.
Sedetik Sebelum Fajar
.
Bab 2
Menerima seseorang dalam hidupmu bukan hanya tentang cinta. Tapi tentang apakah kau bisa membagi luka yang bahkan belum selesai kau jahit sendiri.
Gaara pulang agak larut sore itu. Rambutnya basah karena gerimis kecil yang turun tiba-tiba saat jam pulang sekolah. Ia masuk ke rumah sambil mengibaskan tas dan membuka sepatunya pelan, agar tak menimbulkan suara. Sudah jadi kebiasaannya: masuk pelan, duduk pelan, bahkan bicara pun pelan, seolah tak ingin mengganggu ritme kehidupan yang rapuh di rumah kecil itu.
Tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara tawa dari dapur.
Itu suara Sakura.
Dan satu lagi… yang tidak asing. Naruto.
Gaara berdiri di ambang pintu, mengintip. Ia melihat kakaknya—yang biasanya selalu dengan ekspresi letih—tertawa pelan sambil menyendokkan sup ke dalam mangkuk. Naruto membantu memotong wortel dengan cara yang sedikit konyol, membuat Sakura sesekali mencubit lengan bajunya sambil terkikik.
Pemandangan yang asing. Tapi anehnya, Gaara tidak merasa terganggu.
Ia merasa… hangat.
Sakura jarang tertawa seperti itu. Sejak mama meninggal, yang tersisa darinya hanyalah diam, marah, atau tangis di balik kamar. Naruto—entah bagaimana caranya—berhasil membuat dinding tebal di hati kakaknya retak sedikit demi sedikit.
"Gaara, udah pulang?" panggil Sakura, menyadari kehadirannya.
Ia masuk pelan, menggantung tas di kursi. "Iya. Tumben rame."
Naruto mengangguk santai. "Gue lagi magang jadi sous chef pribadi kakak lu."
"Chef amatiran yang hampir motong jari sendiri," sahut Sakura dengan senyum yang belum sepenuhnya hilang dari wajahnya.
Gaara duduk. Menatap keduanya bergantian. Lalu berkata pelan, "Makasi udah nemenin Kak Sakura."
Naruto menoleh, lalu menepuk bahu Gaara. "Sama-sama. Lagipula… gue juga belajar banyak dari dia. Termasuk dari lu, Gara."
Gaara menaikkan alis. "Belajar apa?"
"Belajar tentang orang yang tahu gimana rasanya gak punya siapa-siapa, tapi masih punya hati buat jagain yang lain."
Gaara diam. Ada benjolan kecil di tenggorokannya yang sulit ia telan. Kata-kata Naruto, meski ringan, seperti menemukan tempat paling rapuh dalam dirinya.
"Kamu tahu… aku gak pernah deket sama Sasori," ucapnya lirih. "Tapi hari ini dia ngajak aku ngobrol."
Sakura menghentikan aktivitasnya. Menoleh cepat. "Ngobrol? Ngomongin apa?"
"Dia bilang… dia mau coba berubah. Dia tahu dia udah nyakitin banyak orang. Dia juga minta maaf."
Naruto tersenyum pelan. "Good. Artinya dia masih punya hati. Dan kadang, itu cukup sebagai awal."
Gaara menatap Naruto. Lebih dalam dari sebelumnya. Lalu dengan nada datar tapi tulus, ia berkata, "Kalau nanti Kak Naruto nikah sama Kak Sakura… aku gak keberatan."
Sakura tersedak supnya. "Gaara!"
Tapi Naruto hanya tertawa kecil. "Kalau Sakura-nya setuju, ya?"
Sakura membuang muka, wajahnya merah muda seperti nama yang disandangnya. Tapi ada senyum tipis di sudut bibirnya yang sulit ia tahan. Untuk pertama kalinya, Sakura membayangkan sebuah hidup yang bukan sekadar bertahan… tapi dijalani. Bersama seseorang yang mau berjalan bersamanya, bukan sekadar menonton dari kejauhan.
•
Hari-hari berikutnya berjalan pelan, seperti matahari yang bangkit dari balik kabut. Sakura masih harus berangkat pagi, masih harus bertarung dengan Transjakarta penuh sesak dan pekerjaan yang menumpuk. Tapi setiap ia membuka WhatsApp-nya, selalu ada pesan dari Naruto.
Naruto: Sarapan udah? Jangan bilang belum, nanti gue marahin.
Naruto: Malam ini makan bareng yuk? Gue pengen tahu makanan favorit lu.
Naruto: Capek, ya? Pulang nanti gue jemput. Udah, diem aja. Gak usah nolak.
Kata-kata Naruto bukan penyembuh instan, bukan juga penyelamat. Tapi mereka seperti salep di luka bakar. Perlahan, pelan, tapi meredakan nyeri yang tak pernah bisa Sakura ceritakan pada siapa pun selama ini.
•
Beberapa minggu kemudian, saat malam turun dan listrik sempat padam sebentar, Sakura duduk di balkon sempit rumahnya. Naruto duduk di sebelahnya, membawa dua gelas air jeruk dingin dan lilin kecil sebagai penerang.
"Kalau nanti… gue benar-benar ajak lu nikah, lu mau?" tanya Naruto pelan. "Gue gak punya banyak, Sak. Gaji gue juga gak besar. Tapi gue bisa pastiin satu hal… lu gak akan sendirian lagi."
Sakura menoleh, matanya mencari kejujuran dalam tatapan Naruto.
Dan ia menemukannya.
Jawabannya belum diucap malam itu. Tapi ketika Sakura menyandarkan kepalanya di bahu Naruto tanpa sepatah kata pun, itu sudah lebih dari cukup.
•
(Bersambung…)
