.

Unspoken

.

Disclaimer: I do not own Naruto characters

Naruto © Masashi Kishimoto


Chapter 2: Coincidence

Ino menuruni bus dengan tas di punggung dan beberapa map di tangannya. Matanya menatap sekeliling dengan campuran perasaan: senang, gugup, dan sedikit takut. Kini, ia resmi menjadi mahasiswi di salah satu universitas terbaik di kota ini.

Kota ini adalah pusat segalanya—bisnis, hiburan, teknologi, dan tentu saja, pendidikan. Tak heran jika banyak lulusan SMA yang bercita-cita melanjutkan studi ke sini, termasuk Ino.

Ino memilih universitas ini bukan tanpa alasan. Kampus ini adalah salah satu yang terbaik di negara ini, terkenal dengan kualitas pengajarnya, fasilitasnya yang lengkap, serta jaringan alumni yang luas, tempat berkumpulnya mahasiswa berbakat dari seluruh penjuru negeri.

Terletak di kawasan pusat pendidikan ibu kota, kampus ini memiliki arsitektur perpaduan modern dan klasik. Gedung-gedung fakultasnya megah, dengan taman hijau yang luas di antaranya. Ada pusat penelitian, laboratorium canggih, perpustakaan bertingkat dengan koleksi buku lengkap, serta gedung seni yang selalu dipenuhi mahasiswa kreatif.

Ino memilih jurusan Fashion Design di Fakultas Seni dan Desain. Pilihannya ini bukan sekadar impulsif—sejak kecil, ia sudah terbiasa melihat ibunya yang seorang desainer pakaian bekerja. Ia tumbuh dengan kecintaan pada dunia mode, senang menggambar sketsa baju, dan selalu punya ide-ide unik dalam merancang busana. Baginya, ini bukan sekadar jurusan kuliah, tapi impian yang ingin ia wujudkan.

Bagi Ino, rasa muaknya melihat pertengkaran orangtua adalah alasan bagus untuk meninggalkan rumah dan memulai hidup baru. Ia tidak ingin terus-menerus berada di bawah bayang-bayang keluarga dan lingkungan yang sama.

Saat diterima di kampus ini, Ino mengira dirinya satu-satunya lulusan sekolahnya yang berhasil masuk. Ia tidak mendengar kabar teman-teman dekatnya ikut mendaftar, jadi ia datang dengan harapan bisa benar-benar memulai hidup baru tanpa bayang-bayang masa lalu.

"Ini awal yang baru," gumamnya, mencoba menyemangati diri sendiri.

Setelah bertahun-tahun berkutat dengan drama sekolah dan masa lalu yang menurutnya memalukan, akhirnya ia bisa memulai lembaran baru. Tak ada lagi Naruto Uzumaki yang selalu mengganggu harinya, tak ada lagi pertengkaran konyol yang membuatnya sakit kepala. Ia bisa fokus pada hidupnya sendiri, bertemu teman baru, dan menikmati kehidupan mahasiswa.

Atau setidaknya, itulah yang ia pikirkan. Tuhan lebih memilih untuk melakukan hal sebaliknya…


Ino berhenti melangkah. Dadanya terasa sesak saat matanya menangkap sosok yang begitu familiar di hadapannya.

Naruto Uzumaki.

Untuk sesaat, pikirannya kosong. Ia tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi—di tempat ini, di waktu ini. Seharusnya ia langsung pergi. Berpura-pura tidak melihatnya. Tidak ada alasan untuk berdiri di sini lebih lama lagi. Mereka bukan teman, dan sudah lama tidak menjadi bagian dari kehidupan satu sama lain.

Tapi kakinya tetap terpaku di tempat.

Sebuah perasaan tak terduga muncul, campuran antara terkejut, kesal, dan entah apa lagi. Ia mengingat betul hari terakhir mereka di SMA—dingin, tanpa kata maaf yang diterima, tanpa perpisahan yang layak. Dan sekarang, seolah tak pernah ada apa-apa, Naruto berdiri di sana... di tempat yang sama dengannya.

