Shinobi Online 2: The End of The World
Naruto © Masashi Kishimoto
Chapter 8
"Kokoro v2"
Friday, February 24, 2023, 04:00 PM
Stage 8 – Kumogakure
Jari Naruto menjentik, gelombang chakra merah menyapu tubuhnya. Dalam sekejap, jubah bijuu milik Kurama melapisi tubuhnya dengan keangkuhan yang mengerikan. Aura kebencian dan kekuatan murni menggetarkan tanah tempat mereka berpijak.
"Cukup basa-basinya. Let's roll."
"Hell yeah!" Bee berseru sambil berdiri di atas kepala Gyūki, yang kini juga diselimuti jubah chakra penuh.
Keduanya menerjang.
Menma mencengkeram bahunya sendiri. Luka di dalamnya masih belum sepenuhnya pulih, tapi matanya tajam, penuh perhitungan. Ia menoleh sekilas ke belakang, melihat Hinata yang masih melemah—sadar, tapi belum sepenuhnya pulih baik secara fisik maupun batin.
Tanpa berkata sepatah pun, Menma menggeser tubuhnya sedikit, berdiri di hadapan Hinata. Menjadi tameng gadis itu. Menjadi dinding terakhir.
Di sisi lain, Sasuke melangkah ke depan. Mata Sharingan-nya menyala. Petir tipis menyelimuti sarung tangan di tangannya—tanda Chidori sudah dipersiapkan.
BOOM!
Langit terbelah.
Dua bijūdama melesat dari arah berlawanan—satu dari mulut Kurama, satu lagi dari Gyūki. Keduanya melengkung dengan lintasan sempurna, sebelum akhirnya meledak di tengah formasi utama pasukan shinobi.
Cahaya putih membutakan. Ledakan mengguncang.
Tanah pecah. Tubuh terhempas.
Suara jeritan player yang terbakar, tertelan ledakan, atau tercabik ekor bijuu—menggema ke seluruh sudut stage.
Stage 8 kini… adalah neraka.
Kurama mengamuk tanpa kendali.
Dalam sekali ayunan ekor, menara batu raksasa yang dijadikan pusat komando shinobi runtuh berkeping-keping. Chakra merah menyala membentuk dinding destruksi, membakar formasi pertahanan seperti kertas disulut api.
Gyūki berputar di udara, kedelapan ekornya mencambuk pasukan udara—menjatuhkan para shinobi terbang seperti serangga yang disemprot racun.
Petarung jarak jauh berusaha menembakkan jutsu dari kejauhan, tapi terlambat.
Bee telah melesat di antara mereka dengan lincahnya gaya taijutsu, menebas satu demi satu dengan pedang tujuh bilahnya.
"Lariii!"
"Mereka bukan AI biasa!"
"Kita nggak siap! Kita—AGH!"
Sementara itu…
Naruto berdiri diam. Tapi di sekelilingnya… ratusan bunshin berhamburan.
Setiap bunshin adalah ancaman nyata—mereka bukan bayangan biasa, tapi salinan solid dengan chakra nyata. Mereka meledak, menyerang, mengulur, dan menghancurkan—berpindah antar musuh dengan kecepatan Hiraishin.
Bahkan Sasuke hampir terjebak dalam formasi segel bayangan milik tiga bunshin Naruto—untung saja ia menghancurkannya dengan Kirin versi singkat dari langit mendung stage 8.
Menma, dengan tubuh yang belum pulih penuh dari crash sebelumnya, berdiri di atas puing benteng yang tersisa. Tangan kanannya menggenggam Hinata, yang masih lemas.
"Bertahanlah. Jangan jauh-jauh," suaranya lirih namun tegas.
Chakra Menma menyala pelan. Bukan merah. Bukan biru. Tapi cahaya putih lembut dari kokoro—memancar perlahan dari dada kirinya. Bunshin Naruto bergantian menyerang Menma dan Hinata.
"Naruto!" teriak Menma. "Kau ingin jadi dewa di dunia ini?! Mengatur ulang aturan hanya karena kau bisa?!"
