Sungguh ... ini sungguh tidak baik. Jantungku terus berdetak dengan kecepatan di atas rata-rata, sampai aku bisa merasakan dadaku bergetar. Pikiranku kacau, beberapa kali kakiku nyaris limbung. Semua ini hanya karena ucapan aneh Leona-kun beberapa saat lalu.
"Bisa-bisa aku sungguhan jatuh cinta padamu."
"... Kalau begitu, lakukan."
Benar-benar tidak bisa dipercaya. Niat hati bersarkasme seperti biasa, malah dibalas dengan jawaban ... yang haruskah kusebut positif? Aku tidak tahu lagi harus kusebut apa jawaban macam itu.
Lakukan? Lakukan apa?! Jatuh cinta padamu?! Aku sudah jatuh cinta padamu, Leona Kingscholar!
"Rook?" Dan, masih dengan sebagian lehernya yang memerah, ia mengulurkan tangannya begitu. Sejak tadi aku masih terdiam di tempat, membiarkan Ruggie-kun keluar terlebih dulu. Leona-kun tidak ikut keluar dan tetap di dalam bersamaku. Kupikir dia akan mengabaikanku dan memilih melupakan apa yang terjadi. Tapi ... kenapa? Kenapa dia tetap tinggal dan mengulurkan tangan itu?
Aku hanya bisa menundukkan kepala saat tanganku yang bergetar menerima genggamannya. Entah perasaanku saja, tapi aku merasa tangannya dingin—itu dari keringat. Apa itu artinya ... dia sama gugupnya denganku?
Aaaah, sungguh! Apa yang sebenarnya terjadi?! Bukankah seharusnya dia tidak menyukaiku? Bukankah seharusnya aku hanya "teman" yang kebetulan dimintai tolong untuk jadi istrinya? Bukankah ... bukankah ...!
Persetan!
.
.
.
Chapter 23
.
.
.
"Yaah, sayang sekali kalian harus pulang cepat." Atas perintah managernya, Ruggie mengantar dua sejoli itu keluar dari kafe. Beberapa pengunjung lainnya sudah menyadari keberadaan mereka. Kondisi kafe jadi semakin ramai dari biasanya, yang mana itu sukses mematenkan senyum di wajah Ruggie. "Nanti main lagi ke sini, ya~! Gunakan voucher yang tadi Manager beri dengan sebaik mungkin!"
"..."
"..."
Percuma, ya. Usaha Ruggie untuk mencairkan suasana tampaknya belum berhasil. Bahkan Rook yang biasanya paling berisik, sampai diam dibuatnya. Ruggie mati-matian menahan segala kutukan terhadap Leona atas apa pun yang sudah ia ucapkan di ruangan mereka tadi.
"Uh ..." Ketika Ruggie mengira mereka akan tetap diam, tiba-tiba Rook mengeluarkan suara. "Aku rasa ... aku ingin beli beberapa oleh-oleh dulu," ujar gadis itu cukup rendah. Tanpa meminta persetujuan dari Leona, ia langsung masuk kembali ke kafe dan mengantre di depan kasir.
"Tidak peduli apa yang terjadi di antara kalian, aku akan menyalahkan Leona-san."
"Diam kau." Leona mengalihkan pandangan ke jalanan yang masih, atau bahkan semakin ramai menjelang malam. "... Aku hanya berusaha." Yang barusan itu ia ucapkan dengan suara yang cukup kecil.
Meski begitu, Ruggie masih bisa mendengarnya dengan jelas. Hyena itu berkacak pinggang saat bertanya, "Apa itu artinya kau sudah yakin dengan perasaanmu?"
"..." Lagi-lagi sang pangeran bungkam.
Ruggie menghela nafas. "Baiklah, apa boleh buat." Tangannya terulur. Pose yang ia buat sekarang jelas menunjukkan kalau ada sesuatu yang diinginkan. "Kalau mau aku bantu ..."
Tidak perlu sampai mantan adik kelasnya menyelesaikan, Leona sudah paham. Sambil berdecak tidak senang, ia mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada sang hyena. Layar yang tertera adalah aplikasi bank online dengan rekening atas nama "Ruggie Bucchi" tertulis jelas di sana.
