Disclaimer: Naruto dan Boruto hanya milik Masashi Kishimoto dan Mikio Ikemoto. Saya hanya meminjam karakternya.

Warning: gaje, typo (maybe), agak OOC

Happy Reading

Araya mengajakku makan di kafe dekat rumah sakit. Aku sudah cerita kepada Araya tentang kehamilanku baru berusia satu bulan. Tentu saja Araya terkejut karena yang dia takutkan selama ini akan terjadi kepadaku. Namun, ia berusaha bersikap tenang demi kesehatan mentalku. Karena itulah Araya memesankan makanan yang sehat untukku dan anakku. Araya memesan chicken salad dan segelas jus wortel campur apel sedangkan Araya memesan omurice dan segelas jus jeruk.

"Makanlah. Pesan lagi jika kau masih lapar," kata Araya.

Aku menganggukkan kepalaku disaat aku memakan chicken salad dengan lahap. Kali ini aku makan dengan lahap setelah sekian lama pola makanku tidak teratur karena stres berat. Araya selalu membawa energi positif untukku disaat aku sedang terpuruk. Aku sangat beruntung mengenalnya dan menjadi sahabatku.

"Tarui-san bilang kepadaku bahwa kau selalu mengumpulkan tugas tepat waktu meskipun tidak masuk selama beberapa hari," kata Araya.

"Karena Tarui terus memaksaku untuk mengerjakan tugas. Untung saja dosen-dosenku pengertian kepadaku. Coba kalau tidak, mungkin aku akan di D.O," kataku.

"Karena Tarui-san terlalu mendramatisir menjelaskan keadaanmu kepada dosenmu. Dia bilang sendiri kepadaku," kata Araya.

"Sialan! Pantas saja dosenku terlalu lembut kepadaku dan menanyakan kabarku setiap hari," kataku menyeringai.

"Tuh kan apa kubilang. Masih ada yang tulus menyayangimu," kata Araya lalu memakan omurice dengan pelan.

"Iya," kataku singkat.

"Omong-omong, bagaimana keadaan Shinki?" tanyaku.

"Keadaannya mulai membaik. Hal ini dikarenakan aku dan teman kos lainnya tepat waktu membawa dia ke rumah sakit. Andaikan tidak waktu, mungkin Shinki tidak akan tertolong lagi karena dia meminum obat nyamuk cukup banyak," jawab Araya.

"Bagaimana reaksi Sarada saat mengetahui pacarnya sekarat?" tanyaku penasaran.

"Mereka sudah putus. Tentu saja dia tidak tahu kalau mantannya sempat sekarat," jawab Araya.

"Memang seharusnya begitu. Sarada terlanjur jijik kepada Shinki," kataku.

"Omong-omong, kau masih ingat saat Shinki mengajak kita ke kampung halamannya?" tanya Araya.

"Iya. Emang kenapa?" tanyaku.

"Aku memutuskan untuk menolak ajakan darinya sebelum nekat meminum obat nyamuk. Shinki masih terlibat perang dengan keluarganya Shikadai. Aku tidak ingin kita terseret dalam masalah mereka. Apalagi mereka tahu hasil uang yang didapat Shinki," jelas Araya.

"Keputusan yang tepat, Araya-kun," kataku.

Keheningan terjadi di antara kami berdua saat kami memakan makanan kami masing-masing. Setelah menghabiskan makananku, aku meminum minumanku hingga habis.

"Yodo-chan, bisa diajak bicara serius?" tanya Araya.

"Bisa," jawabku mantap.

"Jika Shinki sepenuhnya pulih, kau harus bilang kepadanya tentang kehamilanmu," kata Araya.

"Hanya bilang saja, ya? Aku tidak ingin hidup bersama si pembawa sial itu," kataku kesal.

"Sebagai gantinya kau harus nikah sama aku," perkataan dari Araya ini membuatku terkejut setengah mati. Aku sungguh tak terima Araya merusak masa depannya sendiri demi menanggung hal yang bukan tanggung jawabnya.

"Araya-kun, jangan merusak masa depanmu sendiri! Aku bisa merawat anak sialan ini sendirian! Jangan membuatku kesal! Sama saja kau menghinaku!" kataku marah.

