.

"Kamu ga tau betapa aku merasa kehilanganmu saat kamu pergi," kataku ditengah isakanku yang tidak mau berhenti seberapa kuatpun aku menahannya. "Jadi tolong... Jangan pernah tinggalkan aku lagi... Aku tidak ingin kehilanganmu lagi."

"Tidak... Tidak akan..." Naruko menggelengkan kepalanya. "Tapi kumohon jangan menangis, ka-kalau begini aku juga jadi tambah sedih. Kamu sendiri tadi bilang 'kan kalau kembaran itu saat yang satu sedih yang lainnya juga ikut sedih? Jadi jangan menangis lagi baka... hiks..."

Naruko kembali memelukku. Kami terus saja menangis sampai semua perasaan yang kami pendam selama ini tersampaikan. Rasa rindu, rasa sayang dan rasa bahagia...


"Naruto?"

"Hmm?"

"Mau sampai kapan kamu tiduran di pangkuanku seperti ini?"

"Emangnya ga boleh? Aku semalaman ga tidur, ngantuk nih."

Aku kembali berusaha memejamkan mataku. Lukaku baru selesai diobati dan sekarang aku sedang tiduran di pangkuan Naruko.

"Bu-bukan gitu, paling tidak kamu bisa pindah ke tempat tidurku biar lebih nyaman."

"Tidak, aku pengennya di pangkuan Nee-san. Menurutku disini lebih nyaman. Selain itu, bukannya tugas seorang kakak memanjakan adiknya?"

"Umm, ia sih. Yaudah terserah deh. Dasar manja," katanya sambil mengusap-usap rambutku dengan sayang. Liontin Kyuubi betina berayun bolak-balik mengikuti gerakan tangan kiri Naruko. Ia sudah memakai gelang itu kembali, aku senang melihatnya.

Seharian itu aku tidur di pangkuan Naruko. Dan ternyata Naruko juga tertidur sambil bersandar ke tembok. Menjelang petang kami baru bangun. Setelah kutanya ternyata dia juga tidak tidur semalaman karena memikirkanku. Wah, rupanya saudara kembar itu memang memiliki sebuah ikatan batin yang kuat.

Saat malam menjelang, Naruko mengajakku keliling kota London mengunjungi tempat-tempat yang menurutnya bagus sekalian mencarikanku makan karena aku belum makan dari pagi. Kami juga mengunjungi perusahaan milik Tou-san. Naruko sengaja mengajakku kesana karena dia bilang akulah yang akan memimpin perusahaan ini kelak. Jadi minimal aku tau dimana dan seperti apa perusahaan itu.

Kami kembali ke rumah saat hampir tengah malam. Tapi bukannya tidur, kami malah ngobrol kesana-kemari di balkon kamar Naruko.

"Ahahaha, nanti Tayuya CS kita suruh pake bikini!"

"Setuju! Nanti kita foto mereka! Habis siapa suruh menyebarkan foto Nee-sanku yang cantik ini. Hehe."

"Kalau gitu kita suruh mereka jadi pelayan kita kalau tidak ingin foto mereka tersebar."

"Whoa ide bagus! Aku akan suruh mereka mengerjakan semua PRku."

"He? Dasar pemalas! Haha."

"Biarin. Ahahaha."

Begitulah candaan-candaan kami yang bergulir tanpa henti, saking banyaknya bahan obrolan yang ingin kami bahas.

"Ngomong-ngomong, udah jam segini," kata Naruko melirik jam di kamarnya. "Sebaiknya kita tidur, besok 'kan kita pulang ke Jepang."

"Oh, benar juga. Aku yakin kita akan ngobrol sampai pagi kalau tidak dipaksakan tidur."

"Ya, kamu benar. Hehe."

Naruko segera berbaring di tempat tidurnya, dan aku duduk di tepi tempat tidurnya.

"Oh ya, mulai saat ini, kalau ada masalah ceritakan padaku ya," kataku sambil menyelimuti Naruko. "Dengan begitu semua masalah akan terasa ringan kalau kita tanggung berdua."

"Tentu. Kamu juga jangan rahasiakan apapun dariku ya?"

"Hn. Selamat tidur," kataku tersenyum dan mengusap pelan puncak kepala Naruko.

"Selamat tidur Naruto," kata Naruko membalas senyumanku.

Aku berjalan menuju kamarku yang berada di sebrang kamar Naruko. Sebelum pintu kamar Naruko kututup, aku kembali memanggilnya.

"Nee-san..."

"Hmm?"

"Love you."

"Eh? Umm, lo-love you too Otouto."

