DISCLAIMER

Haikyuu! is belongs to Haruichi Furudate

THE RISE : Karasuno Female Volley Ball Club

©Longlive Author

Time out pertama di set pertama tim putri Karasuno dan tim putra Karasuno. Anak-anak menyeka dahi dan rambut mereka yang sudah basah. Tiba-tiba Miyama-san mendatangi mereka.

"Kalian sudah lelah?" Tanyanya. Anak-anak menggeleng kepala mereka. Entah apa yang mereka pikirkan, ini sudah malam namun kesempatan ini memang tidak boleh di lewatkan dengan sia-sia. Latihan keras mereka selama berbulan-bulan membuahkan stamina yang lebih bisa diandalkan dari sebelumnya.

"Aku ingin memberikan saran," Ujar Miyama-san. Anak-anak mendengarkan. "Di tahap ini blok kalian masih sedikit prematur, dan akan sulit menahan serangan mereka dengan blok. Solusinya adalah, terima serangannya. Apapun yang kalian lakukan, tetap jaga bolanya tetap hidup, dan kembalikan. Setelah itu aku yakin kalian akan menemukan celah untuk menyerang."

Mereka mengangguk. Sebelum peluit berbunyi, Mao menatap teman-temannya. Jika soal bertahan, itu tandanya dia akan menjadi poros pertahanan mereka. Kemudian ia melihat ke arah tim putra, dari awal permainan setelah ia menerima serangan-serangan dari tim putra ia mulai tahu bagaimana tipe pukulan mereka.

"Guys!" Panggil Mao, "kemari sebentar." Mao meminta teman-temannya untuk berkumpul.

"Ini parah, mereka akan menghabisi kita. Putaran dan formasi mereka sudah stabil. Tsukishima-san juga sudah keluar masuk lapangan seperti biasa." Ujar Mao.

"Err, itu tidak membantu Mao, aku tahu kita dalam masalah besar." Yuri terlihat berlapang dada, tapi Mao belum selesai.

"Untuk serangan sinkronasi. Kita terima saja, seperti kata Miyama-san tidak ada gunanya memblok mereka. Lihat kemana arah bola, dan jika bingung siapa yang mengambil bola, komunikasi! Jangan sampai bertabrakan!" Ujar Mao, anak-anak mengangguk.

"—dan satu lagi. Yuri, kau fokus pada Hinata-san. Antisipasi serangan cepatnya, dan yang lainnya, fokus padaspikeryang lain." Jelas Mao. Miyama-san yang mendengar itu cukup terkejut. Sepertinya Mao menyadari jika Yuri sejak tadi sudah bisa menyentuh bola dari serangan cepatnya Hinata, ia hanya belum bisa mengembalikannya, dan Mao ingin bertaruh pada kemampuan Yuri untuk mengembalikan serangan cepat itu. Mungkin strategi pertahanan mereka akan berhasil.

PRIIIIT!

Peluit berbunyi, waktutime-outsudah habis. Mereka kembali ke lapangan.

"Hei kalian belum lelah,princess-princessKarasuno?" tanya Tanaka, berusaha membalas provokasi tim putri di awal set tadi.

Yuri menatap Tanaka, lalu kemudian menoleh ke arah Akira.

"Apa maksudnya?" tanya Yuri, tidak mengerti apa yang Tanaka katakan.

"Tidak tahu." Jawab Akira, yang juga tidak mengerti.

Tanaka yang melihat itu kemudian berbalik kesal.

"Hmmmhh, sialaann, anak-anak baru itu. Mereka terlalu kuat untuk di provokasi." Alih-alih tim putri yang terprovokasi, justru Tanaka lah yang kena mental karena Yuri maupun Akira tidak menangkap ejekan darinya.

"Hehh, Tanaka, jangan seperti itu pada perempuan." Komentar Suga dari pinggir lapangan.

PRIIT!

Giliran Asahi melakukan Servis. Ia memejamkan matanya sekian detik, memfokuskan energi di tangannya untuk membuat servis yang bagus. Di awal permainan, libero tim putri itu, Mao berhasil mengembalikan servis darinya. Tidak akan ia biarkan anak itu menghina mantan Ace Karasuno untuk kedua kalinya.

