...

Hinata terbangun dari tidurnya, ia merasakan hembusan hangat di samping wajahnya.

Itu Naruto.

Ia tersenyum lembut dan tertawa.

"Hmm…ada apa Hinata?"

Hinata menggelengkan kepalanya.

"Tidak apa-apa, kau kelihatan lucu." Hinata tertawa.

"Aku ini tidak lucu Hinata, aku ini keren dan tampan seperti Sasuke! Bahkan lebih!" Jawab Naruto geram.

"Tetap lucu bagiku…"

Naruto yang jengkel mendorong Hinata hingga ia jatuh diatas futon.

Naruto memegang tangannya dengan erat, menatap matanya dalam-dalam.

Ia baru tersadar ketika melihat wajah Hinata memerah.

"Hinata- M-maafkan aku."

Naruto melepaskan tangannya dan langsung berpaling.

Naruto masih berpaling, wajahnya merah padam. Tapi sebelum dia sempat bicara lagi, Hinata bangkit perlahan dan duduk di sampingnya.

"Aku tidak keberatan… kalau kau ingin memelukku sedikit lebih lama," bisik Hinata pelan, sambil menyandarkan kepalanya di bahu Naruto.

Naruto mencengkram bahu Hinata, "Hinata…" Naruto mengerang lembut. Godaan Hinata sangat manjur.

Aksinya dihentikan oleh ketukan di pintu.

Naruto yang jengkel langsung membuka pintu dengan wajah kesal dan bete.

"Apa?"

Sakura melihat wajah Naruto yang kesal reflek tertawa.

"Kau jelek sekali Naruto." Sakura tertawa.

"Sakura…"

Naruto menunduk kecewa, ia baru saja ingin beraksi.

"Aku kesini untuk melihat kondisi Hinata." Sakura mendorongnya ke samping dan menghampiri Hinata.

Sakura menatap Hinata yang pipinya merah merona, lalu berbisik pelan, "Sepertinya aku datang di waktu yang nyaris salah ya?"

Hinata buru-buru mengalihkan pandangan, sedangkan Naruto menutup wajah dengan bantal futon.

Hinata keluar dari kamar mandi, berbusana lengkap dengan rambut yang ditata rapih dan dress berwarna biru muda.

"Hei…Hinata, soal tadi…maaf." Naruto menggaruk kepalanya sembari tertawa canggung.

"Ah…anu…bukan apa-apa Naruto." Hinata tersenyum, namun terlihat malu-malu.

Naruto memandangi Hinata yang sedang mengambil tasnya.

"Cantik." Setelah ia mengucapkan itu, dia mengambil tas yang hendak Hinata bawa dan mendahuluinya.

"Ah Naruto…" Hinata memegang tangannya sembari melihat ke arah Naruto, penuh harapan.

Naruto menoleh ke belakang, tersenyum geli.

"Ayo cepat, nanti kita telat makan pagi. Aku dengar Neji bakal marah kalau kita datang terlambat ke ruang makan."

Hinata tertawa pelan, mengikuti langkah Naruto yang kini sedikit lebih percaya diri.

Saat mereka menuruni tangga, Naruto mencuri pandang ke arah Hinata yang berjalan di sampingnya.

"Dress itu cocok banget sama kamu, tahu nggak?"

Hinata memalingkan wajah, pipinya merona. "Naruto…"

Naruto mengangkat bahu santai. "Hanya bilang yang jujur."

Ia menjulurkan lidahnya keluar dan berlari menuju ruang makan.

Neji duduk di ujung meja, tangannya menyilang. Hari ini Hiashi dan Hizashi tidak ikut sarapan karena ada urusan dengan Rokudaime, sang sensei, Kakashi.

Jari Neji mengetuk meja dengan keras, ia mulai merasa jengkel.

Tak lama Naruto dan Hinata tiba di ruang makan.

"Lama sekali ya kalian?" Neji mendengus.

"Ah anu maaf Neji, tadi perutku sakit, jadi aku buang air." Naruto meringis dan tertawa.

Neji yang mendengarnya memutar matanya, tidak terlalu percaya.

"Yakin? Aku kira kalian berdua sedang melakukan aktivitas-"

Dari belakang muncul Tenten yang membungkam mulut Neji sembari tertawa nyeleneh.

"Ah maafkan Neji, dia memang sedikit terang-terangan."

Tenten mencubit tangan Neji, Neji pun memprotesnya.

"Kau ini…" Neji mencubit pipinya untuk membalasnya.

Ya, tidak semua orang menduganya, namun mereka sudah menjalin hubungan sejak tahun pertama menjadi genin.

"Ah, Tenten, bagaimana kabarmu? Kau tidak tertekan karena temanku yang sok bijak satu ini?" Naruto tertawa puas kearah Neji.

Hanabi yang duduk sendirian menghembuskan nafas jengkel.

"Semua orang membawa pasangan, sementara pasanganku di tendang oleh ayah."

