Disclaimer: Dynasty Warriors belongs to KOEI. Canon characters belong to God. I only own the story
Chapter 14: Emerald & Brown
"Menurut Paman Ling Tong, apakah karakterku mirip dengan Mama?" tanyaku tiba-tiba.
"Hmm… walaupun secara fisik memang kau benar-benar seperti duplikatnya, tapi untuk karakter, jika dibandingkan Shang Xiang, kau lebih mirip… ayahmu. Walau aku tidak yakin bagaimana karaktermu saat kau nanti jatuh cinta."
Benar juga, aku selama ini belum pernah benar-benar merasakan jatuh cinta. Apakah aku merasakan ketertarikan pada laki-laki? Tentu saja pernah. Namun, untuk merasakan cinta yang mendalam seperti yang dirasakan Mama, sepertinya belum.
Sejujurnya, aku justru merasa takut jatuh cinta setelah mendengar kisah Mama. Apakah harus siap untuk merasa sakit separah itu juga?
Ada satu pertanyaan lagi yang membuatku penasaran. Apa yang membuat Mama dan Jenderal Gan Ning begitu jatuh hati pada satu sama lain? Karena keduanya sudah tiada, aku tidak bisa mendapatkan jawabannya. Aku butuh jawaban langsung dari mereka, rasanya tidak sepenuhnya akurat jika menggunakan sudut pandang Paman Ling Tong, Papa atau Paman Lu Xun.
"Hari mulai sore," sela Ling Zhao. Betul juga, matahari mulai turun dan langit perlahan berubah warna.
"Baiklah anak-anak. Satu bagian cerita lagi dan setelah itu, kita akan lanjutkan besok, bagaimana?" tanya Paman Ling Tong.
Kami serempak mengangguk.
Setelah pernikahannya dengan Sun Shang Xiang, Liu Bei memang tidak berencana untuk langsung kembali ke wilayahnya dan menikmati pesta dan hidangan-hidangan yang disajikan padanya oleh Wu. Terlena oleh hal tersebut, ia bahkan sempat berdebat dengan Zhao Yun yang selalu menyuruhnya untuk berhenti mabuk-mabukan.
Rencana Zhou Yu sudah hampir sempurna kalau tidak ada dua orang itu, Zhao Yun dan Zhuge Liang.
Atas perintah Zhuge Liang, Zhao Yun tak pernah melepaskan pandangan dari tuannya. Ia siap siaga 24 jam, bahkan dalam tidurnya sekalipun. Di manapun ada Liu Bei, Zhao Yun akan selalu setia mengawal di belakangnya karena saat itu Zhang Fei dan Guan Yu punya tanggung jawab lain di wilayah Shu.
Tentu saja hal tersebut menghambat rencana Zhou Yu untuk membunuh Liu Bei saat ia lengah.
Keadaan semakin runyam dengan penyakit Zhou Yu yang tak kunjung membaik. Bahkan sering kali ia terlihat batuk darah.
Setelah seminggu menikmati hidupnya di Wu diiringi percobaan pembunuhan yang selalu gagal akibat jenderal yang setia dan strategis yang cerdik, Liu Bei akan kembali ke Shu.
Sun Shang Xiang tidak punya pilihan lain, ia harus berpura-pura senang untuk ikut Liu Bei kembali ke wilayahnya sembari memikirkan cara lain untuk menyingkirkan pria yang menyandang status sebagai suaminya ini.
Hari itu, bersama Liu Bei, Zhao Yun dan segelintir pasukan Shu lainnya, mereka berangkat. Shang Xiang tidak naik di atas kuda seperti mereka, melainkan berada di dalam kereta yang ditarik oleh kuda.
Sebelum ia meninggalkan Wu, Zhou Yu telah memberitahu rencananya untuk mencegat pasukan Liu Bei dengan ratusan pasukan berkuda di dekat sungai yang akan dipimpin oleh Ding Feng. Mereka juga telah menyingkirkan kapal yang sudah disiapkan Zhao Yun sehingga mereka tidak akan bisa kabur.
"Tuanku, kita disergap!" Zhao Yun yang dua kali lebih cepat untuk patroli keadaan segera kembali ke sisi Liu Bei.
"Apa?! Sudah kuduga orang-orang Wu tidak akan membiarkan kita lepas begitu saja, Zhuge Liang benar."
"Kapal kita juga disabotase, Tuan!"
Tidak ada waktu bagi Liu Bei untuk berpikir karena pasukan Ding Feng lebih cepat. Mereka segera mengepung pasukan Liu Bei dalam bentuk lingkaran.
"Liu Bei, turun dari kudamu!"
