Chapter 31
.
.
.
"Bahkan seorang pangeran masih harus berangkat kerja di tengah libur begini, ya."
"Coba kau bicarakan itu pada Aniki. Aku sendiri tidak mau begini."
Rook memainkan ekor singa muda yang sedang mengenakan sepatunya. "Sampai harus dandan rapi pula. Ada tamu spesial?"
"Hanya sekretaris sepupuku." Leona berdiri begitu selesai dengan sepatunya, membuat Rook melepaskan genggamannya dari ekornya. Seperti biasa, hidungnya mendarat di puncak kepala Rook, menghirup aroma menenangkan itu. "Lebih baik aku berjaga seperti ini sebelum dimarahi lagi."
"Pasti karena sekarang ada Kifaji-san." Erangan Leona yang menahan sebal sudah cukup jadi jawaban. Rook tertawa pelan saat suaminya memundurkan diri, mempertemukan tatapan mereka. Gadis pemburu itu kemudian mengelus pelan luka yang ada di mata kiri sang singa. "Kalau butuh aku untuk menemani, bilang saja, ya," tawarnya, langsung paham kalau ini pasti berkaitan dengan Masa Pengenalan Ujian Berburu itu.
Sambil tidak memutus tatapan mereka, tangan yang mengelus lukanya itu Leona genggam perlahan, kemudian diusapnya, sebelum bibirnya mendaratkan satu kecupan di sekitar jari-jari lentik yang hari ini kukunya berwarna perak. "Datangnya harus presisi, tidak boleh telat barang satu menit pun," canda sang pangeran sambil tersenyum miring.
Rook menggembungkan pipinya yang menghangat. "... Kata orang yang sering terlambat dari saat masih di sekolah."
Leona tertawa dan akhirnya melepaskan genggamannya. Ia berjalan keluar mansion, dihantar beberapa pelayan. Sesekali menengok belakang, memperhatikan Rook yang juga melihat ke arahnya dengan muka yang bersemu, sampai ia memberi satu lambaian terakhir, lalu fokus pada perjalanannya menuju istana.
Rook berdiam diri di pintu selama beberapa saat. Dari ujung matanya, ia bisa tahu kalau semua pelayan di mansion sedang memperhatikan kegiatan mereka dengan antusias. Sebenarnya ini sudah jadi rutinitas karena setiap pagi, sebelum berangkat kerja, Leona pasti akan sempatkan diri untuk mencium puncak kepalanya (khusus hari ini, sang pangeran memberi kecupannya di jari-jari tuan putrinya). Selain itu, Leona juga akan sedikit mengobrol atau menggoda Rook. Namun, entah apa yang membuat rutinitas mereka ini menarik, sampai harus selalu "dipantau" oleh seisi penghuni rumah.
Masih merasakan panas di sekitar wajah, Rook menepuk-nepuk kedua pipinya pelan. "Mulutku sudah gatal ... ingin panggil 'sayang'," bisiknya pada diri sendiri. Rupanya, bisikan itu justru kian menaikkan suhu, dan Rook berusaha mengalihkannya dengan langsung berlari ke lantai dua.
.
.
.
"Urgh ... aku mual ..."
"Berkasnya biar saya saja yang antar, Leona-sama."
Tanpa melihat ke arah sang kepala istana, Leona menyerahkan berkas-berkas yang dimaksud. "Jangan bawa ke sini lagi. Kumohon."
"Selama tidak ada revisi," balas Kifaji santai, mengundang erangan tidak mengenakkan lainnya dari sang pangeran kedua. Tangannya merogoh saku baju, mengeluarkan sebungkus permen dan meletakkannya di atas meja kerja Leona. "Saya ada sisa permen kesukaan Anda. Dua jam lagi makan siang, jangan lupa mampir ke ruang makan. Falena-sama sudah siapkan makan siangnya—dan semuanya bertema daging."
