DISCLAIMER
Haikyuu! is belongs to Haruichi Furudate
THE RISE : Karasuno Female Volley Ball Club
©Longlive Author
Pagi itu Yuri, menatap dirinya sendiri di cermin. Membenarkan dasi pita berwarna merah yang melingkar di lehernya. Hari ini ia mulai memakai pakaian musim panasnya, karena cuaca sudah mulai tidak tertahankan. Kemeja putih, rok rempel berwarna gelap, dan juga kaos kaki pendek. Ia tidak begitu memperhatikan ini sebelumnya, tapi ia menyukai seragam sekolahnya. Ia tidak pernah merasakan sekolah reguler sebelumnya. Ia tersenyum sendiri di cermin. Hatinya ringan.
Pertama kalinya dalam dua tahun hatinya terasa ringan. Tidak lain dan tidak bukan karena pembicaraannya dengan Oikawa-san dua hari yang lalu.
'Apa menurutmu voli menyenangkan?'
'Ya, aku pikir voli menyenangkan.'
'Lalu bagaimana dengan skating?'
Yuri bertanya-tanya bagaimana orang yang baru ia kenal dan ia temui hanya satu kali seumur hidupnya bisa membuatnya sadar akan sesuatu yang sangat penting bagi Yuri. Rasanya seperti memiliki kotak yang tidak sengaja terkunci selama bertahun-tahun, lalu tiba-tiba ada orang asing yang membawa kunci untuk membuka kotak itu.
'Lalu bagaimana dengan skating?'
Pertanyaan itu tengiang-ngiang di kepalanya seperti kaset rusak sejak ia berpisah dengan Oikawa-san.Sialan sekali, pertanyaan dari Oikawa-san telah membuatnya berkontemplasi begitu dalam dan kini ia sadar jika ia terlalu mengejar kemenangan dan posisi nomor satu hingga membenciskating,setiap kali tidak mendapatkan juara satu, justru ia semakin jauh dariskating. Ia memang masih marah pada ibu dan pelatihnya yang membuatnya seperti ini selama bertahun-tahun. Ia masih marah dengan semua latihan, dengan semua cidera, dan semua ambisi tidak sehat yang ia dapatkan dari mereka. Tapi setidaknya ia sadar sekarang, dan mungkin, ayahnya dan kakaknya sudah sadar itu lebih dulu daripada Yuri. Mereka memberikan jalan untuk Yuri pergi dari ibu dan juga pelatih lamanya dengan mencarikan pelatih baru untuknya. Harapannya padaskatingyang sudah patah kembali tumbuh.
Yuri mengambil ponselnya dan membukainstagramnya. Sampai saat ini, meskipun foto yang di posting oleh Miyama-san sudah di hapus, komentar-komentar baru di akunnya masih ada. Mereka yang bertanya-tanya dimana Yuri sekarang, mereka yang menyayangkan Yuri menjadi siswa biasa dan ikut klub voli sekarang, mereka yang berharap Yuri kembali ke duniaskating.
'Semuanya! Aku akan kembali, tapi ada yang harus ku lakukan lebih dulu sekarang.'
"Yuri!, cepat turun kau akan ketinggalan bus!" Neneknya sudah memanggilnya.
"Ya!" Teriak Yuri.
Ia mengambil tasnya dan membereskan kamarnya sedikit. Tepat ketika ia mau menutup lemarinya, ia melihat sepatuskatingyang ia pakai kemarin masih ada disana, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun ia tersenyum melihat sepatuskatingnya lagi.
"Obaa-sanaku bawa onigirinya saja ya!" Ujar Yuri.
Kakeknya sedang membaca koran, dan Ivan duduk disana sambil memakan nasi dan juga salmon panggang. Kakak adik itu bertemu mata, sejak ia datang, Yuri selalu mengabaikannya, namun setelah pembicaraannya dengan Oikawa-san diam-diam ia bersyukur kakaknya itu datang ke Jepang. Dua hari lagi Ivan akan pergi ke Fujioka untuksky diving.