"Hooo, yakin aku yang pasang harga?"
"Langsung full payment, jangan tinggalkan utang."
Ruggie mengeluarkan tawa andalannya. Ia menerima ponsel itu dengan senang hati. "Baiklah, baik~. Jangan khawatir, Leona-san. Aku tidak akan meminta lagi setelah ini. Jadi, kapan pun kau butuh bantuan atau saran, langsung tanyakan saja."
Begitu ponselnya kembali, Leona mengerutkan kening sesaat melihat nominal yang dituliskan si hyena kecil. "Tsk, benar-benar tidak tanggung, ya. Ini cukup untuk menghidupi keluargamu lima turunan." Meski begitu, ia tetap menyelesaikan transaksi yang sudah disepakati.
"Aku adalah pria yang selalu memanfaatkan kesempatan. Kau sendiri yang memintaku pasang harga, kan?" Ruggie melirik sekilas ke dalam kafe. Masih ada dua orang di depan Rook, menandakan waktu mereka masih cukup banyak. "Pertama-tama, aku ingin pastikan perasaanmu dulu," ia memulai, matanya kembali pada Leona yang juga menatapnya. "Pertanyaannya masih sama dengan yang tadi—yang tidak kau jawab."
Leona menahan nafasnya sesaat, kemudian mengembuskannya panjang. "... Aku rasa iya."
"Belum meyakinkan."
"Pernikahan ini bahkan belum ada enam bulan, oke?" Leona mencoba memberi pembelaan. "Aku tahu kalau hubungan ini tidak seburuk itu dan aku menikmatinya. Hanya saja, aku masih takut ... kalau aku menjadikan Rook pelarian. Tak kan adil baginya kalau perasaanku ternyata tidak sungguhan."
"Tapi, kalau untuk sekarang, apa kau ingin bersamanya?"
Kali ini giliran Leona yang melihat ke dalam kafe. Punggung kecil namun tegap milik Rook yang sudah menjadi pemandangan sehari-hari tertangkap netra. Semakin dilihat, gadis pemburu itu semakin cantik. Tanpa disadari, pemikiran itu mempercepat debaran di dadanya.
"... Ya," mulutnya bergerak, dengan mata yang masih memperhatikan punggung itu, "aku ingin bersamanya."
Yep, dia cuma belum berani mengakui, simpul Ruggie. "Baik, itu sudah cukup untuk sekarang—aku rasa, karena aku akan langsung ke intinya." Hyena itu ikut memastikan kalau si gadis pemburu masih sibuk memesan makanan, lalu berujar, "Aku rasa Rook-san menyukaimu."
"..."
"Tidak percaya?"
"..." Dengan berbagai macam ingatan yang terekam, Leona mencoba menghubungkannya dengan perkataan Ruggie barusan.
Rook Hunt menyukainya? Kalau boleh jujur, itu pertanyaan yang cukup sulit untuk Leona jawab. Gadis itu selalu menunjukkan rasa "sukanya" pada siapa saja. Hampir mustahil untuk mengetahui siapa yang benar-benar ia sukai sampai ke tahap "ingin dijadikan pacar." Namun, kalau Ruggie saja sudah berpendapat begitu, maka apa alasannya?
"Kalau kau tanya kenapa," Seolah membaca pikiran sang pangeran, Ruggie mencoba menjelaskan pandangannya, "perlakuannya padamu dan pada orang lain itu, bisa kubilang, cukup berbeda. Sebagai contoh yang aku sadari sejak sekolah dulu, frekuensi paling banyak dia mengikuti seseorang itu ketika dia mengikuti Leona-san."
Telinga Leona bergerak mendengar itu. "... Kau mulai terdengar seperti Rook."
"Ini hanya karena aku sering bersamamu, oke?!" Ruggie membela diri. "Aku membandingkannya dengan saat ia mengikuti dan mencari Leona-san, dengan saat ia padaku. Bahkan, ketika dia bertemu denganku, yang dia tanya pasti Leona-san. Dari situ saja, aku bisa menyimpulkan kalau ketertarikannya pada Leona-san itu tinggi.
