Chapter 24
.
.
.
"Loh? Sudah mau kembali?" Baru saja satu langkah, Leona berhenti lagi saat Kifaji bicara. "Saya masih ada yang mau disampaikan."
"Bisa nanti saja, kan?" balas Leona cepat, nadanya sudah tidak sabaran. "Toh kau sudah kembali, tandanya cutimu sudah selesai. Kalau ada yang mau dibicarakan lagi, nanti saja saat di kantor."
"Ini soal Ujian Berburu."
Ugh, itu lagi. Wajah Leona berubah masam. Terlalu banyak yang terjadi dalam satu hari ini, seakan dirinya tak diizinkan beristirahat. "Kenapa?"
"Besok pagi, akan ada rapat mengenai Ujian Berburu bersama Falena-sama," jelas Kifaji tenang. Ia tahu kalau ini topik sensitif bagi Leona, tapi ada baiknya untuk tetap terbuka. Apabila Leona tidak berkenan untuk hadir, maka Kifaji merasa lebih baik untuk tahu itu sedari awal. "Saya sudah dengar soal tamu pagi tadi—sesaat setelah saya menemui Falena-sama. Saya tahu kalau Anda tidak senang harus mendengar soal ini untuk yang kedua kalinya, tapi karena ini sudah saatnya membahas rencana yang dicanangkan setahun lalu oleh Falena-sama, saya harus menginformasikannya pada Anda."
Leona diam dan berpikir sejenak. Sepertinya ia pernah dengar mengenai rencana yang dimaksud Kifaji. "Tentang masa pengenalan itu, kah?"
"Benar sekali," Kifaji segera mengiyakan. "Usia Cheka-sama untuk masa pengenalan itu sendiri mungkin masih jauh, tapi tidak dengan para sepupu. Mereka semua berada di atas Cheka-sama, sehingga kita harus memulainya lebih awal."
Leona manggut-manggut. "Ya, ya. Aku akan datang besok," katanya, kembali membalikkan badan—kali ini harus sungguhan. "Sisanya bicarakan saja di jamnya nanti. Aku mau pulang."
Kifaji membuang nafas perlahan. Senyum yang sedari tadi ditahan, akhirnya keluar juga. Ia pun ikut berbalik, menenteng bingkisan yang tadi Rook beri padanya. "Punya Cheka-sama kumasukkan kulkas dulu. Sudah hampir makan malam, dia tidak boleh nyemil," bisiknya pada diri sendiri sambil terus berjalan, kembali ke istana.
.
.
.
Rook sudah kembali ke kamarnya sendiri dan sekarang sedang berusaha menggambar. Kakaknya hanya membawakan alat gambar, tapi tidak dengan sketchbook-nya. Meski begitu, ia tidak mempermasalahkannya karena toh nanti ia akan pulang ke rumah saat tahun baru. Untuk sekarang, ia bisa menggunakan buku atau kertas apa pun yang bisa ditemukan di kamar.
Namun, sudah 30 menit berlalu dan pensilnya masih tidak bisa menciptakan guratan yang diinginkan. Kepalanya kosong, tidak ada inspirasi sama sekali. Mood menggambar yang biasanya masih bisa datang secara tiba-tiba setiap ia memegang pensil, malam itu tidak ada tanda-tanda memunculkan keberadaannya.
"Leona-kun ... apa yang sedang dipikirkannya ..."
Setelah kembali dari reuni dadakannya dengan Kifaji, Leona masuk ke ruang makan tanpa suara. Mereka masih bicara seperlunya selama makan malam berlangsung, tapi tak ada bahasan apa pun yang menyangkut kejadian hari ini, entah itu saat mereka ke kota, atau apa yang Leona bicarakan dengan Kifaji. Tak berniat menunjukkannya sekalipun, Rook tahu kalau ada yang mengganggu sang pangeran.