Sun Shang Xiang yakin rencana Zhou Yu akan berjalan lancar kali ini, setidaknya sampai melihat beberapa prajurit yang mengawal Ding Feng berjatuhan terkena anak panah.
"Darimana—"
"Kau! Menyerahlah!" suara serak terdengar dari atas bukit. Itu Huang Zhong, salah satu jenderal kepercayaan Liu Bei.
"Mimpi saja kau." Ding Feng menginstruksikan para pasukannya untuk maju menyerang, tapi situasi jarak jauh tidak menguntungkan bagi mereka yang menggunakan pedang dan tombak. Huang Zhong justru lebih unggul karena ia dan para pasukannya menggunakan panah, sehingga sebelum pasukan Ding Feng berhasil mencapai atas, mereka sudah mati duluan.
"Tuan Liu Bei, kami sudah menyiapkan kapal lain!"
Di tepi sungai, kapal dengan ukuran besar sudah menunggu Liu Bei. Belasan prajurit siaga di depan kapal, siap menjaga Liu Bei dari marabahaya.
Ding Feng yang tak ingin menambah korban dari pasukannya akhirnya mundur. Dari balik tirai kereta, Sun Shang Xiang memantau keadaan.
Dia ada di sana.
Sepasang mata emerald bertemu sepasang mata coklat.
Sun Shang Xiang menunggu Gan Ning memutuskan tatapan mata mereka, tapi nampaknya lelaki itu melakukan hal yang sama.
Sekilas, Shang Xiang merasakan tatapan hangat yang biasanya kembali. Inilah sosok yang ia kenal.
"Nyonyaku." Suara Zhao Yun memutuskan tatapan mata itu. "Kau boleh keluar dari kereta saat berada di dalam kapal nanti."
"Terima kasih, Zhao Yun."
Seiring menjauhnya Ding Feng dan pasukannya, Shang Xiang memandang Gan Ning untuk terakhir kali sebelum pasukan Liu Bei bergerak menuju kapal.
Mendengar berita buruk atas selamatnya Liu Bei berkat kedatangan Huang Zhong, kondisi Zhou Yu kian memburuk setiap detiknya. Zhou Yu membutuhkan provinsi Jing yang dipinjam oleh Shu, dan dia akan mendapatkannya kembali bagaimanapun caranya.
"Zhou Yu, kurasa kita harus memikirkan rencana lain." Suatu kali Sun Quan mengunjungi Zhou Yu langsung di kamarnya.
"Ya, Tuanku, aku dan Lu Su sudah berdiskusi. Lu Su akan pergi ke wilayah Shu untuk bernegosiasi dengan Zhuge Liang, kami berencana untuk meminta mereka menyerang wilayah Liu Zhang sebagai ganti provinsi Jing, jika mereka menolak dengan alasan jumlah pasukan yang kurang, kami mengatakan akan membantu mendapatkan provinsi itu untuk mereka."
"Apakah itu hanya umpan atau kau benar-benar akan membantu mereka?"
"Tentu saja hanya umpan, Tuanku. Kalau mereka menyetujuinya, alih-alih menyerang Liu Zhang, kami akan menyerang provinsi Jing dan mendapatkannya kembali."
"Apakah jika Jing kembali, adikku juga bisa kembali?"
"Itu belum bisa kujawab, Tuanku. Sekarang menjadi lebih sulit untuk membunuh Liu Bei, dan butuh perencanaan berbulan-bulan yang matang untuk mengeksekusinya. Tapi kuharap Tuan Putri bisa kembali secepatnya."
"Baiklah," Sun Quan menghela napas sejenak. "Adikku jatuh hati pada lelaki lain."
"Ya, pastinya tak mudah bagi seorang Putri untuk sembarang jatuh cinta, dengan aturan-aturan yang mengikatnya. Apakah kau berniat untuk membebaskannya setelah ia kembali?"
"Aku ingin, tapi aku tidak bisa, Zhou Yu. Ada aturan yang tak bisa dilanggar."
"Sejujurnya Tuanku, mengenali karakter keduanya, aku tidak yakin mereka menyerah secepat itu."
"Tidak banyak yang terjadi setelah itu. Zhou Yu meninggal karena penyakitnya, tapi dalam 3 tahun tersebut tidak ada kejadian yang berarti. Shu masih bandel, dengan alasan mereka masih perlu provinsi Jing dan kami masih ingin membunuh Liu Bei, tentu saja," jelas Paman Ling Tong.
"Paman, tahun berapa Mama ikut Liu Bei ke Shu? Apa 209?" tanyaku.