"Faktor lainnya yang aku sadari adalah caranya berbicara. Ini masih tergantung pada instingku, tapi berhubung dia mengatakannya ketika aku sedang tidak bersama Leona-san, aku bisa lihat ekspresinya yang berbeda dengan cukup jelas." Ruggie kembali mengecek Rook yang sudah mendapat gilirannya. Waktu mereka sudah semakin tipis. "Leona-san ingat saat aku menyampaikan salam Rook-san? Kita ada di rumah kaca waktu itu. Kau memesan roti daging padaku, dan aku belikan yang ada seladanya."
"Ah."
"Langsung ingat, ya?"
Tiba-tiba air muka Leona berubah masam. "Setiap kali kau mengerjaiku, pasti akan kuingat."
"Menyeramkan ..." Ruggie menggelengkan kepalanya sekilas, heran. "Yah, intinya, sebelum aku kembali ke rumah kaca, aku bertemu dengan Rook-san. Aku ajak dia untuk ikut ke rumah kaca—yang mana itu hanya basa-basi, tapi dia menolak. Jujur, aku langsung merasa ada yang aneh. Tidak biasanya dia menolak ketika ada sesuatu yang berhubungan dengan Leona-san. Belum lagi ... dia menolaknya sambil memasang ekspresi sedih."
"..." Tidak hanya soal rotinya, perlahan Leona juga mengingat responsnya sendiri ketika Ruggie menyampaikan salam Rook; ia terkejut dan dadanya sempat merasa sakit. Ia mungkin belum bisa ingat dengan pasti alasannya apa waktu itu, tapi entah kenapa Leona yakin, sakit di dadanya akibat dari rasa bersalah pada Rook. Apabila Ruggie menggambarkan Rook saat itu sedih, semuanya terasa jelas sekarang.
"Dan ekspresi sedih itu, aku lihat lagi saat kita masih di dalam tadi."
"Hah?"
Ruggie menaik-turunkan pundaknya. "Waktu kau ke toilet, aku mengobrol sedikit dengan Rook-san. Aku sempat menanyakan perihal perasaannya padamu, dan tahu apa katanya? Katanya dia tidak yakin dengan hubungan kalian dan ingin yang terbaik untuk kalian berdua. Wajah dan nadanya mungkin terkesan tak acuh, tapi aku merasa ada yang janggal. Hingga kemudian, setelah aku mengingat kejadian yang tadi kuceritakan, aku merasa ekspresinya tidak jauh berbeda dengan saat itu."
Leona menggigit bibirnya sedikit. "Tidak yakin ..."
"Sepertinya Rook-san sendiri takut dengan perasaanmu, Leona-san," lanjut Ruggie. "Sikapmu padanya selama ini tidak menunjukkan ketertarikan. Kau bahkan sering mengatainya aneh, berisik, atau apa pun itu. Kalau dia berpikiran kau membencinya, maka aku tidak akan kaget."
"Tunggu ..." Leona menggaruk belakang kepalanya, lalu meneruskan, "Aku tahu responsku mungkin terlambat, tapi dari yang kau jelaskan, apa itu berarti kau merasa Rook mungkin menyukaiku sejak ... kita masih di sekolah?"
"Bukankah itu sudah jelas?" Ruggie menaikkan sebelah alisnya, tidak percaya. "Kalian baru kenal saat di NRC, kan? Dan saat itu juga Rook-san memperlihatkan ketertarikannya padamu, seperti yang kusebut tadi. Aku tidak bisa memastikannya sejak kapan—karena aku sendiri tidak sedekat itu dengan Rook-san. Tapi kalau sudah sejak itu, tandanya sudah cukup lama."
"..."
"Ya," Lagi-lagi, seolah bisa membaca apa yang dipikirkan Leona, Ruggie bersuara, "dia menyukaimu saat kau menyukai teman dekatnya sendiri, dan Rook-san tahu perasaanmu, sementara kau tidak."
Air muka Leona semakin masam. Baru saja ia ingin membalas ucapan Ruggie, pintu depan kafe terbuka. Rook sudah selesai dengan belanjaannya. Mata hijaunya melihat singa dan hyena itu bergantian.