Jujur saja, Rook sempat berharap mereka akan membahas kejadian selama di kafe tadi. Ia ingin bertanya—atau setidaknya memancing—Leona untuk menjelaskan apa maksud kata-katanya itu. Namun, setelah ditinggal bersama Kifaji, kesempatan itu mendadak hilang. Apa pun yang mereka bicarakan, sudah pasti itulah penyebabnya.
Tuk
Rook setengah melempar pensilnya ke atas buku ketika ia turun dari kasur. Dengan cepat ia keluar dari kamar, berlari ke kamar Leona, mengetuk pintunya dua kali, kemudian menunggu jawaban orang yang di dalam.
"Kenapa?"
"Belum tidur, Leona-kun?"
"..."
Rook sudah bersiap membuka kenop pintu kamarnya ketika ia bicara lagi, "Aku ... aku mau tidur di kamarmu, boleh?"
Tiba-tiba saja terdengar suara seperti benda jatuh dari dalam kamar. Rook refleks mundur dari pintu ketika kenopnya turun sendiri. "... Apa?" Rambut coklat gelap Leona tampak berantakan, begitu juga wajahnya yang seperti orang terkejut. Semburat merah tipis yang muncul di kedua pipinya menular ke Rook yang masih terdiam melihat kondisi Leona yang tak biasa.
Gadis pemburu itu terbatuk sebentar, sebelum berujar, "Anu ... m-maaf, sepertinya kata-kataku tadi aneh ... A-aku hanya ingin menawarkan ... um ... jasa konseling. Ingat aku pernah bilang? Soal curhat? Aku ... aku merasa kau membutuhkannya, jadi ..." Melihat Leona yang masih berantakan terlalu lama, membuat Rook semakin salah tingkah. "K-kalau tidak perlu ... tidak apa ... A-atau—sepertinya lupakan saja! A-aku akan kembali ke kamar—"
"Tunggu." Leona segera menarik tangannya sebelum Rook melarikan diri. Perlahan, ia menarik Rook masuk ke kamarnya. Saat kepala Rook berada tepat di bawah dagunya, ia berbisik, "Ya ... aku sepertinya butuh curhat. Aku harap kau mau mendengarku."
Aroma sabun yang sama dengan yang ia pakai, bercampur dengan sentuhan tipis parfum yang baru kali ini Rook cium. Dari jarak dekat inilah baru Rook sadar kalau kondisi berantakan Leona sebenarnya karena dia habis mandi. Jantungnya bertabuh seperti genderang perang ketika ia menganggukkan kepala, lalu membiarkan Leona menariknya masuk ke kamar sepenuhnya.
Rook duduk di pinggir kasur dengan perasaan yang masih campur aduk. Leona menyusul setelah mengunci pintu kamarnya. Berusaha menenangkan diri, Rook memilih melihat sekelilingnya. Kalau dipikir-pikir, ini kali pertama ia masuk ke kamar Leona dan kondisinya berbeda dengan kamarnya sendiri. Tidak banyak barang dan terlalu luas. Ditambah ...
"... kamarmu tidak ada kamar mandinya?"
"Karena sebenarnya, ini bukan kamar tidur."
"Eh?"
Leona meraih ponselnya yang ada di atas nakas, mensenyapkan notifikasi, sebelum kembali fokus pada Rook. "Ini ruang kerja ibuku. Dulu, setiap kali aku dan Aniki dikurung di sini, Hahaue akan datang menemani sambil bekerja. Saat pindah ke mari, aku memilih ruangan ini untuk jadi kamar tidurku. Agak ribet karena kalau mau ke kamar mandi jadi keluar, tapi itu tidak masalah."
Rook tersenyum mendengar kisah yang baru pertama kali Leona bagi itu. "Kau sangat menyayangi ibumu, ya."
"Lebih ke menghormati, aku rasa." Leona melipat kedua kakinya, bersila di atas tempat tidur. Saat ia menempelkan punggungnya ke sandaran, Rook merangkak dan mengikuti jejaknya. "Menjadi keluarga bangsawan itu tidak sama dengan keluarga biasa. Masa kecilku kemungkinan berbeda dengan masa kecilmu. Aku tidak bisa mendeskripsikan rasa 'sayang' yang sama dengan yang orang-orang rasakan terhadap orang tua mereka. Tapi, satu yang aku tahu: Hahaue adalah orang yang hebat dan dia telah menjadi role model-ku sejak kecil. Tinggal di tempat dia dulu bekerja, menjadi hal paling minimal yang bisa kulakukan untuk mengenangnya."
