DISCLAIMER

Haikyuu! is belongs to Haruichi Furudate

THE RISE : Karasuno Female Volley Ball Club

©Longlive Author

Beberapa waktu yang lalu mereka berpisah dengan tim putra. Tim putra Karasuno mendapatkan jadwal tanding jam sepuluh pagi, sedangkan mereka bertanding jam sembilan. Maka dari itu tim putra akan langsung ke tribun untuk menyaksikan pertandingan dari sana.

Di arena satu terdapat tiga lapangan voli. Pagi ini dua lapangan akan di pakai oleh tim putri dan satu lapangan akan di pakai oleh tim putra.

Lapangan 1 : SMA TOHOKU VS SMA KARASUNO

Lapangan 2 : SMK DATE TECH VS SMA OHGIMINAMI

Lapangan 3 : SMA PUTRI NIIYAMA VS SMA OSAKI

"Ruangan ini tercium seperti Mao." Komentar Yuri ketika mereka sampai di lapangan.

"Apa maksudnya seperti ku?" Tanya Mao galak.

"Itu maksudnya baunya seperti salonpas Mao, saat latihan kau beraroma seperti Salonpas." Jawab Akira melepaskan jaketnya.

"Oh.." Mao tidak memungkiri itu, ia memang beraroma seperti salonpas karena saking banyak Koyo yang dia pakai. Saat ini saja setidaknya ada dua koyo menempel di lengannya.

Memasuki lapangan voli dengan penonton seperti ini, merupakan pertama kalinya bagi Yuri. Ia memang pernah menonton pertandingan voli di TV dan juga di internet. Tapi ia tidak pernah menonton pertandingan voli secara langsung. Ia melihat sekelilingnya. Meskipun tiga lapangan voli sudah di satukan dalam satu gelanggang. Tapi arena gelanggang es lebih besar. Hal ini membuat tribun penonton terasa lebih dekat. Ia bisa mendengarnya dengan jelas. Suara penonton, suara bola yang di pukul. Ramai sekali.

"Go..Go..Let's Go..Let's Go Dateko! Go..Go..Let's Go..Let's Go Dateko!"

Di sisi kanan tribun pendukung SMA Dateko sudah menyanyikan yel-yel dengan bersemangat. Di sisi tribun yang lain, sebuah tim sorak dengan kostum berwarna merah dan putih menyemangati tim putri Niiyama yang belum masuk ke lapangan. Yuri mencari-cari pendukung tim putri Karasuno di tribun. Tidak ada dukungan dari sekolah, tidak ada siapapun. Tapi ia menemukan teman-teman tim putranya sudah sampai di tribun dan duduk disana melihat ke arah mereka. Hinata melambaikan tangannya memastikan agar Yuri menyadari kehadiran mereka. Gadis itu melambaikan tangannya.

"Menyedihkan sekali." Komentar Yuri.

"Kenapa?" Tanya Akira.

"Tidak apa-apa, pendukung tim sebelah heboh sekali. Tapi hanya ada mereka untuk mendukung kita." Yuri menunjuk Hinata dan kawan-kawan.

"Memangnya kenapa? Kau gugup?" Akira berkata seperti itu. Di lihat dari ekspresinya ia tidak terlalu peduli jika tim mereka memiliki pendukung atau tidak.

"Tidak, ini hanya ramai sekali. Aku bisa mendengar mereka semua." Jawab Yuri. Ia ikut melepas jaketnya, dan bersiap-siap.

"Aku pikir kau sudah terbiasa, kau kanfigure skatingtop di Rusia." Balas Akira.

"Ketika berkompetisi di atas es, semua penonton hening. Tidak ada yang berbicara, atau memberikan yel-yel." Jawab Yuri.Yap, Yuri masih ingat betul. Hingar bingar kompetisi voli ini sangat berbeda dari kompetisiskating. Dalam kompetisifigure skating, dia sendirian meluncur di atas es. Hanya ada suara musik yang di putar, dan para penonton tidak akan bersuara sampai ia selesai meluncur. Sebuah olah raga yang indah dan juga megah, gabungan antara keindahan dan juga teknik. Tentu saja sangat berbeda dengan voli.

"Sudah jangan terlalu dipikirkan!"

PLAAK!