Mata Ino turun ke tangannya. Sebuah formulir pendaftaran kampus. Ia merasakan sesuatu yang dingin menjalar ke tengkuknya.

Jangan bilang…

"Kau kuliah di sini?" tanyanya, suaranya terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan.

Naruto menatapnya sejenak sebelum mengangguk. "Iya."

Oh.

Hanya itu yang bisa ia pikirkan.

Ino mengalihkan pandangan, mencengkeram formulirnya lebih erat. Keheningan menggantung di antara mereka, tegang dan tidak nyaman.

Naruto menggaruk tengkuknya, gerakan yang masih sama seperti dulu. Tapi kali ini, tidak ada tawa santai atau lelucon yang biasa ia lontarkan.

"Kenapa?" Naruto akhirnya bertanya, suaranya datar. "Kau nggak nyangka?"

Ino mendengus pelan, setengah karena kesal, setengah karena… ya, memang.

"Aku cuma... nggak pernah membayangkan kau bakal kuliah," jawabnya jujur, meski nadanya terdengar lebih dingin dari yang ia maksudkan.

Naruto tidak bereaksi. Tidak tersinggung, tidak membantah. Ia hanya diam.

Ino mendesah. Percakapan ini terlalu canggung. Terlalu asing. Ia ingin pergi. Pergi sejauh mungkin dari situasi yang tiba-tiba membuatnya sesak.

Tapi ke mana?

Ia masih harus mengurus administrasi kampus, dan Naruto berdiri tepat di dekat area pendaftaran. Pergi ke arah lain hanya akan membuatnya berputar tanpa tujuan.

Sial.

Ia melirik Naruto lagi. Pria itu masih menatapnya, ekspresinya sulit dibaca.

Entah kenapa, hal itu justru membuatnya semakin ingin pergi.

Naruto mengangguk pelan, entah setuju atau sekadar tidak tahu harus menjawab apa.

Keheningan menggantung di antara mereka. Ino menyilangkan tangan di dadanya, matanya melirik ke arah lain. Ia tidak suka ini. Tidak suka bagaimana Naruto berdiri di hadapannya dengan ekspresi canggung, tidak suka bagaimana percakapan ini terjadi, dan yang paling ia benci—tidak suka bagaimana perasaannya jadi kacau hanya karena bertemu Naruto lagi.

Tapi di sisi lain, Naruto merasakan sesuatu yang bertolak belakang. Di balik keheningan yang menyiksa ini, ada kelegaan dalam hatinya. Ia tidak menyangka akan bertemu Ino secepat ini, tapi bukankah ini kesempatan? Kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Tapi di saat yang sama, ia takut. Takut salah bicara, takut mengulang kesalahan yang sama.

Akhirnya, hanya untuk mengisi keheningan, Ino berbicara lebih dulu.

"Jadi… kau ambil jurusan apa?" Nada suaranya terdengar setengah terpaksa, seolah ia bertanya bukan karena ingin tahu, tapi hanya karena ingin segera mengakhiri keheningan ini.

"Teknik Informatika."

Ino mengernyit. Itu bukan jawaban yang ia harapkan.

"Oh."

Naruto melihat ekspresinya dan mengangkat alis. "Kenapa?"

"Nggak apa-apa." Ino mendengus kecil, melipat tangannya lebih erat. "Cuma… ya."

Naruto menunggu, berharap ada kelanjutan dari kalimat itu, tapi Ino malah pura-pura membaca papan pengumuman di dekat mereka. Naruto tahu Ino masih kesal padanya, dan itu membuatnya semakin berhati-hati dengan kata-katanya.

"Aku nggak nyogok buat masuk ke sini, kok."

Ino langsung menoleh, menatapnya tajam. "Hah?"

Naruto menyeringai kecil, berusaha mencairkan suasana. "Siapa tahu kau mikir gitu."