"Seingatku sudah masuk tahun 210, Yue."
"Siapa yang menjadi penerus Zhou Yu setelah itu, Ayah?" ganti Ling Zhao yang bertanya.
"Pertama Lu Su, kemudian tidak lama setelah itu ia juga meninggal dan dilanjutkan oleh Lu Meng. Setelah Lu Meng meninggal, Lu Xun menjadi strategis utama sampai saat ini."
"Wah, ayahmu lama sekali menjabat sebagai strategis, Lu Feng," kataku kagum. Bukan hal yang mengejutkan sih, mengingat kecerdasan Paman Lu Xun yang selama ini kusaksikan sendiri. Ia juga berkepala dingin sehingga tidak mudah terpancing emosi. Yah, agak berbeda dengan Papa.
"Kalau tidak salah dia menjadi strategis mendekati tahun lahirku," tukas Lu Feng. "Mungkin sebentar lagi Ayah akan pensiun."
"Kita sudah tahu siapa yang akan menjadi penerus Paman Lu Xun, ya kan Ling Zhao?" aku menggodanya. Ling Zhao tidak suka kalau aku dan Lu Feng mulai menjahilinya.
"Tak tahu ya, Kaisar Sun Quan yang tahu—"
"Zhu Yue, kau masih disini rupanya? Ayo pulang! Besok pagi kau boleh kembali." Papa tiba-tiba datang bersama Paman Lu Xun. Apakah dia baru kembali? Lama sekali perginya, melihat hari sudah hampir gelap.
"Paman Ling Tong, terima kasih banyak atas cerita hari ini! Maaf ya, aku yakin kau lelah! Akan kuminta lanjutannya dari Papa saja!"
"Tidak masalah, Yue. Kesinilah kapanpun kau mau."
Dengan riang, aku ikut Papa pulang ke kediaman kami. Ia tampak agak lelah, kurasa cerita lanjutan bisa menunggu besok.
"Kau lapar? Aku tadi mampir ke tempat makan favoritmu untuk membeli ayam panggang lho. Kita bisa makan bersama, aku juga sudah ngiler melihatnya," gurau Papa.
"Waaah, sudah lama aku tak makan ayam itu. Ayo cepat sedikit jalannya, Pa!"
Inilah yang kusukai kalau Papa sedang pergi agak jauh. Ia pasti membeli ayam panggang kesukaanku, padahal itu agak mahal.
Begitu kami sampai di rumah, aku buru-buru menyajikan ayam itu untuk kami santap. Sembari makan, aku menceritakan sampai mana bagian yang sudah Paman Ling Tong dongengkan pada kami hari ini.
"Yah, masa-masa perebutan provinsi Jing ini memang jadi masalah besar. Kau tahu kan, pada akhirnya kami sampai bekerja sama dengan Wei untuk membunuh Guan Yu? Lagi-lagi itu hanya perkara Jing saja!"
"Aku juga kadang tak mengerti kenapa Shu tak kunjung mengembalikannya sampai bertahun-tahun hanya untuk berakhir dengan kepala Guan Yu sampai di tangan Cao Cao." Hening sejenak, aku fokus dengan ayamku sampai satu pertanyaan tiba-tiba muncul di kepalaku.
"Pa, apakah aku pernah melihat Jenderal Gan Ning? Kalau dia meninggal di Yi Ling, harusnya aku tahu dia, atau mungkin aku lupa…"
Papa tertegun sejenak. Ia memandangku sebentar, mengalihkan pandangannya ke arah tirai sebelum menjawab. "Ya… ya! Tentu saja, kau pernah melihatnya Yue. Kau… pernah mengobrol dengannya. Tapi betul, betul itu. Kau pasti sudah lupa, saat itu kau kan masih kecil!"
Aneh. Dalam 20 tahun aku hidup bersama Papa, pastinya aku tahu betul kalau Papa tidak mau menatap mataku saat kutanya sesuatu, dia sedang berbohong.
Pagi itu aku dibangunkan oleh sinar matahari yang menembus masuk melalui jendela kamar, tepat memancarkan sinarnya di mataku sehingga mau tak mau aku harus mengakhiri mimpi indahku. Dengan malas, aku meregangkan tubuhku sebelum bangkit dari ranjang untuk membersihkan diri dan mulai beraktivitas.
Mengingat ini hari pertama dalam minggu yang baru, harusnya hari ini jadwalku untuk membersihkan perpustakaan. Paman Ling Tong pernah bercerita kalau rutinitas membersihkan perpustakaan ini terbentuk saat masa Lu Meng menjadi strategis. Katanya, dulu ini adalah bentuk hukuman bagi Paman Ling Tong dan sahabatnya jika mereka bertengkar terus. Kurasa sahabat yang dimaksud saat itu adalah Jenderal Gan Ning, karena Paman Ling Tong tampaknya jarang bertengkar dengan Papa ataupun Paman Lu Xun.
