DISCLAIMER
Haikyuu! is belongs to Haruichi Furudate
THE RISE : Karasuno Female Volley Ball Club
©Longlive Author
PRIIIT!
Yoshida Asa melemparkan bola ke udara dan melakukanjumping serve.Babak pertama, putaran pertama kualifikasi Inter High SMA Karasuno vs SMA Tohoku di mulai.
BAM!
Sebuah servis keras mengarah ke lini belakang lapangan Karasuno. Mao melompat ke tengah dengan percaya diri. Menerima bola dari Tohoku nomor empat. Jepit rambutnya berkilauan terkena cahaya lampu.
Dug!
"Hoo lumayan..." Gumam Mao.
Jump servicedari Yoshida Asa cukup keras. Lebih keras darijump servemilik Kapten Rinkou namun tidak lebih keras dari Akane-san Kapten tim putri Fukurodani. Tapi Mao sudah pernah menerimajump serveKageyama dan Asahi-san.Jump serveini tidak ada apa apanya.
...
"SMA Tohoku! Menurut ku mereka adalah sekolah yang tepat untuk menjadi lawan pertama kalian. Mereka masuk delapan besar."
Mao masih ingat ketikatechnical meetingkemarin sore saat mereka membahas tim Tohoku. Menurut Miyama-san tim putri Tohoku berada di peringkat tengah. Ada tiga puluh dua tim dari sepuluh Perfektur Miyagi. Niiyama berada di tingkat satu, dan Tohoku berada di tingkat empat belas. Sedangkan tim putri Karasuno berada di tingkat tiga puluh. Mengalahkan Tohoku, secara tidak langsung artinya menggeser Tohoku dari peringkat empat belas.
Miyama-san benar. Tim Tohoku terlihat sesuai dengan deskripsi peringkatnya.
"Akira!" Mao memberikan bola padasetter.Sekarang bagian Akira untuk mengatur ritme permainan.
"Yosh! Rinkou-san!"
Akira akan membuka permainan mereka dengan serangan dari lini belakang mereka.
'Berikan salam yang layak dari tim putri Karasuno yang baru, Kapten!'ujar Akira dalam hati.
Bola yang di berikan Akira begitu indah dan begitu nyaman di tangan Rinkou. Akhirnyasetteryang layak dan kompeten memberikan umpan padanya. Rinkou berpikir kenapa Akira bisa begituinsecureketika melihat Kageyama disaat umpan darinya begitu bagus.
BAM!
"Depan! Depan!" teriak tim Tohoku.
"Ups!" Akira menyeringai.
Mereka tidak tahuback attackmilik kapten Rinkou. Tapi Akira tahu betul. Sebuah keputusan yang salah menjaga lini depan ketika menerimaback attackdari Rinkou.Powersang Kapten memang tidak sekuatspikemilik Misaki. Tapirangelemparannya panjang. Ketikaback attackbiasa notabene bola akan jatuh di bagian depan lapangan lawan,back attackkapten Rinkou akan jatuh di belakang.
"Sial!" Satsuki, libero tim Tohoku mengumpat saat menyadari kalau bola akan jatuh di belakang.
BAM!
DUG!
Tangan san Libero berhasil menyentuhnya tapi tidak sempat untuk mengembalikannya, hingga bola terlempar keluar lapangan.
"YEAH!" Teriak Kapten Rinkou. Poin pembuka bagi Karasuno.
Poin biasa, dengan serangan yang tidak begitu istimewa. Tapi Miyama-san tersenyum, detik itu ia tahu jika Karasuno sudah mendapatkan momentum nya.
"Nice Kill!"
"Hebat Rinkou-san!"
Nishinoya dan Hinata berteriak heboh dari atas tribun.
Takeda sensei dan juga Ukai-san memperhatikan dari atas tribun. Permainan baru saja di mulai, terlalu cepat jika mereka puas sekarang. Tapi patut di akui jika itu adalah serangan pembukaan yang bagus.
"Umpan yang bagus." Komentar Ukai-san.
"Mereka sudah mendapatkan momentum di awal permainan. Syukurlah!" Takeda sensei bernapas lega.
Mereka melanjutkan permainan...
"Aoki-san!"
"Rinkou-san!"
"Ozomi-san!"
"Rinkou-san!"
"Aoki-san!"
"Yuri!"
Selama awal set pertama Akira lebih sering memberikan bola pada kelas dua dan kelas tiga. Banyakback attackyang dilancarkan. Setengah dari serangannya mencetak poin.
