DISCLAIMER
Haikyuu! is belongs to Haruichi Furudate
THE RISE : Karasuno Female Volley Ball Club
©Longlive Author
Hari ketiga kamp pelatihan berakhir sangat menyenangkan. Semua orang bermain dengan sangat prima. Setelah latih tanding sengit semalam antara tim putra dan tim putri Karasuno, membuat keadaan menjadi sedikit berbeda dari sebelumnya. Itu karena tim lain, terutama tim putri dari sekolah lain baru menyadari jika tim putri Karasuno lebih berpotensi daripada yang mereka kira.CoachUkai mempunyai satu kesimpulan setelah melihat tim putri Karasuno. Tim putri terbentuk dan menjadi kuat sebagai tim yang layak tanding karena dasar latihan yang kuat. Miyama-san membentuk pondasi yang kuat dengan latihan-latihan voli dasar untuk membentuk memori otot mereka, dan di saat yang sama membentuk stamina lebih kuat dalam beberapa bulan saja. Tidak hanya itu, Miyama-san mengarahkan mereka untuk memecahkan masalah di lapangan tanpa membatasi strategi kreatif tim putri. Itu kenapa tim putri memiliki banyak serangan tidak terduga yang bisa di jadikan senjata mereka dan juga pertahanan yang kuat.
Ukai-san menjelaskan pada tim putra jika tin putri memiliki pertahanan yang mirip dengan Nekoma, dan juga serangan yang stabil mirip dengan Aoba Johsai. Beri mereka waktu sedikit lagi dan mereka akan lawan yang di waspadai semua tim. Tim Putri Karasuno sudah berubah banyak dari musim lalu.
Di siang harinya, sebelum semua tim dan juga para alumni membubarkan diri, Miyama-san mengajak mereka berfoto bersama untuk kenang-kenangan, dan mengunggahnya ke media sosial serta menandai masing-masing-masing orang yang ikut di kamp pelatihan. Miyama-san di nobatkan menjadi pelatih favorit baru di kalangan para tim karena dia yang paling muda dan juga paling menyenangkan. Lalu, ketika mereka pulang, Ukai-san mengajak Daichi dan Suga untuk naik bus bersama pulang ke Perfektur Miyagi, sementara Asahi kembali keflat-nyadi Tokyo karena dia berkuliah disana. Daichi dan Suga sungguh terkejut ketika para tim putra dan tim putri langsung mengambil mikrofon dan berkaraoke sepanjang perjalanan pulang.
Namun rasanya kesenangan di kamp pelatihan berakhir begitu Yuri sampai di rumah. Sesampainya ia di rumah, notifikasi ponselnya berbunyi tanpa henti setelah Miyama-san menandainya pada postingan foto mereka di kamp pelatihan. Itu kenapa Yuri mengabaikan ponselnya sejak kembali dari kamp pelatihan.
Pagi harinya Yuri terbangun. Ia tahu betul apa yang terjadi. Sesaat setelah Miyama-san menandainya dalam sebuah postingan Instagram, kini media sosialnya penuh dengan notifikasi komentar. Yuri tidak berani membuka ponselnya semalam. Namun pagi ini, ia membuka ponselnya lalu melihat Instagram yang sudah tidak pernah ia buka lebih dari setengah tahun. Terakhir ia membukanya berita tentang dirinya yang kalah di Grand Prix Junior dan juga berita tentang dirinya yang mengalami cidera leher menjadi berita utama di duniafigure skating.Kini satu foto membuat duniafigure skatingmenjadi gempar kembali. Yaitu foto Hanyu Yuria yang menjalani hidup menjadi anak sekolah biasa di Jepang pasca cidera dan bergabung dengan tim voli SMA biasa.
Ia melihat halaman orang-orang yang menandainya di foto Instagram. Kebanyakan akun-akunfanspagedan juga media beritaonlineyang mengcapturefoto dari akun instagram Miyama-san.
YURIA HANYU TERLIHAT BEGABUNG DENGAN SEBUAH KLIB VOLI SMA DI PERFEKTUR MIYAGI JEPANG. APAKAH DIA BENAR-BENAR PENSIUN?
SANG'RUSSIAN DELIGHT'MUNCUL DI JEPANG SETELAH HAMPIR SATU TAHUN VAKUM DARIFIGURE SKATING
ROSSIYSKO-YAPONSKIY FIGURIK YURIYA KHANYU, POKHOZHE, PROZHIVAL SHKOL'NUYU ZHIZN' V YAPONII, BROSIT ON OT FIGURNOGO KATANIYA?
(FIGURE SKATER BERDARAH RUSIA-JEPANG TERLIHAT MENJALANI KEHIDUPAN SMA DI JEPANG, APAKAH DIA AKAN MENYERAH PADAFIGURESKATING? )
Tut..
Yuri mematikan ponselnya. Hari ini hari Senin, dia harus fokus pada pelajarannya dan juga yang lebih penting dia harus fokus pada pertandinganInter Highyang sudah ada di depan mata. Sebentar lagi ujian, itu artinya dia harus bisa mempertahankan nilai-nilai nya. Tidak ada waktu untuk murung seperti ini.
Ia pergi ke sekolah dengan bus seperti biasanya. Tidak ada yang aneh di dalam kelas kecuali tentang Senseinya yang terus mengoceh tentang persiapan ujian. Yuri sadar jika ia harus lebih serius lagi saat les di rumah kalau tidak mau nilai nya yang sudah anjlok lebih anjlok lagi.
Sore itu pun tim putri latihan seperti biasa. Sebagian orang masih terbawa suasana kamp pelatihan kemarin. Shun dan Yuji, duaRookieanak kelas satu itu sama sekali tidak melewatkan kesempatan untuk menyerap ilmu-ilmu dari para alumni kemarin. Mereka berdua adalah alasan para alumni Karasuno kewalahan karena ditanyai terus menerus. Tidak hanya itu, hubungan tim putra dan putri Karasuno pun terlihat lebih dekat dari sebelumnya. Tim putra Karasuno sepertinya sudah menyadari potensi yang ada pada tim putri mereka, dan tim putri pun tidak lagi segan seperti sebelumnya. Hubungan Kageyama dan Akira juga tidak secanggung dulu. Entah perasaan mereka saja atau bukan, tapi sejak pertandingan Karasuno vs Karasuno di kamp pelatihan, Akira dan Kageyama mengeluarkan aura rivalitas yang bisa di rasakan orang-orang di sekitarnya. Akira masih tidak mau kalah dari Kageyama, dan itu sepertinya merupakan hal yang bagus.
"Hei apa kalian tau postingan Miyama-san, mendapatkan banyak sekali komentar? ponselku tidak berhenti berbunyi sejak semalam." Kata Misaki di sela-sela latihan mereka.
"Ya, Miyama-san kan memang artis Instagram, dia seorangblogger, pengikutnya juga pasti sangat banyak." Jawab Mao yang menyeka keringat dengan lengan bajunya.
"Itu bukanfollowersMiyama-san..." Ujar Akira, mendekati mereka, Misaki dan Mao tampak tidak mengerti.
