WARNING!!!

Read at your own risk!!!

...

Tiba-tiba Ino mengeluarkan setumpuk kertas dari tasnya.

"Hei, ini untuk kalian."

Wajahnya merah padam.

"Ah apa itu Ino?" Sakura mengambil salah satu kertas tersebut dan membaca tulisannya.

"Hah?!"

"Kau dan Sai akan menikah bulan depan?!" Sakura berteriak kencang.

"Ya itu benar." Sai tersenyum datar, seperti biasanya.

"Ah selamat Ino." Hinata memeluknya.

"Ah iya terimakasih Hinata…"

Setelah semua orang mengucapkan selamat dan bersorak, suasana menjadi sedikit lebih hangat—dan mungkin lebih sentimental.

Naruto menatap Ino dan Sai, lalu melirik ke arah Hinata yang masih berbincang dengan Sakura dan Ino dengan mata berbinar.

"Lucu juga ya," gumam Naruto pelan sambil menyandarkan dagunya ke telapak tangan, "Waktu berjalan cepat…"

"Apa yang kau katakan memang benar, Naruto." Jawab Sasuke.

"Oh iya, Sakura dan aku sudah bertunagan." Sasuke tersenyum tipis ke Naruto.

"Hah?! Apa?!" Naruto tertawa kencang mendengar berita dari sahabatnya itu.

"Kau ini…" Sasuke hendak menginjak kaki Naruto.

"Selamat untukmu Sasuke, Sakura…" Naruto tersenyum sembari tertawa.

"Hmm, terimakasih Naruto."

...

Hinata, Sakura, dan Ino sedang membawa sisa piring kotor ke dapur.

Ketiganya berbincang akrab, sudah lama sejak terakhir kali mereka bisa mengobrol dan tertawa seperti ini.

"Ada yang bisa ku bantu?"

Naruto datang menghampiri, seperti biasa, dengan mulut menyeringai lebarnya itu.

"Ah Hinata, kami pergi dulu…" Ino tertawa kecil.

"Naruto, perlakukan istrimu dengan benar." Sakura menyentil kepala Naruto.

"Aduh Sakura!"

Wajah Hinata terlihat sedikit murung.

"Hinata, ada apa denganmu?" Naruto langsung menghampirinya, menyentuh bahunya.

"Kau sangat dekat ya dengan Sakura…" Hinata memalingkan wajahnya.

Untuk pertama kali, ia benar benar mengatakan kalau ia cemburu.

"Hinata…" Naruto tertawa kecil.

"Kau cemburu ya?"

Tangan Naruto, melingkari pinggang ramping Hinata dan menyandarkan dagunya ke bahu Hinata.

"Hmmph…" Hinata memalingkan wajahnya yang sedikit merengut.

"Kau ini…" Naruto tertawa kecil.

"Aku tahu kau dulu menyukai Sakura…" Hinata tetap berpaling dari Naruto.

"Hei, itu sudah lama sekali, itu cinta monyet Hinata." Naruto tertawa dan mengelus pinggang Hinata.

"Tapi kan aku dulu yang menyukaimu!"

Tanpa sadar ia mengucapkannya.

Hinata menutup mulutnya.

"Kau…menyukaiku?"

Naruto menghentikan gerakan tangannya.

"Ah…anu…" Wajah Hinata merah padam.

"Sejak kapan?"

Wajah Naruto datar.

"Sejak pertama kali bertemu." Air mata menetes dari ujung mata Hinata.

Mata lavendernya yang sayu menitikan air mata, membuat batin Naruto bergejolak.

Dadanya sesak melihat air mata Hinata. Ia merasa seperti bocah bodoh yang tak menyadari cinta paling tulus yang pernah ditujukan padanya.

"Hinata…kau…"

Suara Naruto serak dan lirih, tangannya mencengkram pinggul Hinata, satunya memegang tengkuk Hinata.

"Izinkan aku…"

Naruto menarik Hinata ke dekatnya dan melumat bibirnya.

Naruto mendorongnya ke tembok dan melumat bibirnya dengan segala tenaga yang ia miliki.

Hinata merintih pelan namun lama kelamaan ia seperti berserah diri.

Naruto membuka matanya dan mengusap pipi Hinata perlahan.