Telinga berbulu yang lucu itu bergerak. Tangannya meraih bungkusan permen itu, kemudian membalas ucapan Kifaji—masih tanpa melihat ke arahnya, "Musang Tua itu tidak ikut makan siang dengan kita, kan?"
"Sudah saya bilang untuk berhenti menyebut Tuan Yeri dengan sebutan itu." Kifaji membenarkan letak kacamatanya sambil mengembuskan napas lelah. "Tidak, Tuan Yeri akan kembali ke tempat Tasha-sama," Kifaji memberi jawaban atas pertanyaan Leona tadi. "Tuan Yeri hanya sekretaris," ia melanjutkan, "jangan terlalu keras padanya. Anda tidak lihat betapa tertekannya ia saat datang kemari?"
"Oh, sangat terlihat jelas." Leona memasukkan permen yang telah terbebas dari belenggu plastik ke dalam mulut. "Salahnya mau-mau saja bekerja dengan Singa Botak itu," sambungnya.
"Leona-sama."
"Cepat antarkan berkasnya. Kasihan Kakak tercintaku sudah menunggu."
"..." Kifaji memasang ekspresi "menyebalkan" andalannya, kemudian pergi dari ruangan Leona tanpa bicara apa-apa lagi.
Selama beberapa saat, Leona berputar-putar di kursi kerjanya. Selepas pertemuan yang penuh basa-basi itu, tak ada hal spesial yang membekas dalam diri, kecuali perasaan kurang senang karena dirinya akan sibuk mulai sekarang. Waktu berduaan dengan Rook, yang baru saja ia pikir akan mereka dapatkan setelah pulang dari kediaman Hunt, ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Ding
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Pesan masuk dari gadis yang baru saja hinggap dalam pikirannya. Dan itu bukan pesan biasa, melainkan serangan puluhan—atau mungkin ratusan—foto hingga seperti spam.
"Apa-apaan ini …." Di antara sekian baris foto itu, terselip keterangan Rook yang bertuliskan, "Foto-foto yang diambil selama liburan kemarin." Entah kapan semua itu diambil—bahkan siapa yang mengambilnya, tapi jumlahnya sungguh tak terkira. Darah memotret bak orang gila ternyata mengalir deras di keluarga yang satu ini.
Ding
Saat ia pikir pesan itu sudah selesai dan hendak menutupnya (Leona memutuskan untuk melihat semuanya nanti sepulang kerja), rupanya masih ada satu pesan terakhir yang datang agak belakangan. Apa pun untuk istri, maka ia membukanya, dan seketika ia tidak menyesali keputusannya.
"Yang ini diambil Nello Nii-san."
Foto itu diambil di angle kiri dari Rook dan agak ke atas, menunjukkan kalau pengambil gambar sedang agak membungkuk. Di sisi kiri Rook, ada si kecil Colette yang sedang memperhatikan kakak perempuannya yang sedang menyuapkan sepotong daging pada seseorang di sisi kanannya—itu Leona. Pandangan Rook fokus pada daging dan mulut yang hendak dimasuki, tapi pandangan Leona lurus ke bulu mata pirang yang ternyata lentik itu. Ia masih mengingatnya dengan jelas.
Rook sibuk dengan botol-botol saus atau kecap atau apa pun itu kau menyebutnya. Isi dari masing-masing botol itu dikeluarkan sedikit-sedikit ke atas sebuah mangkuk kecil, kemudian diaduk perlahan dengan sepotong daging yang ia cabut dari tusukannya. Gadis itu kemudian melahapnya dengan ekspresi puas dan penuh nikmat, mengundang seekor predator untuk ikut mencicipi.
"Mau coba." Ingat betul ia langsung menghampiri si gadis pemburu, berjongkok di sebelah kanannya, dengan tetap memikirkan jarak agar tak terjadi kesalahpahaman. "Mau coba sausnya," ulang Leona dengan permintaan yang lebih jelas.