"Terdengar romantis ..."
"Hah." Ketegangan yang tadi Rook lihat selama makan malam, rasanya sudah berhasil direnggangkan. Leona yang ia ingat sudah mulai kembali. "Bersikap romantis pada orang yang semasa hidupnya sadis, kemudian membuatku berakhir di kehidupan yang tragis."
Rook tertawa. "Apa maksudnya itu? Kau sedang berima?"
Leona ikut tertawa. Apa yang dikatakannya tadi terdengar sangat konyol sekarang. "Maaf, sepertinya kepalaku memang terganggu."
"Um, makanya aku memberimu kesempatan untuk cerita." Punggung Leona merosot sedikit dari sandaran, sedang kepalanya menengadah ke langit-langit. Rook mendekatkan diri ketika ia berujar lagi, "Kifaji-san ada bilang yang aneh-aneh, kah?"
"Sama kayak kakakmu ..." Rook tampak tegang saat kakaknya kembali disebut. Leona mencoba membenarkan duduknya sebelum memulai, "Oh, aku lupa bilang. Kakakmu, selain bicara soal travel vlog itu, sempat mengungkit masalah Ujian Berburu. Dan ... tadi Kifaji juga mengungkitnya." Telinga berbulu Leona tampak turun. Ekornya melingkar kuat di pinggang Rook. Jelas sekali ia tidak suka topik itu. "... Hari ini, sudah ada dua orang yang bawa-bawa topik itu. Menyebalkan."
Rook memeluk kedua kakinya. Ekor Leona sudah sampai di sekitar mata kakinya ketika ia membalas, "Kebetulan ... aku juga habis baca itu saat di perpustakaan."
"Not you too ..."
"Sepertinya topiknya memang sedang hangat," Rook mencoba memberi penjelasan. "Meski usia Cheka-kun masih belum cukup, tampaknya, karena dia anak Raja, orang-orang jadi bersemangat untuk langsung membicarakannya." Ia kembali mempertipis jarak di antara mereka. Sambil memberi ekor Leona elusan menenangkan, Rook kembali berkata, "Um ... aku minta maaf atas nama kakakku. Aku tidak tahu apa yang dikatakannya padamu, tapi ... bisa kupastikan cara penyampaiannya sama sekali tidak berkenan."
Leona memiringkan kepalanya, membuatnya berbenturan pelan dengan milik Rook. Ia berkata sambil menggeram rendah, "Tenang saja, kau tidak perlu minta maaf. Aku sudah tahu kakakmu bagaimana, jadi aku biarkan saja."
Rook tersenyum getir. "Akan kutabok punggungnya kalau nanti ketemu."
Leona terkekeh. "Bodoh sekali ..."
Dengan kepala yang saling bersentuhan dan jarak yang sedekat ini, membuat Rook hampir tidak percaya ini sungguhan terjadi. Dirinya lima tahun lalu mungkin tidak akan menyangka hari seperti ini bisa ada. Debaran di dadanya pun kembali bergemuruh, tapi Rook sudah tidak setegang tadi. Ia sangat menikmati momen menyenangkan ini.
"Kurang lebih, itu yang membuatku terganggu." Suara Leona yang kembali pada pembicaraan, menyadarkan Rook untuk kembali fokus. Ia tidak bisa terus-terusan memikirkan diri sendiri. Leona sedang membutuhkannya sekarang.
"Luka di matamu," Rook memutar badannya, berhadapan dengan Leona yang juga sedang menatapnya tepat di mata, "didapat saat Ujian Berburu. Itu sama sekali bukan kenangan yang baik bagi anak kecil."