"Apa masalahnya? Justru kau adalah masa depanku!" kata Araya meyakinkan aku.

"Jangan bertingkah seperti seorang pahlawan kesiangan!" aku langsung menggebrak meja dengan tanganku cukup keras hingga aku menjadi pusat perhatian pelanggan lain. Tentu saja aku malu namun amarahku jauh lebih besar daripada rasa malu. "Sekali saja kau mengajakku menikah, aku tidak akan mau berteman denganmu lagi!" aku langsung beranjak dari tempat duduk lalu pergi meninggalkan tempat ini dengan perasaan marah.

"Yodo!" Araya memanggilku lalu beranjak dari duduknya untuk mengejarku.


Author's POV

Araya kembali ke rumah sakit untuk menemani Shinki setelah bertengkar hebat dengan Yodo. Araya menatap Shinki yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Araya tak menyangka bahwa teman-temannya telah menghadapi masalah yang serius. Yodo tengah mengandung anak Shinki sedangkan Shinki sedang dirawat di rumah sakit karena mencoba bunuh diri. Apalagi Araya sempat bertengkar hebat dengan Yodo karena tidak mau dinikahi olehnya. Padahal Araya hanya ingin membantu Yodo mengatasi kesulitannya.

"Araya."

Araya menoleh kepada seorang lelaki berambut pirang pendek, bermata biru pucat dan berkulit putih pucat yang tak lain adalah Inojin. Lelaki itu menutup pintu kamar lalu berjalan menghampiri Araya.

"Bagaimana perkembangannya?" tanya Inojin.

"Semakin membaik," jawab Araya.

"Beruntung sekali dia memiliki sahabat sepertimu," kata Inojin.

"Justru aku yang beruntung bersahabat dengannya. Bisa dibilang hubungan kami lebih dari sahabat. Shinki seperti ayah bagiku," kata Araya.

"Benar. Kau sering diceramahi olehnya," kata Inojin.

"Omong-omong, apakah ada yang mencari Shinki?" tanya Araya.

"Tidak ada. Aman," jawab Inojin.

"Tetap rahasiakan ini sampai dia benar-benar pulih," pinta Araya.

"Tenang saja. Lagipula banyak dari mereka yang mulai menghindari Shinki sejak video itu beredar. Sungguh hal yang sangat memalukan. Pantas saja Shinki ingin mengakhiri hidupnya," kata Inojin.

"Aku sudah menyuruh orang untuk take down video itu. Bahkan aku pun sudah tahu pelakunya," kata Araya.

"Benarkah? Siapa dia?" tanya Inojin terkejut.

"Seorang perempuan yang tidak menyukai Sarada. Dia ingin menghancurkan Sarada dengan merusak hubungan percintaan Sarada terlebih dahulu," jawab Araya.

"Apa yang kau lakukan terhadap perempuan itu?" tanya Inojin.

"Tentu saja kulaporkan ke polisi atas kasus penyebaran video asusila. Tak ada kata damai karena dia sudah merugikan kedua sahabatku," jawab Araya.

"Bagus. Wanita jalang seperti dia memang harus diberi pelajaran," kata Inojin.

Tiba-tiba Araya melihat jemari Shinki bergerak sangat pelan. Araya dan Inojin langsung menghampiri Shinki karena pria itu akan sadar dari komanya.

"Araya, dia mau sadar," kata Inojin menatap Araya.

"Benar," kata Araya menatap Shinki.

Semakin lama, Shinki membuka kedua matanya secara perlahan hingga ia sadar sepenuhnya. Shinki langsung memasang wajah kecewa karena ia gagal dalam mengakhiri hidupnya.

"Bangsat!" itulah kata pertama yang dilontarkan Shinki saat tahu dirinya masih hidup.

"Oi, kau ingin jadi arwah penasaran, huh?" tanya Inojin ketus.

"Inojin, bukan saatnya membahas itu," kata Araya dengan menyikut lengan Inojin.

"Kalian malah menyiksaku, tahu?" kata Shinki dengan suara lemah.

