Kalau diniatkan pasti bisa. Tiba-tiba saja kalimat itu muncul di kepala tepat setelah ia menyelesaikan catatannya.
"Bahkan isi kepala sendiri ingin meledek, huh?" Leona bicara pada dirinya sendiri (atau lebih tepatnya pada siapa pun yang menciptakan kalimat itu pertama kali di muka bumi). Kalimat itu terasa menyerangnya secara personal, hanya karena dirinya sering dicap pemalas.
Leona menggelengkan kepala. Ia melihat hasil catatannya dan membandingkannya dengan milik Rook sekali lagi. Niatnya untuk mengecek apakah semua sudah benar, tapi fokusnya teralih pada tulisan tangan Rook.
Tulisannya rapi, tentu saja. Semua mudah terbaca dan gaya mencatatnya simpel langsung masuk ke inti. Tapi bukan itu fokusnya, melainkan tulisan tangannya yang ternyata mirip dengan Leona. Tidak semirip itu, tapi kalau dilihat dengan sekilas, maka bisa mengecoh siapa pun yang membaca tulisan mereka bersamaan.
"..." Jika normalnya Leona akan merinding takut, membayangkan kemungkinan-kemungkinan seperti Rook yang terus menguntit sampai menyamakan tulisan tangannya, secara mengejutkan, ia tidak merasakan itu. Tak ada rasa takut, geli, bahkan bulu halusnya tak ada yang berdiri sehelai pun. Yang ia rasa justru ... kagum, karena ternyata, selama ini, tanpa ia sadari, mereka punya tulisan tangan yang mirip.
Leona mengelus ujung notebook Rook, masih memperhatikan tulisannya yang rapi dan indah itu. Pikirannya seperti kosong selama beberapa saat, lalu ia teringat lagi pada hari di mana Rook tidak tersenyum padanya. Tatapan mata yang tajam dan menusuk itu mengikuti kemudian.
Benarkah dia masih marah? Leona terus memikirkan itu. Tapi, marah karena apa? Karena Leona iseng tidak menyapanya itu? Tapi untuk apa marah karena itu? Bukannya Rook tahu kalau Leona memang "begini" orangnya? Atau justru ada hal lain?
Hari ini pun ia menuruti permintaan Rook karena seperti ada yang masih "tidak pas" dari ekspresi gadis itu. Terutama senyumnya yang masih belum memberi kesan "Rook Hunt" yang biasa ia temui.
Satu helaan nafas lolos dari bibir. Tak ada habisnya kalau dipikirkan terus. Lebih baik melakukan apa yang harus dilakukan.
Leona akhirnya berdiri, membawa notebook si gadis pemburu dalam genggaman. Ia sudah berjanji mengembalikannya begitu ia selesai mencatat.
.
.
.
Chapter 28
.
.
.
"Kelihatannya Leona-san sudah mendingan," komentar Reeves melihat cahaya kehidupan perlahan kembali ke wajah tampan Leona.
Cesan mengangguk setuju dengan komentar kakaknya. "Masih butuh air, Leona-san? Atau mungkin air seduhan jahe? Biasanya Kaa-san bawa jahe, jaga-jaga kalau Tou-san mabuknya keterlaluan."
Sontak Leona memasang ekspresi masam, dan Rook tertawa mengetahui penyebabnya. "Dia tidak akan pernah menyentuh minuman seperti itu. Tidak apa, nanti lama-lama juga enakan." Rook mempertahankan senyumnya ketika Reeves dan Cesan manggut-manggut secara bersamaan. Dua adiknya ini kalau sekalinya akur, akan sangat kompak. Syukurlah mereka tidak merengek validasi apa pun dari Leona—setidaknya untuk sekarang. Mungkin mereka tahu kalau Leona sedang tidak prima, dan mengharapkan validasi justru bisa berakibat pada jatuhnya nama baik mereka di mata sang pangeran.
