Chapter 107

Syr segera berlutut di samping Shirou, matanya dipenuhi kepanikan saat tangannya yang kecil dan lembut dengan cepat mulai memeriksa tubuhnya.

Banyak sekali memarnya... ada bengkak di bahunya juga... oh tidak, wajahnya pun terkena...

"Shirou! Apa kau baik-baik saja?" Syr bertanya dengan nada penuh kekhawatiran, tangannya tanpa ragu menyentuh wajahnya yang penuh luka.

Shirou mengerjapkan matanya, menatap wajah Syr yang begitu dekat dengannya. Ia tersenyum lemah, mencoba meyakinkannya. "Aku baik-baik saja, Syr. Hanya... agak sulit bergerak sedikit."

Syr mengerutkan kening, tidak percaya. "Jangan bohong padaku!" katanya, suaranya sedikit bergetar. "Lihat dirimu! Kau penuh memar! Apa yang sebenarnya terjadi di sini?!"

Shirou mencoba bangkit, tetapi tubuhnya protes. Nyeri menusuk dari seluruh tubuhnya, terutama di bagian-bagian yang terkena pukulan terkuat Ryuu. Syr segera menahan bahunya, tidak membiarkannya bergerak lebih jauh.

Sementara itu, Ryuu berdiri terpaku di tempatnya, kedua tangannya mengepal erat.

Kenapa...? Kenapa dia sengaja menerima seranganku?

Perlahan, kenyataan mulai merasuk ke dalam pikirannya.

Ryuu akhirnya menyadari... bahwa setiap serangannya tidak seharusnya mengenai Shirou. Seharusnya Shirou bisa menghindar. Seharusnya Shirou bisa bertahan lebih lama. Tapi dia memilih untuk menerima semuanya.

Dia sengaja melemahkan pertahanannya... Tapi kenapa?

Ryuu menggigit bibirnya. Pikirannya mulai mencerna semua informasi yang ada.

Shirou... sedang menyembunyikan kekuatannya.

Hanya Ryuu dan anggota Loki Familia yang tahu bahwa Shirou seharusnya lebih kuat daripada ini. Tetapi di depan Syr, Shirou bertingkah seolah-olah ia hanyalah petarung pemula.

Dan Ryuu, dalam kemarahannya, telah menghancurkan segalanya.

Ia menundukkan kepala, rasa bersalah mulai menjalar ke dalam hatinya.

Aku seharusnya berhenti sejak serangan pertama mengenainya. Seharusnya aku sadar. Seharusnya aku tidak membiarkan emosiku menguasai diriku...

Ryuu mengepalkan tangannya lebih erat, kukunya hampir menembus kulitnya sendiri.

Aku telah mengkhianati kepercayaannya.

Di depan matanya, Syr masih sibuk merawat Shirou, wajahnya penuh kekhawatiran.

Dan Ryuu hanya bisa berdiri di sana... merasa lebih buruk daripada sebelumnya.

Syr dengan sigap menahan bahu Shirou saat ia kembali berusaha bangkit. "Jangan memaksakan diri!" tegurnya dengan nada khawatir.

Shirou membuka mulut, mungkin ingin membantah, tetapi sebelum ia bisa mengatakan apa pun, Syr mendorongnya perlahan agar berbaring kembali. Dengan hati-hati, ia mengangkat kepala Shirou dan meletakkannya di atas pahanya.

Shirou langsung merasa seluruh tubuhnya menegang. Sensasi lembut dan hangat dari paha Syr yang terbungkus kain hijau seragam Hostess of Fertility membuat wajahnya sedikit memanas.

"Ini... agak memalukan."

Sementara Shirou berusaha menenangkan pikirannya, Syr menoleh ke arah Ryuu yang masih berdiri diam dengan kepala tertunduk.

"Ryuu!" suaranya tajam, penuh teguran. "Kenapa kau begitu kasar dalam latihan?! Kau seharusnya tahu bahwa Shirou masih level 1! Apa kau tidak bisa menahan diri sedikit?"

Ryuu tersentak dan mengangkat kepalanya sedikit, tetapi tak berani menatap mata Syr.

Dia tidak curiga... Ryuu merasa sedikit lega, tetapi perasaan bersalahnya tetap menghantui.