"Kenapa dia jarang memberikan bolanya pada lini depan?" Yumi sang Kapten Tohoku bergumam sambil terengah-engah di sela-sela permainan.
"Mungkin karena anak kelas satu mereka masih belum terlalu bagus dalam voli?" tebak Asa. Yumi memicingkan mata. Sesuatu begitu menganggu nya. Karasuno seperti sedang menjebaknya dalam ritme permainan ini. Ia merasa aneh. Tidak ada serangan-serangan heboh, tidak adaspikekeras. Yumi sangat ingin percaya jika memang kemampuan tim Karasuno hanya itu saja. Tapi ia bisa melihat, tidak ada tanda-tanda panik ataupun gerakan-gerakan teledor dariwing spikerKarasuno.
"Tidak, sepertinya tidak begitu. Tetap waspada, awasi lini belakang!" titah Yumi.
Tak terkecuali dengan tim putra Karasuno yang juga memperhatikan mereka dari atas tribun. Mereka sadar jika Akira tidak memakai Yuri maupun Misaki seperti biasanya.
"Kenapa dengan anak itu? Kenapa dia tidak mengumpan padawing spiker?" ternyata tindakan Akira ini mencederai harga diri Tanaka sebagai seorangwing spiker.
"Hm..." Gumam Ukai-san. Mendengar Tanaka merajuk membuatnya berspekulasi seuatu. Tapi ia masih ingin melihat kemana jalannya permainan.
[KARASUNO 19 - 18 TOHOKU]
PRIIT!
[TIME OUT]
"Ini aneh,Coach,aku merasa Karasuno tidak mengeluarkan 100% senjata mereka. Mereka terus melayangkanback attackdari belakang." Ujar Yumi.
"Kau benar, kapten mereka bisa mengubahrangeseranganback attacknya menjadi panjang maupun pendek. Sepertinya mereka terus memakai serangan itu" kata Coach Isayama pelatih wanita mereka.
"Ada ideCoach?" Tanya Asa.
"Serang terus sampai mereka terpaksa mengeluarkan semua senjata mereka!" ujar pelatih.
Mereka menoleh ke arah tim Karasuno yang juga terlihat sedang sedikit berdiskusi. Bisa mereka perhatikan jika Misaki,wing spikerKarasuno tengah merajuk. Saat ini mereka sebenarnya berharap mereka bisa mendengar apa yang sedang tim Karasuno diskusikan.
"Kalian tidak tahu betapa aku berusaha untuk menahan pukulan ku. Ini tidak adil,Coachberikan aku satu kesempatan saja untuk memukul, biarkan aku pakai pukulan roket ku. Ku mohon..." Pintar Misaki.
"Tidak boleh Misaki bukan serangan pamungkas namanya kalau kau memakainya sejak awal." Balas Mao.
Misaki merengus lemas.
"Hmm, baiklah kau boleh melakukannya." Ujar Miyama-san berpikir sambil mengelus-ngelus dagunya.
"Benarkah?" Mata Misaki berbinar.
"Yap.. Tapi kau boleh melakukannya hanya ketikaGame Point." Balas Miyama-san tersenyum licik.
"Hah?T_T"
Begitulah, Miyama-san hanya mengizinkan Misaki melakukanspike rocketketikagame point.Mau tidak mau anak-anak melanjutkan permainan dengan strategi yang sama seperti sebelumnya.
Namun hal itu tidak berlalu lama. Tiba-tiba saja Tohoku mempercepat ritme permainan mereka. Melancarkan serangan yang brutal hingga Mao sebagai libero kelimpungan menerima bola dari Tohoku. Perubahan tempo permainan membuat Karasuno kecolongan dua poin dari Tohoku. Miyama-san memperhatikan hal itu. Tujuannya jelas, yaitu untuk merusak tempo permainan Karasuno dan juga mengacak-acak ritme yang sudah mereka buat.
"Fokus pertahanan! Perlambatan tempo!" teriak Miyama-san dari pinggir lapangan.
Mao cepat tanggap dengan memberikan bola-bola tinggi pada Akira agar dia lebih santai dalam mengumpan.
Akira masih teguh pada pendiriannya untuk tetap mengandalkan para kelas tiga. Dua poin, dia akan bertaruh dua poin. Jika dua poin selanjutnya kelas tiga tidak mendapatkan poin, dia akan mengoper pada Misaki.
"Rinkou-san,netting!" Bisik Akira di sela sela permainan. Rinkou mengangguk mengerti.
BAM!
"Akira!"
Bola tinggi di berikan oleh Mao. Akira bersiap memberikan umpan pada Rinkou-san.