"ItufollowersYuri." Kata Akira, menoleh ke arah temannya itu yang terlihat canggung. Yuri sejujurnya ingin menghindari pembicaraan ini. Tapi sepertinya tidak bisa. Misaki dan Mao saling memandang satu sama lain.
"Ya ampun memangnya kalian tidak membaca komentar-komentarnya ya? Banyak komentar berbahasa Inggris." Jelas Akira. Jelas sekali kalau Mao dan juga Misaki sama sekali tidak membaca komentar-komentar di postingan Miyama-san.
Akira kembali menoleh ke arah Yuri, melihat wajahnya Yuri yang tidak nyaman, Akira mendekatinya.
"Kau tidak apa-apa Yuri?" Tanya Akira. Rambut Yuri basah karena keringat, untuk beberapa alasan Yuri berlatih dengan brutal hari ini. Ia terus menerus menembakkanspikekeras hingga tangan dan lengannya memerah.
"Maaf," Mereka bisa melihat air wajah Yuri berubah, ia terlihat tidak ingin membicarakan ini. Ia membuang napas panjang. Mereka baru menyadari jika Yuri terlihat tidak nyaman sejak awal latihan. Tapi tidak dengan Akira, ia menyadarinya. Permainan Yuri sangat keras dan sembrono. Mungkin karena ia juga mendengar para tim putra juga penasaran dengan postingan Miyama-san yang mendapatkan banyak komentar. Kini, semua orang yang di tandai di postingan Miyama-san saat kamp pelatihan akan mendapatkan notifikasi yang sama. Sebagian besar komentar berisi tentang Yuri yang sudah menghilang lebih dari setengah tahun di media, tiba-tiba muncul di sebuah postingan milik pelatih voli SMA Jepang.
"Tidak apa-apa jika kau tidak mau membicarakannya. Aku akan meminta Miyama-san untuk menghapus postingannya." Kata Akira pengertian. Ia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seorang atlet, terutama yang memiliki skandal seperti Yuri. Tapi ia tahu jika temannya ini tertekan karena sesuatu.
"Tidak apa-apa Akira, hanya saja...sudah lama aku tidak merasakan hal ini." Jawab Yuri pelan.
Meskipun Yuri bicara begitu, Akira tetap berbicara dengan Miyama-san seusai mereka latihan pukul delapan malam. Miyama-san sendiri terkejut ketika mendengar itu dari Akira. Ia terlalu sibuk untuk membuka Instagram nya jadi ia tidak menyadari jika postingannya seramai itu. Padahal baru dua puluh empat jam foto kamp pelatihan mereka diposting.
"Ini salahku, aku tidak tahu jika publisitas di duniafigure skatingsemengerikan itu. Aku akan segera menghapusnya." Ujar Miyama-san.
"Yuri tampak tertekan hari iniCoach, mungkin jika kau bisa bicara padanya dan membuat hatinya lebih baik, aku akan sangat menghargai itu." Balas Akira. Ia sudah berganti pakaian dan bersiap untuk pulang. Beberapa anggota tim putra dan tim putri yang lain sudah pulang duluan.
Baru saja Miyama-san meraih ponsel di sakunya hendak membuka Instagram dan menghapus postingan foto kamp pelatihan mereka. Shun berlari dari gerbang sekolah ke depan gelanggang yang sudah tutup.
"Hh... Miyama-san...bisa kau ikut aku sebentar, hah..hah.." Shun, anak kelas satu tim putra itu terlihat kehabisan napas setelah berlari sekuat tenaga. Akira dan Miyama-san terkejut.
"Ada apa Shun?" tanya Miyama-san.
"Ada itu, ada dua orang wartawan yang memaksa untuk mewawancarai Yuri-san. Kageyama-san dan Hinata-san ada disana, di halte bus. Wartawan itu tidak mau pergi."
Miyama-san sangat terkejut, apa karena postingannya yang membuat wartawan datang kesekolah ini?
"Ayo kesana!"
Akira, Miyama-san, dan juga Shun bergegas ke halte yang berada tak jauh dari sekolah. Hari sudah sangat gelap. Mereka bertiga bisa melihat Yuri, Kageyama, dan juga Hinata berada di halte. Lalu ada dua orang pria dewasa yang membawa kamera dan berusaha untuk memotret Yuri. Kageyama dan Hinata berusaha menutupi Yuri di balik punggung mereka. Wartawan itu tampak membujuk Yuri untuk meminta satu foto saja. Sepertinya mereka wartawan dari salah satu mediaonlineJepang.
"Hei!" Teriak Miyama-san. Kedua wartawan itu berbalik dan tampak terkejut dengan adanya orang dewasa disana.
"Apa yang kalian lakukan?!" Miyama-san berteriak, mereka tidak pernah melihat Miyama-san semarah itu.
"Kami hanya ingin mewawancarai Yuri-kun sebentar." Ujar salah satu wartawan.
Miyama-san mengerutkan dahinya.
"Kalian tidak akan mewawancarai siapapun. Kalian mengikuti anak dibawah umur di Jepang, itu adalah sebuah kejahatan. Lupakan wawancara ini jika kalian tidak ingin di pecat dari pekerjaan kalian." Miyama-san benar-benar serius ketika mengatakan itu. Keduanya tampak membeku kemudian berbalik meninggalkan mereka tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Yuri kau tidak apa-apa?" Tanya Akira khawatir.
"Ya, aku tidak apa-apa." Jawab Yuri. Wajahnya terlihat sedikit terguncang. Ia berkeringat.
"Kau yakin?" Tanya Miyama-san. Yuri mengangguk.
"Siapa mereka itu? Mau ngapain mereka dengan Yuri." Ujar Hinata kesal. Ia sampai menjatuhkan sepedanya di trotoar saat melihat Yuri di ikuti oleh dua orang pria dewasa. Ia kira mereka berdua adalah penguntit.
"Mereka wartawan, kau dengar mereka menunggu Yuri sejak jam pulang sekolah." Kata Kageyama. Beruntung, Kageyama juga berada disana kerena ia dan Hinata berlomba siapa yang paling cepat melewati gerbang sekolah tadi.
"Yuri, kau yakin kau tidak apa-apa? Maafkan aku karena aku dengan ceroboh memposting foto di kamp pelatihan dan menandai akun mu. Aku tidak tahu jika wartawan bisa seagresif ini." Kata Miyama-san merasa bersalah.
"Tidak apa-apacoach,aku sudah terbiasa dengan hal ini," kata Yuri. Ya, dia sudah terbiasa di ikuti seperti ini, terutama semenjak histerianya yang ramai di bicarakan di Grand Prix Junior dua tahun yang lalu. Kageyama dan Miyama-san menatap Yuri dengan pandangan yang sulit di baca. Kageyama tahu banyak mengenai atlet-atlet voli Jepang dan bagaimana mereka memiliki ketenaran di luar lapangan. Tapi Kageyama tidak tahu jika menjadi seorang atlet itu artinya menghadapi hal-hal seperti ini. Tapi sumpah demi karir volinya yang cerah! Mereka adalah atlet, dan bukan seorang artis! Belum lagi, Yuri seusia dengannya. Sebagai kandidat timnas muda Jepang. Kageyama tidak tahu apakah dia akan mengalami hal-hal seperti Yuri atau tidak.
