Chapter 34
.
.
.
"Kifaji. Kifaji!"
Bukan yang dicari, melainkan seorang pelayan yang tak Leona ingat namanyalah yang tergopoh-gopoh menghampiri. "M-mohon maaf, Leona-sama. Kifaji-sama sedang tidak ada di istana."
"Hah?" Dengan pekerjaan yang menggunung, kesabaran Leona seolah makin menipis tiap harinya. Ia hampir melepas teriakan penuh kesal pada pelayan yang sudah gemetaran hanya karena menghadap dirinya ini. Leona menarik napas dalam, berhasil menenangkan diri sesaat, untuk kemudian bertanya, "Ke mana dia? Aku sedang butuh."
"Oh, itu… Kifaji-sama sedang ke mansion."
"Mansion?" Oh, maksudnya rumah mereka. "Dia mau bertemu Rook? Untuk apa?"
"Untuk…." Pelayan itu tampak ragu-ragu di awal. Leona langsung paham kalau Kifaji tidak ingin dirinya tahu dan tidak memaksa pelayan itu untuk mengatakannya. Namun kemudian, ia memberitahu Leona, "Untuk meminta Rook-sama ke pasar… membeli permen."
Leona langsung memiringkan kepala. "Ke pasar? Beli permen?"
Sekali lagi, pertanyaannya tetap sama: untuk apa?
.
.
.
"..." Tak peduli selebar dan seramah apa senyuman yang perempuan bernama Tarina itu berikan, Rook tetap tidak bisa membalas dengan yang setara. Pandangannya tetap datar, penuh selidik dan kecurigaan.
Tadi dia bilang apa? Mantan calon tunangan? Apa pula dengan status "mantan" yang satu itu? Memangnya Leona pernah akan bertunangan? Well, jika kita membicarakan pangeran yang mendapat "kewajiban" untuk menikah dari ibunya, rasa-rasanya itu bukan hal yang mustahil terjadi. Tapi kenapa sepertinya Rook tidak pernah dengar ini? Tidak pernah, bahkan sejak mereka belum menikah?
"Kau pasti bertanya-tanya kenapa kau tidak pernah tahu aku ini siapa," Tarina langsung menyuarakan kebingungan yang tengah membanjiri kepala Rook. Ia melepas tangan Rook dan membenarkan posisi duduknya. Ekor singanya yang serupa Leona bergerak ke kanan dan kiri, menandakan suasana hati sang pemilik sedang cukup bagus. "Karena toh aku ini mantan, jadi tidak akan ada yang tahu selain pihak keluarga kami sendiri. Lagi pula, Leona bukanlah sosok yang sepenting kakak maupun keponakannya. Sudah pasti berita-berita seperti itu tidak pernah keluar ke publik."
Leona-kun bahkan tidak cerita soal ini. Yang Rook tahu tentang Leona hanya mengenai perasaannya terhadap Vil. Selain daripada itu, Leona tidak terlihat "dekat" dengan perempuan manapun.
"..."
Tidak. Yang Rook tahu memang hanya soal "cinta pertamanya", Vil Schoenheit. Jika tentang yang sebelum-sebelum itu, mana mungkin Rook bisa tahu? Leona juga punya hak untuk tidak cerita apa-apa. Mereka bukan pasangan suami-istri sungguhan. Menyimpan rahasia kecil soal "mantan" bukan lagi hal mengejutkan, dan seharusnya terasa wajar.
Seharusnya.
Jika memang seharusnya, lantas mengapa Rook merasakan sesak di dada? Apa karena dia sudah sempat yakin dengan perasaan Leona? Dengan apa yang sedang mereka lalui bersama? Hanya karena Leona memperlakukannya dengan baik?
Bodoh. Memang tidak seharusnya aku lupa kenyataan.
Berhasil mengendalikan diri setelah tertampar realita, Rook akhirnya mampu menghapus ekspresi datar dari wajahnya. Kakinya langsung terlipat, punggungnya pun menegak. Rook dengan gaya duduknya sekarang menunjukkan betapa ia penuh dengan "kepercayaan diri".