"Mana satemu?" Leona menyerahkan satu tusuk sate miliknya, membiarkan Rook mencabut sepotong daging untuk kemudian mencocolnya ke saus racikannya. "Aaaa~"
Leona masih ingat dirinya agak terkejut di situ. Mereka sedang di tengah-tengah keriuhan yang dibuat keluarganya, tapi Rook seakan tak peduli dan ingin memberinya suapan spesial. Dengan senang hati, Leona menerima suapan itu, kemudian menyadari betapa indah dan panjangnya bulu mata Rook yang berwarna senada dengan rambutnya.
"Gimana?" Leona hanya bisa mengangguk. Dagingnya enak, sausnya mantap, pemandangannya juga luar biasa. Rook yang diterpa cahaya dari api unggun ternyata sama sekali tidak buruk. Mungkin mereka akan kemah lebih sering di kemudian hari.
"Ruu Nee, mau juga." Hingga bayangannya sedikit buyar ketika Colette tidak mau kalah dan ikut meminta. "Tadi aku minta nggak boleh, tapi Leo Nii dikasih."
"Colette iri?" goda Rook sambil tertawa.
Apalagi ekspresinya saat tertawa, masih dengan pantulan cahaya api unggun. Benar-benar sanggup mengalihkan perhatian Leona dari dunia. Rook lah dunianya sekarang.
Leona tersenyum mengulang itu semua. Ia langsung mengunduh foto terakhir itu, memasukkannya ke folder "R.H." seperti biasa. Koleksinya masih belum banyak, tapi pasti akan terus bertambah setelah ini. Pasti. Apalagi dengan serangan ratusan foto tadi. Tidak mungkin koleksinya tidak akan bertambah.
Laman online drive ditutup, kemudian kembali ke pesannya. Leona membalas semua pesan itu dengan satu stiker mengacungkan jempol yang langsung dibaca oleh Rook. Tak perlu waktu lama, satu stiker lainnya tiba sebagai balasan. Stiker cartoony, sepertinya anak anjing, tengah melempar ciuman ke siapa pun penerima stiker itu. Leona lah yang menerima stiker itu, dan Rook lah yang mengirim. Senyumnya semakin lebar melihat sesuatu yang biasanya sanggup membuatnya merasa cringe itu.
"Oh, ya ampun. Ada apa dengan senyuman itu?"
Sedikit panik, Leona mengembalikan ponselnya ke atas meja dan memutar kursinya sedikit, membelakangi Kifaji yang tiba-tiba masuk ke ruangan. "Ketuk, Kifaji. Ketuk. Kau yang selalu memarahiku kalau tidak mengetuk pintu, sekarang malah begitu."
"Maklumkan saja, saya ini sudah tua."
"Banyak alasan."
Kifaji menaruh setumpuk berkas lainnya ke atas meja Leona. "Kerjakan setelah makan siang, jangan lupa."
"Iya."
"Jangan lupa."
"Iyaaa. Bawel sekali kau hari ini."
"Hanya mengingatkan karena sepertinya Anda terlalu senang bertukar pesan dengan istri di rumah." Tanpa perlu melihatnya pun, Kifaji tahu seberapa merah wajah pangerannya yang satu ini. Ia berjalan mendekat, memutar sedikit kursi Leona, kemudian menepuk pundak pangerannya beberapa kali. "Kalau ada yang mau didiskusikan—apa pun dan kapan pun, bilang saja."
Leona sedikit memicingkan mata. "... Aku sudah punya konsultan untuk itu."
"Oh?" Kifaji sudah tak sanggup menahan diri untuk tertawa lepas. "Itu mengejutkan, tapi bagus. Bagus, bagus. Berarti saya tinggal tunggu kabar baiknya, ya."
"Kau terdengar seperti orang tua."
"Karena saya memang orang tua."
"..."
Kifaji memberi tepukan terakhir di pundak Leona, lalu mundur ke pintu. "Sampai bertemu di ruang makan, Leona-sama. Saya akan tutup mulut untuk kejadian hari ini di depan Falena-sama, tenang saja."
