DISCLAIMER
Haikyuu! is belongs to Haruichi Furudate
THE RISE : Karasuno Female Volley Ball Club
©Longlive Author
"Oi Suga!"
"Oi Daichi!"
Lampu remang dari sebuah kedai menerangi jalanan di puncak musim panas. Mantan kapten dan mantan wakil kapten itu, tidak-seorang mahasiswa dan siswa akademi Kepolisian itu bertemu kembali setelah beberapa minggu. Terakhir kali mereka bertemu di kamp pelatihan di Tokyo.
"Ini perasaan ku saja atau kau terlihat lebih besar dari terakhir kali kita bertemu Daichi?" Suga duduk di hadapan Daichi, kemudian mengangkat tangannya untuk memesan segelas bir dan beberapa cemilan.
"Aku sudah resmi menjadi siswa akademi sekarang. Aku tidak bisa membiarkan badanku terlalu lama tanpa latihan." Jawab Daichi mengambil tempura yang ada di piringnya dan melahapnya.
Segelas bir dan sepiring cemilan datang. Tidak disangka, rasanya baru beberapa bulan yang lalu Suga berulang tahun ke delapan belas, dan kini dia sudah cukup umur untuk minum bir.
"Bagaimana di kampus?" tanya Daichi.
"Menyenangkan, pada dasarnya aku belajar untuk mengajar." Jawab Suga.
Rambut keperakan nya memantulkan cahaya remang dari lampu kedai. Ia menyeruput bir nya. Suga masih tidak tahu, apa ia memang benar-benar menyukai bir, atau karena ia baru terbiasa minum bir saja.
"Ahh..." Wajahnya tampak senang di tegukan pertamanya.
"Yang paling tidak ku sangka sampai sekarang adalah Asahi yang mengambil jurusan desainer. Aku tidak tahu dia punya ketertarikan di bidang itu." Kata Suga. Cukup satu tegukan saja sudah membuat pipinya merona.
"Ahahahaha, aku juga tidak tahu, tapi Nishinoya bilang dia pernah melihat buku sketsa milik Asahi, dia bilang Asahi jelas punya bakat di bidang itu." Balas Daichi.
"Apa dia masih mengirim pesan dan mengeluh kalau pelajaran nya susah?" tanya Daichi lagi.
"Masih, dia baru sadar kalau jurusan desainer bukan hanya tentang menggambar, haha" Suga tertawa renyah. Di ikuti Daichi yang juga tertawa.
"Ngomong-ngomong, ketika kita pulang dari kamp pelatihan rasanya Miyama-san, pelatih tim putri itu menandai kita semua di postingan instagram, tapi fotonya sudah di hapus." Ujar Suga.
"Huh? Aku tidak tahu." Balas Daichi, Suga menggulirkan bola matanya.
"Itu karena instagram mu tidak berguna. Kau hanya membuatnya tapi tidak pernah menggunakannya." Kata Suga.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain media sosial." Timpal Daichi.
"Aku juga awalnya tidak sadar tapi, Yaku-san, mantan libero Nekoma itu, sempat mengirim pesan menanyakan tim putri kita yang blasteran Rusia." Jelas Suga.
"Yuri?" Tanya Daichi. Suga mengangguk.
"Yaku-san menyadari kalau banyak komentar berbahasa Inggris dan Rusia. Kau tahu, kami sempat mengobrol, Yaku-san akan melakukantry outuntuk Liga Rusia. Lalu dalam pesannya, Yaku-san bilang kalau Yuri merupakan atletskatingterkenal Rusia."
"Ya, bukannya kita memang sudah tahu kalau Yuri atletskating?" Balas Daichi santai.
"Kau tidak mengerti Daichi, dia itu terkenal, terkenal!" Suga sampai harus mengulangnya.
Kemudian sang mantan kapten itu meraih ponselnya. Membuka instagramnya dan menunjukkan akun instagram Yuri.
Kening Daichi berkerut melihat jumlah followers Yuri yang sampai ratusan ribu, dan juga centang biru yang ada si sebelah username nya.
"Dia bahkan punya laman Wikipedia sendiri. Ketika anak-anak bilang Yuri atlet, ku pikir dia atlet biasa." Suga berkelakar seperti bapak-bapak yang menceritakan anak perempuannya.