"Ittekimasu!" Ujar Yuri.
Sekilas, dan hanya sepersekian detik Ivan melihat adiknya itu tersenyum padanya. Daging salmon yang ia ambil dengan sumpitnya jatuh ke atas nasi. Tidak percaya akan apa yang ia lihat. Apa yang menyambar Yuri hingga ia tersenyum padanya setelah mengabaikannya selama itu?
"Itterashaiii..."Balas kakeknya.
...
Seperti membuka lembaran kertas baru, langkah Yuri lebih ringan dari hari-hari sebelumnya. Semua warna yang ia lihat terasa lebih cerah dimatanya, dan setiap suara yang ia dengar terasa lebih jelas di telinganya. Apakah ini rasanya,move on?
Begitu juga saat ia latihan di sore harinya, ketika pulang sekolah. Tanpa sadar Yuri bersenandung lagu-lagupopkesukaannya saat berganti baju di ruang klub.
"Moodmu bagus hari ini? Apa kau tidur selama dua belas jam semalam?" Tanya Akira yang juga baru selesai ganti baju.
"Bicaramu melantur Akira, aku tidak mengerti." Balas Yuri, masih denganmoodyang bagus.
"Moodmu selalu jelek ketika kurang tidur, dan bagus setiap bangun dari tidur siang." Jelas Akira.
"Aku biasa saja." Balasnya.
Apanya yang biasa saja? Siapapun bisa lihat jika Yuri lebih bersemangat dari biasanya. Mereka pergi ke gelanggang bersama-sama. Tim putra sudah melakukan pemanasan duluan. Namun anehnya, untuk suatu alasan, Ukai-san, Miyama-san, dan juga Takeda sensei ada disana.
"Ayo tim putri mulai pemanasan! Kalau tidak, lapangan akan dikuasai oleh tim putra!" Teriak Miyama-san dari pinggir net.
"YOSHAAA!" Para tim putri berteriak semangat.
"Yuri," panggil Miyama-san. Yuri berhenti berlari.
"Bisa aku berbicara denganmu sebentar?" Tanya Miyama-san tiba-tiba. Takeda Sensei pun ada disana menatapnya.Ah...ini pasti tentang Ivan yang datang menemui Takeda Sensei tempo hari.
"Ya, tentu saja."
Miyama-san, Yuri, di ikuti dengan Takeda Sensei meninggalkan gelanggang. Tim putri yang melihat itu saling memandang satu sama lain.
Miyama-san dan juga Takeda Sensei membawanya keluar gelanggang. Wajah mereka berdua terlihat suram dan serius. Ia jadi tidak enak, ini semua gara-gara kakaknya yang menyebalkan itu.
"Yuri, ada hal yang ingin aku sampaikan." Takeda Sensei yang merupakan penanggung jawab tim voli berinisiatif untuk membuka pembicaraan yang sensitif ini. Ia akan berusaha berhati-hati untuk mengkomunikasikan ini dengan Yuri.
"Jadi, begini—uh.." Takeda Sensei berusaha mengatur kata-katanya.
"Ini tentang kakak ku yang datang ke sekolah kan, Sensei?" Sambit Yuri. Baik Miyama-san dan juga Takeda Sensei terkejut.
"Ermm, kau tahu?" Tanya Takeda Sensei. Yuri mengangguk.
"Aku sudah tahu," katanya, "aku sudah tahu tentang ayah ku yang mencari pelatih baru, dan memintaku kembali keFigure Skatinguntuk melakukansenior debut."
"Yuri, dengarkan aku, akan ku pastikan jika aku dan kami semua akan menghargai semua keputusanmu." Ujar Takeda Sensei. Miyama-san mengangguk dan menyentuh pundak Yuri.
"Kita semua tahu apa yang terjadi padamu dua tahun yang lalu, dan ini memang sangat berat jika kau kembali ke duniaskating.Kau adalah pemain yang berharga dan berpotensi di Voli. Tapi jika kau ingin kembali keskating,kami akan selalu mendukungmu, aku yakin anak-anak akan mengerti." Ujar Miyama-san.