"Benar juga. Aku rasa Leona-kun lupa menceritakannya padaku." Seulas senyum menghiasi bibir tipisnya.
"Atau karena dia tidak mau kau cemburu." Tarina tertawa pelan sebagai balasan dari senyuman Rook. "Terkadang yang namanya pasangan memang begitu. Bila mereka punya masa lalu dengan seseorang dan takut itu membuat pasangannya yang sekarang cemburu, jadi mereka memilih menguburnya dalam-dalam."
Rook menumpu tangannya ke lutut. "Setiap orang memang punya masa lalu. Itu terserah orangnya mau cerita atau tidak," katanya, masih dengan ulasan senyum yang sama.
"Benar sekali."
"..." Rook semakin tidak sabar. Ia tidak ingin membuat Laura terburu-buru, itu benar, tapi sekarang rasanya jadi sebaliknya. Ada dorongan untuk berteriak sekali lagi, meminta Laura untuk segera keluar.
"Kapan mau girls date?"
Ogah, Rook langsung membatin, seketika keluar dari karakter.
Tarina ikut melipat kaki, lalu menumpu tangannya di atas lutut. "Hmm, mungkin lusa? Kalau besok aku masih harus mengurus Tamari sampai Yeri-san tiba."
Laura… cepatlah…. Rook semakin dan semakin keluar dari karakternya. Ia yang biasanya tenang, bahkan dalam pikirannya sendiri, mendadak kehilangan itu semua.
Khusus untuk perempuan bernama Tarina Kingscholar ini, Rook tidak bisa menahan diri. Tidak akan!
"Sepertinya lusa memang waktu yang pas. Kalau begitu—"
"Maafkan saya, Rook-sama! Saya terlalu lama di dalam!"
AKHIRNYA! Langsung berdiri tanpa lagi melihat samping, Rook menyambut kedatangan Laura dengan sukacita. "Mademoiselle! Sudah kubilang tidak perlu buru-buru."
TAPI TERIMA KASIH SUDAH BURU-BURU! AKU UTANG NYAWA PADAMU! Tentu Rook tidak akan mengatakannya. Barulah setelah Laura ada di sisinya, Rook bisa melihat ke arah Tarina yang masih duduk di bangku, memperhatikan keduanya—terutama Rook dengan tingkahnya yang agak aneh. "Maaf sekali, Tarina-san. Sepertinya aku akan pulang duluan."
"Begitu? Tujuan kita sama, kenapa tidak pulang bareng?" Tarina ikut berdiri, mendekat ke arah Rook yang seperti membentengi Laura dari perempuan singa itu. "Aku masih mau jalan-jalan dulu, mending ikut aku saja. Nanti kita pulang bareng pas sore."
"Maaf, tapi tidak bisa." Rook mengangkat kantong plastik berisi permen yang sejak tadi terbawa Laura sampai toilet. Ada sedikit doa dipanjatkan, berharap bau apa pun yang ada di toilet tidak menempel ke permennya. "Aku ada pesanan yang harus diantar. Mungkin lain kali kita bisa mengobrol lagi."
SEMOGA TIDAK ADA LAIN KALI! AKU TIDAK MAU!
Tarina terus memperhatikan mereka—memperhatikan Rook, hingga kemudian ia menyerah. Satu tangannya terangkat, lalu melambai pelan. "Kalau begitu, hati-hati di jalan. Lusa akan kusambangi tempatmu. Jangan kabur."
Sudah dipastikan aku kabur. Selamat tinggal.
Rook tidak membalas apa-apa lagi, hanya memaksakan senyum dan lambaian yang sama. Ia langsung menggandeng Laura, membawanya pergi meninggalkan lokasi. Setelah mereka terpisah jauh, Laura baru bisa bertanya, "Itu tadi… Tarina-sama? Astaga, baru kali ini aku lihat secara langsung. Ternyata lebih cantik dari yang orang-orang bicarakan."
