Setelah melewati serangkaian "ujian" merepotkan, akhirnya Leona berhasil masuk ke kawasan Asrama Pomefiore. Padahal dia ini Ketua Asrama Savanaclaw, dan kedatangannya juga karena ada perlu dengan Wakil Ketua Asrama Pomefiore itu sendiri. Tidak bisakah pertanyaan-pertanyaan "ada perlu apa, ingin bertemu siapa" itu dihilangkan saja?
Yah, apa pun itu, Leona berhasil melaluinya dan kini ia duduk menunggu di halaman depan. Sebenarnya ia sudah diizinkan masuk apabila ingin menunggu di ruang tengah asrama, tapi Leona menolak. Ia menolak bertemu Vil, dan kalau di luar begini, kapan pun bukunya sudah dikembalikan, ia bisa langsung kabur.
Tujuannya ke mari hanya untuk mengembalikan buku Rook. Ya, hanya itu. Leona tidak berpikiran ingin bertemu Vil. Yang ingin ia temui malam ini adalah ... Rook.
"..."
Sekarang kalau diutarakan seperti itu, kedengarannya agak "aneh," ya. Seakan tujuan utama Leona adalah khusus untuk bertemu Rook—yang mana sebenarnya fakta.
Kepalanya menengadah, memandangi langit yang tanpa bintang malam itu. Berawan, tapi tidak ada tanda-tanda akan hujan.
Sepi. Bahkan bintang enggan menemaninya menunggu seorang gadis pemburu yang entah apa yang membuatnya begitu lama untuk menemuinya.
.
.
.
Chapter 30
.
.
.
Tak banyak yang terjadi setelah pesta perburuan yang terjadi dari pagi sampai sekitar siang di hari terakhir tahun itu. Sebagian orang, lebih tepatnya Leona, Reeves, Cesan dan Colette kompak tidur siang begitu kembali ke rumah utama keluarga Hunt. Waktu terlewat begitu saja, hingga persiapan malam tahun baru selesai tepat di jam setengah sebelas malam.
Semua orang sekali lagi berkumpul di halaman belakang rumah. Mereka bersiap menonton acara kembang api tahun baru di Sunset Savanna yang selalu dijamin meriah. Kembang api berbagai bentuk, ukuran, warna, bahkan ada yang memiliki durasi panjang, semua diletuskan ke langit tanpa bintang tepat saat lonceng jam 12 malam berdentang. Sorak sorai memenuhi seluruh penjuru negeri, tidak ada yang melewatkan kebahagiaan menyambut tahun yang baru.
Namun, suara-suara bising itu tidak berlangsung lama. Jam satu malam, hanya satu jam setelahnya, serangga dan hewan malam lah yang mengambil alih kemeriahan bagi mereka sendiri. Dan Leona bisa mendengar semua suara penguasa malam itu. Secara mengejutkan ia terjaga, matanya menolak terpejam.
Badannya sedikit berputar, mengintip dari balik punggung. Nello sudah tidur nyenyak dengan dengkuran tipis. Ia berniat mengajak abang barunya mengobrol kalau belum tidur, tapi itu jelas mustahil untuk sekarang.
Sedikit kecewa, Leona turun dari ranjangnya, berjalan sepelan mungkin keluar kamar. Niat awalnya adalah mengambil air ke dapur—dan ia melaksanakan itu. Namun, bayang-bayang sebuah punggung tegap di bangku taman di halaman belakang, di tempat mereka menonton kembang api tak lebih dari satu jam lalu, menarik perhatiannya.
Ayah mertua belum tidur. Kemungkinan nasibnya sama dengan Leona sekarang.
Haruskah ia menghampiri? Tadi pun ia berniat mengajak Nello mengobrol, kan? Sekarang ada ayah mertuanya, duduk sendirian di halaman, bukankah itu semacam "tanda" dari alam? Bahwa alam mengganti peran Nello dengan keberadaan beliau?
"... Tak peduli semirip apa ayah-anak ini, bukan berarti harus begini juga." Leona mendengus kecil dengan hasil pemikirannya. Tapi, persetan lah. Toh dia belum pernah mengobrol—berdua saja—dengan beliau sejak putrinya diambil ke istana.