Leona hanya melambaikan tangan. Sang kepala istana akhirnya pergi, kembali meninggalkan pangeran keduanya sendiri.
Konsultan. Leona mengambil kembali ponselnya, dan hampir tidak perlu mengecek nama dalam daftar kontak, ia langsung menelepon orang yang dituju.
Satu kali. Dua kali. Masih tidak diangkat. Namun Leona tetap bersikeras dan menelepon untuk yang ketiga kali. Dan di ketiga kali ini lah baru terdengar suara dari seberang sana.
"Halooo? Ya ampun, ini hari libur."
"Hai, Ruggie."
Ada suara keras yang langsung Leona duga bahwa Ruggie menepuk dahinya sendiri. "Astaga, Leona-san! Ini hari libur!"
"Tapi aku tidak libur."
"Aku tidak peduli!" Terdengar helaan napas panjang, kemudian suara itu kembali, "Jadwal rakyat biasa dengan kalian, para bangsawan, bisa saja berbeda. Tolonglah, pengertiannya sedikit."
"Tapi aku butuh kau untuk bekerja," Leona mulai bercanda. "Aku sudah membayarmu di muka. Kau harus ingat itu."
"Hak-hak pekerjamu juga harus kau perhatikan, Yang Mulia."
Leona tidak mendengarkan dan langsung ke inti, "Ada saran untuk … mengungkapkan rasa? Confess?"
"Hm?!" Suara Ruggie tiba-tiba terdengar bersemangat. "Cepat sekali!? Kau sudah yakin kau menyukainya?!"
"Aku ingin bersamanya. Itu sudah yakin."
Hyena itu mendecakkan lidah. "Masih itu lagi, itu lagi. Tinggal to the point aja apa susahnya."
Sang pangeran singa balas mendecakkan lidah. "Bukan kau yang merasakannya, jadi jangan berkomentar."
"Kalau begitu, jangan minta tolong padaku."
"Aku sudah membayarmu."
"Ya makanya dengarkan aku—ah, sudahlah!" Terdengar suara air dituang ke gelas yang disusul dengan tegukan. "Tadi kau minta apa? Cara mengungkapkan perasaan?"
"Kalau ada tips and trick," Leona mendengus sejenak, "kebetulan aku tidak berpengalaman."
"Kau pikir aku berpengalaman?"
"Mungkin saja, siapa tahu?"
Leona bisa membayangkan hyena itu sedang menggelengkan kepalanya. "Hmm … sebenarnya kalau mau bilang suka ya tinggal bilang aja. Tapi karena kasusmu ini sedikit 'berbeda,' aku jadi bingung."
Kalau suka tinggal bilang, huh. Simpelnya memang begitu, dan Leona juga tahu itu. Sejak ia masih menyukai Vil pun, ia sadar betul jika ia memang menyukainya, maka ia harus langsung mengatakannya. Namun, mengungkapkan "rasa suka" pada crush yang sebelumnya saja tidak bisa, bagaimana dengan yang sekarang? Leona bahkan belum bisa meyakinkan diri kalau ia benar-benar menyukai Rook.
"Tapi bukannya kau berencana untuk mengungkapkan perasaanmu kalau kau sudah yakin menyukai Rook-san?"
Leona menarik napas, agak kaget karena Ruggie seperti menyuarakan isi kepalanya barusan. "... Ya."
"Terus? Kenapa sekarang?"
"... Entahlah." Bisa Leona dengar suara mengerang tak sabar dari seberang sana, tapi ia tidak peduli dan meneruskan, "Aku … merasa semakin tidak sabar setiap harinya. Aku jadi semakin ketergantungan; ingin terus berada di dekatnya, memeluknya, menghirup aromanya, hingga …."
… Hingga ingin menciumnya. Di bibir. Apa yang terjadi malam itu di vila seakan menyadarkan Leona bahwa ia tak lagi sanggup menahan diri. Tak hanya menyentuh area yang sebelumnya tidak pernah disentuh (kulit pinggang Rook), ia sampai hampir lepas kendali dan ingin mencium bibir ranum itu.
