Chapter 22
.
.
.
"Ruggie-kun tahu dari mana soal Leona-kun yang tidak menyukaiku, by the way?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Rook, sampai ia menyadari ada yang aneh dan menepuk bibirnya sendiri. "Ah, maaf. Kalau itu terlalu rahasia dan tidak bisa diucapkan, tidak apa-apa. Kebiasaan jelekku masih terbawa, tampaknya," ucapnya seraya tersenyum. Namun Ruggie tidak menangkap itu sebagai senyuman khas Rook Hunt.
"Aku hanya menebak." Rook sedikit tidak menyangka Ruggie berkenan menjawab—ditandai dengan matanya yang membulat. Namun kemudian ia fokus mendengarkan saat Ruggie bicara lagi, "Kau tahu, kan, kalau aku hampir setiap hari mengikuti Leona-san? Yah, anggap saja aku tahu dengan siapa-siapa saja dia bicara setiap harinya." Ruggie melirik Rook, memastikan kalau gadis itu tidak masalah dengan obrolan ini. Dan secara mengejutkan, Rook tampak "antusias," menunggu kelanjutannya. "Tentu saja ... itu termasuk hubungannya dengan kau dan Vil-san."
Rook tertawa remeh tiba-tiba. "Bisa ketahuan semua, ya. Sama persis dengan orang itu."
"... Siapa?"
"Ada." Rook hanya tersenyum. "Teruskan saja. Mumpung Leona-kun belum kembali."
Mendengar itu, Ruggie sempat melihat pintu ruangan mereka yang—untungnya—masih tertutup rapat. Menarik nafas sejenak, hyena muda itu melanjutkan, "Hmm ... yah, intinya begitu. Aku sendiri beastman. Instingku cukup kuat untuk tahu apa yang terjadi di sekitarku. Jadi ... aku bisa mengira-ngira apa yang terjadi di antara kalian."
"Hu-um."
"... Makanya, saat aku dengar kau dan Leona-san akan menikah, aku kaget. Jujur saja, aku langsung merasa ada yang aneh. Leona-san dan Rook-san menikah itu ada di lingkaran paling luar dari apa yang bisa kubayangkan. Apalagi pernikahannya dilaksanakan tak lama setelah kalian lulus." Ruggie melebarkan celah di antara kakinya yang bersila ketika seekor kucing berwarna putih menghampiri. Telinganya yang keabuan bergerak-gerak saat mencari posisi nyaman di pangkuan si pemuda hyena, sebelum akhirnya tidur. "... Kisah kalian ini seperti drama saja; Leona-san suka seseorang, tapi malah berakhir dengan teman si orang itu. Ditambah si teman itu tidak terbilang dekat dengan Leona-san."
"Kami lebih seperti 'musuh,' ya."
"Yang kelihatan di publik, sih, begitu." Ketika Ruggie melirik Rook, rupanya gadis itu juga tengah melihat ke arahnya. Cukup dengan tatapan itu, Ruggie tahu kalau Rook paham maksudnya apa. "Rook-san sendiri bagaimana?"
Rook mengelus tubuh kucing yang masih melingkar di pangkuan Ruggie dengan lembut. "Maksudmu perasaanku?"
"Ya ... kurang lebih." Ruggie menaik-turunkan bahunya. Rasa kasihan dan tidak enak yang tadi sempat menghantui, perlahan telah menghilang. Mungkin karena Rook yang juga tampak tak acuh dengan topik obrolan ini? Ruggie tidak bisa memastikan.
"... Entahlah," jawab Rook pada akhirnya. Terdengar tak peduli, tapi jelas ada yang mengganjal di jawabannya itu. "Aku masih merasa tidak yakin dengan hubungan kami sekarang. Tapi aku berharap yang terbaik untuk kami berdua."
Kening Ruggie berkerut. Pertanyaannya terasa tidak terjawab, seakan Rook ingin menutupi sesuatu. Sayangnya, ketika Ruggie ingin mencoba mendesak gadis itu, pintu ruangan terbuka. Leona sudah kembali.
"... Kenapa kalian dekat sekali?"
Ruggie refleks mengangkat kedua tangannya ke udara. "Aku tidak sentuh-sentuh. Serius. Berani jamin."
Leona mendecakkan lidah, kemudian duduk di depan Rook yang masih sibuk mengelus kucing di pangkuan Ruggie. Mata gadis itu tidak kunjung teralih ke pria yang sudah ada di hadapan. "Hei."
"Ya?"
Jawaban pendeknya entah kenapa membuat Leona tidak senang. "Kau tidak lihat aku?" Seolah ingin menggoda, Rook masih tidak memberi respons yang diharapkan. Leona semakin tidak senang, hingga ia memberanikan diri menyundul perpotongan leher sang istri.