Yuri menatap keduanya, pelatih nya dan juga penanggung jawab tim voli nya. Ada sedikit perasaan haru yang ia rasakan. Ia lupa kapan terakhir kali pelatih nya berbicara selembut ini dan sepengertian ini padanya. Ia semakin bersyukur datang ke Jepang dan masuk ke sekolah ini. Itu adalah keputusan paling tepat yang pernah ia lakukan.
"Aku memang berencana kembali ke duniaskating,Sensei." Gumam Yuri, tanpa mengetahui seseorang menguping pembicaraan mereka.
...
Yuri, Miyama-san, dan juga Takeda Sensei kembali ke gelanggang beberapa menit kemudian. Yuri yang sedang bersemangat dan juga berbunga-bunga tidak sadar jika wajah timnya berubah menjadi muram setelah mereka menguping pembicaraannya dengan Miyama-san dan Takeda Sensei.
"Coach, boleh kita latihan sambil mendengarkan musik?" Pinta Yuri tiba-tiba setelah ia melakukan pemanasan.
"Yah, tentu saja." Jawab Miyama-san, dengan segera Yuri secara spesifik memberikan Yamada, manajer mereka,playlistkhusus lagu-lagu favoritnya.
"Hei, apa menurutmu ini latihan terakhir Yuri?" Tanya Misaki berbisik.
"Iya, rasanya ia seperti melakukan hal-hal yang menyenangkan sebelum meninggalkan klub voli," Kata Mao, "apa menurutmu Yuri akan mentraktir kita Yakisoba dan mengumumkan kalau dia akan keluar dari keluar dari tim voli?" tanya Mao lagi.
"Jangan mengatakan itu seolah-olah Yuri akan mati, kau bodoh!" Akira menjitak kepala Mao. Meski begitu, Akira pun merasa berat hati mengetahui rekan nya itu akan meninggalkan tim dan kembali kefigure skating.
"Oke kita mulai latihannya!" Kata Yuri ceria.
'Cause I'm a real tough kid, I can handle my shit
They said, "Babe, you gotta fake it 'til you make it" and I did
Lights, camera, bitch smile, even when you wanna die
He said he'd love me all his life
Musik bergema dengan keras di seluruh gelanggang. Menyenangkan sekali rasanya. Bahkan lengan Yuri tidak terasa pegal setelah memukul berkali-kali.
I'm so depressed, I act like it's my birthday every day
I'm so obsessed with him but he avoids me like the plague
I cry a lot but I am so productive, it's an art
You know you're good when you can even do it
With a broken heart
Namun berbeda bagi rekan-rekan satu tim nya. Di samping lagu-lagu yang di perdengarkan sangat menyenangkan, mereka terlihat muram, mengetahui ini mungkin saja latihan terakhir mereka bersama Yuri, padahal mereka baru akan memasukiInter High,kurang dari satu bulan.
Satu jam kemudian, badan Yuri sudah dipenuhi dengan keringat. Wajahnya panas sekali, ia ingin membasuhnya dengan air dingin.
"Aku akanbreakdulu sebentar." Ujar Yuri. Ia melenggang pergi keluar gelanggang menuju wastafel yang berada tak jauh dari gelanggang.
Hinata yang melihat Yuri pergi keluar dari seberang lapangan mengikutinya keluar. Ia juga sedangbreak.Tidak di pungkiri, ketika Misaki menguping pembicaraan Miyama-san, Takeda Sensei, dan juga Yuri, ia memberi tahu tim putri dengan suara yang cukup keras. Hingga tim putra juga mendengarnya.
Ia melihat Yuri dari kejauhan sedang membasuh wajahnya dan juga minum dari wastafel. Ia mendekatinya.
"Yuri, apa benar kau akan kembali keskatingdan berhenti dari voli?" Tanya Hinata begitu ia sampai disana.
Yuri yang sedang minum ditap waterlangsung tersedak.
