...

"Naruto, kau telat sekali..." Kakashi mengeluh sembari memainkan penanya.

"Ahaha...maaf Kakashi sensei, ada sedikit urusan penting tadi." Naruto tersenyum lebar sembari terkekeh.

"Memangnya sepenting apa?" Kakashi menghela nafasnya.

"Tch...kau tidak akan percaya..." Suara seraknya yang khas itu berdecih.

Kakashi menatap pemuda berambut kuning dan bermata biru gelap itu, energinya hari ini lebih cerah dari biasanya.

"Jangan bilang kau-" Perkataan Kakashi oleh senyuman mesum Naruto.

Kakashi yang melihatnya langsung tertawa dan menjabat tangan Naruto, "Kau memang benar-benar muridku." Kakashi tertawa.

Naruto ikutan tertawa sembari menggaruk kepalanya.

"Oh iya, aku kesini memanggilmu bukan karena kau harus mengawal orang penting."

Mendadak suasana terasa sangat serius.

"Lalu kenapa, sensei?"

Kakashi menarik nafas dan menatap Naruto.

"Sasuke menemukan sebuah portal yang tidak tertutup di batas wilayah Konoha dan desa Suna. Sasuke mengenalinya, dan kau pasti juga akan mengenalinya..."

"Portal..." Alis Naruto mengrenyit, ia menatap Kakashi.

"Apakah itu benar-benar mereka?" Tanya Naruto.

"Naruto, klan Otsutsuki sudah kembali. Dan istrimu menjadi incaran utama mereka."

...

"Apa kau bilang?!" Teriak Naruto yang masih sedikit denial.

"Nenek Tsunade dan Sakura bilang kepadaku bahwa ada sedikit chakra asing didalam tubuh Hinata, sepertinya mereka menempatkannya untuk melacaknya."

Kakashi mengangguk pelan. "Tapi sudah di keluarkan kan?"

Naruto mengangguk, "Iya, dan mereka memasang segel pelindung chakra, jadi ketika Hinata dalam bahaya dan ada sedikitpun chakra asing yang masuk kedalam tubuhnya, aku akan merasakannya."

Kakashi menatap Naruto.

"Byakugan milik Hinata itu sangat spesial, dan sangat diincar klan Otsutsuki. Kemungkinan besar, mereka akan meminta Hinata untuk bergabung dengan mereka."

Naruto tertawa, "Kakashi sensei, itu tidak akan mungkin. Hinata tidak akan pernah melakukan itu."

Kakashi menatap Naruto dengan tajam, "Kau harus menjaganya, klan Otsutsuki tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan Hinata."

Naruto menatap mata Kakashi.

"Dan sebentar lagi aku akan pensiun dini, aku tidak mau sebelum masa jabatanku berhenti terjadi sebuah kekacauan besar, kaulah yang harus membereskannya, mungkin kau akan melanjutkanku pekerjaanku ini..."

Kakashi tersenyum lihai.

"Kakashi sensei..." Naruto terdiam.

Apakah Kakashi benar-benar mengatakan itu?

"Pulanglah, jagalah istrimu itu."

...

Naruto segera menelfon Hinata untuk menanyakan kabarnya.

"Hei Hinata, kau baik-baik saja?" Tanya Naruto.

"Ah Naruto, aku baik-baik saja." Hinata tersenyum sembari memegang telfon rumah di dekat kupingnya.

"Syukurlah...kau sendirian dirumah ya? Aku khawatir makanya..." Naruto menghembuskan nafasnya dengan lega.

"Ah tidak, tadi sore nenek sudah pulang, tapi kakekmu masih ada urusan sepertinya. Tidak usah khawatir, aku baik-baik saja disini." Hinata tersenyum lembut.

"Yasudah, aku mau mampir ke swalayan, ada yang ingin kau titip?" Tanya Naruto.

Hinata mendekatkan telfonnya ke mulutnya.

"Ada."

"Apa itu? Minuman, makanan?" Tanya Naruto sedikit keheranan.

"Pengaman."

Naruto menghentikan langkah kakinya.

"Ulangi. Kau tadi tak salah ngomong kan?" Suara Naruto terdengar serak dan lirih.

"Tidak mau. Cepatlah pulang Naruto, aku menunggumu." Suara Hinata terdengar seksi dan asertif.

"Hah kau ini, menggoda ku terus. Yasudah tunggu dikamar, aku akan pulang secepatnya."

"Baiklah..."

Hinata menutup telfonnya, dan Naruto dengan sekuat tenaga berlari menuju minimarket terdekat.

Disana ia langsung mengambil barang yang ia perlukan, tidak segan-segan ia mengambil, langsung 3 box.

Ia mencari antrian tersingkat dan segera mengantri.

Sembari ia menunggu, ia tersadar bahwa pria bersyal biru disampingnya itu adalah seseorang yang dia kenal.

"Konohamaru?" Naruto menggaruk pelipisnya dengan bingung.

"Ah kak Naruto..." Konohamaru terlihat sedikit panik.

