DISCLAIMER

Haikyuu! is belongs to Haruichi Furudate

THE RISE : Karasuno Female Volley Ball Club

©Longlive Author

"Hey hey...kalian terlalu meremehkan tim putri tahu! Mereka itu hebat!"

Smack!

"Ugh!"

Suga yang baru masuk ke lapangan langsung meninju Tanaka. Kemudian ia menghampiri Asahi dan juga Daichi. Masing-masing memberikan tos satu sama lain. Ini dia, tiga gagak veteran karasuno. Rinkou dengar dari Michimiya senpai, mereka bertiga lah yang membuat tim putra Karasuno seperti sekarang. Daichi yang memasangkan Kageyama dan juga Hinata hingga mereka memiki serangan cepat yang di takuti di panggung Nasional. Lalu Suga-san adalah orang yang membimbing Hinata dan juga Kageyama saat mereka di pasangkan pertama kali hingga mereka melakukan serangan cepat.

"Ini perasaanku atau kalian juga merasa tidak enak ketika Suga-san masuk?" Tanya Yuri.

"Aku tidak tahu kau mempunyai insting binatang dari mana Yuri, tapi aku biasa saja." Jawab Akira.

Suga yang mendengar itu berbalik menatap mereka. Tidak seperti Tanaka yang tengil. Suga-san mempunyai aura menyenangkan yang sangat kuat. Mungkin terdengar aneh saat Yuri mengatakan kalau ia merasa tak nyaman.

"Tenang saja semuanya, aku hanyapinch server."Ujarnya pada Yuri. Namun pandangannya berubah, "tapi aku tidak akan bersikap lembut pada kalian." Sambil tersenyum.

Suga memiliki wajah yang ramah. Melihatnya mengatakan hal itu sambil tersenyum membuat Akira dan Yuri tidak bisa berkata-kata.

PRIIT...

Suga bersiap untuk melakukan servis.

BAM!

"HUH?!"

Misaki tersadar, bola mengarah padanya. Tepat di depannya. Misaki tidak ada pilihan selain menerima bola yang masuk dekat dengan net itu. Misaki memberikan bola pada Akira dengan tanggung. Sangsettermendecakkan lidahnya. Suga-san menyasar orang yang paling buruk dalam melakukanreceivedi tim putri, ia pastilah sudah memperhatikan permainan mereka sejak tadi. Selain itu yang membuat Akira sebal adalah, dengan Misaki yang melakukan sentuhan pertama itu artinya penyerangnya berkurang. Hanya ada Yuri di lini depan.

BAM!

Back attackdi lancarkan oleh Aoki, dan diterima Nishinoya. Sang Libero tim putra memberikan bola pada Suga.

Sreeettt!

Ia bertukar posisi dengan Kageyama, kini Kageyama berada di dalam posisi penyerang.

'Sial, dua setter...'pikir Akira. Mereka lupa kalau Suga juga mantansetterutama tim putra Karasuno.

DUG!

Sebuah serangan sinkronasi! Kageyama yang ada di posisi penyerang jelas akan merugikan mereka. Suga memberikan umpan.

'Siapa...siapa..kepada siapa bolanya diberikan?'Mao dengan cepat melihat bola dan siapa kira-kira yang akan memukul bola.

Kageyama atau Asahi? Kedua nya melompat dengan tinggi secara bersamaan.

Kageyama!

"YURI, KAGEYAMA-SAN!" Teriak Mao. Yuri langsung melompat tepat di depan Kageyama. Tidak ada waktu untuk mengubah arah umpan.

BAM!

"One touch!Ugh!" Yuri bisa merasakan tangannya begitu perih hanya dengan menyentuh spike dari Kageyama.

'Oh tidak bolanya melenceng.'Mao berlari berusaha menyelamatkan bola hingga terguling.

DUG!

Bola berhasil di selamatkan.

"MISAKI!LAST!"Teriak Mao.

Umpan tanggung dari Mao, Misaki berusaha tetap memukulnya. Namun dua blok tinggi dari Asahi dan Daichi sudah menunggu Misaki. Ia terlambat untuk mengatur kekuatan pukulan nya.

BAM!

BAM!

Spike dari Misaki menabrak blok dari Asahi dan Daichi lalu terpental jatuh kembali ke lapangan tim putri.

Skor untuk tim putra.

"Sudah ku bilang, kan..." Gumam Yuri pada Akira, melihat tim putra bersorak. Keduanya hanya membuang napas lelah, seraya terengah-engah. Mereka mulai kelelahan.

Kageyama menyeringai pada Akira, seakan-akan menyombongkan senpainya. Ia terlihat puas melihat Akira kesal. Sejak tadi tim putri terus mengecoh mereka dengan serangan-serangan kejutan.

