Chapter 97
Di dapur, Syr sudah sibuk mencuci alat makan yang kotor. Suara gemercik air yang mengalir dari keran bercampur dengan dentingan lembut piring yang bersentuhan satu sama lain. Tubuhnya bergerak otomatis, tetapi tatapannya kosong, jelas tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Shirou tiba tak lama kemudian. Ia menggulung lengan tunik kremnya hingga ke siku, lalu berdiri di sebelah Syr, mengambil beberapa piring kotor dari tumpukan untuk dicuci. "Permisi, ya" katanya pelan, suaranya lembut, berusaha tidak mengganggu fokus Syr yang terlihat rapuh.
Sambil mencuci, Shirou merasakan perubahan aneh dalam suasana. Wangi bunga musim dingin khas Syr, yang biasanya terasa lembut dan penuh kehidupan, kini berbeda. Aromanya seolah berubah menjadi lebih suram, layaknya bunga yang mulai layu. Shirou diam-diam menggigit bibir, menyadari bahwa sesuatu yang ia katakan—atau mungkin sesuatu yang terjadi di meja makan tadi—telah memengaruhi perasaan Syr.
"Apa kau tidak ingin bertanya soal... hal tadi?" suara Syr tiba-tiba memecah keheningan. Nadanya terdengar datar, tetapi ada ketegangan yang tersembunyi.
Shirou menoleh sekilas ke arah Syr, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada piring di tangannya. "Aku tidak akan menanyakannya kalau itu membuatmu tidak nyaman," jawabnya dengan tenang. "Aku pikir... kau punya alasan sendiri."
Syr melirik Shirou dari sudut matanya, dan senyumnya yang kecil tapi penuh makna terukir di bibirnya. Dalam hatinya, ia merasa Shirou begitu berbeda. Meski dia memiliki jiwa yang retak penuh trauma dan karat, ada sesuatu yang bercahaya di balik itu semua. Paradoks dari jiwa yang jelek itu, pikir Syr, Shirou punya mimpi yang begitu indah: menjadi Seigi no Mikata. Hatinya terasa sedikit hangat, meskipun perasaan itu bercampur dengan kesedihan.
Syr menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian. "Shirou," katanya, suaranya hampir berbisik. "Apa pendapatmu tentang Freya?"
Pertanyaan itu membuat Shirou berhenti sejenak. Tangannya yang memegang piring tetap diam di bawah air. Kenapa Syr tiba-tiba bertanya tentang Freya? pikirnya. Shirou menelusuri pikirannya, mencoba mengaitkan pertanyaan itu dengan apa yang ia ketahui tentang identitas asli Syr. Apakah ada hubungan antara dewi Freya dan... Syr? Hatinya bertanya-tanya.
"Aku... sebenarnya tidak punya pendapat yang kuat," akhirnya Shirou menjawab, memilih kejujuran. "Aku belum pernah bertemu langsung dengannya, jadi aku tidak bisa benar-benar menilai. Tapi, kenapa kau bertanya? Apa kau... membenci dewi Freya?"
Syr terdiam sejenak. Tangannya tetap sibuk mencuci, tetapi ia tampak berpikir keras. "Tidak, aku tidak membencinya," jawabnya akhirnya. "Tapi ketika kau tadi bilang Freya menegakkan keadilan..." Syr tertawa kecil, getir. "Itu terasa... sangat tidak cocok dengan siapa dia sebenarnya."
Shirou mengernyitkan dahi, bingung. Namun, ia memilih untuk tidak memaksakan pertanyaan lebih lanjut. Baginya, Syr memiliki alasan untuk setiap perkataannya, dan Shirou akan menunggu hingga ia siap berbicara lebih banyak.
Setelah beberapa saat hening, hanya suara gemericik air dan dentingan piring yang terdengar, mereka akhirnya selesai mencuci semua peralatan masak. Syr menyeka tangannya dengan kain kecil yang tergantung di dekat wastafel, lalu melirik Shirou yang tengah merapikan piring terakhir ke rak pengering. Sesaat, ia terdiam, seperti mempertimbangkan sesuatu.
"Shirou," panggil Syr tiba-tiba, suaranya lembut tapi terkesan serius.