"... Apa aku mengganggu perbincangan kalian?"
"S-sama sekali tidak! Cepat juga kau kembali, Rook-san!"
"Pesananku tidak terlalu banyak." Gadis itu mencoba tersenyum. Ia sempat melirik Leona, sebelum akhirnya fokus pada Ruggie. Jantungnya masih tidak bisa diajak kompromi dengan baik. "Lihat," Ia membuka paperbag yang ia bawa, "ini semua untuk Cheka-kun, Aniue, Aneue, aku dan Leona-kun. Aku beli lebihan apabila kurang."
"W-wah ... kau sungguh perhatian," balas Ruggie, berusaha membersihkan tempat kejadian perkara. "Oh! Apa itu berarti voucher-nya sudah kau gunakan untuk ini?"
Rook mengeluarkan voucher pemberian manager Ruggie dari sakunya. "Masih ada! Niatnya aku ingin mengajak Cheka-kun ke sini. Khusus oleh-oleh ini, aku yang beli sendiri."
"Haha! Hampir kukira aku harus memberimu voucher lagi." Ruggie melirik Leona dari ekor matanya, kemudian mengantarkan pasangan itu ke arah mereka pulang. "Baik, ini sudah semakin sore. Kalian harus pulang sebelum gelap, kan? Ini sudah mau malam. Aku tidak ingin ada urusan dengan pihak kerajaan kalau sampai ada apa-apa."
Rook sedikit memaksa tawanya. "Tenang saja, kami tidak akan kenapa-kenapa. Toh ini masih di kota."
"Yah, namanya jaga-jaga." Ruggie melihat Leona yang masih memasang ekspresi kurang mengenakkan. Rasanya cukup mengejutkan mengetahui Leona yang tidak peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya; dalam konteks ini perasaan Rook padanya. Namun, kalau dilihat lagi ke belakang, hubungan mereka memang tidak sebagus itu. Ditambah lagi, Rook sendiri adalah sosok yang kadang susah untuk dibaca dan seringkali seperti memberi sinyal palsu dalam setiap ucapannya. Kalau sampai Leona tidak menyadarinya, mungkin itu hal yang termasuk wajar.
Melelahkan. Hubungan dua kakak kelasnya ini terlalu banyak drama dan bikin pusing kalau semakin dipikirkan. Kalau bukan karena rasa hormat dan sudah dibayar, Ruggie mungkin akan membiarkan Leona menyelesaikannya sendiri. Meski begitu, tangannya gatal. Ia ingin memberi Leona sedikit pukulan, maka melayang lah tangannya ke punggung tegap singa itu. Suara yang dihasilkan mampu mengalihkan perhatian beberapa orang yang lewat. Sepertinya pukulan itu akan meninggalkan bekas selama beberapa waktu ke depan.
"Oi, sialan!? Apa-apaan itu?!"
"Jaga istrimu dengan baik," ia menekan kata-katanya di bagian "istri." Masih tidak menggubris protesan pangerannya, Ruggie meneruskan, "Aku perlu kabar baik untuk disampaikan ke anak-anak di asrama! Jangan lupa sampaikan kabar baik itu kalau ada! Aku kembali kerja dulu! Bye!"
Seruan hyena itu, yang tentunya juga didengar oleh banyak orang, mengembalikan rasa malu tak terbendung ke dua sejoli muda Kingscholar tersebut. "Kabar baik" yang dimaksud Ruggie adalah info perkembangan hubungan mereka dari Leona. Namun, apa yang Rook dan orang-orang tangkap sudah pasti berbeda. Keduanya berjalan cepat kembali ke istana dengan muka yang merah padam.
.
.
.
Matahari baru saja sampai di peraduan saat keduanya tiba. Sambutan ringan mereka terima dari para penjaga, juga dari seseorang yang sudah beberapa bulan ini tidak mereka lihat.
"Kifaji?"
"Lama tidak jumpa, Leona-sama." Orang yang ternyata Kifaji, sang kepala istana, tersenyum ramah ke Leona. Senyuman itu kemudian teralih pada Rook yang masih memberinya tatapan tidak percaya. "Lama tidak jumpa, Rook-sama. Sepertinya Anda masih belum terlalu kenal dengan saya. Tentu saja, karena ini pertemuan kedua kita setelah pernikahan kalian."
