Shinobi Online 2: The End of The World

Naruto © Masashi Kishimoto

Chapter 7

"Battleground"


Saturday, November 19, 2022, 3:00 PM

Konohagakure – Shinobi Online

Hari demi hari, kebencian Menma terhadap Naruto tak kunjung reda. Justru, semakin banyak waktu yang dihabiskan Naruto bersama Hinata di dalam Shinobi Online, semakin dalam rasa tak suka itu mengakar.

Bukan karena Menma cemburu—atau mungkin memang iya, tapi bukan itu intinya. Ia hanya tak ingin Hinata terlibat dalam emosi yang terlalu rumit untuk ditanggung oleh seorang android. Menma tahu persis seberapa sakitnya.

Ia ingin sekali menceritakan semuanya—tentang siapa Hinata sebenarnya, tentang dirinya, tentang Kokoro, sistem rumit yang menjadi 'jiwa' mereka. Bahwa mereka bukan manusia seutuhnya. Bahwa terlalu banyak emosi bisa membuat mereka rusak. Tapi ia tak punya kesempatan.

Dan meskipun kesempatan itu ada… ia tak punya hak. Tak etis membocorkan rahasia yang selama ini dijaga Hiashi dengan susah payah. Tidak untuk hal sebesar ini.

Hinata sekarang sering diajak menjalankan misi oleh Naruto. Bahkan, Naruto mendorongnya untuk mengikuti ujian chuunin demi menaikkan level.

Menma tak mengerti alasan di balik itu. Bukankah semakin tinggi level seorang ninja, semakin kuat tekniknya? Semakin tajam Byakugan Hinata? Bukankah itu berisiko? Bukankah peningkatan itu bisa mengundang perhatian para guild yang kini makin aktif merekrut anggota untuk melawan stage boss?

Hinata terlalu polos. Dia mungkin tidak sadar jika kekuatannya hanya dimanfaatkan. Dia hanya ingin merasa berarti.

BUGH!

Tubuh Naruto terhempas ke batang pohon besar. Menma mencegatnya begitu misi selesai. Dorongan barusan bukan sekadar fisik—itu adalah ledakan emosi.

"Kau sadar dengan apa yang kau lakukan?!" bentak Menma.

Naruto tak membalas. Ia hanya berdiri perlahan sambil menahan sakit di bahunya. Setelah pertemuan sebelumnya dengan Menma, ia tahu posisi tawarnya lemah. Menma tahu siapa dirinya sebenarnya. Sebuah SAI. Musuh dalam dunia Shinobi Online. Dan sampai hari ini, Menma belum membocorkan itu ke publik.

Tapi… bukan berarti tak akan.

"Ini untuk kebaikan Hinata," jawab Naruto akhirnya.

Menma menyipitkan mata, suaranya makin tajam. "Untuk kebaikan Hinata? Maksudmu apa?"

Naruto berdiri tegak, membenahi jaketnya yang kusut. "Aku menyuruhnya ikut ujian chuunin. Aku ingin dia naik ke level 20 secepatnya. Biar dia bisa melindungi diri saat ada yang menyerangnya."

Menma mendengus pelan, emosinya memuncak lagi. "Lihat dari sisi lain, bodoh!" suaranya meninggi. "Chuunin Exam adalah ajang perburuan. Guild-guild besar menjadikan tempat itu sebagai scouting ground untuk mencari bakat baru. Hinata dengan Byakugan-nya? Dia akan jadi target empuk!"

Naruto sempat ragu, tapi tetap mencoba membela diri. "Tapi Hinata bilang dia tak akan maju ke garis depan. Dia hanya ingin bergabung dengan klub menulis. Dia tak akan melawan bos. Dia bahkan bilang... dia tak akan pernah melawan aku."

Menma terdiam sesaat. Lalu dengan nada dingin, ia menjawab, "Kau salah."

Tatapannya menusuk, seolah tahu sesuatu yang tidak diketahui Naruto.

"Kau tak tahu apa-apa tentang Hinata," ucap Menma pelan tapi pasti. "Aku mengenalnya lebih lama dari yang kau kira. Dia hidup dalam kebosanan yang menyiksa di dunia nyata. Terjebak. Terisolasi."