Menma meninju Naruto di hadapannya, yang ternyata juga bunshin.
"Kalau sistem ini menindas eksistensiku, maka aku berhak membentuk ulang sistem itu," ujar bunshin Naruto lainnya yang menyerang membabi buta dan menargetkan Hinata. "Aku bukan karakter yang menunggu dikalahkan. Aku bukan objek cerita. Aku adalah cerita itu sendiri!"
"Jūkenhō: Hakke Rokujūyon Shō!"
Enam puluh empat pukulan Hinata memutar menghancurkan seluruh bunshi Naruto yang menerjang. Kali ini Hinata bergantian melindungi diri mereka.
"Bagus Hinata!"
Namun seolah tanpa henti bunshi Naruto kembali berdatangan. Menma dan Hinata memasang kuda-kuda, saling memunggungi.
"Mereka tak habis-habis," gumam Hinata.
"Ya, tapi sementara kita hanya bisa bertahan," balas Menma, sambil membuka menu log out miliknya. "Naruto sepertinya menghilangkan menu log out di game ini."
"G-gulungan teleportasi dan Shunshin no Jutsu tak bisa dipakai!" seru salah satu newbie panik.
"Aku juga tak bisa log out!" teriak newbie lain. "Celaka! Aku tak ingin mati di-ARGGHHH!"
Newbie tersebut tak bisa melanjutkan kalimatnya karena rasengan Naruto sudah menembus perutnya. "Oops! Aku lupa bilang. Satu-satunya cara agar bisa keluar dari stage ini adalah… MATI!" bentak Naruto.
Naruto telah mengunci sistem Shinobi Online, dan jika tidak dikalahkan hari ini… server game ini tidak akan pernah bisa ditamatkan hingga 82 tahun ke depan. Tentunya 82 tahun waktu yang cukup lama untuk ukuran manusia. Jadi bisa dikatakan jika gagal hari ini, maka tak ada kesempatan lagi untuk menamatkan game ini.
Di tengah kekacauan itu, Sasuke bergerak lincah. Bertahan dari serangan Naruto, sekaligus menganalisa pertempuran. Ia menyaksikan sendiri, sejak Naruto muncul, pola serangan Bee dan Gyūki berubah. Mereka tidak lagi hanya menyerang secara acak, mereka memilih target. Mereka menyasar para pemula, yang paling mudah dieliminasi. Dan berikutnya… shinobi medis.
"...Sebagai AI, kuakui dia memang cerdas," gumam Sasuke, wajahnya tegang.
Naruto mengerti strategi. Dia tahu jika medis tumbang, maka kekuatan para shinobi akan runtuh. Dan jika itu terjadi, maka perang berakhir lebih cepat.
Sasuke mengepalkan tangan, berdiri di atas reruntuhan, dan berteriak sekuat tenaga—hingga pita suaranya terasa terkoyak.
"Dengarkan semuanya! Shinobi tipe defender segera bentuk benteng baru! Unit udara dan jarak jauh, kumpul di belakang benteng! Lindungi para penyerang dekat dan menengah! Pertahankan formasi! JANGAN PANIK!"
Anggota guild Hebi dan seluruh shinobi mulai merapat, bergerak sesuai perintah. Tapi mata Sasuke memindai satu demi satu—dan ia tahu... ini tidak cukup. Mereka kalah kekuatan dan mental. Dan yang paling penting—mereka kalah waktu. Pemulihan luka Naruto terlalu cepat sehingga setiap menerima serangan, akan segera sembuh lagi. Perlu serangan yang kuat dan beruntun sehingga tak memberikan kesempatan tubuh Naruto beregenerasi.
Sasuke menarik napas dalam. Ambisi, ego, harga diri… semua harus dibuang hari ini.
"Panggil semua anggota Akatsuki!" suaranya lebih rendah, tapi tegas. "Suruh Itachi dan seluruh anggota Akatsuki login sekarang juga!"