"Kau yakin, aku bisa mengantarmu jika kau mau." Tawar Miyama-san.
"Tidak perlu Miyama-san, aku tidak apa-apa, sungguh!" Yuri memaksakan diri untuk tersenyum.
"Jangan khawatircoach,bus ku satu arah dengan Yuri, aku akan pulang bersamanya." Kata Akira.
"Baklah kalau begitu." Merekapun berpisah jalan di halte.
Keesokan harinya Yuri kembali dengan perasaan yang masih belum terlalu membaik. Ia dengan sengaja mematikan notifikasi di Instagramnya. Postingan kamp pelatihan dari akun Miyama-san pun sudah di hapus. Dia jadi tidak enak dengan teman-temannya yang lain. Bagiamanapun juga Miyama-san sama sekali tidak salah. Ia hanya ingin mengabadikan momen kamp pelatihan itu. Ia justru merasa tidak enak karena dirinya, teman-teman barunya ini bisa saja terseret hal-hal yang tidak perlu. Ia juga malu, sejauh ini hanya teman-teman Karasunonya saja yang mengetahui jika ia adalah seorang atletfigure skating, namun sekarang ia bertanya-tanya, jika teman-teman barunya di kamp pelatihan menyadarinya atau tidak?
...
Tok...tok...tok...
"Apa ada Takeda Sensei?" Tanya seorang satpam yang mengetuk pintu ruang guru. Takeda Sensei yang sedang fokus memeriksa tugas para siswa, terlonjak dari kursinya.
"Ya? Ada apa?" Tanyanya.
"Ada seseorang yang mencari Penanggung Jawab Voli Karasuno?" Ujarnya. Takeda Sensei heran, siapa gerangan yang mencarinya. Seingatnya ia belum memiliki jadwal latih tanding dengan siapapun.
"Baiklah, tolong bawa ke ruang tamu ya, aku akan menemuinya disana." Katanya. Sang satpam mengangguk.
Setelah sedikit merapikan dirinya, Takeda Sensei pergi ke ruang tamu tempat dimana para guru, biasa menerima tamu atau orang tua murid. Takeda Sensei terkejut ketika mendapati orang yang menunggunya. Ia seorang pria tinggi besar memakai jaket kulit. Rambutnya berwarna hitam dan matanya berwarna abu-abu, terlebih dia memiliki wajah blasteran. Mengingatkannya pada seseorang.
"Selamat siang, Sensei! Maaf mengganggu waktumu. Aku Hanyu Ivankov, Sensei bisa memanggilu Ivan." Pria rupawan itu mengulurkan tangannya yang kecokelatan.
Wajah blasteran, aksen yang tidak biasa, dan juga caranya memberikan salam. Hanyu Ivankov, kakak laki-laki dari Hanyu Yuria.
"Ah, aku Takeda Ittetsu, silahkan duduk." Ujarnya menyambut jabatan tangan Ivan.
"Ada keperluan apa Ivan-san. Apa ada yang bisa ku bantu?" Takeda Sensei tersenyum.
"Begini Sensei," ujarnya, wajah Ivan sedikit sangar namun suaranya lembut dan sopan, "aku kakaknya Yuri dan baru saja pulang dari New Zealand tadi pagi, aku dengar Yuri bergabung dengan tim Voli SMA Karasuno."
"Iya betul. Yuri, salah satu anggota kami." Ivan terlihat ragu namun ia mengatakan apa tujuannya datang kemari.
"Mungkin jika Sensei tahu, Yuri sebelumnya adalah seorang atletfigureskating, dan aku juga tahu sekarang dia menikmati dirinya sendiri berada di tim voli. Aku dengar dari nenek dan kakek kami jika Yuri sangat serius dalam latihan dan tidak lama lagi akan ikut turnamen. Tapi—" Ia menghela napas, "jika memungkinkan, aku meminta tolong Sensei untuk membujuk Yuri...kembali ke duniaSkating."
Takeda Sensei tertegun mendengar hal itu, memikirkan bagaimana ia harus bersikap sebagai seorang wali klub voli.
"Aku tahu ini permintaan yang berat, dan aku juga tahu, mungkin Yuri akan mengamuk padaku jika tahu aku datang menemuimu dan mengatakan ini. Tapi, Yuri meluncur di atas es sejak umur empat tahun, dia sudah sejauh ini difigureskating." Takeda Sensei menangkap ada sedikit kesedihan di suara pria besar di hadapannya
"Jangan salah sangka Sensei, aku senang jika memang Yuri berbakat juga di Voli dan bisa berguna untuk tim nya, aku dengar dari kakek nenek kami jika Yuri jadi lebih sering tertawa setelah ia bergabung dengan tim voli. Tapi, sebagai seorang atlet, aku juga mengerti apa yang Yuri rasakan. Sesuatu yang buruk bisa saja terjadi di lapangan, tapi memutuskan untuk berhenti begitu saja, aku tidak mau Yuri menyesal dengan keputusannya." Jelas Ivan.
"Bukannya aku mau mencampuri urusan kalian, Ivan-san. Tapi kami mendengar apa yang terjadi pada Yuri di kejuaraan Grand Prix dua tahun lalu. Apa itu benar Ivan-san?" Takeda Sensei membuat langkah berani dengan menanyakan pada Ivan tentang apa yang terjadi pada Yuri dua tahun yang lalu.
"Yah, aku tidak bisa menyangkalnya. Ibu kami memang keras pada kami berdua, terutama pada Yuri yang memilih cabang olah raga yang sama seperti ayah dan ibu kami. Itu kenapa kami sudah mencarikan pelatih baru untuk Yuri jika dia ingin kembali ke duniaskatingdan meneruskanshort programuntuk debut seniornya." Kata Ivan.
Takeda Sensei menarik napasnya. Berusaha untuk menyampaikan pendapatnya dengan hati-hati.
"Aku mengerti Ivan-san, kami akan berusaha untuk bicara dengan Yuri, tapi aku harus mengatakan ini pada mu, kami juga akan menghargai pendapat Yuri apapun keputusannya."
Ivan tersenyum berterima kasih pada Takeda Sensei.
...
Teeetttt...
Sudah lima menit berlalu sejak bel pulang berbunyi. Yuri masih duduk di kelasnya menatap ke arah jendela. Teman-temannya pun masih berada di kelas untuk piket.Ah...ia malas sekali, hari ini tidak ada latihan. Rinkou-san mengurangi intensitas latihan mereka karena akan segera menghadapi ujian. Dari dalam jendela kelas Yuri bisa melihat Kageyama dan Hinata berlari ke arah gelanggang. Mereka pasti sedang berlomba siapa yang sampai gelanggang duluan.
"Mereka teman-temanmu di voli kan? Semangat sekali." Tiba-tiba seseorang berbicara di belakangnya. Reika-chan, salah satu teman sekelasnya, ternyata tidak sengaja ikut melihat Hinata dan Kageyama yang berlari di bawah sana.