"Aduh—Leona-kun! Hentikan! Ini geli!"
Leona menggeram tidak terima, yang mana suaranya mengakibatkan kucing putih di pangkuan Ruggie—beserta Ruggie sendiri—kabur. "Aku tidak lihat ... aku tidak lihat ...," bisiknya, berusaha menutup mata dan menjadi angin lalu di antara dua sejoli yang tengah "memadu kasih."
Rook berhasil menahan kepala Leona dan menghentikan pergerakannya. "Kau kenapa, sih?!" tanyanya dengan nada sedikit tinggi. Ia membawa mata mereka bertemu sambil terus menangkup wajah masam sang suami. "Ada apa? Jangan bilang tadi itu marking? Kau cemburu dengan kucing-kucing di sini?" Nada yang dibuat Rook terdengar jahil, dibuktikan dengan dua sudut bibir gadis itu yang naik ke atas. "Haha! Tidak mungkin, kan?" Kalau yang ini terdengar ... sarkastik.
"... Kau janji untuk tidak jauh-jauh dariku."
"Dari tadi, kan, aku di sini? Dekat denganmu?"
"..." Pria singa itu memilih "menyerah," lalu berbaring—masih di depan tempat Rook duduk. Matanya memejam setelah memperhatikan langit-langit yang dipenuhi gambar awan. "Di luar ramai sekali."
"Huh?"
"Oh, sudah masuk jam minum teh, sepertinya." Ruggie, sudah kembali dari "persembunyian," mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya. "Yep, sedang ramai-ramainya. Beruntung kalian dapat ruang reservasi ini lebih dulu tadi."
"Managermu akan tetap mengutamakan keluarga raja dan akan mengusir pengunjung lain kalaupun sudah ada yang reservasi duluan."
"... Kenapa kedengarannya menyebalkan?"
"Berarti toiletnya ramai, kah, Leona-kun?"
Leona membuka satu matanya. Ia kemudian mengubah posisinya, menyamping menghadap Rook. "Mau ke toilet juga?"
"Iya, aku lagi halangan." Rook tampak merogoh tas tangannya sesaat. "Untung aku sempat bawa pads ... Mau ganti dulu, ya."
"Mm." Rook bangun dari duduknya setelah mengelus telinga Leona sekilas. Matanya sempat bertemu dengan Ruggie, tapi segera memutusnya saat ia berjalan keluar. Leona, kembali merasa tidak senang, buka suara, "Katanya tidak sentuh-sentuh, tapi main mata."
"Aku serius! Mana mungkin aku berani punya skandal dengan kerajaan!" Ruggie mencoba menghapus rasa malu yang tiba-tiba merayap ke sekitar wajah. "La-lagipula ... Leona-san tidak sungguhan menyukai Rook-san, kan?"
Hampir saja kepala Ruggie menjadi pasir kalau ia tidak langsung pindah tempat duduk—"jaga jarak minimal satu meter dari hewan buas." Leona kembali mengubah posisi tidurnya menjadi telentang. Matanya terpejam lagi saat menjawab, "... Belum tentu."
Ruggie mengedipkan mata beberapa kali. "... Apa?" Kepalanya sedikit mengalami kendala dalam memproses kata-kata yang barusan ia dengar. "... Huh? Yang tadi itu ... pendengaranku yang bermasalah, kah?"
"Tidak."
"Berarti otak Leona-san yang bermasalah."
"Oi ..."
"Tapi," Tiba-tiba Leona merasa ada kehadiran, dan saat ia membuka mata, Ruggie sudah berdiri di sampingnya, memperhatikannya dari atas—seperti masa-masa sekolah, "kau yakin yang kau rasakan itu cinta?"
"..."
Leona bangkit dari tidurnya, lalu duduk diam selama beberapa saat. Ruggie kembali mendudukkan diri, siap mendengarkan apa pun yang ingin mantan kepala asramanya itu katakan.
"... Semoga."
"Semoga?"
"Ini mungkin terdengar aneh, tapi ... aku sempat ada pikiran untuk serius dengannya."
Jadi mereka benar tidak sungguhan menikah, ya. Ruggie kembali memasukkan info itu ke kepalanya. "Sempat ... berarti belum benar-benar yakin?"
"Bisa dikatakan aku sedang memikirkannya." Leona langsung mengingat hari di mana ia pernah membayangkan ada anak yang mirip dengannya dan Rook. Pemikiran nyeleneh seperti itu, entah bagaimana membuat Leona merasa kalau ia seperti ingin mengubah status keduanya menjadi pasangan suami-istri sungguhan. Pangeran itu kemudian bermain dengan jari-jarinya, lalu kembali bicara, "... Aku sadar kalau apa yang kurasakan bisa saja karena aku butuh pelarian. Aku tidak berhasil dengan Vil, dan saat ada 'tuntutan' seperti ini, aku justru meminta tolong temannya."
