DISCLAIMER

Haikyuu! is belongs to Haruichi Furudate

THE RISE : Karasuno Female Volley Ball Club

©Longlive Author

Hinata dan Kageyama baru saja kembali dari kamar mandi. Mereka berdua berlari di koridor, berlomba siapa yang paling cepat sampai ke ruang kelas.

"Aku pertama! Yeay!" Jerit Hinata.

"Jangan berlari di lorong!" Teriak Daichi.
Malam ini para alumni yang datang ke kamp pelatihan memutuskan untuk menginap, maka disinilah Daichi, Suga, dan juga Asahi bergabung dengan adik-adik tingkat mereka.

"Kalian kapan dewasanya kalau seperti itu terus?" Tanya Suga.

Ia baru saja selesai membereskan futon. Beruntung Fukurodani mempunyai futon tambahan jadi mereka tidak akan tidur tanpa alas malam ini.

"Haah, sudah lama aku tidak berlatih, badanku langsung pegal-pegal." Kata Asahi. Ia meregangkan badannya.

"Kau mau salonpas Asahi-san?" Nishinoya menawarkan sebungkus koyo pada Asahi.

"Ah Terima kasih." Asahi mengambilnya.

"Bukannya kau tadi kesal sekali ketika libero tim putri bisa mengembalikan servismu? Siapa namanya tadi?" Kata Suga.

"Mao-mao!" Jawab Nishinoya.

" Mao! Noya-san, bukan Mao-Mao." Timpal Tanaka, tapi Nishinoya tidak menggubris nya.

"Yah itu salahku sendiri sih, jujur saja aku sedikit meremehkan mereka. Aku pikir latih tanding lawan tim putri Karasuno tidak akan seru, jadi aku sedikit kecewa. Tapi ternyata aku salah. Mereka boleh juga." Jelas Asahi, sambil menempelkan koyo di lengannya.

"Mereka benar-benar mengejutkan. Mereka berkembang pesat sekali dari terakhir kali aku melihat mereka bermain." Daichi ikut nimbrung sambil membereskan pakaiannya.

"Sebenarnya itu tidak aneh, karena mereka berlatih keras sekali selama tiga bulan kebelakang." Kata Hinata, rambutnya masih basah. Beberapa tetesan air jatuh ke bahunya.

Mereka memang tidak tahu banyak tentang tim putri Karasuno yang sekarang, selain info dari anak-anak tadi.

"Muriyama-san, pelatih tim putri sebelumnya, pensiun tahun ini. Mereka meminta Ukai-san untuk membimbing mereka untuk sementara. Selama sebulan mereka lebih sering berlatih sendiri. Mereka latihan pagi dan sore, setiap hari, lari mengelilingi bukit setiap hari, juga latihan voli meskipun lapangan sedang dipakai." Jelas Hinata.

Asahi, Suga, dan Daichi mendengarkan. Pantas saja, rutin mereka juga sudah berubah sejak terakhir kali mereka melihat tim putri.

"Sejak Takeda Sensei membawa Miyama-san. Mereka latihan lebih keras, karena Miyama-san adalah mantan kandidat timnas U-19. Dia menerapkan semua hasil latihannya di timnas ke tim putri. Aku dengar, mereka melakukan latih tanding sebelum datang ke kamp pelatihan." Sambungnya.

"Ho, waktu aku bertemu dengan mereka. Saat berpapasan dengan Ushiwaka, mereka bilang mereka baru pulang latih tanding. Tapi mereka terlihat babak belur, karena Yuri kena head shot hingga hidungnya mimisan." Kata Daichi.

"Hahaha," tiba-tiba Nishinoya tertawa, mereka menoleh.

"Aku dengar dari Mao-Mao, mereka sebelumnya latih tanding lawan mahasiswa, teman-temannya Miyama-san dari komunitas pertukaran pelajar Thailand." Kata Nishinoya.

"Hah? Melawan mahasiswa? Mereka?" Suga terkejut.

"Pantas saja mereka terlihat babak belur waktu itu." Kata Daichi.

"Yah katanya mereka di bantai habis." Kata Nishinoya.

Lalu tak lama kemudian mereka pergi ke kantin untuk makan malam. Tsukishima, Yamaguchi, dan anak kelas satu yang lain sudah pergi duluan. Sebenarnya mereka cukup merepotkan. Sejak para alumni, datang para kelas satu tidak henti-hentinya mengajak mereka berbicara dan menanyakan berbagai hal. Di banding dengan angkatan Kageyama dan kawan-kawan. Anak-anak kelas satu sekarang lebih ekspresif dan juga ekstrovert. Rasa seperti Hinata di kali lima orang. Para alumni memisahkan diri untuk sejenak agar mereka bisa bernapas.

"Kalian baru makan? Sawamura-kun?" Sebuah suara baritone yang familiar terdengar dari belakang mereka.

Kuroo dan tim Nekoma yang lain juga sepertinya hendak pergi ke kantin untuk makan malam.

