"Oh."
Sial. Hari ini pasti hari sialnya. Leona, baru saja akan memulai makan siangnya, harus bertemu mata dengan Rook Hunt. Tampaknya ia baru tiba ke kantin, mengingat Leona yang tidak akan mungkin mau makan di kantin apabila sudah ada Rook di dalamnya.
Leona sudah bersiap pindah ketika Rook menarik paksa tangannya untuk duduk kembali. "Lepaskan!"
"Tunggu sebentar! Aku mohon!" pinta Rook dengan volume suara yang langsung menarik perhatian anak-anak lain di sekitar mereka. Menjadi bahan tontonan sama sekali bukan kesukaan Leona, apalagi kalau itu berhubungan dengan si gadis pemburu yang aneh. Dengan terpaksa, Leona duduk kembali di tempatnya, membiarkan gadis itu berlari ke counter pasta yang ada di dekat meja.
Tidak sampai lima menit, gadis itu kembali dengan makan siang pilihannya. "Haah, syukurlah kau tetap di tempatmu, Roi du Leon."
"..." Leona melanjutkan makannya, berusaha mengabaikan keberadaan Rook di seberang meja.
"Setelah ini kelas sains." Rook ikut menyantap makanannya, mengunyahnya sesaat, lalu melanjutkan, "Hari ini hari berpasangan dan aku belum dapat partner. Kebetulan sekali aku bertemu Leona-kun di sini, jadi aku ingin mengajakmu."
"Kupikir kau punya banyak teman."
"Itu memang benar, tapi aku mau sama Leona-kun." Senyum andalan Rook Hunt menghiasi wajah manisnya. "Ya? Mau, ya? Sudah lama aku tidak berpasangan dengan Leona-kun."
"Aku bahkan tidak ingat kita pernah berpasangan."
"Haha! Kau lucu sekali." Senyum itu memang masih ada, tapi mata yang ditunjukkan sudah berbeda. Malas mengakuinya, tapi Leona sukses dibuat merinding saat melihat itu. "Sayang sekali, aku sedang tidak ingin bercanda sekarang. Untuk sekali ini saja. Aku mohon."
Rook hari ini aneh. Aneh sekali. Dia memang biasanya sudah aneh, tapi hari ini berbeda dengan keanehannya yang biasa. Dan, entah bagaimana, sikapnya ini membangkitkan kembali ingatan Leona akan kejadian beberapa hari lalu; saat ia "iseng" hanya menyapa Vil dan tidak dengan Rook.
Dia masih marah, ya? duga Leona, di saat ia sendiri tidak tahu kenapa dan apa yang membuatnya marah. Leona hanya merasa kalau Rook mungkin terganggu akan sesuatu, kemudian dia marah—atau melampiaskannya—pada Leona.
Daripada berputar-putar, lebih baik dilalui saja. Leona akhirnya mengangguk. "Setidaknya, biarkan aku kembali pada makananku."
Rook memasang wajah senang mendengar jawaban Leona. "Oui! Selamat makan, Leona-kun!"
.
.
.
Chapter 25
.
.
.
Bukan karena suara alarm—karena dia memang hampir tidak pernah menyalakannya, tapi Leona terbangun karena tubuhnya terasa nyeri. Lebih tepatnya, lehernya seperti hampir lepas, akibat dari terlalu banyak menunduk saat ia memeluk Rook.
Ah. Benar juga. Mereka tidur dengan posisi yang sama saat ia mulai menangis.
Melawan rasa sakit yang mendera, Leona mencoba bangun dan mendudukkan diri di samping Rook yang masih terlelap. Kain pakaiannya di area dada terlihat berantakan dan, mungkin sudah mengering, tapi Leona yakin semalam area itu penuh dengan air matanya. Sudah sangat lama, sampai Leona sendiri lupa kapan, sejak terakhir ia menangis seperti itu.
Leona tersenyum saat tangannya mengelus rambut pirang Rook. Rasanya mungkin terlalu cepat dan tiba-tiba. Apalagi, baru juga kemarin ia bicara pada orang lain (Ruggie) mengenai perasaannya. Namun, yang namanya kejutan pastilah tidak tahu waktu.
Jawabannya sudah ada di depan mata. Leona sudah melihat itu. Tersisa beberapa langkah lagi sampai ia bisa memutuskannya secara final.