Neji memegang keningnya dengan kesal, "Gimana tidak Paman Hiashi tendang, kalian tidur berpelukan dibalik selimut."

"Kak Neji!"

Naruto dan Neji tertawa kencang, keduanya saling memukul bahu satu sama lain.

Hinata dan Tenten juga ikut tertawa.

"Mana pacarmu si Konohamaru itu?" Naruto tertawa, "Aku tidak pernah menduga bahwa kau menyukainya kembali, dia sangat berandal dan bajingan."

"Biar berandal, setidaknya dia gak pernah mencuri ramen tengah malam seperti seseorang!" Pekik Hanabi.

"Hei!" Teriak Naruto.

Naruto melambaikan tangannya kearah kediaman Hyuuga.

Akhirnya mereka sudah selesai menginap.

Ia melihat kearah Hinata yang terlihat sedikit murung.

"Hei, kau baik-baik saja Hinata?" Naruto mengusap punggungnya dengan lembut.

"Ah tidak apa Naruto. Aku hanya sedikit sedih karena ayah tidak dirumah." Hinata memandang kearah jalan sembari berjalan pulang.

"Tidak apa-apa, nanti aku akan mengantarkanmu kapanpun yang kau mau untuk bertemu ayahmu." Naruto tersenyum lebar sembari tertawa.

"Benarkah?" Hinata menatapnya.

"Tentu saja, aku tidak pernah mengingkari janjiku, Hinata." Naruto tersenyum lembut.

Sesampainya mereka kerumah, Hinata pun kembali merasa diawasi, ketika ia ingin pergi ke kamar mandi, ia merasa ada yang mengawasinya.

Ia sungguh tidak nyaman.

"Naruto…aku benar-benar merasa diawasi, tapi Byakuganku tidak mendeteksi fisiknya…"

Naruto langsung siaga, ekspresinya berubah serius.

"Apa kau yakin, Hinata?"

Hinata mengangguk. "Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya seperti ada sesuatu… yang sangat dekat."

Naruto segera membentuk segel tangan dan memusatkan chakra.

"Kalau memang begitu, kita cari tahu. Aku akan mengaktifkan sensor chakra-ku."

Ia memejamkan mata, mencoba merasakan getaran chakra di sekitar mereka. Tapi anehnya, tidak ada apa pun.

"Tidak ada…" gumam Naruto. "Tapi firasatmu nggak pernah salah, Hinata. Kita harus lebih hati-hati."

"Naruto…aku merasa tidak nyaman kalau pergi mandi atau mengganti baju…" Hinata terlihat sangat tidak nyaman.

Naruto langsung menghampirinya dan menggenggam tangannya.

"Hinata… Kau gak harus merasa seperti itu di rumah kita sendiri."

Wajah Naruto terlihat serius, matanya menatap tajam ke arah ruangan seolah bisa melihat ancaman yang tak terlihat.

"Mulai sekarang, aku gak akan biarkan kau sendirian, oke?"

Naruto menarik napas panjang.

"Kita akan ganti posisi kamar mandi ke tempat yang lebih aman. Aku juga akan minta bantuan Ino atau Sai untuk menyelidiki lewat sensor chakra mereka. Dan aku akan pasang penghalang tambahan di seluruh rumah."

Ia menatap Hinata dalam-dalam.

"Kau gak perlu takut, Hinata. Aku janji akan melindungimu—seperti waktu dulu aku bilang di medan perang… Aku akan menjaga orang yang paling berharga bagiku."

Hinata mengangguk.

"Naruto…bagaimana kalau kau kita tidur di kamarku…?" Wajah Hinata sedikit merah namun lebih didominasi rasa takut dan waspada.

"Ah…Hinata, aku tidak ingin memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan-"

"Aku yang suruh." Hinata terdengar asertif.

Naruto yang mendengarnya tertawa, "Kau memintaku tidur sekamar denganmu mau mengajakku ngapain Hinata?" Naruto tersenyum nakal.

"Naruto!" Hinata memukul bahunya pelan, wajahnya semakin merah.

"Aku serius lho," Naruto cengengesan. "Tapi kalau kau mengajakku tidur di kamar, jangan salahkan aku kalau nanti—"

"Naruto!" Hinata menutup mulutnya pakai bantal.

"Mmf- Aduh iya, iya. Nanti malam akan kupindahkan barang-barangku kesana."

Naruto duduk di depan TV sembari memencet konsol gamingnya.

"Kau sungguh menyedihkan ketika tidak ada misi untuk dijalankan, Naruto." Hinata tertawa lembut.

"Aku sangat bosan dirumah…" Naruto mengeluh sembari memainkan gamenya.

Hinata duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahunya.

"Kalau bosan…kenapa tidak kita lakukan sesuatu yang lain?" Hinata berbisik pelan.

Naruto langsung menghentikan gamenya, menoleh kaget dengan pipi memerah.

"A-apa maksudmu, Hinata?"