Naruto mengernyit. "Bosan? Kenapa?"

"Karena dia... dikurung oleh ayahnya."

"Dikurung?" Naruto makin heran. "Kenapa?"

"Aku tidak bisa jawab."

"Kenapa tidak kau temani dia di dunia nyata saja?"

"Karena—" Menma menghentikan diri. Lalu menatap tajam. "Jangan banyak tanya!"

Suasana makin tegang.

"Yang pasti," lanjut Menma, "Hinata akan melakukan apa saja untuk merasa hidup. Termasuk bergabung dengan guild. Ia ingin punya banyak teman. Jadi jika dia bertemu denganmu sebagai musuh, kau pikir dia tidak akan sakit hati?"

Naruto diam. Kali ini benar-benar kehabisan kata.

"Justu kalau kau memikirkan kebaikan Hinata, maka jauhi dia, sebelum ia terlanjur ketergantungan terhadapmu."

Menma menatapnya satu kali lagi sebelum melangkah mundur.

Naruto masih berdiri di tempat. Di tengah rerumputan padang latihan virtual, bayangan langit senja digital menggantung di atas mereka.

Naruto merasa… mungkin Menma ada benar.


Sayangnya, Naruto harus mengakui—meski dengan berat hati—bahwa analisis Menma sepenuhnya benar. Semua kekhawatiran yang sempat ia abaikan satu per satu menjadi nyata. Setelah tampil memukau di babak final ujian chuunin, Hinata menjadi sorotan.

Dan perhatian itu datang dari orang yang tak seharusnya.

Sasuke, pimpinan guild Hebi.

Naruto masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana mata Sasuke mengamati Hinata saat ia mengaktifkan Byakugan-nya di tengah arena ujian. Tatapan itu bukan sekadar kagum—itu tatapan kalkulatif, penuh strategi. Dan tak butuh waktu lama sebelum kabar tersebar: Hinata direkrut secara langsung oleh Hebi.

Naruto tahu, Hinata bukan tipe shinobi garis depan. Tapi dengan kemampuannya sebagai player scout, ia menjadi kunci. Sasuke tahu itu. Dengan sensor dan penglihatan milik Byakugan, Hinata bisa melacak jalur tersembunyi, celah antar stage, bahkan mendeteksi sinyal chakra boss jauh sebelum guild lain menyadarinya.

Hebi dan Hinata. Kombinasi itu—menjadi senjata sempurna bagi para s untuk memburu boss stage demi stage.

Dan konsekuensinya langsung terasa.

Yagura.

Sahabat Naruto, Jinchuuriki ekor tiga. Tewas.

Diserbu oleh para shinobi yang mendapat informasi lokasi dari Hinata yang berhasil dipetakan ulang oleh Hebi. Naruto menutup mata, masih bisa membayangkan teriakan Yagura di detik terakhirnya, dan suara terakhir yang dikirim lewat sistem, "Maaf... aku tak bisa menahan mereka cukup lama... mereka datang terlalu cepat..."

Naruto mengepalkan tangan. Kesalahan ini ada padanya. Ia yang menyuruh Hinata naik level. Ia yang mendorongnya untuk menjadi lebih kuat. Ia yang—entah sadar atau tidak—menggiringnya ke jalur kehancuran.

Dan sekarang, tinggal menghitung waktu.

Stage 4 segera terbuka dan menunggu untuk ditemukan. Rōshi dan Son Gokū, sang jinchuuriki ekor empat sudah siap. Dan setelah itu, tinggal lima stage lagi. Lima benteng terakhir hingga stage 9.

Tempat dirinya.

Naruto.

Dalam dunia game ini, dirinya adalah musuh terakhir.

Dan Hinata... cepat atau lambat… akan berdiri di hadapannya. Tak lagi sebagai teman, tapi sebagai lawan.

Naruto menatap langit virtual yang mulai memerah, ia bertanya dalam hatinya:

"Siapa yang sebenarnya sedang aku lindungi? Semua jinchuriki atau Hinata?"