"Ohok.. Ohok..Hinata? Siapa yang mengatakan itu?" Yuri menepuk-nepuk dadanya. Terkejut tiba-tiba di tanya seperti itu oleh Hinata.
"Mereka semua bicara seperti itu di dalam? Takeda sensei dan Miyama-san memanggilmu tadi, apa benar kau akan kembali keskating?" tanya Hinata. Ia menyandarkan badannya ke wastafel.
"Soal aku yang kembali keskating... Itu benar." Kata Yuri.
Wajah Hinata yang tadinya biasa saja, menjadi sedikit terkejut ketika mendengar itu langsung dari mulut Yuri. Ekspresi nya campuran antara kesal dan kecewa.
"Sayang sekali," Gumam Hinata pelan. Yuri menatapnya.
Hinata belum tahu rasanya menjadi atlet sungguhan. Sekali-kalinya ia memenangkan medali adalah di pertandingan kualifikasi turnamen musim semi tahun lali ketika mereka berhasil mengalahkan Shiratorizawa. Itu adalah salah satu momen kemenangan terbaik bagi Hinata. Tapi Yuri, levelnya jauh diatas Hinata sebagai seorang atlet di bidangnya. Ia sudah meluncur di atas es sejak umur empat tahun. Sudah banyak pertandingan yang dia ikuti, juga sudah banyak medali yang ia dapatkan. Hinata dan Yuri hanya di pertemukan dalam satu latih tanding, namun Hinata tahu jika Yuri akan menjadi pemain yang berpotensi dalam voli. Mendengarnya akan meninggalkan voli cukup mengecewakan bagi Hinata. Tapi jika dia ada di posisi Yuri, memilih antara voli dan olah raga lain yang baru ia bisa, meskipun ia berpotensi, Hinata juga alam tetap memilih Voli. Itu mengapa Hinata mengerti jika Yuri akan tetap memilihskatingdi bandingkan voli.
"...tapi baguslah jika kau kembali keskating," Hinata tersenyum, "kapan-kapan aku akan menonton pertandingan mu." Ujarnya.
Yuri, menatap Hinata bingung, tidak tahu apa yang dia pikirkan.
"Tapi tidak sekarang Hinata." Kata Yuri.
Ekspresi Hinata berubah, ia juga ikut bingung.
"Aku memang memutuskan untuk kembali ke duniaskating, tapi tidak sekarang, aku akan menundasenior debutku sampai tahun depan. Maksudku, aku sudah terjatuh, kenaheadshothingga hidungku mimisan, naik turunheart break's hillsampai lututku gemetar, dan semua latihan monster dari Miyama-san. Lalu kalian berpikir aku akan berhenti begtu saja?" tanya Yuri.
"Ya ampun, aku tidak habis pikir." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajah Hinata berubah cerah.
Lalu ia berlari kembali ke gelanggang meninggalkan Yuri dengan cepat seperti orang di kejar anjing.
"SEMUANYAAA... YURI TIDAK AKAN KELUAR DARI VOLI!" Hinata berteriak dari pintu gelanggang. Menyita perhatian semua orang.
Tim putri yang terlihat bingung awalnya, kemudian mereka tersenyum lebar. Tak lama Yuri muncul dari balik punggung Hinata. Ikut tersenyum.
"Siapa yang menyebarkan rumor yang tidak-tidak?" Ujarnya. Yuri berjalan ke arah tim nya.
"Aku tidak akan keluar dari voli, siapa yang mengatakan itu. Pantas saja kalian bersikap aneh hari ini?" Ujar Yuri, ia berkacak pinggang.
"Tapi aku mendengar kau bicara dengan Miyama-san tadi, sungguh." Kata Misaki. Ia tengah mengapit dua bola di tangan kanan dan kirinya.
"Oh jadi kau biang keroknya?" Yuri mencubit kedua pipi Misaki hingga memerah.
"Kau bilang kau akan kembali keskating!" Misaki yakin tidak salah dengar, meskipun ia sering mendengarkan musik dengan kencang tapi ia yakin kalau pendengarannya masih bagus.