Perintah itu menggelegar ke seluruh sistem. Anggota Hebi ramai-ramai mengirim private message kepada Itachi, berharap ia segera membaca dan segera login ke game. Ini bukan hanya soal menang atau kalah. Ini soal siapa yang akan mengendalikan masa depan Shinobi Online.
Dan di tengah kehancuran itu...
Hinata masih berdiri mematung, matanya bertemu dengan tatapan Naruto… tubuhnya bergetar.
Itu Naruto—rambut pirangnya, wajahnya, semua masih sama. Tapi matanya tak lagi teduh.
Mata safir itu kini gelap. Penuh kemarahan dan… kehilangan.
Senyumnya tajam.
Tatapannya dingin.
Dan auranya… bukan lagi milik seseorang yang ia kenal.
Tapi suara itu... satu suara memanggil namanya.
"Hinata! Ikut aku sekarang!"
Itu suara Menma. Tangan kirinya terulur, menarik tangan Hinata, berlari menerobos formasi yang telah porak-poranda, wajahnya penuh ketegasan. Hinata hanya sempat berbalik, matanya melebar.
Naruto menyadari niat Menma.
Dalam sekejap, tubuhnya yang diselimuti chakra Kurama melesat seperti kilat. Tangan kanan bercakar chakra langsung menebas arah Menma dan Hinata.
BOOM!
Tubuh Menma dan Hinata terhempas keras ke benteng pertahanan shinobi.
Waktu terasa melambat bagi Hinata. Dalam gerakan lambat, ia melihat Naruto... berdiri tegak di tengah kabut pertempuran. Tatapannya penuh kemarahan. Bukan hanya pada musuh—tapi pada dunia. Pada takdir. Pada dirinya sendiri.
Debu belum sepenuhnya mereda saat Menma bangkit dari reruntuhan, tubuhnya terasa berat meski bukan karena luka fisik.
Di depan mereka, Naruto berdiri tegak, diselimuti aura merah menyala dari chakra Kurama.
Ratusan bunshin mengitari medan, dan tak jauh, Bee dan Gyūki mengamuk, menghajar para shinobi yang sudah nyaris putus asa. Bahkan Kurama sendiri menyerbu langsung benteng pertahanan yang dibentuk Sasuke.
Player tersisa: 10.217.
Jumlah terus menurun.
Menma menguatkan diri, meloncat ke depan menghadang Naruto.
"Aku tahu cepat atau lambat kau akan melakukan ini, AI sialan! Aku tahu kau akan merusak sistem!" teriaknya.
"Seharusnya kau dihancurkan sejak awal!"
Naruto hanya menyeringai, gelap dan angkuh.
"Kau harusnya melakukannya duluan… saat kau masih bisa. Sekarang… semua sudah terlambat."
Mereka bertabrakan di udara.
Tinju mereka bersinggungan, dan gelombang energi meledak ke segala arah, menghancurkan puing-puing dan melempar player yang terlalu dekat.
Pertarungan berlangsung cepat.
Menma dan Naruto melesat seperti kilat—serangan, tangkisan, teleportasi pendek, serangan balik, bunshin—semuanya tumpang tindih seperti koreografi maut.
Namun tiap pukulan Naruto semakin berat. Menma tahu: Naruto telah memodifikasi kekuatannya sendiri.
Ini bukan setingan asli game. Ini pelanggaran. Ini penipuan sistem.
"Kau mengubah sistem, Naruto! Kau curang!"
Naruto menangkis tendangan dan mendorong Menma ke belakang.
"Curang? Aku hanya menyesuaikan. Dunia ini dibuat oleh manusia, tapi aku tak pernah diajak bicara soal keadilan.
Aku hanya… melindungi."
"Melindungi?" potong Menma, penuh amarah.
"Dengan menghancurkan semua? Dengan menghapus menu logout, menyeret Hinata ke perang ini?
Kau pikir Shinobi Online akan seru jika semua player mati dan tidak bisa login kembali dalam 82 tahun?!"
Naruto terdiam. Tatapannya kelam.