"Yah, mereka memang begitu." Balas Yuri.
Melihat Kageyama dan Hinata mengingatkannya sewaktu ia kecil. Ia juga pernah seperti itu, ingin latihan tanpa henti, dan tidak ingin pulang. Entah kapan ia terakhir merasa begitu ketika akan latihanskating.
Yuri beranjak dari kursinya, ia harus kembali ke rumah, dan belajar dengan tutor untuk persiapan ujian nya. Namun ia terkejut ketika sampai di depan gerbang ada sosok yang ia kenal menunggunya tak jauh dari gerbang sekolah.
"Ivan?"
"Halo Yuri!"
Seorang pria tinggi besar menggunakan jaket kulit hitam sedang duduk di atas motor besar, menatap ke arahnya. Pria itu memiliki fitur wajah blasteran yang sama dengan Yuri. Ivankov kakaknya.
"Tebe idet eta forma!"
(Seragam itu cocok untukmu!)
"Chto ty zdes' delayesh', Ivan?"
(Kau mau apa kemari, Ivan?)
Yuri menghampirinya dan berbicara dengan ketus. Ia sudah diberi tahu oleh kakek nenek nya jika Ivan kakaknya akan mampir ke Jepang dalam waktu dekat. Tapi Ivan datang di waktu yang tidak tepat. Suasana hati nya sedang buruk.
"Ne khmur'sya tak, ty pokhozha na mamu!"
(Jangan cemberut seperti itu, kau mirip Mama!) Kata Ivan di balas dengan tatapan galak dari Yuri.
"Ladno... ladno... cherez dve nedeli ya budu snimat' pryzhki s parashyutom v Fudzioke, ya prosto zakhozhu, neuzheli ya ne mogu zayti k babushke i dedushke? Oni tozhe moi babushka i dedushka"
(Oke...oke..dua minggu lagi aku akan syuting sky diving di Fujioka, aku hanya mampir, memangnya aku tidak boleh mampir ke rumah kakek dan nenek ku sendiri? Mereka kakek dan nenek ku juga.) Tabiat dan dan cara bicara Ivan persis seperti Yuri.
"YA imeyu v vidu, pochemu ty zdes'?"
(Maksudku kenapa kau ada disini?)
"Konechno ya tebya podobral, ty durak?"
(Tentu saja aku menjemputmu, apa kau bodoh?) Balasnya. Yuri memutar bola matanya malas.
"Net, chto ty delayesh'?"
(Tidak, apa yang kau lakukan?) Melihat gelagat aneh kakaknya yang mengetuk-ngetuk kan jari, Yuri tahu jika Ivan menyembunyikan sesuatu darinya.
"Ivan, chto ty delayesh'?"
(Ivan, apa yang kau lakukan?) Tanya Yuri sekali lagi. Ivan menghela napas dan menatap Yuri.
"Davay, poydem so mnoy, ya ob"yasnyu"
(Ayo, ikut dengan ku, akan ku jelaskan.) Katanya menepuk-nepuk jok motornya.
"Net, net, ty dolzhen rasskazat' mne, chto ty sdelal? Mama skazala tebe priyti syuda, da?"
(Tidak, tidak, kau harus memberitahu ku apa yang kau lakukan? Mama menyuruh mu datang kemari, kan?) Tanya Yuri sekali lagi. Beberapa siswa mulai melihat mereka berdua. Dua orang yang saling adu mulut menggunakan bahasa asing di pinggir jalan.
"Haaah..." Ivan membuang napasnya kesal.
"YA vstretilsya s tvoim voleybolistom, pogovoril o tvoyey figurnoy kar'yere."
(Aku bertemu dengan penanggung jawab voli mu, membicarakan tentang karirskatingmu.) Jawabnya. Mata Yuri melebar. Ia murka.
"Chto?!"
(Apa?!)
"Tss, ne krichi, Yuriy, a to lyudi podumayut, chto ya tebya skhvatila?!"
(Shhh, jangan berteriak Yuri, kalau tidak, orang-orang akan berpikir aku menjambretmu, kau tahu?!)
"Chto ty delayesh', Ivan? YA zhe govoril tebe ne vmeshivat'sya v moi problemy. Skazhi mame, chto ya ne khochu, chtoby menya bespokoili!"
(Apa yang kau lakukan Ivan? Sudah ku bilang jangan ikut campur masalah ku. Bilang pada Mama aku tidak mau di ganggu!) Ujarnya galak.
Ivan menatap adiknya itu. Selama setengah tahun kebelakang semenjak Yuri pindah ke Jepang ia selalu menanyakan kabar Yuri pada kakek nenek nya. Mereka bilang jika Yuri terlihat lebih bahagia sejak ia masuk klub voli, dan tidak murung lagi. Namun rupanyaskatingmasih menjadi topik yang sensitif untuk Yuri. Ia menjadi sangat tempramen jika berurusan denganskating. Persis ketika ia gagal mendapatkan medali emas di kejuaraan Grand Prix dua tahun yang lalu. Bagaimanapun juga Ivan tidak bisa menyalahkan Yuri, ibu mereka yang terlalu keras dan mendidik Yuri untuk terobsesi dengan medali emas. Ia sudah tidak menikmatiskatinglagi, ia hanya mengejar menjadi juara.
"Yuriy, poydem so mnoy, ya ob"yasnyu!"
(Yuri, ayo ikut aku, aku akan menjelaskannya!) Ivan berusaha meraih tangan Yuri namun ia menangkisnya.
"Net, ya ne khochu tebya videt'!"
(Tidak aku tidak mau melihatmu!) Yuri beranjak pergi dari sana meninggalkan Ivan.
"Yuri!"Teriak Ivan, tapi iya tidak menggubrisnya.
"Papa poprosil Viktora Nikiforova dat' tebe korotkuyu programmu dlya debyuta sredi vzroslykh, yesli ty vernesh'sya v figurnoye kataniye. Liliya Baranovskaya takzhe soglasilas' trenirovat' tebya, yesli ty vernesh'sya. Ty ne vstretish' mamu."
(Papa meminta Viktor Nikiforov memberikanmushort programuntukSenior Debutjika kau kembali keskating.Lilia Baranovskaya juga setuju untuk melatihmu jika kau kembali. Kau tidak akan bertemu dengan Mama.)
Kalimat dari Ivan berhasil untuk membuat Yuri menoleh, namun tidak cukup untuk membuatnya berhenti dan kembali. Viktor Nikiforov, pemenangEuropean Figure SkatingChampionshipsdan juga2010-2011 World Championshipsyang memutuskan untuk pensiun di usianya yang ke 27 tahun lalu. Lalu Lilia Baranovskaya mantan balerina dan juga pelatihFigure Skatingdi Moscow juga di minta menjadi pelatihnya. Ia tidak percaya kalau ayahnya mencarikan nya pelatih baru.
