.

Unspoken

.

Disclaimer: I do not own Naruto characters

Naruto © Masashi Kishimoto


Chapter 1: Childhood Friend

Matahari sore menyinari bukit kecil di belakang sekolah dasar Konoha, menyorot rerumputan hijau yang bergoyang diterpa angin sepoi-sepoi. Di atas bukit itu, dua bocah sedang berlarian, napas mereka tersengal tapi mereka seakan tak ingin menyerah.

"Naruto! Jangan lari terlalu cepat!" seru Ino, berusaha mendaki bukit dengan napas terengah-engah.

Di depannya, seorang bocah laki-laki berambut pirang berantakan menoleh sambil terkekeh.

"Katanya aku yang lamban? Sekarang siapa yang ketinggalan, hah?" godanya sambil terus berlari lebih dulu ke atas.

Naruto Uzumaki, memiliki wajah ceria yang hampir selalu dipenuhi senyuman. Meskipun sering bertindak ceroboh, ada semangat tak kenal lelah dalam dirinya yang membuatnya selalu mencoba lagi, tak peduli seberapa sering ia gagal. Rambut kuning khasnya selalu berantakan, dan sorot matanya yang biru jernih memancarkan keceriaan yang menular.

Ino mendengus kesal. "Tunggu! Aku—uh—sepatuku kena tanah licin!" keluhnya, merasa frustrasi karena langkahnya lebih berat dibanding Naruto yang berlari dengan mudahnya.

Di sisi lain, Ino Yamanaka adalah gadis dengan rambut panjang pirang yang selalu tampak rapi, sering diikat dengan pita atau dikepang oleh ibunya. Matanya berwarna biru kehijauan, dan wajahnya selalu berseri-seri, memancarkan kepercayaan diri yang tinggi. Ia terkenal sebagai salah satu gadis tercantik di kelas, selalu tampil rapi, wangi, dan modis—bahkan sejak kecil.

Naruto tertawa kecil sebelum akhirnya berhenti di puncak bukit, menatap Ino yang masih berusaha menyusulnya. "Ayo, Ino! Katanya kau hebat?" ujarnya, tangan bertolak pinggang.

Ino, yang mulai kehabisan tenaga, hanya mendelik tajam ke arahnya sebelum akhirnya mencapai puncak juga. Ia berdiri di samping Naruto, mengatur napasnya, lalu mendorong bahu bocah itu dengan kesal.

"Sial, kau cepat banget," gumamnya.

Naruto hanya terkekeh. Pandangannya tertuju pada pemandangan indah desa di depan mereka. Ino mengikuti arah pendangan Naruto dan ikut merasa takjub. Meskipun kesal, ia harus mengakui bermain dengan Naruto memang selalu menyenangkan.

Mereka selalu bersama sejak kecil. Bersekolah di tempat yang sama, bermain di taman yang sama, bahkan sering pulang bersama jika orang tua mereka sedang sibuk.

Naruto berasal dari keluarga terpandang di Konoha. Ayahnya, Minato Namikaze, adalah pria jenius yang sangat dihormati. Minato bukan hanya seorang ilmuwan berbakat, tetapi juga memiliki pengaruh besar dalam dunia akademik dan bisnis. Kejeniusan dan kesuksesannya membuat banyak orang mengharapkan Naruto akan tumbuh menjadi sosok yang sama.

Pada dasarnya Naruto juga jenius seperti ayahnya. Namun, Naruto justru tumbuh sebagai anak yang lebih suka bermain dan bertualang daripada duduk diam di kelas dan belajar teori. Ia sering kali dibandingkan dengan ayahnya—dan itu menjadi tekanan tersendiri baginya. Ibunya, Kushina Uzumaki, adalah wanita yang penuh energi, ceria, dan sangat protektif terhadap anaknya. Ia selalu mendukung Naruto apa pun yang terjadi dan tidak pernah membebaninya dengan ekspektasi seperti yang dilakukan kebanyakan orang.

"Naruto itu spesial dengan caranya sendiri," kata Kushina suatu hari ketika Minato membahas nilai ujian putra mereka yang lebih dominan di pelajaran teknis dan praktek. "Bukan berarti dia harus kutu buku seperti dirimu."