"Aw...Sakit tahu!" Akira menepuk bahu Yuri cukup keras membuatnya meringis.

"Kemarin bahuku kena bola nyasar Tanaka-san, kau lihat ini masih merah. Bersikap lembutlah padaku Akira." Yuri memperlihatkan bahunya.

"Itu cuma pendarahan internal kecil, sini aku tiup, akan langsung sembuh."

"Kau itu cantik tapi agak gila memang, stop!" Yuri berusaha menghentikan Akira yang meniup-niup bahunya.

...

"Woah itu Ohgiminami, mereka menjadi lawan pertama Dateko." Hinata tidak bisa menyembunyikan semangatnya itu. Jarang sekali ada kesempatan untuk mereka melihat pertandingan secara langsung, karena biasanya mereka juga harus bersiap untuk pertandingan mereka sendiri. Namun kali ini ada waktu luang sekitar satu jam, dan mereka bisa menonton dulu dari tribun.

"Hmm, Dateko akan sangat kuat tahun ini, kau ingat di latih tanding kita terakhir?Blockermereka semakin handal." Ujar Enoshita yang sudah curistartmenganalisis pertandingan.

"Itu benar, formasiblockermereka tahun lalu sudah luar biasa, itu karena Moniwa-san mantan kapten mereka yang membuat formasinya, tahun ini Kogane sudah bisa menyamakan ritmeblockdengan Aone-san dan Futakuchi-san dengan sempurna. Tigablocker,bertubuh besar dan juga tinggi, dan menguasairead block. Singkatnya bencana besar." Tsukishima bergabung menganalisis permainan Dateko, ia sebagaimiddle blockeryang realistis, mengakui jikablockerDateko memang patut di julukiIron Wall.Blockpaling kokoh di Miyagi.

"Apa maksudmu Tsukishima? Apa maksudmu kita tidak akan bisa menembusblockerDateko?" Hinata sebagai salah satu penyerang merasa tersudutkan dengan penjelasan Tsukishima dan Enoshita.

"Ah, tidak-tidak tentu saja aku tidak khawatir, kita kan punya Raja Lapangan dan juga umpan terbaik yang bisa menyerang dari mana saja." Katanya bernada sarkastik, membuat Kageyama dan Hinata bergidik sebal.

Tapi sebenarnya Tsukishima memang cukup khawatir. Meskipun mereka, Hinata dan juga Kageyama, sertarookieanak kelas satu, melawan Dateko tahun ini akan sulit. Mereka harus memutar otak mereka agar bisa menembusblockerDateko.

"Loh pertandingan kalian belum dimulai?"

Sebuah suara bernada tinggi yang familiar terdengar diantara riuh pendukung yang ada di tribun.

"Saeko Nee-san!" Ujar Nishinoya dan juga Hinata yang berbalik berbarengan dengan berbinar-binar.

"Shoyo! Yuu! Kalian semakin keren saja!" Kakak perempuan Tanaka itu datang bersama dua orang pria seumuran dengan pelatih Ukai. Shimada dan juga Takinoue dari perkumpulan warga Karasuno.

"Hoo, kalian belum mulai main ya?" Tanya Takinoue.

"Oy, Shimada, Takinoue!" Ujar pelatih Ukai yang duduk di sebelah Takeda-sensei.

"Kami bertanding jam 10, Tim Putri duluan untuk bertanding." Kata Ukai-san.

Shimada, Takinoue, dan juga Saeko melihat ke arah lapangan. Mendapati tim putri Karasuno yang sedang bersiap-siap.

"Tim putri Karasuno, aku jarang mendengar mereka." Ujar Takinoue.

"Wah, ada tim putri juga!" Saeko berteriak semangat. Ia memang tahu jika Karasuno memiliki tim voli putri tapi ia jarang melihatnya.

"Itu tim putri yang sering kau ceritakan?" Tanya Shimada.

"Yeah." Jawab Ukai-san

Shimada bergerak sedikit maju ke arah pembatas tribun mencoba melihat lebih dekat. Hanya ada delapan orang, enam pemain inti dan duapinch server. Terlihat sangat menyedihkan, bertanding di Inter High dengan anggota se-sedikit ini. Di kursi di pinggir lapangan, terlihat Yamada, dan juga Miyama-san juga sudah bersiap-siap. Mereka terlihat cukup percaya diri untuk tim yang begitu memiliki sedikit anggota.