"Aku akan membuatmu menunggu sedikit lagi, tapi aku harap kau bersedia menemaniku sampai hari itu tiba," ujar Leona, nyaris berbisik. Saat ia menundukkan kepala, hendak memberi dahi Rook kecupan ringan, gadis itu mengerang dan menggeliat. "Oh, ada yang bangun." Rook membuka mata, membiarkan cahaya kehijauan memantul dari sana. "Morning, Princess. Ini masih terlalu pagi, mungkin kau mau tidur lagi."
Mata Rook berkedip beberapa kali. Otaknya masih setengah bangun, sehingga—mungkin—belum bisa bekerja secara maksimal. Namun, apa yang didengar telinganya tadi sudah lebih dari cukup untuk membuatnya menganga terkejut.
"... Leona-kun?"
"Ya?"
"..." Dalam satu gerakan, Rook sudah duduk di tempatnya. Kedua tangannya meraih wajah Leona, memutarnya ke kanan dan kiri, sebelum berseru, "LEONA-KUN?! Leona Kingscholar-kun bangun pagi?! Kenapa?! Kok, bisa?!"
"Woi! Sakit! Leherku lagi sakit!"
Rook langsung menjauhkan tangannya. "E-eh? Sakit? Salah bantal?"
Leona mengerang sambil mengelus-elus belakang lehernya yang seperti mau patah. "Anggap saja begitu ... Urgh, aku tidak yakin bisa datang meeting. Sepertinya aku akan di rumah saja seharian ini."
Rook tersenyum—nyaris tertawa. Ia kemudian menyentuh bagian leher yang Leona anggap sakit, mengucap sederet mantra, hingga akhirnya erangan Leona menghilang. "Tinggal pakai sihir penghilang rasa sakit. Sekarang kau bisa meeting, Leona-kun."
"..." Mengabaikan Rook yang cahaya di wajahnya sudah mendahului matahari pagi hari itu, Leona turun dari tempat tidur dan menyiapkan perlengkapan mandi. "Nanti langsung bertemu di ruang makan, ya. Aku mau sarapan bareng."
Rook memiringkan kepalanya, bingung. "Setiap hari, kan, sarapan bareng?"
Leona yang sudah bersiap membuka pintu, membalikkan badan dan melempar senyum miring. "Aku cuma mengingatkan, supaya tidak lupa. Hari ini spesial, jadi aku tidak mau melewatkannya." Setelah mengatakan itu, ia keluar kamar, meninggalkan Rook yang masih bingung di atas kasur.
"... Memangnya, orang tidur bisa kesurupan, ya?"
.
.
.
Hal aneh lainnya yang Rook sadari saat ia tiba di ruang makan adalah Leona yang sudah siap di sana lebih dulu. Belum lagi kursi tempat Rook biasa duduk, entah mengapa seperti semakin tidak ada jarak dengan kursi Leona.
"Jangan dijauhin lagi kursinya. Biarin aja kayak gitu." Pernyataan Leona membuat semuanya terasa semakin aneh. Mereka akan jadi sangat dekat mulai sekarang? Begitu maksudmu?
"..." Kepala Rook menggeleng lemah, rasa heran menggerayangi. Ia duduk di kursinya, membiarkan pelayan menyiapkan air di gelas, sebelum akhirnya pelayan itu meninggalkan mereka berdua untuk makan. "Nanti ... jangan lupa ketemu dokter, ya, Leona-kun."
"Hah?" Leona memasukkan potongan daging dan kentang ke dalam mulut. "Kenafa?"
Tidak dikunyah dulu? Rook kembali menggelengkan kepalanya, mencoba untuk tidak merinding melihat sikap Leona yang terasa sangat berbeda dari biasanya. "Aku ... hanya khawatir dengan lehermu. Kalau memang masih sakit, ada baiknya dilihat dokter daripada pakai sihir lagi," ia mencoba beralasan.
"Tenang saja, sudah tidak apa-apa." Dua ujung bibirnya naik sangat tinggi saat ia berucap lagi, "Yang menyembuhkanku adalah istriku tersayang, mana mungkin masih sakit? Sudah pasti sembuh."
Dia seriusan tidak makan yang aneh, kah?! Mau ini sarkas atau bukan, Rook tetap takut dengan apa pun yang menimpa Leona. Apa ada hal lain yang terjadi selain satu hari menggemparkan kemarin? Mungkin saat mereka sudah tidur, ada sesuatu yang berhasil masuk ke dalam pembuluh darah Leona, kemudian mengubahnya menjadi apa yang ada di depan Rook sekarang? Rasanya mustahil ia tidak menyadari ada sesuatu yang datang, apalagi sampai masuk ke tubuh—yang bukan tubuhnya sekalipun, tapi mungkin itu sesuatu yang memang tidak bisa dijelaskan oleh logika? Semuanya terjadi begitu saja selama Rook tidur dan tidak sadar?