Minato hanya tersenyum tipis, meski dalam hati tetap berharap Naruto bisa lebih serius dalam pendidikan. Sayang sekali modal otak encernya tidak dimaksimalkan.

Berbeda dengan Naruto yang memiliki keluarga penuh kehangatan, keluarga Ino terlihat sempurna dari luar—tapi di dalamnya penuh dengan ketegangan. Ibunya, seorang wanita anggun dan berkelas, adalah pemilik butik fashion terkenal. Ia selalu tampil menawan dan dikagumi banyak orang. Ayahnya, seorang pria yang juga berasal dari keluarga terpandang, sering kali sibuk dengan pekerjaannya.

Meski terlihat harmonis di depan publik, kenyataannya orang tua Ino sering bertengkar. Ino sering kali mendengar suara debat mereka di kamar saat malam, atau bahkan melihat ibunya meninggalkan rumah lebih awal dan pulang larut hanya untuk menghindari konfrontasi. Karena itu, rumah bagi Ino bukanlah tempat yang penuh kenyamanan.

Ino sering mencari tempat pelarian. Salah satu tempat favoritnya? Rumah Naruto.

Sejak kecil, Ino sudah sering mampir ke rumah Naruto. Ia sangat akrab dengan Kushina, ibu Naruto, yang selalu menyambutnya dengan senyum hangat dan makanan lezat.

"Ino-chan! Kau datang lagi? Mau makan ramen buatan tante?" tanya Kushina dengan antusias setiap kali melihat gadis kecil itu di depan pintu.

"Tentu saja, Tante Kushina! Masakan Tante enak sekali!" jawab Ino sambil tersenyum cerah.

Naruto sering cemberut saat melihat Ino lebih akrab dengan ibunya daripada dengannya.

"Hei! Aku juga ada di sini! Kenapa kau lebih suka ngobrol dengan Ibu daripada denganku?" protes Naruto.

Ino terkikik. "Karena ibumu lebih asyik daripada kamu, Naruto!"

Bagi Ino, berada di rumah Naruto terasa lebih nyaman daripada di rumahnya sendiri. Tidak ada ketegangan, tidak ada pertengkaran, hanya canda tawa dan kehangatan keluarga.

Desa Konoha adalah tempat yang tenang, nyaman, dan memiliki sekolah berkualitas. Banyak keluarga terpandang tinggal di sini, sehingga standar pendidikan di sekolahnya cukup tinggi. Namun, sayangnya, Konoha tidak memiliki kampus unggulan. Karena itulah, kebanyakan siswa yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi harus pergi ke ibu kota atau kota-kota besar lainnya.


Menginjak masa SMP, ada yang berubah dari Naruto. Jika Ino tetap menjadi gadis populer dengan lingkaran teman-teman yang selalu mengelilinginya, sementara Naruto perlahan menjadi seseorang yang berbeda.

Dulu, ia adalah bocah ceroboh yang ceria, selalu berlari ke sana kemari dengan senyum lebar di wajahnya. Tapi sekarang? Ia mulai jarang hadir di kelas, sering terlibat masalah, dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak-anak berandalan di belakang sekolah.

Di kantin sekolah, Ino dan teman-temannya duduk di meja biasa mereka, menikmati waktu istirahat sambil mengobrol. Dari sudut mata, Ino melihat sosok berambut pirang yang dikenalnya sejak kecil. Naruto sedang bercanda kasar dengan beberapa anak laki-laki di sudut lapangan, tawanya terdengar nyaring, tapi ada sesuatu yang terasa... berbeda.

"Dia aneh sekarang," gumam Sakura, salah satu teman Ino, memandang Naruto dengan tatapan meremehkan. Mereka memang berasal dari SD yang sama.

"Memang," sahut Ino, mendengus kesal.

Ia tidak mengerti mengapa Naruto berubah seperti ini. Dulu, meskipun menyebalkan, ia tetap menyenangkan. Tapi sekarang? Kedatangannya hanya mendatangkan masalah.

Perubahan Naruto bukan terjadi begitu saja. Sejak kecil, orang-orang selalu membandingkannya dengan ayahnya, Minato Namikaze—seorang pria jenius yang dihormati di bidang akademik dan bisnis. Ayahnya selalu menjadi kebanggaan Konoha, sosok yang sukses di usia muda, sehingga wajar jika semua orang menaruh harapan yang sama pada Naruto.