"Dia pelatih lulusan Nekoma itu?" Tanya Takinoue, Ukai-san mengangguk.

"Oh lihat itu tim Niiyama datang." Ujar Yamaguchi menunjuk ke arah lapangan tiga, dimana tim Niiyama akan bertanding dengan tim Osaki.

Gemuruh dari tim sorak dan jugadrum banddi sisi kiri tribun dimana pendukung tim Niiyama terdengar begitu nyaring begitu megah. Ini bahkan masih putaran babak kualifikasi tapi pendukung mereka sudah begituall out.Wajar saja, sekolah putri Niiyama adalah sekolah SMA favorit layaknya Shiratorizawa.

"Hmm, pesona sekolah favorit memang berbeda." Ujar Ukai-san.

Tim putri Niiyama berjalan ke sisi lapangan dengan jersey merah putih mereka. Koga Sarina sang kapten memimpin berjalan di depan, di susul dengan Kanoka Amanai, Ace sekaligus MVP tim putri Niiyama dan juga sisa tim putri Niiyama. Mereka memiliki pesona juara yang sangat kuat.

"Mereka yang Suga-san bilang,'Queens of the Court.'?" Tanya Yamaguchi.

"Yeah mereka tim putri paling unggul di perfektur Miyagi." Jawab Tsukishima.

Mereka bisa melihatnya, rasanya sepertide javu. Ini seperti pertama kali mereka melihat Shiratorizawa keluar dari lapangan untuk bertanding dengan mereka pertama kali. Tim putri Niiyama yang pasti akan menjadi lawan terberat tim putri Karasuno jika mereka berhasil bertemu dengan tim Niiyama.

"Aku penasaran bagaimana tim putri kita akan mengatasi rasa gugupnya." Ujar Tsukishima menengok ke arah lapangan satu di ikuti dengan teman-temannya yang lain.

"Tidak Misaki, aku mohon, jangan menggulung lengan bajumu, itu memalukan." Ujar Rinkou-san. Rupanya Misaki terus berusaha untuk menggulung lengan jersey nya agar memperlihatkan otot bisepnya.

"Kenapa Rinkou-san? Memiliki bisep yang besar tidak memalukan." Balas Misaki.

"Ya, aku tahu, kau anggota voli putri yang memiliki bisep paling besar di lapangan ini. Sudah...sudah sekarang kau turunkan lengan bajumu." Ujar Rinkou-san.

Sementara itu Yuri dan Akira saling bergantian melakukan pemanasan denganresistance banduntuk bahu mereka. Mao terlihat tidak banyak bergerak, dia hanya memutar-mutar kakinya saja agar tidak kaku. Mereka tampak tidak menyadari jika tim Niiyama baru saja masuk ke dalam lapangan. Entah mereka terlalu fokus pada pemanasan mereka, atau mereka memang tipe yang tidak memperhatikan sekitar.

Tsukishima jadi sedikit menyesal mengatakan kalau ia penasaran bagaimana tim putri mengatasi rasa gugup mereka. Anak-anak itu, mereka bahkan hampir terlihat tidak begitu peduli pada tim lain.

"YURIII! SEMANGAAATTTTT!" Teriak Hinata mencuri perhatian. Yuri menoleh dan mengangkat kedua jempolnya untuk membalas teriakan Hinata.

"Mereka hanya berdelapan?" Shimada memberikan tatapan ngeri ke arah tim putri, di balas dengan anggukan dari pelatihCoachUkai dengan serius.

"SEMUANYA BERKUMPUL!" Tiba-tiba Miyama-san memanggil mereka.

"Kalian sudah berlatih dengan keras selama empat bulan kebelakang. Aku tahu ini adalah pertandingan yang penting untuk kalian." Miyama-san menatap anak-anaknya satu persatu. Menaruh kepercayaan penuh pada mereka.

"Aku percaya kalian punya kemampuan yang layak untuk bertanding di kompetisi regional maupun nasional. Ingat hasiltechnical meetingkita kemarin, fokus pada strategi yang sudah kita tentukan, dan juga percaya pada diri kalian sendiri. Usaha tidak akan mengkhianati hasil."