"Dengan Miyama-san yang seorangblogger, dan juga atlet seperti Yuri di tim kita, apa kau pikir tim Karasuno akan semakin terkenal?" Suga memicingkan matanya.
"Hmm, tapi Yuri atletskatingbukan voli, jika sudah se terkenal itu, kenapa dia pindah cabang olahraga raga? Bukannya aneh jika namanya sudah sebesar itu di Rusia, tapi dia pindah cabang olahraga dan pindah ke Jepang." Ucapan Daichi masuk akal.
"Entahlah aku tidak mencari tahu sejauh itu. Apa mungkin cidera?" pikir Suga.
"Apapun itu, itu pasti bukan alasan yang ringan." Kata Daichi.
"Kau mungkin benar."
"Mereka bertanding besok ya?"
"Kau benar, mereka mulai bertanding besok."
"Ahh, kangen sekali!"
...
[Sendai City Gymnasium 8.00 AM]
Hari itu merupakan pagi yang cerah dan bagus menyinari gelanggang olah raga Sendai. Semua tim voli tingkat SMA baik putra maupun putri berkumpul disana untuk kualifikasi Inter High. Salah satu turnamen voli tingkat SMA yang paling bergengsi selain turnamen musim semi.
Kualifikasi Inter High tahun ini akan berbeda dari turnamen tahun lalu. Pemain-pemain hebat seperti Oikawa Toruu dari Aoba Johsai dan juga Ushiwaka dari Shiratorizawa sudah lulus. Rumor mengatakan mereka akan bergabung dengan liga profesional segera setelah mereka lulus. Namun sebagai gantinyarookie-rookiebaru bermunculan. Shiratorizawa yang sebelumnya menang dua kali berturut-turut di patahkan oleh juara lama Karasuno tahun lalu dan gagal membawa Ushiwaka ke panggung Nasional untuk terakhir kalinya.
Kini juara bertahan putra di pegang oleh SMA Karasuno, gosip di kalangan tim voli SMA menyebutkan kalau Dateko akan menjadi penantang terkuat tahun ini. Tidak hanya itu, di kubu putri, Sekolah Putri Niiyama sudah menjadi juara bertahan selama tiga tahun, belum ada yang mampu menyabet tiket nasional dari mereka. Akankah sejarah baru terukir tahun ini?
Seiring dengan riuh rendah gosip yang terdengar digymnasiumSendai pagi itu. Sebuah bus sekolah memasuki gerbang areagymnasium. Sebuah bus besar bertuliskanKarasuno VBC. Para tim yang masih berada di luar gedung, menghentikan aktifitas mereka. Para gagak Karasuno, sang juara musim lalu, peringkat delapan tim voli putra di Nasional. Mereka sudah tiba.
Bus berhenti di area parkir. Mereka penasaran, terutama anak-anak kelas satu yang baru bergabung dengan tim voli SMA dari masing-masing sekolah. Mereka ingin tahu tim yang berhasil mengalahkan Ushiwaka tahun lalu. Kini nama Karasuno kembali harum, tidak ada yang berani memanggil mereka'gagak yang tidak terbang' lagi. Mereka adalah salah satu lawan terkuat di turnamen.
"YUHUUUU!"
"Kami kembali, Sendai Gymnasium, KORAAAAA!"
Begitu pintu dibuka, Tanaka Ryu,wing spikermematikan Karasuno, dan juga Nishinoya Yuu, Libero nomor satu, dua tahun lalu, langsung melompat keluar berteriak dengan semangat. Lalu setelah itu di ikuti dengan Kapten Enoshita, Narita, dan Kinoshita.
"Kau masih mual juga? Dasar bego! Sudah berapa kali kau naik bus seperti ini, masih saja mual." Kageyama berkelakar turun dari bus.
"Namanya juga mabuk darat bagaimana bisa aku menahannya?" Tanya Hinata yang berada di belakangnya. Wajahnya pucat pasi dan keningnya basah karena keringat dingin.
'Itu mereka!'
'Itu Kageyama Tobio, kan? Kandidat timnas muda tahun ini.'
'Itu Karasuno no 10!'
Bisik-bisik rendah di lorong pintu masuk terdengar ketika mereka berdua turun. Bintang baru dunia voli SMA yang menjadi sorotan tahun lalu.