"Hentikan seringai bodohmu itu Kageyama! Kau tidak boleh arogan, ini latih tanding tahu, mereka adik tingkat mu juga!" Suga memukul bahu Kageyama. Kandidat pemain timnas muda itu hanya mengangguk kikuk di hadapan senpai nya.

"—dan kalian," Suga menoleh pada tim putri di balik net, "usaha yang bagus untuk menyelamatkan bola." Lagi-lagi ia tersenyum.

"Hm?" Yuri tidak tahu itu pujian atau sarkas saja.

PRIIT!

Permainan dilanjutkan, Suga kembali melakukan servis. Setelah mengerjai Misaki, kini ia mengarahkan bola pada Yuri, membuatnya tidak bisa kembali menyentuh bola.Rallykembali terjadi dan skor lagi-lagi di menangkan tim putra.

Yuri tidak mengerti apa yang terjadi tapi, sejak Suga-san masuk permainan mereka terasa lebih sulit dari sebelumnya, kemudian ia menatap Suga. Penampilannya biasa saja, dan tidak mencolok seperti Kageyama, tapi ia membuat ritme permainan mereka tidak stabil. Tidak ia sangka, jika banyak sekali tipe pemain voli. Suga-san adalah salah satunya. Di balik wajah ramahdan permainannya yang tenang, insting Yuri berkata sebaliknya. Gerakan Suga-san sangat terukur dan penuh pertimbangan. Memberikan peluang terbaik agar tim putra mendapatkan skor.

"Hei, Suga, lihat anak itu seperti mau menangis." Komentar Daichi yang melihat Yuri terlihat bingung.

"Iya, kau kasar sekali Suga-san." Sambung Tanaka, ia sebenarnya sedikit puas karena ketika Suga masuk, formasi tim putri menjadi berantakan.

"Kau terlalu banyak bermain-main Tanaka." Balas Suga, ia memalingkan wajahnya menatap para tim putri yang terlihat fustasi. Hal itu mengingatkan Suga pada tim mereka sendiri. Suga mengerti betapa frustasinya ketika menghadapi tim yang bagus. Bukannya sombong, tapi tim putra lebih berpengalaman dari pada tim putri, dan rasa frustasi itu akan selalu ada. Saat mereka bertemu dengan pemain-pemain hebat, hanya dengan kehadirannya bisa membalikkan keadaan. Seperti saat mereka melawan Ushijima, atau Oikawa, atau saat Lev bergabung dengan Nekoma pertama kali, atau saat Kita Shinsuke dari Inarizaki menjadi pemain pengganti dan mengubah ritme permainan.

"Jika mereka frustasi—" ujar Suga, Daichi dan Asahi menoleh padanya. "—jika mereka frustasi, itu bagus. Tandanya mereka punya keinginan untuk menang." Ya, memang harus begitu, mereka harus frustasi. Suga tahu rasanya, entah berapa kali Suga mengalami momen-momen frustasinya sendiri ketika berkarir di Voli selama tiga tahun bermain. Merasa frustasi karena merasa ada yang lebih hebat dari mereka, tidak terhindarkan di dalam voli. Namun itu akan membawa seorang pemain mengasah diri mereka menjadi jauh lebih hebat.

SMACK!

"Akh!"

"Hei, ada apa dengan kata-kata bijak itu? Kau sudah seperti guru saja, kau baru lulus SMA, ingat." Kata Daichi memukul punggung Suga.

"Memangnya tidak boleh? Lagipula aku memang akan jadi guru tahu." Bentak Suga sebal.

"Suga, kau yakin tidak akan menakuti anak-anak jika jadi guru nanti?" Ceplos Asahi, yang langsung di balas dengan delikan dari mantan wakil kaptennya itu.

"Diam kau janggut!"

Permainan akan kembali di mulai, masing-masing tim kembali ke formasi mereka.

"Yuri, kau tidak apa-apa?" Tanya Akira. Ia melihat wajah temannya itu sudah masam dan cemberut. Anak itu benar-benar tidak bisa menyembunyikan ekspresinya ketika ia sudah lelah. Yuri mengangguk, sesaat sebelum peluit berbunyi.

PRIIT!

Suga kembali memberikan servis. Mao menatapnya tajam, ia tahu jika Suga-san akan memberikan bola sulit lagi. Mao harus lebih fokus agar bisa menerima bola dan mengembalikannya pada Akira dengan baik.

BAM!

"Aoki-san punyaku!"

"Ambil Mao!" Aoki mundur dan Mao maju untuk memberikan bola. Lagi-lagi Suga mengarahkan servisnya di tempat yang sulit, antara Mao dan Aoki. Tapi kini Mao mengambilnya dan memberikanya pada Akira.

"Misaki!" Sekali lagi, ia mempercayakan bola pada Misaki. Gadis berambut hitam itu menyambut bola dengan fokus, bersiap untuk menembakanspiketerbaiknya di sisa tenaganya

"TIDAK HARI INI!"