"Dan sampai besar terus terbawa." Leona membiarkan Rook mengelus sebagian lukanya yang berada di atas pipi. Usapan ibu jari Rook teramat lembut, membuatnya nyaman. Mulutnya tanpa diaba-aba mengeluarkan suara purring halus. "... Rasanya masih seperti kemarin, kalau aku mengingatnya sekarang."
Rook menggigit bibirnya, kembali teringat perasaannya tadi siang. Ia sampai membayangkan, andai saja ia bisa memutar kembali waktu, maka ia akan membawa kabur Leona bersamanya. Apa yang terjadi saat itu benar-benar terlalu berat untuk seorang anak yang bahkan belum menginjak pubertas.
"Aku tidak melakukannya ...," Leona kembali pada ceritanya. "Mereka yang memancingku. Mereka yang membuatku emosi dan ... dan aku tidak bisa mengendalikan diri. Aku ingin membuktikan kalau aku bisa ... kalau aku bisa mendapat hewan di tempat laknat itu. Tapi, memang dasarnya aku masih terlalu naif, aku tidak peduli akan bahaya yang mengintai."
Ia berhenti sejenak dan menarik nafas. Matanya kembali bertemu dengan Rook, mengembalikan kekuatannya untuk meneruskan, "Para sepupu di hari itu terus memancing kekesalanku. Mereka sudah tahu tentang Unique Magic milikku dan mulai mengucilkanku. Kemudian, aku dianggap tidak mumpuni dalam berburu. Mereka membuatku kesal, hingga di hari puncak, mereka menyebut Elephant Graveyard untuk kembali memancingku. Dengan bodohnya, aku terpancing dan hendak membuktikan kalau aku bisa. Mereka tidak akan mengolok-olokku lagi kalau aku bisa dapat satu hewan—apa pun—selama di sana. Maka, saat aku berhasil menghilang dari pengawasan petugas, aku langsung ke sana. Sayang sekali, seperti yang bisa diduga, bukan keberuntungan, melainkan kesialan lah yang ada di tanganku saat itu.
"Aku diserang oleh monster Blot yang tiba-tiba muncul. Aku berusaha untuk melawan, tapi sihirku tidak cukup. Jadi, aku memutuskan untuk sembunyi di gua terdekat yang bisa kutemukan sampai bantuan datang. Jujur saja, aku sempat ingin menyerah. Aku tidak yakin akan ada yang muncul dan bersedia membantu. Bagaimanapun, keberadaanku tidak sepenting kakakku. Mereka cenderung tidak peduli pada pangeran kedua macamku. Sampai akhirnya," Ia kembali menarik nafas, "Aniki datang. Dia datang, sendirian, tanpa bawa senjata atau apa pun—kecuali sebuah stik kayu panjang yang mungkin dia dapat dalam perjalanan ke sana. Aku digendongnya dan dibawa keluar dari gua. Belum sampai ke bagian terluar tempat itu, monster Blot itu kembali dan memisahkan kami. Aku mendapat luka ini saat aku mencoba mengalihkan perhatiannya dari Aniki. Monster itu mendadak jadi sangat tertarik pada Aniki dan tidak lagi memedulikanku ... di saat sebelumnya, aku lah yang dia kejar-kejar.
"Long story short, kami berhasil lolos dan bala bantuan baru tiba ... mungkin sekitar 15 menit setelah aku dan Aniki keluar dari Elephant Graveyard. Aku tidak ingat apa yang terjadi setelah itu—setelah tenaga medis membawaku masuk ke ambulans. Sepertinya aku pingsan selama perawatan. Yang setelahnya kuingat adalah, aku sudah disalahkan atas apa yang terjadi. Aku dianggap membuat keributan sampai membahayakan kakakku sendiri, sang putra mahkota yang paling berharga. Tidak ada yang bersimpati padaku, yang jelas-jelas terluka dan hampir kehilangan mataku, selain Aniki dan Kifaji. Aku tidak terlalu peduli pada pendapat orang tuaku karena aku terlanjur kesal dengan segala omongan orang itu, jadi aku tidak tahu apa mereka ikut turun tangan membelaku atau tidak.