Sejak SD, ia sering mendapat pertanyaan yang membuatnya muak:

"Kau pasti pintar seperti ayahmu, kan, Naruto?"
"Anak Minato pasti akan jadi orang besar juga!"
"Kau akan mengikuti jejak ayahmu, kan?"

Masalahnya, Naruto tidak ingin menjadi seperti ayahnya.

Ia melihat sendiri bagaimana orang-orang yang cerdas seperti ayahnya selalu diikat oleh tanggung jawab besar. Bahkan Shikamaru, teman sekelasnya yang terkenal jenius, sering mengeluh karena kepintarannya justru membebaninya.

"Pintar itu merepotkan," ujar Shikamaru suatu hari saat mereka duduk di halaman belakang sekolah. "Orang-orang berharap terlalu banyak. Aku ingin hidup santai, tapi mereka terus menyuruhku ikut olimpiade ini, kompetisi itu… Aku benci sekali."

Kata-kata itu membekas di kepala Naruto. Jika jenius seperti Shikamaru saja tidak menikmati hidupnya, lalu apa gunanya pintar?

Maka, Naruto membuat keputusan. Ia tidak akan membiarkan orang-orang melihat kepintarannya.

Ia mulai sengaja mendapat nilai jelek di ujian, tidak pernah serius dalam kelas, dan akhirnya memilih pergaulan yang membuatnya dicap sebagai anak pembuat onar.

Dan usahanya berhasil. Kini, tidak ada lagi yang membandingkannya dengan ayahnya. Tidak ada yang menganggapnya calon jenius atau pemimpin masa depan. Harapan itu kini beralih pada adiknya, Naruko—saudari kembarnya yang memang lebih berbakat dalam akademik dan lebih sesuai dengan ekspektasi keluarga.

Ayahnya, yang sebelumnya menaruh harapan besar pada Naruto, kini mulai mengabaikannya dan lebih fokus pada Naruko. Ibunya, Kushina, masih memperlakukannya dengan hangat, tapi Naruto tahu ia tidak bisa terus bergantung pada ibunya selamanya.

"Aku tidak masalah menjadi pecundang. Setidaknya, tidak ada yang membebaniku dengan harapan mereka."

Namun, ada satu konsekuensi dari pilihannya ini—sifatnya kini disalahartikan oleh Ino.


Ino tidak pernah memahami alasan perubahan Naruto. Baginya, Naruto adalah anak ceroboh yang menyenangkan, seseorang yang selalu bisa membuatnya tertawa. Tapi sekarang? Ia hanya membuatnya kesal.

Naruto sering membolos, bergaul dengan anak-anak bermasalah, dan tidak peduli dengan masa depannya. Semua itu bertolak belakang dengan prinsip Ino yang selalu ingin menjadi yang terbaik di kelas, terlihat keren, dan menjaga reputasi.

Maka, tanpa sadar, Ino mulai menjauh.

Ia berhenti menyapa Naruto di sekolah, berhenti menanggapi tingkah konyolnya, dan bahkan menghindarinya jika memungkinkan.

Awalnya, Naruto tidak peduli. Tapi lama-lama, ia merasa ada yang hilang.

Naruto bukan orang yang bisa diam saja saat diabaikan. Ia mungkin sudah menyerah pada ekspektasi orang lain, tapi satu hal yang tidak bisa ia terima adalah kehilangan perhatian Ino.

Jadi, ia melakukan satu-satunya hal yang terpikir olehnya—mengganggunya.

"Yo, Ino!" panggil Naruto suatu hari saat mereka pulang sekolah. "Masih ingat waktu kita main ke bukit dulu? Aku yakin kamu masih akan kalah jika berlomba lari ke puncak!"

Ino mendengus, melipat tangan di dada.

"Itu sudah lama sekali! Kenapa kau masih mengungkitnya?"

Naruto menyeringai.

"Karena aku suka lihatmu marah-marah."

Ino menghela napas panjang dan mempercepat langkahnya, berharap Naruto akan menyerah. Tapi tentu saja, dia tidak.