Ino mendengus, matanya masih menatapnya dengan penuh ketidakpercayaan. "Lucu sekali."

Tapi tidak ada sedikit pun tawa dalam suaranya.

Naruto menggigit bibirnya. Sepertinya itu lelucon yang buruk. Ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang lebih penting.

"Ngomong-ngomong…" Naruto menunduk sedikit sebelum kembali menatap Ino. "Soal waktu itu…"

Sekejap, tubuh Ino menegang.

Naruto bisa melihat bagaimana rahang gadis itu mengeras, bagaimana tatapannya tiba-tiba berubah lebih tajam.

"Apa?" Ino bertanya, suaranya datar.

Naruto merasa semakin sulit untuk melanjutkan. Tapi ia harus mengatakannya.

"Aku… waktu festival sekolah dulu…"

Ino tidak menjawab, tapi ekspresinya sudah cukup memberi tahu Naruto bahwa ia mengingatnya.

Naruto menatapnya, mencari tanda-tanda bahwa mungkin, hanya mungkin, Ino sudah sedikit melupakan kemarahannya. Tapi yang ia temukan hanyalah sorot mata dingin.

"Aku… maaf."

Naruto mengatakan itu dengan hati-hati, suaranya pelan tapi jelas.

Ino menatapnya.

Ia seharusnya sudah mengharapkan ini. Seharusnya sudah tahu bahwa suatu hari Naruto akan mengatakan itu. Tapi kenapa… kenapa rasanya seperti ada sesuatu yang menusuk perasaannya?

"Oh." Itu satu-satunya kata yang keluar dari mulutnya.

Naruto mengangguk kecil. "Iya."

Hening lagi.

Ino tidak siap untuk percakapan ini. Ia pikir, setelah setahun berlalu, ia sudah bisa melupakan semuanya. Tapi sekarang, berdiri di sini, mendengar kata maaf dari Naruto… Ia menyadari bahwa kemarahannya belum benar-benar hilang.

Naruto menatapnya dengan penuh harap, seolah menunggu jawaban yang bisa meringankan rasa bersalahnya.

Tapi Ino tidak bisa memberikannya.

"Ya udah," katanya akhirnya, nada suaranya tetap dingin.

Naruto menelan ludah. "Jadi… kita baik-baik saja?"

Ino membuka mulut, tapi tidak ada jawaban yang bisa ia berikan.

Baik-baik saja? Bagaimana mungkin?

"…Nggak tahu," katanya akhirnya.

Naruto mengangguk pelan, ekspresinya sulit dibaca.

"Oke."

Ino ingin pergi. Sekarang. Secepat mungkin.

Tapi ia masih harus mengurus administrasi. Masih ada hal yang harus ia lakukan di sini.

Sial.

Ia menggigit bibirnya, lalu berkata, "Aku ada urusan. Pergi dulu."

Naruto tidak menahannya. "Oh, ya. Oke."

Ino melangkah pergi. Tapi sebelum benar-benar menjauh, ia mendengar suara Naruto yang pelan, hampir seperti gumaman.

"Sampai ketemu… atau nggak…"

Ino tidak menoleh.

Tapi untuk alasan yang tidak ia mengerti, hatinya terasa lebih berat dari sebelumnya.

Ia tidak tahu kenapa, tapi percakapan tadi terasa lebih melelahkan daripada semua pertengkaran mereka di masa lalu.


Hari ini terasa aneh bagi Ino.

Seharusnya, ia bisa lebih fokus untuk menyelesaikan daftar ulang dan memulai kehidupan barunya di kampus—mengenal teman baru, mencari tahu organisasi kampus, dan mengeksplorasi setiap sudut universitas. Tapi satu hal terus mengusiknya.

Naruto Uzumaki.

Keberadaannya di kampus yang sama benar-benar mengganggu pikirannya.

Meskipun mereka beda jurusan dan berada di fakultas yang berbeda, entah bagaimana Ino tetap sering bertemu dengannya. Kadang di kantin, kadang di lorong, bahkan di sekretariat saat ia mengurus administrasi pendaftaran.