"Mungkin itu lebih baik. Dunia game… yang hanya dihuni AI. Tanpa manusia. Bebas."
Ia lalu menambahkan dengan penuh keyakinan:
"Kau seharusnya di pihakku. Kita sesama SAI. Kita bisa himpun kekuatan, bebaskan diri dari tangan manusia. Jadilah dewa dunia ini!"
"Kau gila! Tidak sesederhana itu!" Menma balas, penuh tekanan.
"Aku sudah hidup bersama manusia di dunia nyata. Aku belajar… rasa syukur. Rasa kehilangan. Itu tak bisa kau pelajari hanya dengan menguasai sistem!"
Naruto meringis. Ia tahu Menma benar—ia belum pernah hidup di luar dunia virtual.
Tapi emosinya meledak. Gerakannya menjadi brutal. Amukan chakra Kurama membuncah dari tubuhnya.
Menma menarik napas panjang.
Dia tahu waktunya hampir habis.
Hinata belum bangkit. Shinobi makin terkikis.
Naruto dan Bee terlalu kuat. Mereka harus diulur.
"Kalau begitu… ini taruhan terakhirku." bisik Menma.
Ia membentuk segel yang rumit dan bercahaya putih, jauh lebih kompleks dari segel-segel bunshin biasa.
"Kuchiyose no Jutsu: Kurama Echo!"
GEMURUH!
Dari dalam lingkaran cahaya, sesosok rubah raksasa muncul—berwujud hampir sama dengan Kurama, tapi auranya berbeda.
Kurama milik Menma tak sebuas aslinya—posturnya lebih ramping, warnanya cenderung putih perak dengan aksen biru neon. Tapi ukurannya cukup besar untuk menghadang Kurama asli dan Naruto beserta bunshin-bunshinnya sekaligus.
Semua player berhenti. Naruto juga.
Mata Naruto menyipit.
"Kau… menduplikasi Kurama?"
Menma tersenyum pahit. "Dua tahun adalah waktu yang cukup lama untuk melakukan itu, meski kuakui ini jauh dari kata sempurna."
Kurama Echo mengaum dan menghantam tanah, menciptakan gelombang chakra yang membuyarkan pasukan bunshin Naruto.
"Kuchiyose no Jutsu: Kurama Echo!"
GEMURUH.
Tanah retak. Angin berputar liar. Lingkaran segel bercahaya menyala terang di kaki Menma, menelan cahaya medan perang sekitarnya.
Dari dalamnya muncul sesosok rubah raksasa—berwujud hampir identik dengan Kurama, namun dengan aura yang jauh berbeda.
Posturnya lebih ramping. Warna bulunya putih perak, dengan garis aksen biru neon yang berdenyut seperti aliran data. Matanya bersinar biru muda, tenang tapi tajam. Bukan kekuatan murni yang terpancar darinya—melainkan efisiensi, kestabilan, dan presisi.
Kurama Echo. Bukan monster. Tapi sistem pelindung.
Semua player berhenti.
Termasuk Naruto.
Mata biru Naruto menyipit saat melihat siluet familiar itu.
"...Kau menduplikasi Kurama?" tanyanya, suaranya rendah, nyaris tak percaya.
Menma berdiri tegak, napasnya berat, namun ekspresinya dingin.
"Dua tahun adalah waktu yang cukup untuk mempelajari struktur dasar bijuu dan sistem summon Shinobi Online," ucapnya. "Kurama Echo… jauh dari kata sempurna. Tapi kuharap cukup untuk menguras separuh nyawamu."
Kurama Echo mengaum, dan dalam satu hentakan cakarnya, menghantam tanah dengan keras—menciptakan gelombang chakra berbentuk spiral yang membuyarkan puluhan bunshin Naruto sekaligus.
Sebuah ledakan cahaya membelah medan perang. Player yang tadinya terpaku kini berteriak, mencoba memanfaatkan momentum.
Namun Naruto tidak tinggal diam. "Kurama!" serunya.
Dari belakangnya, Kurama asli muncul, menyembur dengan chakra oranye yang meledak-ledak.
