.
Love in Return
Naruto © Masashi Kishimoto
Story by Rachel Cherry Giusette
.
.
.
Ruangan terasa lebih dingin dari biasanya.
Itachi tidak langsung menanggapi. Ia hanya menatap Izumi dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"... Apa kau bilang?"
Izumi tetap tersenyum, meskipun ada kilatan tajam di matanya. "Aku bilang, kenapa bukan kau saja?"
Itachi akhirnya mendengus pelan, ekspresi sinis tersungging di wajahnya. "Jadi, itu alasan sebenarnya kau datang kemari?"
Izumi mengangkat bahu, nada suaranya tetap ringan, tapi ada sesuatu yang jelas terencana dalam perkataannya. "Aku hanya menyampaikan sesuatu yang dipikirkan oleh ibumu."
"Ibu tidak akan pernah memintaku untuk itu."
Izumi terkekeh kecil. "Tidak. Tapi mungkin, dia akan mempertimbangkannya jika kau mengajukan diri."
Nada suaranya seolah ingin memancing sesuatu dalam diri Itachi.
Dan itu berhasil.
Senyum sinis Itachi sedikit memudar, digantikan dengan ekspresi lebih keras. "Apa kau bercanda sekarang?"
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?" Izumi bertanya balik, sedikit memiringkan kepalanya.
Itachi menghela napas panjang, lalu berdiri, menatapnya dari posisi lebih tinggi. "Aku tidak tahu apa yang kau inginkan dengan tiba-tiba muncul kembali, tapi kalau kau berpikir aku akan mengulang masa lalu denganmu—"
"Siapa bilang aku ingin mengulang masa lalu?" Izumi memotong cepat.
Itachi terdiam.
Izumi tersenyum tipis. "Dengar, Itachi. Aku tidak datang kesini untuk membahas perasaan yang sudah lewat. Aku hanya datang untuk menyampaikan sesuatu yang mungkin bisa menjadi solusi untuk kita berdua."
"Solusi?" Itachi mengernyit. "Solusi untuk apa?"
Izumi melangkah lebih dekat, suaranya lebih pelan. "Aku tahu kau bukan pria yang ingin terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Tapi aku juga tahu satu hal, kau tidak akan bisa menghindari keinginan orangtuamu selamanya."
Itachi mengepalkan tangan. "Aku yang menentukan hidupku sendiri, Izumi."
"Tentu." Izumi mengangguk, masih dengan ekspresi tenangnya. "Tapi kalau ibumu memutuskan untuk tetap menikahkanku dengan salah satu dari kalian, dan kalau benar Shisui serta Sasuke sudah tidak mungkin, maka aku akan menjadi pilihan berikutnya."
Matanya menatap lurus ke mata Itachi, seolah menantang.
"Jadi, kenapa tidak kita permudah saja? Kenapa tidak, aku langsung memilihmu?"
Itachi tertawa kecil. "Izumi, kalau kau benar-benar berpikir aku akan menyetujui ide konyol ini, kau benar-benar tidak mengenalku."
Izumi tidak terpengaruh. Ia hanya tersenyum tipis, lalu berkata, "Aku tidak meminta jawaban sekarang. Tapi pikirkanlah, Itachi."
Ia berbalik, melangkah menuju pintu.
Sebelum keluar, ia menoleh sebentar, tatapannya masih sama—elegan, tenang, tapi penuh makna tersembunyi.
"Aku akan kembali lagi."
Pintu tertutup di belakangnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Itachi merasa Izumi benar-benar menjadi sebuah ancaman.
.
.
.
.
.
.
Konan baru saja keluar dari ruangannya di rumah sakit, tangannya masih sibuk merapikan clipboard yang penuh catatan pasien. Hari ini benar-benar melelahkan, tapi setidaknya ada satu hal yang membuatnya sedikit lebih bersemangat: Itachi.
Senyumnya terulas samar saat mengingat bagaimana pria itu menunggunya di luar rumah sakit semalam, hanya untuk memastikan dia pulang dengan selamat. Mereka belum resmi berpacaran, tapi koneksi di antara mereka sudah terasa begitu erat.
Namun, langkahnya terhenti ketika seseorang tiba-tiba berdiri di hadapannya.
Seorang wanita. Berambut sebahu dengan pakaian semi-formal yang tampak mahal. Cara berdirinya anggun, ekspresinya ramah, tapi ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dalam sorot matanya.