"Gara-gara kau aku jadi tidak bisa menahan diri." Naruto menggigit bibirnya dan mengerang pelan.

"N-Naruto…" Wajah Hinata merah padam.

"Harusnya kau bilang sejak dulu Hinata…kau membuatku menunggu terlalu lama…" Tangan Naruto yang nakal bermain-main dengan kerah baju Hinata, ia menariknya hingga belahan dada Hinata terlihat.

"Ah Naruto…ada tamu…" Hinata merintih pelan.

"Memang kenapa? Kita kan suami istri, sudah sepatutnya melakukan hal seperti ini." Naruto mengecup leher Hinata penuh hasrat.

"Kenapa kau pakai baju seperti ini sih Hinata…jadi susah membukanya…" Naruto mengeluh, ia sudah benar-benar tidak bisa menahan diri.

Namun sebelum Naruto sempat melanjutkan aksinya, terdengar suara langkah kaki dari ruang makan.

"Hinata? Naruto? Kalian ke mana?" terdengar suara Sakura yang sedikit heran.

Naruto menghentikan aksinya, napasnya memburu, wajahnya terlihat kesal karena terganggu.

"Ck…kenapa harus sekarang sih…" Naruto menyandarkan dahinya di pundak Hinata sambil berusaha mengatur napasnya. Ia melonggarkan ikat pinggangnya yang mulai terasa sesak.

Hinata masih bersandar di dada Naruto, wajahnya merah padam, napasnya pun belum sepenuhnya tenang.

"Kita harus kembali, nanti mereka curiga…" bisik Hinata pelan.

Naruto menghela napas panjang, lalu tertawa kecil. "Baiklah…tapi setelah mereka pulang, kau tidak boleh kabur dariku."

Hinata mengangguk pelan, pipinya merah, namun matanya menatap Naruto dengan rasa yang sama—penuh hasrat, penuh cinta.

Naruto dan Hinata kembali ke ruang makan dengan langkah santai.

"Oh, kalian ke mana saja?" tanya Sakura sambil mengangkat alis, melihat keduanya datang agak terlambat.

"Ah…anu…aku hanya membantu Naruto mencari teh di dapur," jawab Hinata cepat, wajahnya masih sedikit kemerahan.

Shikamaru yang duduk di sudut meja melirik mereka sekilas dan menghela napas malas. "Hn, selama bukan mencari 'privasi', aku tak masalah."

Naruto tertawa canggung, "Tenang saja, Shikamaru, aku belum melakukan apa pun… yang besar."

Hinata menunduk, memukul ringan lengan Naruto.

Ino melirik mereka dengan senyum geli. "Kalian ini pasangan baru, ya wajarlah."

Sakura menggeleng-geleng pelan, tapi matanya melirik ke arah mereka dengan penuh tanya. "Hm… tapi Hinata, bajumu kusut sedikit tuh."

Hinata buru-buru merapikan kerah bajunya, wajahnya makin memerah.

"Sepertinya cuaca memang sedang panas ya malam ini," kata Sai tiba-tiba, meneguk sisa sake-nya, membuat yang lain tertawa.

"Kalian ini, benar-benar ya, rasanya aku dan Temari tidak pernah-"

Shikamaru menghentikan ucapannya, wajahnya merah padam.

"Oh jadi kau ternyata sudah jadian dengan Temari?" Naruto tertawa.

"Aku benar-benar tidak menyangkanya!" Ino tertawa.

Shikamaru yang telah membuka rahasia kecilnya itu hanya bisa diam dan menenggak segelas sake.

Naruto hanya tersenyum kecil dan menatap Hinata sekilas—tatapan yang hanya mereka berdua tahu maknanya.

Ketika para tamu pulang, Hinata sibuk memindahkan piring kotor ke dapur dan merapihkan meja makan.

"Sudah taruh saja, aku yang bersihkan besok."

Naruto menghentikannya.

"Ah tapi Naruto, kalau nenek dan kakek lihat…"

Naruto menaruh tangannya di pinggang Hinata.

"Biar saja, nanti aku dengan bangga akan menunjukan apa yang aku lakukan padamu semalaman." Naruto tersenyum nakal sembari memainkan kerah dari dress Hinata.