"Itu benar," Yuri melepaskan tangannya dari pipi Misaki.Wing spikeritu mengaduh kesakitan. "Tapi tidak sekarang, aku akan menunda sebut senior ku sampai tahun depan. Jadi jangan harap kalian bisa bermain di Inter High dan Spring High tanpa aku ya, enak saja. Makanya kalau menguping, pastikan kau menguping sampai selesai, Misaki bodoh!" Jelasnya.
[Flashback]
"Aku memang berencana kembali ke dunia skating, Sensei." Gumam Yuri
"Tapi, tidak sekarang, aku akan menunda senior debutku hingga tahun depan. Aku tidak akan meninggalkan begitu saja apa yang sudah aku mulai, Coach, untuk saat ini aku akan tetap berada di club."
[Flashback End]
Lalu mereka tertawa. Akira bernapas lega, ia diam-diam sangat bersyukur karena Yuri tidak keluar dari tim voli seperti yang mereka kira.
"Dasar kau ini bikin khawatir saja bodoh! Kau bersikap aneh selama seminggu kebelakang." Rinkou menjitak kepala Yuri. Misaki terkekeh melihat itu.
"Maafkan aku semuanya, aku membuat kalian khawatir." Yuri membungkukan badannya.
"Saat Miyama-san memposting foto kita semua di Instagram dan melihat komentar-komentar itu, lalu kejadian wartawan yang mencariku hingga ke sekolah, sejujurnya membuat kudownuntuk beberapa waktu." Mereka mendengarkan Yuri.
"Sudah seperti itu sejak dulu, aku sudah sadar sekarang, tidak ada gunanya menghindari itu. Yang terjadi sudah terjadi, aku kalah di Grand Prix dua tahun lalu, dan gagal memenangkan medali emas, aku terlalu terpuruk hingga membuat leherku cidera. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Kita semua harusmove on,kan?"
Ya,sudah saatnya Yuri meninggalkan, masa-masa terpuruknya. Percuma saja ia jauh-jauh pergi ke Jepang, mencari teman baru, sekolah baru, dan juga klub baru jika ia tidak bisamove on. Ia tidak tahu apa jadinya ketika nanti dia kembali ke duniaskating, tapi bergabung dengan klub voli, latihan bersama mereka semua, itu membuat Yuri senang. Itu yang Yuri lupakan. Bermain voli bersama teman-teman nya itu menyenangkan. Ia sudah terlalu lama meluncur di atas es sendirian, mengejar medali emas, hingga ia lupa jika dulu sekali ia pernah begitu bahagia meluncur di atas es. Pembicaraan dengan Oikawa-san menyadarkan nya kembali. Sadar kalau jikaskatingitu harusnya menyenangkan. Seperti voli membuatnya senang.
Yuri tersenyum, ia bersyukur datang kemari. Ia kembali menemukan sesuatu yang hilang dari dirinya. Yaitu kebahagiaan menjadi seorang atlet. Aneh tapi nyata, mungkin bergabung dengan klub voli ini menyembuhkan patah hatinya terhadap duniaskating.
"Wah, Yuri sudah dewasa ya.." Komentar Akira.
"Diam kau Akira kau lebih muda dariku ya!" timpal Yuri. Kemudian mereka tertawa.
Tanpa sadar, tim putra yang melihat mereka tertawa juga ikut lega. Hinata terutama, ia senang karena ia bertanya pada Yuri hingga mereka tidak salah paham lebih jauh.
"Hei! Nanti ayo kita jajan dulu sebelum pulang!" teriak Hinata, mengajak tim putri.
"Enoshita-san mau mentraktir bakpau daging!" Lanjutnya.
"Hinata!" sebuah tembakan bola dari sang Kapten putra tepat di kepala Hinata yang berbicara asal-asalan.