"Shinki, jangan pikirkan hal itu. Yang terpenting sekarang kau harus sembuh dulu agar dapat beraktivitas normal lagi," kata Araya.

"Tampaknya aku sudah tidak dapat beraktivitas normal lagi. Aku sangat malu," kata Shinki dengan pandangan mata yang sedih.

"Jangan begitu. Perjalananmu masih panjang. Jangan mau kalah dengan keadaan. Masih ada yang peduli sama kamu," kata Araya.

"Benar. Kami tidak akan meninggalkanmu. Anggap saja mereka seperti angin lewat. Ditambah lagi kau sudah berjanji kepada ibuku untuk merancang kos-kosan di daerah Shibuya kalau kau sudah lulus," kata Inojin memberi semangat kepada Shinki.

"Ya ampun. Aku hampir melupakan janjiku kepada Ino-san," kata Shinki.

"Sialan kau! Untung saja kuingatkan," kata Inojin lalu tersenyum.


Yodo's POV

Araya mengabariku bahwa Shinki telah sadar dari komanya. Dua hari yang akan datang Shinki diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Aku langsung membalas pesan dari Araya bahwa aku senang sahabatnya telah sadar. Dengan begitu beban Araya berkurang dan senyumannya mulai kembali. Perlu kalian ketahui bahwa hubunganku dan Araya langsung membaik setelah Araya meminta maaf kepadaku dan berjanji untuk tidak mengajak nikah lagi. Tentu saja aku langsung memaafkan Araya karena aku tidak ingin kehilangan sahabat terbaikku hanya karena alasan konyol.

Tiba-tiba ponselku berdering tanda ada panggilan video masuk. Mata biruku langsung terbelalak saat melihat nama ibuku. Aku langsung menerima panggilan video dari ibuku.

"Yodo, bagaimana kabarmu? Apakah kau baik-baik saja? Kau jauh lebih cantik, Yodo" tanya ibuku kepadaku.

Saat mendengar suara dan wajah ibuku yang jauh lebih tirus dan pucat dari yang terakhir kali kulihat, aku langsung mengeluarkan air mataku dan tidak ada niatan sedikitpun untuk memarahinya. Sudah lama sekali aku tidak melihat wajah cantik ibuku mendengar suara lembut darinya setelah sekian lama mengabaikanku.

"Iya. Aku baik-baik saja, Ma," jawabku. "Mama sendiri bagaimana kabarnya?" tanyaku.

"Kupikir kau akan memarahiku, Yodo. Maafkan mama, Yodo. Mama tak

bermaksud mengabaikanmu hiks hiks," ucap ibuku dengan menangis.

"Selama ini mama ngapain saja sampai tak pernah menghubungiku selama hampir tiga tahun?" tanyaku.

"Mama sempat terkena kanker otak stadium 2. Mama sengaja tidak menghubungimu sampai selama itu supaya pengobatan mama berjalan lancar dan kamu tidak bersedih. Jangan khawatir, mama sekarang sudah sembuh total jadi mama bisa menghubungimu," jelas ibuku.

"Mama, kenapa harus begitu sih? Aku kan perlu tahu keadaan mama. Kupikir mama punya keluarga baru," kataku lalu menangis.

"Jangan khawatir. Yang penting sekarang mama sudah sembuh. Dan satu hal lagi, mama tidak ingin ada orang baru di kehidupan kita. Mama ingin kita hidup bahagia meskipun hanya berdua," kata ibuku.

"Terima kasih ma," ucapku dengan menarik ingusku dan menghapus air mataku. "Omong-omong, mama tahu yang kau lakukan selama ini. Bahkan mama tahu tentang kehamilanmu. Kuharap kau tidak menggugurkannya," kata mamaku hingga aku terkejut setengah mati.

"Bagaimana mama tahu?!" tanyaku.

"Mama membayar seseorang untuk mengawasimu. Tidak perlu tahu siapa dia. Yang jelas dia adalah anak dari teman mama dan bukan salah satu dari temanmu," jawab ibuku.

"Jangan khawatir. Aku tidak akan menggugurkannya. Bahkan aku pun menolak tawaran dokter untuk menghubungi agen adopsi," kataku.