"Kau tidak tahu malu ya?" Wajah Hinata sedikit merah, namun, ia sudah terbawa suasana.

"Jadi, kau cemburu ya?" Naruto mengejeknya sedikit.

Hinata yang kesal tidak mengelak.

Suasana rumah mendadak terasa lebih sunyi, lebih intim. Hanya suara malam dan napas mereka berdua yang terdengar.

"Jangan cemburu lagi, karena kau satu-satunya bagiku." Naruto mengecup jemari Hinata.

Hinata merintih pelan, "Mmh…Naruto…"

Naruto menyeringai.

"Kenapa? Sudah tak sabar?" Naruto menjilat jari sang istri dan menyeringai.

Hinata berpaling dan mengangguk.

Itu seperti menyiram bensin ke api yang bergejolak.

"Kau…" Naruto mengerang dan membawanya masuk ke kamar mereka.

Naruto meletakan Hinata di pinggir ranjang.

Naruto perlahan melepas kaos yang ia kenakan.

Badannya sangat kekar dan atletis namun dipenuhi luka tempur.

Hinata merasa semakin terangsang, ia tak henti menggerakan pinggulnya, mencari posisi duduk yang nyaman.

"Hei, aku ingin kau tahu kulakuan ini semua bukan karena perjodohan kita, tapi karena aku mencintaimu, oke?" Naruto mengecup kening Hinata.

"Jadi izinkan aku…mencintaimu."

Mata biru gelap Naruto menatap mata lavender pucat Hinata dengan penuh hasrat membara.

"Aku sudah menunggumu terlalu lama…" Hinata mengalungkan tangannya di leher Naruto.

Naruto mengecup bibir Hinata dengan ganas, perlahan lidahnya memaksa masuk kedalam mulut Hinata. Hinata mengerang lembut sementara Naruto berusaha untuk melucuti semua pakaian yang Hinata kenakan.

"Tch…kau kenapa pakai baju seperti ini sih…susah sekali untuk melepasnya…" Naruto menggigit daun telinga Hinata dengan lembut sembari membuka kancing dress Hinata.

"Jadi kau mau aku pakai baju terbuka?" Hinata mengerang.

"Iya." Naruto menjulurkan lidahnya dan tertawa.

Naruto sudah menggebu-gebu, Ia menarik paksa kancing di dada Hinata. Salah satunya putus.

"Agh…Hinata, maaf. Nanti kubelikan yang baru."

Naruto menarik paksa kancingnya.

Di depan wajahnya terpampang luas, kulit Hinata yang putih pucat, belahan dadanya sangat menggoda.

Naruto menarik nafas dan mendesah pelan, "Kau tidak pakai bra? Hinata, kalau otak ku geser bagaimana?"

Naruto melepaskan dress biru tersebut dari tubuh Hinata, hanya menyisakan pakaian dalamnya saja.

Hinata menatap Naruto dengan mata sayunya sembari menggigit bibirnya.

"Ah iya…Sejak pindah kesini, bajuku banyak yang sesak, sepertinya beratku bertambah. Kau tidak suka, Naruto?"

Naruto menggelengkan kepalanya.

"Ngomong apa si kau Hinata, tentu saja aku suka, suka sekali. Lebih suka kalau…"

Naruto menampung kedua buah dada Hinata dan menciuminya.

"Ah Naruto, aku malu…" Hinata mendorong Naruto sedikit.

"Hmm? Tidak suka?" Tanya Naruto yang sedang menjilat bibirnya, dengan buas.

"Bukan tidak suka-"

"Kalau begitu aku akan lebih lembut."

Naruto perlahan membanjiri dada Hinata dengan ciuman, kemudian meremas-remas payudaranya dengan manja.

Hinata menggeliat di ranjang sembari mendesah.

"Gimana kalau ku masukan nanti ya? Sekarang saja kau sudah mendesah keras seperti ini." Naruto menyeringai dan menghisap payudara Hinata.

"Mmh…" Naruto menatap mata Hinata dengan tatapan nakal.

"Enak."

Naruto menggigit puting Hinata hingga merah dan membengkak.

"Naruto…mmh…sakit." Hinata mengeluh.