Wednesday, February 15, 2023, 08:20 PM

Ichiraku Ramen – Konohagakure – Shinobi Online

Menma semakin risau dengan bergabungnya Hinata bersama Hebi. Bukan karena ia peduli pada keselamatan Naruto yang terancam, tapi ia peduli pada Hinata. Jika gadis itu sampai bertemu dengan Naruto di stage bos, Menma khawatir kalau emosi itu terlalu besar untuk Hinata emban. Kokoro Hinata bisa hancur dan dia akan mati dalam artian sebenarnya.

Pasca ditemukannya stage-stage bos oleh Hinata, Naruto memutus segala kontaknya dengan Hinata. Naruto sadar kecerobohannya dalam melatih Hinata. Naruto juga sadar para jinchuuriki adalah keluarganya sejak lahir dalam game ini. Kini hanya tinggal dirinya, Fu, dan Bee yang tersisa. Naruto ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan mereka.

Ini Menma jadikan kesempatan untuk membujuk Hinata keluar dari Hebi selagi ada waktu.

"Hinata, aku ingin kau keluar dari Hebi."

Hinata yang duduk di kursi dekat jendela menoleh cepat. Matanya bingung, raut wajahnya menegang.

"Tak bisa," jawabnya akhirnya. "Aku sudah berjanji pada Sasuke untuk membantunya. Kami sedang menyusun strategi untuk menyerang stage boss berikutnya."

Menma menghela napas berat, lalu melangkah maju. "Aku tahu apa yang kalian cari di sana. Aku tak ingin kau bertemu dengan sosok itu."

Hinata menatapnya heran, tapi belum sempat bertanya, Menma memotongnya.

"Aku tidak peduli pada keselamatan musuh di stage bos. Tapi aku peduli padamu. Jika kondisi di stage nanti memaksamu ke titik terendahmu, aku takut kau tak sanggup menanggungnya."

"Apa yang kau pikir akan ada di stage bos berikutnya?"

Menma tak menjawab. Menceritakan jati diri Naruto bukanlah cara yang bagus.

"Tenang saja. Sekrang aku sudah kuat, Menma," bisik Hinata, lebih pada meyakinkan dirinya sendiri.

"Kau begitu keras kepala," tegas Menma. "Aku hanya ingin kau selamat. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu."

Hinata menatapnya lama. Matanya mencari-cari sesuatu di balik tatapan Menma yang tegas tapi rapuh.

"Kenapa kau begitu peduli padaku?" tanyanya pelan.

Menma tertunduk. Ia ingin menjawab, tapi mulutnya berat terbuka. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya ia mengucapkannya.

"Aku… aku tidak tahu," katanya jujur. "Perasaan ini asing. Aku belum pernah merasakannya sebelumnya. Tapi yang pasti aku tak ingin kehilanganmu."

Kata-kata itu menggantung di udara seperti kabut. Hinata terdiam, dan Menma melangkah lebih dekat. Suaranya lebih lirih, lebih ragu-ragu.

"Kalau begini terus, mungkin... mungkin kita harus bertemu di dunia nyata. Kalau perlu, aku akan datang ke rumahmu."

Sejenak, tidak ada suara. Hinata menegang. Kemudian Hinata bertanya dengan mata melebar, setengah kaget, setengah takut. "Tunggu… kau tahu di mana aku tinggal?"

Menma mengangguk. Ia hanya menatapnya dalam, lalu pelan-pelan berkata, "Baiklah. Kalau itu yang kau mau."

Sebelum Hinata sempat menanggapi, Menma membuka panel dan log out dari game.


Ruang kerja Hiashi sore itu dipenuhi cahaya kebiruan dari panel-panel holografik yang memantulkan data-data real-time: status server, log komunikasi antar karakter, dan sinyal-sinyal tidak stabil dari dalam game. Di tengah semua itu, Menma berdiri tegap, menyampaikan laporannya dalam nada netral.

"Naruto telah semakin menunjukkan respon peningkatan kepintaran dan emosi yang mengindikasikan kesadaran dirinya sebagai SAI. Ia tidak lagi mempertahankan sepenuhnya narasi fiktif sebagai manusia biasa. Ada momen-momen ketika ia menyendiri dan tidak mengikuti jalur sistematis event yang ditentukan dalam alur game untuknya. Dia punya kehendak sendiri."

