Haloo semuanya, biasany author buat pesan di akhir chapter, tapi kali engga. Target author kira-kira bikin fanfic ini jadi 20-25 chapter ya, sekaranng author lagi agak bingung buat lanjutin ceritanya. Jadi tungguin aja ya!
...
"Ini sudah larut, akan kuantarkan kau ke kamar." Toneri hendak memegang tangan Hinata, tapi Hinata menyibaknya dan berpaling darinya.
Toneri menghela nafasnya dan menatap Hinata, "Ikuti aku."
Toneri membawanya ke sudut menara, dibukanya sebuah pintu megah, didalamnya terdapat sebuah ruangan yang sangat besar, dilengkapi dengan perabotan yang mewah.
Ranjang yang dilapisi sutra dan beludru, sebuah lampu gantung yang indah, dan perabotan yang dilapisi perak.
"Beritahu aku kalau kau memerlukan sesuatu." Toneri tersenyum tipis dan meninggalkan Hinata sendirian.
Hinata duduk di atas ranjang sembari menatap ke jendela, cemas akan keadaan teman-temannya.
"Naruto, semoga kau baik-baik saja..." Gumam Hinata.
...
"Lepaskan kami dasar bodoh!" Pekik Hanabi sembari menendang jeruji besi yang dialiri oleh chakra membuat Hanabi terpental.
Konohamaru sengan sigap menangkapnya. "Kau ini sungguh gegabah..." Konohamaru berdecih sembari mengelus pelipis Hanabi.
"Lakukan sesuatu?!" Pekik Hanabi.
"Sepertinya akan sulit. Aku belum pernah melihat teknik yang mereka pakai..." Ujar Sasuke.
"Apakah kita bisa keluar dari sini?" Tanya Sakura dengan nada khawatir.
Sasuke tersenyum tipis dan mengelus bahu Sakura perlahan. "Tenang saja, aku dan Naruto akan mencari jalan keluar. Aku akan coba menggunakan rinneganku untuk mencari Hinata."
Sakura mengangguk, "Baiklah."
Naruto terlihat sangat terpuruk di ujung ruangan, Konohamaru terlihat sedikit khawatir, Naruto tidak pernah berlagak seperti itu sebelumnya.
"Kau baik-baik saja?" Konohamaru duduk di sampingnya.
"Ah Konohamaru...jangan khawatir tentang ku a-aku..." Tangannya bergetar hebat.
"Hei, tenanglah. Kita akan menemukannya." Konohamaru menepuk bahunya dan tersenyum.
"Aku baru...mendapatkannya...dan sekarang dia hilang, dan ini semua salahku...aku..." Jawab Naruto terbata-bata.
"Kau ini, ini kah Kak Naruto yang katanya ingin menjadi Hokage itu? Lemah sekali!" Teriak Konohamaru.
"Konohamaru aku..." Konohamaru memegang kerah baju Naruto dan menatapnya. "Janganlah kau seperti itu dan fokuslah mencari cara untuk mencari istrimu itu!"
"Konohamaru..." Ucap Hanabi dari sudut ruangan.
Naruto yang kesal dengan Konohamaru meninju wajah Konohamaru. Ia terkekeh dan mengulurkan tangannya.
"Hei maaf, dan terimakasih." Naruto tertawa.
"Bukan apa-apa." Jawab Konohamaru sembari mengusap pipinya.
...
Malam mulai larut. Hinata memeluk lututnya di ujung ranjang. Tatapannya kosong, namun pikirannya dipenuhi rasa gelisah akan keselamatan Naruto dan teman-temannya.
Pintu kamar Hinata diketuk.
"Bolehkah aku masuk?" Tanya Toneri dengan lembut.
"Ya." Jawab Hinata singkat.
Toneri membuka pintunya perlahan dan berjalan ke pinggir ranjang.
"Kau seharusnya beristirahat. Ini sudah sangat larut." Ujar Toneri dengan nada yang sedikit khawatir.
"Bagaimana aku bisa tidur? Setiap kali aku memejamkan mata aku teringat akan teman-temanku yang sedang dalam bahaya, karena kau..." Hinata menatap Toneri dengan tajam sembari menudingkan jarinya ke Toneri dengan geram.
"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau rasakan, Putri..." Jawab Toneri dengan datar.
"Aku memberikanmu semuanya, kenapa kau tidak mencintaiku?" Tanya Toneri kebingungan.
"Kalau kau benar-benar mencintaiku...lepaskanlah teman-temanku..." Hinata menatap Toneri. Tangan Hinata mengepal dengan gelisah.
"Tidak bisa kulakukan Putri..." Toneri berputar.
Hinata pun kembali menatap ke jendela dengan tatapan kosong.
"Kau benar-benar mencintai Naruto itu ya..." Gumamnya.
Tak lama kemudian, Toneri pergi meninggalkan Hinata yang menangis di ujung ranjang.
...
"Hei Sasuke, apakah kau sudah berhasil menemukan sisi menara yang aman untuk menyusup?" Tanya Naruto.
"Sabar Naruto, ini lebih susah daripada yang kau pikir." Jawab Sasuke sedikit jengkel.
"Cepatlah..." Ujar Naruto.
Sasuke berdiri di tengah ruangan, menutup matanya. "Aku sudah menandai lokasi Hinata. Tapi untuk mencapainya, kita harus keluar dari sini dulu."
Setelah beberapa saat.
"Ada cara?" tanya Sakura.
"Ada. Tapi… kita butuh waktu dan gangguan."
Naruto berdiri. Matanya mulai kembali menyala. "Kalau begitu biar aku yang jadi gangguannya."