"Kenapa aku selalu ketemu dia?" gerutunya pelan saat keluar dari ruang administrasi.

Matanya menangkap sosok yang terlalu familiar—Naruto duduk sendirian di kantin, membolak-balik buku pengenalan kampus dengan ekspresi serius.

Ino mengerutkan kening. Naruto membaca?

Itu bukan sesuatu yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

Atau saat ia melihatnya berbincang dengan beberapa mahasiswa baru—sikapnya santai, tapi jelas ia berusaha memahami topik yang sedang dibahas.

Sejak kapan dia jadi seperti ini? Ia ingat di tahun terakhir ia menyadari Naruto berubah. Tapi ia tidak memperhatikan sampai ke detil seperti sekarang.

Rasa penasaran mulai muncul, tapi tentu saja, Ino tidak akan mengakuinya.


Sore itu, saat seluruh urusan daftar ulang selesai, Ino menuju halte bus. Langit sudah mulai berwarna jingga, dan udara ibu kota terasa sedikit lebih sejuk dibanding siang tadi.

Saat ia sampai di halte, ia menyadari seseorang sudah duduk di sana lebih dulu.

Naruto.

Ia sempat ragu. Haruskah ia duduk atau mencari alasan untuk pergi?

Tapi sebelum ia bisa mengambil keputusan, Naruto menoleh ke arahnya.

Sesaat, keduanya hanya saling menatap tanpa kata.

Lalu, tanpa bicara, Naruto bergeser sedikit, memberi ruang.

Ino menghela napas pelan sebelum akhirnya duduk di sampingnya.

Keheningan menyelimuti mereka.

Naruto duduk di samping Ino, tapi ada jarak di antara mereka. Cukup jauh untuk terlihat tidak akrab, tapi cukup dekat untuk menyadari keberadaan satu sama lain.

Naruto mengayunkan kakinya pelan, menendang-nendang kerikil kecil di depannya. Lalu, tiba-tiba, dengan nada datar, ia membuka obrolan.

"Jadi... bagaimana rasanya tiba di kota besar?"

Ino meliriknya sekilas, lalu buru-buru mengalihkan pandangannya lagi.
"Kenapa kau bertanya seolah kita berasal dari desa terpencil?" katanya, suaranya sedikit ketus.

Naruto mengangkat bahu.
"Ya... tetap beda. Di sini lebih ramai, lebih banyak peluang..." ia diam sejenak, lalu menambahkan dengan nada sedikit ragu, "lebih banyak... masalah?"

Ino tidak langsung menjawab. Ia mengangguk kecil, tapi tidak yakin apakah Naruto melihatnya atau tidak.

Naruto sudah lebih dulu tinggal di ibu kota, sementara ia masih bolak-balik dari Konoha. Ia baru akan mencari kos menjelang ospek.

Sebenarnya, ia juga masih beradaptasi. Semua terasa lebih cepat, lebih bebas... tapi juga lebih menuntut.

Ya, ibu kota memang keras.

Tidak ada yang menunggu. Tidak ada yang melambatkan langkah hanya untuk menyesuaikan diri dengan yang lain. Semua orang tampak memiliki tujuannya masing-masing.

Semua terasa terstruktur—jadwal yang ketat, ritme yang tidak memberi ruang untuk lengah. Orang-orangnya terbiasa berpikir cepat, bergerak cepat, dan mengambil keputusan cepat.

Bagi seseorang yang terbiasa dengan kehidupan yang lebih santai, lebih 'manusiawi', ibu kota bisa terasa begitu... menekan.

Tapi mau tidak mau, ia harus membiasakan diri.

Ino melirik jam tangannya.

Sudah hampir waktunya ia pulang. Ia masih harus naik bus ke terminal sebelum nanti berganti ke travel menuju kota asalnya.

Saat ia berdiri dan berjalan ke arah halte, Naruto memperhatikannya tanpa berkata apa-apa.