Lupakan. Itu kedengaran gila, tapi yang pasti, Rook sudah tidak bisa memikirkan apa-apa. Yang bisa dilakukan sekarang hanyalah melanjutkan sarapan, lalu mengirim Leona kembali pada pekerjaannya. Mungkin "kesibukan harian" bisa membuatnya membaik.
"Meeting hari ini tentang Masa Pengenalan Ujian Berburu. Setidaknya itu yang kudengar dari Kifaji."
Akhirnya! Pembahasan yang normal! Rook menenggak airnya, sebelum membalas, "Oh, ya? Apa itu program baru?"
"Bisa dibilang begitu." Leona ikut menenggak airnya. "Berhubung Ujian Berburu adalah bagian dari tradisi Kingscholar, acaranya tidak bisa dihilangkan begitu saja. Setelah bertahun-tahun tidak dilaksanakan, di masanya Cheka nanti, rencananya akan dilaksanakan kembali. Akan tetapi, Aniki memutuskan untuk membuat program baru. Tujuannya supaya anak-anak generasi baru saling mengenal terlebih dulu, sehingga saat Ujian Berburu yang sesungguhnya dimulai, mereka bisa bermain fair and square."
"Dan itulah kenapa namanya Masa Pengenalan."
"Ya, sesuai namanya." Seperti hari yang lain, ada sisa sayuran yang disisihkan Leona di piringnya. Rook hanya melihat itu dari ekor matanya, dan tanpa disangka, Leona kembali mengambil garpunya, kemudian memakan potongan wortel malang itu dengan sedikit ogah-ogahan. Setelah mengunyah satu potong, ia melanjutkan, "Tidak seperti Ujian Berburu yang dilaksanakan selama lima hari, Masa Pengenalan hanya berlangsung dua hari dan satu malam. Yang dilakukan juga lebih kepada games dan berkemah, supaya mereka ada interaksi."
"Beauté! Anak-anak memang butuh waktu yang seperti itu untuk saling mengenal." Senyum Rook sangat lebar saat ia membayangkan Cheka dan para sepupunya berkumpul. Itu akan jadi kesempatan yang langka karena ia bisa melihat seluruh anggota bangsawan muda menjadi satu. "Hehe, sepertinya menyenangkan."
"... Kau tidak berpikir untuk memburu anak-anak itu, kan?"
"Oh lala! Kenapa kau berpikir kejam begitu?!"
"Itu yang biasa kau lakukan. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
Rook memajukan bibirnya. Kakinya menendang kaki Leona pelan. "Aku tidak akan seperti itu terhadap anak-anak. Mereka terlalu lucu untuk diburu. Aku hanya akan mengawasi dari pinggir."
"Hah! Dia bilang mengawasi." Leona menyelesaikan makannya, sambil kakinya bermain tendang-tendangan di bawah meja dengan Rook. "Memangnya kau mau berkontribusi di Masa Pengenalan nanti?"
"Tentu saja!" Rook tersenyum semakin lebar saat berkata, "Aku sudah jadi bagian dari Kingscholar, jadi aku punya peran untuk menjaga agar acaranya berjalan lancar. Kalau kau, Aniue, Aneue, bahkan Kifaji-san sudah bekerja supaya Cheka-kun bisa menjalaninya dengan aman dan menyenangkan, maka aku juga harus ikut andil."
Leona mengacak rambut pirang itu, membuat Rook mengeluh. Aksi itu tak berlangsung lama, karena Leona menarik Rook mendekat, lalu mengecup puncak kepalanya yang sudah berantakan. "Um, itu benar. Ada kau di sini. Terima kasih."
Mata Rook terbelalak saat itu juga. Leona mungkin sudah beberapa kali mencium kepalanya, tapi yang tadi itu ... rasanya berbeda. Suara Leona saat mengatakan itu juga terdengar berbeda.
Leona Kingscholar ... sepertinya benar sudah kerasukan sesuatu, tapi sayangnya, Rook tidak tahu apa itu.
.
.
.