Sekitar lima menit berlalu, akhirnya Leona sudah bisa berdiri sempurna. Karena kemungkinan rombongan kedua—ayah dan ibu Hunt—sebentar lagi kembali, kini giliran Rook dan Leona yang mandi.
"Kalian berdua tidak apa-apa, kan? Tou-san dan Kaa-san harusnya sebentar lagi selesai, sih."
"Tenang saja, Nee-chan."
"Begini-begini kami terbiasa camping bersama—berdua doang."
Rook tersenyum. "Baiklah, kupercayakan area kemah pada kalian. Kami pergi dulu, ya." Tangannya perlahan menyentuh punggung Leona, seolah memandu pria itu agar tidak kembali kalah pada rasa mabuknya. "Fokus ke depan, Leona-kun. Tasnya biar aku yang bawa."
"... Kau memperlakukanku seperti anak kecil." Rook hanya tertawa sebagai balasan, membiarkan gelapnya hutan menemani perjalanan singkat mereka.
.
.
.
"Benar-benar memang, Tou-san itu." Nello kembali menggeleng-geleng keheranan mendengar kisah Rook. Begitu mereka sampai di vila, ayah dan ibu Hunt baru akan kembali ke kemah. Lalu saat Rook dan Leona masuk, Nello sudah selesai mandi dan sedang menunggu Colette yang masih butuh ke toilet. Leona memutuskan untuk mandi lebih dulu di kamar mandi yang lainnya.
"Tapi setidaknya, kejadian itu membuat si kembar akur sebentar."
"Tapi bukannya jadi tidak enak dengan Yang Mulia Pangeran? Ini giliran dia yang dititipkan di keluarga kita—walau cuma dua malam. Aku tidak kuasa membayangkan keluarganya apabila mereka tahu kelakuan besannya yang seperti pemabuk tua itu."
Rook tertawa lagi. "Syukurlah, kau terlihat lebih rileks sekarang, Nii-san."
"Dan sekarang kau menggeser topiknya ke aku." Nello tidak membalas tawa Rook. Ia sudah kenyang mendengar suara itu; tidak hanya dari adiknya, tapi juga dari ayahnya yang selama di vila tadi masih terus berceloteh seperti burung beo. Menghela nafas, akhirnya Nello mengalah dan membalas, "Mungkin karena ini bukan lagi pertemuan yang pertama dan aku tahu dia sama sepertiku—pendiam. Dia juga sudah merasa cocok denganku—dia yang bilang sendiri."
"Baguslah."
Mendadak Rook ingin bertanya pada kakaknya; bertanya pendapatnya tentang Leona lebih detail. Mengingat bagaimana Nello memberi tatapan serba tahu saat di kemah tadi, Rook menduga kalau kakaknya juga menaruh curiga akan hubungannya dengan Leona, sama seperti Malleus dan Ruggie. Bukan tentang kawin kontraknya (karena tentu kakaknya tahu itu), tapi lebih ke perasaan di antara mereka.
Baik Malleus maupun Ruggie, setidak-tidaknya menurut Rook, mampu menebak tidak hanya tentang hubungan bohongan mereka, bahkan sampai ke perasaan yang ada; antara mereka curiga Rook yang menyukai Leona, atau justru sebaliknya. Jika dua orang itu yang termasuk "orang luar" saja bisa tahu, bagaimana dengan orang terdekat itu sendiri? Jika Nello bisa menebak hal yang—kurang lebih—sama, maka tidak akan mengejutkan karena dia kakaknya. Ditambah, Nova sudah tahu semuanya.
Kakak tertuanya itu yang paling tajam dari saudara-saudaranya yang lain. Seolah menggunakan sihir yang bisa membaca isi hati seseorang, Nova langsung tahu kalau Rook menyukai Leona dan aksi kawin kontrak ini dapat mengundang sesuatu yang tidak baik di kemudian hari (maksudnya adalah sakit hati). Selain Nello yang mungkin bisa tahu sendiri, ada juga kemungkinan Nova membocorkan satu-dua cerita ke Nello—anggota keluarga terpercaya kedua setelah Rook baginya. Manapun kemungkinannya, Nello bisa jadi punya pemikirannya sendiri dan Rook ingin mendiskusikan itu.