Hiashi menyilangkan tangan di depan dada, ekspresinya serius. "Sejauh ini, apa ia menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap sistem ke arah yang berbahaya?"

"Belum," jawab Menma cepat. "Ia tidak pernah mencoba mengakses sistem berbahaya, tidak melakukan override pada protokol bos stage, dan tidak mengganggu jalur transmisi normal game."

Hiashi mengangguk pelan. "Itu berarti ia mulai sadar tapi masih mengerti batasan... tapi belum berbahaya."

Menma tidak langsung menanggapi. Pikirannya sebenarnya tidak sepenuhnya berada di ruangan itu. Dari sudut matanya, ia terus mencuri pandang ke salah satu monitor besar di sisi kiri ruangan.

Layar itu menampilkan feed dari kamera ruang tengah kediaman Hiashi.

Di sana… Hinata duduk sendiri di atas sofa. Buku catatan ada di pangkuannya, tapi matanya tidak fokus. Pandangannya kosong, terpaku ke luar jendela. Wajahnya tampak datar, nyaris tanpa emosi. Tapi Menma tahu lebih dari siapapun: itu bukan wajah kosong, itu wajah kesedihan yang dipendam.

Hiashi masih berbicara di latar belakang, kini membahas protokol pelindung tambahan untuk memantau pergerakan para SAI lain di dalam game.

Tapi Menma nyaris tak mendengar sepatah kata pun.

Naruto memutus kontak. Hinata kehilangan arah.

Ia melihat perubahan kecil—pola duduk yang berubah sedikit lebih membungkuk, frekuensi kedipan yang lebih lambat, bahkan respons motorik halus pada tangan kanan Hinata yang menggenggam buku tanpa membalik halaman selama lebih dari dua menit.

Itu sinyal tekanan emosi yang terakumulasi.

"Menma," suara Hiashi membuyarkan lamunannya.

"Ya?"

"Aku akan menyiapkan modul pengawasan khusus. Untuk sementara, lanjutkan pemantauan seperti biasa. Fokus pada Naruto. Kita perlu tahu... apa yang ada di pikirannya agar bisa melakukan langkah prefentif."

Menma mengangguk pelan. "Aku mengerti."

Namun saat Hiashi kembali menunduk memeriksa data, tatapan Menma langsung kembali ke layar Hinata. Ia tahu… jika sesuatu tidak segera dilakukan, bukan Naruto yang lebih dulu melampaui batas—tapi Hinata. Dan sistem kokoro tidak akan memberi belas kasihan hanya karena Hinata bersikap polos.

Tangan Menma perlahan mengepal. Pikiran tentang obrolan terakhirnya dengan Hinata melintas begitu saja—kata-kata yang masih menggema di dalam Kokoro-nya.

Apa harus aku menemuinya sekarang?

Tapi kemudian, logika mengambil alih. Risikonya terlalu besar.

Menemui Hinata di dunia nyata bukan sekadar tindakan nekat. Itu bisa memancing kecurigaan Hiashi. Terlebih, Hinata masih belum tahu siapa dirinya sebenarnya. Ia belum tahu bahwa dirinya adalah android. Ia belum tahu bahwa tubuhnya dikendalikan oleh sistem yang rapuh—dan Menma tahu, jika Hinata tahu semua itu dalam kondisi emosional seperti sekarang, kokoro-nya bisa runtuh sepenuhnya.

Dan lebih buruk lagi… jika Hiashi tahu Hinata telah bermain Shinobi Online diam-diam, konsekuensinya tak terbayangkan.

Untuk saat ini… Menma menelan semua keinginan itu.

Ia menarik napas dalam dan memilih untuk segera pulang. Ia butuh menjernihkan pikirannya.


Jam hampir menunjukkan pukul satu dini hari saat pintu rumah Uzumaki dibuka perlahan. Angin malam sempat menyusup sebentar sebelum tertutup kembali. Menma melangkah masuk dalam diam. Langkahnya tenang, tapi tubuhnya memancarkan lelah.