Asahi membuka matanya. Namun jauh di ujung lapangan sana, ia bisa melihat Mao menatapnya langsung pada Asahi, seperti binatang buas menunggu mangsa. Mao menunggu servis darinya.

'Ayo kemari Asahi-san, kau tidak mau anak kecil ini mengembalikan servismu lagi kan?'Aura kuat dari Mao memancar hingga bulu roma Asahi merinding. Hanya dengan tatapannya saja, Mao sanggup menantang mantan Ace Karasuno itu.

Nishinoya yang berdiri di samping Asahi, juga bisa menangkap provokasi halus Mao. Ia tersenyum.

'Ekspresi yang bagus Mao!'

Tap...Tap...Tap...

BAM!

SebuahJump Serve!

Asahi ternyata mengambil provokasi Mao secara personal. Mengerikan sekali melihat Asahi-san yang sudah marah di lapangan. Tapi justru itulah yang Mao tunggu.

TAP!

Sebuahsplit step!Satu langkah pertama yang efektif membuat Mao lebih mudah untuk menerima servis mematikan dari Asahi.

BAM!

Mao mendapatkan bolanya, terasa begitu menyengat di kedua lengannya yang kecil. Tapi Mao berhasil mengembalikannya. Kini ada satu hal yang ingin ia coba, tapi semua ini tergantung jika sangsetterbisa melakukannyaatau tidak.

"AKIRA!" Teriak Mao. Akira menoleh terkejut. Mao jarang berbicara ataupun melakukan hal yang tidak perlu ketika bertanding untuk menghemat tenaga. Tapi kali ini ia memanggil namanya. Mao dengan sengaja memberikan bola dengan tinggi, lebih tinggi dari yang biasa Akira terima. Akira harus berlari memberi ancang-ancang untuk mendapatkan bolanya. Namun sesaat ketika ia melompat, Mao kembali berteriak.

"AKIRA KILL!"

Mata Akira melebar, menyadari bahwa yang diberikan Mao bukanlah bola untuk ia umpan pada spiker, tapi Mao memberikan Akira umpan untuk ia pukul langsung ke lapangan lawan. Maka yang tadinya Akira mengangkat kedua tangannya membuat posisi untuk memberikan umpan, berubah menjadi bersiap untuk melakukanspike.

BAM!

Sebuahcross-shottajam, melintang dari lapangan tim putri melewati net masuk ke lapangan tim putra. Bola dari Akira tanggung dan terlalu dekat dengan net hingga Tanaka tidak bisa menerima bolanya, alhasil bola itu meleset dan menabrak dada Tanaka.

Skor untuk tim putri.

"YARRRGGHH!" Tidak ada yang lebih histeris dari Akira. Ia tidak tahu jika ia melakukan gerakan seperti itu. Kode dari Mao membuatnya refleks merubah posisi mengumpan menjadi posisi menyerang.

"Mao kau jenius!" Akira mengehampiri Mao dan mencubit pipinya.

"Akh!" Mao kesakitan.

"Akira, itu keren sekali!" Yuri sendiri hampir tidak bisa berkata-kata melihat temannya itu.

"Iya kan, keren sekali kan?!" Akira heboh sendiri.

Kageyama melihat tim putri yang sedang bersorak-sorai sendiri karena satu poin yang mereka dapatkan. Momentum ada pada mereka.

"Kenapa Kageyama?" Tanya Hinata.

"Anak itu merubah posisinya dari seorangsettermenjadi seorangspiker.Bukanfeint, tapispike." Jawab Kageyama.Anak itu,pikir Kageyama, Akira bersikap seolah ia jauh lebih inferior darinya, dan mengatakan kalau dia mengaguminya. Tapi kenyataanya Akira jauh lebih mahir daripada yang Kageyama kira. Saat melawan Inarizaki di turnamen musim semi kemarin, Kageyama melihat bagaimana Miya Atsumu menipu mereka, dengan mengubah posturnya dari posisispikermenjadisetter. Hari ini Akira melakukan kebalikannya, darisettermenjadispiker.

'Huh, gagak licik itu!'