Konan mengerutkan kening. "Ada yang bisa saya bantu?"
Izumi tersenyum kecil. "Dokter Konan, kan?"
Konan mengangguk, tetap waspada.
Izumi mendekat, suaranya tenang, seakan berbicara tentang hal remeh, "Aku cuma ingin memastikan satu hal… Apa kau yakin, Itachi bisa membawamu ke jenjang yang lebih serius?"
Alis Konan terangkat. "Maksudmu?"
Izumi tetap tersenyum. Tapi setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti pisau yang menggores perlahan.
"Keluarga Uchiha punya standar yang tinggi." Izumi menatap Konan dalam-dalam. "Dan aku tak yakin mereka akan menerima seseorang sepertimu."
Konan merasakan napasnya tertahan sejenak. Ia bukan tipe orang yang gampang terintimidasi, tapi ada sesuatu dalam cara bicara wanita ini yang membuatnya berpikir dua kali.
Izumi melanjutkan, "Aku hanya ingin memberimu peringatan. Hubungan yang tak punya masa depan… lebih baik diputus sekarang sebelum semakin dalam."
Konan menahan perasaannya. Ingin menyangkal, ingin membalas, tapi kata-kata Izumi menusuk tepat di titik lemahnya—ketidakpastian tentang masa depan dengan Itachi.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Ah, sepertinya aku sudah cukup bicara." Izumi melirik arlojinya sejenak sebelum kembali menatap Konan. "Semoga harimu menyenangkan, Dokter Konan."
Dan dengan anggunnya, Izumi berbalik dan pergi, meninggalkan Konan yang masih berdiri diam, pikirannya berkecamuk.
.
.
.
.
.
Itachi menutup ponselnya, rahangnya mengeras. Ini sudah tiga hari sejak Konan mendadak menghilang dari radar. Tidak ada balasan pesan, tidak ada angkat telepon. Bahkan ketika dia datang ke rumah sakit, Konan menghindar.
Dan sekarang, setelah berbicara dengan beberapa kolega Konan, ia akhirnya tahu penyebabnya.
Langkahnya panjang dan cepat, menuju lounge eksekutif di lantai atas kantornya. Beberapa staf yang melihat ekspresinya langsung menyingkir, enggan berurusan dengannya saat suasana hatinya seburuk ini.
Ia menemukan Izumi duduk dengan tenang di salah satu kursi sofa, menyeruput teh dengan sikap elegan. Seakan tidak ada yang salah. Seakan dia tidak baru saja menghancurkan sesuatu yang penting bagi Itachi.
Tanpa ragu, Itachi mendekat dan berdiri di hadapannya.
"Izumi."
Izumi menoleh, mengangkat alis seolah terkejut. "Oh? Itachi?"
Itachi langsung mencondongkan tubuhnya, menatap tajam ke matanya. "Apa yang kau katakan ke Konan?"
Izumi masih mempertahankan senyumnya, tapi ada ketenangan yang mencurigakan dalam gesturnya. "Kenapa tiba-tiba menuduhku?"
"Jangan main-main," suara Itachi rendah, nyaris seperti geraman. "Aku tahu kau menemui Konan di rumah sakit."
Izumi menghela napas pelan, lalu meletakkan cangkirnya. "Aku hanya memberinya sedikit nasihat. Tidak ada yang berlebihan."
Mata Itachi semakin menyipit. "Nasihat?"
Izumi menatapnya langsung, kali ini tanpa senyum. "Aku hanya mengatakan fakta, Itachi. Bahwa keluarga Uchiha punya standar tinggi. Bahwa Konan harus memikirkan masa depan. Itu saja."
Itachi mengepalkan tangannya. "Jadi karena itu, dia menjauh?"
Izumi menatap tajam. "Aku tidak menyuruhnya menjauh. Tapi kalau dia memilih untuk mundur, itu artinya dia sendiri sadar—dia tidak cukup yakin dengan hubungan kalian."
Itachi merasakan kemarahan membakar dadanya. Nafasnya berat. Tangannya mencengkeram kuat kursi di samping Izumi, seakan menahan diri untuk tidak menghancurkan sesuatu.
"Kau selalu seperti ini, ya?" katanya dingin. "Bermain dengan kata-kata, membuat orang lain goyah, lalu berpura-pura tidak tahu."