"Hm?" Shirou menoleh, menatapnya penuh perhatian.
"Kalau... misalnya," Syr memulai perlahan, "dewi Freya memutuskan ingin membunuhku, apa yang akan kau lakukan?"
Pertanyaan itu menusuk udara, membuat Shirou terdiam sejenak. Sementara itu, dalam hati Syr bergemuruh pikiran yang tak bisa ia katakan. Seandainya aku gagal dalam peran sebagai Syr—gadis polos yang hangat ini—apa yang akan terjadi? Jika Bell tidak terpikat pada pesonaku sekarang, mungkin aku harus menghancurkan semua kepura-puraan ini. Menanggalkan kedok manusia dan kembali sebagai Freya, dewi yang egois dan selalu memaksa kehendaknya. Ia menekan perasaan itu, menyadari betapa pikiran itu tadi terdengar provokatif.
Namun reaksi Shirou benar-benar di luar dugaan. Lelaki itu tiba-tiba menatapnya dengan tatapan tajam, penuh keseriusan. Sebelum Syr sempat menyesali ucapannya, Shirou melangkah mendekat dan meletakkan kedua tangannya di bahunya.
"Apa Freya Familia mengincarmu, Syr?" tanyanya dengan nada khawatir. Wajahnya yang biasanya tenang kini menunjukkan ketegangan yang nyata.
Syr terkesiap, pipinya mulai memerah tanpa kendali. Ia mundur setengah langkah, dengan gugup menyingkirkan tangan Shirou dari bahunya. "Ah... tidak, tidak! Itu hanya hipotesis," katanya dengan tawa kecil yang canggung. "Tak ada yang mengincarku, aku hanya... ingin tahu apa yang akan kau lakukan, itu saja."
Shirou masih menatapnya dengan penuh kekhawatiran, meski Syr mencoba meyakinkannya. Setelah beberapa detik, ia akhirnya menarik napas panjang dan menjawab dengan nada penuh keyakinan, "Kalaupun itu terjadi, aku pasti akan melindungimu."
Syr memandangnya dengan alis terangkat. "Bahkan jika kau hanya level 1, dan mereka punya Ottar, sang Warlord, yang level 7? Kau tahu itu perbedaan kekuatan yang luar biasa, kan?"
"Walaupun begitu," jawab Shirou tanpa ragu. "Aku tidak peduli. Meski itu Ottar, atau seluruh Freya Familia sekalipun, aku akan tetap berdiri melindungimu."
Jawaban Shirou membuat Syr tercengang sejenak, sebelum akhirnya ia meledak dalam tawa yang riang. "Kamu benar-benar suka sekali sok keren ya!" katanya, menepuk pundak Shirou sambil mendorongnya perlahan keluar dari dapur. "Sudah, sudah. Pergilah ke depan sebelum aku makin kesal mendengar jawabanmu."
Shirou menggaruk kepalanya, bingung dengan perubahan suasana hati Syr. Namun, ia menurut, membiarkan dirinya didorong keluar dari dapur. Meski bingung, ia merasa lega. Wangi bunga musim dingin Syr... pikirnya. Sekarang kembali lagi. Bahkan, wanginya jauh lebih harum dari sebelumnya.
Setelah Shirou keluar dari dapur, tawa Syr masih menggema di ruang kecil itu, menggema seperti lonceng perak. "Hahaha... astaga, Shirou!" Syr tertawa hingga tubuhnya sedikit berguncang, tangannya menekan sisi meja untuk menahan dirinya dari terjatuh. Gelombang kesenangan itu menguasai dirinya, namun ada sesuatu yang lebih mendalam di balik tawa tersebut.
Sebagai entitas ilahi, Syr—atau lebih tepatnya Freya yang bersembunyi di balik identitas itu—bisa merasakan setiap nada kejujuran dalam jawaban Shirou tadi. Ia tahu Shirou tidak memutarbalikkan fakta atau mencoba membual. Dalam hatinya, Shirou benar-benar ingin melindunginya. Pikiran itu membuat Freya termangu sejenak. Dia hanya level 1, tapi dia rela melakukan apa pun untuk melindungiku, bahkan melawan sesuatu yang jauh di atas kemampuannya. Bagaimana mungkin aku tidak tersentuh oleh itu?