"Kau sudah mengenalnya, eh." Rook melirik Laura yang masih memasang tampang kagum, seolah dirinya baru saja melihat selebriti. "Berkenan cerita sedikit padaku siapa Tarina Kingscholar itu saat kita sudah sampai, Mademoiselle?"
.
.
.
Raja sebelum ini, ayah dari Leona, memiliki seorang kakak laki-laki. Tarina adalah anak dari kakak laki-laki raja, atau paman dari Leona. Itulah kenapa Tarina masih mewarisi nama Kingscholar di belakangnya.
Dan Leona sempat hampir bertunangan dengannya. Dengan sepupunya sendiri.
Rook menghela napas yang kesepuluh kalinya semenjak ia masuk kamar dan merebahkan diri di kasur. Kisah singkat dari Laura mengenai siapa itu Tarina membuat kepalanya jadi terasa penuh. Padahal yang Laura bagi hanya tentang hubungan keluarganya dengan keluarga royal pewaris tahta. Gadis pelayan itu bahkan tidak tahu menahu tentang "pertunangan" itu (dan Rook juga tidak membagi informasi itu—tentu saja).
"...Kenapa pula aku merasa secemburu ini?" Meski masih kesal dan sesak di dada, Rook akhirnya bangun, duduk di pinggir kasur. Selama beberapa saat ia diam, memperhatikan apa pun yang ada di sekitar kakinya tanpa ada tanda-tanda akan bergerak. Hingga tak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu kamarnya.
"Mohon maaf, Rook-sama. Ada Kifaji-sama, ingin bertemu."
"..." Rook tidak langsung menjawab. Ia membuang pandangan ke langit-langit, menenangkan diri, lalu berseru, "Ya, tunggu sebentar."
Kenapa aku jadi curiga Kifaji-san di balik ini semua…. Namun Rook langsung menepis pemikiran negatif itu. Belum tentu Kifaji ada hubungannya dengan pertemuannya dan Tarina. Kalaupun ada, pasti ada alasan yang berdasar. Pasti.
Memaksakan diri, Rook berdiri dan berjalan keluar kamar. Ia langsung diarahkan ke ruang tengah begitu sosoknya ditangkap salah seorang pelayan. Tak sampai waktu lama untuk Rook akhirnya bisa melihat Kifaji, duduk santai di sofa sambil membaca selembar kertas yang segera Rook tebak masih bagian dari pekerjaan. Kalau dia masih sesibuk itu, untuk apa ke sini?
"Selamat sore, Rook-sama," sapa sang kepala istana tanpa mengalihkan pandang dari kertas di tangan. "Terima kasih atas permennya. Leona-sama senang menerimanya."
"..." Rook masih diam saat ia mengambil duduk di sofa di sisi lain meja. Hingga setelah ia duduk untuk satu menit, terus diam sambil memperhatikan Kifaji yang masih sibuk, Rook buka suara, "Ada perlu lagi, Kifaji-san?"
"Sedikit." Kifaji menaruh kertas itu di meja kopi di depannya. Sepertinya ia menunggu Rook bersuara lebih dahulu, untuk mengetahui apakah tuan putrinya sudah siap memulai obrolan atau belum. "Tadi… apa Anda bertemu seseorang saat di pasar."
"Ya," jawab Rook cepat, "dia cantik sekali. Dengar-dengar dia mantan calon tunangan Leona-kun. Apa itu benar?"
"..."
Rentetan kata itu sebenarnya tidak ingin Rook lepas begitu saja, apalagi di depan Kifaji. Namun, seolah mabuk, Rook tidak lagi sanggup menahan. Ia terlalu ingin tahu siapa itu Tarina dan kenapa Kifaji seperti dalang di balik ini semua untuk terjadi. Hatinya sedang rentan karena mampu mengambil alih peran otaknya, sepertinya.
Kifaji menghela napas pendek. Ia tersenyum tipis saat menjelaskan, "Maafkan saya, Rook-sama. Ada sedikit salah perhitungan sehingga Anda tidak sengaja bertemu dengan Tarina-sama. Karena, sebenarnya, saya justru tidak ingin kalian bertemu." Ketika matanya bertemu dengan Kifaji, pria tua itu mengangguk maklum. "Ya, karena alasan yang sudah Rook-sama sebut tadi. Sekali lagi, tolong maafkan Kifaji tua ini."
