.

Sedetik Sebelum Fajar

.


Bab 1


Tak ada yang benar-benar sembuh dari kehilangan. Kita hanya belajar berdamai dengan kekosongan.

Jam dinding di ruang tengah berdetak lambat. Suara detaknya beradu dengan gesekan hujan di atap seng yang sudah berkarat di beberapa sisi. Udara malam menyusup lewat celah-celah ventilasi yang tak pernah diperbaiki sejak terakhir kali mama masih hidup. Sakura duduk bersandar di dinding, lututnya ditarik ke dada, dan matanya menatap ke arah kusen pintu yang kosong. Di situlah dulu alm. mama biasa berdiri, menyambutnya pulang dari kantor dengan senyum kecil dan teh hangat.

Sekarang, hanya dingin yang menyambut.

Ia sudah terlalu terbiasa dengan kesepian. Terbiasa tidur dalam kelelahan yang nyaris mematikan, terbiasa bangun dengan kepala berat karena mimpi buruk tentang tagihan listrik yang melonjak atau laporan keuangan yang salah input. Tapi yang paling ia benci bukan kelelahan itu. Yang paling menyesakkan adalah rasa putus asa yang diam-diam menggerogoti dari dalam, pelan-pelan, seperti rayap yang mengunyah kayu sampai rapuh.

Sasori tidak pulang malam itu.

Sudah tiga hari. Biasanya, kalau sudah seperti ini, berarti ia kalah. Lagi. Dan sedang menenangkan diri entah di mana, mungkin di warung kopi yang buka 24 jam atau di studio kecil milik temannya. Sakura sudah tidak tahu. Atau mungkin, sudah tidak ingin tahu. Tapi hati kecilnya tetap menunggu, karena satu-satunya hal yang lebih menyakitkan daripada kehilangan adalah berpura-pura tidak peduli.

Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu. Sekali. Lalu dua kali. Sakura buru-buru bangkit, pikirannya langsung pada kemungkinan terburuk—Sasori mabuk, atau penagih utang.

Tapi bukan. Yang berdiri di depan pintu adalah Naruto, lengkap dengan jas hujan plastik tipis dan kantung kresek besar di tangannya.

"Kamu belum makan, kan?"

Sakura terpaku. Hujan memantulkan cahaya lampu jalan ke wajah Naruto yang basah. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang membuatnya ingin menangis, tapi juga merasa aman.

"Kenapa kamu ke sini?"

Naruto tersenyum tipis. "Karena aku tahu kamu gak akan cerita kalau aku cuma tanya lewat chat."

Sakura membuka pintu, sedikit ragu. Naruto masuk, melepas sandal dan jas hujannya, lalu menyerahkan kantung plastik itu padanya.

"Nasi goreng ayam, dua porsi. Satunya buat adikmu. Katanya dia suka pedas."

Sakura tak langsung menjawab. Tangannya menerima bungkusan itu, tapi matanya masih menatap pria di hadapannya seolah mencoba membaca maksud di balik kebaikannya.

"Terima kasih."

Naruto duduk di lantai, punggungnya bersandar di dinding seperti anak kos yang pulang ke indekos setelah hujan-hujanan. "Rumah kamu… kecil, ya. Tapi hangat."

Sakura menghela napas. "Kadang gak terasa hangat, kalau banyak diam-diam yang menyakitkan di dalamnya."

Naruto menoleh. "Kamu gak harus pura-pura kuat terus, Sak."

Ucapan itu, begitu sederhana, tapi berhasil membuat mata Sakura basah. Ia duduk di samping Naruto, lalu membuka nasi goreng itu pelan. Wangi bawang putih dan kecap menguar, membuat perutnya yang kosong sejak siang langsung memberontak.

Naruto menunggu Sakura makan duluan. Setelah satu suap masuk ke mulutnya, baru ia ikut makan. Mereka tidak banyak bicara. Tapi keheningan malam itu seperti selimut, menenangkan dan memeluk luka yang lama tak disentuh.

Keesokan paginya, Sasori pulang. Dengan mata sembab dan tubuh yang menggigil karena kehujanan semalaman. Ia tidak membawa apa-apa, tidak juga permintaan maaf.

Sakura tidak menyapanya.

Tapi Naruto—yang ternyata menginap di sofa ruang tengah—berdiri dan menatap pria itu tanpa takut.

"Kita harus bicara," katanya singkat.

Sasori mengangkat alis, heran. Tapi Naruto tidak menunggu izin. Ia mengajak Sasori duduk di bangku kayu teras, masih dalam sisa dinginnya pagi yang belum sepenuhnya pergi.

"Lu tahu nggak, Sa, hidup adik lu itu kayak apa sekarang?"

Sasori hanya diam. Menunduk. Jemarinya menggenggam lutut, bergetar sedikit karena kedinginan atau karena malu—ia pun tak tahu pasti.

"Dia kerja banting tulang, makan cuma sekali sehari biar tagihan kalian kebayar. Gaara nyaris gak bisa sekolah karena gak ada biaya. Lu di mana?"

"Gue tahu," jawab Sasori pelan. Suaranya berat. "Gue tahu semuanya."

"Kalau tahu, kenapa gak berhenti?"

"Gue… gue pengen bisa kasih mereka sesuatu. Gue gak punya ijazah, kerjaan gak tetap. Gue pikir… kalau gue menang judi, bisa nutup semuanya."

Naruto menghela napas, nadanya berubah jadi lebih tenang. "Itu bukan solusi, Sa. Itu pelarian. Dan lu tahu itu."

Sasori tidak menjawab. Tapi matanya mulai merah. Bukan karena marah, tapi karena malu. Ia tidak pernah merasa lebih kecil dari pagi itu, saat adik perempuannya dijaga oleh pria asing yang bahkan bukan keluarganya, sementara dirinya… bahkan tidak bisa menjaga diri sendiri.

Naruto melanjutkan, "Gue kenalin lu ke seseorang. Namanya Kankurou. Dia punya studio seni. Butuh orang yang bisa bikin patung. Lu mau kerja, dia siap bantu. Tapi cuma kalau lu benar-benar mau berubah."

Sasori mendongak. "Serius?"

Naruto mengangguk. "Tapi jangan pikir ini hadiah. Ini kesempatan terakhir. Lu bisa mulai benerin hidup, atau… ya udah, terusin hidup kayak sekarang, tapi jangan tarik Sakura ke dalamnya."

Sasori mengangguk. Perlahan. Tapi kali ini, dengan keyakinan yang lebih kokoh daripada sebelumnya.

"Aku gak akan sia-siakan," ucapnya lirih. "Terima kasih… Naruto."