.
Unspoken
.
Disclaimer: I do not own Naruto characters
Naruto © Masashi Kishimoto
Chapter 3: Emergency Call
Malam hampir mencapai puncaknya. Langit ibu kota telah kehilangan semburat jingga terakhirnya, berganti dengan gelap pekat yang hanya diterangi lampu-lampu jalan dan cahaya billboard elektronik berpendar di kejauhan.
Ino berjalan sendirian di trotoar yang mulai lengang. Kota yang ramai di siang hari kini terasa berbeda—lebih dingin, lebih sunyi. Ia merapatkan jaketnya sambil menunduk, matanya terpaku pada layar ponselnya yang menampilkan daftar kost di sekitar kampus.
Sebuah koper berwarna biru tua tergenggam erat di tangannya. Isinya hanya pakaian dan barang-barang yang ia butuhkan untuk ospek. Sisanya akan ia bawa nanti, jika saja ia sudah mendapatkan tempat tinggal yang layak.
Hari ini seharusnya menjadi awal yang menyenangkan bagi kehidupan barunya. Namun, ia menyepelekan satu hal: mencari tempat tinggal di kota sebesar ini lebih sulit dari yang ia bayangkan. Tempat yang sempat ia booking ternyata jauh dari ekspektasinya—foto saja ternyata bisa menipu.
Ino menatap bangunan di depannya dengan ekspresi tidak percaya. Dalam foto, kost ini tampak modern dan bersih, dengan kamar yang terlihat cukup luas dan pencahayaan alami yang bagus. Namun, kenyataan berkata lain. Dindingnya kusam, lorongnya sempit, dan aroma lembap menyambutnya sejak pertama kali menginjakkan kaki di sana.
Di depannya, seorang wanita paruh baya berdiri dengan tangan bertumpu di pinggang, mengenakan dress ketat dengan aksesoris berlebihan. Gelang emas beradu setiap kali ia menggerakkan tangannya, dan aroma parfum menyengat khas sosialita menyeruak di udara. Bibirnya dipoles lipstik merah terang, rambutnya dicat pirang keemasan dengan tatanan mengembang.
"Ya ampun, Dek Ino, akhirnya ketemu juga!" Wanita itu tersenyum lebar, memperlihatkan gigi yang terlalu putih hingga terlihat mencolok. "Pasti kaget lihat aslinya lebih cantik dari di foto, ya?"
Ino menelan ludah. Cantik dari mana?
"Eh... iya, Bu. Saya boleh lihat kamarnya dulu?" tanyanya dengan hati-hati.
"Tentu, tentu! Kost di sini eksklusif lho, Dek! Di daerah ini udah paling best deal deh!" ujar wanita itu dengan suara nyaring, sebelum berbalik dan mulai berjalan dengan langkah penuh percaya diri.
Ino mengikuti di belakang, menaiki tangga sempit dan curam. Dengan koper yang cukup berat, perjalanan itu terasa seperti mendaki gunung. Sampai di lantai tiga, wanita itu membuka pintu kamar dengan senyum penuh percaya diri.
"Nah, ini dia! Dijamin betah!" katanya bangga.
Ino melangkah masuk dan langsung kehilangan kata-kata.
Kamarnya jauh lebih kecil dari yang ia bayangkan. Kasur single bed yang menempel ke dinding terlihat sudah agak usang, ada beberapa bercak kekuningan di sprei. Lemari kayunya memiliki beberapa goresan, dan jendela yang diharapkan bisa memberi pencahayaan malah menghadap ke dinding bangunan sebelahnya. Aroma kapur barus bercampur dengan bau apek tercium di udara.
"Kok jadi sempit begini?" gumam Ino pelan.
"Wah, ya namanya foto diambil pakai kamera profesional, Dek, pasti kelihatan lebih luas! Tapi aslinya tetap cozy kok!" jawab si ibu kost, melirik ponselnya sekilas sambil mengetik sesuatu.
Ino berusaha menahan napas agar tidak menghirup aroma parfumnya yang masih menusuk hidung. "Boleh lihat kamar mandinya, Bu?"
"Di luar, ya. Sharing sama tiga penghuni lain," jawab wanita itu tanpa ragu.
Ah, sudah cukup.
Ino menarik napas panjang sebelum menggeleng halus. "Bu, maaf banget, kayaknya saya mau cari kost yang lain dulu."
Ekspresi wanita itu langsung berubah. "Hah? Lho, lho, lho... tapi kan udah bayar DP, Dek! Sayang banget, lho!"