Rook menelan ludah. Seketika ia merasa bersalah karena ucapannya tadi. Tentu saja Kifaji tidak punya niat jelek. Akan selalu ada alasan kuat di balik setiap tindakannya. Justru aneh kalau tiba-tiba ia ingin "membenturkan" Rook dengan "mantan" dari suaminya sendiri.
Sebelum Rook balik meminta maaf, Kifaji meneruskan penjelasannya, "Tarina-sama dan Leona-sama tidak ada hubungan apa-apa. Tarina-sama memang sempat ingin ditunangkan dengan Leona-sama, tapi Leona-sama langsung menolak. Dia tidak mau dengan sepupunya sendiri—itu sudah jelas. Itu semua terjadi bertahun-tahun yang lalu, ketika Raja sebelum ini, ayah dari Falena-sama dan Leona-sama, masih hidup. Beliau dan kakaknya, ayah dari Tarina-sama, tiba-tiba saja ingin menjodohkan putra-putri kedua mereka. Itu terjadi di luar kendali dan keinginan Leona-sama, makanya dia menolak keras, dan saya juga membantu penolakan itu. Tapi sepertinya, Tarina-sama kurang senang dengan keputusan itu."
Rook menahan napas selama cerita panjang yang tiba-tiba Kifaji bagi. Rasanya seperti terlalu banyak informasi hanya untuk satu hari ini saja. Meski begitu, Rook tak sanggup menghentikan cerita Kifaji karena dia sendiri ingin tahu. Ia pun hanya bisa diam sambil terus memberi perhatiannya pada Kifaji, agar sang kepala istana paham kalau Rook baik-baik saja dan mampu menerima semua informasi yang hendak ia beri.
Kifaji meneruskan ceritanya begitu ia tahu Rook masih bersedia mendengarkan, "Saya rasa, Tarina-sama menyukai Leona-sama. Dia begitu bersemangat ketika dia tahu akan dijodohkan dengan Leona-sama. Namun, karena Leona-sama mati-matian menolak perjodohan itu sampai berhasil dibatalkan, Tarina-sama langsung tidak ingin berkunjung ke istana… sampai hari ini. Dia akhirnya datang karena harus menjaga adik tirinya, Tamari-sama, sebelum Masa Pengenalan berlangsung dua minggu dari sekarang."
"Masih dua minggu… tapi kenapa dia sudah datang?" Rook mengingat penjelasan sebelumnya mengenai anggota keluarga yang menjadi peserta yang akan datang berbarengan ke istana sekitar seminggu sebelum Masa Pengenalan dimulai.
"Bisa dibilang karena Tamari-sama adalah anggota keluarga terdekat." Kifaji menaikkan kacamatanya yang agak turun, baru melanjutkan, "Dia satu-satunya peserta yang punya hubungan kekeluargaan paling dekat dengan Cheka-sama, yaitu sepupunya—keturunan langsung dari saudara ayahnya. Setiap peserta yang hubungannya paling dekat akan dapat 'perlakuan spesial' dan mereka berhak datang jauh lebih dulu ketimbang yang lain."
"Tujuannya?"
"Supaya persiapan mereka semakin mantap. Mereka jadi bisa mempelajari lebih dalam mengenai syarat-syaratnya—akankah ada modifikasi khusus atau tidak, juga dengan lahan tempat acaranya nanti dilaksanakan."
Rook mengangguk-anggukkan kepala. "Jadi… karena dia menemani adiknya, dia datang lebih dulu. Yang berarti juga, dia akan berada di sini lebih lama dibanding peserta yang lain."
"Tapi semoga tidak," Kifaji membalas cepat sambil berusaha tersenyum. "Tadinya Tuan Yeri, sekretaris Tasha-sama—kakak tertua mereka—yang akan menemani. Namun karena masih ada keperluan yang tidak bisa ditinggal, Tuan Yeri baru akan datang lusa. Maka dari itu Tarina-sama menggantikan perannya sementara, baru setelahnya, dia bisa pulang kembali ke rumah orangtuanya."
