Chapter IV
AKU MENEMUKAN BUNKER RAHASIA
.
.
Suasana malam itu terasa hangat dan menyenangkan.
Para pekemah terlihat saling bercanda tawa sambil mengobrol di bawah bendera panji-panji tiap kabin. Suara alunan seruling dan juga petikan gitar menggema di dalam amfiteater itu. Kami berkumpul mengelilingi sebuah api unggun dengan sebuah plakat bertuliskan 'PERAPIAN HESTIA'.
Aku melihat Leo tampak saling bersenda gurau bersama dengan anak-anak lain dari kabinku, terkadang juga sambil menjahili anak-anak dari kabin lain ̶ dari sini aku tidak bisa membedakan apakah dia anak Hephaestus atau malah anak Hermes ̶ seraya menceritakan petualangannya bersama Calypso. Aku hanya bisa tersenyum saja melihat pemandangan itu.
Kemudian, aku mengingat jika aku membawa sebuah cetak biru yang aku temukan di dalam kabin. Aku merogoh sakuku dan mengeluarkan kertas cetak biru itu. Aku meneliti lebih dalam cetak biru dari perisai itu, bagaimana sistem mekanis yang ada di dalamnya, bahan apa saja yang dibuatnya, dan lain sebagainya.
"Jika kau seperti itu, kau malah mirip seperti putra Athena." Sebuah suara terdengar di telingaku dan aku pun menoleh.
Aku melihat seorang pemuda dengan rambut pendek sebahu berwarna cokelat kusut, mata berwarna coklat yang teduh dan kulit sawo matang. Pemuda itu memiliki tubuh lumayan kekar dengan beberapa bagian tubuhnya seperti ditutupi oleh jelaga. Ia mengenakan sebuah kaos jingga bertuliskan 'PERKEMAHAN BLASTERAN' dengan lengan tergulung ke atas dan celana pendek flannel berwarna cokelat.
"Kenapa bisa begitu?" tanyaku.
"Hanya putra-putri Athena yang meneliti desain cetak biru hingga benar-benar detail sepertimu," ujarnya. "Oh ya, namaku Wesley Koop, seperti yang kau lihat, aku juga putra Hephaestus. Senang bertemu denganmu."
"Aku juga," balasku singkat.
Ia pun mendudukkan diri di sebelahku. Matanya tidak lepas dari cetak biru yang kupegang. "Memangnya ada sesuatu yang kau pikirkan terkait perisai itu?" tanyanya.
"Sedikit." Aku menunjuk beberapa detail dari perisai itu. "Aku hanya kepikiran apakah aku bisa membuat perisai ini layaknya perisai Captain America di komik Marvel."
Wesley tampak berpikir sejenak. "Itu bisa saja jika kita memakai campuran logam lain yang memiliki sifat elastisitas yang lebih tinggi daripada Perunggu Langit. Mungkin kita bisa mencobanya besok, tapi sebelum itu kita harus minta izin terlebih dahulu pada Percy," katanya.
"Kenapa Percy?" tanyaku.
"Aku ingat kalau cetak biru ini adalah desain yang dibuat oleh saudara tiri dari Percy, Tyson. Waktu itu Tyson bersama dengan Beckendorf, mantan konselor kabin Sembilan terdahulu, melakukan proyek ini sebelum Tyson dan Percy pergi ke Lautan Monster beberapa tahun yang lalu," jelasnya.
"Begitu." Aku menatap desain itu dengan lekat-lekat. Tiba-tiba aku terpikirkan oleh sesuatu. "Ngomong-ngomong, kau tahu di mana Tyson berada?"
"Entahlah." Wesley beranjak dari tempat duduknya. "Bisa saja dia sedang berada di Istana Poseidon. Kudengar dia sekarang menjadi Jendral para Cyclops dan memiliki kedudukan yang cukup tinggi di Penempaan para Cyclops."
Aku hanya bisa mengangguk. Mungkin suatu saat, aku bisa bertemu dengan si Tyson ini untuk mempelajari desain itu. Ada beberapa ide di kepalaku yang ingin kuterapkan pada perisai itu, namun aku tidak yakin apakah aku bisa menerapkannya atau tidak.
'Sepertinya aku harus menunggu besok pagi,' pikirku.
Tak lama kemudian, Chiron menyuruh kami semua untuk tidur ke kabin masing-masing. Aku hanya mengikuti ke mana saudara-saudara sekabinku pergi. Dari kejauhan, aku melihat ibuku tersenyum manis kepadaku sebelum beliau mengikuti Chiron kembali ke Rumah Besar.