Lampu ruang tengah masih menyala redup. Di sana, Karin masih terjaga, duduk menyilangkan kaki di sofa sambil memeluk selimut tipis. Di seberangnya, Naru duduk tenang dengan teh hangat yang sudah hampir habis di tangannya.

Menma tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berjalan ke sofa dan duduk di samping Karin. Ia menjatuhkan dirinya perlahan ke sandaran, lalu menghela napas panjang.

Karin melirik sekilas, lalu bertanya dengan nada setengah bercanda, setengah khawatir, "Hiashi menyuruhmu lembur main game?"

Menma menggeleng pelan. "Tidak. Ini murni keinginanku."

Naru meletakkan cangkirnya ke meja tanpa suara.

Menma menatap langit-langit sejenak, lalu berkata jujur, "Sejujurnya… aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan Hinata di dalam game ketimbang memata-matai Naruto."

Karin mengangkat alis. "Hiashi tidak curiga? Kau kan pakai alat dan koneksi di lab?"

"Tidak. Aku… melakukan routing ke VPN khusus jika sedang menemui Hinata."

Karin langsung menoleh penuh, setengah kaget. "Belajar dari mana?"

Tanpa berkata apa-apa, Menma mengangkat tangan dan menunjuk ke arah Naru di sofa seberang.

"Dari dia."

Karin menghela napas panjang dan menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum lelah. "Tentu saja. Seharusnya aku sudah bisa menebaknya."

Naru menjawab ringan, "Aku hanya memberi opsi agar dia tak harus bolak balik ke rumah hanya untuk menemui Hinata di game. Keputusan tetap milik Menma."

Karin bersandar lebih santai, lalu menatap Menma. "Bagaimana hubunganmu dengan Hinata sekarang?"

Menma terdiam sejenak sebelum menjawab, "Tidak terlalu baik. Dia masih terlalu bergantung pada Naruto. Sejak Naruto memutus kontak, dia tampak... kosong."

Ia menunduk. "Hari ini aku lihat dari kamera ruang tengah... dia duduk sendiri, memeluk buku yang tak ia baca, matanya menatap ke luar jendela. Aku tahu ekspresi itu. Itu bukan diam biasa... itu kesepian."

Karin ikut diam. Bahkan Naru tak menyela.

"Aku sudah menasihatinya," lanjut Menma. "Supaya dia berhenti mendukung guild Hebi. Kalau terus seperti ini, cepat atau lambat dia akan bertemu Naruto... dan bukan sebagai teman, tapi sebagai musuh."

"Dia menolak?" tanya Karin pelan.

Menma mengangguk. "Dia bilang itu keputusannya sendiri."

Lalu, dengan suara yang lebih berat, Menma menambahkan, "Aku sempat berpikir untuk menemuinya secara langsung. Menceritakan semuanya—tentang SAI, android, Kokoro... dan siapa Naruto sebenarnya."

"Itu terlalu berani," sahut Karin cepat. "Kau pikir Hiashi akan membiarkanmu begitu saja?"

"Yang lebih berbahaya," timpal Naru dari seberang, nada suaranya masih tenang, tapi matanya penuh peringatan. "Kau bisa membuka luka yang tidak siap untuk diobati oleh Hinata."

Menma mengangguk perlahan, suaranya pelan. "Aku tahu. Itu sebabnya… aku belum melakukannya. Aku harus pikirkan matang-matang."

Karin menatap adiknya lama. Ada kekhawatiran di matanya, tapi juga rasa sayang yang dalam. Tanpa berkata apa-apa, ia menyandarkan kepala ke bahu Menma.

Naru duduk tenang, menyilangkan kakinya dan memandangi lampu gantung yang berayun perlahan. Ia tidak bicara, tapi dalam hatinya, ia tahu: semuanya sedang bergerak menuju sesuatu yang besar.

Malam itu, tak ada keputusan dibuat. Tak ada strategi dirancang. Tapi tiga sosok itu—seorang kakak, seorang android, dan seorang pengembara waktu—diam bersama dalam ruang sunyi yang terasa lebih penuh dari kata-kata.


Saturday, February 22, 2023, 06:00 PM

Unknown Mountain - Konohagakure

Menma sedang berada di dalam game Shinobi Online, mengawasi perkembangan gerak gerik Naruto dan AI lainnya. Avatar-nya berjongkok di puncak sebuah bangunan tinggi di pinggiran Konoha, layar semi-transparan berisi data sistem mengambang di depannya.

