.

Sedetik Sebelum Fajar

.

Catatan: Family / Angsty sebagai genre utama. Tidak ada profit yang penulis dapatkan dari fiksi Naruto ini, kecuali hobi yang tersalurkan dengan bahagia. Naruto belongs to Masashi Kishimoto. AU; setting masa kini, di pinggiran Jakarta, sehingga tutur kata menyesuaikan.

Selamat Membaca!

-nao kamiya-

.

.

.


Bab 000


Jakarta Utara, gang sempit yang bahkan motor pun harus pelan saat melintas. Di sanalah rumah kecil bercat biru pudar itu berdiri, saksi bisu segala derita dan cinta yang bercampur jadi satu dalam hidup Sakura. Gadis berusia dua puluh empat tahun itu duduk di lantai ruang tengah yang dingin, ditemani setumpuk tagihan dan selembar slip gaji dari pekerjaannya sebagai staff administrasi di sebuah perusahaan pembiayaan kendaraan.

"Rp4.800.000," gumamnya pelan. Jumlah itu tidak berubah sejak satu tahun terakhir. Seolah hidupnya stagnan, sementara kebutuhan terus tumbuh tanpa ampun.

"Sasori… jual rice cooker lagi," suara Gaara memecah kesunyian.

Sakura mendongak. "Yang benar, Gaara?"

Gaara mengangguk pelan, wajahnya yang masih remaja namun penuh kelelahan itu menunduk. "Barusan aku lihat postingan OLX, dan itu sama persis kayak punya kita."

Sakura menutup matanya. Nafasnya berat. Tangannya gemetar menahan emosi yang tidak tahu harus dilampiaskan ke mana. Sasori. Kakaknya. Tiga tahun lebih tua darinya, tapi sejak mama meninggal setahun lalu, justru dia yang menjadi beban.

Dulu, saat masih kecil, Sasori adalah kakak yang ia banggakan. Pandai menggambar, sabar menghadapi Sakura kecil yang cerewet, dan pelindung tangguh dari ejekan anak-anak sekitar soal ayah mereka yang meninggal karena kecelakaan kerja di pelabuhan. Tapi sekarang, Sasori adalah sosok yang sama sekali asing. Dingin. Misterius. Kadang baik, kadang seperti orang asing yang tidur di rumah mereka hanya karena tidak punya tempat lain untuk pulang.

"Sakura," suara Gaara lirih, "apa kita bisa beli rice cooker baru bulan ini?"

Pertanyaan sederhana yang terasa seperti tamparan. Sakura hanya diam. Lalu perlahan menggeleng. "Maaf, Gaara. Kayaknya belum bisa."

Gaara tidak mengeluh. Seperti biasa, ia hanya mengangguk dan masuk ke kamarnya. Bungsu itu adalah pelipur laranya. Satu-satunya alasan Sakura masih bisa bangun setiap pagi dan menahan air mata yang menumpuk di dada.

Sakura meraih ponselnya. Notifikasi WhatsApp dari grup kantor berdering. Isinya obrolan receh soal liburan akhir pekan. Ia hanya menatap layar itu tanpa minat. Tapi satu pesan pribadi membuatnya ragu untuk membuka.

Naruto: Sakura, kamu hari ini oke? Aku lihat kamu lelah banget tadi. Jangan lupa makan, ya.

Sakura menatap nama itu cukup lama. Naruto. Rekan kerja di bagian marketing yang baru pindah dari cabang Surabaya beberapa bulan lalu. Ramah, blak-blakan, dan selalu punya energi seperti orang habis mandi air es. Sakura tidak pernah menyangka Naruto akan menyapanya, apalagi memperhatikan kondisinya.

Ia mengetik pelan.

Sakura: Makasih. Aku oke. Cuma lagi banyak pikiran.

Balasan datang cepat.

Naruto: Kalau kamu butuh ngobrol, aku siap dengerin. Serius. Aku tahu muka orang yang sedang meledak tapi pura-pura senyum.