Naruto mulai mencari-cari kesempatan untuk menggoda Ino. Kadang ia pura-pura tersandung agar bisa menabraknya, kadang ia sengaja duduk di dekatnya hanya untuk mengganggu percakapannya dengan teman-temannya.

Bagi Naruto, ini hanya caranya menarik perhatian. Tapi bagi Ino, ini melewati batas. Dan sepertinya Naruto terlalu bebal untuk menyadari hal itu.

"Kenapa sih, kamu begini terus?!" bentak Ino suatu hari saat Naruto menghalangi jalannya di lorong sekolah.

Naruto hanya terkekeh.

"Karena aku ingin ngobrol denganmu, tapi kau selalu menghindar."

Ino memutar bola matanya.

"Mungkin karena aku memang tidak mau berbicara denganmu?"

Jawaban itu seperti tamparan bagi Naruto. Tapi alih-alih mundur, ia justru semakin berusaha mencari perhatian Ino dengan caranya yang menyebalkan.

Bagi Ino, sikap Naruto sekarang benar-benar menjengkelkan. Bukan hanya karena dia suka mengganggu, tetapi juga karena ia tidak mengerti mengapa Naruto memilih menjadi seperti ini. Bukan begini caranya jika ingin berteman dengan Ino. Bukannya Ino simpatik, sikap Naruto malah membuatnya semakin kesal. Dari hari ke hari, kekesalan Ino terhadap Naruto semakin bertambah.

Dan semakin keras usaha Naruto untuk menarik perhatiannya, maka semakin Ino menjauh.


Festival sekolah adalah acara yang ditunggu-tunggu setiap tahun. Stand makanan berjajar di halaman sekolah, suara tawa bercampur dengan musik yang mengalun dari speaker aula utama. Di dalam aula, para anggota klub seni sibuk memasang dekorasi terakhir, memastikan semuanya sempurna sebelum acara utama dimulai.

Di antara mereka, Ino Yamanaka berkeliling dengan clipboard di tangan, matanya mengawasi setiap sudut aula. Ia sudah bekerja keras untuk festival ini. Segalanya harus berjalan tanpa cacat.

Namun, siapa lagi yang bisa merusak segalanya kalau bukan Naruto Uzumaki?

"Hei, tuan putri. Butuh bantuan?"

Ino menghentikan langkahnya, bahunya langsung menegang. Suara itu...

Ia berbalik dan mendapati Naruto duduk santai di atas tumpukan kotak, ekspresi jahilnya tidak berubah sedikit pun sejak SMP. Jaket sekolahnya terbuka, dasinya longgar, dan rambut pirangnya berantakan seperti biasa.

Ino mendesah panjang. "Turun dari situ! Itu dekorasi penting!"

Naruto hanya nyengir. "Tenang aja. Aku cuma—woah!"

Sebelum Ino bisa menghentikannya, Naruto dengan percaya diri mengambil alih pemasangan dekorasi gantung. Ia melompat ke kotak lain dan menarik salah satu tali hiasan.

Dan dalam waktu kurang dari lima detik, semuanya hancur.

Tali dekorasi yang ia tarik ternyata belum diikat dengan kuat. Seketika, setengah dekorasi di plafon aula terlepas, termasuk lampu-lampu gantung yang sudah dipasang dengan susah payah.

CRASH!

Bunyi kaca pecah terdengar nyaring, membuat semua orang menoleh ke arah mereka.

Naruto terjatuh dari tumpukan kotak, kepanikannya bertambah ketika melihat sesuatu yang lebih buruk.

"Ino!"

Ino tersentak, merasakan sesuatu yang hangat menetes di pelipisnya. Ia mengangkat tangan, dan saat melihat cairan merah segar menodai ujung jarinya, kepalanya langsung berdenyut.

"Lukanya nggak parah, kan? Biar aku lihat—" Naruto buru-buru bangkit dan mencoba mendekat.

Tapi Ino langsung menepis tangannya.

Naruto membeku. Ia belum pernah melihat tatapan seperti itu dari Ino sebelumnya. Mata gadis itu penuh kemarahan, kekecewaan, dan rasa sakit.

"Jangan sentuh aku," katanya datar, tapi dingin.