.
.~.
.
'Ah … di mana lagi aku ini?' pikirku ketika melihat pemandangan dalam mimpiku ini.
Aku kini berada di suatu pulau yang luas yang penuh dengan reruntuhan bangunan-bangunan kuno. Aku bisa melihat reruntuhan pilar-pilar marmer putih yang telah menguning di makan oleh zaman. Kemudian, aku melihat seekor keledai dari balik reruntuhan.
Keledai itu berwarna cokelat kehitaman dengan surai berwarna hitam. Kaki kanan belakang dari keledai itu terlihat terluka parah sehingga keledai itu berjalan pincang. Keledai itu mengenakan pelana berkantung yang biasa digunakan untuk membawa barang. Pada salah satu kantung pelana itu, aku melihat sebuah palu godam emas yang berkilauan. Palu itu terbuat dari emas yang bercahaya dengan ukiran-ukiran huruf yunani kuno berada di bagian besinya.
Namun tak lama kemudian, aku bisa melihat bahwa langit tiba-tiba mulai berubah menjadi gelap. Angin berhembus dengan keras bersamaan dengan pandanganku yang berubah menjadi gelap gulita. Kemudian, aku bisa mendengar suara bisikan yang berkata, "Dewa Penempa kehilangan palunya. Api Penempaan perlahan padam. Olympus kehilangan persenjataan melawan kami."
Setelah itu, aku melihat bahwa keledai itu terjatuh dari tempat dia berdiri. Palu yang berada di dalam kantung itu telah menghilang. Aku bisa mendengar kalau keledai itu berkata dengan lirih, "Naruto … Naruto …"
Hal itu membuatku terbangun dari tidurku. Aku melihat ke sekeliling bahwa aku berada di kamar bawah tanahku yang berada di dalam Kabin Sembilan. Aku pun menekan tombol yang ada di dekat tempat tidurku sehingga membuat tempat tidurku naik ke ruang utama.
'Ternyata sudah pagi," pikirku setelah mengecek ke arah jendela dan mendapati matahari sudah mulai terbit dari timur.
Aku mengawali pagi itu dengan mengecek beberapa desain cetak biru yang ada di meja kerja utama kabinku. Ada beberapa desain yang sedikit menarik perhatianku dan ingin aku coba. Salah satunya adalah cetak biru perisai yang sempat kudiskusikan bersama Wesley. Kemudian, aku bersama seluruh anggota kabin Sembilan berjalan bersama menuju Paviliun Makan saat terompet dibunyikan.
Seperti biasa, kami memuja Dewa-Dewi sebelum kami menyantap makanan kami. Setelah sarapan, kami pun menjalankan aktivitas kami masing-masing. Aku juga mengikuti beberapa pelatihan yang ada di dalam perkemahan, seperti Pembelajaran terkait Mitologi Yunani dan Bahasa Yunani Kuno yang diajarkan oleh Malcolm, putera Athena.
Kemudian, aku mengikuti berlatih pedang yang dipimpin langsung oleh Percy yang sudah menjadi instruktur pedang selama empat tahun setelah ditinggalkan oleh Luke Castellan. Namun entah mengapa, semua pedang latihan yang kugunakan terasa tidak cocok denganku. Entah apakah pedang itu terlalu berat, terlalu panjang atau hal-hal lain yang terasa tidak pas denganku.
"Hmm … aku tidak menyangka bahwa aku akan bertemu dengan orang yang memiliki kasus yang sama sepertiku sebelumnya," ujar Percy.
"Kau pernah mengalami hal ini?" tanyaku.
"Tentu saja. Aku mengalami hal ini sebelum aku mendapatkan pedangku yang sekarang."
Kemudian, ia mengeluarkan sebuah pulpen dari sakunya. Pulpen itu terbuat dari perunggu yang sama seperti Perunggu langit. Pada bagian sampingnya, terdapat tulisan Yunani kuno bertuliskan Anaklusmos. Ia pun membuka penutup pena itu dan pena itu berubah menjadi sebuah pedang perunggu bermata dua dengan genggaman berbalut kulit dan gagang datar yang dipaku dengan kancing emas.
Pedang itu berukuran sekitar tiga kaki panjangnya dan memiliki berat sebesar lima pound, serta pedang itu terlihat memiliki keseimbangan yang sempurna untuk Percy. Ia memperlihatkan pedang itu kepadaku.