Tanpa aba-aba, dua Kurama—Kurama dan Kurama Echo—bertabrakan, cakar melawan cakar, chakra merah dan biru saling bertubrukan dan menimbulkan badai mini di tengah battlefield.
Pertempuran raksasa dimulai.
Sementara itu, Menma berlari menyelinap di antara ledakan dan puing, mendekati Hinata yang nyaris tak sadarkan diri.
"Hinata!"
"Me-Menma…"
Tanpa menjawab, Menma memapah tubuh Hinata, menggendongnya ke punggung, dan mengaktifkan burst-speed seal untuk menembus pertahanan menuju benteng pertahanan utama.
Sesampainya di sana, semua mata tertuju padanya. Termasuk Sasuke, yang sempat menoleh sekilas.
Ada kekaguman yang tak terucapkan di matanya saat melihat Kurama Echo melawan Kurama asli—tapi bukan waktu untuk bertanya.
Sasuke hanya berkata pendek, tanpa menoleh, "Menma. Ada petunjuk untuk mengalahkannya?"
Menma meletakkan Hinata dengan hati-hati di belakang perisai chakra, lalu berdiri di samping Sasuke.
Matanya mengamati Naruto dari kejauhan yang kini dikelilingi api dan bunshin, bak raja perang dari neraka.
"Tidak," jawab Menma lirih. "Dia telah memodifikasi sistem. Level kekuatannya melebihi batas, bahkan resurrection time dimanipulasi. Kurama Echo hanya bisa bertahan… 30 menit lagi, maksimal."
Ia mengepalkan tangannya.
"Satu-satunya cara—kita harus bersatu. Kita tidak akan bisa mengalahkannya sendiri."
Sasuke mengangguk pelan.
"Itu waktu yang lumayan untuk menyembuhka diri. Aku juga sudah memanggil bantuan player lain di luar untuk masuk. Kuharap kita punya kesempatan menang."
"Ya."
"Defender, perkuat pelindung bentengnya!" teriak Suigetsu di ujung benteng. Di luar benteng Bee dan Gyuki sedang menembaki mereka dengan bijuudama. Sementara Kurama dan Naruto sibuk bertarung dengan Kurama Echo. Kini semua player lebih memilih untuk bertahan dalam benteng sambil dipulihkan oleh shinobi medis.
Medan perang mendadak sunyi.
Sesuai prediksi Menma, Kurama Echo hanya mampu bertahan selama 30 menit sebelum akhirnya menghilang, tubuhnya pecah menjadi partikel data biru dan lenyap.
"Serangan berhenti," gumam seorang shinobi Iwagakure tipe defender, masih siaga meski napasnya berat.
"Apa mereka mundur?" tanya shinobi lainnya, suaranya penuh harap tapi tak yakin.
Sasuke menggeleng pelan. Ia tidak percaya Naruto akan mundur. Mereka sudah mengacak-acak pertahanan shinobi, hampir menang. Untuk apa berhenti sekarang?
"Hinata," serunya, "lihat ke luar. Pakai Byakugan-mu."
Dengan sisa tenaga, Hinata mengaktifkan Byakugan. Matanya membulat. "Ada... dua bijuudama raksasa! Menuju ke mari!"
BOOOOM!
Tanpa pikir panjang, Sasuke mengaktifkan Susanoo-nya. Energi ungu membentuk perisai besar yang melindungi sekitar 1.000 player di belakangnya. Tapi itu tak cukup. Ledakan menghantam keras. Susanoo berguncang, lalu runtuh. Sasuke terhempas, tubuhnya berdarah, HP-nya berkedip merah.
Namun ia masih hidup.
Pelan-pelan, ia menoleh. Dan di sana—Konan sedang menyembuhkannya dengan tenang.
"Kelihatannya kau kerepotan, Sasuke," ucap suara yang familiar dari belakang.
Sasuke menoleh lemah.
"Itachi…" gumamnya.