Naruto hanya bisa berdiri terpaku saat teman-teman Ino buru-buru membawanya ke ruang UKS. Beberapa orang mulai berbisik, sebagian murid menatapnya dengan ekspresi menghakimi.

"Naruto si biang onar."
"Dia keterlaluan..."
"Pasti sengaja."

Sebelum Naruto sempat mengatakan apa pun, guru-guru datang.

Dan dalam hitungan detik, ia sudah dipanggil ke ruang guru.

Ia bahkan tidak punya kesempatan untuk menjelaskan.


Orang tua Naruto dipanggil ke sekolah. Guru-guru sudah lama memperhatikan perilaku Naruto yang semakin hari semakin memburuk, dan insiden ini hanya memperburuk citranya.

Di ruang guru, Kushina duduk dengan wajah tegang. Matanya berkabut, seakan menahan sesuatu yang sejak lama ingin ia sampaikan. Sementara di sampingnya, Naruko—saudari kembar Naruto—genggamannya mengerat di tangan ibunya, mencoba memberikan ketenangan.

"Naruto," suara Kushina terdengar tajam, menusuk langsung ke dada Naruto. "Berapa kali kau membuat masalah di sekolah? Sekarang kau bahkan berani menyakiti Ino?"

Naruto menunduk. "Aku tidak sengaja," gumamnya.

"Tidak sengaja atau tidak, itu tetap kesalahan," sahut Kushina dengan nada dingin yang jarang sekali Naruto dengar darinya. Biasanya ibunya adalah orang yang selalu membelanya, tapi kali ini... ia terdengar jauh.

Kushina menarik napas panjang, mencoba meredam emosinya. Namun, sorot matanya yang bergetar memperlihatkan kekecewaan yang begitu dalam.

"Naruto, kenapa kau seperti ini?" bisiknya. "Kau dulu anak yang baik..."

Naruto tetap diam. Di sudut matanya, ia bisa melihat Naruko menggigit bibirnya, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi menahan diri.

Sementara itu, di luar ruangan, Ino berdiri menunggu. Tangannya mengepal, pikirannya berantakan. Kenapa ia masih di sini? Ia bisa saja langsung pulang, tapi entah kenapa, kakinya tetap terpaku di tempat.

Saat pintu ruang guru terbuka, Kushina keluar lebih dulu. Begitu melihat Ino, ekspresinya melembut, tapi ada kesedihan yang jelas tergambar di wajahnya.

"Ino," katanya lembut. "Aku benar-benar minta maaf atas semua yang terjadi."

Ino menatap wanita itu. Dulu, saat kecil, ia sering bermain di rumah Naruto, sering makan bersama keluarganya, sering mendengar Kushina tertawa. Tapi sekarang, segalanya terasa berbeda—terasa jauh.

"Aku merindukanmu datang ke rumah," lanjut Kushina, tersenyum tipis yang lebih mirip dengan ekspresi menahan sakit. "Dulu kau dan Naruto selalu bersama..."

Ino membuka mulutnya, tapi tak ada kata yang keluar. Ia mengingat masa-masa itu, saat Naruto masih anak laki-laki yang ceroboh tapi baik hati, yang selalu ada untuknya tanpa membuatnya kesal setiap waktu. Tapi sekarang? Naruto bukan anak itu lagi.

Akhirnya, ia hanya menggeleng pelan.

"Maaf, Kushina-san..." suara Ino hampir seperti bisikan. "Naruto sudah tidak seperti dulu lagi."

Jawaban itu membuat hati Kushina semakin hancur. Tapi ia hanya bisa tersenyum lemah dan mengangguk.

Dari balik pintu yang sedikit terbuka, Naruto mendengar semuanya. Hatinya mencelos.

Ia tahu ia sudah kelewatan. Ia tidak bermaksud menyakiti Ino. Ia hanya ingin memperbaiki keadaan, ingin kembali dekat dengannya seperti dulu. Tapi caranya salah.

Dan sekarang, semuanya sudah hancur.


Tahun terakhir di SMA seharusnya menjadi tahun yang menyenangkan bagi banyak orang. Tapi bagi Naruto, itu adalah tahun di mana ia merasa kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan kembali.