"Sebelum aku menggunakan pedang ini, aku juga kesulitan untuk menemukan pedang yang pas untuk kugunakan. Bahkan Luke ̶ putra Hermes dan mantan instruktur pedang perkemahan ini ̶ pernah mengatakan bahwa suatu saat aku akan menemukan pedang yang cocok denganku. Kemudian pada misi pertamaku untuk mencari Master Bolt Zeus yang dicuri, Chiron memberikan pedang ini kepadaku."
Kemudian, ia menutup kembali pedangnya dan pedang itu berubah kembali menjadi pulpen. "Chiron bilang bahwa pedang ini merupakan pemberian dari Ayahku. Mungkin jika kau masih belum memiliki senjata yang sekiranya cocok dan seimbang denganmu, maka kemungkinan terbesar kalau Ayahmu atau bahkan Kakekmu telah menyiapkan sesuatu untukmu," jelas Percy.
Aku hanya mengangguk saja. Setelah pelatihan pedang yang dipimpin oleh Percy, aku langsung menuju ke arah penempaan. Dari luar, penempaan itu terlihat dilapisi oleh tiang-tiang marmer berwarna putih. Cerobong asapnya selalu mengepulkan asap di atas atap pelana dengan ukiran Para Dewa dan Monster. Penempaan itu terletak di tepi sungai, dengan kincir air yang memutar roda gigi perunggu.
Aku bisa mendengar bahwa penempaan itu sangat ramai, mulai dari suara mesin yang bekerja, derak api yang menyala-nyala hingga suara palu yang berirama saat menghantam logam. Ketika aku sampai di dekat pintu, aku melihat Nyssa sudah berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang.
"Akhirnya kau datang juga. Ayo!" serunya.
Ia membawaku masuk ke dalam dan aku melihat semua orang tengah sibuk dengan proyek masing-masing. Dinding bagian dalam penempaan itu terlihat dipenuhi dengan jelaga, namun di dinding bagian tengah, aku bisa melihat sebuah peta besar yang menggambarkan denah perkemahan. Aku menemukan banyak sekali coretan pada peta itu.
"Beberapa waktu yang lalu, kami menemukan sebuah automaton yang berbentuk naga perunggu yang besar. Pada saat kami menyalakannya, naga itu malah mengamuk dan menghilang di hutan sekitaran perkemahan," jelas Nyssa sambil menunjuk ke arah peta tersebut.
Namun suara lain ikut terdengar, "Tapi setelah itu aku datang dan memperbaikinya hingga akhirnya aku membawa naga itu untuk misi pertamaku untuk menyelamatkan Hera."
Aku menoleh dan melihat Leo tersenyum ke arahku. Ia kini mengenakan sebuah kaus berwarna putih yang kini sudah terlumuri dengan minyak dan oli, celana pendek flannel yang memiliki banyak kantung dan tas pinggang yang melingkari pinggangnya.
"Selamat datang di Penempaan, Naruto. Di sinilah segala macam senjata dan alat untuk perkemahan dibuat." Ia berkata dengan antusias.
Aku melihat ke sekeliling dan mendapati banyaknya meja proyek di dalam sana, belum lagi terdapat banyak rak yang berjejer berisikan senjata yang sudah jadi maupun yang baru setengah jadi.
Kemudian Leo berkata, "Aku akan mengajakmu berkeliling tempat ini, Naruto. Tapi sebelum itu …" ia menoleh ke arah Nyssa. "… kau bisa kembali ke proyekmu, Nyssa. Aku akan menangani hal ini."
"Tentu saja," balas Nyssa. "Lagipula aku hanya sebagai konselor pengganti jika kau tidak ada di perkemahan."
Leo hanya terkekeh. Setelah itu, Nyssa pergi meninggalkan kami berdua sehingga aku pun berkeliling bersama Leo. Ia menunjukkanku berbagai ruang dan sisi dari penempaan itu. Bahkan ia menunjukkanku kincir air penempaan yang ternyata tersambung pada sebuah generator ̶ sekarang aku tidak perlu bertanya bagaimana mereka menggerakkan mesin-mesin penempaan itu.
Kemudian, ia tiba-tiba saja mengajakku keluar penempaan dan pergi ke suatu tempat. Kami menyusuri ke dalam hutan hingga sampai pada sebuah tebing batu kapur. Tebing itu lumayan tinggi, mungkin kurang lebih tujuh puluh kaki. Di sekitarnya, aku bisa melihat beberapa pohon yang sedikit terbakar.
"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanyaku.
"Aku sempat merasakan kalau kamu memiliki kemampuan khusus sepertiku," balas Leo dengan tatapan serius.
Aku mengernyitkan dahi. "Kemampuan khusus?"