Wajah Shirou yang serius saat berbicara masih tergambar jelas di pikirannya. Gambaran itu membuat bibirnya melengkung, kali ini bukan tawa, tetapi senyuman yang penuh arti. Ia menyentuh dadanya sendiri, mencoba menenangkan debaran yang tak biasa. Orang seperti dia… Ah, Shirou Emiya. Kau benar-benar tahu cara mengganggu pikiranku.
"Haaah..." Nafas Syr mulai berat, tawa itu perlahan mereda, tergantikan oleh deru nafas yang memburu. "Haaaah~" gumamnya, mencoba mengatur dirinya, tetapi suaranya terdengar berbeda, lebih rendah, lebih sarat dengan sesuatu yang primal. Desahan itu tak sengaja lolos dari bibirnya, terdengar seperti erangan yang terlalu dewasa untuk sosok Syr yang dikenal semua orang.
Tubuhnya mulai berubah. Perlahan tapi pasti, aura ilahi yang selama ini ia pendam mulai terpancar. Rambut abu-abu kebiruannya yang terikat rapi di ponytail memanjang dengan anggun, berubah menjadi perak berkilau yang memancarkan cahaya lembut. Mata abu-abunya berganti menjadi ungu royal yang berkilauan, penuh dengan pesona magis. Sosok Syr yang sederhana menghilang, digantikan oleh Freya, dewi cinta dan kecantikan yang tak tertandingi.
"Shirou Emiya..." gumam Freya pelan, dengan rona merah yang mulai menghiasi pipinya. Suaranya penuh kehangatan, tetapi ada juga nada gelap yang membakar di dalamnya. Ia menyentuh dadanya dengan lembut, seolah mencoba menenangkan perasaan yang membuncah di dalam dirinya. "Jika kau terus seperti ini... terus menggodaku dengan ketulusanmu itu... aku mungkin tak bisa menahan diriku lebih lama."
Ia menarik napas panjang, matanya masih menatap pintu dapur yang telah tertutup, seolah membayangkan sosok Shirou di sana. Kau hanya level satu, Shirou. Tapi kenapa kau terus membuatku merasa seperti ini? pikirnya, dengan senyum kecil yang penuh arti menghiasi bibirnya. Freya kembali menghela napas panjang, lalu mulai merapikan rambutnya yang panjang, berusaha menguasai kembali dirinya.
Setelah meninggalkan dapur, Shirou berjalan menuju konter depan. Langkahnya mantap, meskipun pikirannya masih dipenuhi oleh tawa Syr yang terdengar hingga dia keluar tadi. Saat dia tiba di konter, Ryuu berdiri di sana, wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Di sampingnya, Lefiya menunggu dengan sabar, tampak tenang tetapi jelas memperhatikan Shirou dengan rasa ingin tahu.
"Shirou," Ryuu memanggil pelan begitu dia mendekat. "Bagaimana dengan Syr? Apakah dia baik-baik saja?"
Shirou berhenti sejenak, memikirkan jawaban yang paling sesuai. "Saat aku meninggalkan dapur tadi, dia tertawa. Jujur saja, aku tidak tahu apa yang membuatnya tertawa seperti itu, tapi dia tampaknya baik-baik saja."
Ryuu tampak berpikir, tetapi akhirnya dia hanya mengangguk. "Syukurlah kalau begitu," katanya dengan nada lega. Namun, dia masih terlihat sedikit cemas. "Shirou, bisa tolong jaga konter sebentar? Anya, Lunoire, dan Chloe sepertinya sedang sibuk dengan pesanan di meja-meja."
"Baik, aku mengerti," Shirou menjawab cepat sambil melangkah ke belakang konter, menunjukkan kesiapannya untuk membantu.
Ryuu mengangguk singkat, kemudian berbalik menuju dapur. "Kalau begitu, aku akan mengecek Syr lagi," katanya sambil berjalan pergi. Shirou hanya mengawasinya sejenak sebelum fokus ke tugas yang diberikan.
Namun, saat dia memasuki area di balik konter, sebuah suara yang sudah familiar terdengar dari belakangnya. "Aku ikut," ujar Lefiya sambil melangkah masuk, mengikuti Shirou.
