DISCLAIMER
Haikyuu! is belongs to Haruichi Furudate
THE RISE : Karasuno Female Volley Ball Club
©Longlive Author
BAM!
PRIIT!
Seluruh tribun berdengung berisik melihat Yumi, sangsetterTohoku terjatuh di lapangan sambil memegangi hidungnya yang berdarah.
"Eh apa yang terjadi? Ada apa ini?" Saeko-neesan menerka-nerka apa yang sedang terjadi. Sepertinya ada sedikit masalah di lapangan.
"Si nomor 5 itu memukul dengan keras dan mengenai wajahsetterTohoku. SepertinyasetterTohoku mimisan." Ujar Shimada.
Pemilik toko daging itu sendiri terkejut dengan apa yang barusan terjadi. Sejak awal permainan tim putri Karasuno terlihat biasa saja namun tiba-tiba sebuahspikekeras di lemparkan oleh Misaki, Karasuno no 5. Sudah tidak dapat terelakan lagi kalau tim putri Karasuno memang sengaja tidak mengeluarkan senjata mereka sejak awal. Serangan terakhir dari Misaki menghantam wajah tim Tohoku seperti sebuah palu yang besar.
Yumi,setterTohoku terlihat dibawa oleh manajernya keluar dari lapangan dengan tangan yang masih menahan mimisan. Sepertinya dia tidak akan bisa bergabung dalam permainan di set selanjutnya.
"Ah mereka menggantisettermereka!" Ujar Yamaguchi. Memperhatikan tim Tohoku tampak sedang memberikan arahan pada seorangsetterpengganti.
"Hmm, sepertinya set selanjutnya akan berat untuk Tohoku." Gumam Tsukishima. Bukan karena tanpa alasan. Yumi, kapten sekaligussettertim Tohoku adalah pemain kelas tiga yang terlihat sudah matang dalam permainan. Meskipun tidak semua umpan nya bisa mendapatkan poin tapi umpan yang dia berikan pada teman-temannya cukup stabil. Tapi untuk sekarang, sekali lihat saja, Tsukishima sudah bisa menebak jikasetterpengganti Yumi adalah anak kelas satu. Ia bahkan sudah terlihat gugup sejak dipanggil oleh pelatih.
Kageyama yang menonton di kursi depan juga bisa memperhatikan hal itu. Ia tidak tahu bagaimana kemampuansetterpengganti tim Tohoku, tapi jika dia gugup. Sudah hampir dapat di pastikan hasil dari set kedua Karasuno vs Tohoku.
Sementara itu tim Karasuno yang sedangbreakpasca set pertama pun tidak luput dari kehebohan. Misaki masih merasa bersalah, karena merasa bertanggung jawab atas cidera nyasetterTohoku.
"Sudah, sudah, kau tidak perlu panik seperti itu, dia sudah di bawa ke ruang kesehatan, dia tidak akan apa-apa." Ujar Rinkou.
"Hmm..." Misaki cemberut seperti hampir menangis.
"Rinkou benar, aku pun sudah mengonfirmasi pada wasit jika tidak ada pelanggaran yang terjadi. Cidera yang di alami Yumi karena dia memang tidak melihat bola datang padanya. Bisa di bilang ini bukan kesalahan Misaki." Kata Miyama-san menenangkan anak-anaknya.
"Sekarang kita haru fokus untuk memenangkan set kedua. Kita lanjutkan strategi kita sebelumnya. Jika aku perhatikan," Miyama-san sedikit melirik ke arah SMA Tohoku yang juga sedangbriefing, "kita bisa memanfaatkan pergantiansetterini menjadi peluang untuk memenangkan set kedua." Katanya.
Pernyataan Miyama-san memang terdengar kejam tapi siapapun tidak akan melewatkan kesempatan langka seperti ini. Mengganti pemain di tengah-tengah permainan kan berpengaruh cukup besar pada permainan, dan tim lawan harus menyesuaikan ritme permainan mereka lagi.
PRIIT!
Set ke dua dimulai.
"Ayogirls! Kalahkan mereka!" Ujar Miyama-san melakukanhigh fivebergantian dengan anak-anak.