Dua minggu terakhir bulan Desember di tahun itu, dilalui keluarga kecil Kingscholar dengan perubahan sifat sang kepala keluarga yang cukup mengguncang satu rumah. Terutama istrinya, yang harus dihadapkan dengan "siraman cinta" yang sering datang tanpa aba-aba.
Rook Hunt, atau Rook Kingscholar, istri yang dimaksud, hanya bisa pasrah menerima itu semua. Ia mencoba bersikap biasa saja, tentu, karena hatinya sedang sangat diuji dalam masalah ini. Kepalanya harus selalu dingin, logikanya harus terus berjalan, untuk menghindari adanya kesalahan dalam melangkah. Apalagi ...
"... besok waktunya pulang ke rumah." Sesuai dengan yang sudah dijadwalkan, Rook akan menginap di rumah orang tuanya selama tahun baru, lebih tepatnya dari tanggal 30 karena mereka berencana untuk berburu bersama setelah sekian lama. Ini harusnya menjadi hal yang biasa saja dan ia tidak perlu memusingkan apa pun. Namun, melihat perubahan yang ada pada Leona, entah kenapa membuat pikirannya carut-marut.
Apa kata orang tuanya nanti? Ayahnya? Ibunya? Kakak dan adik-adiknya? Yah, mungkin kalau adik-adiknya tidak akan terlalu peduli, berhubung mereka masih sangat muda. Masalahnya sekarang tersisa pada yang dewasa-dewasa.
Mereka sudah membicarakan semuanya di awal. Rook tahu itu. Dua pihak keluarga sudah membicarakan perihal kemungkinan "cinta lokasi" yang bisa saja membuat hubungannya dengan Leona menjadi serius. Rook juga mengantisipasi itu dan, dengan keegoisannya yang tersisa, berharap itu jadi kenyataan. Meski begitu, ia juga mengantisipasi kalau tidak akan terjadi apa-apa di antara mereka, mengingat bagaimana Leona selalu bersikap padanya selama ini—atau sebelum ini. Apa pun itu, yang sedang terjadi sekarang ini benar-benar membuatnya tidak karuan. Semua orang bisa dibuat gempar kalau sampai ada sesuatu yang betul-betul terjadi.
"Masa iya ... Leona-kun sungguhan ..."
"Rook." Hampir saja yang punya nama memekik ketika suara itu terdengar. Terlalu sibuk dengan pikirannya, membuat Rook sering hilang fokus terhadap keadaan sekitar, termasuk mendeteksi keberadaan Leona yang sebelumnya bahkan tidak pernah ada masalah. "Barang yang mau dibawa sudah semua?"
Gadis itu berdiri dari duduknya di pinggir kasur. Ia menghampiri tas ransel yang sudah ada di pojok kamar, mengeceknya sesaat, lalu membawanya pada Leona yang berdiri di pintu. "Aku cuma bawa sedikit, toh baju-bajuku sebagian besar masih di rumah."
"Ada pikiran mau dibawa semua saat pulang ke sini?"
"Eh?"
"Kalau mau dibawa semua, nanti aku carikan koper tambahan untuk dibawa."
Dia lupa kalau pernikahan ini cuma sementara, kah? Kenapa bicaranya seolah yakin aku akan tinggal di sini seumur hidupku? Tak peduli sebahagia apa Rook dengan pemikirannya, ia tetap harus profesional. "Uhum! ... Tidak usah. Aku, kan, masih mau pulang sewaktu-waktu. Biar tidak repot bawa banyak barang."
"Baiklah."
"Mau langsung dimasukin mobil?"
"Iya, biar besok pagi langsung berangkat," jawab Leona sambil berlalu. Rook mengikutinya keluar kamar dan berjalan sampai garasi. "Kamu ngikutin aku karena mau ngecek lagi?"
"Hm? Nggak juga." Rook sendiri tidak tahu kenapa ia mengikuti Leona. Kakinya bergerak sendiri dan ia hanya menuruti kemauan mereka. "Cuma ... bingung aja," Ia mencoba memberi alasan, "kenapa kita naik mobil kalau kita bisa naik sapu? Rumahku tidak sejauh itu dan masing-masing dari kita cuma bawa ransel."
"Katanya mau ambil baju memanah, kan?"
Oh. Rook baru ingat. Tujuan lain ia ingin pulang karena baju memanahnya masih tertinggal di rumah. Bahkan busur kesayangannya masih di sana. "... Tapi kalu cuma bawa itu, harusnya nggak makan terlalu banyak tempat."