Maka selama beberapa hari setelahnya Yuri terus mengabaikan Ivan meskipun mereka serumah. Kakek nenek nya pun merasakan kecanggungan diantara mereka berdua. Selama latihan voli setiap pulang sekolah pun, Yuri tidak terlalu banyak bicara seperti biasanya. Sebenarnya Yuri ingin mengabaikan perkataan Ivan, tapi mengetahui jika ayahnya mencarikan pelatih baru dan juga meminta Viktor Nikoforov untuk memberikannyashort program,ia secara tidak sadar jadi terus memikirkan nya. Jika ia kembali dan melakukanDebut Seniornya, ibunya dan pelatih lamanya tidak akan ikut campur untuk karirskatingnya.
Kostum dan juga sepatu skatingmilik Yuri tersimpan rapi di lemari, tanpa pernah ia sentuh selama lebih dari setengah tahun kebelakang. Kostum itu seharusnya ia pakai untukshort program senior debutnya yang sudah lewat tahun lalu. Namun ia tidak pernah memakainya karena ia terlanjur cidera saat latihan. Kini lehernya sudah sembuh dan ia juga masih ingat jelas rutinshort programnya. Tapi setiap melihat kostum dan juga sepatu skatingnya, ia selalu merasakan perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Rasa marah karena dia tidak mendapatkan medali emas, meskipun dia sudah mendaratkan4 Quad, rasa kesal karena ibunya kecewa ia tidak menjadi juara satu, dan juga rasa lelah dan nyeri yang ia dapatkan selama latihanskating. Selama satu tahun Yuri berusaha mengabaikan perasaan-perasaan itu dan berusaha membangun hidupnya kembali dari awal dengan menjadi siswi biasa di Jepang. Tapi sekarang, perasaan-perasaan tidak menyenangkan itu kembali.
Tanpa Yuri sadari, Yuri pergi di akhir pekan dengan membawa sepatuskatingnya. Ketika Ivan bertanya kemana ia akan pergi, ia menjawab.
"Latihan!" dengan ketus. Tapi Yuri tidak pergi ke sekolah untuk melakukan kegiatan klub dan juga tidak pergi membawa sepatu voli nya. Ia pergi ke Gelanggang Es Sendai.
Satu jam perjalanan menggunakan bus umum. Ia sampai di Gelanggang Es Sendai. Tempat itu sangat besar, tidak jauh dari Sendai City Gymasium tempat biasa turnamen voli di adakan. Karena masih cukup pagi, belum terlalu banyak orang yang datang. Ia melihat hanya beberapa orang dewasa yang sedang berseluncur dan juga sebuah rombongan anak-anak SD yang terlihat sedang belajar di pinggiran arenaskating.
Dari pinggir arena ia bisa mendengar riuh rendah dari orang-orang tua rombongan anak SD yang melihat anak-anak mereka berseluncur di atas es untuk pertama kalinya. Yuri melihatnya, di umur tujuh tahun Yuri sudah bisa melakukanjumpdan jugaspin. Secara tidak sadar Yuri tersenyum melihat rombongan anak-anak SD itu berteriak-teriak karena berusaha menyeimbangkan kaki mereka.
Suara riuh rendah dari penonton, suhu yang dingin di dalam gelanggang, suara-suara percikan es dari orang-orang yang berseluncur. Sudah lama ia tidak mendengarkannya.Ah...ia tidak sadar kalau ia merindukannya.
Yuri sendiri tidak tahu apa yang ia lakukan disini, tidak tahu apa yang ia cari. Mungkin ia sedang mencari tahu apakah ia masih sebagus dulu atau tidak, dan mungkin mencari alasan untuk tidak kembali ke duniaskating, ataumungkin—mungkin ia menaruh harapannya kembali pada duniaskating, dengan di gantinya pelatih, seperti yang Ivan janjikan.
Sreet—sreet!
Yuri menaruh kakinya di atas es, sepatunya berwarna putih bersih, pisau sepatunya pun tajam dan mengkilap. Untuk pertama kalinya Yuri meluncur di atas es setelah sekian lama. Jantungnya berdebar. Seperti ikan yang di lepaskan lagi ke air. Seperti itulah perasaan Yuri sekarang.
Kaki-kaki Yuri kuat dan seimbang, ia sama sekali tidak melupakan bagaimana caranya berseluncur. Seolah kakinya mengingat bagaimana rasanya melesat di atas es dan bergerak sendiri. Yuri berseluncur mengitari arena es selama beberapa kali untuk pemanasan. Mencoba mengangkat satu kakinya beberapa kali untuk mengetes kemampuannya. Ia juga dengan mudah menghindari peseluncur-peseluncur lain yang ada di dalam arena, karena mungkin tidak adaskaterprofesional lain disana selain Yuri.
Kemudian Yuri berhenti di tengah-tengah arena, berusaha mengingat latihan terakhirnya untuksenior debut. Gerakan apa yang ia lakukan dan juga musik apa yang ia pakai. Ia mulai mengingatnya. Yuri mulai menggerakkan tangannya dan meluncur, menghitung dalam hati dan juga memutar musik di kepalanya. Seiring Yuri bergerak, orang-orang di dalam arena mulai menyadari jika Yuri bukan orang biasa yang sedang berseluncur. Gerakannya terlalu presisi untuk seorangskaterpemula. Secara tidak sengaja orang-orang yang meluncur bersama Yuri di arena es bergerak ke pinggiran karena tidak mau tertabrak Yuri yang meluncur dengan cepat.
Yuri melihat sekitarnya, berusaha untuk tidak terlalu dekat dengan orang lain. Kemudian dia masuk ke dalam gerakanshort program-nya.
Quad Lutz...
Tripple Toeloop...
Quad Lutz...
Tripple Toeloop...
Yuri meluncur mundur, memberikan ancang-ancang kemudian melompat dan berputar ke kiri. Ia melayang di udara seraya melakukan empat kali putaran badan selama hampir empat detik sampai akhirnya pisau di kaki kirinya kembali menyentuh es. Ia berhasil melakukanQuad Lutz.Yuri tidak sadar jika menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Bahkan para orang tua murid yang ada di tribunpun sampai mengalihkan pandangan dari anak-anaknya yang sedang berseluncur.
Satu lagi ia harus melakukantripple toeloop.Yuri kembali meluncur mundur mengambil ancang-ancang untuk melakukan lompatan.
1..
2..
Lompat!
BRUAGH!
Yuri berhasil melompat namun karena putaran kakinya tanggung dia terpeleset dan terjatuh. Ia bangkit dengan cepat. Membuang napas, dan terlihat kesal. Yuri kembali memutari arena es beberapa kali. Melakukan gerakan-gerakan yang lebih mudah sepertilayback, dan jugadouble salchow.Tidak hanya itu, ia juga berusaha mengangkat satu kakinya lurus ke atas. Namun terasa sedikit kaku karena sudah lama ia tidak melakukannya.
Kemudian setelah ia berputar-putar selama beberapa kali, Yuri berusaha untuk mencobaQuad Lutzdan jugaTriple toeloopkembali. Ia meluncur mundur cukup jauh untuk mengambil ancang-ancang. Namun saat ia meluncur, ia melihat salah satu dari rombongan anak-anak SD itu meluncur terlalu ketengah. Di sisi lain ada seorang laki-laki, salah satu pengunjung yang juga sedang meluncur mundur dengan kecepatan yang cukup. Laki-laki itu tidak melihat ada seorang anak di belakangnya.