Sejak insiden di festival sekolah tahun lalu, semuanya berubah. Ino mulai menjaga jarak darinya. Awalnya, Naruto mengira ini hanya sementara—bahwa suatu hari nanti mereka akan kembali seperti dulu. Tapi seiring waktu berjalan, ia mulai sadar bahwa mungkin tidak ada lagi jalan kembali.

Di kelas, Ino tidak pernah ingin sekelompok dengannya. Jika kebetulan mereka ditugaskan bersama, Ino akan berbicara seperlunya, lalu pergi lebih cepat dari yang lain. Jika mereka berpapasan di lorong sekolah, Ino selalu membuang muka. Bahkan ketika ia sekadar menyapa, Ino tidak pernah membalas.

Dan yang paling menyakitkan bagi Naruto adalah saat di kelas. Ino duduk tepat di bangku depan, dan ia hanya bisa memandang punggungnya sepanjang pelajaran. Dulu, mereka sering saling mengganggu atau bertukar pandangan iseng saat guru sedang menerangkan sesuatu. Tapi sekarang, bahkan melihat wajah Ino pun rasanya sulit.

Naruto ingin memperbaiki keadaan, ingin meminta maaf, ingin menjelaskan semuanya. Tapi ia takut. Takut jika ia melakukan kesalahan lagi. Takut bahwa apa pun yang ia lakukan tidak akan mengubah apa pun.

Lambat laun, Naruto berubah.

Ia tidak lagi membuat onar. Tawuran, membolos, dan masuk daftar hitam guru bukan lagi bagian dari hidupnya. Tapi perubahan itu bukan berarti sesuatu yang baik.

Ia lebih banyak diam. Sikapnya cenderung murung, tidak lagi bersemangat seperti dulu. Jika ada yang mengajaknya bercanda, ia hanya tersenyum kecil atau menanggapi seadanya. Di kantin, ia lebih sering makan sendiri. Di kelas, ia tidak banyak berbicara kecuali jika diminta guru. Semua tugasnya ia selesaikan, tapi hanya sebatas kewajiban agar ia bisa lulus.

Tidak ada lagi Naruto si troublemaker. Yang tersisa hanyalah seorang anak laki-laki yang kehilangan cahayanya.

Dan kemudian, hari perpisahan SMA tiba.

Naruto tahu ini adalah kesempatan terakhirnya. Jika ia melewatkan hari ini, ia mungkin tidak akan pernah bisa berbicara dengan Ino lagi.

Maka, saat ia akhirnya berdiri di hadapan Ino, jantungnya berdebar kencang.

Ino hanya menatapnya dengan ekspresi dingin.

Naruto bisa melihat bekas luka di dahi Ino yang sengaja ia tutupi dengan poni. Luka itu bukan lagi sekadar goresan fisik—itu adalah pengingat tentang dirinya, tentang kebodohannya di masa lalu.

"Aku tidak ingin mendengar apa pun darimu."

Naruto terdiam, bahkan ia belum memulai pembicaraannya.

"Aku... muak denganmu," kata Ino pelan, namun tajam.

Setelah mengatakan itu, Ino berbalik dan pergi, meninggalkan Naruto berdiri sendirian di tengah lapangan sekolah.

Tidak ada kata perpisahan. Tidak ada kesempatan kedua.

Saat itu, Naruto menyadari sesuatu.

Ia telah kehilangan Ino.

.

.

To be continued…


A/N:

Terima kasih kepada yang sudah memberikan Review di akun saya sebelumnya :

Adelinelice0

Ryujihan

Rakaeska

Lisa-Katagiri

Guest

Ino-chan

Walking Dutchman

Luntis,

Satya Is Good Boy

bbank97

reviewer lewat PM

dan akun-akun yang selalu nawarin design.

Fic ini dibuat dulu sekali dengan nama Childhood Friend yang hanya oneshot (1 chapter), bertahun-tahun dikembangkan, sibuk, writer's block, sampai HIATUS. Setelah mulai senggang coba diupload tapi ternyata lupa password. Akhirnya buat akun baru naru genesis. Setelah berusaha recovery akhirnya berhasil punya akses lagi ke akun ini. Jadi daripada berserakan, ya saya kumpulkan saja di akun utama yang ini: rifuki.