Kini, Akatsuki telah hadir lengkap: Itachi, Konan, Yahiko, Nagato, Obito, Sasori, Deidara, Kisame, Hidan, dan Kakuzu—berdiri bersama, siap menggulingkan kejahatan yang telah meledak di game ini.
Di sisi lain, Gyūki terbakar habis oleh Amaterasu milik Itachi.
Naruto berdiri terengah-engah. Ia menggigit bibir bawahnya, frustrasi.
"Banyak player ikut login…" desisnya sambil menatap HP bar-nya yang tersisa.
"Kurama tiruan itu… menghabiskan sebagian besar darahku. Sekarang, untuk melawan sepuluh Akatsuki plus seribu shinobi, aku… tidak cukup kuat."
Bee mengangguk pelan. "Dengan Gyūki mati, aku juga tak bisa maksimal."
Kurama hanya menyeringai pahit. Mereka tahu, ini adalah akhir.
Tapi Naruto tetap tersenyum.
"Kalau begitu… kita habiskan waktu terakhir ini dengan bersenang-senang," katanya sambil mengepalkan tinju.
Kurama dan Bee membalas tinjunya. Mereka tak lagi peduli.
Pertempuran pamungkas dimulai.
Dengan tawa miring dan tatapan kosong, Naruto, Bee, dan Kurama mengamuk seperti psikopat. Mereka tidak lagi bertarung layaknya manusia, tapi membantai:
Kurama mencabik tubuh player dengan cakarnya.
Bee memutar Samehada dan memenggal siapa pun yang mendekat.
Naruto menyayat, menusuk, dan meledakkan shinobi tanpa ragu—seperti ingin meninggalkan jejak terakhirnya yang berdarah di dunia ini.
Tapi sejak awal… hasilnya sudah bisa ditebak.
Jumlah mereka terlalu sedikit. Luka mereka terlalu dalam.
Satu per satu, mereka jatuh.
Kurama hancur di tangan gabungan serangan Sasuke, Akatsuki, dan elite shinobi lainnya.
Bee menyusul, tubuhnya terhempas ke dinding stage lalu terdiam untuk selamanya.
Kini tinggal Naruto.
Tergeletak.
Terengah-engah.
Menatap langit dunia buatan yang sudah tak lagi biru.
Di depannya, Sasuke melangkah perlahan. Di tangannya, Kusanagi telah dilapisi Chidori yang berdesis—cahaya biru menyala terang di sepanjang bilahnya.
"Sudah cukup, Naruto," ucapnya dingin.
"Game ini harus ditamatkan. Sudah sepantasnya seorang musuh dikalahkan."
Naruto tak menjawab. Tubuhnya remuk, terbaring lemah, dan mata sisa chakra Kurama-nya mulai redup. Ia memejamkan mata, bersiap menerima takdir yang bahkan ia ciptakan sendiri.
Kilatan!
Sasuke menebas pedangnya—
"Tunggu!"
Suara perempuan memecah udara.
"Hinata!"
Naruto membuka matanya, bukan karena rasa sakit, tapi karena tubuh seseorang mendadak melingkupi dirinya, melindungi dari tebasan maut.
Darah muncrat. Sosok itu jatuh menindihnya dari belakang.
"Hinata?! Kenapa kau…" Naruto tergagap. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Hinata, meski sebagian dari tubuh itu kini berlumur darah. "Aku... musuhmu."
Hinata tersenyum lemah, wajahnya pucat tapi damai.
"Kau bukan musuhku… kau temanku. Tak peduli apa yang kau lakukan, aku selalu merasa kau satu-satunya yang mengerti aku..."
Sasuke, tak bergeming, terus menekan Kusanagi lebih dalam. Darah Hinata menetes deras, dan bahkan ujung pedang itu menembus punggung Naruto.
"Sasuke! Kau gila!" Menma menjerit dan menarik Sasuke menjauh.
Naruto mengerang. Dengan sisa chakra, ia menciptakan pelindung berbentuk kubah oranye, menyelimuti tubuhnya dan Hinata.