Ia menjulurkan tangan kanannya ke arahku dan membuka telapak tangannya. Tiba-tiba saja api menyala dari tangannya yang membuatku terkesiap. Setelah menyala cukup lama, ia menutup telapak tangannya dan seketika itu juga api di tangannya padam.
"Apa itu?" tanyaku.
"Kemampuan khusus yang sangat jarang ditemukan pada Putra Hephaestus," balas Leo singkat. "Kalau kata Ayah sendiri, perbandingannya hanya satu berbanding seribu. Belum lagi banyak yang mengatakan bahwa kekuatan ini sendiri bagaikan kutukan."
"Kutukan?" tukasku sambil mengernyitkan dahiku.
"Kebanyakan Putra Hephaestus yang memiliki kemampuan ini tidak bisa mengendalikan kekuatannya dan mengakibatkan kekacauan dan kerusakan yang sangat fatal. Aku pernah tanpa sengaja membunuh ibuku karena tidak bisa mengendalikan kekuatan itu," kata Leo sambil sedikit menunduk. Aku bisa sedikit merasakan nada sedih dalam kata-katanya.
Tapi dia langsung mengangkat kepala sambil tersenyum. "Yah sudahlah, toh itu juga salah Gaea yang sedikit memprovokasiku," tukasnya lagi.
"Maaf jika itu membuka luka lamamu," kataku.
"Hei! Tidak masalah kawan!" Leo berseru sambil menyunggingkan seringai jahilnya. "Lagipula setelah kejadian itu aku mengetahui jati diriku yang sesungguhnya dan akhirnya aku berhasil menyelamatkan dunia bersama sahabatku."
Aku hanya mengangguk kecil. Aku sempat mendengar cerita bahwa Leo memang tipikal orang yang akan memendam perasaannya sendiri di dalam topeng kejenakaannya. Mungkin itu adalah salah satu bentuk cara dia untuk menjaga mentalnya agar tidak terlalu hancur.
"Sampai mana kita tadi? Oh ya … aku juga merasakan kalau kau mempunyai kemampuan itu. Apakah kau mengingat suatu kejadian yang berhubungan dengan api?" tukasnya.
Aku berusaha mengingat-ingat kembali. "Kalau tidak salah pada saat aku waktu kelas dua, aku tanpa sengaja membakar seisi kelasku. Untung saja tidak ada korban jiwa saat itu."
"Kau beruntung kalau begitu." Leo kemudian berbalik ke arah tebing kapur itu. "Kemampuan api yang kita miliki adalah berkah yang sangat langka di antara semua putra-putri blasteran milik Hephaestus. Bahkan ada yang berkata jika Putra Hephaestus dengan berkah api yang langka muncul, maka itu menjadi pertanda bahwa sebuah kejadian yang besar akan terjadi."
Ia kembali mengulurkan tangannya, namun kali ini ia mengulurkan tangannya ke arah tebing kapur itu. Ia tampak berkonsentrasi sambil memejamkan mata. Kemudian, semburan api muncul dari tangannya dan mengarah ke salah satu celah di tebing kapur itu.
Tiba-tiba saja, aku mendengar suara mesin berderak nyaring dari dalam tebing kapur itu. Tebing batu kapur itu pun terbelah menjadi dua layaknya sebuah pintu otomatis. Kami berdua masuk ke dalam dan mendapati bahwa tempat itu terlihat seperti sebuah hangar pesawat. Rangka bangunan itu terbuat dari kayu yang kokoh.
Di dalam tempat itu, aku bisa menemukan beragam peralatan, mulai dari mesin gerinda, obeng beragam ukuran, bahkan peralatan-peralatan berat macam gergaji mesin ada di sana. Selain itu, aku juga melihat berbagai macam senjata, skema dan berbagai rencana desain mesin tergeletak di mana-mana. Tanpa sengaja, mataku melihat beragam gulungan yang terlihat kuno berada di atas sebuah meja kerja.
Aku mengambil salah satu gulungan itu serta melihat di sudut salah satu gulungan itu bertuliskan sesuatu dalam Bahasa Yunani Kuno.
'Αρχιμήδης'
"Archimedes," ujarku saat membaca tulisan itu.
Leo mengangguk. "Itu memang gulungan-gulungan penelitian yang diciptakan oleh Archimedes, salah satu saudara kita di masa kuno. Aku menemukan mereka bersama beberapa penemuannya waktu menjalankan misi di Roma saat mencari Athena Parthenos," balasnya.
Aku meletakkan gulungan itu. "Di mana kita sebenarnya, Leo?"