Hinata tertawa kecil, "Tenang saja, bukan itu yang kau pikirkan." Ia mengedip nakal. "Aku hanya ingin kamu temani masak malam ini. Bagaimana?"

Naruto menghela napas lega namun kecewa. "Yah…baiklah. Tapi kalau masakannya enak, aku mau hadiah spesial."

"Hadiah seperti apa?" Hinata menatapnya penuh selidik.

Naruto tersenyum lebar. "Satu ciuman dari chef-nya!"

"E-Eh? Naruto!" Hinata memukul pelan bahu Naruto sambil tertawa malu-malu.

Hinata berdiri di dapur, mengenakan apron dengan rambutnya yang diikat ke atas. Naruto menatapnya dari meja makan, dagunya bertumpu di tangan.

"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Hinata, tak menoleh, tapi suaranya terdengar malu-malu.

"Kau kelihatan seperti istri idaman," kata Naruto sambil tertawa kecil. "Dan seksi juga."

"N-Naruto…" Hinata menunduk, wajahnya merah padam. "Kau mau bantu aku atau cuma menggoda?"

Naruto berdiri dan menghampirinya dari belakang, memeluk pinggangnya dan menyandarkan dagu di bahunya.

"Aku bantu dengan cinta dan motivasi."

Hinata tertawa pelan, "Kalau begitu, tolong potong wortel ini dengan cinta dan jangan ceroboh, ya?"

Naruto mengambil pisau dan wortelnya dengan ekspresi serius, "Siap, Chef Hinata."

Namun, beberapa detik kemudian…

"Aduh…"

Hinata yang melihat jari Naruto yang teriris pisau langsung menghampirinya.

"Naruto!" Hinata meneriakinya.

"Kau harus lebih hati-hati…"

Hinata mengambil antiseptik dan membersihkan lukanya.

"Ah, Hinata…sebentar lagi juga akan sembuh…chakra kyuubi selalu mengobati tubuhku…" Naruto tersenyum lembut, berusaha meyakinkan Hinata.

"Yasudah, tapi aku bersihkan dulu." Hinata dengan lembut membersihkan luka Naruto.

Tidak tahu sejak kapan mereka menjadi sedekat ini, bahkan Naruto yang tadinya sedikit jengkel dengan pernikahan ini, malah lebih merasa nyaman dan terlena, seperti sudah seharusnya.

Tanpa sadar, mereka berdua masak banyak sekali makanan, tapi Nenek dan Kakek sedang tidak berada di desa.

"Sepertinya kita masak terlalu bersemangat, Naruto." Hinata tertawa kecil.

"Bagaimana kita akan menghabiskannya ya?"

Naruto menatap sepanci besar kare.

"Bagaimana kalau begini."

Hinata menatap Naruto.

"Kau boleh mengundang teman-temanmu untuk makan malam disini."

Hinata tersenyum lembut.

"Benarkah Hinata?" Naruto tersenyum lebar.

Hinata pun mengangguk.

"Oke, aku akan menghubungi mereka!" Naruto tersenyum dan berlari kegirangan.

Tidak lama, Sasuke dan Sakura datang.

"Naruto!" Sakura menyapa dengan girang.

"Ah Sakura, bagaimana kabarmu?" Naruto melihat perilaku Sakura yang terlalu girang sedikit kebingungan, namun ia hanya diam saja.

"Ah aku lebih dari baik Naruto."

Sakura tersenyum lebar sembari menatap Sasuke yang berusaha kelihatan tidak peduli.

"Cih…" Sasuke berdecih.

"Bagaimana kabarmu Naruto? Sudah lama tidak bertemu, kau kelihatan makin jelek saja." Ejek Sasuke.

Naruto memegang dadanya, pura-pura sakit hati, kemudian mereka tertawa dan pergi ke meja makan untuk duduk.

Naruto membantu Hinata menuangkannya ke mangkuk.

Tidak lama, Sai dan Ino datang, mereka membawa beberapa botol Sake.

"Ah maaf terlambat semua, tadi ada sedikit masalah kecil." Ino terlihat sedikit canggung, namun Sai terlihat berbeda, ia tersenyum lebih banyak daripda biasanya, dan tangannya menempel erat di pinggul Ino, mengusapnya terus menerus. Sesekali ia berbisik kepada Ino, dan membut wajah Ino merah padam.

Shikamaru yang datang terakhir hanya bisa menggelengkan kepalanya karena tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua.

"Kalian ini…" Shikamaru berdecih.

"Bilang saja kau iri Shikamaru." Seperti biasa, Sai tersenyum datar, namun terlihat sedikit menyindir.

Mereka pun makan bersama di meja, Naruto menuangkan sake untuk para tamu dan mereka pun bersulang.

"Untuk Konoha."

Naruto tersenyum lebar dan meminum sakenya.

...

Sedikit warning ya untuk chapter selanjutnya, siap-siap untuk membacanya. Untuk 3 chapter kedepan jangan baca di publik ya.