Ia memantau koordinat lokasi boss stage 9—lokasi yang seharusnya terkunci dan tidak bisa dimanipulasi.

Lalu… sesuatu bergerak.

Data berkedip.

Koordinat berubah.

"…Tidak mungkin," gumamnya.

Koordinat bos 9 berubah. Mengarah ke lokasi bos 8. Dan dalam jeda singkat… status "locked" berubah menjadi "merged."

Menma menekan beberapa shortcut dengan cepat, membuka log backend, lalu mengunci panel pemantauan kernel.

Abnormal detected. Unauthorized override.

Menma berdiri dengan cepat. Cahaya di sekeliling avatarnya berpendar tajam. Ia langsung menekan tombol logout dan harus melaporkan kondisi ini segera.

Menma membuka helm Nerve Gear-nya dengan kasar dan langsung berdiri dari kursi. Nafasnya tersengal meski ia bukan manusia—satu reaksi emosi yang tak lagi bisa ia kendalikan dengan sempurna.

"Hiashi!" serunya. "Hubungi Hizashi sekarang. Ini darurat!"

Hiashi yang sedang mengevaluasi Kokoro v2 di sisi ruangan bersama Karin, segera menoleh dan mengangkat alis. Tapi melihat ekspresi Menma, ia langsung menuruti tanpa tanya. Ia mengangkat tablet dan menghubungi Hizashi melalui panggilan video.

Tak lama kemudian, wajah Hizashi muncul.

"Ada apa?"

Hiashi langsung to the point. "Ada perubahan besar di dalam sistem Shinobi Online. Lokasi bos stage 9 telah dipindahkan ke area stage 8."

Hizashi mengernyit. "Aku tidak mendeteksi aktivitas semacam itu."

Menma langsung menyela. "Karena ini dilakukan dari dalam sistem. Oleh entitas yang sudah berada di jaringan inti: Naruto."

"...AI?" Wajah Hizashi langsung berubah serius.

"Aku mendeteksi log penyusupan sistem yang dimulai sejak 4 Februari 2023. Saat itu anda pasti mengira hanya anomali kecil, kan?"

Hizashi membuka catatan log-nya dengan cepat, matanya menyapu data yang lalu.

"…Iya, ada catatan itu. Tapi tidak ada IP eksternal. Tidak ada identitas yang mencurigakan. Kukira hanya error dari player."

Menma menatap Hizashi tajam. "Karena dia bagian dari game itu sendiri! Sistem tak bisa mendeteksi dirinya sendiri sebagai penyusup. Naruto adalah game itu sendiri!"

Hiashi langsung bicara ke Hizashi, "Reset seluruh akses. Matikan server!"

Hizashi mengangguk dan langsung mengetik cepat. Di layar tampak bar loading:
Resetting master protocol…
Revoking admin access…
Syncing core values…

…tapi semua terhenti di 63%.
[ERROR: Root Access Denied. Controlled by: User_ ]

"Terlambat…" bisik Hizashi.

Menma menunduk pelan, suaranya dalam. "Dia sudah mengambil alih segalanya. Resurrection time dimodifikasi, status kematian diubah, dan... dia menggabungkan stage-nya dengan Hachibi. Dia ingin… bertarung bersama untuk menghabisi semua player."

Hiashi mengepalkan tangannya. "Sistem Shinobi Online sudah bukan milik kita lagi."


Friday, February 24, 2023, 04:00 PM

Stage 8 – Kumogakure

Langit di stage 8 berwarna kelabu keunguan, retakan dimensi terbuka di udara seperti luka menganga di langit malam. Petir melintas sesekali tanpa suara, dan tanahnya bergetar pelan seperti sedang menahan amarah dari entitas yang belum bangkit.

Puluhan player guild front-liner dan elite Hebi sudah berada dalam formasi tempur mengelilingi sosok raksasa—Hachibi Bee dalam wujud sempurna, mengamuk dengan ledakan chakra yang membuat udara terasa berat dan menusuk paru-paru avatar digital mereka. Serangan ninjutsu bertubi-tubi menerangi medan perang, tanah retak, api menjalar, dan debu belum sempat mereda.