Pangeran itu berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Matanya melihat pintu yang masih tertutup. "Dia memang menerima, tapi kalau boleh jujur, aku merasa bersalah karena sudah melibatkannya," lanjutnya. "Aku dan keluargaku sudah berjanji untuk tidak mempersulitnya dan akan segera 'membebaskannya.' Meski begitu, aku tetap merasa bertanggung jawab. Itulah kenapa, walau hanya sementara, aku ingin menjadi 'suami' yang baik."
Jarang sekali, bahkan—sepertinya—tidak pernah Ruggie melihat Leona yang terbakar rasa malu. Warnanya mungkin tipis, tapi Ruggie yakin matanya tidak rabun. Area sekitar pipi dan leher Leona memerah.
Dan itu semua karena Rook Hunt?
"Mungkin karena itu juga," Ruggie mencoba fokus kembali ketika Leona meneruskan bicaranya, "aku jadi ... terbawa suasana. Aku mulai nyaman dengan keberadaannya. Hubungan kami tidak seburuk itu. Rook juga ... tidak seburuk itu. Semakin aku sering bertemu dengannya, melihat wajahnya, bicara dengannya, aku mulai merasa ... kalaupun hubungan ini berubah serius, aku tidak merasa itu ide yang buruk."
Ruggie kembali syok dibuatnya. Belum lagi telinga dan ekor Leona yang bergerak tak karuan seolah menggambarkan kalau si empunya sedang menahan perasaan-apa-pun-itu yang bergejolak. Kalau sudah begini, jelas apa yang dirasakan seorang Leona Kingscholar adalah ...
"... jatuh cinta."
"Hah?"
"Aku yakin kau sedang jatuh cinta, Leona-san."
Raut muka sang pangeran singa kembali seperti sedia kala. "... Sudah kubilang semoga. Berarti aku masih belum yakin."
"Apa lagi yang perlu diragukan?!" Dengan dramatis, Ruggie menunjuk-nunjuk telinga dan ekor Leona yang masih tidak bisa diam. "Kau salah tingkah! Muka dan lehermu juga memerah tadi! Bukti apa lagi yang kau perlukan untuk percaya?! Berhenti denial!"
Jujur, rasanya kesal mendengar Ruggie bicara dengan penuh nada tinggi seperti itu. Namun anehnya, Leona tidak bisa menolak. Apa yang dikatakan Ruggie ada benarnya juga. Kalau sudah sampai di titik ini, apa lagi yang perlu diragukan? Bukankah semuanya sudah jelas?
"Ditambah lagi, tadi kau sungguhan cemburu sama kucing—bahkan aku, kan?!"
"...!" Wajah Leona kembali memerah dengan tuduhan tiba-tiba itu.
"Hora!? Mukamu merah lagi! Kimochi warui!"
"Apa-apaan ucapanmu itu, hah?!"
"Whoa, whoa, ada apa ini?" Tanpa kedua lelaki itu sadari, sang tuan putri sudah kembali dari ritual bulanannya. Tatapan putri itu masih tertuju ke singa dan hyena yang sempat beradu mulut, sembari membereskan perlengkapannya yang lain ke tas. "Kalian bersemangat sekali. Apa ada sesuatu yang seru selagi aku di toilet?"
"Leona-san kentut."
"...?"
"Oi! Jangan sembarangan!"
Meski tidak mencium apa pun, Rook tetap menutup hidungnya. "Tidak apa, Leona-kun. Kentut itu normal."
"Aku tidak kentut!"
"Kenapa harus malu mengaku, sih?" Ruggie ikut menutup hidungnya. Sebelum ada tinju lain melayang, si hyena muda langsung berdiri, membawa nampan dengan beberapa alat makan yang sudah selesai dipakai di atasnya. "Aku permisi dulu, ya~ ! Mau taruh ini di dapur. Ada yang mau dipesan lagi?"
"Tidak, kami akan segera pulang," balas Leona cepat dengan nada suara kesal.
"Dih, masa gitu aja ngambek." Tidak lagi menunggu protesan, Ruggie langsung keluar dari ruangan. Tak lama sebuah seruan terdengar dari luar, "Kalau butuh sesuatu, telepon saja!"
Sambil masih memeriksa barang bawaannya, Rook membuka pembicaraan baru, "Kalian akrab seperti biasa, ya."
"Lebih tepatnya dia yang terlalu akrab."
"Kau tidak menganggap Ruggie-kun sebagai teman?"
Singa itu tidak menjawab. Ia mengubah posisi duduknya supaya berada tepat di sebelah sang istri. "... Mau langsung pulang?"
"Kenapa? Ada kerjaan?"