"Kalau kau pikir itu murni ide Akira kau salah." Tiba-tiba Nishinoya ikut nimbrung. Hinata dan Kageyama tidak mengerti.

"Mao-mao menerima servis Asahi-san dan memberikannya pada Akira lebih tinggi dari biasanya, dan memberikan kode agar Akira langsung menyerang." Ia memperhatikan adik tingkatnya itu dengan bangga. "Seorang libero yang memberikan peluang lebih besar untuk mencetak poin, bukankah itu kedengaran nya menarik?" Puji Nishinoya.

Kedua tim Karasuno itu tidak menyadari jika semua tim lain yang berada disana tidak keluar dari gelanggang untuk menyaksikan mereka. Akirapun tidak menyadari jika ada riuh rendah tepuk tangan dari tim lain, saat ia melakukan serangan terakhir.

PRIIT!

Aoki memberikan servisnya. Bola di terima oleh Daichi dan di oper pada Kageyama.

SREEETTTT!

Hinata berlari, dia akan melancarkan serangan cepat. Namun seperti yang di arahkan Mao, Yuri langsung berlari mengikuti kemana Hinata berlari. Hinata terkejut karena hanya Yuri seorang yang berlari mengejarnya. Kageyama yang menyadari itu memberikan bola pada Tanaka yang ada sudah siap di sisi kiri.

"Tanaka-san!"

Kageyama mengumpankan bolanya. Akira dan juga Misaki sudah bersiap di depan menghadang pukulan lurus dari Tanaka. Tapi Akira yang berada di tengah dan lebih pendek dari Misaki membuat bloknya terlalu rendah. Semuanya begitu cepat, hanya bisa berpikir sepersekian detik saja untuk melakukan gerakan selanjutnya. Mao menyadari jika blok Akira rendah, dan menjadikannya hanya satu setengah blok. Meski begitu, Tanaka-san akan tetap kesulitan melakukan pukulan lurus. Kalau begitu, hanya ada satu kemungkinan,cross-shot!

"PUNYA KU!"

BAM!

Sebuahcross-shottajam dari Tanaka berhasil di selamatkan oleh Mao yang bergerak cepat melakukandiving receive. Selanjutnya ia memberikan bola pada Akira.

"Misaki, Rocket!" Ujar Akira sebelum ia berlari mengejar bola. Keduanya melompat dalam waktu yang hampir bersamaan, memperpendek jarak bola dan Akira berusaha menyesuaikan bola agar Misaki bisa melakukanspikelurus dengan nyaman.

"OKE!" Teriak Misaki percaya diri. Ia mengerahkan seluruh tenaga dari otot bisep nya.

BAM!

DUAGH!

"Masih terlalu cepat tiga tahun untuk menembus pertahanan tim putra!" Teriak Nishinoya yang berhasil mengembalikanspikekeras dari Misaki. Libero tim putra Karasuno itu memang pantas di sebut'Guardian Diety Karasuno'. Selain gerakannya yang gesit, cara dia menerima bola dan mengembalikannya padasetterjuga patut di acungi jempol. Bola kembali pada Kageyama dengan mudah.

Mao mendecih kesal. Ia kagum sekaligus kesal melihat Nishinoya yang bermain begitu prima bahkan ketika sudah malam seperti ini. Tidak salah ia menjadikan Nishinoya sebagai panutan nya.

Kageyama menyeringai menyambut bola dari Nishinoya. Kini para penyerang tim putra bergerak bersamaan. Lagi-lagi serangan sinkronasi.

"Sial!" Umpat Mao. Ia tahu mempertahankan bola kali ini tidak akan mudah. Tapi tetap saja, para tim putri begitu terkesima melihat kemampuan tim putra. Memang mereka layak untuk posisi delapan besar tingkat nasional.

BAM!

Kageyama tahu Yuri menjaga Hinata dan bisa menyentuh serangan cepatnya. Maka ia memberikan bolanya pada Asahi. Mao meringis, membayangkan spike darinya akan begitu menyakitkan.

Dug!

Tapi alih-alihspike,Asahi melakukanfeint. Bola hampir terjatuh di depan net. Yuri yang paling dekat bola tidak akan sempat jika mengambilnya dengan tangan. Maka dia menjulurkan kakinya menendang bola yang hampir jatuh ke lantai. Hanya itu yang terpikirkan olehnya.