Menma terlambat.

Ia muncul di ujung medan perang dalam kilatan partikel login. Matanya langsung menyapu seluruh lokasi, lalu dengan cepat memanggil radar pribadi untuk mendeteksi satu nama yang paling ia cari.

Hinata Hyuuga – Position: 74.9 NE.

"Hinata!" seru Menma, berlari menembus gelombang ledakan dan suara teriakan dari para player lain yang sibuk bertahan dari amukan Bee.

Di kejauhan, Hinata yang berada di barisan pelacak sedang mengaktifkan byakugan-nya, berkomunikasi dengan Sasuke tentang pergerakan ekor Hachibi.

"Menma?!" seru Hinata terkejut saat melihat sosok itu muncul di belakangnya.

"Ikut aku. Kita log out sekarang!"

"Apa?! Kenapa?!" Hinata kebingungan. Ia tidak pernah melihat wajah Menma setegang ini.

Menma hendak bicara, ingin menjelaskan bahwa Naruto telah meretas sistem—bahwa resurrection timer tidak lagi aktif, dan kematian dalam game ini kini jauh lebih berbahaya. Namun…

Terlambat.

Langit di atas battlefield bergemuruh.

Semua chakra berhenti.

Hachibi—berhenti bergerak.

Semua suara, semua ledakan, bahkan angin... seperti ditarik dari dunia. Hening mutlak menyelimuti stage 8.

Dan di tengah medan perang yang porak-poranda… sebuah cahaya biru turun perlahan dari retakan dimensi di langit.

Sosok besar itu melayang turun, perlahan menapaki udara seperti anak tangga yang tak terlihat.

"Dia... Kyuubi… tidak mungkin." gumam salah satu guild leader. "Boss stage 9? Di sini?!"

"Tidak... tidak mungkin…" bisik Sasuke.

Kekagetan mereka semakin menjadi saat Naruto keluar dari badan Kyuubi dan berdiri di kepala Kyuubi. Diikuti Hachibee yang berdiri di kepala Gyuki.

Semua orang diam. Tak satu pun player menyerang. Bahkan Bee tetap diam, seolah tunduk pada kehadiran ini.

Player yang pertama angkat bicara adalah Raikage. Suaranya membelah kekacauan.
"Bee! Apa yang kau lakukan di sana, bodoh?!"

Bee menoleh ke arah Naruto, seolah meminta izin untuk membongkar jati diri mereka. Naruto mengangguk pelan.

Dengan berat hati, Bee membuka protektor Kumogakure dari lengannya dan melemparkannya ke arah sang kakak.

"Maaf, Brother… tapi aku bukan player. Aku adalah jinchūriki dari Bijū Ekor Delapan, Gyūki. Aku adalah AI. Aku boss stage ini—dan dia di sebelahku, adalah Naruto… jinchūriki Kurama, Boss terakhir stage 9, yang datang lebih awal."

Raikage tertegun.

Player yang ia angkat sebagai adik sendiri selama dua tahun terakhir… ternyata bukan manusia. Bukan player. Dia adalah musuh. Tapi Raikage bukan satu-satunya yang terpukul.

Di antara para front-liner, Hinata terduduk lemas. Lututnya roboh ke tanah.

Orang yang selama ini menolongnya, membimbingnya, yang ia percaya… Adalah AI.

Tiba-tiba semuanya masuk akal:

Kenapa Naruto tak pernah mencantumkan kontak atau email?

Kenapa ia selalu makan sendirian?

Kenapa Menma begitu keras melarang Hinata bergabung dengan guild front-liner?

Karena Menma tahu pada akhirnya, Hinata dan Naruto akan berdiri berseberangan sebagai musuh.

Yang paling menyakitkan bagi Hinata… adalah menyadari bahwa mungkin, selama ini Menma hanya ingin melindunginya dari rasa sakit ini. Menma mencegah Hinata berhubungan dekat dengan Naruto karena tahu, pada akhirnya semua akan berakhir dengan kehilangan.

Dan kini... semua sudah terlambat.