"Rinkou-san!"
Dug!
Sebuah pukulanback attackyang tidak terlalu keras. Jantung Rinkou berdegup kencang, khawatir bolanya tidak akan melewati net. Tapi bola masuk, tipis sekali.
"Yumi!"
'bisa...bisa...!' umpat Yumi dalam hati.Settertim putri Tohoku itu melompat dengan cepat mengejar bola tanggung.
"Dapat!"
BAM!
Sesaat begitu bola kembali ke lapangan Karasuno, Yuri dengan dingin memukul bola hingga tidak dapat di kembalikan oleh tim Tohoku.
'Sial!'
Sang kapten memberikan tatapan kesal pada Yuri yang di balas oleh Yuri tanpa ekspresi. Seolah dia hanya sedang berada disana menggunakan kesempatan yang ada. Tidak kurang tidak lebih. Perasaan Yumi sudah tidak enak sejak tadi. Apanya yang tidak terlalu hebat. Semua tentang tim putri Karasuno membuatnya tidak enak hati. Permainan mereka yang terlalu biasa.Setteryang sejak tadi mengumpan bolanya pada kelas tiga.
Serangan balasan dari Yuri barusan itu cukup sulit untuk di kembalikan. Jika itu tim kluster terbawah seperti yang pelatihnya beri tahu, seharusnya Yuri tidak terlalu mahir dan tidak akan bisa mengembalikan bola itu. Tapimiddle blockerKarasuno itu mengambil kesempatan dan memanfaatkan tinggi badannya dengan baik.
"Don't mind! Don't mind!"rekan tim nya menyemangati Yumi.
Ukai-san dari tribun tersenyum melihat strategi yang di lakukan tim putri Karasuno barusan. Seringai menyeramkan yang sama seperti pertama kali tim putra melawan Nekoma. Menyeramkan seperti gagak yang licik.
"Err...uh.. ada apa Ukai-kun? Senyumanmu menyeramkan sekali. Orang yang melihatmu akan berpikir kau sedang merencanakan sesuatu yang tidak-tidak." Ujar Takeda sensei.
Ukai-san tidak langsung menjawab, seolah ia menunggu serangan tim putri Karasuno selanjutnya.
PRIIT!
[KARASUNO 21 - 20 TOHOKU]
"Woah break!"Teriak Takinoue, begitu tim Karasuno mendapatkan poin lagi berturut-turut.
"Mereka sengaja tidak sering mengumpan pada Yuri dan Misaki." Gumam Ukai-san mencuri perhatian anak-anak didiknya. Mereka menoleh pada Ukai-san.
"Hah? Apa maksudnya Ukai-kun?" Takeda sensei tidak mengerti. Anak-anak di tribun pun sadar memang sejak tadi tidak begitu banyak umpan yang di berikan pada Yuri dan Misaki.
"Ku pikir aneh, mereka tidak banyak memakai Misaki dan Yuri di pertandingan ini. Ketika latih tanding di kamp pelatihan kemarin. Misaki dan Yuri menjadi ujung tombak permainan mereka. Bahkan tim putra kita pun di tambah dengan alumni kita cukup kerepotan menghadapi mereka yang keras kepala. Tapi sekarang, setelah set pertama ini hampir selesai, aku yakin jika ini bagian dari strategi mereka." Jelas Ukai-san.
Tsukishima memandangi tim putri yang baru saja mencetak skor lagi darispikeAoki-san. Seraya berpikir, ia sudah memperhatikan mereka sejak tadi. Tim putri Karasuno sengaja mempertahankan tempo dan ritme permainan mereka di level paling stabil. Bermain aman tanpa gerakan-gerakan yang teledor dan fokus pada pertahanan. Selama Tsukishima bermain voli ia tahu satu hal, semakin banyak serangan yang di berikan semakin tinggi pula resikohuman erroryang akan terjadi. Resiko bola terpental keluar lapangan, resiko menabrak net, dan banyak lagi. Tim putri Karasuno meminimalisir potensihuman error, sambil fokus bertahan dan juga berusaha mencetak poin dengan hati-hati.
"Rasanya tim putri kita sengaja tidak mengerahkan semua serangan mereka di set pertama ini." Ujar Ennoshita ikut berspekulasi.
"Itu benar, aku juga berpikir seperti itu. Tapi menurutku ini strategi yang cukup menguntungkan." Ukai-san menatap Miyama-san yang berada di pinggir lapangan, duduk dengan tenang bersama manajernya Yamada.