Izumi menatapnya tanpa berkedip. "Aku hanya mengatakan yang sejujurnya."
Itachi menggeleng, ekspresinya mencemooh. "Dulu, kau menolakku dengan alasan yang bahkan tidak bisa aku pahami." Suaranya semakin rendah, tapi tajam. "Dan sekarang, saat aku sudah move on, kau masih mengganggu?"
Izumi terdiam sesaat. Sekilas ada sesuatu dalam matanya—apakah itu… penyesalan? Atau justru sesuatu yang lebih dalam? Tapi detik berikutnya, dia tersenyum tipis lagi.
"Aku tidak mengganggu," katanya lembut. "Aku hanya memastikan kamu tetap berada di jalur yang benar."
Itachi tertawa pendek, tanpa humor. "Jalur yang benar?"
Izumi menatapnya dalam-dalam. "Aku hanya tidak ingin kamu membuat kesalahan."
Itachi menggeleng pelan. "Satu-satunya kesalahanku adalah membiarkan kamu masih memiliki tempat dalam hidupku."
Izumi terdiam.
Itachi menatapnya tajam, lalu berbalik pergi tanpa kata tambahan.
Tapi begitu punggungnya menghilang di balik pintu, untuk pertama kalinya, ekspresi Izumi berubah. Senyumnya memudar. Matanya sedikit meredup.
Satu tangannya meremas rok di pangkuannya.
Dan dalam keheningan lounge itu, hanya dia sendiri yang tahu apa yang sebenarnya dia rasakan.
.
.
.
.
Itachi duduk di sofa apartemennya, menatap kosong ke gelas whiskey yang ada di tangannya. Weekend ini, Sasuke mampir, seperti biasa kalau dia ingin menghindari kebisingan rumah besar Uchiha.
Sasuke menjatuhkan diri ke kursi di seberang Itachi, lalu mengangkat alis melihat ekspresi kakaknya yang jelas-jelas tidak dalam mood terbaik.
"Jadi, gimana? Konan masih nggak balas pesanmu?"
Itachi mendesah pelan, menyesap whiskey-nya. "Masih."
Sasuke mendecakkan lidah. "Kalau sampai segitunya, berarti efek omongan Izumi lumayan kuat."
Itachi mendongak, menatap Sasuke dengan sorot mata tajam. "Dan aku tidak akan membiarkan itu berlanjut lebih jauh."
Sasuke terkekeh pendek, lalu mengambil botol air mineral dan meminumnya. "Ngomong-ngomong soal Izumi, ada satu hal yang bikin aku penasaran," katanya setelah beberapa saat. "Benar Ibu yang mendorong dia untuk mendekatiku atau Kak Shisui?"
Itachi mengangkat bahu. "Belum tahu pasti. Tapi Izumi bilang sendiri kalau Ibu memang punya niatan menjodohkan dia dengan salah satu dari kalian."
Sasuke mendengus. "Ibu ini ada-ada saja. Masa beneran mau jodohin aku sama ular berbisa?"
Itachi menaikkan alis, sedikit tertarik dengan pilihan kata adiknya. "Ular berbisa?"
Sasuke menyandarkan tubuhnya ke kursi, melipat tangan di dada. "Aku sudah lama dengar sisi lain Izumi, dan dari yang kutahu, dia tidak sepolos yang orang kira." Dia menggeleng pelan. "Dan kalau niat awal Ibu menjodohkan dia sama Kak Shisui… heh, percuma. Kak Shisui sudah bahagia sama pacarnya, dan dia nggak bakal mudah terpedaya cewek macam Izumi."
Sasuke tertawa kecil, tapi nada suaranya jelas menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak tertarik pada ide perjodohan itu.
Itachi menyesap whiskey-nya lagi, lalu menatap adiknya. "Kalau seandainya Ibu tahu selama ini kamu sudah punya cewek, mana mungkin Ibu berinisiatif seperti itu?"
Sasuke terdiam.
Itachi melanjutkan, nadanya lebih tenang tapi menusuk. "Dan mungkin Ibu juga tidak tahu sifat asli Izumi."
Sasuke memainkan tutup botol di tangannya, ekspresinya sedikit mengeras.
Itachi menatapnya dalam diam. "Jadi, kamu masih berniat terus backstreet sama Sakura?"