"M-maafkan aku, Kifaji-san!" Rook ikut memberi senyuman terbaik. "Lama tidak jumpa. Aku hanya tidak mengira akan melihatmu hari ini ... di sini."
"Ya. Kupikir kau terlalu betah di rumah, bermain dengan cucumu."
"Cucu saya adalah penggemar berat Leona-sama. Saya datang untuk menyampaikan dukungannya."
"Jangan ngawur. Cucumu baru lima bulan."
Kifaji tertawa. Matanya bergerak ke bingkisan yang Rook bawa sejak mereka tiba tadi. "Kalian habis jalan-jalan?"
"Ah! Benar!" Rook mengulurkan dua bingkisan pada Kifaji, membiarkan satu sisanya berganti ke tangan Leona. "Ada sedikit oleh-oleh untuk Ani—Yang Mulia Raja dan Ratu, juga Cheka-kun—sama. Masih ada bagian untuk Kifaji-san karena aku beli sedikit lebih banyak."
"Untuk apa repot-repot?" Meski begitu, Kifaji menerima bingkisan itu dengan senang hati. Niat baik sang Tuan Putri sudah tersampaikan, tidak boleh ia menolaknya. "Omong-omong, Anda belum mengubah panggilan Anda terhadap keluarga kami, ya."
"Aku sudah sering menegurnya, tapi masih saja begitu."
Rook mencubit pinggang Leona sesaat sambil membalas, "A-ahaha ... Yang Mulia—maksudku, Aneue juga suka memberitahuku. Sebenarnya, aku sudah mencoba membiasakan diri, tapi sepertinya masih tidak semudah itu, terutama saat di depan orang-orang yang berkepentingan, seperti Kifaji-san."
"Padahal gaya bicara Rook-sama dengan saya saat ini sudah terdengar santai. Tapi, dapat dipahami. Semoga cepat terbiasa, ya." Kifaji tersenyum, lalu mengecek bingkisan di tangannya sekali lagi. "Terima kasih oleh-olehnya, Rook-sama. Nanti akan saya bagikan dengan rata ke semua orang."
Rook mengangguk dan membalas senyum Kifaji. "Baiklah. Kalau begitu, kami pamit dulu—"
"Oh, sebentar. Saya ada perlu dengan Leona-sama."
Sontak Leona menaikkan alisnya, heran. "Ada apa ini? Ingin reuni?"
"Hanya sebentar." Itu tidak menjawab pertanyaan Leona. "Rook-sama, jika tidak keberatan, Anda bisa kembali lebih dulu. Saya tidak akan lama."
Keduanya sempat bertukar pandang, sebelum akhirnya Rook menurut. Ia mulai berjalan, sambil sesekali menengok ke belakang, yang mana ternyata Leona juga sedang melihat ke arahnya. Leona hanya melambaikan tangan pelan, kemudian dibalas oleh Rook, sebelum gadis itu benar-benar fokus pada perjalanannya kembali ke mansion.
Kifaji menyembunyikan senyum memperhatikan tingkah pasangan muda di hadapannya ini. "Tampaknya kalian sungguhan berteman baik selama sekolah, eh. Cukup tidak disangka."
"Kami tidak sedekat itu," bantah Leona cepat. Ia melipat tangannya di dada, seolah berniat memberi pesan pada Kifaji bahwa posisinya lah yang tetap lebih tinggi dari kepala istana senior itu. "Langsung ke intinya saja. Apa yang ingin kau bicarakan? Kalau mau berbagi cerita selama cutimu, mending nanti."
"Bukan itu." Dengan santai, Kifaji membuka satu kantung bingkisan dari Rook, mengambil sebungkus kue, lalu memperhatikan setiap tulisan yang tertera di sana. Mungkin ingin mengecek kadar gula dan kalorinya terlebih dahulu. "Saya hanya ingin memastikan apa yang dikatakan Falena-sama itu benar atau tidak," lanjutnya lagi, sambil membuka bungkus kue itu dan mulai memakannya. Ekspresinya menunjukkan kalau ia suka dengan rasa yang disajikan.