"Papa."
Seolah sudah menebak kehadiran Leona, pria paruh baya itu tidak terkejut sama sekali. Ia memutar badan, melempar senyum ke arah menantunya yang berjalan semakin mendekat. "Tidak bisa tidur, Leona-kun?"
Pangeran itu balas tersenyum tipis. "Masih terbawa suasana tahun baru," katanya beralasan. Ia mengambil duduk di samping Ayah Hunt. "Papa sendiri bagaimana? Tidak bisa tidur juga?"
"Bisa jadi." Pria itu tertawa. "Aku sudah tua. Kadang ada masanya sulit tidur dan butuh jalan-jalan dulu, atau sebatas duduk di luar."
"Tapi angin malam itu tidak baik."
"Istriku juga mengatakan hal yang sama." Ia tertawa lagi. "Omong-omong soal istri, bagaimana Rook?"
Telinga Leona merunduk sebentar, lalu berdiri lagi saat ia menjawab, "Baik. Dia bisa berbaur dengan baik di istana. Cheka sangat menyukainya."
"Pangeran Cheka menyukainya? Yah, tidak mengherankan." Tentu saja karena Rook terbiasa menghadapi anak-anak. Atau bisa juga memang Cheka yang mudah bergaul dengan orang baru, sehingga Rook bisa dengan cepat menarik perhatiannya. "Aku tahu kau dan keluargamu akan memperlakukannya dengan baik, tapi kalau mendengarnya langsung darimu, aku bersyukur dia dapat berbaur di sana. Kau suami yang baik, Leona-kun."
"Um …." Telinga Leona bergerak senang. Pujian itu amat menghangatkan hatinya yang sempat mendingin setelah semua hal yang terjadi dua hari belakang ini.
Tak ada percakapan lainnya terjadi di antara mereka. Langit malam yang masih tidak berbintang menaungi kepala keduanya, lalu suara serangga malam yang terdengar tipis-tipis, seakan memperjelas keheningan malam yang sempat ramai 60 menit lalu itu.
Leona kembali memikirkan rencananya; rencana untuk serius dengan Rook. Ia tahu kalau ini harus dibicarakan lebih dulu pada Rook, sebagai calon pasangannya. Namun, mumpung ada ayah mertuanya di samping, bukankah ini kesempatan emas untuk sekalian meminta restu?
"Anak-anakku ternyata sudah besar-besar, ya." Belum sempat Leona memulai obrolan, Ayah Hunt mendahuluinya. Beliau tampak mengelus-elus dagunya yang ditumbuhi jenggot tipis ketika meneruskan, "Nova sedang menjalani mimpinya, Nello masih meniti karir, Reeves-Cesan sama-sama sudah SMA—tapi masih sering bertengkar, bahkan si bayi Colette sudah 10 tahun. Lalu Rook ...," Manik hijau yang senada dengan putri ketiganya itu bertemu dengan milik Leona yang menyala dalam gelap, "sudah menikah. Meski tidak sungguhan, tetap saja rasanya mengejutkan melihat ada anakku yang akhirnya sudah punya keluarga sendiri. Aku bahkan sempat membayangkan akan menggendong cucu kelak, haha!"
"..." Cucu, eh. Agak lucu ketika Leona mendengarnya karena ia seperti dipaksa mengingat pikiran liarnya sendiri beberapa waktu lalu—jauh sebelum ia berpikir soal rencananya sekarang.
Anak yang mirip dirinya dan Rook. Ya, Leona pernah membayangkan itu terjadi. Seandainya benar ada anak yang seperti itu di antara mereka, kedengarannya lucu sekali. Mungkin dia akan semanis Colette, tapi dengan telinga dan ekor singa? Leona bukan penggemar anak-anak (diminta tolong mengurus Cheka saja ogah-ogahan), tapi kalau anak itu menuruni fitur mereka berdua, mana mungkin Leona bisa menolak?
Tapi rasanya ... itu hampir mustahil terjadi.