Pidato singkat dari Miyama-san sudah cukup untuk membuat mereka tersenyum percaya diri. Mereka sudah menghabiskan waktu mereka berlatih dengan keras dan juga meneliti lawan. Masa depan tidak ada yang tahu, tapi yang mereka tahu, mereka tidak akan kalah hari ini.

"Ayo mulai pemanasan!" Ujar Rinkou.

Pemanasan untuk semua tim yang bertanding di mulai. Mereka saling bergantian mengambil keranjang untuk pemanasan memukul. Tim putri Karasuno mendapatkan jatah duluan.

"Siap?" Teriak Akira, ia akan mengumpankan bola bergantian pada semua anggotanya.

Dari jauh tim SMA Tohoku yang memakai jersey berwarna biru memperhatikan tim lawan mereka dengan seksama, mencoba untuk mendapatkan sebanyak mungkin informasi.

"Yumi? Kau tidak melakukan peregangan?" Tanya Asa padasettersekaligus kaptennya.

"Sudah, aku ingin melihat pemanasan mereka. Kita tidak mendapatkan banyak informasi tentang tim putri Karasuno ditechnical meetingkemarin." Jawab Yumi.Setterbermata tajam itu tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari tim Karasuno.

"Yah, berbeda dengan tim putranya, kita hanya mendapatkan sedikit info soal mereka, yang kita tahu mereka bahkan tidak lolos pada putaran pertama Inter High tahun lalu. Kurasa mereka tidak begitu mengancam." Jawab Asa.

Yumi memicingkan matanya memperhatikan pukulan-pukulan tim putri Karasuno yang terlihat biasa saja. Teknik mereka bagus tapi tidak ada tanda-tanda kalau mereka memilikipoweryang luar biasa.

"Mungkin kau benar." Balas Yumi pada Asa.

Dari balik net, mata licik Akira yang menangkap kapten lawan sedang memperhatikan mereka bersusah payah untuk tidak menyeringai.

'Ya, teruslah begitu, kami biasa saja, tidak ada yang menarik disini. Tidak ada yang perlu takut pada tim kecil Karasuno.'

"Misaki tenanglah!" Teriak Akira. Ia tahu Misaki sedari tadi melompat-lompat tak terkendali karena semua orang melarangnya untuk melakukanspikeroketnya sebelum pertandingan benar-benar dimulai.

PRIITT!

"Kapten Tim!" Wasit memanggil kedua kapten tim untuk menentukan siapa yang melakukan servis duluan.

Kapten Sudou Rinkou dari Karasuno dan juga kapten Mitaka Yumi berhadapan dan saling bersalaman. Jantung Rinkou berdegup dengan kencang. Pertandingan pertamanya sebagai kapten tim Karasuno. Ia sangat gugup sekaligus semangat di saat yang bersamaan.

"Mari melakukan yang terbaik." Yumi menggenggam tangan Rinkou.

"Tentu!" Balas Rinkou. Mengakhiri sebuah salam yang solid dan juga percaya diri.

"Karasuno kepala, Tohoku ekor." Ujar sang wasit. Lalu ia melemparkan koin dan menangkap tepat di punggung tangannya. Ekor. Yumi tersenyum.

"Kami akan servis lebih dulu." Ujarnya pada Rinkou.

"Kalau begitu kami akan terima!" Gumam Rinkou. Yeah, mereka akan terima bolanya. Mereka tidak akan kalah hari ini.

...

[Author's Note]

Thank God akhirnya bisa upload.

Btw sebenernya nama Kapten Putri Niiyama itu engga ada di wiki fandom, so I took it dari nama Kapten tim nasional putri Jepang sekarang. Namanya Koga Sarina.

...and the title, lagi-lagi aku ambil dari lagunya Taylor Swift - Who's afraid a little of me? Dengerin deh.

I still have a lot in mind untuk next chapters, tapi aku harus sampein kalau dua minggu kedepan aku akan sangat sibuk di kantor, karena dalam dua minggu aku akan ada exhibiton di ICE BSD. Aku akan ikut event Pet Expo terbesar di Indonesia. So please mind me kalau akan ada keterlambatan upload. But I'll try my best. Thank you for your understanding ya, I hope to see you very very soon!