Sekarang? Tanpa perlu melakukan kesalahan pun, aku, Lu Feng dan Ling Zhao yang kena getahnya! Rutinitas ini tetap ada.
Setelah menyantap sarapan berupa sisa ayam kemarin yang masih banyak dan membersihkan diri, aku berangkat ke perpustakaan istana.
Perjalanan menuju perpustakaan istana ternyata cukup menaikkan suasana hati karena aku disambut oleh langit yang cerah dan burung-burung berkicau seolah ikut bergembira pagi ini, seolah ini adalah hari yang menyenangkan.
"Paman Lu Xun!" sapaku begitu menjejakkan kaki di dalam perpustakaan. Pemandangan yang tak mengejutkan melihat Paman Lu Xun di sini. Kalau Papa yang di sini, barulah itu fenomena langka.
"Halo, Yue. Hari ini jadwalmu ya?"
"Betul, Paman!" jawabku sembari mulai membongkar rak buku di ujung yang tampak berdebu, "Paman, boleh aku tanya sesuatu?"
"Apapun, Yue. Silahkan."
Karena aku yakin Papa berbohong semalam, aku menanyakan hal yang sama. "Apakah aku pernah bertemu Jenderal Gan Ning?"
"Ya, kau pernah bertemu dengannya. Kau tidak ingat?"
Hmmm… berarti Papa tidak berbohong. Hanya saja, cara menjawabnya aneh.
"Tidak, hampir tidak ada memori. Memang ada banyak jenderal di sini sih, mungkin aku lupa karena dia meninggal terlalu cepat."
"Sudah sejauh mana cerita yang kau tahu, Yue?"
"Hmm… sampai Mama sudah tinggal di Shu, Zhou Yu meninggal, dan Paman Ling Tong bilang tidak ada kejadian berarti selama 3 tahun setelah itu."
"Aku akan melanjutkannya untukmu sembari kau bersih-bersih."
Jian Ye, 213 AD
Lu Su, Lu Meng dan Lu Xun sedang berada di ruang rapat, masih membicarakan bagaimana merebut kembali provinsi Jing. Pada masa itu, Lu Xun belum menjadi strategis dan masih menjadi murid Lu Meng. Walau begitu, ia selalu menghadiri rapat para strategis.
"Liu Bei masih belum mau menyerang Liu Zhang dengan alasan kesamaan marga, yang berarti mereka masih ada hubungan darah. Omong kosong macam apa ini?!" Lu Meng mulai frustasi.
"Berarti kita yang akan melaksanakan rencana Tuan Zhou Yu untuk menyerang Jing dengan alibi membantu mendapatkan wilayah Liu Zhang. Harusnya Zhuge Liang tidak bisa membaca ini. Aku mengatakan akan menyerang Liu Zhang dengan 30.000 pasukan."
"Apa benar 30.000 pasukan?"
"Tidak, aku akan membawa 50.000 pasukan untuk menyerang Jing. Harapan lainnya, kita bisa membawa Putri kembali."
Seperti biasanya, Lu Xun berlatih bersama ketiga teman terdekatnya, Zhu Ran, Gan Ning dan Ling Tong. Keceriaan dan sifat spontan Gan Ning yang dulu sudah mulai terlihat lagi, meskipun tidak jarang ia menghilang entah kemana. Sedangkan Zhu Ran, Lu Xun tahu rivalnya itu masih menaruh perasaan yang sama, tapi ia lebih hebat untuk menutupi, terutama di depan Gan Ning.
"Kita harus mulai mempersiapkan diri untuk merebut Jing," kata Lu Xun, memberi tahu sedikit soal rencana Lu Su dan Lu Meng.
"Akhirnya kita akan menyerang Shu, aku sudah tidak sabar untuk menghadapi Liu Bei secara langsung!" sergah Gan Ning. "Aku akan bertarung sebagaimana aku biasa bertarung."
"Jangan gegabah, idiot. Kau pikir Shang Xiang senang kalau kau mati?" hardik Ling Tong. "Aku sih, yang akan senang."
Gan Ning tidak menghiraukan kalimat terakhir Ling Tong. "Jadi, apa yang harus kita lakukan Lu Xun?"
"Untuk kalian, tetaplah berada di depan dan memimpin pertarungan. Untuk Zhu Ran, kau akan memimpin pasukan yang membawa suplai makanan."