"Tapi dia sempat mengajakku girls date."
Mata Kifaji mengerjap. "Kapan?"
"Lusa."
Helaan napas lainnya lolos dari celah bibir kepala istana tua itu. "Saya takut tidak bisa janji apakah saya mampu membujuknya untuk pulang begitu Tuan Yeri tiba—sesuai rencana awal, tapi akan saya usahakan."
Rook tersenyum tidak enak mendengarnya. "J-jangan terlalu dipikirkan, Kifaji-san. Aku rasa… aku tidak apa-apa menerima tawarannya. Toh dia masih keluarga Leona-kun, jadi aku masih harus menghormatinya."
Senyum di wajah lelah yang tua itu akhirnya kembali. "Terima kasih banyak atas perhatiannya, tapi menurut saya, ada baiknya jangan diterima. Saya belum dapat memastikan apakah Tarina-sama sudah berubah atau belum. Jadi, lebih baik untuk berjaga-jaga dan tidak mengikuti apa yang dimaunya."
"...K-kenapa begitu?"
"Tadi saya sempat bilang kan, soal Tarina-sama yang kemungkinan menyukai Leona-sama? Dulu sempat ada beberapa kejadian kurang mengenakkan menyangkut itu, terutama sikap Tarina-sama yang agak… terang-terangan." Kifaji akhirnya melepaskan kacamatanya yang masih sesekali turun dari batang hidung. Setelah membersihkannya dan memakainya lagi, baru dia meneruskan ceritanya, "Setiap ada teman atau kenalan perempuan Leona-sama—baik dari sekolah maupun yang masih ada hubungan keluarga, Tarina-sama akan 'mendatangi' perempuan-perempuan tersebut dan meminta mereka menjauh dari Leona-sama. Berhubung saya belum bisa memastikan perubahannya, makanya saya meminta Anda untuk ke pasar, setidaknya sampai Tarina-sama kembali disibukkan dengan adiknya dan Leona-sama bisa pulang malam ini. Namun ternyata, di luar prediksi, Tarina-sama lolos dari pengawasan dan kabur ke pasar begitu tahu Anda sedang di sana."
Instingku ternyata tidak salah. Dia memang perempuan yang berbahaya. Rook kembali menelan ludah mendengar semua penjelasan itu. "Sepertinya… menyusahkan."
"Yang penting Anda tetap dekat dengan Leona-sama, sebenarnya tidak akan semenyusahkan itu," Kifaji kembali menjelaskan. "Tarina-sama hanya akan mengganggu kalau perempuan yang dianggap dekat itu sedang tidak berada di sisi Leona-sama. Namun, jika Anda sedang bersama Leona-sama, maka Tarina-sama tidak akan berani mengganggu."
Rook mengusap punggung tangannya sendiri, tampak berpikir sejenak. "Kejadian seperti yang Kifaji-san ceritakan tadi… apakah sudah dari lama?"
"Ya, ketika mereka masih sama-sama anak-anak," jawab Kifaji santai, yang mana sempat membuat Rook heran karena terdengar terlalu santai. "Lebih tepatnya, ini semua terjadi sebelum penolakan itu. Leona-sama masih cuek dengan kehadiran Tarina-sama, sehingga dia sering tidak peduli dengan nasib teman atau kenalan perempuannya yang diganggu Tarina-sama. Semua langsung berhenti tepat setelah penolakan itu karena Tarina-sama juga berhenti datang ke istana."
"Begitu…."
Kifaji berdiri, mengambil duduk di sisi lain di dekat Rook, lalu memberi gadis itu usapan di pundak. Sentuhannya hampir sama dengan yang Rook terima dari ayahnya—hangat dan menenangkan. "Anda pasti terkejut sekali, mengingat ini kali pertama Anda bertemu Tarina-sama—karena dia tidak datang ke pernikahan kalian. Dan saya benar-benar menyesal atas apa yang terjadi hari ini. Mohon maafkan saya, Rook-sama."