Shirou menoleh dengan alis terangkat. "Ikut? Untuk apa?" tanyanya sambil meletakkan tangan di pinggang, sedikit bingung.
Lefiya tersenyum kecil, meskipun ada sedikit rasa canggung di wajahnya. "Aku ingin tahu bagaimana bekerja di tempat ini. Kau sudah lama bekerja di Hostess of Fertility kan, jadi aku penasaran."
Shirou menatapnya sejenak, mencoba memastikan keseriusan ucapan Lefiya. Ketika dia melihat bahwa gadis elf itu benar-benar tertarik, dia hanya menghela napas dan tersenyum tipis. "Baiklah. Tapi aku khawatir merepotkanmu, Lefiya. Kau mungkin akan kewalahan."
Lefiya menatapnya dengan penuh semangat, tangannya terkepal di depan dada seperti berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Aku akan berusaha keras! Lagipula, ini hanya sementara, kan? Aku ingin tahu bagaimana rasanya bekerja di tempat di mana kau menghabiskan waktu."
Shirou hanya mengangguk, memutuskan untuk membiarkan rasa penasarannya terjawab sendiri. "Kalau begitu, selamat datang di Hostess of Fertility. Kita mulai bekerja."
Setelah beberapa saat, seorang pelanggan datang ke konter dengan langkah santai. Ia membawa sejumlah valis di tangan dan mulai berbicara kepada Lefiya. "Terima kasih, makanannya enak. Jadi, tadi saya pesan semangkuk sup, sepotong roti, dan segelas jus buah," katanya sambil tersenyum.
Lefiya berdiri dengan gugup di belakang konter. Tangan kecilnya sibuk meraih buku catatan menu untuk memastikan harga dari setiap item yang disebutkan. "Ehm... sup harganya... uh... 50 valis, roti 30 valis, lalu jusnya... 40 valis," gumamnya pelan, lalu berusaha menjumlahkan totalnya. Namun, wajahnya tampak ragu, dan ia hampir salah menyebutkan angka.
Shirou yang berdiri di sampingnya segera melirik catatan itu. "Totalnya 120 valis," katanya dengan tenang, membetulkan perhitungan Lefiya tanpa ragu.
"Oh, iya... 120 valis! Maaf, tadi hampir salah," Lefiya buru-buru menatap pelanggan itu dengan wajah merah.
Pelanggan itu hanya tertawa kecil, menyerahkan sejumlah valis. Shirou dengan sigap menghitung uangnya, lalu memberikan kembalian dengan cekatan. "Ini kembalian Anda, terima kasih sudah datang," ucap Shirou dengan sopan.
Ketika pelanggan itu melangkah pergi, Lefiya menghela napas panjang dan menyandarkan tangannya ke meja konter. "Kelihatannya mudah, tapi ternyata susah juga, ya," keluhnya dengan senyum lemah.
Shirou menepuk bahunya dengan lembut. "Awalnya memang begitu. Tapi nanti kau juga akan terbiasa. Lagipula, ini pengalaman baru, kan?"
Sebelum Lefiya sempat menjawab, Ryuu muncul dari arah dapur dengan ekspresi heran. Langkahnya terlihat lebih cepat dari biasanya, seperti ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
"Ryuu, apa kau sudah bertemu Syr?" tanya Shirou, memperhatikan raut wajah rekannya itu.
Ryuu menggeleng pelan. "Tidak. Saat aku ke dapur, aku malah mendengar Mama Mia sedang memarahi Syr. Katanya penampilannya tidak cocok sebagai pelayan. Aku mencoba masuk, tapi pintu dapurnya terkunci," jelasnya, suara Ryuu terdengar bingung.
"Memarahi Syr?" Lefiya bertanya dengan alis terangkat. "Tapi tadi dia mengenakan seragam dengan rapi. Apa yang salah?"
Shirou ikut tampak bingung, mengingat penampilan Syr tadi terlihat seperti biasanya, tidak ada yang aneh. "Mungkin ada hal lain yang terjadi?" gumamnya pelan.
"Ah, sudahlah," Ryuu mengibaskan tangannya. "Nanti aku akan menemui Syr setelah selesai kerja. Kalian tak perlu khawatir."