Sasuke menghela napas panjang, lalu mengangkat bahu. "Aku… nggak tahu, Kak. Aku sama Sakura baik-baik saja sekarang, dan jujur, aku nggak mau drama seperti yang kakak alami sekarang."
Itachi menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berbicara. "Tapi cepat atau lambat, kamu harus menghadapi kenyataan. Kalau kamu nggak ambil langkah duluan, orang lain yang bakal ambil langkah buatmu. Contohnya sekarang."
Sasuke hanya diam, tidak langsung membalas.
Dan di antara keheningan itu, keduanya tahu—konflik ini belum selesai.
Jauh dari kata selesai.
.
.
.
.
.
.
Hujan turun pelan, membasahi trotoar kota yang mulai gelap. Lampu-lampu jalan berpendar redup, mencerminkan bayangan seorang pria yang berdiri di depan rumah sakit.
Itachi menunggu.
Tangannya terlipat di dada, jas hitamnya sedikit basah karena hujan gerimis yang turun sejak sore. Dia sudah mengirim pesan, menunggu balasan yang tidak kunjung datang. Konan, seperti yang sudah-sudah, masih tidak ingin bertemu dengannya.
Tapi kali ini, dia tidak akan menyerah begitu saja.
Pintu kaca rumah sakit otomatis terbuka, dan Itachi langsung mengenali sosok perempuan dengan jas dokter yang berjalan keluar. Konan terlihat sedikit lelah, rambutnya diikat longgar, tapi tetap terlihat tenang dan elegan seperti biasa.
Dia berhenti ketika melihat Itachi.
Tatapan mereka bertemu, tapi hanya sekejap. Konan mengalihkan pandangannya dengan cepat dan berusaha melewatinya.
Tapi Itachi lebih cepat.
Dia melangkah ke samping, menghalangi jalannya. "Konan."
Konan diam, hanya menatapnya dengan ekspresi datar.
"Aku sudah menghubungimu beberapa kali," kata Itachi, suaranya lebih tenang dari yang ia rasakan.
"Aku sibuk."
Itachi menghela napas pelan. "Aku ingin bicara."
Konan menatapnya sejenak, lalu melirik ke arah pintu rumah sakit di belakangnya, seakan memastikan tidak ada rekan kerja yang melihat mereka.
"Aku tidak yakin masih ada yang perlu dibicarakan."
Itachi menatapnya dalam. "Kenapa kamu tiba-tiba berubah?"
Konan menghela napas panjang, kali ini ekspresinya sedikit lebih lembut, tapi tetap penuh jarak. "Aku pikir kita sebaiknya tidak melanjutkan ini."
Itachi mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya. "Kenapa?"
Konan tersenyum tipis, tapi bukan senyum yang menyenangkan. "Karena aku tahu bagaimana keluargamu."
Itachi terdiam.
"Aku tahu standar yang mereka tetapkan," lanjut Konan. "Aku tahu apa yang mereka harapkan darimu. Dan aku tahu… aku tidak masuk dalam kategori itu."
"Kamu tahu itu bukan masalah bagiku," Itachi membalas cepat.
Konan tersenyum miris. "Mungkin bukan masalah untukmu, tapi bagaimana dengan mereka? Seberapa jauh kamu bisa melawan keluarga sendiri, Itachi?"
Hening.
Itachi bisa membaca sesuatu di balik kata-kata Konan. Sesuatu yang lebih dari sekadar pemikiran pribadi.
"Kamu bicara dengan seseorang," katanya pelan.
Konan tidak mengangguk, tapi juga tidak membantah.
Dada Itachi terasa sesak. Dia bisa menebak siapa orang itu.
"Jadi… kamu membiarkan orang lain menentukan jalanmu?" Suaranya terdengar sedikit lebih dingin dari yang ia maksudkan.
Konan menatapnya tajam. "Tidak, Itachi. Aku menentukan jalan sendiri. Aku memilih untuk tidak masuk ke dalam lingkaran yang jelas-jelas tidak akan menerima aku."
"Kamu tidak memberiku kesempatan untuk membuktikan sebaliknya."
Konan menghela napas panjang. "Kamu tidak perlu membuktikan apa pun. Aku sudah cukup dewasa untuk tahu kapan harus berhenti sebelum terluka lebih dalam."
Dia melangkah melewati Itachi kali ini, dan pria itu tidak mencoba menghentikannya lagi.