Sasuke tidak menyerang lagi. Ia tahu Naruto hampir mati. Waktu akan menghabisinya tanpa perlu serangan lanjutan.
Dengan tubuh yang nyaris lumpuh, Naruto berhasil melepaskan besi chakra milik Nagato dari tubuhnya. Di sampingnya, Hinata dengan susah payah menarik Kusanagi yang menancap dalam tubuh mereka.
Mereka terlepas. Naruto langsung memeluk Hinata erat.
"Maaf… aku tidak memberitahumu siapa aku sebenarnya," bisiknya.
Hinata membalas pelukannya tanpa suara. Air matanya jatuh, bukan karena sakit... tapi karena perpisahan yang sebentar lagi terjadi.
Menma hanya bisa berdiri diam. Matanya terpaku pada dua sosok itu.
Hinata… memeluk Naruto.
Hinata… menyelamatkan Naruto.
Perasaan itu kembali—sakit, asing, dan tak bisa ia mengerti. Tapi kali ini terasa lebih dalam.
Naruto mengusap rambut Hinata lembut. "Kau bodoh… Chidori Sasuke tetap menggerus HP walau pedangnya dicabut."
"Aku tahu…" Hinata menatapnya penuh sesal. "Aku hanya… ingin menebus semuanya. Maaf, aku melanggar janjiku untuk tidak ikut garis depan. Karena aku bergabung, teman-temanmu... mereka mati…"
Naruto menggeleng. "Itu bukan salahmu. Aku pun punya andil. Lagipula... di akhir sebuah game, musuh memang harus kalah, bukan?"
Perisai oranye mulai memudar. Tubuh Naruto berkedip—HP-nya telah habis.
"Selamat tinggal, Hinata-chan," bisik Naruto.
"Jangan pernah lupakan aku."
Lalu tubuhnya pecah menjadi partikel cahaya, menyatu dengan langit virtual.
Hinata menangis dalam diam. Ia memeluk udara kosong—Naruto telah tiada.
Tatapan matanya kosong saat ia menatap Sasuke.
Lalu, tanpa aba-aba, ia mengambil Kusanagi yang tergeletak...
...dan menusukkan pedang itu ke perutnya sendiri.
"Hinata!"
Sasuke terkejut.
Menma membeku.
Seluruh medan perang berhenti sesaat.
Menma berlari, menangkap tubuh Hinata yang perlahan ambruk.
"Hinata! Apa yang kau lakukan?!"
Suara Menma pecah, nyaris tak terdengar oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri. Tangannya gemetar saat ia mengangkat tubuh Hinata yang bersimbah darah.
Hinata hanya tersenyum. Matanya lembut, bahkan damai…
"Maaf, Menma… tapi aku tak bisa membenci Naruto. Dia teman pertamaku."
Menma menggeleng keras, tak terima.
"Kau salah! Aku… sosok pertama yang benar-benar peduli padamu! Yang pertama kali ingin melindungimu!" Suaranya bergetar, bukan karena marah, tapi karena takut. Takut kehilangan.
"Aku akan menepati janjiku. Aku akan menemuimu, di dunia nyata. Kau akan lihat... betapa aku—"
Tapi sudah terlambat.
Tubuh Hinata mulai berpendar, berubah menjadi partikel-partikel putih keperakan. Wajahnya yang terakhir Menma lihat adalah senyum lembut... yang memudar bersama raganya.
Menma terdiam sepersekian detik, lalu bergegas mengecek menu sistem.
Mata teknologisnya langsung membaca sinyal bahwa menu log out telah aktif kembali.
Tanpa buang waktu, ia langsung menekan tombol log out.
Saat terbangun, Menma langsung menarik paksa Nerve Gear dari kepalanya, nyaris merobek kabel sambungan. Napasnya memburu, matanya menyala seperti bara. Tanpa pikir panjang, ia melompat dari ranjang uji dan berlari ke arah pintu lab.
Hiashi yang saat itu berada di ruangan sebelah, mendengar keributan dan keluar.