"Syukurlah kau memiliki hati yang baik meskipun mama gagal mendidikmu," kata ibuku.

"Maafkan aku, ma," ucapku dengan getir.

"Justru mama yang minta maaf kepadamu," kata ibuku tersenyum lembut kepadaku. "Setelah anakmu lahir, kau dan anakmu harus pindah kesini. Mama sudah menyiapkan kamar yang bagus untukmu," ajak ibuku.

"Mama, aku masih kuliah. Aku sudah susah payah masuk todai sesuai keinginan mama. Aku tidak ingin berhenti di tengah jalan. Jangan khawatir, ma. Aku akan memasang wajah tembok jika mereka menghinaku habis-habisan," kataku.

"Kau benar-benar anak mama, Yodo. Terima kasih sudah mau menjadi anakku," ucap ibuku.


Betapa bahagianya Araya setelah kuceritakan bahwa ibuku telah menghubungiku dan hubungan kami telah membaik. Araya langsung memelukku dengan erat karena turut bahagia dengan kebahagiaanku.

"Setelah ini kau tidak boleh melakukan hal buruk lagi. Sudah cukup sampai sini. Ayo kita hidup sehat," kata Araya.

"Tentu saja aku akan hidup sehat. Apalagi ada si kecil di dalam perutku," kataku lalu melepaskan pelukan Araya.

"Ayo kita ke bioskop setelah kuliah. Ada film yang sedang viral, lo," ajak Araya.

"Film apa? Film action?" tanyaku.

"Film horor," jawab Araya.

"Oh, film yang dimainkan sama aktris favoritmu?" Araya menganggukkan kepalanya.

"Baiklah. Sudah lama sekali aku tidak nonton di bioskop," kataku.

"Jam 3 sore kita ketemuan di gerbang universitas," kata Araya.

"Siap," ucapku.

Tanpa sengaja aku melihat Sarada yang sedang berjalan berdampingan bersama Chouchou, teman satu kos Araya. Kali ini rambut Sarada lebih pendek yang terakhir kali bertemu dengannya. Selain itu, dia jauh lebih ceria untuk ukuran gadis yang habis patah hati karena putus dengan pacarnya. Ketika Sarada menatapku, aku langsung memalingkan wajahku darinya karena tidak ingin berurusan dengannya lagi. Sudah cukup menjadi samsak tinju olehnya.

"Araya."

Seketika aku terkejut mendengar suara berat namun lembut yang memanggil nama Araya. Tentu saja orang itu adalah Shinki. Shinki terlihat jauh lebih kurus dari yang terakhir kali bertemu dengannya. Aku memakluminya karena ia habis dirawat di rumah sakit karena percobaan bunuh diri. Selain itu, Araya bilang kepadaku bahwa Shinki sempat mogok makan setelah pulang dari rumah sakit.

Ketika Shinki menatapku, aku langsung menundukkan kepalaku karena tidak ingin menatap wajahnya lagi. Membuatku teringat dengan skandal yang menimpaku.

"Shinki, apakah kau sudah menemukan buku yang kita butuhkan?" tanya Araya.

"Sayangnya belum. Maka dari itu aku meminta bantuanmu," jawab Shinki.

"Kau ini. Seharusnya bilang dari tadi dong. Kita mau masuk, tahu Waktunya Yamato-sensei, tahu? Gitu tadi sok-sokan menolak bantuan dariku," kata Araya memarahi Shinki.

"Maafkan aku. Aku tidak tahu bakalan banyak yang membeli," ucap Shinki.

"Ayo kita ke toko buku satunya. Siapa tahu ada. Kau ini bikin ketar-ketir saja!" kata Araya lalu menatapku. "Yodo-chan, ayo ikut aku. Kau lebih lebih jago mencari barang yang langka

dibandingkan aku," ajak Araya.

"Sebagai gantinya kau harus mentraktirku makan di mekdi," kataku kesal.

"Tenang saja," kata Araya meyakinkan aku.

To be continue

SaGaaraSaku: thanks ya sudah setia menunggu kelamjutan fic ini. Mohon nantikan lanjutannya!

Silahkan di-review ya guys. Review kalian sangat membantu dalam perkembangan fic ini hingga tamat.