Meski begitu, Enoshita tetap mentraktir semua orang ketika pulang sekolah, mereka memborong bakpau daging di toko Sakanoshita, tokonyaCoachUkai. Rinkou sebenarnya sudah menolak dan mengatakan kalau dia yang akan mentraktir tim putri, tapi Enoshita menolak dan tetap membayar semuanya. Tanaka dan Nishinoya bilang kalau Enoshita itu tajir dan rajin menabung jadi tidak apa-apa sesekali memeras Kapten Enoshita yang berakhir dengan dua jitakan keras di kepala mereka.
Sore itu toko Ukai-san ramai dengan klub voli yang berkumpul disana sebelum matahari tenggelam.
"Oh Kageyama, aku bertemu dengan Oikawa-san." Gumam Yuri tiba-tiba, ia jadi ingat pembicaraannya dengan Oikawa saat melihat wajah Kageyama.
"Hah? Apa? Bagaimana bisa?" tanya Kageyama. Jelas sekali kalau dia tertarik.
"Entahlah, itu sangatrandom." Yuri mengunyah bakpau nya. "Kami bertemu di Gelanggang Es Sendai, aku... sedang mencobaskatinglagi dan kami bertemu, dia sedang menemani keponakannya untuk pengenalan bakat atau apalah itu, dan dia bilang dia kakak tingkat mu di SMP." Jelasnya.
"Kenapa dia mengatakan itu padamu?" tanya Kageyama.
"Kau cemburu?" celetuk Yuri.
"T-tentu saja tidak." Tukasnya, sedikit salah tingkah. Yuri memandang Kageyama aneh. Apa ada sesuatu di antara mereka?
"Seseorang hampir menabrak keponakannya, aku menyelamatkan nya, jadi Oikawa-san mengajak ku makan siang, kami hanya ngobrol-ngobrol saja Kageyama jadi tenang saja. Jangan posesif seperti itu." Kata Yuri.
Kageyama menolehkan wajahnya malas.
"A-apa katanya?" Tanya Kageyama terbata-bata. Yuri tidak tahu hubungan apa yang di miliki mereka berdua, tapi Kageyama bersikap aneh, dia biasanya cuek.
"Apa katanya, apa?" tanya Yuri. Kageyama tampak kesal karena Yuri tidak mengerti dan ia harus mengulang pertanyaan nya.
"Apa dia mengatakan sesuatu tentang ku?" wajah Kageyama merona karena malu.
"Ya, dia mengatakan sesuatu," Kata Yuri, Kageyama tidak bisa menyembunyikan wajah penasarannya.
"Dia bilang kau mengikutinya kemana-mana seperti anak bebek saat SMP."
"Apa?!" teriak Kageyama, membuat beberapa orang menolehkan wajahnya terkejut. Ia terlihat malu.
Yuri pikir, Kageyama itu di anggap keren oleh anak-anak kelas satu, dan cuek, sedikit aneh kalau kata Akira. Tapi berbicara dengannya sekarang, Kageyama ternyata lebih pemalu dan lebih canggung dari yang ia kira.
"Tapi Oikawa-san, bilang kau belajar banyak darinya,"Ujar Yuri lagi. Kageyama memandang Yuri mencari tahu apa Yuri benar-benar jujur atau hanya menggodanya saja.
"Dia juga bilang kau menyebalkan."
"Dia bilang begitu?" Kageyama terkejut. Yuri mengangguk, kemudian hening. Kageyama tidak bicara apa-apa lagi, ia terlihat melamun.
"Tapi kurasa itu pujian." Gumam Yuri. Kageyama menoleh.
Yuri melihat teman-temannya yang juga sedang mengobrol santai sambil menyantap bakpau daging yang di belikan oleh Enoshita-san di depan toko Ukai-san.
"Kalau lawanmu, menganggap mu menyebalkan, itu artinya bagus kan? Kurasa Oikawa-san bukannya tidak suka padamu." Katanya.
Kageyama juga tahu itu, meskipun sedikit menyakitkan untuk di dengar, tapi ia tahu Oikawa-san tidak membencinya. Namun ia cukup terkejut, jika Oikawa-san menganggap menyebalkan karena kemampuannya, Kageyama merasa kalau kemampuannya belum bisa menyamai Oikawa-san. Sampai saat ini ia masih ingin di akui oleh Oikawa.