Tapi sebelum Konan benar-benar pergi, dia sempat berbisik tanpa menoleh, "Jangan mencariku lagi, Itachi."
Hujan masih turun ketika Itachi berdiri di tempatnya, merasakan sesuatu yang pahit merayap di dadanya.
Dia tahu ini bukan keinginan Konan sepenuhnya.
Dan dia juga tahu, siapa yang ada di balik semua ini.
.
.
.
.
.
.
Mansion keluarga Shisui berdiri megah di atas bukit kecil, dengan pemandangan kota yang membentang luas di kejauhan. Langit senja mulai berubah warna keemasan ketika Itachi memasuki ruang tamu, disambut dengan pemandangan Shisui yang duduk di sofa, dikelilingi katalog cincin yang berserakan di atas meja kaca.
"Akhirnya pulang juga," Itachi membuka percakapan, melepaskan jasnya dan duduk di seberang Shisui.
Shisui menghela napas, menyandarkan punggungnya ke sofa. "Lu gak tahu, Ta. Kerjaannya sih beres, tapi yang bikin capek itu…" Dia melirik katalog-katalog di depannya, "…ini."
Itachi mengangkat alis. "Lu serius banget, ya?"
"Tentu." Shisui mengambil satu katalog, membuka halaman yang penuh dengan cincin pertunangan elegan. "Gue udah pacaran enam tahun, Ta. Udah waktunya. Gue mau lamaran ini berkesan."
Itachi diam sejenak, memperhatikan bagaimana sahabatnya itu benar-benar memikirkan setiap detail. Shisui yang biasanya santai, sekarang kelihatan serius, bahkan hampir gelisah.
"Kenapa kelihatan ragu?" Itachi bertanya.
Shisui mengusap wajahnya. "Gue takut salah pilih cincin. Gue pengen sesuatu yang cocok sama dia, sesuatu yang bisa bikin dia langsung tahu gue gak main-main."
Itachi menatap katalog di meja, lalu mengambil salah satu dan membukanya. Cincin-cincin di dalamnya berkilau di bawah cahaya lampu, masing-masing punya desain yang unik. Dia membolak-balik halaman dengan tenang, namun pikirannya perlahan-lahan mulai berpindah ke seseorang—Konan.
"Tunggu apa lagi?" Shisui tiba-tiba menutup katalog dan menatapnya tajam.
Itachi menoleh. "Apa maksudmu?"
Shisui menyeringai. "Jangan pura-pura bego. Lu nunggu apa buat serius?"
Itachi diam, tatapannya kembali ke cincin-cincin di katalog. Ia tahu jawaban dari pertanyaan itu, tapi selama ini, selalu ada sesuatu yang menghalanginya untuk bergerak maju. Mungkin kebiasaan mempertimbangkan terlalu banyak hal. Mungkin karena bayang-bayang keluarganya. Atau mungkin… karena dia sendiri yang selama ini takut.
Namun, melihat Shisui, yang begitu yakin dan siap melangkah maju, membuatnya sadar. Dia juga sudah tahu apa yang dia mau. Sejak lama.
"Gue gak bakal nunggu lebih lama lagi," akhirnya, Itachi bersuara. Kali ini, ada ketegasan dalam suaranya.
Shisui terkekeh. "Bagus. Gue harap lu gak cuma omong doang."
Itachi hanya tersenyum tipis, tapi dalam hatinya, dia sudah mengambil keputusan. Jika dia ingin Konan tahu betapa seriusnya dia, maka dia harus membuktikannya. Dengan atau tanpa restu keluarganya nanti, dia akan mengikat Konan dengan caranya sendiri.
Dan kali ini, dia tidak akan membiarkan siapa pun menghalanginya.
Dia harus bergerak sekarang!
.
.
.
.
.
Itachi berdiri di depan pintu kamar rumah sakit, matanya menatap kosong ke arah pintu yang menutup rapat. Dia sudah sering mengunjungi Konan, berharap bisa sedikit memberi kenyamanan, tapi malam itu rasanya berbeda. Itu bukan hanya tentang kesalahan atau penyesalan, tapi ada sesuatu yang lebih dalam yang terasa seperti beban berat di dadanya.
Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya sebelum mengetuk pintu. "Konan," suaranya agak parau, meski dia berusaha terdengar tenang.
Pintu kamar terbuka perlahan. Konan muncul di baliknya, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi jelas, namun matanya menyiratkan keraguan. Itachi merasa hatinya semakin berat, melihatnya seperti itu.