Mereka punya anak, itu berarti kebebasan Rook terenggut. Kalaupun Rook benar jatuh cinta padanya dan bersedia hidup selamanya sebagai suami-istri, belum tentu ia mau punya anak. Semua keputusan tetap ada pada Rook. Kebahagiaannya adalah yang utama.
Pada akhirnya, untuk mengetahui itu semua dan mencapai kesepakatan bersama, mereka harus mengobrol. Dimulai dari Leona yang harus berani mengungkapkan rencananya untuk serius pada Rook.
Sang pangeran kedua menarik nafas dalam, untuk kemudian memberanikan diri memulai, "Papa, ada yang mau saya bicarakan."
"Sudah kuduga kau punya sesuatu di dalam kepalamu." Ayah Hunt tersenyum, dan itu sama dengan yang Nello tunjukkan sebelumnya.
Sedikit gugup (ditandai dengan cincin di jari manis kirinya yang mulai diputar-putar), Leona akhirnya mengaku, "Saya … berencana serius dengan Rook."
Sempat takut dengan reaksi sang kepala keluarga (yang mungkin akan menolak idenya dengan keras), tapi ternyata beliau mempertahankan senyumnya. Malah, yang sekarang ini terasa lebih natural karena ada kesan lega yang ditunjukkan di sana. "Bukankah itu berita bagus? Syukurlah kalau kalian sudah tahu apa yang ingin kalian lakukan di masa depan."
Kalian? Sepertinya Ayah Hunt mengira kalau ini hasil keputusan Leona dan Rook, bukan sepihak sang pangeran.
"Begitu, ya. Kalian akan jadi suami-istri sungguhan." Masih dengan angan-angannya, Ayah Hunt mengangguk-anggukkan kepala, merasa puas. "Tidak heran kalian sangat lengket kemarin. Aku sampai merasa bersalah, karena ternyata kalian menahan diri di depan kami semua."
"... Eh?"
Lengket? Kemarin?
"Oh, pardon. Sepertinya kalian tidak sadar." Ayah Hunt tertawa sejenak. "Aku melihat kalian di vila."
"..."
Gerakan memutar cincin mendadak berhenti. Keringat dingin menguasai cengkeramannya.
Leona tertangkap basah bermesraan dengan putri ayah mertuanya.
Langsung di depan mata.
Tawa Ayah Hunt kian besar melihat Leona yang semakin pucat pasi. "Maaf, maaf. Aku tidak sengaja lihat karena aku khawatir," beliau berusaha menjelaskan. "Nello dan Colette sudah kembali, tapi kalian terlalu lama sampai aku jadi kepikiran. Akhirnya aku kembali ke vila, dan—untungnya belum sempat masuk—aku lihat kalian di atas sofa. Merasa kalian baik-baik saja, aku langsung kembali dalam diam."
Ah, sialan.
Tanah di bawahnya ini gembur tidak? Bisa langsung digali? Ingin rasanya Leona mengubur diri dan muncul lagi ke dunia sebagai pohon pinus. Sekarang juga.
"Tenang saja, aku tidak akan menuntut apa-apa." Ekspresi menantunya terlalu lucu, sampai Ayah Hunt tidak sanggup menghentikan tawanya. Baru setelah beberapa detik berpuas-puas, ia bicara lagi, "Apabila Rook ingin menunaikan keinginanku perkara studi, atau mungkin dia ingin meniti karir tertentu, semua bisa dilakukan bahkan saat sudah menikah. Semisal kalian berubah pikiran dan tetap menganggap hubungan kalian sebatas kontrak pun, itu juga tidak masalah. Yang penting itu keputusan kalian dan kalian sama-sama bahagia, itu sudah lebih dari cukup buatku. Maman juga pasti akan setuju. Tidak perlu khawatir."
"..." Ada sedikit kesalahpahaman di sini, tapi Leona tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Ayah mertuanya jelas-jelas mengira Leona dan Rook sudah membicarakan ini bahkan mencapai kata sepakat. Di saat sesungguhnya, Rook belum tahu apa-apa dan ini semua masih akal-akalan Leona seorang diri.