Lalu tak lama kemudian para kelas satu putra turun, Shun, Yuji, dan yang lainnya. Rookiekelas satu yang di nantikan menjadi senjata kuat Karasuno, dan yang terakhir Tsukishima dan Yamaguchi. Orang yang berhasil mengadang bola dari Ushiwaka dan jugaJump Floateryang mencetak lima angka berturut turut saat melawan Shiratorizawa. Semua pandangan mengarah pada mereka.
Namun yang di tunggu tidak hanya itu, tim Karasuno terkenal dengan manajer mereka yang cantik. Namun setelah mengetahui Shimizu-san yang sudah lulus, kini mereka menantikan asisten manajer tahun lalu yang kini menjadi manajer tahun utama. Yachi Hitoka.
"Yachi-san sini aku bantu." Alih-alih seorang manajer perempuan yang turun dari bus. Namun seorang laki-laki tampan bertubuh tinggi turun duluan dari bus dan mengulurkan tangannya. Yachi meraih tangan Yamada dan membantunya melompat dari tangga bus yang cukup tinggi.
'Siapa dia?'
'Apa dia manajer baru Karasuno?'
'Ya ampun siapa itu? Tampan sekali, apa itu pemain baru Karasuno?'
Kembali bisik-bisik meramaikan lorong pintu masukgymnasium, terutama dari tim putri dan juga para pendukung yang datang.
Tapi tidak berhenti disana. Yamada berdiri di sebelah pintu masuk menunggu orang lain keluar. Jika di pikir-pikir, semua pemain tim putra Karasuno sudah keluar, tapi bus mereka terlalu besar untuk satu tim. Mereka penasaran, bersama siapa mereka datang?
"Terima kasih Yamada-kun!" Ujar Yachi yang langsung disambut oleh Tanaka dan Nishinoya untuk membantunya membawa barang-barang manajer.
"Coach, biar ku bantu."
"Terima kasih Yamada-kun."
Seorang pelatih wanita cantik turun dari bus, di bantu oleh Yamada agar tidak terjatuh dari pijakan bus.
"Kalian hati-hati ya, pijakan bus nya cukup tinggi." Teriak Takeda Sensei. Ia di ikuti dengan pelatih Ukai turun dari bus. Yamada masih berdiri disana. Lalu ini dia yang mereka tunggu, yang datang bersama tim putra Karasuno tidak lain adalah tim putri Karasuno sendiri.
Mao turun duluan dari bus, menangkap tangan Yamada, karena ia bertubuh cukup pendek.
"Terima kasih Yamada-san."
Tak lama kemudian Misaki turun dengan melompat.
"Hati-hati Misaki, kau bisa terkilir." Kata Yamada.
"Aku superr semangaaat sekaliii hari ini!" teriaknya.
"Kita punyajellytidak Yamada-san? aku rasanya lapar lagi." Di susul Akira yang meraih tangan Yamada.
"Ada di tas, nanti aku ambilkan." Katanya.
"Terima kasih Yamada-san." Balas Akira.
"Yuri perhatikan langkahmu!" Yuri muncul di belakang Akira, Yamada harus menangkap tangan Yuri, karena tampaknya ia tertidur selama perjalanan. Jadinya wajahnya masih terlihat mengantuk dan tidak melihat dengan jelas.
"Terima kasih Yamada." Kata Yuri menguap.
Lalu yang terakhir, Sang Kapten dan anggota kelas tiga nya turun paling belakang.
"Terima kasih Yamada-kun." Ujar Rinkou.
Tanaka dan Nishinoya yang berjalan paling depan sempat bingung mengapa orang-orang di depan gedung menatap kearah mereka. Namun akhirnya mereka sadar jika mereka, terutama para gadis menatap ke arah Yamada yang membantu tim putri turun dari bus. Sebuah adegan manis yang di tunjukan oleh manajer putra Karasuno ternyata begitu mencuri perhatian orang-orang sekitar.
"Sialaaan, anak itu satu benar-benargentleman." Ujar Tanaka berkaca-kaca, entah karena ia kalah cepat dari Yamada, atau dia bangga padanya.