Kuping Leona bergerak mendengar itu. "Aniki bilang sesuatu yang aneh, kah?"
"Bukan, kok," jawab Kifaji setelah menelan gigitan kuenya yang kedua. "Falena-sama—dan istrinya—bilang kalau Leona-sama dan Rook-sama terlihat semakin dekat. Mungkin tinggal tunggu waktunya saja sampai hubungan kalian jadi sungguhan."
"Hah?"
"Mereka tidak bilang ini rahasia, jadi aku bocorkan saja pada Leona-sama."
"Tidak, tidak. Bukan itu." Leona melihat intens ke arah Kifaji yang masih sibuk dengan sebungkus kuenya—kini sudah habis dimakan. "Kenapa mereka bilang seperti itu?"
Kifaji menggeleng saat mulutnya masih penuh dengan potongan terakhir dari kue miliknya. "Mungkin melihat bagaimana Leona-sama dan Rook-sama berinteraksi, seperti tadi. Kalian tampak terbiasa dengan kehidupan baru kalian, dan itu memberi kesan kalau kalian memang dekat."
Leona menggigit bibir setelah mendengar penjelasan itu. Entah apa yang merasukinya, tapi dadanya hangat mengetahui apa yang keluarganya pikirkan tentang hubungannya dengan Rook. Jika ini didengar oleh Leona yang sebelumnya, mungkin ia akan mati-matian membantah dan menolak kedekatannya dengan si gadis pemburu. Namun untuk dirinya yang sekarang, jelas ini berbeda.
"Meskipun saya tidak masalah jika itu benar, saya hanya berharap, baik Leona-sama maupun Rook-sama tidak terburu-buru." Tubuhnya yang sudah terbang, kembali ditarik turun ketika Kifaji bicara lagi. Kepala istana yang sudah ia kenal selama bertahun-tahun dan sudah seperti ayah angkatnya itu, membereskan bingkisan di tangannya dari sisa-sisa kue yang habis dimakan, lalu meneruskan, "Ini semua terjadi karena kontrak. Rook-sama setuju untuk membantumu menunaikan wasiat dari mendiang Baginda Ratu, begitu pun Leona-sama yang sudah berjanji akan mengembalikan kebebasannya setelah kontrak habis. Jika nantinya kontrak itu batal karena kalian ingin bersama sebagai pasangan suami-istri, maka itu tidak masalah, asalkan itu sudah keputusan yang paling matang dari kalian berdua."
"..." Sang pangeran sampai menahan nafas karena petuah Kifaji yang dirasa sangat panjang, dan juga dalam. Tidak perlu diberitahu pun, Leona sudah memikirkan itu.
Leona bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi. Jelas sekali ia tidak boleh sampai salah ambil langkah, karena ini tidak hanya menyangkut dirinya, tapi juga Rook, serta seluruh keluarga mereka. Jika perasaannya ini hanya karena ia terbawa suasana, hanya karena ia menjadikan Rook pelarian setelah gagal bersama Vil, maka hancur sudah semua hubungan baik yang telah dibangun oleh kedua belah pihak.
Punggung dan lehernya pegal seketika memikirkan itu semua. Leona meregangkan tubuhnya sejenak, sebelum akhirnya merespons wejangan dari sang kepala istana, "Terima kasih atas kebijaksanaannya, Bapak Kifaji. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengecewakan kalian semua."
"Apa Anda menganggap serius omongan saya?"
"Sangat serius. Tenang saja." Leona memutar badan, sudah siap untuk kembali ke tempat ia dan istri tercintanya tinggal. Pandangannya tidak menyiratkan keraguan sedikit pun, setidaknya itu yang Kifaji rasa. "Aku juga memikirkan hal yang sama. Kau tidak perlu khawatir. Istriku adalah prioritasku. Aku tidak mungkin akan seenaknya dalam bertindak." Bahkan suaranya tak bergetar saat mengatakan itu semua.
Diam-diam Kifaji menahan senyum mengetahui itu semua. Sudah besar, eh, anak yang satu ini.
.
.
.
Next: Chapter 24