"Menjaga tempo dan memimpin ritme permainan, membuat tim putri kita bisa menyimpan tenaga lebih banyak.Setterbanyak memberikan bola pada anak kelas tiga, selama mereka masih mencetak angka ku asumsikan Akira akan tetap memakai mereka dan tidak akan memberikan banyak bola pada Misaki dan Yuri. Tapi, jika Tohoku mulai mengancam ritme mereka, Baru akan mengumpankan bola pada Yuri atau Misaki." Jelas Ukai-san.
Nishinoya menatap Misaki yang berekspresi masam sepanjang pertandingan. Ekspresi seorangwing spikeryang tidak diberikan bola. Ia sendiri sebagai seorang libero sempat menerimaspikedari Misaki ketika kamp pelatihan tempo hari. Nishinoya bahkan bisa menyimpulkan jika pukulan dari Misaki terbilang cukup keras untuk kelas voli putri. Kini mereka mengerti, dengan kata lain ini adalah strategi jangka panjang. Bisa jadi, tim putri Karasuno akan meningkatkan ritme permainan mereka seiring dengan tingkat kesulitan lawan mereka. Sepertinya mereka tidak akan memamerkanspike rocketmilik Misaki ataufeintmenyebalkan dari Yuri tanpa alasan yang berarti.
"Huh..Miyama-san itu.." gumam Ukai-san terkekeh. Seorang mantan kandidat timnas muda Jepang memang berada di level yang berbeda. Bisa-bisanya ia memikirkan strategi seperti ini.
PRIIT!
[KARASUNO 24 - 21 TOHOKU]
"Oh game point! Game Point!AYOOO KARASUNOOOOO!" Saeko-neesan berteriak dengan heboh.
Kemenangan Karasuno di set pertama, sudah hampir di pastikan. Di samping itu, Misaki sudah menatap Akira dengan melotot. Tubuhnya bergetar tidak sabar untuk memukul bola setelah menahan diri selama set pertama. Miyama-san sudah berjanji, ia boleh menggunakanspikerocketnya jika sudah berada digame point.
"Aku mengerti...aku mengerti. Jangan menatapku seperti itu Misaki, aku takut, kau seperti akan memakanku hidup-hidup." Ujar Akira yang merinding dengan tatapan Misaki.
Namun tanpa mereka sadarisetterTohoku mendengar itu. Ia menebak jika bola selanjutnya akan di berikan pada Karasuno no 5, Misaki.
PRIIT!
"Jaga no 5!" Ujar Yumi pada teman-temannya.
Akira menatap mereka.'Heeh...mereka dengar?'pikirnya.
Aoki-san memberikan servis, di terima dengan baik oleh libero dari Tohoku. Bola di berikan padasettermereka Yumi.
"Asa!"
Asa, Ace dari SMA Tohoku bersiap untuk memukul bola. Umpan dari Yumi tinggi dan tidak begitu jauh dari net. Yuri bersiap menghadang bola. Selama satu set ia sudah memperhatikan pukulan dari masing-masing penyerang tim Tohoku. Jika itu Asa, Ace mereka. Ia sering memberikan pukulan langsung lurus ke bawah. Yuri berpikir, kemungkinan untukfeintmasih ada, jika ia salah bersiap untuk menerima pukulanstraighttapi tertipu denganfeint,mereka akan kehilangan poin.
Bola terbang di udara, Asa menyambut bola dengan wajah percaya diri.
'Itu dia!'Pikir Yuri.
Wajah percaya diri itu, berarti umpannya sangat bagus dan nyaman di tanganspiker.Asa tidak akan melakukanfeint.Ia akan memukul bolastraight.Sebagai penyerang Yuri juga tahu rasanya, ia juga akan memukul bola dengan keras jika bola yang di terimanya nyaman.
BAM!
BAM!
Pukulan lurus kebawah tak jauh dari net di antisipasi dengan baik oleh Yuri yang sudah menunggu serangannya. Ekspresi wajah Asa tidak bisa di gambarkan, ia terlihat sangat kesal serangannya terbaca olehmiddle blockerKarasuno itu.
DUG!
Yuri memberikan bola pada Akira, yang disambut dengan senang hati. Sekilas Yumi,setterTohoku itu melirik pada Akira, memastikan sekali lagi jika dia benar-benar akan memberika bola pada Misaki. Namun yang ia lihat bukanlah hal yang menyenangkan, perasaan tidak enaknya semakin menjadi ketika melihat Akira menyeringai licik ketika mengumpan bolanya.