"Kalau misal sampai besok saya tidak kembali ke sini, uangnya saya ikhlaskan saja, Bu," jawab Ino.
Wanita itu mendengus pelan, lalu merapikan rambutnya dengan gaya dramatis. "Yaah, sayang sekali! Padahal ini tempat udah paling best deal! Ya udah, semoga cepat dapat yang cocok, ya, Dek!" katanya dengan nada dibuat-buat sebelum kembali sibuk dengan ponselnya.
Ino buru-buru keluar dari bangunan itu, menyeret kopernya dengan langkah cepat. Ia tak mengerti kenapa tadi ia lihat banyak mahasiswi yang tinggal di sana, apa mereka sudah terbiasa tinggal di kost sumpek ini? Mungkin memang betul tempat kost ini best deal, strategis dan dekat dengan kampus. Makanya jumlah kamarnya sampai puluhan. Namun rasanya Ino harus mencari yang lebih cocok dengan keinginannya.
Sekarang, masalahnya adalah... daftar kost lainnya yang dipegang Ino, adakah yang cocok, atau setidaknya lebih 'mending'?
Ternyata kost lain yang ada di daftar pencariannya tidak lebih baik. Ada yang terlalu sempit, terlalu mahal, atau terlalu jauh dari kampus. Setiap kali ia merasa hampir menemukan yang cocok, selalu ada sesuatu yang membuatnya mengurungkan niat.
Angin malam berembus menusuk kulit, membuat tubuhnya sedikit menggigil.
Seandainya ayah dan ibunya bisa membantunya mencari kost. Tapi mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing, dan ia tidak bisa berharap banyak. Sebagai anak tunggal, ia sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri. Sejak kecil, ia selalu mengandalkan dirinya sendiri dalam banyak hal.
Tapi kali ini…
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian.
Teman-temannya dari kota asal memilih kuliah di tempat lain, kebanyakan di kota yang lebih dekat dengan rumah mereka. Tidak ada satu pun yang tinggal di ibu kota.
Ia tidak punya kenalan di sini—kecuali…
Naruto.
Namun, memikirkan pemuda itu saja sudah cukup membuatnya mendengus pelan. Tidak, ia belum siap. Ia belum bisa menerimanya sebagai teman lagi. Walaupun mereka bertemu dan mengobrol beberapa kali, tetap saja rasanya belum sama seperti dulu.
"Ino, kamu bisa," gumamnya pada diri sendiri, berusaha meyakinkan hatinya.
Jam di layar ponselnya sudah menunjukkan pukul 23.40.
Sudah hampir tengah malam.
Ia tidak bisa terus seperti ini. Ia harus menemukan tempat tinggal sebelum hari berganti, atau ia akan kehabisan pilihan. Tapi tubuhnya mulai lelah, kakinya terasa berat setelah berjam-jam berjalan tanpa tujuan.
Saat itulah ia menyadari satu hal.
Ia belum makan sejak sore.
Dan sekarang, perutnya mulai memprotes dengan cara yang paling menyebalkan—rasa lapar yang tiba-tiba menyerang.
Ino menghela napas.
Masalahnya bertambah satu lagi.
Ino menenangkan dirinya, lalu melangkah menuju gang kecil yang menjadi lokasi salah satu kost yang ia temukan di internet. Cahaya lampu jalan di area ini lebih redup dibanding jalan utama, membuat suasana terasa lebih sunyi dan mencekam.
Perasaannya langsung berubah tak karuan begitu melihat sekelompok pria bertampang kasar berdiri di dekat pintu masuk gang, merokok sambil tertawa keras.
Langkahnya melambat. Jantungnya mulai berdegup lebih kencang.
"Apa aku harus lewat sini?" pikirnya, menatap jalan lain yang lebih jauh dan gelap.
Saat ia ragu, salah satu pria itu menoleh padanya.
"Eh, cewek cakep tuh!" suara serak karena rokok terdengar, diikuti dua orang lainnya yang ikut menoleh.
Tatapan mereka langsung menyapu tubuh Ino dari atas ke bawah, membuat bulu kuduknya meremang.
"Eh, mau ke mana, cantik?"
Ino menelan ludah. Ia berusaha tetap tenang, meskipun tubuhnya sudah memberi peringatan untuk segera pergi.
"Aku…" Ino berusaha berpikir cepat. "Lagi nyari rumah temanku."
Salah satu dari mereka menyeringai. "Oh, rumah teman? Udah hampir tengah malam gini, yakin dia masih bangun?"