"Kurasa kau beruntung pernah menjadi adik tingkat Oikawa-san, kau tahu?" Ujar Yuri. Kageyama tidak mengerti.
"Aku tidak tahu dia, dan hanya bertemu dengannya sekali. Kami juga hanya mengobrol sebentar. Tapi dia mengingatkan aku sesuatu yang sudah lama aku lupakan." Yuri menatap Kageyama tepat di kedua mata birunya.
"Dia bertanya padaku, apaskatingjuga menyenangkan seperti voli? Dan aku sadar, kalau selama ini aku lupa jikaskatingitu menyenangkan. Itu alasan kenapa aku memutuskan untuk kembali keskating." Jelasnya.
Kageyama tidak begitu menangkap pembicaraan Yuri, tapi rasanya ia paham. Tahun lalu ia juga membungkuk untuk'meminta pencerahan'dari Oikawa-san. Saat ia menemukan jalan buntu ketika mengembangkan serangan cepatnya dengan Hinata.
'Apa kau sudah memberi si pendek, umpan yang dia inginkan?'
'Jangan salah sangka, bukan kau yang memimpin penyerangan, tapi si pendek.'
Ia ingat, hanya dengan dua kalimat itu, Kageyama sadar apa yang harus ia lakukan, dan Yuri juga sama. Satu pertanyaan dari Oikawa bisa menyadarkannya apa yang ia lupakan selama ini.
"Oikawa-san, meskipun hanya berbeda dua tahun dariku, dia selalu memiliki level yang lebih jauh." Kata Kageyama rancu.
Tapi sepertinya dalam kerancuannya pun Yuri bisa mengerti apa yang Kageyama katakan. Oikawa-san bahkan belum memasuki liga profesional, tapi ia sudah memiliki jiwa atlet yang mungkin lebih bijak dari pada Yuri.
"Hei apa yang sedang kalian bicarakan?" Tiba-tiba Hinata muncul di depan mereka berdua.
"Dasarkepo!"ucap Kageyama ketus.
"Cuma membicarakan Oikawa-san, dia titip salam untukmu." Kata Yuri.
"Hah,Dayoo-sama?" Ujar Hinata, Yuri tidak mengerti apa yang Hinata katakan.
"Ada apa, kenapa kalian membicarakan Oikawa-san? Apa aku ketinggalan sesuatu?"
Yuri melirik Kageyama, seolah mengatakan,'aku serahkan padamu ya!'. Kageyama yang menangkap mengerutkan keningnya.
" Ah sudah gelap, aku mau pulang, kau bisa tanya Kageyama ya. Akira, ayo pulang denganku!"
"Yoiiii!" Teriak Akira. Mereka berdua pun langsung melenggang pergi meninggalkan Kageyama dan Hinata.
"Enoshita-saaan, terima kasih bakpau nyaaa.." Akira dan Yuri melambaikan tangan mereka.
" Hei tunggu, ada apa dengan Oikawa-san? HeiShitty-Yama,ada apa, cepat beritahu aku!"
"Apa kau bilang HinataBoke!"
Plakk!
"Agh..! "
" Hinata! Kageyama! Jangan berisik!"
-dan begitulah klub voli Karasuno mengakhiri sore mereka.
...
[Author's Note]
Yap, that's the chapter. Gila ya, ternyata aku nge-fans sama Oikawa. Damn he's truly an athlete. Mentalnya bagus banget. Dia tuh bener-bener dari nol, murni skill nya karena latihan bertahun-tahun. Dia engga berbakat kayak Ushijima atau Kageyama. He knows really well what it feels like to lose. Tahu rasanya kalah, tahu rasanya gagal, dan tahu rasanya bangkit lagi. So, he's the perfect man to give an advice to these children.
Chapter ini tersinpirasi dari lagu Taylor Swift - I can do it with a broken heart. Dengerin deh, such a national anthem. So yeah, I love all..