Namun Leona akhirnya memilih tidak menjelaskan, takut nantinya memperumit keadaan. Yang penting ia sudah mendapat restu, maka hal berikutnya yang harus dilakukan adalah segera mencari waktu dan "obrolan pembuka" yang tepat dengan Rook.
"Perkara 'cinta lokasi' ternyata jadi sungguhan, ya. Agak di luar dugaan."
Leona mendengus, sedikit meledek dirinya sendiri. "Mungkin karena pada dasarnya, aku dan Rook sudah saling kenal sebelum ini."
"Tidak salah juga." Ayah Hunt kembali mengangguk-anggukan kepala. "Kau memintanya membantumu karena kalian berteman baik selama sekolah, kan?"
Entah itu bisa dibilang baik atau bukan. Maaf, Papa. Ingatan semasa NRC tidak bisa dibilang sebagus itu, dan apabila ayah mertuanya tahu, restu yang tadi sudah diberikan bisa saja ditarik kembali. "Yah … benar. Pasanganmu pada akhirnya adalah orang yang sudah kau kenal. Aku pernah dengar itu."
"Haha! Itu mengingatkanku. Aku dan ibu mertuamu juga teman di masa muda," beliau mulai bercerita. "Kami teman sejak SD sampai SMP. Hingga kemudian keluarganya pindah, lalu kembali lagi ke mari setelah kami sama-sama sudah mapan. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh dan kami berakhir seperti sekarang."
Leona tersenyum tipis, dalam hati mengamini kisah tersebut agar bisa menjadi akhir kisahnya bersama Rook. Memiliki wujud "keluarga cemara" seperti keluarga Hunt perlahan jadi mimpi yang ingin dicapai.
"Sepertinya sudah semakin larut." Refleks Leona mendongak ke langit saat ayah mertuanya mengucapkan itu. Langit masih tampak tak berbintang, sampai matanya berhasil menangkap dua titik putih berpendar jauh di angkasa luar. "Besok kau menyetir, kan? Lebih baik kita kembali sekarang."
"... Baik, Papa." Leona membiarkan Ayah Hunt berdiri dan berjalan lebih dulu. Sambil mengikuti di belakang, ia melihat langit sekali lagi. Dua titik putih itu sudah seperti cahaya satu-satunya di lautan hitam penuh awan.
.
.
.
"Hoaam—mmph …."
Rook refleks menutup mulut suaminya ketika ia menguap terlalu lebar. "Masih ngantuk? Apa pulangnya agak sorean aja?"
Kepala Leona menggeleng. Kaleng kopi yang sejak tadi ada dalam genggaman, ia angkat dan goyang-goyang pelan. "Efek kopinya sebentar lagi akan bekerja. Tenang saja, aku tidak mungkin menabrakkan mobil kita ke plang jalan."
"Kau bilang tenang saja justru buat aku tidak tenang." Rook memajukan bibir, tanda kalau ia tidak senang mendengar pernyataan sang suami.
"Mengantuk seperti ini bukan masalah besar. Apalagi jaraknya tidak jauh. Kita akan aman."
(Sedikit catatan: anak baik jangan meniru apa yang Leona lakukan, ya.)
Rook menggeleng kepalanya, heran. Ia lanjut memasukkan baju memanah dan sketchbook-nya ke dalam ransel, kemudian mengikat busur kesayangannya pada bagian luar ransel. "Tasmu sudah di mobil?"
"Ya," jawab Leona tanpa melihat istrinya yang masih sibuk berberes. Hari ini, mereka sudah bisa bicara dengan normal. Mungkin kemeriahan tahun baru semalam yang entah bagaimana bisa mencairkan suasana. Rook tidak lagi mendiamkannya, dan soal ciuman di pipi ... tidak ada yang membahas soal itu. Setidaknya ini sudah lebih dari cukup untuk sekarang.
Karena masih menunggui Rook, Leona memanfaatkan waktu yang singkat ini untuk lihat sekeliling. Ini kali pertamanya melihat kamar Rook yang sesungguhnya. "Kamarmu yang di rumah kita, kenapa tidak ada satu poster pun? Di sini penuh wajah si Neige LeBlanche itu."