"Nggak sopan lho, ngerepotin orang segini malam," sahut yang lain, senyumnya menyebalkan. "Mendingan kita aja yang bantu cariin tempat nginep. Dijamin nyaman…"
Tatapan mereka semakin terang-terangan menilai dirinya.
Ino tahu ini tidak beres.
Mereka berniat jahat.
Panik, tangannya buru-buru merogoh saku jaket, meraih ponsel, dan membuka kontak. Ia menatap layar sebentar, ragu sejenak sebelum akhirnya menekan nomor yang bahkan tidak ingin ia pikirkan beberapa jam lalu.
Naruto.
Panggilan tersambung hanya dalam dua dering.
"Halo?" suara Naruto terdengar setengah mengantuk.
Ino menelan ludah. Suaranya gemetar ketika ia berbicara, "Na-Naruto… aku…"
Naruto segera menangkap nada panik dalam suaranya. "Ino? Kenapa? Kau di mana?"
"Aku…" Ino menoleh ke sekelilingnya, sadar bahwa ia bahkan tidak tahu lokasi pastinya. "Aku nggak tahu. Aku sedang mencari kost, terus aku—"
"Tenang," Naruto memotong. "Share location, sekarang."
Tangan Ino gemetar saat ia buru-buru mengirimkan lokasi lewat ponsel.
Namun, sebelum Naruto bisa mengatakan apa-apa lagi, suara lain terdengar di sekitarnya.
"Sendiri saja, Nona?" Salah satu pria itu melangkah mendekat, tatapannya mencurigakan.
Ino buru-buru menjauh.
"Aku… aku benar-benar mau ke rumah temanku," ucap Ino cepat, berusaha mengulur waktu.
Pria pertama tertawa kecil. "Barusan kau menelponnya, dia sudah tidur 'kan?"
Ino mencoba tetap tenang. "Tidak. Dia masih bangun."
"Ah, jangan bohong. Santai aja, cantik. Kita cuma nawarin bantuan," kata pria lain, suaranya terdengar makin licik. "Kamu cantik banget soalnya. Sayang kalau sendirian di luar malam-malam begini."
Tatapan mereka semakin tidak sopan.
Ino benar-benar ingin pergi sekarang, ia harus kabur.
Saat itulah, tiba-tiba ada sesuatu yang menggenggam pergelangan tangannya.
Hangat.
Kuat.
Ino tersentak, langsung menoleh.
Naruto.
"Hei, lama banget sih? Aku udah bilang tunggu di depan, kan?" suara Naruto terdengar santai, tapi matanya penuh kewaspadaan.
Preman-preman itu langsung menatapnya dengan tatapan waspada.
Naruto melirik mereka sekilas sebelum menoleh ke Ino lagi. "Maaf ya, tadi ketiduran. Kau datang terlalu malam sih."
Ino hampir saja bereaksi spontan, tapi ia segera sadar—Naruto sedang berpura-pura.
Menelan ludah, ia mengangguk kecil, mencoba terlihat natural. "Iya… aku sempat nyasar."
Salah satu pria mendengus, melirik Naruto dari atas ke bawah. "Temanmu?"
Naruto menyeringai tipis. "Iya. Dan dia bukan tipe orang yang bisa diajak ngobrol sembarangan, kan?"
Nada suaranya terdengar santai, tapi tajam.
Ketiga pria itu saling berpandangan. Mereka sepertinya tahu Naruto bukan orang yang bisa dianggap remeh. Dengan tinggi badan yang tidak bisa dibilang kecil, serta sorot mata yang penuh kepercayaan diri, Naruto jelas bukan target empuk.
"Ah, santai aja, Bro," kata salah satu dari mereka, mengangkat tangan seolah tidak ingin cari masalah. "Cuma ngobrol."
Naruto tidak menjawab, hanya menatap mereka dengan ekspresi datar sebelum menarik tangan Ino, membawanya menjauh dari gang itu.
Baru setelah mereka cukup jauh, Ino sadar ia masih menggenggam tangan Naruto.
Dengan cepat, ia melepaskannya.
Ino masih bisa merasakan gemetar halus di tangannya saat mereka berjalan ke arah yang lebih terang. Meski kejadian tadi sudah berlalu, jantungnya belum sepenuhnya tenang.
"Naruto…"
Suara Ino pelan, hampir tidak terdengar di antara deru kendaraan di kejauhan.
"Hm?" Naruto menoleh tapi Ino tak melanjutkan kata-katanya.