"Kalian ada rencana berburu, plus ibumu adalah tipe orang yang suka membawakan oleh-oleh. Aku khawatir kita harus bawa pulang sebagian daging itu."
Refleks, Rook tertawa. Rupanya Leona masih mengingat saat ia baru pertama pindah ke istana. Dua hari sebelum pemberkatan, Leona datang dengan beberapa pengawal untuk menjemput Rook. Mungkin tahu kalau setelah ini putrinya tidak akan kembali dalam beberapa waktu ke depan, ibu Rook langsung membawakan banyak barang yang ia anggap sebagai oleh-oleh untuk Leona dan keluarga Kingscholar. Seketika bagasi mobil dipenuhi barang-barang itu, sementara mempelai wanita itu sendiri hanya membawa satu ransel—ransel yang sama yang akan ia bawa kembali ke rumah besok pagi.
Masih sedikit tertawa, Rook membalas, "Kau benar. Ada kemungkinan kita akan bawa satu ekor rusa. Sepertinya kita memang perlu bawa mobil."
"Lagipula, sudah lama aku tidak menyetir. Biar sesekali." Leona mengecek tas mereka untuk yang terakhir, kemudian menutup dan mengunci pintunya. "Sudah semua. Yuk, kita harus langsung istirahat."
"Huh, tepat waktu sekali." Hari bahkan belum gelap dan makan malam masih dua jam lagi. "Aku rasa benar ada yang salah denganmu. Yakin tidak perlu ketemu dokter?"
"Apa kau menganggap suamimu gila?"
Jantung Rook berhenti sesaat mendengar kata "suami." Di masa-masa "siraman cinta" ini, Leona suka sekali menekankan kata "suami" dan "istri" di antara mereka. Sebelum ini, kata-kata itu diucap dalam bentuk sarkasme. Namun sekarang, kedengarannya benar-benar berbeda, dan Rook masih belum terbiasa akan itu.
"... Aku cuma khawatir. Kau ... berbeda, Leona-kun."
"..." Mereka bertukar pandang selama beberapa detik, sampai Leona berjalan mendekat dan segera menangkap pinggang Rook, sebelum gadis itu melarikan diri. "Apa yang beda?"
Rook mendorong dadanya pelan dan menolak melihatnya di mata. "... Beda aja. Caramu bicara, caramu bersikap ... semuanya terasa berbeda ... sekarang."
Menurut, Leona akhirnya melepaskan tangannya dari pinggang Rook dan sedikit menjaga jarak. "Ya ... sepertinya aku memang berbeda," ujarnya kemudian.
Ada sedikit rasa kecewa karena Leona berhenti memeluknya, tapi Rook memang butuh sedikit jarak. Jantungnya tidak akan bertahan apabila tidak diberi istirahat. Ia melirik Leona yang masih memperhatikannya dari samping, kemudian menangkap ujung ekor sang singa dan mengelus-elusnya ke pipi.
Sialan, kenapa dia melakukan itu? Kali ini giliran jantung Leona yang menjerit. Rook dan sikap malu-malunya yang menggemaskan ... Sejak kapan gadis tak tahu malu yang ia ingat jadi seperti ini? Terus-terusan menyudut Leona berbeda, tapi ia seolah tak tahu menahu kalau ia sendiri sama saja.
"... Ayo, jangan kelamaan di sini." Leona mengulurkan tangannya dan berniat memberi punggung Rook sedikit dorongan untuk kembali masuk, tapi gadis itu segera mundur selangkah. Akhirnya, Leona menyerah dan berjalan lebih dulu. Gadis itu mengikuti di belakang—seperti anak ayam, sambil terus memegangi ekor sang pangeran singa.
.
.
.
Mungkin, kalau Leona memilih menyerah, dia sudah berada di bangsal rumah sakit jiwa sekarang. Karena tidak hanya dirinya dipaksa menurut untuk berpasangan dengan Rook Hunt di kelas sains, ia juga harus mendengar senandung riang gadis itu selama kelas berlangsung. Suaranya tidak buruk, Leona harus tetap mengakui fakta yang satu itu. Hanya saja, karena ini Rook Hunt yang sedang dibicarakan, maka apa pun yang ia lakukan, rasanya mampu membuat Leona Kingscholar merasa terganggu sampai tulang-tulang.