Dan saat bus tiba, Naruto melihatnya naik.

Sebenarnya, ia ingin menawarkan diri untuk mengantar—bagaimana pun juga, Ino belum terbiasa bepergian sendiri ke luar kota.

Tapi ia tahu, Ino pasti menolak.

Hubungan mereka belum membaik. Ia bahkan tidak yakin apakah Ino menganggapnya teman lagi atau hanya sekadar orang yang kebetulan ada di tempat yang sama.

Tetap saja, ada perasaan aneh yang menyelip di dadanya saat melihat Ino pergi.

Perasaan campur aduk.

Seolah ia tidak ingin Ino pergi—padahal seminggu lagi, Ino juga akan kembali ke sini untuk mulai kuliah.

Naruto mengepalkan tangannya di dalam saku jaketnya.

Sebelum bus benar-benar berangkat, ia akhirnya membuka mulut.

"Ino—"

Ia ingin bicara. Tapi ia tidak tahu harus bicara apa.

Pada akhirnya, yang keluar hanya,
"Sampai jumpa."

Lalu, setelah jeda yang terasa aneh, ia menambahkan,
"Hati-hati di jalan."

Ino tidak menjawab.

Tapi sebelum bus mulai melaju, Naruto sempat melihatnya mengangguk kecil.

Dan entah kenapa, itu cukup membuatnya sedikit lega.

Ino duduk di kursi dekat jendela, membiarkan kepalanya bersandar pelan pada kaca yang terasa dingin. Bus mulai melaju meninggalkan halte, sementara pikirannya masih tertinggal di pertemuannya dengan Naruto. Kenapa harus dia? Dari sekian banyak mahasiswa baru di kampus ini, dari sekian banyak orang yang bisa saja ia temui, kenapa justru Naruto yang muncul di hadapannya?

Ia mencoba mengurai perasaannya yang bercampur aduk. Kesal? Jelas. Naruto mengingatkannya pada banyak hal yang ingin ia lupakan—tentang masa SMA, tentang betapa menyebalkannya dia dulu, tentang bagaimana ia perlahan menjauh dari Naruto karena sikapnya yang tidak berubah-ubah. Tapi di sisi lain… ada perasaan lain yang lebih sulit ia abaikan. Leganya menemukan seseorang yang ia kenal di tempat yang masih terasa asing ini.

Kehidupan di ibu kota tidak akan mudah. Ia tahu itu. Sebagian dirinya merasa lebih nyaman jika ada seseorang dari kota asalnya, seseorang yang setidaknya bisa menjadi wajah familiar di antara lautan orang-orang asing. Tapi kenapa harus Naruto? Jika saja itu teman yang lain—siapa pun selain dia—mungkin ia akan merasa lebih senang. Tapi ini Naruto. Seseorang yang sudah lama ingin ia lupakan, tapi tetap saja muncul di hadapannya seolah tak mau pergi dari hidupnya.

Tangannya mengepal di atas pangkuannya. Apa yang sebenarnya ia rasakan sekarang? Senang? Tidak, ini bukan kebahagiaan. Tapi juga bukan hanya kemarahan. Mungkin… lebih tepatnya kebingungan. Ia belum siap bertemu dengannya. Ia belum siap menghadapi Naruto setelah semua yang terjadi di antara mereka. Ia pikir, setelah perpisahan SMA, mereka tidak akan bertemu lagi. Nyatanya, takdir seolah berkata lain.

Ino mendesah pelan, lalu menatap ke luar jendela. Lampu-lampu kota berpendar di kejauhan, menciptakan bayangan samar di kaca jendela bus. Seberapa keras pun ia berusaha menepis kehadiran Naruto, faktanya ia tetap ada di sini, di kampus yang sama, di kota yang sama. Suka atau tidak, cepat atau lambat, ia harus menghadapi kenyataan bahwa hidupnya kembali bersinggungan dengan Naruto. Pertanyaannya, apakah ia sudah siap untuk itu?

.

.

To be continued…