...
Di ruang tengah kediaman Hyuuga, suasana terasa lebih tenang, meskipun ketegangan dari pertemuan semalam masih menyisakan kekhawatiran. Hinata duduk bersila, dengan Naruto di sampingnya yang tak henti-hentinya mencemaskan kondisi istrinya.
"Hinata, kau benar ingin melakukan ini? Aku khawatir, bagaimana jika kau kenapa-kenapa bagaimana jika-" Hinata menutup mulut Naruto.
"Naruto tenanglah, nenekmu dan Sakura saja belum datang, khawatirlah ketika mereka sudah memberikan jawaban." Jawab Hinata tegas.
Naruto menghela nafasnya dan mengangguk.
Tidak berseling lama, Naruto dan Hinata menyambut kedatangan ninja medis ter ahli di Konoha, yaitu Sannin legendaris, Tsunade, nenek dari Naruto, Sakura muridnya, dan Shizune asistennya.
Sakura melangkah masuk bersama Tsunade, diikuti okeh Shizune. Ketiganya membawa gulungan dan tas peralatan medis mereka. Tsunade tampak serius, sementara Sakura tersenyum menenangkan, Shizune seperti biasa tersenyum lembut.
"Hinata, Naruto. Kami datang untuk memastikan tidak ada yang aneh dengan sistem chakra-mu setelah kejadian kemarin," kata Tsunade sembari duduk di hadapan mereka.
"Terima kasih, Nenek Tsunade, Sakura, Shizune." ujar Hinata, sedikit gugup.
Sakura meraih pergelangan tangan Hinata, meletakkan kedua jarinya, lalu menutup mata. Perlahan-lahan, dia menyalurkan chakra untuk memindai aliran chakra Hinata.
"Hmm…" gumam Sakura.
"Ada yang aneh?" tanya Naruto langsung berdiri.
"Tenang dulu," sahut Tsunade sambil mengambil posisi di belakang Hinata dan mulai menyalurkan chakra dari arah tengkuknya. "Ada jejak chakra asing… tipis sekali, nyaris tak terdeteksi. Tapi aku bisa mengenalinya…"
"Berasal dari luar dunia ini," lanjut Sakura, wajahnya mengerut.
"Jadi benar…" Naruto mengepal tangan. "Klan Otsutsuki."
Shizune menyiapkan beberapa peralatan medis.
"Hati-hati Sakura, bahaya jika chakra itu ikut masuk kedalam tubuhmu."
Sakura mengangguk.
Tsunade menarik napas panjang, lalu menatap Naruto. "Ini bukan chakra biasa. Ini seperti… pengunci. Sejenis penanda untuk melacak. Mereka belum menyerang… hanya mengamati."
Hinata menggigit bibirnya. "Jadi aku diawasi…"
Naruto memegang tangannya erat. "Tidak akan kubiarkan mereka mendekatimu lagi."
Sakura menatap mereka berdua, lalu tersenyum lembut. "Tapi kabar baiknya, kami bisa menghapus jejak chakra ini. Dan aku punya ide untuk membuat semacam lapisan pelindung chakra."
Tsunade mengangguk. "Kita bisa gunakan kombinasi teknik penyegelan dan penguatan jaringan chakra internal, tapi kita butuh bantuan—chakra besar dan stabil, milik Jinchuriki."
Naruto menatap Tsunade. "Kyuubi."
…
"Jadi apakah kalian bisa membuat segel pelindung chakra yang Hiashi bicarakan?"
Naruto berbicara bersama Shizune dan Neneknya.
"Itu mungkin untuk dilakukan, namun kita harus menghapus sisa chakra yang ditanam dalam tubuhnya untuk melacaknya." Shizune melihat kearah Naruto.
"Kami akan melakukan semua yang kami bisa untuk menghapus chakra tersebut. Jangan khawatir Naruto." Tsunade memegang bahunya untuk menenangkan cucunya.
...
Setelah proses yang agak panjang, akhirnya semua chakra asing itu sudah dikeluarkan.
Hinata terlihat sedikit lelah. Naruto phn menghampirinya dan menyentuh rambutnya.
"Hei, bagaimana perasaanmu?"
Hinata menatap kearah Naruto dan tersenyum, walaupun wajahnya sangat lelah.