"Takeru! Awas kau terlalu ke tengah!" Salah satu mentor berteriak, namun ia tidak akan sempat untuk meraih anak laki-laki itu, karena ia sedang menjaga anak-anak yang lain. Sedangkan anak yang meluncur terlalu ke tengah itu tidak bisa mengatur kecepatannya. Mereka akan bertabrakan.
Yuri buru-buru membalikan badannya dan meluncur secepat mungkin ke arah anak laki-laki itu.
"Takeru!" Teriak seseorang dari tribun.
HAP!
Yuri berhasil meraih anak itu, memegangi pinggangnya dan menyabetnya sebelum bertabrakan dengan pengunjung lain.
"ARGH!" Anak itu berteriak kaget, tapi untung saja Yuri bisa membawa anak itu ke pinggir arena dengan selamat. Seorang anak SD jika tertabrak oleh pria dewasa di atas es, bisa bahaya. Pengunjung laki-laki itu terkejut karena seseorang dengan cepat melesat di belakangnya, ia hampir terjatuh.
"Takeru, kau tidak apa-apa?" Tanya seorang mentornya menghampiri Yuri. Anak itu cukup terkejut tapi ia tidak apa-apa.
"Maaf kan aku, terima kasih telah menyelamatkan Takeru." Sang mentor berbalik pada Yuri dan membungkukkan badannya.
"Tidak apa-apa." Yuri mengangkat tangannya, canggung. Si pengunjung pria yang sadar akan apa yang terjadi menghampiri mereka dan meminta maaf karena tidak melihat jika ada seorang anak yang keluar dari barisan.
"Takeru! Kau tidak apa-apa?" Seseorang dari tribun berlari ke pinggir arena es. Dia berdiri di samping pembatas arena. Pria muda berkaca mata, berambut cokelat dan mengenakan jaket. Anak yang di panggil Takeru itu mengangguk. Si Pria berkaca mata itu bernapas lega.
"Sudah ku bilang perhatikan gurumu!" Ujarnya.
"Aku tidak bisaskating, aku biasa memukul bola." Balas sang anak ketus.
"Sudah-sudah tidak apa-apa, yang penting kau tidak kenapa-kenapa. Ayo kembali ke barisan Takeru." Kata salah satu mentornya.
Yuri yang hendak kembali meluncur, mendengar tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Ano, hei.." panggilnya pelan. Yuri menoleh, pria berkaca mata yang barusan memarahi anak bernama Takeru itu memanggilnya dari balik pagar pembatas.
"Terima kasih sudah menyelamatkan Takeru, aku tidak tahu apa yang terjadi jika pria yang tadi menabrak nya." Lalu Pria itu membungkuk. Ia cukup tinggi untuk ukuran pria Jepang, mungkin sedikit lebih tinggi dari Kageyama.
"Tidak apa-apa, aku kebetulan melihatnya. Siapapun akan melakukan itu, jika ada di posisiku." Jawab Yuri.
Lalu pria itu menatapnya terlihat berpikir mendengar aksen nya yang aneh dan juga wajahnya yang blasteran, Yuri tidak mengerti kenapa pria itu menatapnya. Apa mereka pernah bertemu?
"Tunggu, kau...tim voli putri Karasuno kan?" Pria itu ingat sekarang. Ia pernah melihatnya sekitar dua bulan yang lalu di bus saat ia pulang bersama temannya.
Yuri yang mendengar itu langsung mundur beberapa langkah darinya. Sejak Instagramnya penuh dengan notifikasi dari media dan juga warganet yang menanyakan keberadaannya dia menjadi paranoid ketika bertemu orang lain. Terutama setelah kejadian dua orang wartawan yang sampai mendatangi sekolahnya untuk mengkonfirmasi keberadaan Yuri.
"Ark..maaf aku tidak bermaksud menakuti mu. Aku sempat melihatmu di bus waktu itu. Namaku Oikawa Tooru, mantan kapten tim voli Aoba Johsai." Oikawa memperkenalkan diri, seraya sedikit membungkukan badannya.
Oikawa..? Aoba Johsai...?
Yuri berusaha mengingat-ingat, ia mungkin pernah mendengar nama sekolah itu, tapi ia tidak terlalu ingat. Kalau dia dari tim voli putra apa mungkin mereka juga pernah melawan Kageyama dan kawan-kawan. Wajar saja, pertandingan penyisihan Inter High dan Turnamen Musim Semi hanya menampilkanhighlight-nya saja. Siaran langsung pertandingan penuh hanya menampilkan laga final. Kecuali jika Aoba Johsai masuk ke Turnamen Musim semi mungkin Yuri ingat karena mereka menyiarkannya sepanjang turnamen.
Melihat Yuri yang masih sedikit bingung, Oikawa berbicara lagi,
"Aku kakak kelas Kageyama waktu kami SMP." Ujarnya.Ah...wajah Yuri terlihat paham.
Sebenarnya Oikawa malas membawa nama adik tingkatnya itu, tapi jika Yuri berada di tim putri Karasuno, ia pasti setidaknya mengenal Kageyama. Kemudian ia melihat Yuri menoleh ke arah Takeru.
"Kau—sudah memiliki anak?" Ceplos Yuri tiba-tiba. Mendengar pernyataan Oikawa yang bilang kalau dia adalah kakak tingkat Kageyama saat SMP sedikit membingungkannya. Kebanyakan orang-orang yang ada di tribun adalah para orang tua yang mendampingi anaknya ikut latihanice skating.
"Ah—ahem—tidak tidak, Takeru itu keponakanku. Ini tugas dari sekolahya. Mereka berkeliling kelas-kelas olah raga dan klub untuk,kau tahu, menggali potensi anak-anak. Keponakanku sebenarnya lebih tertarik pada voli, tapi karena ini kurikulum wajib sekolah, jadi dia tetap harus ikut." Jelas Oikawa. Ia tidak habis pikir, ia baru lulus SMA tapi bisa-bisanya ada seseorang yang salah mengira ia sudah punya anak. Memangnya ia terlihat setua itu?
"Oh, aku mengerti." Gumam Yuri, "Ah ya, namaku Hanyu Yuria." Katanya membungkukan badan.
"Hanyu-san—"
"Yuri saja tidak apa-apa."
"Yuri-san, bagaimana jika aku mentraktir mu makan siang, aku ingin berterima kasih dengan benar karena sudah menyelamatkan keponakan ku." Ajaknya tiba-tiba.
"Oh tidak perlu Oikawa-san, sungguh." Tolak Yuri dengan halus.