"Hingga beberapa bulan kemudian, Ujian Berburu diputuskan untuk ditiadakan sementara waktu. Aniki yang mendesak Chichiue untuk membuat keputusan itu, dibantu Kifaji. Lalu, setelah Chichiue jatuh sakit dan Aniki membantu Hahaue dalam mengurus kerajaan, Aniki membuat keputusan untuk mengganti semua orang yang bekerja untuk kami. Pengawal, pelayan, siapa pun, semuanya dipulangkan. Mereka dianggap tidak membantu selama kecelakaan, bahkan sampai berani membicarakanku terus-terusan di belakang. Bahkan, kemunculan monster Blot di Elephant Graveyard, menurut Aniki, dirasa terlalu aneh untuk terjadi.
"Tempat itu memang berbahaya. Sangat berbahaya. Sunset Savanna selama berpuluh-puluh tahun sudah membatasi kunjungan setiap orang ke sana karena medannya yang tidak bersahabat. Namun, untuk kemunculan monster? Apalagi monster Blot? Hampir tak pernah ada laporan monster itu muncul di sana sepanjang sejarah kerajaan. Kecuali ada yang sengaja membuatnya muncul di sana, dan sengaja memancingku untuk ke sana." Leona mengeluarkan tawa remeh setelah bercerita hampir tanpa jeda. Tangan Rook yang tadi ada di wajahnya, sekarang sudah berada di genggamannya. Ia mengelus tangan itu, memperhatikan cincin kawin yang melingkar di jari manisnya, kemudian melanjutkan, "Itulah yang mendasari tindakan Aniki; mengganti semua pekerja yang ada di istana. Penyelidikan terus dilakukan selama setahun penuh, tapi tak ada hasil yang memuaskan. Akhirnya, Aniki 'menyerah' dan memilih fokus pada pemulihan dan pertumbuhanku."
Rook hampir lupa caranya bernafas sepanjang cerita Leona. Semua itu terdengar hampir mustahil, karena ia hanya bisa membayangkan itu terjadi di novel atau film. Namun, perlu diingat bahwa politik bisa menghasilkan apa pun. Apa yang terjadi pada Leona, pada keluarga Kingscholar, sama sekali bukan novel atau film. Ia kemudian teringat lagi bagaimana Leona yang tidak ingin membawa bodyguard ke mana-mana.
"... Apa itu juga alasanmu tidak ingin dijaga kalau sedang keluar?"
Leona mengangkat pandangannya. "Ya." Cukup dengan satu jawaban itu, Rook sudah mendapat gambarannya secara penuh.
Sang pangeran kedua Sunset Savanna tak lagi bisa percaya siapa pun. Ia bisa saja kehilangan nyawanya saat itu, tapi yang harus datang untuk menyelamatkannya adalah kakaknya sendiri. Pangeran mahkota lah yang harus turun tangan. Bala bantuan sengaja dibuat telat datang dengan harapan Leona gagal diselamatkan. Semua hanya demi kepentingan pribadi dan golongan yang entah dikepalai oleh siapa.
Rook mendecakkan lidah tanpa sadar. "Sialan ... para keparat itu."
Mendengar gadis pemburu yang biasanya sopan dan sabar mengucapkan kata kasar, membuat telinga Leona bergerak tak nyaman. Kedua sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum canggung. "... Itu sudah berlalu. Aku sudah tidak memikirkannya."
"Tapi kau tetap merasa kesal saat mengingatnya, kan?" desak Rook. "Tentu saja kau memikirkannya! Benar-benar ... Andai aku ada di sana, aku benar-benar akan membawamu pulang, mengurungmu di kamarku, lalu kita bisa menggambar dan bernyanyi bersama. Setiap hari. Kita tidak perlu terganggu lagi oleh dunia karena kita punya dunia kita sendiri. Apa-apaan dengan cerita itu? Tidak masuk akal! Semua orang sepertinya sudah gila!"