Tim putra dan tim putri Karasuno telah tiba. Mereka semua memakai jaket hitam khas Karasuno. Berjalan beriringan masuk ke dalam gedungSendai City Gymnasium. Rupanya, aura juara bertahan tahun lalu di barengi dengan tim putri Karasuno yang melengkapi mereka, memancarkan pesonanya tersendiri. Kageyama terlihat begitu serius berjalan sehingga orang-orang berpikir kalau dia tengah bersiap menghabisi lawan pertama mereka kali ini. Padahal, dia hanya sedang bingung kenapa semua orang menatap mereka. Di sisi lain Hinata sedang mengobrol dengan anak-anak kelas satu tentang pengalaman pertamanya memasuki saat pertama kali turnamen.
"Woah, aku benar-benar baru tahu ada kacamata khusus untuk olah raga seperti voli." Ujar Yuri melihat kacamata milik Tsukishima.
"Yeah memang mirip seperti kaca matadiving, tapi ini tidak terlalu besar. Malah sebenarnya kacamata yang di gunakan Tsukishima-san itu model yang cukup baru." Balas Akira.
"Oh begitu," Yuri hanya ber-ohria.
"Bisakah kalian tidak bergosip tentang kacamataku." Gumam Tsukishima malas. Kedua anak itu benar-benar membicarakan dirinya tepat di belakang telinga Tsukishima.
"Pfft.." Yamaguchi berusaha menahan tawanya.
Sepanjang koridor hingga aula orang-orang memperhatikan mereka. Mereka tidak tahu jika Karasuno memiliki tim putri, wajar saja karena tahun kemarin tim putri Karasuno bahkan tidak lolos di putaran pertama. Tahun ini tim putri Karasuno yang baru sudah menyiapkan diri mereka sebaik mungkin.
"Oh Hinata!"
Tiba-tiba mereka mendengar seseorang di antara kerumunan memanggil nama Hinata. Pemuda berambut oranye itu menolehkan kepalanya mencari-cari siapa yang memanggilnya. Lalu ia mendapati seorang pemuda tinggi mengenakan jaket berwarna hijau menghampirinya.
"Kogane!"
Anak-anak juga ikut berbalik melihat siapa yang memanggil Hinata. Koganegawa,settertinggi dari Date Kogyo itu berlari sambil melompat-lompat seperti anak anjing raksasa. Hinata menyambutnya dengan tidak kalah heboh.
"Aku akan mengalahkan kan kalian kali ini!" Ujar Kogane percaya diri. Tim Dateko menyusul di belakangnya.
"Aku juga tidak akan kalah dari kalian tahun ini!" Teriak Hinata semangat, mencuri perhatian semua orang.
Yuri tidak tahu apa yang terjadi tapi ia merasakan aura luar biasa terang bak matahari di antara keduanya. Inilah yang terjadi jika orang yang super positif bertemu dengan orang super positif yang lain.Double beam attack,hampir membuat mata Yuri buta karena atmosfer yang begitu menyilaukan.
"Oh Aone-san!" sapa Hinata, ia membungkukan badannya. Aone berdiri di sebelah Kogane. Dibalas dengan Aone yang membungkukan badannya juga. Futakuchi yang melihat itu membuat ekspresi bingung, ia masih tidak mengerti hubungan apa yang Aone jalin denganmiddle blockerKarasuno itu. Sejak pertama kali Dateko dan Karasuno bertemu di lapangan. Aone dan Hinata berakhir memiliki hubungan yang aneh.
"Oh Aone-san?" Akira muncul dari balik punggung Hinata. Aone terkejut.
"Huh?Ice bear?" Gumam Yuri tanpa berdosa. Tsukishima yang mendengar Yuri memanggil AoneIce beartanpa malu tak kuasa menahan kekehannya. Dasar anak kurang ajar, tidak ada takut.
"Oh ya ampun tidak ada alisnya." Gumam Misaki pelan, dan langsung di jitak oleh Rinkou yang mendengar itu. Mau bagaimana pun juga Aone itu kelas tiga, dan dia adalah pemain andalan Dateko.
"Aone-san, kita bertemu di bus beberapa bulan yang lalu." Ujar Yuri. Gadis itu dan Akira tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Aone berusaha mengingatkannya.
"Huh?" Hinata tidak mengerti apa yang terjadi.
Namun reaksi yang berbeda di tunjukan oleh sisa tim Dateko yang lain. Mereka terlalu terperangah untuk berbicara apapun. Seolah mereka baru menyadari jika ada tim putri Karasuno di antara tim putranya. Belum lagi, dua gadis itu menyapa Aone dengan sangat kasual. Anak kelas satu Dateko saja sampai saat ini masih takut untuk berbicara pada Aone. Sebuah ekspresi horror terpampang jelas di wajah Futakuchi, sang Kapten Dateko.