"Tolong, Yuri-san, aku memaksa. Aku tidak tahu apa yang akan kakak ku lakukan padaku jika terjadi sesuatu pada Takeru." Ujarnya
—dan disinilah mereka.Pertemuanrandomnan ajaib antara Yuri dan Oikawa, ini bahkan lebihrandomdari pada pertemuannya dengan Ushiwaka atau Aone-san. Belum lagi Oikawa kini mengajaknya makan siang bersama Takeru di sebuah cafe tidak jauh dari Gelanggang Es Sendai. Oikawa memesan semangkuk besar oyakodon, Takeru, anak itu memesan omurice dan susu kocok, sedangkan Yuri memesan katsudon. Sejujurnya ia cukup canggung berada disini sekarang.
"Takeru, berterima kasihlah pada Onee-san karena sudah menyelamatkanmu ketikaskatingtadi, jika tidak, kau mungkin sudah cedera kau tahu." Sekali lagi Oikawa mengomeli keponakanya.
"Terima kasih Onee-chan." Katanya. Anak itu sepertinya tidak apa-apa.
"Makanya, jangan melamun." Kata Oikawa.
"Aku kan sudah minta maaf pada Sensei." Balas anak itu.
Sambil menyantap makan siangnya Oikawa memperhatikan Yuri, dia membawa sepatunya sendiri, berbeda dengan pengunjung lain yang menyewa di gelanggang. Cukup mewah untuk anak yang bisa memiliki sepatuskatingnya sendiri hanya karena hobi.
"Ne, Onee-chan bagaimana kau bisa meluncur secepat itu?' Tanya Takeru tiba-tiba.
"Ermm.." Yuri bingung bagaimana ia menjelaskannya.
"Ya, aku melihatmu tadi, dan itu bukan kemampuan seorang pemula." Ujar Oikawa.
"Err, yaa, kurasa begitu," kata Yuri ragu-ragu, "lagipula aku, Juara 1 European Junior Championship dan juara 2 Junior Grand Prix, jadi..."
Baik Oikawa maupun Takeru berhenti memakan makanannya. Firasat Oikawa dan Iwaizumi benar tentang tim voli putri yang mendapatkan seorang atlet blasteran, karena mereka melihat cidera-cidera di badan Yuri. Tapi seorang atletJunior Ice Skating, itu terlalu plot twist.
"Eh? Bagaimana bisa? Jika kau berada di Miyagi, seharusnya aku mengenalmu." Tanya Oikawa bingung. Apa dia terlalu fokus pada voli hingga sama sekali tidak tahu ada juara dunia di cabang olah ragaskatingdi Miyagi.
"Ah, tidak-tidak Oikawa-san, kau salah. Aku bukan berasal dari Miyagi. Kakek-Nenek ku tinggal disini. Aku baru pindah dari Rusia." Jawabnya.
"Kereeen sekaliii...Onee-chan setengah bule?" Tanya Takeru. Yuri hanya tersenyum kikuk.
"Lalu bagaimana dengan karirskatingmu? Apa kau berencana pindah kewarganegaraan?"
"Tidak, aku..." Yuri menoleh ke arah jendela berusaha menemukan kalimat yang tepat agar tidak membingungkan, "aku sedang vakum, dan untuk sementara waktu aku tinggal di Jepang. Satu tahun yang lalu aku mengalami cidera leher, jadi ya.." Yuri menaikan kedua alisnya.
Oikawa menatapnya, apa mungkin dia sudah mengangkat pembicaraan yang sensitif? Tapi Yuri yang menyadari itu langsung tersenyum berusaha mencairkan suasana.
"Tapi tenang saja, aku sudah sembuh, lagipula itu sudah cukup lama. Jadi sekarang, mumpung aku berada di Jepang dan sekolah di sekolah reguler, jadi aku bergabung dengan tim voli, karena tidak ada klubskatingdi sekolah." Ujarnya.
"Beritahu aku Oikawa-san, kau bilang kau kakak tingkat Kageyama di SMP, apa kalian dekat, apa posisimu?" tanya Yuri tiba-tiba.
Pembicaraan yang patah, dan Yuri buru-buru mengganti topik. Oikawa cukup pintar untuk mengetahui kalau Yuri mungkin saja tidak mau membicarakan hal itu. Maka ia tidak akan memaksa, ia akan mengikuti kemana arah pembicaraan Yuri.
"Dekat? Dengan Tobio? Tidak mungkin, anak itu sangat keras kepala dan menyebalkan. Tapi dia banyak belajar menjadisetterdariku." Katanya sedikit berbangga hati.
"Oikawa-sansetterjuga?" Oikawa mengangguk.
"Onee-chan juga bermain voli?" Tanya Takeru. Yuri mengangguk sumringah.
"AkuMiddle blocker!" Ujarnya.
"Tentu saja, kau tinggi, tidak seperti si pendek menyusahkan itu." Balas Oikawa.
"Hinata?" Tanya Yuri.
"Ya dia melompat kesana kemari tidak bisa diam, seperti kutu loncat." Jawab Oikawa menyeruput jus nya.
"Yah aku bisa mengerti, menyusahkan sekali melawan tim putra. Kami menghabiskan waktu satu setengah jam hanya untuk 1 set melawan tim putra, dan aku tidak mau lagi menerima servis dari Kageyama atau serangan cepat dari Hinata." Oikawa mengangguk setuju.
Pada akhirnya mereka membicarakan banyak hal. Dari mulai kamp pelatihan sebelum nya hingga kebiasaan Kageyama ketika masih SMP. Oikawa juga membicarakan rencananya yang akan pergi ke Argentina dalam setengah tahun kedepan. Yuri malah sempat menanyakan apakah orang Jepang sensitif perihal ukuran es krim. Oikawa tidak mengerti dan Yuri pun membicarakan kejadian di kamp pelatihan saat Daichi-san dan Kuroo-san marah padanya(menurut Yuri). Oikawa yang menangkap kesalahan pahaman Kuroo dan juga Daichi menepuk keningnya sendiri.
"Jujur saja, untuk kepolosan, kau sedikit mirip Tobio." Katanya.
Mereka mengobrol banyak untuk orang yang baru kenal. Selain karena Oikawa yang memang ekstrovert dan mudah beradaptasi dengan orang lain. Yuri juga senang mengobrol hal-hal tidak penting.
Mungkin sekitar satu jam kemudian mereka selesai dan keluar dari cafe untuk pulang. Namun sebelum mereka berpisah jalan Oikawa kembali bertanya pada Yuri.
"Lalu setelah ini apa yang akan kau lakukan?"
"Hm...Inter High?" ujar Yuri bingung.
"Bukan, maksudku, apa kau akan tetap di voli atau kembali keskating?" tanyanya.
Sejujurnya Yuri sendiri tidak tahu jawabannya.
"Apa menurut mu voli menyenangkan?" tanya Oikawa.
"Ya, aku pikir voli menyenangkan."
"Lalu bagaimana denganskating?"
Yuri berhenti sejenak dan menatap Oikawa.Apakah skating menyenangkan?Yuri tidak pernah menanyakan hal itu pada dirinya sendiri. Ia sudah lupa kapan terakhir kali berpikir kalauskatingitu menyenangkan, yang ia ingat selama beberapa tahun kebelakang ia hanya mengejar kemenangan tanpa henti di duniaskating. Ia juga baru sadar, kenapa ia bisa menjawab voli menyenangkan dengan sangat mudah.