"Sedikit lelah…Tetapi tidak apa-apa Naruto."
Naruto terlihat sedikit cemas.
"Naruto, bisakah kau fokuskan energi cakramu ke Hinata?" Tanya Tsunade.
"Baiklah, akan ku coba."
Naruto memfokuskan energi chakranya menuju Hinata.
Ia berusaha untuk berkonsentrasi.
"Ah, sepertinya itu bekerja Naruto." Cakap Sakura.
"Tahan Naruto, jaga alirannya tetap stabil."
Hinata mengerang sedikit.
Naruto kehilangan fokusnya namun Shizune memegang bahunya.
"Fokuslah Naruto."
Perlahan, energi chakra hangat mengalir dari telapak tangannya ke tubuh Hinata. Aura biru chakra Naruto bercampur dengan energi lembut Hinata, membentuk gelombang yang semakin stabil.
Sakura mengawasi dengan serius. "Chakra mereka… sepertinya mulai selaras."
Tsunade mengangguk setuju. "Bagus. Sekarang kita bisa mulai membangun segelnya."
Tiba-tiba, Hinata mengernyitkan dahi dan tubuhnya sedikit menegang.
Naruto langsung panik. "Hinata?! Apa yang terjadi?"
Shizune dengan cepat merespons. "Itu efek samping dari pelepasan chakra asing tadi. Tenang, tetap stabil, Naruto."
Naruto menggigit bibirnya, mencoba tetap fokus. Dia tidak suka melihat Hinata kesakitan, tapi dia tahu dia harus bertahan.
Setelah beberapa menit, aliran chakra mereka mulai membentuk pola.
Sakura mengambil segel yang telah dipersiapkan dan menempelkannya di punggung Hinata. Cahaya kuning keemasan menyala sebentar sebelum menyatu dengan kulitnya.
Hinata menghela napas panjang, merasakan sensasi dingin yang perlahan mereda. Dia membuka mata dan melihat Naruto masih menggenggam tangannya erat.
"…Sudah selesai?" tanya Naruto cemas.
Sakura mengamati kondisi Hinata lalu mengangguk. "Sepertinya segelnya berhasil aktif. Ini bukan segel kutukan seperti yang biasa digunakan di klan Hyuuga, melainkan lebih seperti barikade chakra. Jika ada energi asing yang mencoba masuk lagi, tubuh Hinata akan otomatis melawannya."
Naruto menghela napas lega. Dia langsung merangkul Hinata dengan lembut.
"Kau baik-baik saja?" bisiknya.
Hinata tersenyum lemah dan mengangguk. "Terima kasih, Naruto."
Tsunade tersenyum kecil, melihat bagaimana Naruto begitu melindungi Hinata. "Kerja bagus. Tapi kalian berdua tetap harus beristirahat malam ini."
Shizune menambahkan, "Jangan langsung beraktivitas berat, Hinata. Segel ini masih butuh waktu untuk menyatu sempurna."
Naruto mengangguk. "Baik. Aku akan menjaga Hinata."
Hinata tersipu malu, tetapi dalam hatinya, dia merasa lebih tenang dari sebelumnya.
…
Waktu pemasangan segel pelacak chakra tersebut menghabiskan waktu berjam-jam. Dari pagi hingga malam, akhirnya baru segel itu selesaj dibuat.
Mereka kembali ke kamar mereka di kediaman Hyuuga. Naruto merapihkan futon yang ada di lantai dan membantu Hinata untuk berbaring.
"Apa yang kau rasakan Hinata?" Tanya Naruto khawatir.
"Sedikit pusing…" Hinata memegangi kepalanya.
Naruto pun membetulkan posisi bantal Hinata.
"Kau berbaring saja disini…aku akan mengambilkan air."
Naruto beranjak bangun dan mengambil sebotol air dari samping tempat tidur.
"Minumlah ini Hinata."
Hinata dengan lemas berusaha untuk duduk, namun Naruto yang menyadarinya segera menyangga kepalanya untuk membantunya.
Ia memegangi botol air tersebut agar Hinata bisa minum.
"Merasa lebih baik?" Tanya Naruto. Ia terlihat cemas, namun seperti biasa, ia tetap berusaha untuk tersenyum.
"Iya Naruto…" Hinata mengangguk, kemudian Naruto membaringkannya di futon kembali.