Mendengar itu, Shirou dan Lefiya merasa lega. Mereka keluar dari balik konter, bersiap untuk pamit. "Terima kasih sudah membantu, kalian berdua," kata Ryuu sambil tersenyum tipis. Ia kemudian menatap setengah melotot ke arah Shirou. "Oh, dan jangan lupa besok kita ada latihan, ya."
Shirou mengangguk. "Tentu, aku tidak akan lupa."
Setelah berpamitan, Shirou dan Lefiya melangkah keluar dari Hostess of Fertility, meninggalkan Ryuu yang kembali sibuk melayani pelanggan. Di luar, Lefiya tersenyum kecil. "Bekerja di sini memang seru, tapi aku rasa aku lebih cocok memasak di dapur Loki Familia," katanya bercanda, membuat Shirou tertawa kecil di sampingnya.
Dalam perjalanan pulang menuju Twilight Manor, Shirou dan Lefiya berjalan berdampingan di bawah cahaya bulan yang lembut. Jalanan Orario mulai lengang, hanya tersisa suara langkah mereka yang berirama di atas jalan berbatu. Shirou memandang Lefiya sekilas, sebelum akhirnya memutuskan untuk bertanya. "Lefiya, kau tadi tampaknya cukup akrab dengan Syr dan Ryuu. Kau sudah lama mengenal mereka?"
Lefiya menoleh dengan senyum tipis. "Ah, sebenarnya aku baru saja berkenalan dengan mereka, Shirou. Pertemuan pertama dengan Ryuu terjadi ketika ia menitipkan pesan agar kamu segera membayar hutangmu."
"Hutang?" Shirou langsung berdehem, sedikit malu. Ia teringat janji kecil yang belum ia tepati sepenuhnya. "Jadi... dia ingin mengingatkanku tentang itu?"
Lefiya terkikik pelan, menutupi mulutnya dengan tangannya. "Ya, tapi dia tidak terlihat terlalu marah, kok. Dia hanya ingin memastikan kau tidak lupa."
Shirou menggaruk bagian belakang kepalanya dengan canggung. "Baiklah, aku akan menepatinya. Bagaimana dengan Syr? Sejak kapan kau mengenalnya?"
"Oh, Syr?" Lefiya tersenyum samar. "Aku baru saja berkenalan dengannya malam ini. Meskipun Loki Familia sering mengadakan selebrasi di Hostess of Fertility setelah ekspedisi sukses, aku jarang mengobrol langsung dengan para pelayan di sana. Biasanya aku hanya ikut makan dan mendengarkan obrolan para senior."
Shirou tersenyum hangat mendengar jawabannya. "Aku senang kau bisa lebih akrab dengan mereka. Ryuu dan Syr adalah teman kerja yang baik. Mereka sering membantuku."
Lefiya mengangguk pelan, lalu mengubah ekspresinya menjadi sedikit serius. "Tapi, Shirou, aku penasaran... Apa menurutmu ada masalah antara Syr dan dewi Freya? Tadi, ketika kita berbicara tentang dewi Freya, reaksinya... cukup aneh."
Shirou mengerutkan kening, berusaha mengingat percakapan mereka sebelumnya. "Hmm, aku juga bingung. Meskipun aku tadi mengobrol dengan Syr, dia tidak menjelaskan apa-apa soal itu. Apa kau tahu ada dewa atau dewi yang bermusuhan dengan dewi Freya?"
Lefiya merenung sebentar, lalu mengangguk. "Aku pernah mendengar kabar bahwa dewi Ishtar sangat membenci dan cemburu pada dewi Freya. Mereka berdua kan dikenal sebagai dewi kecantikan. Tapi yah... sekarang dewi Ishtar sudah dikalahkan oleh dewi Freya dan bahkan dipaksa kembali ke Tenkai."
Shirou terdiam, memproses informasi itu sambil menatap jalanan yang kosong di depan mereka. Dewi kecantikan... pikirnya dalam hati. Kalau begitu, bisa jadi Syr sebenarnya adalah dewi lain yang memiliki hubungan serupa. Aphrodite, mungkin? Dewi kecantikan dari mitologi Yunani, yang mungkin juga merasa cemburu pada Freya. Lagipula, aku tahu Syr pernah menghindar ketika Hestia muncul, mungkin karena Hestia bisa mengetahui identitasnya. Sesama dewi Yunani, mereka pasti saling mengenali.