"Maaf ya, terlalu lezat." Naruto memilin puting Hinata yang sudah sangat keras dan menjilatnya.

"Lebih baik?" Naruto tertawa nakal.

Hinata hanya mendesah keenakan. "Mmh…Naruto…"

Naruto meraba selangkangan Hinata, ia perlahan memasukan tangannya kedalam celana dalam Hinata yang sudah lembab:

"Kauu nakal sekali Hinata, kau hanya boleh seperti ini denganku ya?" Naruto mengecup keningnya.

Hinata mengangguk.

Naruto kemudian memutar jarinya perlahan sembari menekan yang membuat Hinata melonjak keenakan.

Ia mengerang keras.

"Ah…ah…hngh…"

Naruto yang mendengarnya langsung mempercepar ritmenya. Kemudian ia menggeliatkan jarinya masuk kedalam lubang Hinata.

Hinata langsung berteriak.

"Ah!"

Naruto melihat Hinata yang kesakitan langsung berhenti.

"Sakit? Masih mau lanjut?" Tanyanya khawatir.

"Aku mau lanjut…" Hinata menjawab sembari terengah-engah.

"Baiklah." Naruto memasukkan jarinya kedalam kemaluan Hinata dan berusaha melonggarkan lubangnya yang ketat.

"Ah sempit sekali Hinata." Naruto mengerang sembari memasukan satu jari lagi.

Hinata mendesah keras, mulut Naruto sekarang sudah berada di payudaranya lagi, menghisapnya, bak bayi kehausan.

Kemudian setelah dirasa cukup lebar, ia memasukan jari ketiga dan mulai bergerak kedalam.

Hinata mengerang dengan keras, kakinya bergetar saking nikmatnya.

"Hmm…keluarkan semua suara mu itu Hinata…"

Naruto mempercepat pergerakannya sembari mengulum bibirnya.

"N-Naruto…aku tidak tahan…ini terasa aneh…"

Hinata berteriak.

"Hinata…keluarkan saja, apapun itu…" Naruto mencumbu lehernya.

Hinata merasakan seluruh tubuhnya bergetar dan pandangannya yang tiba-tiba menjadi putih.

Untuk sepersekian detik, ia merasakan sebuah kenikmatan yang tidak pernah ia rasakan.

Hinata mengerang kencang.

"Nghh…ahh!!"

Naruto melihat kearah Hinata dengan wajah terpukau.

"Hei, kau barusan squirting." Naruto tersenyum nakal dan menjilat jarinya.

"Ah…Naruto!" Wajahnya merah padam.

Naruto tertawa usil dan mengecup kening Hinata.

"Naruto…biarkan aku membuat kau merasa enak juga…"

Hinata merangkak turun ke lantai dan berlutut di depan Naruto.

"Ah Hinata? Ah itu tidak perlu-"

Hinata perlahan menurunkan celana Naruto, melihat kejantanannya sudah mencuat didalam boxernya.

Hinata menelan air liurnya dan membulatkan tekadnya.

Ia menurunkan boxer Naruto, seketika is tersentak.

'Benda itu…' Wajah Hinata merah padam, namun ia tersenyum nakal.

Hinata perlahan meremas kejantanan Naruto dan bergerak keatas dan kebawah.

Naruto kelojotan sembari mengerang keenakan.

"Hinata, kalau kau tidak nyaman tidak suah diteruskan…" Naruto menutup mulutnya, berusaha untuk tidak mengerang.

"T-tapi kau suka kan?" Tanya Hinata memastikan.

"Ya tentu saja aku suka-"

Tanpa aba-aba, Hinata memasukkan benda itu kedalam mulutnya.

Naruto mendesah keras dan menjambak rambut Hinata.

Hinata merintih kesakitan, namun, ia sedikit menyukai ketika Naruto menjambaknya.

Baru saja setengah jalan masuk ke mulut Hinata, ujung kejantanannya sudah menabrak kerongkongan Hinata.

"Uhuk…" Hinata tersedak sedikit.

"Sudah Hinata, tidak usah-"

"Twidak awpa awpa Naruto…" Hinata mulai menjilat kepunyaan suaminya itu dengan lihai, kemudian menghisapnya dengan kuat.