"Sorry! Cover!"Teriak Yuri. Jantungnya berdebar-debar, tidak tahu ke arah mana ia menendang bola.

"Alright!" Teriak Mao. Ketika Yuri berbalik ia melihat Mao sudah berlari ke luar lapangan dan hampir menabrak dinding dan juga tim lain yang sedang menonton mereka. Mao harus segera mendapatkan bolanya.

DUAGH!

"RINKOU-SAN!LAST!" Mao berteriak sebelum tubuhnya menabrak dinding.

Rinkou berlari dari kiri dan menembakanBack Attackdari tengah lapangan. Bola hampir jatuh di depan net. Tapi Kageyama berhasil menerimanya meskipun tanggung. Bola melayang tinggi, masih tak jauh dari net.

BAM!

Yuri muncul, melompat tinggi di hadapan Kageyama dan menembakkan bola lurus kebawah. Kembali ke lapangan tim putra.

"Whoaaaa..."teredengar lagi riuh rendah menggema di seluruh gelanggang.

Akhirnyarallypanjang itu berakhir.

Yuri memberikan serangan final, sebagai balasan tembakan langsung Kageyama sebelumtime-outtadi. Utangnya di bayar lunas.

Skor untuk tim putri Karasuno.

"Sialaaannn, mereka bagus juga..." umpat Tanaka

"Oh, mereka boleh juga." Komentar Daichi setelah melewatirallypanjang untuk pertama kalinya melawan tim putri.

Sedangkan para tim putri berbalik mencari Mao yang tadi menabrak dinding.

"Mao kau tidak apa-apa?" Tanya Aoki.

"Yeah." Jawab Mao, membenarkan rambutnya yang berantakan karena ia baru saja terguling setelah menabrak dinding.

"Ugh, syukurlah..." Rinkou bernapas lega. Mao menatap rekan satu timnya.

"Usaha yang bagus melawan tim peringkat delapan nasional." Komentar Mao. Mereka memandang satu sama lain.

"Hahaha..." Kemudian mereka tertawa. Mengingat mereka begitu susah payah mempertahankan bola hidup. Mao bisa melihat kalau teman-temannya itu bersungguh-sungguh. Miyama-san tersenyum melihat mereka di pinggir lapangan.

PRIIT!

Tiba-tiba peluit berbunyi. Anak-anak berbalik menoleh. Seseorang mengangkat papan nomor di pinggir lapangan putra.

"Oke, kalian sepertinya terlalu meremehkan tim putri!" Gumam Ukai-san di ujung lapangan. Sudah cukup bermain-mainnya. Hinata di panggil masuk kedalam lapangan.

"Bukan saatnya kalah dari tim putri." Ujar Ukai-san.

Pemuda itu masuk kelapangan bergantian Hinata dengan senyum yang lebar.Pinch serverpertama mereka.

"Sugawara-san..."

...

[Author's Note]

Astaga pernah ga sih nge-hypesendiri pas lagi nulis? Deg degan sendiri nulisnya.

Hmm, aku pribadi mulai suka hubungan tim putra sama tim putri ini. Gimana ya,they're just so cute.Tau ga sih, antara rival sama kagum.

A bit hintsoal kemampuan tim putri. Kayak di manga bilang, kalau tim putra Karasuno, itu punya pertahanan yang ekstrem pas ada Tsukshima, dan serangan yang ekstrem pas ada Hinata. Alasan di awal permainan Tsukishima engga begitu muncul, karena memang tim putri bukan penyerang unggul. Bukan tim yang selalu mengandalkan spike, karena mereka tau spike mereka masih jauh di bawah kemampuan tim putra. Itu kenapa tim putri lebih banyak pakai serangan kejutan. Lalu dari segi kemampuan, tim putri juga malah mungkin lebih mirip tim Inarizaki atau Seijoh yang para pemainnya imbang. Engga ekstrem kayak saudara-saudaranya di tim putra. Yah kita liat aja gimana perkembangannya kedepan.

NEXT CHAPTER : KARASUNO'S BIG MOM