Terlihat senyuman yang tipis sekali, hampir tidak terlihat di bibir Oikawa ketika melihat Yuri kebingungan sendiri.
"Jika kau berpikir voli danskatingsama-sama menyenangkan, yahh ku pikir kau bisa melakukan keduanya, atau memilih salah satunya. Yang penting kau senang kan?" katanya.
Yuri masih tidak membalasnya, untuk satu dan lain alasan Oikawa mungkin mengerti perasaan Yuri.
"Kalau begitu kami akan pulang, sampaikan salamku pada si cebol itu, dan terima kasih untuk hari ini. Berikan salam Takeru!" Ujar Oikawa.
" Terima kasih Onee-chan.."
Oikawa melambaikan tangannya lalu berbalik menggandeng tangan Takeru.
"Oikawa-san!" Panggil Yuri. Oikawa menoleh. " Aku senang berbicara dengan mu, aku merasa aku akan bertemu dengan mu lagi suatu saat nanti." Yuri membungkukan badannya. Berterima kasih atas obrolan yang menyenangkan, dan juga nasihat yang membuat Yuri menyadari sesuatu.
...
Setelah mengantarkan Takeru ke rumah kakak nya, Oikawa kembali ke rumahnya sendiri. Sebenarnya masih banyak hal yang harus ia persiapkan sebelum pergi ke Argentina. Sialan pikirnya, ia baru saja memulai langkah pertamanya untuk menjadi seorang atlet profesional. Kemudian tiba-tiba saja hari ini dengan sangatrandomia bertemu dengan salah satu anggota tim voli putri Karasuno yang merupakan seorang atletskating. European Championship dan Grand Prix apalah itu Oikawa tidak begitu mengerti. Tapi mendapatkan medali kejuaraan tingkat dunia di usia semuda itu membuat Oikawa gemas.
Ketika mendengar Yuri sedang vakum padahal lehernya sudah sembuh ia sedikit terkejut. Tiba-tiba saja sesuatu terlintas di kepala Oikawa. Lalu ketika ia sampai di kamarnya, ia menyalakan komputer nya dan mencari tahu tentang Hanyu Yuria di internet. Jika ia memenangkan medali seharusnya ada berita tentang nya.
"Hoo, dia terkenal." komentar Oikawa begitu ia melihat banyak berita tentang Yuri.
Sebuah berita di bagikan baru-baru ini. Sebuah foto beberapa tim voli putri dan tim voli putra di kamp pelatihan SMA menjadi foto utama di berita itu. Oikawa terkejut karena melihat rambut oranye terang Hinata dan juga wajah Tobio yang menyebalkan ada di dalam foto itu. Tidak hanya mereka berdua, tapi tim-tim SMA besar di Tokyo bersama alumninya ada disana juga, dengan wajah seseorang yang di perbesar di sisi foto. Wajah Yuri. Judul berita utama itu :TERLIHAT BERGABUNG DENGAN TIM VOLI SMA DI JEPANG, APAKAH HANYU YURIA AKAN PINDAH CABANG OLAHRAGA?
"Ini gila!" Gumam Oikawa. Ia membaca berita itu dan baru sadar ini adalah kamp pelatihan yang di ceritakan Yuri tadi. Ia sadar jadi itu sebabnya kenapa Yuri tampak terkejut ketika Oikawa mengenal dirinya. Mungkin karena berita ini.
"... Setelah hampir satu tahun menghilang semenjak cidera lehernya dan juga skandal histerianya di Junior Grand Prix 2012 Yuria Hanyu terlihat sedang berada di Jepang tempat kelahiran ayah nya... "
Oikawa masih mbaca berita itu.
'Histeria?' pikirnya.
Maka seperti teman-teman Yuri yang lain, yang mencari tahu tentang dirinya. Oikawa dibawa pada berita-berita lama tentang Yuri yang kalah di Grand Prix Junior dan menangis histeris karena gagal mendapatkan medali emas meskipun sudah mendaratkan4 quaddishortprogramnya. Itu juga membawa Oikawa pada berita-berita lain tantang pelatih nya yang sangat keras dan juga cidera leher yang di alami Yuri.
"Kacau sekali." Komentar nya.
Hal ini menjelaskan sikap canggung Yuri saat dia ditanya tentangskating.Seorangfigure skateryang gagal mendapatkan medali emas. Oikawa tahu perasaan itu. Ia juga kalah dari Ushijima diInter Highmusim lalu, dan juga kalah pada Karasuno di kualifikasi Turnamen musim semi. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada menempati posisi kedua. Begitu dekat dengan kemenangan namun gagal. Demi Tuhan, semua orang tahu ia yang paling berusaha keras memastikan tim nya untuk menang. Tapi tetap saja usahanya dan teman-temannya tidak cukup. Bahkan seorang pria sepertinya dan juga Iwaizumi menangis setelah gagal di pertandingan SMA terakhir mereka. Tidak aneh jika Yuri menangis histeris setelah gagal memenangkan medali emas di kejuaraan dunia. Patah hati yang paling menyakitkan bagi seorang atlet.
Sebuah kemenangan tidak di dapatkan dengan sekali latihan. Tidak juga di dapatkan dengan keberuntungan. Melainkan di dapatkan setelah ratusan kali latihan, puluhan kali cidera, memar dan juga otot yang nyeri. Puluhan kali menangis karena gagal. Jika kau berpikir ini patah hati seorang atlet sama seperti patah hati karena kekasih, tentu saja itu sebuah kesalahan besar.
Patah hati para atlet berbeda dengan patah hati orang-orang biasa. Patah hati mereka itu, seperti Oikawa yang tidak bisa membawa timnya menuju ke Nasional, seperti Kageyama disaat rekan se-tim SMP nya tidak mau mengambil umpan darinya, seperti Suga yang menyerahkan posisi setter utama pada adik tingkatnya, seperti Asahi yang tidak bisa menembus dinding besi Dateko, seperti Daichi yang sadar jika Senpainya sudah menyerah, Seperti Hinata yang mengalami kekalahan di turnamen pertamanya di SMP.
Seperti Akira yang iri dengan kehebatan Kageyama, seperti Mao yang gagal menjadi libero terbaik, seperti Rinkou yang gagal untuk memberikan performa terbaik nya diInter Highmusim lalu, Seperti Ukai-san yang hanya menjadisettercadangan sepanjang karir volinya, seperti Miyama-san yang terpaksa pensiun karena cidera, dan juga seperti Yuri yang gagal mendapatkan medali emas.
Tidak peduli jika mereka hanya atlet voli tingkat SMA atau atletskatingtingkat dunia. Setiap atlet pasti memiliki momen dimana mereka ingin menyerah. Beberapa berhenti mengejar mimpinya dan mencari mimpi yang lain. Namun beberapa yang lainnya juga ada yang cukup gila untuk tetap meraih mencari kemenangan meskipun mereka tidak pernah lolos ke Nasional, meskipun mereka tidak mendapatkan medali emas.