Sakura menelan ludah. Entah kenapa, pesannya membuat dadanya hangat. Tapi ia tidak ingin berharap. Tidak lagi.

Besoknya di kantor, Naruto menyambutnya dengan dua gelas kopi. "Yang satu buat kamu. Gak bisa bantu banyak, tapi kopi gratis dari marketing siapa tahu bisa mencerahkan harimu yang kelabu."

Sakura tersenyum. Pertama kali dalam seminggu. "Thanks. Aku butuh ini."

Hari itu, mereka mengobrol sedikit lebih lama di pantry. Naruto tidak bertanya banyak, hanya bercerita tentang klien rewel dan hujan yang membuatnya telat meeting. Tapi dari caranya melihat Sakura, dari tatapan itu, terasa bahwa dia benar-benar peduli. Bukan hanya basa-basi kantor.

Beberapa minggu berlalu. Dan di satu malam yang dingin, Sakura pulang dan mendapati TV mereka raib.

"TV-nya… ke mana?" tanyanya pelan pada Sasori yang duduk di sudut, menunduk seperti anak kecil ketahuan mencuri.

"Aku… butuh dana cepat," jawab Sasori. "Aku mau balikin. Aku janji. Aku cuma… butuh sedikit keberuntungan, Sak."

"Judi lagi?" suara Sakura naik satu oktaf. "Kamu tahu itu haram, Sasori! Kita gak punya apa-apa lagi!"

"Aku gak sengaja! Aku cuma… aku bingung, Sakura! Aku ngerasa gagal! Aku seniman! Siapa yang mau bayar patung sekarang?!"

"Gaara butuh kamu. Aku butuh kamu. Tapi kamu selalu lari," ucap Sakura dengan mata berkaca-kaca.

Sasori diam. Malu. Marah pada dirinya sendiri. Tapi tetap diam.

Esoknya, Naruto mendapati Sakura di pantry dengan mata sembab. Ia tidak tanya banyak, hanya menyodorkan tisu dan berkata pelan, "Boleh aku tahu masalahnya? Atau kamu mau simpan sendiri selamanya?"

Dan untuk pertama kalinya, Sakura membuka semuanya. Tentang ibunya yang sudah tiada. Tentang Sasori yang kecanduan. Tentang Gaara dan impiannya yang ingin ia perjuangkan mati-matian. Tentang dirinya yang bahkan tak punya waktu untuk bermimpi.

Naruto mendengarkan. Tanpa menghakimi. Lalu ia berkata dengan sangat serius, "Kalau aku bilang… aku mau bantu kamu, bukan karena kasihan, tapi karena aku ingin jadi bagian dari hidup kamu, kamu akan bilang apa?"

Sakura menatapnya lekat-lekat. Dan untuk sesaat, ia merasa… mungkin tidak harus memikul semua sendirian.

Naruto datang ke rumah Sakura dua hari kemudian. Bertemu langsung dengan Sasori. Laki-laki yang lebih kurus dari bayangannya, dengan mata yang terlalu tua untuk usianya.

"Apa kamu tahu adikmu nyaris bunuh diri karena lelah?" tanya Naruto dengan suara pelan namun menusuk.

Sasori tertunduk. "Aku tahu aku sampah."

"Tapi kamu masih bisa bangkit."

Naruto lalu memperkenalkan Sasori pada temannya, Kankurou, pemilik studio seni kecil di Kemang. Kankurou menyukai beberapa hasil karya Sasori yang ditunjukkan Naruto lewat foto.

Dari situ, pelan-pelan, Sasori mencoba berubah.

Dan Gaara? Ia mulai menghormati Naruto, pria yang datang seperti badai tapi membawa ketenangan. Bahkan suatu malam, ia berkata pada Sakura, "Kalau nanti Kak Naruto jadi kakak ipar aku, aku gak nolak, loh."

Sakura tertawa, untuk pertama kalinya, tanpa beban.

;-;-;-;