"..." Rook tidak langsung menjawab. Begitu semuanya siap, barulah ia bicara, "Aku hanya menumpang di sana, kau tahu itu, Leona-kun. Aku tidak boleh sembarangan membawa barang-barang fangirl-ku."
"Itu rumahmu juga. Kau berhak melakukan apa pun yang kau mau."
"Kau tidak mengerti, huh." Rook memutar badan, melempar kode pada Leona untuk berhadapan dengannya—yang mana langsung dituruti. "Sekalinya aku menempel poster, aku akan langsung lepas kendali. Butuh waktu kurang dari 24 jam, kamar itu akan dipenuhi berbagai macam barang berbau Roi du Neige. Aku bahkan sudah mati-matian mengurangi jadwal fangirling-ku semenjak menikah hanya agar tidak jadi berlebihan."
"Tapi itu berarti, kau jadi menahan diri terhadap hobimu sendiri," balas Leona cepat. "Aku tidak mau jadi penyebab kau menahan diri."
"Bukan begitu!" balasan Rook tak kalah cepat. "Aku hanya ... aku hanya belum terbiasa, oke? Dan aku ini hanya rakyat biasa, dan kau adalah seorang bangsawan—sepertinya aku pernah bilang ini padamu. Kalau kau berada di posisiku, kau mungkin baru akan paham dengan perasaanku." Gadis pemburu itu diam sesaat sambil menggigit bibir. "... Ini bukan karena kau, Leona-kun. Aku ... aku senang membantumu, kau tahu itu."
Senang membantuku, eh. Leona, secara ajaib, merasa senang mendengar itu. Namun kemudian, ia berkata lagi, "Tapi aku serius juga dengan ucapanku, kau dengar aku? Aku masih tidak terbiasa dengan hobi anehmu ini, tapi kalau ini adalah hal yang kau suka, jangan merasa terbebani sampai harus menahan diri. Rumah itu adalah rumahmu—rumah kita. Kau tinggal di sana, menjadi bagian darinya. Kau berhak atas apa yang ingin kau lakukan di sana."
"..." Rook bungkam. Tangannya mencengkeram ujung ransel, sekuat tenaga menahan agar tak ada satu air mata pun yang jatuh. Ini sudah saatnya ia terbiasa dengan setiap "perlakuan manis" yang Leona berikan. Tapi sepertinya, tak peduli berapa kali pun ia mendapatkannya, Rook akan tetap merasa terharu.
Ia senang. Bukan main senangnya.
"Hei, semua sudah siap?" Rook segera membuang muka, secepat kilat mengusap matanya dengan ujung lengan bajunya, saat tiba-tiba Nello muncul di pintu kamar. "... Kau apakan adikku, Leona?"
"Hah? Dia yang menangis sendiri—aw!" Rook langsung berdiri setelah memberi satu pukulan ringan di pundak Leona.
"Apa Kaa-san sudah selesai dengan 'tangkapan besar' yang dia maksud subuh tadi?" Si gadis pemburu segera mengalihkan pembicaraan.
Nello mengangguk. "Sudah diikat kuat di bagian belakang mobil kalian."
"Ya ampun, aku harus langsung mengirimnya ke carwash, huh." Leona sudah membayangkan tubuh rusa—masih utuh walau sudah mati—menumpang di kursi belakang. "Kifaji yang malang, mobil itu hasil pinjam darinya."
"Eh?! Itu punya Kifaji-san?!"
Leona tidak menjawab keterkejutan istrinya, dan langsung menuju halaman depan rumah. Benar saja, rusa jantan dengan tanduk besarnya sudah duduk anteng tak bernyawa di sana. "Maman hebat sekali. Hanya dalam waktu singkat, tangkapannya bisa luar biasa begini," pujinya, yang di telinga Rook lebih terdengar seperti sarkasme.