"Istirahatlah…" Naruto mengusap tangannya lembut dan menunggu dengan sabar hingga Hinata tertidur.
Ia menatap wajah Hinata yang putih pucat, dengan surai indigonya yang jatuh kewajahnya.
'Kau sudah melalui banyak hal hari ini. Dia pasti sangat kelelahan.' Batin Naruto.
Tak lama, ketika Hinata sudah terlihat tertidur, Tsunade mengetuk pintu kamar.
Naruto beranjak bangun dan membuka pintu secara perlahan. Jari telunjuknya menempel ke bibirnya, mengisyaratkan siapapun dibalik pintu untuk tidak mengusik mereka.
"Ah Naruto, nenek ingin bicara sebentar." Tsunade menyilangkan tangannya.
"Ah, baiklah nenek." Naruto menutup pintunya dengan sangat berhati-hati.
...
Naruto pergi ke koridor di dekat kamar mereka.
"Apa yang ingin nenek bicarakan denganku?" Naruto menatap sang nenek.
"Naruto, yang tadi kami temukan dalam tubuh Hinata bukan sembarang chakra, kalian harus berhati-hati. Mereka sudah mulai bergerak, dan mereka sangat pintar dalam menyembunyikan jejak mereka. Kau harus lebih waspada, aku khawatir akan keselamatanmu dan terutama keselamatan Hinata."
Naruto menarik nafas panjang dan menyeringai, "Nenek bisa mengandalkanku, tidak akan kubiarkan istriku terluka."
Tsunade berdecih kecil mendengar perkataan Naruto.
"Oh? Sekarang sudah berani menyebut nya istrimu ya?" Tsunade tertawa.
"Ah anu…tidak seperti itu nek…" Wajah Naruto merah padam.
Tsunade tidak menghiraukan sang cucu dan meninggalkannya dengan wajah merah
Naruto menatap ke arah taman, ia melihat bulan yang bersinar terang. Itu mengingatkannya pada Hinata.
Bersinar namun lembut.
Itulah Hinata baginya.
…
Hinata merasakan dirinya berada dalam kegelapan.
Tak lama seorang pria berkulit putih pucat, rambut perak dengan badan yang tinggi tegap.
Namun, matanya, lavender pucat, sepertinya.
Pria itu tersenyum padanya, mengulurkan tangannya pada Hinata. Bulan bersinar cerah di baliknya.
DEG
Hinata membuka matanya, ia tersengal-sengal.
Naruto yang tidur terduduk di sebelahnya sontak langsung terbangun.
"Ada apa Hinata?!" Tanya Naruto khawatir, wajahnya masih sedikit kisut karena baru saja terbangun.
Sekujur tubuh Hinata dibasahi keringat, nafasnya terengah-engah.
"N-Naruto…aku bermimpi…seorang pria…berkulit putih dan berambut perak…ia mengulurkan tangannya padaku."
Naruto menghampirinya dan mengelus punggungnya dengan lembut.
"Hei tenanglah." Naruto tersenyum lembut.
Hinata mengangguk kecil.
Naruto menyentuh kening Hinata untuk mengecek suhu badannya.
Wajah Hinata sedikir memerah karena malu.
"Apakah dia melakukan sesuatu Hinata?"
Hinata menatap Naruto, "Dia seperti memanggilku."
"Kemarilah…"
Naruto meletakan tangannya di sekeliling pinggang Hinata dan berbaring di sampingnya, dibalik selimut tebal dan diatas futon yang empuk.
"Merasa lebih baik?" Naruto tersenyum nakal.
"N-Naruto!" Wajah Hinata merah padam.
Naruto yang melihatnya tertawa lembut.
"Kau sangat lucu ketika kau seperti ini Hinata."
Hinata yang mendengarnya hanya membenamkan wajahnya ke dada bidang Naruto.
Wajah Naruto pun ikut memerah, keduanya pun tertidur dalam keadaan menahan malu.
Di bawah sinar bulan yang menyelinap lewat jendela, dua hati yang sempat diliputi cemas kini berdetak damai dalam pelukan hangat.
...
Halo semua, semoga di chapter ini typonya berkurang, susah banget untuk enggak typo, author sedang berusaha benerin. Sampai bertemu di chapter selanjutnya!