Meski begitu, tatapan dan cara bicaranya selama di kantin tadi benar bukan candaan. Kalau Leona memaksa menolak, tidak diragukan lagi akan terjadi sesuatu yang bisa lebih fatal dari berakhir "berduaan" dengan Rook di depan meja penelitian. Ada yang berbeda dengan Rook Hunt yang ia lihat di kantin tadi, dan ia sama sekali tidak suka itu.
"Oke! Kau bisa mengeluarkannya, Leona-kun." Leona mengangkat sendok pengaduk dari belanga. Di ceruk sendoknya terdapat segumpal daun mirip rumput laut yang sudah direbus dan ditahan di dasar selama 15 menit. "Hmmm, hasilnya sesuai. Baik, aku catat dulu ..."
Leona berinisiatif mengambil sebuah mangkuk dan menaruh gumpalan daun itu di sana. Tak lupa ia sisakan sesendok air rebusan yang mereka gunakan supaya gumpalan itu tidak langsung berubah bentuk dalam beberapa waktu, setidaknya sampai Rook mencatat kelanjutan hasilnya.
"Aku penasaran dengan rasanya ..."
"Jangan coba-coba atau kutabok mulutmu."
"Kejam!?" Rook berhenti menulis sesaat, kemudian menggelengkan kepala. "Tenang, aku tidak senekat itu. Lagipula, kita masih harus menelitinya lebih jauh dan mengetahui pendapat Crewel-sensei."
"Hmm ..." Dengan sigap Leona menerima toples yang diserahkan Rook padanya. Ia memasukkan gumpalan daun berikut airnya yang masih panas ke dalam sana, lalu membiarkannya di atas meja tanpa tutup. "Jangan langsung ditutup. Tunggu dingin dulu."
"Siap, Kapten." Sambil menunggu, Rook membereskan "kekacauan" yang mereka buat selama penelitian. Pasangan lain tampaknya juga sudah selesai dan sama-sama menunggu arahan Crewel-sensei yang berikutnya. "Terima kasih sudah mendengarkan keegoisanku hari ini, Leona-kun."
Karena aku masih sayang nyawa, makanya aku dengarkan. Tentu Leona tidak akan mengatakan itu karena ia tidak mau menambah perkara. "Catatanmu lengkap, kan?"
"Harusnya." Leona menerima buku catatan yang Rook berikan dan membacanya. "Mau dibawa dulu buat disalin?"
"Hm." Dengan senang hati Leona menerima tawaran itu. "Bisa difoto, sih, sebenarnya."
"Tapi tetap enakan ditulis sendiri." Benar. Leona harus setuju di situ karena memang mencatat adalah cara terbaik untuk mengingat.
"... Nanti malam kukembalikan."
"Eh? Besok saja tidak apa, loh."
"..." Leona tidak membalas dan memasukkan buku itu ke tasnya. Crewel-sensei sudah memberi arahan dan meminta semua hasil untuk dikumpulkan di depan. Karena masih cukup panas, Leona terpaksa mengangin-anginkannya sebentar dengan sihir, baru kemudian menutupnya.
"Itu tidak akan mengubah kandungannya, kan, ya? Kena sihir begitu."
"Harusnya enggak, karena cuma angin." Toples itu langsung diangkat tinggi ketika Rook hendak mengambilnya. "Mau ngapain?"
"Biar aku yang bawa."
"..." Leona kembali tidak merespons. Ia langsung berjalan ke meja Crewel-sensei dan menaruh toples itu di sana.
Rook menyusul dengan tanda tanya di atas kepala. Namun, belum sempat ia bertanya, Crewel-sensei sudah menyerahkan lembar hasil milik mereka untuk nantinya diisi bersama dengan catatan masing-masing. "Kenapa dibawa sendiri begitu, sih? Kan, yang ngerjain berdua."
Leona menyerahkan lembar itu pada Rook untuk ia simpan. "Itu tadi masih agak panas."
Jantung Rook sempat berhenti sesaat. Ia menutup sebagian wajahnya dengan lembar hasil tersebut, sampai tidak sadar kalau Leona sudah membawa tasnya juga dan menyodorkannya padanya. "Ada yang ketinggalan?" tanya sang pangeran kemudian.
Rook hanya menggelengkan kepala. Dengan dada yang masih berdebar, Rook memasukkan lembar hasil itu ke dalam tasnya, kemudian mereka keluar dari ruang sains—lebih dulu dari anak-anak yang lain yang masih sibuk berberes. Sepertinya ia akan menghabiskan dua—tidak, mungkin tiga halaman di diarinya untuk hari ini.
.
.
.
Next: Chapter 26