"Nggak, sih ..."
Ada, sih, kerjaan. Berduaan sama kamu, misalnya, pikir Leona nyeleneh. Jantungnya berdegup cukup kencang, kembali memikirkan "tuduhan" Ruggie yang tadi. Sekarang, pikiran-pikiran nyeleneh seperti itu tidak akan terasa sama seperti sebelumnya, ... tapi Leona tidak keberatan akan itu.
Rook berdiri setelah selesai dengan kegiatannya. Kedua tangan di pinggang, bergaya seperti seorang ibu yang sedang memperhatikan anaknya—kucing coklat yang masih tidur di tempatnya sejak tadi. "Aku mau bawa pulang Leorio."
"Leo—siapa?" Degupan jantungnya dipaksa berhenti ketika ia mendengar ucapan random sang istri.
"Kucing yang mirip sama kamu." Leona refleks bangun ketika tiba-tiba Rook memanjat beberapa anak tangga yang menempel di tembok. Anak tangga itu memang terlihat kuat dan sepertinya khusus manusia (dalam kasus ini para pekerja di kafe, mungkin untuk keperluan bersih-bersih). Namun hatinya tetap mencelos ketika harus melihat istrinya yang bergerak sesuka hati tanpa memikirkan keselamatan diri.
"Sejak kulepaskan tadi, dia di situ terus," keluh Rook yang meski sudah naik tangga, tetap tidak bisa menggapai tempat kucing yang dimaksud. "Leorio ... apa aku membuatnya tidak nyaman, ya?"
"Lebih tepatnya kau yang menakutkan—aku bisa jadi testimoni." Leona mempersiapkan kedua tangannya di belakang pinggang Rook, berjaga apabila gadis itu kehilangan keseimbangan. "Tte iu ka, memang namanya Leorio?"
"Bukan."
"... Terus?"
"Aku yang kasih nama."
"..." Jika tidak karena kedua tangannya yang sedang berjaga, sudah dipastikan Leona menepuk dahinya sendiri. "Jangan sembarangan kasih nama hewan begitu. Kalau kau jadi sayang sama dia, bisa repot aku."
"Kenapa? Cemburu lagi?"
"Bukan," balas Leona dalam sekali tarikan nafas. "Kita perlu izin orang istana kalau ingin memelihara sesuatu. Lagipula, Leorio kucing kafe ini. Tidak boleh sembarangan dibawa pulang. Kalau kau terlanjur sayang, nanti kau jadi mudah rindu. Makanya jangan sembarangan dikasih nama."
Rook menatap Leona yang balas menatapnya dengan ekspresi bingung. "Kau seriusan berpikir aku mau bawa pulang Leorio?"
"..."
Mengetahui Leona yang baru menyadari kebodohannya sendiri, memancing Rook untuk tertawa lepas. "Oh, ya ampun! Kau terlalu menggemaskan, Leona-kun! Aku tidak menyangka kau bisa semenggemaskan itu! Aah, bisa repot ini ... Bisa-bisa aku sungguhan jatuh cinta padamu."
"..." Dua tangan yang tadi hanya untuk berjaga-jaga, seketika maju ke depan dan memeluk pinggang Rook dari belakang. Gadis itu sempat tersentak, kaget dengan cengkeraman tangan besar Leona yang memenuhi pinggangnya. "... Kalau begitu, lakukan."
"Eh?"
Pandangan mereka kembali terkunci. Semburat kemerahan memenuhi hampir seluruh wajah Leona, bahkan kini mencapai lehernya. Rasa panas yang sama ikut menjalari wajah Rook ketika ia melihat itu.
Huh ...? Apa ... maksudnya itu?
BRAK!
"Kalian berdua! Ada berita bagus! Manager memberiku—hm?"
Ketika pintunya tiba-tiba terbuka, Leona segera mengangkat Rook lebih tinggi supaya bisa menggapai tempat tidur Leorio. Itu semua dilakukan dengan maksud menutupi rasa malu keduanya. Namun, karena semua terjadi begitu cepat, Rook sampai tidak sempat ikut akting. Ia justru sibuk menutupi wajahnya yang masih seperti kepiting rebus.
"Hei! Cepat ambil kucingnya! Kau pikir kau tidak berat, hah?!"
"Berisik! Leona-kun bodoh! Bodoh, bodoh, bodoh!"
"..." Mungkin terkejut dengan suara-suara itu, Leorio melompat dari tempatnya dan mendarat dengan mulus di tangan Ruggie. Sambil membenarkan posisi kucing itu dalam pelukan, Ruggie hanya bisa memperhatikan dua sejoli dengan tingkah aneh mereka. "... Setiap satu dari kita keluar, sepertinya selalu ada yang terjadi, ya."
.
.
.
Next: Chapter 23