Naruto mengerang kencang, ia lama kelamaan merasa tidak sabar.

"Maafkan aku Hinata…" Naruto menjambak rambutnya dan mendorong kepalanya, sehingga seluruh bagiannya masuk.

Hinata tersedak namun ia tetap bergerak katas kebawah dengan cepat.

"Hinata…aku akan keluar…"

Hinata mengangguk sembari mengocok kepunyaan suaminya itu.

"Hinata…ahhh…" Naruto membenamkan wajah Hinata ke pangkal kemaluannya, kemudian cairan hangat mengalir di tenggorokannya.

Naruto yang keenakan jatuh keatas kasur, ketika merasakan sedikit tenaga kembali, ia mengambil tisu.

"Hei Hinata, muntahkan itu…" Naruto menghampirinya.

Namun, Hinata, diluar dugaannya, menelan semuanya.

"Tidak perlu." Ia tersenyum dan mengelap sisa cairannya dengan telapak tangannya.

Naruto yang melihat kelakuan nakal Hinata menariknya keatas kasur.

"Sekarang gantian, aku yang memuaskan mu."

Naruto berbaring di kasur, dan menyuruh Hinata duduk di dadanya.

"Apa yang kau ingin lakukan?" Wajah Hinata sedikit merah, ia merasa sedikit malu.

"Duduk di mukaku. Cepat." Perintah Naruto.

"A-apa?!" Hinata berpaling, wajahnya merah karena malu.

"Iya, cepat." Naruto perlahan mengelus pinggul Hinata, mengapresiasi tubuh Hinata yang sangat seksi dan menggoda.

"Tapi nanti kau tidak bisa bernafas-"

"Jangan pedulikan itu, duduk diwajahku sekarang."

Naruto menarik pinggul Hinata dan mendudukannya di wajahnya.

Ketika mulutnya menyentuh kemaluan sang istri; Naruto mendesah dengan keras.

"Mmh…enak sekali Hinata…"

Hinata yang merasakan wajah suaminya di selangkangannya mendesah dengan kencang.

Naruto mulai menjilat dan melumat kemaluan Hinata yang mulus dan kemerahan.

"Hinata…aku ketagihan…" Gumam Naruto, kata-katanya tidak jelas karena sembari menjilat dan menghisap.

Kaki Hinata bergetar, nafasnya tersengal-sengal.

Sesekali pinggulnya bergerak.

"Ya…gerakan pinggulmu seperti itu…" Perintah Naruto.

Hinata menggerakan pinggulnya, dan Naruto mulai menusukkan lidahnya kedalam Hinata.

"Naruto!" Pekik Hinata, ia sangat terangsang.

Pinggulnya bergerak nakal, Naruto melahap kemaluannya dengan penuh hasrat.

Mata lavender pucat Hinata terlihat sangat sayu, sementara mata biru gelap Naruto terlihat membara penuh hasrat.

"N-Naruto!" Teriak Hinata yang mengejang. Ia telah sampai ke puncaknya.

Naruto mengelap mulutnya dengan tangannya.

"Lezat sekali." Naruto tersenyum nakal.

Wajah Hinata merah merona, ia berpaling saking malunya.

"Hei sayang, apakah kau merasakan suasana aneh?" Tanya Tsunade pada Jiraiya.

"Aneh? Aneh seperti apa?" Tanya Jiraiya kebingungan.

"Cucu kita itu ngapain ya…?" Tsunade menggelengkan kepalanya sedikit gelisah.

"Ah tenang saja sayang, aku lebih dari yakin bahwa mereka sudah melakukan itu." Jiraiya tertawa nakal.

"Kau ini…" Tsunade tertawa.

"Kenapa? Kau iri?" Tangan Jiraiya mengelus pinggul Tsunade dengan lembut.

"Hmph…tidak!" Tsunade berdecih dan memalingkan wajahnya.

"Beri tahu saja posisi yang kau mau." Jiraiya tersenyum mesum.

Tsunade memukul kepala Jiraiya karena jengkel.

"Aduh sayang…" Pekik Jiraiya kesakitanx

"Jangan menggangguku ketika sedang bekerja."

Uhh...panas ya... Semoga suka, dan ingat jangan baca di publik untuk 2 chapter selanjutnya :)