Namun, saat mulutnya terbuka untuk menjawab, tak ada kata-kata yang bisa keluar. Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa Shirou sebenarnya sudah level 4? Bagaimana ia bisa berbohong pada Syr tanpa ragu?

Ryuu menggenggam ujung kaosnya dengan erat. Ia tak ingin berbohong, tetapi kebenaran juga bukan sesuatu yang bisa ia ungkapkan begitu saja.

Di saat Ryuu masih bergulat dengan pikirannya, suara Shirou yang tenang memecah keheningan.

"Mungkin... Ryuu hanya ingin aku merasakan betapa kerasnya dungeon," katanya dengan nada lemah, tetapi tetap terdengar penuh keyakinan. "Lebih baik aku terluka di sini, dalam latihan, daripada nanti di dungeon saat pertarungan sungguhan. Terima kasih, Ryuu."

Mata Ryuu membelalak sedikit.

Shirou...

Ia menunduk lagi, kali ini bukan karena malu, tetapi karena hatinya terasa begitu berat. Dirinya yang telah membuat Shirou babak belur... tetapi Shirou justru berterima kasih.

Ia menggigit bibirnya, merasakan sesuatu yang menyesakkan di dadanya.

Namun, sebelum suasana bisa semakin mendalam, Syr justru mengerucutkan bibirnya dan—cubit!

"Aduh!" Shirou mengeluh pelan ketika jari-jari mungil Syr mencubit bagian pipinya yang masih mulus tanpa luka.

"Kamu ini sudah babak belur begini, malah sok keren!" gerutu Syr dengan pipi menggembung kesal. "Seharusnya kau protes atau marah, bukan malah berterima kasih!"

Shirou hanya bisa tersenyum canggung, sementara Ryuu menatap mereka berdua dalam diam

Sok keren, huh? Ryuu tersenyum tipis mendengar ucapan Syr barusan. Seandainya dia tahu betapa kerennya Shirou sebenarnya...

Pikirannya melayang ke beberapa menit yang lalu, saat mereka masih bertarung. Shirou, dengan begitu percaya diri, menutup matanya dan tetap mampu mengimbangi setiap serangannya. Itu bukan sekadar insting atau keberuntungan—itu adalah bukti keahlian yang luar biasa.

Ryuu masih bisa merasakan bagaimana setiap tebasannya berhasil dihindari atau ditangkis Shirou dengan akurat, seolah ia bisa merasakan arah serangan tanpa perlu melihatnya. Lalu ada juga keahliannya dalam magecraft...

Ryuu teringat bagaimana Shirou bisa menggunakan berbagai macam sihir dengan cepat dan efisien, bahkan tanpa mantra panjang seperti kebanyakan penyihir lainnya. Begitu juga dengan kekuatan tubuhnya yang membuatnya bisa bertarung sebanding dengan petarung fisik, hingga kemampuannya meniru teknik pedang orang lain—Shirou benar-benar adalah eksistensi yang unik.

Dan itu semua belum termasuk keahliannya dalam memanah. Ryuu pernah melihat Shirou menggunakan busur, dan ia tahu, tidak sembarang orang bisa mencapai tingkat keakuratan seperti itu. Shirou bukan hanya petarung berbakat, tapi juga memiliki disiplin serta keterampilan yang membuatnya terlihat seperti veteran yang sudah bertarung selama puluhan tahun.

Kalau dipikir-pikir... sebenarnya dia memang sangat keren, Ryuu mengakui dalam hati, meskipun ia tak akan pernah mengatakannya langsung di hadapan Shirou.

Namun lamunannya terputus ketika sebuah suara lembut memanggilnya.

"Ryuu..."

Ryuu tersentak keluar dari pikirannya. Ia mengangkat kepalanya dan melihat Syr menatapnya dengan ekspresi khawatir.

"Ah, Ya...?" Ryuu tergagap, segera melangkah mendekat.

Syr tidak mengatakan apa-apa untuk sesaat, hanya menatapnya dengan mata yang menyelidik. Ryuu sedikit gelisah, bertanya-tanya apakah Syr mulai curiga dengan sesuatu.

Namun, perhatian Syr berubah menuju Shirou yang kepalanya tetap terbaring di pahanya. Wajahnya yang biasanya penuh energi kini terlihat sedikit kelelahan, dengan bekas memar di sana-sini sebagai bukti betapa kerasnya tebasan pedang Ryuu tadi.