"Kenapa kamu datang lagi?" Konan bertanya, tidak marah, tapi nada suaranya jelas menunjukkan ketegangan yang tersisa di antara mereka.
"Itachi hanya bisa menghela napas. "Karena aku gak bisa diam begitu saja," jawabnya dengan jujur. "Aku paham kalau aku sudah salah, dan aku ingin mengoreksi itu. Aku minta maaf kalau kata-kataku atau tindakanku sebelumnya bikin kamu merasa nggak dihargai."
Konan mengerutkan kening, dia menatap Itachi seperti sedang memikirkan sesuatu, ada keraguan besar di matanya. "Kamu pikir apa yang terjadi itu bisa kumaafkan begitu saja, Itachi?" tanyanya, terdengar serius.
Itachi mendekat perlahan, meski Konan masih terkesan menjaga jarak. "Aku tidak memintamu untuk memaafkan aku langsung," jawabnya. "Tapi aku ingin kamu tahu, aku lebih dari siap untuk bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang aku buat. Aku tidak ingin kehilangan kamu."
Konan terdiam sejenak, matanya tidak lepas dari wajah Itachi. "Kamu… yakin?" tanyanya, suaranya sedikit lebih lembut dari sebelumnya.
Itachi menatapnya, matanya penuh keyakinan. "Lebih dari yakin. Aku tahu ini mungkin nggak mudah buat kamu, tapi aku mau berusaha. Aku ingin kamu jadi bagian dari hidupku, bukan hanya sekarang, tapi untuk jangka panjang. Aku tidak ingin ada keraguan lagi di antara kita."
Konan menunduk, seakan memikirkan kata-kata itu dalam-dalam. Ada perasaan yang berkecamuk dalam dirinya, antara ragu dan harapan yang hampir tak terjangkau. "Tapi, Itachi…" kata Konan pelan, "Aku bukan orang yang gampang dibujuk. Aku harus yakin, kalau kamu benar ingin serius. Ini bukan soal kamu bilang kamu ingin aku di hidupmu, ini soal bukti. Dan aku butuh waktu untuk melihat itu."
Itachi merasa hatiya seakan terangkat. Dia tahu ini bukan soal meyakinkan Konan dalam sekejap, tapi lebih tentang memberi bukti dan kepercayaan yang dibutuhkan. "Aku paham. Aku tidak akan minta kamu percaya begitu saja," katanya. "Tapi aku akan buktikan dengan tindakan, bukan kata-kata."
Konan mengangkat wajahnya perlahan, matanya lebih lembut sekarang, meski masih ada sedikit keraguan. "Itachi…" Konan terdiam sejenak. "Aku… aku ingin percaya padamu. Tapi kamu harus buktikan bahwa kamu bisa menjaga aku. Bukan cuma saat mudah, tapi juga saat sulit."
Itachi mengangguk, senyum kecil menghiasi wajahnya. "Aku akan buktikan itu," jawabnya. "Aku janji."
Setelah beberapa detik hening, Konan akhirnya menghela napas, seolah menurunkan tembok yang sudah dia bangun untuk melindungi hatinya. "Oke," katanya pelan, akhirnya memberikan anggukan setuju.
Itachi merasa sedikit lega, meskipun tahu bahwa perjuangannya baru saja dimulai. Tapi dia yakin, dengan tekad dan komitmennya, dia bisa membuktikan bahwa dia serius.
"Aku akan menunggu," kata Konan akhirnya. "Tapi kamu harus bersiap, karena ini bukan perjalanan yang mudah."
Itachi tersenyum lebih lebar sekarang, dan mendekatkan dirinya ke Konan. "Aku siap," jawabnya dengan tulus. "Aku akan menunggumu, Konan."
Konan mengangguk pelan, lalu perlahan melepaskan pandangannya dari Itachi. "Oke," jawabnya lagi, kali ini dengan sedikit senyum yang tersisa di wajahnya.
Itachi merasa ada harapan baru. Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Yang dibutuhkan sekarang hanya waktu, dan dia siap untuk itu. Konan mungkin belum sepenuhnya membuka diri, tapi setidaknya malam ini, mereka bisa memulai langkah baru bersama.
Dan Izumi...
.
.
.
.
.
.