Di awal set kedua, sudah terlihat sejak serangan pertama tim Tohoku kalausetterkelas satu mereka tampak gugup, umpan yang dia berikan pada rekan tim nya terlihat tanggung. Tidak hanya itu, suasana di lapangan pun berubah. Tim Tohoku tampak jauh lebih waspada dari sebelumnya setelah melihatspiketerakhir dari Misaki, bahkan ketika tim Karasuno kembali ke strategi awal dengan tidak membuat serangan-serangan yang heboh. Seakan-akan mereka menunggu serangan kejutan dari Misaki atau dari yang lain.
Hal ini menjadi keuntungan bagi Karasuno secara tidak langsung. Ketika tim lawan begitu gugup dan waspada untuk serangan kejutan. Karasuno bisa fokus menyerang dengan stabil selama set kedua. Misaki tidak melancarkanspike rocketnya. Tanpaspike rocketMisaki pun, serangan dari kelas tiga, dan juga serangan-serangan tipuan sedeharna sudah cukup untuk menghasilkan poin. Singkatnya permainan Tohoku menjadi berantakan karena mereka terlalu gelisah menghadapi Karasuno.
Set kedua Karasuno vs Tohoku berakhir singkat dengan poin akhir 25-19. Kemenangan pertama tim putri Karasuno. Mereka lolos pertandingan pertama mereka.
"Wow kita menang." Tim Putri Karasuno melangkah keluar dari lapangan ketika Yuri bergumam sendiri. Ia tidak percaya mereka menang di pertandingan pertama mereka musim ini.
"Kenapa?" Tanya Akira, menyeka keringat nya.
"Tidak, hanya saja, aku tidak menyangka kalau kita menang, apa lagi dengan skor dua satu." Katanya.
Miyama-san yang mendengar mereka berdua tersenyum. Jika di pikir-pikir memang empat bulan kebelakang memang belum terlalu lama. Tapi mereka semua sudah melewati banyak hal dan melangkah hingga sejauh ini. Jika diingat bagaimana Miyama-san di perkenalkan pertama kali pada tim putri Karasuno. Tim ini benar-benar mentah dan juga tidak berpengalaman. Mereka hanya tim yang bermodalkan semangat dan percaya diri semata. Kelas tiga yang tidak ada pengalaman menang, hanya dua orang kelas satu yang pernah benar-benar bermain voli dengan serius, seoranggym freak, dan juga atletfigure skatingyang baru saja sembuh dari cidera. Mendengarnya saja membuat orang kesulitan untuk membayangkan hal bagus bisa di capai oleh tim ini. Tapi mereka berhasil. Langkah pertama perjalanan baru mereka.
"Okaygirls, selamat atas kemenangan pertama kalian. Kemungkinan pertandingan kita selanjutnya akan di mulai dalam dua jam. Kalian bisa beristirahat terlebih dahulu. Kalian juga bisa makan siang di tribun, tapi jangan makan terlalu banyak." Ujar Miyama-san.
"Baikcoach!"
Sebelum pergi ke tribun untuk beristirahat mereka menuju papan grup terlebih dahulu untuk melihat siapa yang akan menjadi lawan mereka selanjutnya. Selain arena satu, tempat mereka bertanding tadi, terdapat arena dua di sayap lain Sendai City Gymnasium. Itu artinya dalam satu putaran dua belas tim bertanding bersamaan. Ada enam tim lain yang bertanding di arena dua. Mereka menatap papan grup. Sebuah garis merah telah di tambahkan untuk tim yang masuk ke putaran kedua.
[SMA KARASUNO]
Nama tim mereka telah di tambahkan ke kolom tim yang masuk ke putaran kedua. Kolom lawan mereka juga sudah terisi.
[SMA SHUKOCHU-TOKYOIKU]
"Ugh..." Wajah Akira langsung berubah masam ketika membaca siapa nama lawan mereka.
"Kenapa? Apa mereka lawan yang susah?" Tanya Misaki.
"Tidak, hanya saja,bagaimana ya aku menjawabnya..."
Pada akhirnya Akira tidak menjawab pertanyaan Misaki. Dia hanya memberi gestur malas dengan memutar bola matanya. Namun pertanyaan Misaki terjawab ketika ia dan Mao pergi ke toilet. Selesai buang air kecil, Mao dan juga Misaki berpapasan di tim putri lain. Mereka memakai jaket berwarna putih dengan aksen berwarna pink terang. Terlihat mereka sedang merapikan rambut mereka, beberapa orang di antaranya sedang mengaplikasikanlipbalmberwarna pink tipis dan yang lainnya memakai sedikit bedak.