Syr menatap Ryuu kembali dengan tatapan sedikit mencela, sementara Shirou masih diam dengan ekspresi pasrah.

Ryuu mengambil napas, lalu melangkah lebih dekat. Bagaimanapun juga, ia harus menghadapi konsekuensi dari tindakannya.

Syr menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Meskipun Shirou tadi berterima kasih dan tidak menyalahkanmu, tetap saja, Ryuu, kamu harus bertanggung jawab atas ini."

Shirou yang masih bersandar di paha Syr, membuka mulutnya, berniat untuk membela Ryuu. Namun, sebelum satu kata pun keluar, Syr dengan cepat meletakkan jari telunjuknya di bibir Shirou, membungkamnya tanpa banyak basa-basi.

"Ssst." Syr menatapnya tajam, tetapi dengan senyum lembut di wajahnya. "Aku tahu kamu terlalu baik, Shirou. Tapi kali ini, biarkan Ryuu menebus kesalahannya, oke?"

Shirou terdiam, terpaksa menerima keputusan Syr meskipun dalam hatinya ia merasa Ryuu tidak perlu disalahkan sepenuhnya. Lagipula, ia sendiri yang sengaja mengendurkan pertahanannya.

Di sisi lain, Ryuu tidak membantah ucapan Syr. Ia hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa, lalu segera bergegas ke arah pohon tempat ia menyandarkan sisa potion tadi. Di dalamnya, masih ada seperempat cairan potion yang bisa digunakan untuk mengobati luka-luka Shirou.

Saat Ryuu berjalan pergi, Syr melirik Shirou dan tersenyum nakal.

"Kau harus menikmati ini, Shirou," ujarnya ringan, nada suaranya terdengar seperti sedang merencanakan sesuatu. "Jarang-jarang kau punya kesempatan seperti ini."

Shirou mengerutkan kening, bingung dengan maksud Syr. "Kesempatan apa?"

Syr hanya terkikik pelan tanpa menjawab, membuat Shirou semakin curiga. Jangan-jangan ini adalah bagian dari prank lain yang sedang ia rencanakan...

Shirou menelan ludah, firasatnya mengatakan bahwa ia akan mengalami sesuatu yang lebih merepotkan dalam beberapa saat ke depan.

Setelah beberapa saat, Ryuu kembali dengan langkah cepat, membawa sebotol potion yang tadi ia tinggalkan di dekat pohon. Wajahnya tetap datar seperti biasa, tetapi ada sedikit ketegangan dalam gerakannya.

Syr tersenyum puas melihat Ryuu kembali tepat waktu. "Baiklah, Shirou, sekarang duduk sebentar dan angkat tanganmu."

Shirou menatapnya dengan bingung. "Hah? Untuk apa?"

"Jangan banyak tanya. Lakukan saja," jawab Syr dengan nada ringan, tetapi ada sedikit otoritas di dalamnya.

Meskipun merasa ragu, Shirou akhirnya menurut. Dengan gerakan kaku, ia mengangkat kedua tangannya. Namun, sebelum ia sempat memahami apa yang sedang terjadi, tiba-tiba—

Srrrt!

Sesuatu terasa melonggar di punggungnya.

"H-Hah?!"

Dari belakangnya, Syr dengan gerakan lembut mulai membuka tunik krem yang Shirou kenakan, melepaskan ikatannya tanpa banyak kesulitan.

"A-ap-apa yang kau lakukan, Syr?!" Ryuu, yang baru saja kembali, langsung tersentak kaget melihat tindakan Syr.

Shirou sendiri tidak kalah panik. Wajahnya langsung memerah saat ia merasakan kain itu melonggar dari tubuhnya. "Tunggu! Kenapa tiba-tiba—"

"Tenang saja," kata Syr santai sambil dengan terampil melipat tunik itu dan meletakkannya di samping. "Ini bukan apa-apa."

Shirou masih ingin protes, tetapi sebelum sempat berkata apa-apa lagi, Syr sudah menaruh tangannya di bahunya, dengan lembut membimbing kepalanya kembali ke pahanya.

"Sekarang lihat," ucapnya sambil melirik Ryuu, yang masih berdiri canggung di tempatnya. Dengan gerakan halus, ia menunjuk dada Shirou. "Memar akibat latihan tadi cukup parah, terutama di bagian ini."