"Aone?" Futakuchi menoleh ke arah Aone. Pemuda bertubuh besar itu, tersipu. Tersipu?!The Great Iron Walldari Dateko tersipu karena dua gadis Karasuno menyapanya. Aone menganggukkan kepalanya membalas sapaan dari Akira dan Yuri.
'BozheMoy!dia tidak berbicara lagi, mirip sekali Ice Bear.'Pada tingkat ini Yuri benar-benarfangirlingterhadap Aone.
"Eh Yuri, ayo kita lihat papan grup." Ajak Akira tanpa menghiraukan suasana di sekeliling mereka yang masih canggung.
"Ayo."-dan begitulah kedua gadis tanpa ada kesadaran diri meninggalkan mereka. Kadang Yamaguchi merasa kalau tim putri Karasuno itu merupakan sebuah PR. Di satu dan lain hal mereka seperti Kageyama dan Hinata. Yamaguchi merasa simpati pada Rinkou-san.
Sementara itu, Akira dan Yuri melihat papan pembagian grup. Sebenarnya Miyama-san sudah memberitahu mereka dan juga sudah melakukantechnical meetingkemarin. Tapi mereka tidak bisa menahan diri untuk melihatnya lagi. Akhirnya mereka sampai di Inter High.
Keduanya melihat papan grup, ada papan grup tim putra dan papan grup tim putri. Terdapat lebih dari tiga puluh sekolah yang mengikuti turnamen. Ada sedikit beban yang terasa di hati Akira, mengingat tahun lalu tim putri Karasuno tidak berhasil lolos di putaran pertama. Bagaimanapun juga Kageyama benar, meski terdengar arogan,setteradalah orang yang paling berperan untuk melancarkan strategi dalam pertandingan. Diam-diam Akira berdoa agar pertandingan hari ini berjalan lancar.
"Kita berada di grup A, kan?" Kata Yuri.
"Yeah." Balas Akira.
"Ini sekolah putri Niiayama yang sering kalian sebut itu kan?" Yuri menunjuk kolom bertuliskan Niiyama yang berada di grup B. Itu artinya, pun seandainya mereka bisa mengalahkan semua tim di grup A, melawan juara bertahan selama tiga tahun berturut-turut itu tidak bisa di hindarkan.
"Ya, tapi kita tidak perlu memikirkan mereka dulu. Ini lawan kita yang pertama."
Akira menunjuk kolom dari lawan tim putri Karasuno yang pertama.
[SMA Tohoku]
"Ayo Yuri, mereka sudah mau pergi." Kata Akira. Anak-anak yang lainnya sudah akan ke lapangan. Namun alih-alih Yuri tidak bergerak. Wajahnya seperti berpikir. Ini pertandingan voli pertamanya. Dia harap dia tidak mengacau.
"Yuri!" Panggil Akira. Yuri menegadah.
"Semuanya akan baik-baik saja, ayo!" Kata Akira mulai menaiki tangga.
"Oke." Yuri menyusulnya sambil tersenyum. Ya, senyum dan yakin. Itu hal terpenting yang harus mereka lakukan sekarang.
Author Note:
It's so sad beberapa scene sangat susah di buat ilustrasinya karena terlalu rumit :(
Kalau dipikir-pikir, sayang banget ya perjalanan Hinata dkk di skip pas mereka kelas dua dan kelas tiga. Aku sadar beberapa hal setelah nulis chapter ini. Shiratorizawa menurutku cukup ngedrop setelah Ushiwaka lulus, Aoba johsai pun gitu kecuali kalau setter mereka setara Oikawa. Spoiler alert! buat yang belum baca manga nya. Dateko emang pantes sih masuk ke nasional di inter High next year nya karena Dateko emang yang paling kuat di antara sekolah ini. Literally Kogane, Futakuchi, sama Aone masih ada semua. Karasuno juga makin kuat karena begitu mereka lolos nasional jadi incaran Rookie SMP.
Nah kalau sekolah putri Niiyama, ini masih unbeatable sih, karena ada Kanoka di tim nya, spoiler lagi, Kanoka di masa depan akan jadi Ace timna Jepang Putri. So it's getting intresting.