"Lawan kita setelah ini SMA Karasuno, kau pernah mendengarnya?"
"Tidak, kau pernah?"
"Oh ya ampun bukannya SMA Karasuno, tim putranya yang menjadi perwakilan perfektur Miyagi tahun lalu di Turnamen Musim Semi."
Telinga Mao dan Misaki langsung berdiri seperti anjing ketika mendengar nama Karasuno di sebut. Ketika Mao dan Misaki lihat ternyata mereka adalah tim Shukochu, lawan mereka selanjutnya. Nama tim mereka tertulis di jaket mereka.
Mao dan Misaki saling berpandangan seraya mencuci tangan mereka di wastafel. Setengah berharap jika tim Shukochu tidak menyadari jika mereka berdua adalah tim Karasuno, dan setengah lagi berharap bisa mendengar apa yang mereka gosipkan tentang Karasuno.
Tim Shukochu terlihat begitu heboh, anggota mereka tinggi dan juga berparas cantik. Mereka lebih terlihat seperti sebuah idol group dari pada tim voli. Rambut yang pasangi pita-pita, dan juga sentuhan sedikitmake upagar tidak terlihat lusuh ketika bertanding. Mao bisa melihatnya.
"Ya, kau tahu juga? Ku dengar ada kandidat timnas muda yang tampan di Karasuno."
"Ahh...benarkah? Aku penasaran, apa mereka sedang bertanding? Aku ingin melihatnya."
"Aku juga ingin melihatnya!"
Mendengar hal itu, Misaki dan Mao hanya bisa menunduk menahan tawa mereka. Mereka bedua bahkan tidak bisa menatap satu sama lain. Satu tatapan saja, mereka akan tertawa terbahak dan mereka tidak ingin itu terjadi. Sudah jelas tim Shukochu sedang membicarakan Kageyama. Bagi Mao dan Misaki, Kageyama adalah orang paling lurus dan tidak peka yang pernah mereka lihat. Wajahnya yang lumayan menarik dan jugaskillvolinya memang menjadi poin plus, tapi bagi mereka yang sudah sering melihat Kageyama tahu jika ia minus dalam banyak hal, selain itu terlalu banyak kejadian absurd yang melibatkan kakak tingkat mereka itu.
"Ayo nanti kita lihat tim putra Karasuno bertanding."
"Ayo! Tapi sebelum itu bagaimana kalau kitaselfiedulu, aku lupa belum mempostingstorydi Instagram kita hari ini."
Lalu tim Shukochu mengambilselfiedi cermin toilet, menempatkan Mao dan juga Misaki dalam situasi canggung. Tim Shukochu bahkan tidak peduli dengan kehadiran Mao dan Misaki disana. Tak lama kemudian mereka berbondong-bondong keluar dari toilet.
"Pffftt...apa-apaan itu tadi?" Misaki sudah tidak bisa menahan tawanya.
"Sepertinya tim putra sudah punya banyak fans sekarang." Balas Mao.
"Yang benar saja, Kageyama-san. Huh...andai saja mereka tahu Kageyama-san seperti apa." Kata Misaki.
"Aku ingin tahu bagaimana Kageyama-san jika di kelilingi gadis-gadis itu?" Ujar Mao nyengir.
"Jangan nyengir seperti itu Mao, kau terlihat seperti psikopat." Komentar Misaki.
Mao dan Misaki kembali ke tim mereka yang sudah berada di tribun arena dua. Ternyata ketika Mao dan Misaki pergi ke toilet mereka sudah ketinggalan beberapa informasi panas. Dateko keluar menjadi pemenang di putaran pertama melawan Ohgiminami. Kini di arena dua tim putra Karasuno bersiap melawan SMA Wakutani Minami. Tidak hanya itu beberapa tim putra dari sekolah unggulan seperti Aoba Johsai dan juga Shiratorizawa lolos di putaran pertama.
"Yamada-san boleh aku minta makan siang ku?" Tanya Mao begitu mereka sampai ke tribun. Yamada dengan cekatan memberikan kotak makan siang milik Mao dan juga Misaki.
"Hmm..." Mao tersenyum ketika ia melihat isi bekal makan siang mereka. Dada ayam panggang, dua kepal nasi dengan furikake dan juga salad.