"Fufu, merci, Leona-kun. Nanti bagi-bagi, ya, di sana." Meski mungkin Ibu Hunt mampu menangkap pujian menantunya sebagai sarkas, ia tetap merasa bangga dengan hasil buruannya. Tak perlu waktu lama sampai semua orang mengerubung ke mobil, mengantar Yang Mulia Pangeran Leona ke kursi pengemudi. Sementara Ibu Hunt mundur selangkah, berdiri bersebelahan dengan putrinya yang masih mengecek barang bawaannya sekali lagi. "Aku sudah dengar semuanya dari ayahmu."
Rook menghentikan kegiatannya dan menatap ibunya penuh tanya. "... Dengar apa?"
Ibu Hunt memberi senyum serba tahu, tapi yang ini lebih seperti menggoda. "Kalau nanti butuh saran—apa pun, jangan sungkan bertanya padaku, ya? Aku tidak akan membocorkannya pada siapa pun—tidak kepada ayahmu sekalipun."
Rook masih berusaha menerjemahkan maksud sang ibu, sampai tiba-tiba tangannya ditarik pelan oleh Leona. "Terima kasih tawarannya, Maman. Dan, sekali lagi, terima kasih juga atas oleh-olehnya."
"Tidak perlu dipikirkan." Ibu Hunt masih memberi senyum menggoda itu, yang mana segera mengundang sang kepala keluarga untuk ikut serta.
Rook semakin panik melihat itu, apalagi sampai kakaknya ikut memberinya tatapan dengan arti serupa. "... Ada apa ini sebenarnya?"
"Maaf, tapi kami harus segera pulang." Leona mencoba mengalihkan perhatian Rook untuk lebih fokus pada tujuan awal mereka—kembali ke istana. "Cheka sudah menagih jalan-jalan di waktu libur panjang ini," tambahnya lagi, beralasan.
Tak ada lagi yang berkomentar sampai Leona menyalakan mobil, lalu menjalankannya perlahan, meninggalkan halaman keluarga Hunt. Di kursi penumpang di sebelahnya, Rook masih terdiam, memikirkan segala kemungkinan mengapa keluarganya tiba-tiba bersikap aneh. Ingin sekali Leona menjelaskannya, tapi itu berarti ia harus jujur dari awal sampai akhir, yang mana sekarang belum waktu yang tepat untuk itu. Ia pun hanya bisa menahan senyum, sesekali melirik istrinya yang memasang ekspresi lucu—masih sibuk dengan pikirannya sendiri, sambil terus menekan pedal gas menyusuri jalanan Sunset Savanna yang selalu ramai sepanjang waktu.
.
.
.
"Maaf, Leona-kun, membuatmu menunggu lama."
Yang ditunggu akhirnya tiba. Gadis pemburu yang selalu terlihat dengan seragam sekolahnya, kini mengenakan gaun panjang berwarna kuning muda halus. Leona langsung menangkap kalau itu baju tidurnya, dan secara tak disangka, ia tampak cantik dengan gaun itu.
Hm? Tunggu dulu, apa yang tadi dipikirkannya?
"Leona-kun?"
Leona sampai tidak sadar ia melamun. Setelah berdeham, ia akhirnya bicara, "Kau hampir membuatku mati kedinginan."
"Oh? Sedingin itu, kah?" Rook merentangkan tangannya ke udara, seolah ingin merasakan sendiri apa memang sedingin yang Leona bilang. "Tidak, ah, biasa saja. Lagipula, kalau memang udara malamnya dingin, kau bisa tunggu di dalam, tidak perlu di luar begini."
"Kau ingin aku bertemu Vil?"
Mendengar nama sahabatnya tiba-tiba disebut, Rook menggigit bibirnya sekilas. Ia memaksakan senyum. "Masih belum mengutarakan perasaanmu?" Rook tahu itu pertanyaan bodoh, tapi mulutnya mengeluarkannya begitu saja.
Leona tidak menjawab. Ia berdiri, lalu menyodorkan buku catatan yang sejak tadi "tertidur" di sampingnya. "Sesuai janji, kukembalikan catatanmu."