" Oh Kuroo, yeah kami baru mau makan." Jawab Daichi.

Kenma mengintip dari balik punggung Kuroo sambil memainkan ponselnya.

"Ah, tentu saja, kalian hampir kalah dari tim putri tadi, bukan begitu, Suga-chan?" Kuroo menoleh pada Suga.

"Siapa yang kau panggil Suga-chan?" Tukas Suga galak.

"Eits, santai..santai... Suga-san." Kuroo mengangkat kedua tangannya.

"Coba lawan mereka kalau kau penasaran." Timpal Daichi.

Mereka kembali berjalan beriringan menuju kantin. Ketika sampai, kantin sudah sedikit lebih lengang. Tim putra Fukurodani terlihat baru mengambil makanan. Tsukishima, Yamaguchi dan beberapa anak kelas satu yang lain ada di salah satu meja. Hanya ada dua meja yang penuh. Sepertinya tim putri Karasuno, Nekoma, dan Fukorodani menyatukan meja mereka saat makan malam tadi. Piring mereka sudah hampir habis dan mereka sepertinya terlibat pembicaraan seru ketika Daichi dan yang lainnya sampai.

"...hmm... Di Jepang sepertinya lebih kecil daripada di Rusia." Ujar Yuri sambil mengemut es loli yang di belikan Akira divending machine.Akira menjanjikan untuk membelikan es loli saat latih tanding tadi.

"Ku pikir lebih baik yang kecil dari pada yang besar." Kata Yuichi, sang kapten tim putri Nekoma.

Tim putra yang baru datang, tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi mendengar dua kalimat saja sudah terdengarabsurd.

"Tapi Yuichi-san, lebih besar lebih enak. Benar, kan Akira?" Kata Yuri. Akira mengangguk. Sepertinya mereka menjadi lebih bersemangat setelah mengisi perut mereka. Berbeda dengan tadi, mereka terlihat seperti mau pingsan.

"Itu tergantung preferensi Yuri." Balas Yuichi. Ia menggigit es krim mochi-nya sebagai makanan penutup.

"Tapi di Rusia lebih besar, dan lebih panjang. Banyak macamnya, aku pernah menemukan yang sebesar ini," Yuri membuat jarak dengan tangannya sekitar dua puluh senti, "dan aku hampir kewalahan, tapi rasanya enak sekali." Wajah Yuri membayangkan 'sesuatu' yang enak dan besar itu.

"Benarkah? Ugh aku iri sekali." Potong Akira.

"Itu karena orang Rusia besar-besar. Orang Jepang kan lebih kecil dari orang Rusia." Akane, kapten tim putri Fukurodani ikut nimbrung.

Para tim putra yang baru datang terlihat canggung sambil berbaris mengambil makanan.

"Ermh, kenapa ya, rasanya aku di serang secara personal disini?" Tanaka mengambil sayur dengan gugup ke piring nya.

"Entah kenapa aku juga merasa seperti itu, Ryu." Balas Nishinoya yang sama-sama gugup.

Asahi pun sudah mulai salah tingkah.
"Oy..oy..apa yang mereka bicarakan, sih?" Suga mungkin punya satu pemikiran, tapi ia ingin menyangkal apa yang ia pikirkan.

"Jangan dengarkan Suga! Mungkin itu obrolan perempuan." Daichi juga mengambil daging dengan canggung. Wajahnya merona.

"Apa maksudmu pembicaraan perempuan, Sawamura-kun?" Bisik Kuroo. Kini ia juga punya satu pemikiran tentang apa yang para gadis bicarakan. Tapi yang benar saja? Mereka membicarakan hal 'itu', disini?

"Aku tetap pada pendirian ku, Rusia lebih baik. Lebih besar lebih baik." Ujar Yuro tegas.

Mendengar itu, Nishinoya dan Tanaka membatu, mereka seperti di tampar tepat di wajah.

"Memangnya kau sudah coba banyak Yuri?" Tanya Yuichi.

"Lumayan. Akira banyak mengenalkannya padaku." Jawab Yuri mengangguk, Akira juga ikut mengangguk mengiyakan.

"Yuri itu maniak, dia suka sekali." Balas Akira.

Kuroo mendekati Daichi, dan berbisik.

"Wah, Sawamura-kun, aku tidak tahu kalau para gadis Karasuno memiliki standar yang tinggi." Dan Kuroo langsung di sikut oleh Daichi.

Sementara di belakang mereka Kageyama dan Hinata benar-benar tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

"Dengan Rusia, menurut mu apa bedanya selain ukuran?" tanya Akane, santai.

" Hm.. Apa ya? Jepang lebih aneh-aneh rasa-"

"Oke, gadis-gadis," Kuroo sudah tidak tahan, ia berbalik dan menghadap meja para tim putri sambil memegangi piringnya yang masih setengah penuh. Para gadis menoleh, tidak mengerti kenapa Kuroo memanggil mereka.

"sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Apa kalian tidak lihat banyak laki-laki disini, apa kalian tidak peduli dengan perasaan kami?"

Mereka menatap Kuroo tidak mengerti. Daichi ikut berbalik menghadap para gadis.

"Itu benar, Yuri, Akira, kalian tidak boleh membicarakan hal seperti 'itu' si tempat umum seperti ini." Wajah Daichi merona, entah karena apa.

Oh tidak! Akira dan Yuri terkejut, namanya di panggil lagi. Mereka berdua tidak mengerti. Apa mereka membuat kesalahan lagi sampai-sampai Daichi-san marah pada mereka.

Di ujung meja sana Tsukishima dan Yamaguchi berusaha menahan tawa mereka, tahu kemana arah kesalahan pahaman ini berujung.

"Membicarakan apa, Kuroo-san?" Yuichi yang terlibat dengan pembicaraan ini pun tidak mengerti kenapa Kuroo-san berkata seperti itu.

"Pembicaraan 'ini'! Apa kalian tidak lihat dua orang itu hampir menangis." Kuroo menunjuk Tanaka dan Nishinoya yang menciut di ujung konter makanan.

Mereka masih tidak mengerti. Akaashi yang duduk di samping Bokuto, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sama seperti Tsukishima dan Yamaguchi, ia juga tahu kemana kesalah pahaman ini akan mengarah.

"Kau kenapa Akaashi?" Tanya Bokuto, mengunyah daging ayamnya.

"Tidak apa-apa Bokuto-san." Beruntung pemikiran Bokuto jauh lebih polos dari pada penampilannya. Ia tidak memperhatikan apa yang sedang terjadi di meja sebelah.

"Maafkan, Kuroo-san, Daichi-san," Kata Yuri tiba-tiba.

"Aku tidak tahu kalau ukuran es loli di Jepang merupakan hal yang sensitif." Ujar Yuri, wajahnya bersungguh-sungguh meminta maaf. Ia orang baru di Jepang, ia tidak tahu kalau hal seperti itu bisa menyinggung orang Jepang asli.

"Hah?" Ujar Kuroo dan Daichi berbarengan. Suga menepuk jidatnya sendiri, sepertinya ia tahu apa yang terjadi sekarang.

"Tapi aku mengatakan yang sebenarnya, tidak bermaksud menyinggung siapapun. Ukuran es loli di Rusia biasanya lebih besar dari pada di Jepang. Benar, kan Lev?" Yuri menoleh pada Lev meminta dukungan. Ia sudah makan duluan dengan para kelas satu Nekoma.

"Entahlah Yuri, aku belum pernah ke Rusia." Jawab Lev. Ia juga terlihat polos seperti Bokuto, tidak memperhatikan apa yang terjadi.

"Tapi aku tidak bohong, Daichi-san, es krim di Rusia, biasanya lebih be-"

"Cukup Yuri, aku mengerti." Kata Daichi, wajahnya merah matang, begitu juga dengan wajah Kuroo.

"Maafkan kami menganggu obrolan kalian, silakan lanjutkan." Daichi mendesak Kuroo agar maju kedepan, melanjutkan mengambil makanan. Mereka malu sekali. Ini adalah salah paham terjauh yang pernah mereka alami.

Tim putra yang baru datang, berjalan ke meja mereka masing-masing sambil melanjutkan makan malam dalam diam.

"Kenapa? Kenapa tiba-tiba sepi?" Tanya Hinata, yang melihat para alumni tiba-tiba berhenti bicara. Kageyama menggeleng tidak mengerti.

"Dasar Kuroo bodoh." Komentar Kenma.

"Diam Kenma, habiskan sayurmu!" timpalnya.

Tsukishima dan Yamaguchi tidak kuasa menahan tawanya, tubuh mereka bergetar hebat, bahkan Yamaguchi hampir tersedak.

"Tsukishima! Yamaguchi! Makan yang benar!" Kata Daichi-san galak.

Sementara Yuri yang berada di kursinya langsung panik ketika mendengar Daichi memarahi Tsukishima dan Yamaguchi.

"Oh tidak Akira, aku dalam masalah besar ya? Daichi-san marah padaku, kan? Aku tidak tahu dia sangat sensitif perihal es krim. Bagaimana ini?"

'Aku benar-benar tidak bisa... Ada apa sebenarnya dengan mereka?' Akaashi memegangi jidatnya pening.

"Kau kenapa Akaashi?" Tanya Bokuto lagi.

"Aku tidak apa-apa Bokuto-san." Jawabnya lagi.

"Kau ini kebiasaan Akaashi, kau tidak boleh memikirkan segala sesuatu sendiri. Itu tidak baik." Ujar Bokuto.

Oke cukup, cukup dengan semua kesalahan pahaman ini. Setelah makan malam Akaashi akan langsung tidur, dia sudah tidak punya tenaga untuk menghadapi keabsurd-ansemua orang ini.