Well, sebenarnya mereka sudah pernah ciuman di bibir sebelum ini. Tapi itu di altar. Formalitas untuk khalayak umum yang hadir dan menonton "pernikahan" mereka. Bukan sesuatu yang … memiliki rasa, seperti apa yang mengerubungi batinnya di malam itu.
Malam itu sungguh berbeda. Leona benar-benar ingin mencium Rook … karena dia ingin, bukan karena tuntutan. Belum lagi perasaan bahagia di hari berikutnya ketika Rook mencium pipinya—walau sekilas.
Oh. Rook dan pakaian terbukanya. Leona bahkan hampir melupakan yang satu itu. Dan mengingatnya kembali, membuatnya ingin segera pulang dan membawa istrinya ke mall untuk belanja pakaian-pakaian "santai" itu. Ia ingin melihat Rook memakainya, terutama saat hanya sedang berdua.
Semua yang Leona rasakan, sudah nyaris rusak bendungannya.
"Leona-san?"
Sial. Dia sampai lupa ada Ruggie di seberang telepon sana. Pikirannya sudah melalang-buana tak tentu arah.
"Sudah tidak tahan, eh?" Suara tawa khas hyena cilik itu menggema, menciptakan sedikit rasa tak suka dalam diri sang pangeran singa. "Jangan bayangkan yang tidak-tidak, ini masih siang."
"... Jaga bicaramu."
"Kau sudah jatuh cinta, Leona-san. Denial itu sudah tidak diperlukan lagi," Ruggie kembali mengingatkan Leona pada percakapan mereka beberapa waktu lalu di depan cat cafe tempatnya bekerja. "Ungkapkan apa yang kau rasa, apa yang kau mau. Hanya itu satu-satunya jalan."
Leona kembali menarik napas, kali ini jauh lebih panjang dari sebelumnya. Tak ada yang memulai pembicaraan, bahkan Ruggie memutuskan untuk melakukan-entah-apa di ujung sana (yang bisa Leona tangkap hanya suara seperti kantong plastik yang diacak-acak isinya). Keheningan ini seakan menjadi "waktu" bagi Leona untuk memikirkan dan memutuskan apa yang ingin dilakukan setelah ini.
"... Tips and trick-nya apa?"
"Apa?"
"Sedari awal aku meminta cara mengungkapkannya, Tuan Ruggie Bucchi. Tapi kau malah berputar-putar hingga menginterogasiku."
Hyena itu melepas tawa andalannya lagi. "Baiklah, baik. Aku sendiri belum pernah pacaran, tapi mungkin kau bisa mencoba yang klasik-klasik? Sambil diajak makan di restoran, nonton film di bioskop, atau sekadar jalan-jalan santai di taman, semacam itu?"
"Kenapa tempat publik semua …."
"Ya kalau tidak mau, di rumah saja tidak apa-apa. Nge-date di rumah jadi tren juga belakangan ini. Yang penting waktu berduaannya itu."
Waktu berduaan. Ya, benar. Yang terpenting memang bagaimana caranya mereka bisa punya waktu panjang, hanya berdua, untuk membicarakan ini semua.
Waktu berdua dan bicara. Leona mencatat itu dalam kepalanya.
"Ujung-ujungnya memang harus frontal mengatakannya langsung."
"Ya memang begitu." Suara kantong plastik lainnya, sampai Ruggie melanjutkan bicaranya, "Hubungan itu yang paling penting komunikasinya. Semakin banyak dan baik komunikasinya, semakin bisa dikontrol kelanggengan hubungannya. Setidaknya itu, sih, yang kupelajari dari curhatan teman-temanku soal pasangan mereka."
Embusan napas lega akhirnya Leona keluarkan. "Baik, terima kasih atas waktu konsultasinya, Tuan Ruggie Bucchi. Tapi sepertinya, aku masih butuh masukan dari orang lain lagi."