Aku terseyum mendengarnya. Malam ini aku akan tidur nyenyak karena masalahku sudah selesai. Syukurlah, semua berjalan lancar.

Barulah jam 10 pagi harinya kami kembali ke Jepang. Tou-san dan Kaa-san menyambut kami dengan sebuah pelukan hangat. Malah Kaa-san sampai menangis segala saking terharunya.

Aku senang akhirnya semua kembali seperti semula. Mulai saat ini aku akan menjaga Naruko, kalau perlu dengan taruhan nyawaku. Aku akan selalu bersama Naruko dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kami. Karena aku sudah merasakan bagaimana rasanya kehilangan seorang kakak. Terlebih lagi Naruko itu kakak kembarku. Aku tidak mau kehilangan seorang kakak untuk kedua kalinya...


1 tahun kemudian, 18 September 2011

"Naruto-kun!"

"Aku mohon buka matamu... hiks..."

"Jangan tinggalkan aku..."

"Kita 'kan sudah janji tidak akan berpisah, hiks"

"Naruto-kun cepat bangun, aku mohon..."

"Naruto-kun..."

"Naruto-kun cepat bangun..."

.

.

.

"Hoi Naruto-kun! Cepat bangun nanti kesiangan!"

"Bentar lagi Naruko.. hmmm.."

"Dasar pemalas! Selalu saja telat bangun. Cepat banguuun!"

"Haaahhh... Lima menit lagi!"

"Bangun sekarang! Kau ini tambah besar malah tambah malas!"

"Ukh... ia ia aku bangun."

"Cepat mandi, terus cepat turun, nanti kita terlambat menemui Kaa-san dan Tou-san."

"Ia Naruko cerewet."

"Huh, dulu kamu memanggilku Nee-san, sekarang malah memanggil Naruko lagi. Menyebalkan."

Ya, itu benar. Aku memang lebih sering memanggil Naruko dengan namanya. Entah kenapa itu terdengar lebih akrab menurutku. Aku hanya akan memanggilnya 'Onee-san' saat aku menginginkan sesuatu. Misalnya saat memintanya mengerjakan PRku, meminta traktir, atau memintanya membuatkan kue yang enak. Jadi intinya, rumusnya begini:

Memanggilnya 'Onee-san' pasang muka memelas menyebutnya cantik = permintaanku terkabul.

Tapi ngomong-ngomong keadaan di pagi ini terasa seperti de javu bagiku. Aku pernah mengalami ini sebelumnya.

Selain itu, bayangan yang tadi itu...

Rupanya yang tadi itu hanya mimpi. Mimpi tentang kejadian 6 bulan lalu. Saat itu aku dan Naruko sedang jalan-jalan. Saat kami sedang menyebrang jalan, tiba-tiba ada truk berkecepatan tinggi melaju ke arah Naruko. Karena sudah tidak ada waktu lagi, aku mendorongnya ke trotoar. Dan sebagai gantinya akulah yang tertabrak truk ugal-ugalan itu. Kepalaku terbentur kaca mobil hingga kepalaku bercucuran darah. Aku tidak sadarkan diri setelah itu. Darahku keluar banyak hingga aku kritis. Dan katanya stok darah golongan B di RS Konoha tinggal sedikit. Keluargaku panik bukan main, terutama Naruko. Terlebih lagi aku kecelakaan karena berusaha menyelamatkannya. Karena sudah tidak ada waktu lagi, Kaa-san dan Tou-san memutuskan untuk mentransfusikan darah mereka karena golongan darah kami sekeluarga sama. Tapi Naruko menolak, dia bilang dia yang bertanggung jawab terhadap keadaanku, jadi dia yang akan mentransfusikan darahnya untukku. Setelah itu aku masih saja kritis. Terutama karena benturan keras di kepalaku. Dalam ketidaksadaranku, aku bermimpi Naruko setiap hari menungguku dan selalu berdoa untuk kesembuhanku. Namun menurut Kaa-san itu semua bukan mimpi melainkan kenyataan. Seminggu kemudian aku sadar dan setelah itu kesehatanku berangsur-angsur membaik. Hingga bisa sehat sepenuhnya seperti sekarang.

Aku melihat kedua tanganku. Disana mengalir darah Naruko juga. Sekarang aku tambah merasa kalau Naruko adalah bagian dari diriku.

"Hei, mau sampai kapan melamun? Cepat mandi!" Perkataan Naruko membawaku kembali dari bayangan 6 bulan lalu itu.

"O-ok"


"Sudah siap?"