"Kau berlagak aneh, ada apa denganmu-" Naruto langsung mengerti ketika melihat barang yang ia beli, ternyata sama dengannya.

Naruto tertawa pelan dan memasang wajah nakal.

"Oh jadi kau juga berminat melakukan aktivitas yang sama denganku?" Naruto tertawa dan memukul punggung Konohamaru.

"Ah iya...ahaha..." Konohamaru tertawa canggung.

"Jangan bilang Hiashi, ya?" Konohamaru menelan air liurnya dengan tegang.

"Tenang saja, rahasiamu akan kujaga." Naruto mengedipkan matanya.

Konohamaru dan Naruto pun tertawa bersama.

"Konohamaru...Jaga Hanabi, aku khawatir nasibnya sama seperti Hinata..." Ujar Naruto.

"Kenapa kau berkata seperti itu, Kak Naruto?" Tanya Konohamaru bingung.

"Ya...ini hal yang rumit tapi Hinata sekarang menjadi incaran klan Otstsuki...dan aku tidak mau kehilangannya." Naruto tersenyum dan tertawa.

Konohamaru yang mendengarnya tertawa, "Kau selalu saja bisa santai ya mengucap hal-hal seperti itu."

Naruto pun ikut tertawa, "Aku pergi dulu Konohamaru, Hinata sudah menunggu dirumah." Ia tertawa mesum.

"Ya silahkan, sepertinya Hanabi akan menjewerku karena pergi terlalu lama." Konohamaru menggaruk kepalanya dan tertawa canggung.

"Kita lanjutkan obrolan kita lain waktu ya?" Naruto menyeringai dan pergi meninggalkan Konohamaru.

Ditengah jalan, Naruto merasakan sedikit hal. Iya merasakan dadanya berdebar diluar batas normal.

'Naruto! Istrimu dalam bahaya!'

Pekik Kyuubi.

Naruto yang mendengar suara Kyuubi langsung berlari dengan sigap.

"Hinata!"

...

Hinata bersenandung ria sembari menunggu Naruto kembali. Telapak kakinya terasa geli, dan perutnya tidak nyaman seperti ada ribuan kupu-kupu yang memaksa untuk keluar.

"Aku akan memberikan ini pada Naruto..."

Hinata menggenggam syal hasil rajutannya dengan erat.

Hinata tersenyum ketika mendengar langkah kaki di depan pintu,

"Naruto, kau kah itu?" Tanya Hinata yang dengan perlahan membuka pintu.

Ketika Hinata membuka pintu.

"Bukan orang yang kau tunggu ya?"

Lelaki berkulit pucat dan rambut perak itu tertawa.

"Siapa kau?!" Teriak Hinata yang langsung mengaktifkan byakugannya.

"Jangan menyianyiakan cakramu untuk melawanku cantik." Pria itu tertawa dan matanya menatap Hinata.

Ya. Pria itu memiliki byakugan juga.

"K-kau..." Hinata berjalan sedikit mundur.

"Ya, kau sepertinya tahu siapa aku bukan?" Pria itu tertawa lembut dan menatap Hinata.

Hinata hendak melancarkan tinju lembutnya namun, ia merasa lemas dan kehilangan kesadaran.

Rupanya dibelakangnya sudah ada bunshin yang bersiap untuk melumpuhkannya.

Pria itu berlutut dan merangkul Hinata, kemudian menggendongnya.

"Sekarang kau benar-benar bisa menjadi milikku seutuhnya." Pria itu tersenyum dan membuka sebuah portal untuk pergi.

...

"Hinata...!"

Naruto mendobrak pintu depan dan berlari menuju kamarnya, ia melihat Tsunade terkapar di lantai, mulutnya penuh darah.

"Nenek!" Naruto menghampiri sang nenek.

Tsunade perlahan membuka matanya.

"Tch... Naruto...dia sangat kuat...untuk pertama kalinya...aku merasakan musuh yang diluar kemampuanku..." Tsunade terbatuk-batuk sembari terlihat sedikit jengkel.

"Ah nenek pelan-pelan..." Naruto menggurutu.

"Aku tidak apa-apa...kau cek Hinata saja..."

Naruto menatap neneknya dan berlari ke kamarnya dan Hinata.

"Hinata Naruto memanggilnya tapi tidak ada respon apa-apa.

Naruto merasa semakin gelisah dan panik.

"Hinata!" Ia berteriak semakin keras dan mendobrak pintu kamar mereka.

"Hinata..."

Kamar tersebur kosong, namun Naruto melihat sebuah syal merah yang jatuh di lantai.

Ia mengambilnya, tercium wangi parfum khas Hinata.

Naruto menggigit bibirnya.

"Hinata, bertahanlah, aku akan mencarim!"

...

Setelah beberapa chapter isinya bercinta mulu, akhirnya ada sedikit progresi tentang klan Otsutsuki yang mengincar Hinata. Sabar ya semua, cerita ini akan kuselesaikan secepat mungkin.