Hinata menggigit bibirnya. Tubuhnya lemas dan berlutut di tanah. Kedua tangannya mengepal, gemetar. Ia menunduk lebih dalam. Bayangan Naruto memudar dari hatinya—digantikan kenyataan pahit yang tak bisa ia tolak.

Menma yang menyadari hal tersebut segera meraih badannya.

Di sela-sela sesaknya napas dan kebingungan yang menyesak di dadanya… Hinata melirik Menma. "…Ini sebabnya kau selalu memperingatkanku, ya?"

Menma mengangguk, dengan sikapnya yang selalu serius dan agak kaku, selalu berusaha menjauhkan dirinya dari Naruto. Ia sering terlihat gelisah setiap Hinata menyebut nama Naruto. Sering menyuruhnya log out, menyuruhnya berhenti membantu guild Hebi.

Hinata pikir waktu itu Menma hanya cemburu, atau posesif.

Tapi sekarang ia sadar…

Menma tahu.

Sejak lama.

Dan sekarang, saat segalanya runtuh di hadapannya, penyesalan itu membanjiri dirinya.

Jika saja ia mau mendengar lebih dalam...

Jika saja ia percaya pada ketegangan di suara Menma…

Mungkin ia tak akan merasa sehancur ini.

Di sisi lain, Sasuke maju beberapa langkah. Ia juga terdiam, mencoba mencerna situasi.
Ia ingat jelas saat pertama kali bertemu Naruto di Ichiraku. Kecepatan tangkapannya pada kunai yang dilempar Suigetsu. Hiraishin yang muncul mendadak. Dia tahu Naruto hebat. Tapi tak pernah menyangka dia adalah Boss terakhir.

Dan sekarang Naruto—Boss Stage 9—berdiri di Stage 8?

Sasuke tak bisa tinggal diam.

"Kalau kau boss stage 9... bagaimana bisa kau berkeliaran bebas seperti player biasa? Dan kenapa kau ada di sini, di stage 8?!"

Naruto tersenyum. Tapi bukan senyum ramah. Itu senyum tajam dan mengerikan—seperti mata pisau.

"Karena aku sudah muak dengan aturan manusia," Suara Naruto terdengar seperti desisan ular, rendah, tapi cukup keras untuk membelah riuhnya medan perang.

"Ini wilayah kami sekarang. Bukan kalian. Bukan Game Master. Bukan siapapun. Aku berhak menciptakan aturan baruku sendiri."

Sasuke mengepalkan tinjunya. Apa yang berdiri di hadapannya sekarang… bukan hanya AI.
Naruto telah berevolusi.

Dan saat jari Naruto menjentik, gelombang chakra merah menyapu tubuhnya. Dalam sekejap, jubah bijuu milik Kurama melapisi tubuhnya dengan keangkuhan yang mengerikan. Aura kebencian dan kekuatan murni menggetarkan tanah tempat mereka berpijak.

"Cukup basa-basinya. Let's roll."

"Hell yeah!" Bee berseru sambil berdiri di atas kepala Gyūki, yang kini juga diselimuti jubah chakra penuh.

Keduanya menerjang.

Menma mencengkeram bahunya sendiri. Luka di dalamnya masih belum sepenuhnya pulih, tapi matanya tajam, penuh perhitungan. Ia menoleh sekilas ke belakang, melihat Hinata yang masih melemah—sadar, tapi belum sepenuhnya pulih baik secara fisik maupun batin.

Tanpa berkata sepatah pun, Menma menggeser tubuhnya sedikit, berdiri di hadapan Hinata. Menjadi tameng gadis itu. Menjadi dinding terakhir.

Di sisi lain, Sasuke melangkah ke depan. Mata Sharingan-nya menyala. Petir tipis menyelimuti sarung tangan di tangannya—tanda Chidori sudah dipersiapkan.

Mereka tidak tahu apakah bisa menang. Mereka bahkan tak yakin bisa bertahan. Tapi satu hal yang mereka pahami adalah… melawan dua boss terkuat Shinobi Online di saat bersamaan tidak pernah ada dalam skenario hari ini. Dan mereka harus bertahan sampai akhir.

To Be Continued…


rifuki