"T-tidak masalah, Kifaji-san. Paling tidak, tadi masih ada Mademoiselle Laura yang menemani." Berhenti sebentar untuk menarik napas, Rook kemudian meneruskan, "Kaget… ya, aku memang kaget. Aku tidak pernah tahu dia siapa, lalu tiba-tiba dia muncul dan mengatakan dia mantan calon tunangan Leona-kun. Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa."
Kifaji mengangguk mafhum. "Syukurlah, saya lega mendengarnya."
"Lalu… sekarang aku harus apa?"
"Tetap diam di sini sampai Tuan Yeri datang," jelas sang kepala istana. "Paling tidak kita harus melihat apakah Tarina-sama memilih pulang begitu sekretaris kakaknya itu tiba. Selain itu, tunggu sampai ada Leona-sama di sisi Anda. Akan saya pastikan Leona-sama menemani Anda mulai malam ini."
Rook tersenyum, kali ini tampak jauh lebih tenang. "Bisa-bisanya… aku mendengar kisah tentang 'mantan'nya Leona-kun dari orang lain, bukan dari orangnya sendiri," ucapnya kemudian, berusaha bercanda.
Kifaji menerima candaan itu, ditunjukkan dengan dirinya yang tertawa. "Anda tidak perlu khawatir. Tidak cerita bukan berarti Leona-sama tidak menyukai Rook-sama." Seolah mengabaikan Rook yang wajahnya memerah akibat ucapannya, Kifaji melanjutkan, "Leona-sama sudah memilih Rook-sama. Apa yang sudah disukai dan dipilihnya, hampir tidak pernah dia lepas begitu saja. Sejak dulu Leona-sama selalu begitu. Jadi, Rook-sama, mohon jangan khawatir ya?"
Rook semakin memerah. Tak dapat dipungkiri, ada rasa senang mendengar kata-kata Kifaji yang jelas berniat menenangkan dirinya itu. Namun, tetap saja ia kepikiran. Mengingat bagaimana ia tidak pernah tahu siapa itu Tarina dari Leona, pun berita Sunset Savanna yang tidak pernah meliput secara lengkap saudara-saudara jauh Kingscholar, membuat perasaan negatif yang kemungkinan besar cemburu tidak semudah itu hilang dari hatinya.
Jika ia boleh egois, ingin sekali Rook pergi ke istana, menyambangi Leona di ruang kerjanya, menariknya keluar, menemui Tarina di manapun gadis itu berada, lalu mencium pipi suaminya di depan si mantan calon tunangan itu. Rook ingin menunjukkan siapa yang memiliki siapa di depannya—di depan dunia, bila perlu.
Tapi sayang, Rook tidak segila itu. Dan ia jadi agak kesal karena tidak sanggup untuk jadi segila itu.
Leona-kun, kapan pulang….
.
.
.
"Aih, akhirnya muncul juga." Dua tumpuk kertas dan map yang masih bercampur sembarangan, Leona tepuk-tepuk dengan sedikit tidak sabar. "Nih, semuanya sisa tugasmu saja."
"Leona-sama…." Kifaji melepas kacamatanya lalu memijit pangkal hidungnya, berharap mampu mengurangi sakit kepala yang mendadak muncul. "Berapa kali saya katakan: setidaknya, tolong pisah mana yang untuk di-review Falena-sama, mana yang perlu saya revisi, dan mana yang sudah siap disahkan."
"Menyortir adalah bagian dari tugasmu, bukan tugasku."
"Saya sudah tua, tolonglah…."
Telinga berbulu Leona bergerak, sebelum akhirnya jatuh. Mendadak ada rasa bersalah karena ia baru ingat umur Kifaji yang jelas tak lagi muda. Meski begitu, ia menolak mengakui dan hanya diam seribu bahasa sambil bersiap pulang ke rumah.
"Ya sudah, terserah. Akan saya kerahkan kemampuan para pelayan di sini besok pagi." Tak ada pilihan lain, Kifaji menyerah dan menghampiri Leona yang telah selesai berkemas. "Oh, sebelum itu, tunggu sebentar."