"Rocket!Misaki!" Gumam Akira. Gumaman kecil yang hanya bisa di dengar oleh Misaki.
Ketika Yumi menoleh, sudah terlambat. Ia melihat Misaki, Karasuno no 5, sudah melompat. Tinggi, kepala dan bahunya sudah melewati net. Pandangan penuh nafsu, suara pukulan bola keras yang memekakan telinga. Mengarah langsung ke wajah Yumi.
BAM!
BRUAGH!
"Ugh!"
Yumi terlambat untuk mundur menerima bola kerena fokus pada Akira sebelumnya. Sebuah hantaman keras tepat di hidungnya membuatnya langsung terjatuh ke lantai.
PRRIIIIITTT!
[KARASUNO 25 - 21 TOHOKU]
Peluit berbunyi tanda set pertama berakhir dengan kemenangan Karasuno. Namun semua orang di lapangan satu tempat bertanding tim putri Karasuno dan tim putri Tohoku berhenti bergerak. Mencerna apa yang sedang terjadi.
"Ugh!" Sekali lagi Yumi melenguh. Ia tertunduk di lantai memegangi hidungnya yang menjadi sasaran empukspike rocketmilik Misaki.
"Ada apa?"
"Ada yang cidera?"
"...terkena mukanya..."
Bisik-bisik mulai terdengar. Perhatian tertiuju pada lapangan satu. Bahkan tim lain yang sedang bertandingpun mencuri pandang ke arah lapangan satu. Telah terjadi insiden disana. Seseorang telah cidera.
"Astaga... astaga... maafkan aku... maafkan aku... maafkan aku..." Misaki langsung berlari ke seberang net begitu tahu pukulannya mengenai wajahsetterTohoku itu. Tidak hanya Misaki, tapi seluruh tim putri Karasuno pun menyebrangi net mengecek keadaan Yumi.
Wajahnya memerah, dan hidungnya sudah berdarah kerena bola keras dari Misaki.
"Maafkan aku... maafkan aku... Kau tidak apa-apa, Senpai?" Tanya Misaki panik ikut berlutut di samping Yumi. Ia panik sekali seperti baru saja menabrak seseorang dengan mobil. Miyama-san menghampiri mereka. Di ikuti dengan pelatih dari Tohoku. Memastikan keadaan Yumi.
"Egh..aku tidak apa-apa, tolong jangan minta maaf.." Kata Yumi sambil menahan perih di wajah dan hidungnya. Bagaimanapun itu salahnya karena hilang fokus ketika pertandingan. Ia terlalu fokus pada Akira hingga ia tidak menyadari jika Misaki sudah melompat. Satu hal yang ia tidak perhitungkan adalah, ia tidak tahu jika Karasuno nomor 5 akan memukul sekeras itu. Ia sudah memperhatikan mereka sejak awal, Misaki tidak memukul sekeras itu sebelumnya. Kini ia tahu kalau tebakannya benar, Karasuno tidak mengerahkan semua senjata mereka.
"Aku benar-benar minta maaf senpai." Misaki membungkuk begitu dalam.
Tak lama kemudian, Yumi,settersekaligus kapten tim Tohoku di bawa ke ruang medis. Miyama-san dan juga pelatih dari Tohoku sedikit mengobrol wasit. Sudah di pastikan jika tidak ada pelanggaran di poin terakhir tadi, kecelakaan itu murni terjadi karena Yumi memang terlambat untuk menerima bola hingga terkena wajahnya.
"Bagaimana ini? Apa dia akan baik-baik saja?" Misaki memegangi kepalanya frustasi.
"Dia akan baik-baik saja. Aku pernah terkenahead shotkau ingat? Memang perih sekali, tapi aku tidak kenapa-kenapa." Ujar Yuri, yang entah membuat Misaki lebih baik atau tidak.
"Makanya kau ini jangan terlalu bersemangat! Kau memangnya tidak sadar pukulanrocket mu sekeras apa? Asahi-san saja meringis menerima pukulanmu tahu!" Akira menjitak kepala Misaki.
Dari kejauhan, Sarina Koga, Kapten dari tim putri Niiyama, memperhatikan keadaan di lapangan satu. Pertandingannya di lapangan tiga baru selesai. SMA menang 25-23 lawan SMA Osaki di set pertama. Matanya tertuju pada SMA Karasuno, sekolah yang tidak pernah ia dengan kecuali reputasi tim voli putra nya.
"Hmm..."
Ia bergumam seolah sedang memutuskan untuk tertarik atau tidak pada tim putri Karasuno.