"Dan aku bantu meledakkan sebagian jalur pengalihan chakra mereka," ujar Hanabi mantap.
"Konohamaru, kita bagi dua tim. Satu cari Hinata, satu tahan musuh. Siap?"
Konohamaru mengangguk. "Siap, Tuan Hokage."
Naruto tersenyum sedikit. "Belum, tapi mungkin… sebentar lagi."
...
"Gawat..." Decih Shikamaru.
"Pasukan boneka itu sudah ada di depan pintu masuk desa..." Ujar Sai.
"Pasukan kita tidak cukup untuk melawan musuh sebanyak ini..." Ucap Kiba dengan nada pesimis.
Pasukan boneka itu bergerak dengan cepat, matanya memancarkan chakra yang kuat dan mereka mulai berusaha menerobos masuk kedalam desa konoha, dengan mengeluarkan chakra yang banyak dan mendorong atau meninju pintu utama desa.
"Tapi kita tidak akan membiarkan mereka masuk satu langkah pun!" Lee mengencangkan pelindung tangannya.
Sementara itu di ruang medis, Tsunade dan para ninja medis bekerja keras menyiapkan segel pelindung darurat untuk memperkuat barikade chakra.
"Kalau mereka sampai menembus segel ini… kita habis," ujar Shino yang baru datang membawa info.
Kembali ke medan pertempuran, boneka-boneka itu mulai menyerang, memanjat dinding dengan gerakan aneh dan mengeluarkan serangan chakra murni dari mata mereka. Beberapa bahkan memiliki Sharingan dan Byakugan tiruan.
Ledakan pertama menghantam barikade luar Konoha.
Choji berubah ke mode Butterfly, Lee membuka Gerbang ke-5, dan Kiba menyerang bersama Akamaru.
"Ini gila!" Teriak Choji sambil memukul satu boneka hingga hancur berkeping.
Di ruang medis Tsunade menatap kearah matahari yang terbenam dengan gelisah.
"Naruto...semoga kau baik-baik saja."
...
Naruto dan timnya sedang bersembunyi di balik reruntuhan lorong bawah tanah di balik menara. Batu-batu bulan yang memancarkan cahaya lembut bergetar ringan setiap kali chakra mengalir di atas mereka.
"Apakah di sini aman?" bisik Naruto.
"Ya… tidak ada siapa-siapa di sekitar sini," jawab Hanabi sambil memfokuskan Byakugannya ke arah langit-langit. "Tapi kita tidak bisa terlalu lama di sini."
Tiba-tiba, gemuruh keras mengguncang tempat mereka berpijak. Langkah-langkah berat dan suara logam beradu menggema di lorong sempit.
"Mereka menemukan kita!" teriak Konohamaru.
Dari balik bayangan, sekelompok penjaga Otsutsuki muncul. Enam orang mengenakan zirah bulan berwarna putih mutiara, masing-masing dengan simbol berbeda di dahi mereka. Mereka mengangkat tombak chakra dan bersiap menyerang.
"Tidak ada tempat untuk kalian di sini, makhluk bumi!" hardik salah satu penjaga.
"Kita tidak datang untuk berperang!" Sasuke melangkah maju, tapi chakra dari penjaga semakin mengancam.
"Terlambat untuk bicara!"
Seketika itu juga, pertempuran pun pecah.
Sakura mengayunkan tinjunya dan menghancurkan satu sisi dinding dengan kekuatan raksasa, membuat dua penjaga terpental. Hanabi dan Konohamaru bertarung beriringan, melindungi bagian belakang tim. Sasuke mengaktifkan rinnegan dan sharingannya, bergerak cepat membalikkan serangan musuh dengan presisi mematikan.
Naruto melompat ke udara, menyerap serangan tombak chakra dengan mode Kurama.
"Rasengan!" teriaknya, menghantam salah satu penjaga dan menghancurkannya hingga batu di bawahnya retak.
Pertarungan berlangsung sengit. Namun saat salah satu penjaga mencoba melarikan diri untuk memanggil bala bantuan, Sasuke langsung memotongnya.
Setelah pertarungan mereda dan para penjaga takluk, Naruto berdiri di tengah lorong yang kini dipenuhi reruntuhan.
"Tidak bisa terus seperti ini…" ucapnya pelan. "Kalau aku terus bersama kalian, mereka akan terus datang."
"Apa maksudmu?" tanya Sakura.
Naruto menatap ke arah puncak menara.
"Aku bisa merasakan chakra Hinata. Dia ada di atas. Aku akan pergi sendiri."
"Tidak!" Hanabi melangkah maju. "Kita sudah terlalu jauh—"
"Hanabi, aku mengerti." Naruto menatapnya, tenang tapi teguh. "Tapi jika mereka fokus pada kalian, aku bisa menyusup tanpa menarik perhatian."
Sasuke menatap Naruto dalam diam, lalu angkat bicara, "Kalau kau memilih jalan itu, pastikan kau tidak mati sebelum membawanya pulang."
Naruto mengangguk dan tersenyum tipis. "Aku akan membawanya pulang. Dengan seluruh jiwa dan nyawaku."
Tanpa menunggu jawaban, Naruto memanggil chakra Kurama, tubuhnya dilapisi cahaya emas menyilaukan, dan dia melesat melewati lorong menuju puncak menara.
Teman-temannya menatap punggungnya yang menghilang dalam gelap.
"Kembalikan istrimu, Naruto…" bisik Sakura.
"Tentu saja." Ia menyeringai lebar dan pergi meninggalkan rekan-rekannya.