"Tidak ada strategi?"
"Itu bagian dari strategi."
"Kapan kita akan mulai menyerang?" kali ini Zhu Ran yang bertanya. "Aku sudah siap untuk membakar mereka semua!"
"Besok lusa, persiapkan diri kalian sebaik mungkin."
"Lu Xun, kudengar kau dan Lu Su pernah pergi ke Shu untuk bernegosiasi dengan Zhuge Liang. Apa kau bertemu Putri?" Gan Ning mengalihkan pembicaraan, tapi topik itu berhasil membuat Zhu Ran dan Ling Tong ikut penasaran.
"Ya, dia masih dikelilingi dan dijaga ketat oleh para pengawal wanitanya yang ia bawa dari wilayah kita. Rupanya bahkan Liu Bei tak bisa menyentuh Sang Putri," kekeh Lu Xun. "Putri tidak banyak berubah dan masih menanyakan kabar kalian."
"Haaahh… syukurlah. Aku tidak punya alasan untuk pergi ke Shu, tapi mendengar kabar darimu saja aku bisa lega!" Gan Ning menghela napas panjang.
"Kita akan bertemu Putri lagi, secepatnya."
Sebanyak 50.000 pasukan Wu bergerak maju ke arah Jingzhou. Seharusnya penyerangan mereka akan berhasil mengingat Shu tidak tahu bahwa mereka akan dikepung oleh puluhan ribu pasukan. Lu Su menjadi pemimpin perang kali ini.
Di sisi kiri dan kanannya, Ling Tong dan Gan Ning mengawal Lu Su di bagian depan, diikuti ratusan pengawal mereka masing-masing.
Keadaan di Jingzhou tampak tenang, sesuai prediksi para strategis, menunjukkan Jing tidak dalam penjagaan ketat.
Tepat ketika Lu Su semakin maju, bak dejavu lagi-lagi anak panah mulai menyerang para pasukan Wu. Belum cukup waktu bagi para pasukan Wu untuk mencerna apa yang sedang terjadi, dari timur Zhang Fei dan pasukannya menyerang, disusul Guan Yu dari barat.
Puluhan ribu pasukan yang sudah disiapkan dengan matang oleh Lu Su dan Lu Meng satu per satu mulai tumbang. Yang tidak terkena panah terus mengerahkan tenaga untuk menyerang Guan Yu dan Zhang Fei.
"Zhuge Liang!" geram Lu Su. "Dia pasti sudah tahu!"
Dari selatan, seorang jenderal dibalut armor yang menutupi seluruh tubuhnya bersenjatakan pedang panjang ikut menyerang. Helm yang dikenakannya menutupi seluruh wajah sehingga tidak bisa diketahui siapa jenderal tersebut. Namun, kekuatannya bukan sembarang kekuatan. Ia mampu menebas seluruh pasukan yang menghalangi jalannya.
"Biar aku yang maju melawannya!" Gan Ning memacu kudanya menuju jenderal tersebut. "Hei! Akulah lawan yang sepadan untukmu!"
Jenderal berarmor itu tidak bersuara, tapi segera menangkis setiap serangan yang Gan Ning arahkan kepadanya setelah mereka turun dari kuda masing-masing.
Tangkas, gesit dan lincah. Itulah yang Gan Ning pikirkan. Meski begitu, ada satu hal yang mengganggu pikirannya. Selama mereka bertarung, jenderal ini terus saja menangkis dan tidak menyerang. Hal lain yang ia sadari adalah karena jenderal itu terus mundur, kini mereka lumayan jauh dari area peperangan.
Tapi Gan Ning tidak peduli. Musuh tetaplah musuh. Setelah berhasil melucuti pedang si jenderal, Gan Ning berhasil membuatnya jatuh telentang di tanah. Si jenderal belum kehilangan semangat, dari bawah ia menyepak senjata Gan Ning sehingga kini keduanya dalam kondisi tangan kosong.
Tangan kanan si jenderal berusaha meraih pedangnya, tapi kalah cepat dengan kaki Gan Ning yang sudah menginjak tangannya.
"Baiklah, kawan! Kuakui aku kalah." Jenderal itu melepas dan melempar helmnya.
"Kau…." Gan Ning buru-buru melepas injakan kakinya. Si jenderal yang sudah tak menggunakan helm berdiri, dan mengambil kembali senjatanya.
"Jangan kasar-kasar, Xingba! Aku ini masih pemula!"
Setelah 3 tahun tak bertemu, sepasang mata emerald kembali melepas rindu dengan sepasang mata coklat.
If you like this story, kindly R n R!