Rook menerima bukunya dengan muka bingung. "Merci ..." Gadis itu kemudian menyembunyikan setengah wajahnya dengan buku. "... Kau ke sini untuk mengembalikan ini, huh. Berarti ingin bertemu denganku, ya," kalimatnya di akhir diucapkan dengan suara kecil, tapi Leona masih bisa mendengarnya.
"Buku yang kupinjam itu bukumu. Memangnya aku harus temui siapa kalau bukan kau?"
"Kan, bisa dititip sama siapa saja anak Pomefiore yang kau temui di gerbang."
"Takut tidak sampai."
Rook merasakan wajahnya semakin memanas. "Begitu ... berarti memang ingin bertemu denganku, ya."
"Sekali lagi diulangi—"
"Iya! Paham! Terima kasih!" Rook mundur satu langkah, menarik bukunya dari wajahnya yang sudah lebih terkendali.
Saat gadis itu melihat-lihat sampul bukunya sendiri, Leona bicara lagi, "Ada catatan tambahan di sana. Nanti buat jawab tugas yang dikasih Crewel."
"Eh?" Segera Rook buka bukunya dan mencari catatan yang dimaksud. Di halaman terbaru, tepat di sebelah catatannya sendiri siang tadi saat kelas, ada tulisan rapi milik Leona yang membahas beberapa poin yang belum Rook masukkan ke catatannya sendiri. Tulisan mereka tampak serasi (tapi itu hanya menurut Rook sendiri dan ia tidak akan mengatakannya pada Leona).
"Lembar jawabannya ada padamu, kan?"
Rook kembali menutup bukunya. Senyum lebar mempercantik wajahnya yang memang sudah cantik. "Um, merci, Leona-kun. Nanti akan kukerjakan."
Leona mengusap belakang lehernya. "Ya, memang sudah seharusnya. Bantuanku itu sudah lebih dari cukup, jadi aku tidak mau mengerjakannya lagi."
"Iya, tenang saja. Akan kupastikan kita dapat nilai bagus." Masih dengan senyum yang sama, Rook mengangkat kedua tangannya ke depan dada, membuat pose bersemangat.
Sebenarnya malas mengakui, tapi Leona lega melihat gadis itu seperti mendapatkan energinya kembali. Itu adalah senyum yang memang biasa Rook pasang, dan yang biasa Leona lihat.
"Tapi," Sayangnya, senyum bahagia itu tidak bertahan lama, karena senyum masam yang dipaksakan kembali menggantinya, "yakin tidak mau masuk? Vil belum tidur, kalau memang ingin bertemu. Aku bisa panggilkan."
"..." Yah, kalau ditanya ingin bertemu atau tidak, tentu saja Leona ingin. Mau sekali dia bertemu Vil, apalagi di jam-jam berpiyama seperti ini. Vil dengan baju tidurnya (yang kemungkinan besar berbentuk gaun sama seperti Rook) pasti terlihat cantik juga.
Namun ...
"Tidak, tidak usah. Aku ke sini cuma mau ketemu kamu—balikin buku."
... ia lebih tidak ingin melihat Rook dan senyum masam yang jelek itu. Khusus malam ini, rasanya lebih menyakitkan melihat gadis itu tidak bahagia ketimbang rasa kecewanya yang tidak bisa melihat Vil berbalut gaun tidur.
Mendengar itu, Rook segera mengembalikan senyum manisnya yang tadi. "Begitu? Baiklah, aku tidak akan memaksa." Namun senyum itu kembali tidak terlihat saat ia mengangkat bukunya ke wajahnya. "Sampai besok di kelas ...? Itu kalau kau masuk."
Leona tidak lagi membalas. Ia langsung berbalik, dengan tangan yang melambai. Apakah itu diartikan sebagai "ya" atau "tidak," jawabannya hanya bisa Rook temukan besok saat di sekolah.
Sepanjang perjalanannya kembali ke Savanaclaw, Leona kembali memandangi langit tanpa bintang di atasnya. Dan saat itulah, tiba-tiba ada dua berkas cahaya yang tampak jauh di angkasa luar sana. Akhirnya ada bintang, dan hanya ada mereka berdua, di tengah hitam dan gelapnya langit malam itu.
.
.
.
Next: Chapter 31