Shirou menyimpan pikirannya itu untuk dirinya sendiri, sementara Lefiya terus berjalan di sampingnya, tampak menikmati percakapan santai mereka. Akhirnya, setelah beberapa saat dalam diam, Shirou berbicara lagi, mencoba menenangkan Lefiya. "Aku rasa, apapun masalahnya, Syr pasti bisa mengatasinya."
"Oh ya, Shirou," ujar Lefiya tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka saat berjalan melewati gang kecil yang mulai sepi. "Kenapa tadi kamu melarangku cerita tentang sepeda yang kita buat bersama? Aku ingat bagaimana kamu tiba-tiba mengedipkan matamu waktu aku hampir cerita pada Syr dan Ryuu."
Shirou menoleh, sedikit tersenyum. "Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau sepeda itu ingin dijadikan kejutan? Kalau kamu ceritakan langsung, ya, namanya bukan kejutan lagi, Lefiya."
Lefiya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Iya juga, ya," gumamnya sambil tersenyum malu. Dalam pikirannya, ia mulai membayangkan momen-momen indah dengan sepeda itu. Sepeda pink yang cantik itu, dengan keranjang kecil di depannya… aku akan mengendarainya keliling kota Orario, melewati jalan-jalan utama, dan semua orang akan melihatku dengan kagum. Ia membayangkan wajah-wajah teman-temannya yang terpesona, mungkin bahkan Aiz akan memujinya. "Hehe…" tawa kecil keluar tanpa sadar dari bibirnya.
Shirou yang berjalan di sampingnya, tidak bisa menahan tawa kecil melihat Lefiya tersenyum sendiri. "Hei, kamu senyum-senyum sendiri begitu. Lagi membayangkan apa, huh?" tanyanya dengan nada menggoda.
"Eh? Tidak apa-apa!" Lefiya buru-buru mengelak, pipinya memerah. Namun, senyum di wajahnya masih bertahan, membuat Shirou semakin geli.
Setelah melanjutkan perjalanan beberapa saat, suara lonceng kecil terdengar di udara. Kring, kring! Itu datang dari seorang pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam cenderamata di pinggir jalan. Shirou menghentikan langkahnya dan mendekati pedagang tersebut. Ia mengangkat tangannya, membuat lingkaran kecil dengan jarinya, lalu bertanya, "Apa Anda punya lonceng kecil, seperti ini?"
Pedagang itu mengangguk sambil tersenyum ramah. "Ada, tunggu sebentar ya," katanya, lalu mulai mencari di antara dagangannya.
Lefiya yang penasaran, ikut mendekat. "Untuk apa kamu cari lonceng kecil?" tanyanya, menatap Shirou dengan bingung.
Tidak lama, pedagang itu menyerahkan sebuah lonceng kecil berwarna perak yang mengeluarkan suara lembut ketika digoyangkan. Shirou tersenyum puas, lalu mengeluarkan 200 valis untuk membayarnya. Setelah itu, ia menyerahkan lonceng itu kepada Lefiya. "Ini untuk sepeda barumu," jelasnya sambil tersenyum lebar. "Biar semua orang bisa tahu kalau kamu sedang lewat. Atau…" Ia menambahkan dengan nada bercanda, "Kalau kamu memang mau pamer, setidaknya pamer dengan lebih keren, kan?"
Lefiya terdiam sejenak, pipinya kembali memerah. Niatannya untuk pamer ternyata sangat kentara di mata Shirou. Namun, ia merasa hangat di dalam hati mendengar perhatian Shirou. Dengan suara pelan, ia berkata, "Terima kasih, Shirou..."
Shirou hanya tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya. Di belakangnya, Lefiya menggenggam lonceng kecil itu dengan erat, sambil berjanji dalam hati bahwa ia akan menjaga sepeda barunya dengan baik—dan tentunya, memanfaatkan lonceng pemberian Shirou sebaik-baiknya.