Misaki terkejut, karena Tanaka dan Asahi sudah berada didepan nya untuk membloknya. Bolanya sedikit tanggung. Jika ia melakukanspikekeras, maka bolanya hanya akan terpental ke bawah, dan jika ia melakukanfeint, tangannya tidak akan sampai karenatimingblok Asahi dan Tanaka bagus, mereka membangun blok yang tinggi.Apa yang harus ia lakukan?Misaki berpikir. Jika Aoki-san di belakangnya bisa mendapatkan bola, bola akan tetap hidup. Maka Misaki pun dengan sengaja memantulkan bola tepat di telapak tangan Tanaka.

"Aoki-san!" Teriak Misaki.

"Aku dapat!" Aoki mendapatkan bola itu meskipun terguling dan hampil terinjak Misaki yang baru mendarat.

"Rebound?!"Tanaka memekik kaget? Ia tidak tahu jika anak kelas satu tim putri sudah menguasairebound, belum lagi bola di pantulkan tepat di tangannya.

"Oke!" Akira berteriak mengejar bola, dan hendak mengumpankannya. Namun sebelum ia melompat ia bertemu mata dengan Yuri. Ekspresi anak itu begitu sangar seakan memaksa Akira untuk memberikan bola padanya. Faktanya Akira tahu, pada tahap ini Yuri sudah mulai kehabisan tenaganya. Perasaan ingin segera menyelesaikan permainan. Itu terpampang jelas di wajah blasteran Rusia itu.

'Oke Yuri, apa yang akan lakukan pada bolanya, itu terserah padamu.'Ujar Akira dalam hati, ia mengumpan bola pada Yuri lebih tinggi dari biasanya. Seperti Mao yang bertaruh pada Yuri untuk mengatasi serangan cepat Hinata. Akira pun akan bertaruh pada Yuri dengan bolanya, mungkin ia akan melakukan tipuan lain, siapa tahu kali ini berhasil, jika ia terlalu lelah, maka lompatan nya tidak akan sampai.

Tapi Yuri tidak langsung melompat, dia berlari mengejar bola sedikit memutar mengambil ancang-ancang, dan—

BAM!

BUAGH!

"Hah?!"Tanaka menjerit. Yuri terguling. Beberapa yang lainnya terkejut melihat gerakan barusan. Entah itu kebetulan atau bukan, tapi Yuri baru saja melakukancross-shottajam sangat tipis dari net. Tidak bisa di kembalikan oleh Tanaka maupun Asahi. Tidak hanya itu,spikenya keras dan lompatannya tinggi.

Tim putri tahu jika Yuri bisa melompat lebih tinggi dan memukul lebih keras meskipun ia jarang melakukannya. Namun tim putra belum pernah melihatspikekeras Yuri. Selama pertandingan ini Yuri lebih sering melakukan tipuan danspikebiasa. Itu kenapa para tim putra terlihat terkejut.

Tap...tap...tap...

Yuri yang masih terduduk di lantai mencoba mengatur napasnya mendengar sebuah langkah kaki mendekatinya. Sepasang kaki pucat berdiri di depannya. Yuri menegadah. Di balik net, Suga-san berdiri dan mengulurkan tangannya.

"Spikeyang bagus!" Puji Suga sungguh-sungguh. Yuri sejenak menatapnya tanpa ekspersi. Beberapa saat yang lalu ia merasa frustasi dengan kehadiran Suga di lapangan. Pemuda berambut keperakan itu sedikit gugup karena Yuri tidak membalas senyuman nya dan juga mengambil uluran tangannya. Wajah Rusia nya terlihat lebih galak dilihat dari dekat. Namun kemudian Yuri tersenyum.

"Terima kasih, Suga-san." Yuri meraih tangan Suga, senpainya itu membantu Yuri berdiri.

"Woah apa-apaan tinggi ini, kau terlihat lebih tinggi dari dekat." Komentar Suga. Yuri tidak tahu itu pujian atau ejekan. Memang kenyataan Yuri lebih tinggi empat senti dari Suga

"Ermm,terima kasih?" Balas Yuri ragu.

"Yeah, yeah, ku akui kau bisa melompat dengan baik dan juga itucross-shotyang bagus. Kau harus menggunakannya lebih sering, kau tahu." Ujar Suga sambil berlalu keluar lapangan. Tugasnya sebagaipinch serversudah selesai, karena kali ini tim putri yang mendapatkan poin.

Yuri dan Akira saling memandang, tidak tahu apa yang harus mereka rasakan tentang Suga-san.

...

[Author's Note]

Judulnya engga jadi Karasuno's Mom, setelah di pikir-pikir Suga rasanya terlalu kompleks untuk di juluki mamak-mamak Karasuno. Dia lebih chaotic aja gitu meskipun anak-anak nurut sama dia.