Leona bungkam. Sungguh, ia tidak pernah membayangkan Rook bisa semarah ini. Wajahnya hampir semerah tomat karena perasaannya yang tumpah ruah. Ia terdengar sangat kesal pada apa yang menimpa Leona; pada orang-orang, pada keadaan, pada dunia.
Keluarganya—terutama Falena dan Kifaji—juga merasakan hal yang sama. Mereka sama marahnya dengan Rook sekarang—sepuluh tahun lalu, saat semuanya terjadi. Namun, hanya mereka yang berada di pihaknya saat itu. Dunia tetap terlalu kejam, sehingga membuat Leona seringkali lupa akan keberadaan orang-orang yang bersedia berada di sisinya. Ia sempat menganggap bahwa tak ada satu pun di dunia ini yang berkenan berjalan sesuai yang ia mau.
Namun, sekarang ada Rook. Gadis itu marah pada dunia, sama dengannya. Ia bersedia berada di pihaknya.
Leona tidak sendiri. Rook mau menemani. Ia tidak perlu khawatir lagi.
.
.
.
"... Ya, aku ingin bersamanya."
.
.
.
Bak pohon kelapa yang tertiup angin pantai, Leona limbung, membiarkan Rook menangkapnya dalam dekapan. Beban di pundaknya terangkat, perasaannya ringan, kepalanya pun jernih. Semua terang, tak ada lagi awan hitam yang mengintai di atas.
Leona sudah tidak ragu lagi. Ia sudah yakin akan satu hal.
"Rook."
Gadis yang dipanggil namanya, masih terkejut akan apa yang terjadi, menjawab dengan sedikit terbata, "I-iya? Kenapa, Leona-kun?"
"... Tidur bersamaku ... sambil pelukan ... apa boleh?"
"E-eh?" Semua terjadi begitu mendadak, sehingga mengosongkan kepala Rook untuk sesaat. Ia tidak lagi bisa mencerna apa yang Leona katakan, sampai akhirnya ia mengikuti insting saat menjawab, "... B-boleh."
Tidak lagi buang-buang waktu, Leona langsung memeluk tubuh itu erat. Dibawanya Rook untuk rebah di atas kasur, bersamanya, sambil tetap dipeluk. Leona sudah menenggelamkan kepalanya di dada Rook yang lembut dan hangat, sementara gadis pemburu yang malang itu masih terus berusaha mengembalikan akal sehatnya.
Haruskah Rook senang? Oh, tidak perlu diingatkan pun, hatinya sudah bersorak-sorai tak karuan. Meski begitu, mengingat saat ini Leona sedang berada di kondisi yang tidak bisa diajak "bercanda" sama sekali, Rook harus menahan perasaan pribadinya sebentar. Ia perlu membiarkan waktu dan momentum yang ada khusus untuk Leona.
Ini bukan waktunya. Ini bukan momennya.
Rook mencoba melemaskan diri dengan memberi elusan menenangkan di punggung Leona yang, meski samar, mulai bergetar. Sepertinya ia sedang berusaha menahan tangis, yang mana itu membuat Rook ingin menegurnya.
Tidak baik menahan tangis! Lebih baik dilepaskan! Ingin sekali ia berkata begitu, tapi biarlah. Leona yang merasakan, maka biarkan ia fokus pada perasaannya. Yang bisa Rook lakukan hanya ada di sampingnya, memeluknya dan sesekali bersenandung lemah.
Sementara itu, Leona, dengan perasaannya yang semakin terang, berulang kali mengucap syukur atas pilihan yang ia buat.
Ia sama sekali tidak menyesal. Walau awalnya terkesan gegabah, mengingat ia dan Rook tidak terhitung dekat, Leona bersyukur tetap meminta bantuan Rook dan bukan perempuan lain yang ia kenal sebatas nama.
Rook Hunt. Tak pernah terlintas di kepalanya bahwa ia akan menerima nama itu untuk akhirnya diukir dalam hati dan pikirannya. Bukan hanya untuk sekarang, tapi hingga nanti—hingga waktu yang tak terbayangkan sampai kapan.
.
.
.
Next: Chapter 25