Namun, belum sempat Rook membuka pembicaraan, sosok kecil Colette sudah muncul dari balik lorong. "Ruu Nee sudah di sini."
Rook tersenyum ke arah gadis kecil yang rambutnya masih berantakan dan basah itu. "Iya, aku mau mandi juga, lagi nungguin Colette."
"Sekarang gantian Ruu Nee yang mandi," Nello langsung memberi arahan. "Aku masih akan mengeringkan rambut Colette sambil menunggu Leona-kun. Tenang saja, kau bisa langsung mandi."
Rook langsung menyetujui tawaran kakaknya. Ia melambai sesaat pada Colette yang sudah bersiap ditiup angin hangat hair dryer, lalu berjalan menyusuri lorong menuju kamar mandi tempat adiknya tadi mandi. Sedikit kecewa karena ia tidak sempat mengobrol lebih lama dengan kakaknya, tapi segera menepisnya dan berpikir kalau waktunya mungkin memang belum tepat untuk itu. Mereka sedang kumpul keluarga, tidak ada waktu untuk menyendiri.
.
.
.
Di luar dugaan, saat ia keluar, Nello dan Colette sudah tidak ada di tempat terakhir mereka terlihat. Yang justru ada di sana hanya Leona, duduk diam di pegangan sofa dengan badan menghadap pintu kaca menuju luar. Punggung lebar itu kini terlihat kecil dan jauh, hampir seperti anak kucing yang tertinggal dan kehilangan jejak ibunya.
Dengan kemampuan berjalannya yang hampir seperti melayang, Rook mendekati "punggung kecil" itu tanpa suara. Namun, belum sampai di sebelahnya, Leona sudah menolehkan kepala. Mata mereka bertemu tak sampai lima detik ketika Leona bertanya, "Sudah selesai?"
Sesuai yang diharapkan, aku sering gagal dalam mengendap kalau lawanku Leona-kun. Rook tersenyum dan menyelesaikan langkahnya dengan memasang badan tepat di depan Leona yang masih duduk. "Kupikir Nii-san dan Colette masih di sini. Kalau mereka sudah pergi, kenapa kau tidak ikut?"
"..." Leona tidak menjawab dan justru memeluk tubuh si gadis pemburu. Rook terlalu terkejut, sampai tak menghiraukan tasnya yang jatuh ke lantai.
Roi du Leon kesayangannya itu memasang tampang layu, mendekatkan wajahnya ke dada Rook, setengah terbenam di sana. Kemudian kepalanya sedikit mendongak, membiarkan matanya bertemu manik hijau dengan titik kehitaman yang akan selalu membesar setiap melihat ke arahnya.
"Aku yang suruh mereka duluan," sang pangeran akhirnya menjawab pertanyaan. "Aku bilang aku yang akan menunggumu, padahal ... aku cuma mau berduaan dulu denganmu."
Meski secara insting Rook menahan gejolak perasaannya, ia tetap tahu betul kalau tubuhnya tidak akan bisa diajak kerja sama. Dengan kulitnya yang putih, pastilah warna merah akan terlihat jelas di kedua pipinya. Belum lagi debaran jantung yang sudah pasti bisa Leona dengar dan rasakan dengan kepala yang menempel di dadanya. Rook tidak lagi bisa bersembunyi dan hanya bisa pasrah, membiarkan nasibnya di tangan sang predator yang menerkam.
"... Ini baru sehari."
"Tapi rasanya seperti sebulan."
"..." Rook balas melingkarkan lengannya ke sekitar leher Leona. Tangan kanannya sedikit turun, mengelus punggung yang tadi terlihat kecil itu. "... Sekarang kau tidak bisa jauh dariku barang sehari, huh? Dulu kau selalu ingin jauh-jauh dariku."