"Bisa-bisanya saran dariku masih kurang."
"Hanya butuh perbandingan," balas Leona cepat. "Akan kukabari kalau kami ke kafemu lagi."
"Wah, sungguh?!" Ruggie kembali tertawa dengan suara khasnya. "Baiklah, akan kutunggu! Tak kusangka kau akan benar-benar memanfaatkan voucher itu."
Tidak lagi menjawab, Leona langsung menutup teleponnya. Masih ada 40 menit lagi sebelum jam makan siang, ia kembali menyusuri barisan kontak di ponselnya, hingga nama yang dicari tertangkap netra. Tombol panggil ditekan, dan semoga siapa pun orang itu berkenan mengangkatnya.
"Halo, Leona-senpai?"
"Aku sudah bukan senpai-mu, puppy."
Puppy, atau Jack Howl, tertawa pelan. "Baiklah, Leona-san. Ada apa?"
"Kau sudah pacaran?"
Tak ada balasan langsung. Leona didiamkan selama sekitar 15 detik, sampai akhirnya Jack kembali bersuara, "Tiba-tiba sekali, aku sampai kaget."
"Berarti sudah, ya."
"Belum, Leona-san." Segera terbayang wajahnya yang memerah karena malu. Anjing besar kebanggaan Savanaclaw itu terkadang bisa bersikap manis—dan Leona mengakui itu. "Uh … uhum! Belum pernah. Sama sekali belum." Penjelasan berikutnya yang ia keluarkan terdengar seperti ingin "memaksa" Leona untuk percaya pada kata-katanya.
"Iya, iya, terserah kau saja."
"Memangnya kenapa tanya begitu?"
"Aku hanya penasaran," Leona kembali berputar-putar di kursinya, berusaha menghilangkan rasa malu yang tiba-tiba pindah dari Jack ke dirinya, "bagaimana caranya … mengungkapkan perasaan."
Jack tidak langsung menjawab, dan sepertinya ia sedang berpikir, hingga kemudian ia bertanya untuk memastikan, "Perasaan … cinta?"
Leona refleks mengangguk, sampai ia sadar kalau Jack tidak akan bisa melihatnya, lalu menjawab, "Begitulah."
"Ke siapa? Rook-san?"
"Y-ya …."
"Tunggu sebentar." Jack entah bagaimana tertawa. Sejenak terdengar suara anak-anak yang memanggil—itu pasti adik-adiknya. Ia bicara pada mereka sebentar, kemudian kembali pada Leona, "Maaf, Leona-san. Aku agak kaget—dan barusan ada adik-adikku. Tadi apa? Mengungkapkan perasaan ke Rook-san? Bukannya kalian sudah menikah?"
"..." Tidak salah. Sama sekali tidak salah. Yang salah di sini adalah Leona, melupakan fakta kalau ia dan Rook adalah sepasang "suami dan istri" hanya di depan publik, dan melupakan pula Jack yang tidak tahu-menahu mengenai persoalan yang ada. "... Ya, aku tahu."
"Seharusnya kau sudah mengatakan itu padanya saat melamarnya, kan? Atau justru jauh sebelum itu—saat kalian masih pacaran."
Sayangnya kami tidak pernah pacaran, Leona membatin. Ia mendeham sebelum memberi jawabannya, "Ya … sudah."
"Terus kenapa—oh, aku tahu." Nadanya terdengar sedikit menyebalkan—seperti jahil—saat mengatakan, "Kalian bertengkar, ya? Dan Rook-san mendiamkanmu, dan kau bingung bagaimana cara meminta maaf padanya."
Sama sekali bukan itu, tapi ya sudah, suka-suka kau. Leona akhirnya mengembuskan napas. "Kurang lebihnya begitu. Dan jangan berputar-putar, cepat beri kepastian kau bisa bantu aku atau tidak."