Izumi semakin terhuyung-huyung di bar, matanya yang semula tajam kini terlihat buram. Minuman keras yang terus mengalir membuat kesadarannya semakin pudar. Ia masih berusaha menahan tangisannya, tapi malam ini, segalanya terasa begitu menyesakkan. Berpikir tentang Itachi yang begitu dekat dengan Konan, dan segala yang telah ia coba untuk memperbaiki kesalahan masa lalu, terasa sia-sia. Izumi merasa dirinya terperosok semakin dalam.
.
.
[Flashback - Hari Kelulusan SMA]
Suasana di halaman sekolah penuh dengan kegembiraan para siswa yang baru saja lulus. Izumi berdiri di tengah keramaian, matanya mencari sosok yang sudah menjadi bagian dari hidupnya selama bertahun-tahun—Itachi. Dan akhirnya, dia menemukannya. Itachi berdiri di sudut halaman, sedikit terpisah dari kerumunan, seperti biasa dengan tatapan yang tenang, hampir tak terpengaruh oleh kegembiraan sekitar.
Izumi menghampirinya dengan langkah ragu, hatinya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia merasa gugup, meskipun dia sudah tahu apa yang akan terjadi. Itachi selalu menjadi sosok yang jauh, meskipun dekat di hati. Dan sekarang, dia merasa seperti ada sesuatu yang tak bisa lagi mereka hindari.
"Itachi," Izumi memanggil dengan suara yang agak gemetar. "Kamu lagi ngapain di sini? Semua orang ada di dalam."
Itachi menoleh pelan, dan untuk pertama kalinya, Izumi melihat ada kehangatan yang berbeda di matanya. Bukan hanya tatapan biasa, tapi sesuatu yang lebih dalam, seolah mengandung perasaan yang selama ini dipendam.
Izumi terkejut ketika Itachi tiba-tiba melangkah mendekat dan berhenti tepat di depannya. Ada ketegangan yang tak biasa di udara antara mereka.
"Izumi…" suara Itachi terdengar lebih serius dari yang biasa. "Aku… selama ini aku berusaha keras untuk nggak ngungkapin perasaan ini ke kamu. Tapi, aku nggak bisa lagi menahan semuanya." Dia berhenti sebentar, mengatur napas, lalu melanjutkan. "Aku suka sama kamu, Izumi. Aku nggak bisa terus-terusan jadi temanmu. Aku ingin lebih dari itu."
Izumi terdiam, tak tahu harus berkata apa. Perasaannya campur aduk. Ada kebahagiaan, ada kebingungannya yang semakin besar. Itachi—Itachi yang selalu ada untuknya, yang selalu perhatian, yang selalu benar-benar baik—ternyata menyimpan perasaan yang selama ini dia abaikan.
Namun, Izumi merasa hatinya berat. Dia melihat Itachi di hadapannya, dan untuk sekejap, rasa cemas dan rasa bersalah itu menguasai dirinya. "Itachi…" Izumi akhirnya berkata dengan suara pelan. "Aku… aku nggak bisa. Kamu terlalu baik buat aku. Aku nggak pantas buat kamu."
Itachi tampak terkejut, namun tetap menjaga ketenangannya. "Izumi, kamu nggak tahu apa yang kamu bicarakan," jawabnya, hampir tanpa emosi. "Aku nggak peduli tentang apa yang kamu pikirkan tentang dirimu. Aku cuma tahu, aku ingin bersamamu."
Izumi menunduk, hatinya terasa seperti tertusuk. "Aku takut, Itachi," jawab Izumi dengan suara lirih. "Aku nggak bisa membiarkan diriku dekat denganmu. Kamu terlalu baik. Aku nggak bisa terima kalau nanti aku mengecewakan kamu."
Itachi terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang. Dia berusaha untuk tidak menunjukkan kekecewaan, tapi Izumi bisa merasakannya. "Izumi…" suara Itachi hampir hilang, namun dia melanjutkan, "Kalau kamu nggak bisa, ya sudah. Tapi aku… aku nggak akan menyerah. Aku suka sama kamu. Dan itu nggak akan berubah."
.
.
.
.
Sasuke berjalan menuju pintu toilet, rekan-rekannya tertawa di belakang, menyelesaikan gelas beer mereka. Namun langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok yang familiar di ujung bar. Izumi, dengan tubuh goyah, duduk sendirian. Wajahnya merah, dan gelas kosong di depannya hampir jatuh ke lantai. Sasuke melangkah mendekat, sedikit cemas, matanya menilai kondisi Izumi.