Sebenarnya barusan ia ingin berterima kasih. Tapi entah kenapa kata-kata itu tidak keluar dari mulutnya.
"Aku… aku pikir mencari kost di sini akan mudah."
Mereka sekarang berada di trotoar yang lebih terang dibanding jalan utama tadi, tapi perasaan tidak nyaman masih tersisa di dadanya.
Naruto berjalan di sebelahnya, ekspresinya santai seperti biasa, seolah yang baru saja terjadi bukan sesuatu yang besar. Tapi ketika ia menoleh dan menatapnya, ada sesuatu di matanya—sesuatu yang membuat Ino sulit mengalihkan pandangan.
Naruto mengangguk pelan. "Gampang-gampang-susah sih. Kost di sini memang banyak. Tapi perlu waktu dan kesabaran agar mendapatkan apa yang sesuai keinginan kita," katanya. "Kost-ku juga nggak jauh dari sini, makanya aku bisa cepat ke sini waktu kau nelepon tadi."
Ino ber-oh-ria.
Naruto melanjutkan, "Tapi… meskipun daerah ini strategis, dekat kampus, kantor, dan segala macam, tempat ini juga ada sisi gelapnya." Ia menoleh ke Ino, ekspresinya lebih serius sekarang. "Gang tadi tempatnya hiburan malam, prostitusi, narkoba… Makanya, kalau nggak tahu medannya, bisa kejadian kayak tadi."
Ino menelan ludah. Ia tidak suka mengakui kesalahannya, tapi kali ini ia tahu Naruto benar.
"Aku cuma nggak menduga akan terjebak ke area seperti itu," gumamnya akhirnya.
Naruto tersenyum tipis, lalu mengeluarkan ponselnya. "Tunggu. Aku sempat lihat beberapa kost yang lebih aman. Mau aku carikan?"
Ino menatapnya ragu. Ia tidak mau kelihatan seperti orang yang bergantung pada Naruto. Tapi… ia juga tidak mau kejadian tadi terulang.
"Apa nggak merepotkan? Sekarang hampir tengah malam," katanya, mencoba menjaga harga dirinya.
Naruto terkekeh kecil, tapi tawanya kali ini lebih lembut. "Santai aja. Aku juga nggak minta bayaran," katanya santai, lalu menambahkan dengan nada lebih serius, "Aku cuma nggak mau besok-besok dengar berita kalau Ino Yamanaka hilang diculik orang."
Ino mendecak pelan, menutupi rasa gugupnya. "Dasar berlebihan," gumamnya, meskipun dalam hati, ia tahu ucapan Naruto ada benarnya.
Naruto hanya tersenyum kecil dan mulai mencari kost di ponselnya.
"Baiklah," kata Ino akhirnya, suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan. "Kuharap seleramu bagus."
Naruto menyeringai. "Serahkan padaku."
Setelah kegagalan kost pertama, Ino hampir putus asa. Namun, berkat bantuan Naruto, ia akhirnya menemukan tempat yang sesuai dengan keinginannya.
Kost ini terletak di lingkungan yang nyaman, tidak terlalu jauh dari kampus, tapi juga tidak terlalu bising. Bangunannya modern dan bersih, dengan lorong-lorong terang yang tidak terasa pengap. Kamarnya berada di lantai dua, cukup luas untuk ukuran kost mahasiswa, dengan jendela besar yang menghadap taman kecil di belakang bangunan.
Begitu masuk, Ino langsung merasa cocok. Kamarnya memiliki dinding bercat putih bersih, lantai keramik yang tidak terasa lembap, dan perabotan sederhana tapi fungsional—lemari pakaian kayu yang masih kokoh, meja belajar dengan kursi empuk, serta rak kecil di sudut yang bisa ia isi dengan barang-barang pribadinya. Yang paling penting, kamar mandinya ada di dalam, tidak perlu berbagi dengan penghuni lain.
Harganya memang sedikit lebih mahal daripada kost yang ia booking sebelumnya, tapi setelah dipikir-pikir, itu sangat masuk akal. Kost pertamanya terkenal dan selalu penuh peminat karena harga sewanya terjangkau meski sesuai dengan fasilitasnya yang tidak seberapa. Sementara yang ini adalah bangunan baru, hanya terdiri dari enam kamar, sehingga suasananya lebih tenang dan eksklusif.
"Ini lebih cocok disebut best deal," kata Naruto sambil membantu Ino memasukkan barang-barangnya ke rak.