"Selamat datang di Bunker Sembilan, Saudaraku!" seru Leo sambil membentangkan kedua tangannya. "Di sinilah bengkel rahasia yang dimiliki oleh Kabin Sembilan berada."
"Bengkel rahasia?" tanyaku sambil mengernyitkan dahiku.
"Iya," tukas Leo. Kemudian ia menunjukkan peta Perkemahan yang ada di Bunker itu. Aku melihatnya dan terlihat bahwa peta itu dibuat pada tahun 1861. "Bunker ini dibangun pada masa Perang Sipil Amerika. Kebetulan sekali bahwa perang itu juga ditengarai oleh perselisihan antara Demigod Romawi dan Yunani."
Aku terdiam sejenak dan berkata, "Dendam Aeneas, kah?"
"Hmm?" Leo mengedip bingung. "Apa maksudmu?"
"Kalau tidak salah, Bangsa Romawi merupakan keturunan dari Aeneas ̶ salah satu jenderal dan Pangeran Troya ̶ yang melarikan diri setelah Troya kalah melawan Yunani. Secara tidak langsung, Aeneas masih memiliki dendam terhadap Bangsa Yunani dan akhirnya terjadi perselisihan antara Yunani dan Romawi," jelasku.
"Yah … begitulah." Leo berkata dengan tidak yakin. "Kawan … jika aku tidak mengenalmu, aku pasti menyangka bahwa kau adalah Putra Athena dan bukannya Putra Hephaestus."
"Terlihat seperti itu, kah?" tanyaku. Kemudian tanpa sengaja aku melihat sesuatu yang tertutupi oleh kain panjang berwarna putih yang ada di sudut bunker itu. Ada sesuatu yang terasa seperti menarikku ke benda itu. Aku berjalan ke arah benda yang tertutupi kain itu dan menyingkap kain putih itu.
Aku melihat sepasang sayap yang terbuat dari Perunggu langit dengan motif seperti burung Falcon tersampir pada sebuah etalase. Masing-masing sayap tergantung di etalase gantungan yang terbuat dari besi itu, sedangkan tidak jauh dari sepasang sayap itu, aku bisa melihat sebuah kotak layaknya sebuah tas ransel dengan dua buah lubang di salah satu sisinya layaknya sebuah knalpot. Detail dari setiap sayap itu terlihat sangat jelas bahkan hingga ke tiap-tiap helai bulunya.
"Aneh," kata Leo. "Aku tidak pernah melihat benda ini sebelumnya. Apakah mungkin salah satu dari saudara kita ada yang meninggalkannya di sini?"
"Bagaimana mungkin?" tanyaku. "Bukankah pintu bunker ini bisa dibuka hanya dengan kekuatan api milik keturunan Hephaestus? Kau bilang kemampuan itu sangat langka."
Kemudian, ia menunjuk ke arah sudut yang lain. Aku melihat dua buah pintu tingkap yang terbuat dari kayu. "Kedua pintu tingkap itu mengarah ke terowongan yang terhubung dengan Kabin Sembilan dan Penempaan. Aku membuat itu sehingga saudara-saudara kita yang lain bisa membantuku untuk merancang Argo II tanpa harus melalui pintu depan," tukasnya.
Aku hanya mengangguk dan kembali melihat ke arah sepasang sayap itu. Berbagai ide mulai bermunculan di dalam kepalaku untuk mencoba sesuatu bersamaan dengan proyek perisai yang ingin kubuat bersama dengan Wesley.
"Sudah terpikirkan proyek apa yang ingin kau lakukan?" tanya Leo.
"Tentu saja." Aku menjawab dengan singkat. "Sekarang kita mulai dari mana?"
Ia tersenyum dan mulai mengajariku. Kami mulai dari membahas desain dari sepasang sayap itu hingga ke detail-detail terkecil. Kami mulai mengecek ke benda yang mirip tas punggung yang ada di dekat sepasang sayap itu ̶ yang nantinya aku ketahui sebagai sebuah miniatur sistem propulsi ̶ dan mencoba untuk menyatukan benda itu dengan sepasang sayap itu.
Pada awalnya itu cukup sulit, namun ketika kedua putra Hephaestus bekerja saama dalam membuat sesuatu, maka hal yang tidak mungkin menjadi mungkin jika berhubungan dengan mekanik. Kami terus mengerjakan sayap itu hingga suara terompet telah bergema, menandakan waktu makan malam sudah dimulai.
Aku dan Leo pun membereskan pekerjaan kami dan langsung beranjank dari bunker itu menuju ke perkemahan.