Mata Ryuu refleks mengikuti arah telunjuk Syr, dan ia langsung mengernyit saat melihat luka-luka di tubuh Shirou. Ada beberapa memar besar yang mulai membiru di sekitar dadanya, bahkan ada goresan di sisi perutnya yang terlihat cukup dalam.

Shirou sendiri ikut melirik ke bawah, dan baru sekarang ia benar-benar menyadari betapa parahnya tubuhnya setelah membiarkan Ryuu menghajarnya tanpa perlawanan.

Ryuu menggigit bibirnya, merasa bersalah melihat bekas pukulannya begitu jelas di tubuh Shirou. Ia sudah tahu bahwa Shirou sengaja menahan diri, tetapi melihat bukti nyatanya seperti ini tetap saja membuat dadanya sesak.

Syr di sisi lain, hanya tersenyum kecil. "Nah, sekarang kau lihat sendiri, Ryuu. Jadi, kau akan mengobatinya, bukan?"

Ryuu mengangguk pelan, tetapi genggaman tangannya di botol potion sedikit mengerat. Ia menarik napas dalam sebelum akhirnya berjongkok di sisi Shirou, bersiap untuk melakukan sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sejak awal.

Ryuu menelan ludah, jemarinya sedikit gemetar saat ia membuka tutup botol potion dengan gerakan hati-hati. Cairan berwarna biru berkilau itu bergetar di dalam wadah, mencerminkan cahaya siang yang mulai meredup. Tanpa banyak bicara, ia menuangkan sedikit potion ke tangannya sebelum mulai mengoleskannya pada luka-luka di tubuh Shirou yang kini terbuka lebar di bawah sinar matahari.

Syr yang masih membiarkan kepala Shirou berbaring di pangkuannya, mengamati kejadian itu dengan sedikit terkejut. Awalnya, ia mengira Ryuu akan menolak, atau setidaknya menunjukkan keraguan, mengingat betapa sensitifnya elf itu terhadap sentuhan fisik. Setahu Syr, Ryuu bahkan hampir tidak pernah membiarkan orang lain menyentuhnya, kecuali dirinya atau mendiang Alise.

Hmmm... Syr berpikir sejenak, tatapannya sedikit menyipit. Jangan-jangan Ryuu rela melakukan ini karena rasa bersalahnya pada Shirou?

Sementara itu, Shirou akhirnya sadar akan sesuatu. Jadi ini prank yang direncanakan Syr, ya... pikirnya sambil menghela napas dalam hati. Tadi dia sudah merasa ada yang aneh ketika Syr tersenyum terlalu puas saat meminta Ryuu untuk mengobatinya.

Ryuu yang masih berkonsentrasi mengoleskan potion, mulai merasakan sesuatu yang aneh. Setiap kali tangannya menyentuh kulit Shirou, ia bisa merasakan otot-ototnya yang keras dan terlatih. Tubuh Shirou jelas bukan milik seorang pemula yang baru saja mulai berlatih. Seketika, wajahnya sedikit memerah saat menyadari bahwa ini adalah pertama kalinya ia menyentuh tubuh laki-laki secara langsung.

Di sisi lain, Syr justru tersenyum lembut. Baginya, Shirou masih seperti anak kecil yang butuh dimanja. Ia menatap wajah Shirou yang penuh memar, lalu dengan gerakan halus, tangannya membelai rambut merah pemuda itu dengan penuh kelembutan.

"Tahan sebentar sakitnya ya, Shirou," ucap Syr dengan nada menenangkan, jari-jarinya terus bergerak lembut di antara helai rambut Shirou. "Sebentar lagi selesai."

Namun, alih-alih merasakan sakit, Shirou justru mengalami sesuatu yang jauh berbeda.

Kenapa aku malah merasa nyaman? pikirnya dengan sedikit frustrasi.

Di satu sisi, seorang gadis elf yang cantik sedang mengoleskan potion ke tubuhnya dengan sentuhan yang cukup lembut meskipun canggung. Di sisi lain, seorang dewi yang menyamar sebagai manusia biasa memanjakannya dengan belaian halus di rambutnya, seolah ia seorang anak kecil yang baru saja terjatuh dan sedang dihibur.