Setelah semua barang-barangnya tertata rapi, tempat ini akhirnya terasa seperti miliknya. Rak kecil di sudut sudah diisi perlengkapan pribadinya, koper yang sebelumnya penuh kini kosong, dan tempat tidur single dengan sprei bermotif floral sudah tidak lagi kosong melompong.
Naruto duduk di lantai, bersandar di kasur dengan santai. "Akhirnya selesai juga, ya," katanya, merentangkan tangan ke belakang kepala.
Ino menatap koper kosongnya lalu mendudukkan diri di kasur, merasa sedikit lelah tapi puas. "Iya. Aku nggak nyangka bisa dapat tempat sebagus ini," gumamnya.
Naruto hanya tersenyum tipis. Ia sebenarnya senang bisa membantu Ino, tapi lebih dari itu, ia senang bisa menghabiskan waktu bersama lagi.
Namun, di tengah keheningan, suara perut berbunyi pelan. Ino langsung menegang, sementara Naruto menoleh dengan ekspresi geli.
"Kau lapar?" tanyanya, menahan tawa.
Ino mendengus pelan, wajahnya sedikit memerah. "Mungkin."
Naruto terkekeh. "Kalau gitu, ayo cari makan. Aku tahu tempat yang masih buka sampai dini hari. Deket, kok."
Ino melirik jam dinding. Sudah lewat tengah malam. Tapi perutnya memang butuh diisi, dan ia juga tidak tahu di mana lagi harus mencari makanan di daerah yang masih asing baginya.
Mereka akhirnya berjalan ke warung nasi goreng di dekat kost Ino, tempat sederhana dengan gerobak merah di depannya dan meja kayu panjang di dalamnya. Warung itu cukup terkenal di kalangan mahasiswa dan pekerja malam karena buka sampai dini hari. Aroma nasi goreng yang dimasak di atas wajan besar langsung menyambut mereka begitu duduk.
Naruto menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya. "Wah, pasti enak nih."
Ino hanya mengangguk, matanya masih sedikit sibuk mengamati lingkungan sekitar. Ia masih belum terbiasa dengan area baru ini.
Mereka menyelesaikan makanan mereka tanpa banyak bicara lagi. Setelah membayar, Naruto berjalan di samping Ino, mengantarnya kembali ke kost. Jalanan sudah jauh lebih sepi dibanding sebelumnya, hanya ada beberapa kendaraan yang sesekali melintas.
Setibanya di depan gerbang kost, mereka berhenti. Ino menyadari bahwa ini pertama kalinya sejak sekian lama mereka berdua menghabiskan waktu seperti ini—tanpa pertengkaran, tanpa sindiran pedas.
Naruto menyelipkan tangannya ke dalam saku celana, menatapnya sejenak sebelum bertanya, "Kau akan baik-baik saja?"
Ino mengangguk, meski ragu.
Fakta bahwa Naruto tinggal di sekitar sini membuatnya sedikit tidak nyaman karena akan sering bertemu. Tapi di satu sisi ia juga bersyukur karena jika ada kejadian darurat seperti tadi Naruto bisa menolongnya lagi. Tidak terbayangkan jika tadi Naruto tidak datang, bagaimana nasibnya sekarang?
"Tidurlah. Kau pasti capek." Naruto melangkah mundur, bersiap pergi, namun ia sadar seperti ada keraguan di wajah Ino. Ia lalu menoleh sekali lagi. "Jangan lupa, kalau ada apa-apa, telpon aku."
Ino tidak langsung menjawab. Tapi kalimat itu sukses membuatnya tenang, memastikan kalau Naruto siap membantunya kapan saja.
Saat Naruto sudah berbalik dan mulai melangkah pergi, Ino berkata, "Terima kasih."
Naruto melambaikan tangan tanpa menoleh. "Yup. Sama-sama."
Ino menatap punggungnya sampai sosok itu menghilang di tikungan jalan.
Ino masuk ke dalam lalu merebahkan diri di kasurnya, menatap langit-langit kamar yang masih terasa asing. Malam ini melelahkan, menegangkan, sekaligus… membingungkan. Ia menutup matanya, mencoba mengabaikan sensasi hangat yang masih tersisa di telapak tangannya—tempat di mana Naruto tadi sempat menggenggamnya. Ia sudah lupa kapan terakhir kali mereka berpegangan tangan. Mungkin saat SD, saat hubungan mereka masih baik.
Ia menarik napas panjang.
Hari pertamanya di ibu kota tidak berjalan seperti yang ia bayangkan. Tapi setidaknya, ia tidak benar-benar sendirian.
.
.
To be continued…