"Itu dulu." Leona mengeratkan pelukannya. Ada suara purr yang keluar saat ia memiringkan kepala, menambah kadar layu di fitur muka yang memesona. "Di sini tidak bisa sebebas di rumah. Aku sampai tidak bisa menyentuhmu."
"Kau ingin sekali menyentuhku, ya?" Tangan yang tadi mengelus punggung, kini beralih ke telinga bundar yang penuh bulu halus. Darah dipompa kuat oleh jantungnya saat ia mendengar kata "rumah" yang keluar dari mulut Leona tanpa keraguan.
Jadi, bangunan besar bak hotel itu sudah jadi rumah kami?
Rook, masih berusaha setenang mungkin, meneruskan, "Terang-terangan saja, tidak apa-apa, kan? Biasanya kau tidak peduli dengan itu. Selama di rumah kita pun, kau mengabaikan tatapan heran para pelayan. Bahkan keluargamu kau anggap angin lalu. Bukannya di sini, harusnya, sama saja?"
"Aku belum siap diinterogasi." Wajahnya memberengut, nyaris memancing Rook berteriak karena gemas. Sepertinya singa muda dalam dekapannya ini masih sedikit mabuk.
Rook lalu menurunkan wajahnya sedikit, membiarkan beberapa helai pirangnya mengenai wajah sang suami. "Belum siap diinterogasi, huh." Oleh ayahnya? Ibunya? Kakaknya? Atau semuanya? Sudah pasti semuanya.
Tangannya di telinga turun ke pipi coklat Leona yang menghangat. Hanya dengan gerakan tangan ia bicara, menuntun Leona agar turun dan duduk dengan benar di atas sofa. Leona menurut, dan setelah menyandarkan punggungnya agar nyaman, Rook naik ke pangkuan sang singa. Ia duduk di sana, tanpa merasa dan memikirkan apa pun, seolah paha Leona adalah bagian dari sofa di bawah mereka.
Aneh. Seharusnya Rook tidak sampai seperti ini. Tapi, seolah ada setan yang berbisik—atau bahkan merasuki, dan Rook hanya bisa menuruti kemauannya. Alkohol? Tidak, Rook sama sekali tidak minum. Ia memutuskan untuk menjauhi minuman-minuman itu semenjak kejadian di pertunangan Vil waktu itu. Yang justru mabuk di sini Leona. Seharusnya begitu. Apa mungkin mabuk bisa menular, hanya dari tatapan dan sentuhan?
Di tengah pikiran yang berkecamuk, dua tangan Leona kembali bergerak; satu melingkari pinggang Rook, satu lagi di punggung hingga pundak. Wajahnya berhenti di perpotongan leher Rook, menghirup aroma yang berbeda dari yang biasanya. Jika sebelumnya ia mengira hanya aroma buah-buahan yang ia suka, rupanya segala macam aroma, selama itu berasal dari Rook, ia menyukainya.
Panas perlahan menjalari seluruh tubuh. Dengan posisi yang terlampau dekat, apalagi Rook duduk di atasnya, Leona baru sadar kalau sekarang pun, si gadis pemburu kembali memakai baju rumahnya. Celana pendek yang kemungkinan masih celana yang sama, dipadu dengan kaos lengan panjang yang agak kebesaran—bukan crop hitam sedada yang dibalut tank top dengan sisi kanan-kirinya yang terbuka, seperti tadi siang.
Perasaan mabuknya kian tak terkendali. Tangannya kemudian bergerak, masuk ke dalam kaos yang dikenakan si pemburu, lalu mencengkeram pinggangnya yang kuat dan kokoh. Leona menjauhkan wajahnya dari leher Rook, menatap gadis itu dengan tatapan yang seperti merayu.