Jack tertawa lagi, kali ini naik beberapa oktaf. "Maaf mengecewakanmu, tapi sepertinya aku tidak bisa bantu. Kau tadi dengar sendiri; aku belum pernah pacaran. Aku tidak berpengalaman soal cinta," sang serigala akhirnya menjawab.
"Ya, aku tahu. Tapi aku masih butuh pendapatmu," Leona bersikeras.
"Pendapat bagaimana?"
"Apa pun. Apa yang terlintas di benakmu mengetahui masalahku, katakan saja."
Diam kembali menemani keduanya. Dapat dipastikan Jack sedang memikirkan dengan serius "soal ujian" yang Leona berikan. Waktu tidak berlalu begitu lama, sampai serigala muda itu bersuara lagi, "Hubungan percintaan—termasuk suami-istri, harusnya tidak berbeda jauh dengan hubungan manusia yang lain, kan? Seperti dengan teman, keluarga, atau saudara. Dan kalau begitu, maka menurutku komunikasi tetap jadi pilihan terbaik—bahkan mungkin satu-satunya."
Jawaban yang sudah bisa diduga, atau justru sudah diantisipasi Leona untuk Jack mengatakan hal yang sama dengan Ruggie. Dalam pikirannya, ia tahu apa yang dikatakan Ruggie itu benar. Secara logika, memang begitulah sebagaimana mestinya manusia dalam berhubungan satu sama lain. Namun ia tetap butuh—setidaknya—satu orang lagi untuk mengatakan hal yang sama. Hanya supaya meyakinkan Leona yang masih ragu akan ini dan itu.
"Kau harus mengucap maaf terlebih dulu—itu yang utama." Leona nyaris kelepasan tertawa saat Jack masih mengira ini tentang pertengkaran. Meski begitu ia tetap diam, membiarkan Jack meneruskan pendapatnya, "Lalu soal mengungkapkan perasaan … yah, ungkapkan saja, seperti yang biasa kau lakukan. Apa pun yang ada di hatimu, yang kau pikirkan, semuanya harus bisa disampaikan dengan baik. Pastikan Rook-san tahu maksudmu apa. Dan, menurutku, Rook-san bukan orang yang susah untuk paham atau semacamnya. Aku tidak dekat dengannya, memang, tapi saat beberapa kali bertemu dan bekerja sama dengannya, aku tahu kalau Rook-san itu mudah sekali diajak bicara dan mudah mengerti. Dia pasti tahu Leona-san menyayanginya kalau Leona-san mengatakannya."
Leona menarik napas dan membuangnya perlahan. Tentu saja. Yang perlu dilakukannya memang hanya bicara. Ia harus bicara pada Rook, mengatakan semua yang sedang ia rasa dan pikirkan akhir-akhir ini. Hanya itu.
.
.
.
"Apa maumu sebenarnya, Leona-kun? Apa yang kau mau dariku?"
.
.
.
"Apa yang aku mau …." Gumamannya barusan mengundang pertanyaan Jack, tapi Leona tidak menggubris. Ia sibuk dengan pikirannya, dengan perasaannya.
Dengan apa yang ia mau dari Rook. Dan dirinya sudah tahu sejak malam ia menangis di pelukan Rook, sesaat setelah ia selesai dengan cerita masa kecilnya.
Memang itu yang seharusnya kukatakan. Untuk apa aku berputar-putar begini.
"Ya, aku sudah tahu sekarang. Terima kasih, Jack. Kapan-kapan mainlah ke Sunset Savanna." Jack hanya mengiyakan, dan tidak ada percakapan lainnya di antara mereka karena Leona langsung menutup teleponnya.
Waktu berduaan. Bicara pada Rook. Katakan apa yang diinginkan.
Leona memperjelas catatannya di kepala. Satu persatu pekerjaan rumah itu harus ia selesaikan. Dimulai dari makan siang bersama Falena dan keluarga yang tersisa lima menit dari sekarang.
.
.
.
Next: Chapter 32