"Siap. Hei tunggu dulu, kenapa kamu cuma pake hotpants dan tank top? Naruko, villa kita itu di pegunungan Hokage yang sejuk. Ditambah lagi kita kesana naik motor. Minimal pakailah jaket. Hah kamu ini, tunggu disini."

Aku membawa sebuah jaket yang tidak lain adalah jaket Karin-Neesan yang dari Harazuku.

"Wow, jaket yang bagus. Untukku?"

"Ya, itu hadiah dari Karin-Neesan. Ayo naik." Yah, kupikir Karin-Neesan juga tidak akan keberatan. Dengan begitu aku merasa Karin-Neesan ada bersama kami hari ini, dan keinginannya untuk naik motor bersamaku memakai jaket itu tercapai.

Hari ini kami sekeluarga akan mengadakan pesta barbeque memperingati ulang tahun pernikahan Tou-san dan Kaa-san yang ke-21 di villa yang dibeli Tou-san sebulan lalu. Tou-san dan Kaa-san sudah disana dari kemarin. Kalian tau sendiri lah, untuk menghabiskan waktu berdua tentunya.

"Huahahahahaaaaa..."

"Hahaha, lucu sekali..."

Kami tertawa terbahak-bahak melihat acara komedi di TV di ruang keluarga villa kami. Bahkan Tou-san sampai berguling-guling di lantai saking lucunya. Tapi tawa kami memudar saat aura mengerikan muncul di belakang kami. Sesosok wanita berambut merah panjang menatap kami mengerikan bagai seorang Jinchuuriki. Spatula di tangan kanannya siap mengeksekusi kami kapan saja.

ZIIIIIIIIINGGGG! PLAAKKKK!

Tou-san, Naruko dan aku terlonjak saling berpelukan saking ketakutannya saat sosok itu memukul meja dengan spatula.

"Enak ya kalian ketawa-ketiwi! Kaa-san sibuk nyiapin makanan, kalian malah enak-enakan disini. Tou-san, siapin barbeque-nya! Naruko-chan, siapin meja makan! Naru-chan, cuci semua sayur dan buah!"

"SIAP!" jawab kami bertiga serentak. Kami berlari berhamburan menuju pekerjaan kami masing-masing. Saat Kaa-san marah memang tidak ada satupun dari kami yang berani membantah.

"Itadakimasu!"

"Wow, barbeque-nya enak," kata Naruko.

"Siapa dulu dong yang manggang." Tou-san menepuk dadanya bangga.

"Hei, aku juga tadi bantu manggang. Pasti yang kamu makan itu hasil pangganganku Naruko," seruku tidak mau kalah.

"Ah, kalian ini bagaimana. Tentu saja yang bikin enak itu bumbu yang Kaa-san buat," celetuk Kaa-san sambil tersenyum santai.

"Oh, benar juga. Hahaha."

"Hahaha..." Kami semua tertawa bersama.

Begitulah suasana pesta barbeque kami. Penuh dengan keceriaan dan candaan. Sebuah kebersamaan yang sangat berharga bagi kami.

Menjelang sore aku dan Naruko duduk di teras belakang villa. Memandang langit sore yang indah.

Sesekali kudengar Kaa-san dan Tou-san tertawa dari arah ruang keluarga. Mereka berdua sedang bermain kartu disana. Sebenarnya aku dan Naruko tadi ikut bermain. Tapi berhenti karena bosan, soalnya Kaa-san terus yang kalah.

"Naruko, kamu senang hari ini?"

"Yup! Senaaaang sekali, hehe."

"Syukurlah." Aku tersenyum ke arahnya. "Aku senang jadi bagian dari keluarga ini."

"Aku juga. Sebelumnya aku tidak pernah merasa se-senang ini."

"Aku juga."

"Ah, kamu ini meniru kata-kataku aja."

"Hehe."

Kami berdua tersenyum, kemudian kembali memandang pemandangan di depan kami. Memandang indahnya langit sore dan pedesaan di depan kami. Kami hanya terdiam menikmati keagungan ciptaan Tuhan itu.

"Pemandangan yang indah ya?" tanyaku kepada Naruko setelah sekian lama dalam keheningan.

Yang ditanya tidak menjawab. Kualihkan pandanganku kepada Naruko, oh rupanya dia tertidur di pundakku.

"Naru-chan, Naruko-chan kok duduknya gitu?" tanya Kaa-san dari ruang keluarga. Mukanya penuh dengan coretan bedak, pasti dia kalah terus.

"Dia tidur Kaa-san."

"Oh, pasti gara-gara kecapean tadi."

"Ya."