"Rook," suaranya lirih. Ingin rasanya Leona melempar kesalahan ini pada alkohol, supaya ia bisa menyentuh gadis cantik dalam pelukannya ini lebih jauh. Namun ia menahannya—sekuat yang ia bisa.
Ada sedikit keraguan yang masih bisa menggelitik akal sehatnya di sela-sela nafsu yang menggerogot liar. Ia masih belum bisa memastikan perasaannya, dan jelas ia tidak mau itu menyakiti Rook. Tentu ia ingin terang-terangan bahkan di hadapan orang tua Rook, supaya mereka tahu ia menginginkan putri mereka. Namun itu semua hanya bisa dilakukan apabila ia sudah yakin 100% dengan apa yang ia rasakan. Satu syarat itu saja. Tidak lebih.
Namun Leona juga tidak bisa menahan. Ia menginginkan gadis ini. Bahkan dengan saling menggoda seperti sekarang sudah membuatnya senang bukan main.
Aku ingin menciumnya ...
Di sisi lain, meski mengikuti "alur mabuk" yang diciptakan sang suami, Rook berusaha mempertahankan kesadarannya. Akal sehatnya juga bekerja keras—sama seperti Leona—di tengah luapan emosi yang kapan saja bisa menguasai. Cengkeraman kuat yang langsung ke kulit pinggangnya jelas menggoda. Leona sedang menggodanya. Setidaknya Rook bisa yakin itu. Namun, sentuhan langsung ke kulit saja tidak cukup menjawab pertanyaan batinnya. Apalagi kondisi Leona sekarang masih memulihkan diri dari pengaruh empat kaleng bir laknat pemberian sang ayah. Meskipun Rook pernah dengar alkohol bisa memancing keinginan terdalam dari seseorang, ia tetap ingin mereka bicara dan melakukan ini dalam kondisi sadar.
Rook menangkup paras indah sang pangeran dengan kedua tangan. Rambut bagian depan sedikit disibak, memamerkan keindahan yang wajah itu bisa suguhkan lebih banyak lagi. "Kau tahu, Leona-kun?" Telinga bulat singa itu bergerak lebih dari sekali, tak ingin kehilangan kesempatan mendengar suara gadisnya yang terasa lebih dalam dari biasanya.
"Aku selalu menahan untuk tidak mengatakan rahasiaku," gadis itu meneruskan. Nafasnya hampir tercekat di tenggorokan. Apa yang mulutnya keluarkan ini sungguh di luar dugaan, dan rasanya sudah seperti confess sungguhan. "Sebuah rahasia yang ... selalu berusaha kupendam. Sekuat tenaga, kubiarkan akal sehatku yang memegang kunci ke ruangan tempat rahasia itu berada, hanya supaya mulut bodohku tidak mengambil alih dan membebaskannya di saat-saat genting sekalipun. Tapi ... kau selalu mengujiku, melemahkanku untuk mengatakannya. Kau bahkan membuatku berjanji untuk mengatakannya di hari ulang tahunmu."
Mengabaikan serangan benda keras asing yang sekilas mengenai bokongnya, Rook berbisik, "Kenapa? Apa tujuanmu mengujiku seperti ini?"
Apa akhirnya ... aku benar harus mengatakannya padamu?
Binar menghiasi wajah sang pangeran ketika pupil hitam di mata hijau Rook kian membesar. Ia hampir tidak mendengar apa-apa saja yang sudah Rook katakan karena ia terlalu fokus pada setiap perubahan di raut muka dan tatapan gadis pemburu itu. Ada hal ganjil yang belum bisa Leona pastikan dan masih membuatnya penasaran, tapi satu yang pasti: gadis dalam dekapannya ini luar biasa cantik.
Cantik. Cantik sekali.
Kepalanya maju, membuat hidungnya dan Rook menyentuh. Leona melonggarkan cengkeramannya, membiarkan ibu jarinya mengelus perut si gadis pemburu yang terbentuk sempurna. Satu dorongan lagi dan tembok pertahanannya runtuh bahkan sebelum matanya sanggup mengedip.