"Kau membuat bekal makan siang untuk kami sendirian, Yamada-san? Aku terharu sekali." Tanya Mao dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak, aku membuatnya kemarin malam dengan Yachi-san. Dia yang berinisiatif untuk membuatkan bekal makan siang untuk tim putra dan juga tim putri, aku hanya membantunya. Dia pikir dari pada kita beli, lebih baik kita membuatnya." Jawab Yamada.
"Yachi-san, kehadiran mu memang berkah untuk Karasuno." Kata Mao masih terharu.
Tim putri Karasuno dengan tenang menyantap makan siang mereka di tribun sambil menunggu tim putra yang masuk ke dalam lapangan untuk bertanding. Sayang sekali mereka tidak sempat bertemu dengan tim putra sebelum mereka bertanding. Tapi mereka memastikan duduk di bangku tribun paling depan untuk mendukung tim putra.
"Kalian pernah dengan Wakutani Minami?" Tanya Akira tiba-tiba.
"Tidak." Jawab Yuri, dia memang tidak tahu banyak tentang tim-tim voli.
"Oh aku dengar mereka cukup hebat." Ujar Aoki-san sambil mengunyah salad makan siang nya.
"Ya, ya aku ingat, tahun lalu Daichi-san sempat cidera ketika melawan Wakunan. Michimiya senpai memberi tahuku." Sambung Rinkou ikut nimbrung.
"Daichi-san? Daichi-san yang badannya besar itu? Cidera?" Yuri terkejut, orang seperti Daichi-san bisa cidera, dengan wibawanya dan juga badannya yang seperti itu ia pikir Daichi semacam orang paling kuat di tim putra Karasuno.
"Haha, apa maksudmu Yuri? Kau pikir Daichi-san tidak bisa cidera? Tahun lalu Daichi-san dan Tanaka-san bertubrukan ketika bertanding melawan Wakunan. Kudengar giginya sampai patah dan sempat tidak bisa melanjutkan pertandingan untuk beberapa saat." Jawab Rinkou, secara tidak sadar Yuri menyentuh rahangnya sendiri, ngeri membayangkan giginya patah karena bertubrukan seperti itu ketika pertandingan, meskipun secara teknis Yuri pernah mendapatkan cidera leher yang lebih parah ketika latihanskating.
"Yah, apapun bisa terjadi ketika pertandingan. Bahkan orang sebesar Ushiwaka pun bisa saja cidera." Ujar Akira mengibas-ngibaskan sebuah majalah di depan wajahnya karena ia kegerahan.
"Hei apa itu?" Tanya Yuri, ia langsung mengambil majalah yang ada di tangan Yuri.
"Oh aku pernah melihat mereka!" Ujar Yuri menunjuk sampul majalah berisikan dua pemain voli putra. Sepasang anak kembar.
"Ah.. Miya bersaudara... kau beli majalah ini dimana?" Kata Mao mengintip dari balik punggung Yuri.
"Mereka membukastanddi luar, ini majalah keluaran terbaru." Balas Akira.
Si kembar Miya Atsumu dan juga Miya Osamu berada di sampul majalahHigh School Sports. Salah satu majalah olah raga SMA yang paling bergengsi di Jepang. Mereka merangkum semua berita dari banyak cabang olah raga tingkat SMA dan voli menjadi salah satu cabang olah raga yang paling sering muncul di majalah High School Sports. Kini Miya bersaudara menjadi sampul majalah itu.
"Mereka yang melawan Karasuno di turnamen musim semi, kan?" Kata Yuri.
[MIYA BERSAUDARA : "INARIZAKI AKAN SIAP UNTUK BERLAGA DI PANGGUNG INTER HIGH DAN JUGA TURNAMEN MUSIM SEMI 2013]
Begitu judul yang tertera di sampul majalah itu.
"Gila sekali, membaca ini membuat olah raga SMA terlihat sangat serius." Kata Akira.
"Keren sekali...Mereka tidak seperti pemain voli, mereka seperti model sungguhan." Komentar Yuri melihat foto si Kembar Miya di sampul majalah. Mao dan Akira saling berpandangan, apa Yuri tidak sadar kalau dia bahkan lebih terkenal dari Ushiwaka dan wajahnya notabene ada banyak mediaonline.
"ARRGHHH ITU MEREKAA KARASUNOOO!"
Tiba-tiba sebuah jeritan memekakkan telinga terdengar tak jauh dari mereka. Sontak membuat mereka berpaling melihat siapa yang berteriak begitu heboh sambil memanggil nama Karasuno.