Kulihat jaket yang dipakai Naruko.

"Hei Karin-Neesan," kataku seolah jaket itu adalah Karin-Neesan. "Kau lihat? Aku sudah memenuhi janjiku. Keluarga kita sudah berkumpul seperti dulu. Kembaranku juga sudah ada disampingku, kau lihat 'kan? Dia tidak kalah cantik darimu, atau malah lebih cantik. Ahaha, gomen. Tapi satu yang pasti, dia sama cerewetnya sepertimu. Kuakui itu, hehe. Tapi meskipun begitu aku tetap menyayanginya seperti aku menyayangimu. Aku yakin meskipun kau sudah tiada, tapi kenangan tentangmu masih ada di hati kami. Kau masih hidup di hati kami. Semoga kau tenang di alam sana, Nee-san..."

The End


A/N:

Ayo Pulang, Onee-san

Cast

Uzumaki Naruto ... Naruto

Uzumaki Naruko ... Naruko

Uzumaki Kushina ... Kaa-san

Namikaze Minato ... Tou-san

Karin ... Karin-Neesan

Deidara ... Deidara

Hyuuga Hinata ... Hinata

Inuzuka Kiba ... Kiba

Uchiha Sasuke ... Sasuke

Nara Shikamaru ... Shikamaru

Sai ... Sai

Aburame Shino ... Shino

Akimichi Chouji ... Chouji

Rock Lee ... Lee

Haruno Sakura ... Sakura

Yamanaka Ino ... Ino

Tenten ... Tenten

Tayuya ... Tayuya

Shion ... Shion

Kurama Yakumo ... Yakumo

Hyuuga Neji ... Neji

Umino Iruka ... Iruka-sensei

Hatake Kakashi ... Kakashi-sensei

Yuhi Kurenai ... Kurenai-sensei

Sarutobi Hiruzen ... Oji-san

Sabaku no Gaara ... Gaara

Temari ... Temari-Neesan

Kankurou ... Kankurou

Hidan ... Petugas Bandara 1

Kakuzu ... Petugas Bandara 2

Hagane Kotetsu ... Security Bandara 1

Izumo Kamizuki ... Security Bandara 2

Haku ... Pramugari

Orochimaru ... Polantas

Ebisu ... Pengendara Marah

Genma Shiranui ... Pengendara SUV

Tobi / Uchiha Madara ... Kepala Pembantu

Special Thanks To:

Reviewer yang sering review dari awal sampai akhir:

Kara 'Lluvia' Couleurs, makasih buat bimbingan, kritik dan sarannya. Itu sangat berarti buat saya yang masih newbie, hhe.

Sieg Hart, makasih karena ga pernah absen ngereview tiap chapter fanfic ini.

Ren-Mi3 NoVantA, makasih udah ngikutin cerita ini dari awal.

Sketsa Gelap, makasih karena udah sabar meskipun tiap adegan yang lagi seru selalu saya potong, ahaha.

NaruDobe Listachan, makasih karena selalu penasaran nungguin lanjutan tiap chapter.

Dan juga buat reviewers lain yang selalu ngasih saya support buat ngelanjutin fic ini:

Lovely Orihime, baka nesiachan, Namiko-chan NaruHina Natsuhiko, Miku, Misyel, Meg chan, NN, ice cream blueberry, disappointed, tara, mika, asahi, dei-chan, Kudo Widya-chan Edogawa, FR33ZE, Miru dan ' ' (kosong, bingung manggil apa).

Btw, ada sedikit hal menarik di chapter terakhir ini. Kalau kalian perhatikan, Naruko manggil Naruto 'Baka Otouto' sama seperti Karin. Selain itu kata-kata Naruko saat membangunkan Naruto itu juga sama persis dengan kata-kata yang diucapkan Karin (lihat chapter 1). Makanya Naruto pikir dia seperti merasakan de javu. Dan di chapter ini saya masukin 2 quote Naruto yang cukup terkenal. Tapi saya ga akan beritau yang mana, silahkan kalian cari sendiri pasti kalian tau lah ;)

Pada kesempatan ini saya juga mau minta maaf kalau selama pengerjaan fanfic ini ada kata-kata saya yang salah, atau fanfic ini kurang memuaskan. Dan jangan ragu buat ngasih unek-unek kalian mengenai fanfic Ayo Pulang Onee-san di review terakhir ini, tapi yang dibales pasti yang login doang karena fanfic ini udah tamat. Hehe. Ok sampai jumpa di karya saya yang lain (semoga).

25 Juni 2011

Honto ni Arigato

-rifuki-