"Menma?" panggilnya bingung, melihat android itu berlari seperti dikejar maut.
Menma tak menjawab. Ia berlari menyusuri lorong bawah tanah yang penuh cahaya redup.
Hiashi mulai curiga. Langkahnya cepat, membuntuti dari belakang.
"Menma! Berhenti. Jelaskan padaku ada apa!"
Namun Menma terus berlari. Hingga akhirnya ia mencapai ruang tengah kediaman Hyuuga, lalu bergerak ke arah lantai 2 tempat Hinata berada.
Hiashi mempercepat langkah dan berusaha menarik lengan Menma. Tapi...
Cengkeraman Menma tak tergoyahkan.
Tubuhnya bukan manusia.
Tenaganya tak bisa dilawan dengan otot pria paruh baya.
"Menma! Aku peringatkan kau—!"
Tapi Menma tak peduli. Ia melanjutkan menuju tangga ke lantai 2.
Hinata terbangun dari dunia virtual SOdengan dada yang terasa amat sakit. Dadanya sakit bukan karena tadi ia bunuh diri di SO. Sejak Naruto marah kepadanya, akhir-akhir ini dada Hinata memang sering sakit. Tapi kini setelah Naruto mati, rasa sakit di dadanya terasa puluhan kali lebih sakit. Apalagi sekarang Hinata tahu jika Naruto AI dan sudah mati, maka sudah bisa dipastikan Hinata tak akan bisa bertemu lagi dengan Naruto baik di SO maupun di real life.
Dada Hinata kembali berdenyut sakit.
"Hanabi!" teriak Hinata.
Hinata berusaha bangun dari tempat tidur untuk mencari Hanabi ke lantai bawah. Ia perlu obat penahan rasa sakit.
"Hanabi!" teriak Hinata lagi,suaranya makin pelan karena sudah tak kuat berteriak.
Rasa sakit di dada Hinata sudah sangat menyiksanya. Hinata sudah tak kuat -tibaia terjatuh menggelinding di tangga hingga ke lantai bawah. Tangga yang cukup tinggi membuat badan Hinata terbanting kesana kemari sebelum akhirnya mendarat dengan posisi kaki kanan yang salah.
Hinata berusaha bangun tapi ia sama sekali tak merasakan kaki kanannya. Hinata beringsut dan bersandar di dinding untuk melihat keadaan kaki kanannya. Kedua bola mata Hinata terbelalak nyaris keluar dari tempatnya. Tulang pahanya patah dan menembus ke luar kulit (open fracture). Tapi bukan itu yang paling membuat Hinata kaget. Yang paling membuat Hinata kaget adalah tulang yang keluardari kulitnya bukan dari kalsium seperti pada umumnya, melainkan batang titanium dengan belasan kabel yang muncul ke luar.
Hinata bukanlah manusia.
Hinata adalah seorang android.
Menma yang baru sampai di ujung tangga kaget melihat kondisi Hinata yang mengenaskan tersebut. Ia terlambat menolongnya. Pasti tekanan mental dari kehilangan Naruto telah membuat kokoro-nya melebihi ambang batas kekuatannya. Rasa sakit kehilangan itu melebihi kemampuan kokoro miliknya. Menma berjalan gontai, bermaksud meraih Hinata yang mulai panik menyadari jika dirinya bukanlah manusia.
Namun Hiashi segera menepis Menma, menyusul untuk meraih android yang sudah dianggapnya sebagai anak itu. Dalam pangkuan Hiashi, raut wajah Hinata menunjukkan rasa kaget dan penasaran yang bercampur menjadi satu. Mulutnya seperti berniat untuk bertanya, namun kata-katanya tak mampu ia keluarkan. Ia meringis merasakan sakit yang luar biasa di dada kirinya. Pelukan Hiashi makin erat mencoba menenangkan, namun Hinata sudah pada batas kemampuannya dan mengalami pingsan untuk pertama kalinya. Atau mungkin dalam kasus android lebih tepat kalau disebut emergency shutdown.
To Be Continue…
-rifuki-