Rook sampai tersentak dan hampir meloloskan lenguhan akibat terkejut. Ini bukan kali pertama mereka bersentuhan kulit. Namun, ini terasa aneh karena mereka belum pernah saling menyentuh bagian tubuh yang jarang terlihat. Rasanya sangat berbeda, dan asing.
Berusaha tetap pada jalur yang sudah dibuat, Rook menyempurnakan pertanyaannya, "Kenapa? Apa maumu sebenarnya, Leona-kun? Apa yang kau mau dariku?"
"..." Bibir Leona mengatup rapat. Suhu panas yang sempat mendidihkan darah di seluruh tubuh, perlahan turun. Saat ia sadar dirinya mulai tenang, Leona melepas cengkeramannya di pinggang Rook dan menurunkan kaos itu kembali. Rook juga sudah turun dari pangkuannya.
Rahasia apa yang Rook maksud? Leona tidak tahu—atau lebih tepatnya masih menolak untuk tahu. Kalau rahasia itu merujuk pada apa pun yang Ruggie bilang, maka Leona masih belum bisa menjawab pertanyaannya.
Belum. Leona masih butuh lebih banyak waktu untuk bisa menjawabnya. Tapi untuk sekadar mengucapkan itu, menjelaskan kalau ia butuh waktu, Leona tidak berani.
Apa-apaan ini? Leona Kingscholar takut sampai sebegininya? Lawakan macam apa lagi ini?
Ah, benar juga. Sebelumnya saja ia tidak berani mengungkapkan perasaannya pada gadis yang ia suka, sampai gadis itu akhirnya jadi milik orang lain. Mana mungkin Leona yang penakut itu bisa jadi pemberani di keadaan yang sekarang?
Haha.
Mana mungkin.
Menyadari air muka yang berubah, Rook akhirnya menyerah. Sepertinya ia sedikit berlebihan sampai membuat Leona sadar dari mabuknya. "M-maaf, lupakan saja apa yang kukatakan." Ia mengelus wajah itu sekali lagi, lalu menurunkan kedua tangannya ke pundak sang pangeran. "Mau kembali sekarang? Atau masih mau berduaan lagi? Aku bisa beri alasan kau atau aku perlu mendekam di toilet karena kekenyangan, jadi kita bisa di sini lebih lama."
Tidak. Kalau mereka sendirian lebih lama lagi dari ini, Leona khawatir semuanya berakhir ke hal yang tak diinginkan. Tidak dengan kondisi batin yang seperti ini.
"... Ayo kembali. Aku tidak mau membuat si kembar mengkhawatirkanku."
Candaan itu seperti dipaksa, tapi Rook memilih mengikuti kemauannya dan tertawa pada candaan yang dipaksa itu. "Kau benar. Sekarang pun mereka pasti merengek ingin menyusul ke mari."
Leona hanya bisa membalas dengan dehaman pendek. Dua tubuh yang entah untuk berapa lama bersatu, resmi memisahkan diri. Tak ada sentuhan lain yang terjadi—tidak untuk satu gandengan tangan pun. Jarak di antara keduanya kembali tercipta, menjauhkan apa yang sempat dekat tidak sampai lima menit yang lalu.
Jangkar hitam dan berat mengikat sesuatu di dada kiri, jatuh sampai ke dasar perutnya. Sebagai akibatnya, Leona sukses ditenggelamkan pada lautan pikirannya yang nyaris mengirim gelombang tsunami ke pulau terdekat—pulau yang disebut dunia. Ia tak lagi sanggup menjawab dengan benar setiap pertanyaan dan ucapan yang diarahkan orang-orang padanya. Saat ini, yang paling ia butuhkan dan (kemungkinan) yang paling ampuh mengembalikannya ke permukaan, adalah dengan tidur.
.
.
.
Next: Chapter 29
.
.
.
(A/N: Hurry up kiss and give me a niece.)