"Apa lagi?" Leona menunjuk bawah matanya yang sudah menghitam. "Aku perlu membenahi wajah tampanku ini, Kifaji-sama. Besok si Tuan Yeri itu akan datang lagi, dan kalau penampilanku makin lusuh—"
"Besok, setelah bertemu Tuan Yeri, sebaiknya langsung pulang. Kemudian lusa, libur dulu saja."
"..." Leona menaruh kembali ponselnya ke atas meja. "Kenapa? Kita tinggal sedikit lagi, dan tiba-tiba kau menyuruhku 'istirahat'."
Kifaji menggelengkan kepalanya. Gerakannya pelan, antara lelah atau ingin agar Leona bisa sedikit lebih tenang (pangerannya kedengaran sama lelahnya sampai jadi semakin tidak sabaran). "Ini tentang Rook-sama," kepala istana itu akhirnya memulai. "Sudah tahu kalau rombongan Tamari-sama datang hari ini tadi? Tarina-sama menjadi bagian dari rombongan itu. Mereka sudah bertemu dan saling menyapa."
"..." Penjelasan itu sukses mendudukkan kembali Leona ke kursi kerjanya. Kepalanya dibiarkan jatuh ke belakang, tak lagi memikirkan apakah nanti lehernya salah urat atau tidak. "Perempuan itu… selalu saja. Kupikir dia sudah tobat."
"Belum dapat dipastikan, tapi khawatirnya memang belum berubah." Kifaji ikut duduk di kursi yang berseberangan dengan meja kerja pangerannya. Kacamata sudah kembali ke tempatnya semula, menandakan si empunya yang telah kembali ke mode serius. "Saya sudah berusaha memisahkan mereka—itulah kenapa ada permen di meja Anda hari ini," ia melirik toples berisi permen kesukaan Leona, "tapi ternyata Tarina-sama masih mampu menjangkau Rook-sama, dan membuat mereka berkenalan."
Seolah terserang sakit kepala yang sama dengan yang tadi Kifaji rasakan, Leona memijit pangkal hidungnya saat membalas, "...Bagaimana keadaan Rook sekarang?"
"Saya habis menemuinya dan mencoba menenangkannya." Cukup dengan mendengar kata "menenangkan", Leona tahu situasinya pasti kurang bagus. Seketika bayangan Rook yang memberi tatapan menusuk setiap ia "berurusan" dengan Vil, kembali menghantui. Apakah Rook akan memberinya tatapan yang sama saat pulang nanti?
"Rook-sama sudah lebih baik ketika saya kembali ke sini," Kifaji meneruskan ceritanya setelah memberi Leona jeda beberapa saat untuk ikut menenangkan diri. "Hanya saja, saya agak khawatir dan merasa Leona-sama perlu menghabiskan waktu sedikit lebih banyak dengan Rook-sama. Apalagi, Tarina-sama sudah mengajak Rook-sama girls date besok lusa."
Leona refleks melepas tawa remeh. "Girls date… astaga." Tidak ada lagi respons dari Kifaji, menandakan mereka sudah berada di kapal yang sama. Leona kembali mengambil ponselnya dan berjalan ke pintu ruangan. "Aku pulang dulu, kalau begitu. Besok aku baru akan berangkat kalau Yeri sudah sampai."
"Tuan Yeri." Percuma, Leona tidak mendengarkan dan sudah benar-benar meninggalkan ruangan. Kifaji menghela napas dan mulai menyortir tumpukan dokumen di meja kerja Leona sambil bergumam, "Semoga tidak ada masalah besar lainnya…. Mereka sudah ada perkembangan ke arah yang baik. Kifaji tua ini akan sedih kalau Leona-sama-nya juga sedih." Dan dengan gumaman itu, Kifaji mengakhiri waktu untuk urusan pribadi dan mulai masuk ke mode kerjanya. Malam ini, bahkan mungkin sampai besok, ia dipastikan tidak akan tidur.
.
.
.
Next: Chapter 35