"Shit," maki Sasuke pelan. Ia memutar otaknya, berpikir cepat. Meskipun Izumi punya masalah besar dengan keluarganya, ia tetap Uchiha, dan Sasuke tahu betul betapa pentingnya menjaga nama baik klan mereka, terlebih lagi di depan rekan-rekan bisnis. Kalau sampai ada yang tahu Izumi dalam keadaan seperti ini… Bisa hancur reputasi keluarga mereka.
Dengan hati-hati, Sasuke mendekati Izumi. "Izumi, ayo," katanya lembut, mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. "Kamu tidak bisa terus di sini, ayo pulang."
Izumi yang tak sepenuhnya sadar hanya mendengus, matanya samar menatap Sasuke. "Sasuke…?" gumamnya, suaranya terputus-putus.
"Ya, aku," jawab Sasuke sekenanya, walau wajahnya terlihat serius. "Ayo, aku antar kamu pulang."
Setelah beberapa usaha, Sasuke berhasil membawa Izumi keluar dari bar dan mengantarnya ke apartemennya.
Izumi, yang benar-benar mabuk, hanya bisa terhuyung-huyung dan mengandalkan Sasuke untuk menuntunnya.
Ketika sampai di apartemen Sasuke, ia membaringkan Izumi di atas kasur, menutupi tubuhnya dengan selimut. Sasuke, meskipun merasa sedikit bingung harus berbuat apa, memutuskan untuk tidur di sofa, meninggalkan Izumi tidur dengan tenang di kamar tidur.
Namun, ia tidak menyadari bahwa malam itu, ia telah membuat kesalahan besar.
Sasuke tertidur di sofa, sementara Izumi, yang perlahan-lahan mulai sadar, melihat ke sekeliling. Tiba-tiba matanya terfokus pada Sasuke yang masih tidur, tubuhnya bersandar di kasur.
Izumi, dengan kesadarannya yang mulai pulih, merasa aneh dengan situasi ini, tapi kemudian, dia... mendapat ide nakal.
Dengan perlahan, ia meraih ponselnya dan mulai memotret Sasuke yang tidur, lalu mengirimkan foto itu kepada Mikoto, ibu mereka, tanpa berpikir panjang. Tertawa geli dengan dirinya sendiri, Izumi merasa seolah-olah inilah momen untuk menunjukkan kepada Mikoto bahwa ia mungkin bisa memiliki perhatian lebih dari Sasuke, meskipun semuanya hanya sebuah kebetulan.
Keesokan harinya, Sasuke terbangun, merasa pusing dan sedikit kebingungan. Begitu ia membuka mata, ia langsung melihat Izumi yang duduk di meja makan, tampak tidak sadar telah melakukan sesuatu yang cukup dramatis semalam.
Sasuke hanya bisa menghela napas panjang, merasa bodoh karena tidak menghubungi Itachi atau siapapun yang bisa membantunya menangani Izumi. Namun, ia tidak tahu bahwa hal ini justru akan menambah kerumitan dalam hubungannya dengan keluarga Uchiha.
Di sisi lain, Mikoto, yang menerima foto itu, mulai berpikir berbeda. Ia menilai bahwa Izumi akhirnya berhasil mendekati Sasuke, bahkan tanpa mereka berdua sadar. Dan dari situlah, masalah besar mulai berkembang.
.
.
.
.
.
to be continued
.
Author's Words:
well, jelas, sejak awal drama ini mulai, sudah w putuskan ini bakal jadi sejenis drama sinet wkwkkwkwkwk. untuk scene Itachi sama Shisui, please aku ga bisa bikin mereka berinteraksi tanpa ngasih feel nyantai dan agak slengean. jadi kubikin emang mereka kalo ngomong dari dulu pakenya informal banget, 'lu gue', anggap aja gitu. bro betttt dah. yes, jangan bunuh w bikin Izumi yang di anime manis dan baek bener kek malaikat jadi evil di sini, hiks. soalnya pengen ItaKonan. aku udah lama suka crack satu ini, beberapa kali baca fic-fic yang masangin mereka berdua. dan sekarang pengen bikin sendiri khukhukhu.
dan yang terakhir itu... hmngg, no further explanation deh, wkwk.
thanks for reading!