Sebenarnya, aku awalnya cuma ingin menyembunyikan kekuatanku dari Syr... tapi kenapa malah berakhir seperti ini?

Shirou hanya bisa menghela napas dalam hati, menerima nasibnya yang entah bagaimana berubah menjadi sesuatu yang jauh dari rencana awalnya.

Potion yang Ryuu gunakan telah habis. Shirou bisa merasakan sensasi hangat menyebar ke seluruh tubuhnya saat efek penyembuhan bekerja. Luka-lukanya mulai menutup, memarnya berangsur menghilang, dan rasa sakit yang menusuk pun perlahan mereda.

Syr yang masih membelai rambut Shirou dengan lembut, menatap botol potion yang kini kosong di tangan Ryuu. Dahinya berkerut, lalu ia menatap Ryuu dengan curiga. "Potion ini cuma terisi seperempat sejak awal, ya?" tanyanya, matanya menyipit penuh tuduhan.

Ryuu, yang masih berlutut di sebelah mereka, tetap diam. Namun, sebelum ia bisa menjawab, Syr sudah melanjutkan, "Jangan-jangan... potion ini kalian habiskan saat latihan tadi? Kalau begitu, sudah sering sekali Shirou terluka, kan?"

Shirou yang masih berbaring di paha Syr, hanya bisa nyengir mendengar tebakan yang setengah tepat itu. Tanpa sadar, matanya bertemu dengan Ryuu, dan dalam sekejap, mereka berdua saling memahami tanpa perlu berkata-kata. Ya, Syr benar—potion itu memang habis digunakan saat latihan. Tapi yang sebenarnya terjadi bukan seperti yang Syr bayangkan.

Bukan Shirou yang babak belur hingga harus menggunakan potion. Justru sebaliknya. Ryuu yang sebelumnya terkena hujan pedang tumpul dari Shirou, dan potion itulah yang membantunya tetap bertahan selama latihan.

Ryuu akhirnya menjawab dengan suara datar, "Ya, potion ini habis saat latihan tadi." Ia memilih tidak menjelaskan lebih lanjut, menyembunyikan fakta bahwa ia yang sebenarnya terluka. Rahasia kekuatan Shirou harus tetap terjaga.

Syr mendengus kecil sebelum berkata, "Kalau begitu, apa perlu aku belikan lagi? Lagipula, kalau latihan kalian sekeras ini, persediaan potion pasti cepat habis."

Ryuu menggeleng pelan. Saat itu juga, ia baru menyadari bahwa ada cara lain untuk menyembuhkan Shirou tanpa perlu repot membeli potion lagi. "Tidak perlu," jawabnya. "Aku bisa menggunakan sihir penyembuh."

Syr mengedipkan mata, lalu menyeringai jahil. "Oh? Jadi kau sebenarnya ingat bisa menyembuhkan, tapi tetap memilih membiarkan Shirou meringis kesakitan dulu?" godanya.

Wajah Ryuu langsung memerah. Ia membuka mulut untuk membantah, tetapi sebelum sempat berkata apa pun, Shirou justru menyela, "Hei, jangan terlalu keras padanya. Lagipula, kita semua tahu kalau Ryuu pasti punya alasan sendiri."

Syr hanya terkikik senang. "Wah, kau malah membela Ryuu lagi? Hmm, menarik..." katanya, tertawa kecil. Tawa itu mengguncang tubuhnya, membuat Shirou yang masih bersandar di pahanya ikut merasakan getaran lembut di bawah kepalanya.

Ryuu yang wajahnya masih bersemu merah akhirnya menghela napas dan menutup matanya sejenak untuk berkonsentrasi. Perlahan, tangannya terangkat, mengarah ke bahu dan wajah Shirou yang masih menunjukkan sisa memar dan bengkak.

Ia mulai merapal mantranya dengan suara lembut, penuh ketenangan.

"The song of a now distant forest. The nostalgic song of life. Please bring the mercy of healing to those that seek you..."

Kemudian, cahaya hijau lembut mulai menyelimuti tangannya, bersinar hangat di atas luka-luka Shirou.

"Noah Heal!"

Begitu mantra itu selesai diucapkan, energi penyembuhan segera mengalir ke tubuh Shirou, membawa rasa nyaman dan segar yang langsung menggantikan rasa sakit sebelumnya.