.

Unspoken

.

Disclaimer: I do not own Naruto characters

Naruto © Masashi Kishimoto


Chapter 4: Mask

OSPEK kampus adalah sesuatu yang tidak pernah Ino bayangkan akan sangat melelahkan. Dia mengira kegiatan orientasi mahasiswa baru hanyalah sekadar acara perkenalan dan serangkaian kegiatan membosankan di aula. Namun, kenyataannya jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan.

Panas matahari siang ini menyengat tanpa ampun di atas lapangan kampus, di mana ratusan mahasiswa baru berdiri dalam barisan rapi. Keringat mulai membasahi pelipis Ino, membuatnya harus berkali-kali mengibaskan tangan di depan wajah untuk sedikit mengusir hawa gerah. Seragam OSPEK mereka—kaos putih polos dan celana hitam—terasa semakin lengket di tubuhnya karena keringat.

Di depan mereka, para panitia OSPEK yang sebagian besar adalah senior tahun kedua atau ketiga berdiri dengan ekspresi tegas. Salah satu dari mereka, seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan jaket almamater yang sengaja digantung di bahu, melangkah maju dengan wajah serius.

"Oke, dengarkan baik-baik!" suaranya menggelegar melalui mikrofon, membuat beberapa mahasiswa baru yang sebelumnya mengobrol langsung diam. "Mulai hari ini, kalian akan menjalani OSPEK selama seminggu penuh! Ada banyak tugas yang harus kalian selesaikan, dan ini bukan sekadar formalitas belaka. Kalian akan belajar tentang lingkungan kampus, membangun kerja sama, dan yang paling penting—disiplin!"

Beberapa senior lain yang berdiri di sampingnya mengangguk setuju.

"Sekarang, kita mulai dengan pembentukan kelompok. Setiap kelompok harus berisi sepuluh orang. Usahakan terdiri dari berbagai jurusan. Kalian akan mengerjakan tugas OSPEK bersama kelompok ini selama seminggu ke depan, baik di dalam maupun di luar kampus."

Begitu mendengar itu, Ino menegang. Ia melirik sekeliling, menyadari satu hal—ia belum kenal siapa pun di sini.

'Oh, sial…' batinnya.

Sejak awal, ia memang tidak terlalu aktif berbaur dengan mahasiswa lain. Dengan jumlah peserta OSPEK yang mencapai ratusan, kemungkinan besar semua orang juga sedang sibuk mencari kelompok mereka sendiri.

Tidak ada waktu untuk memilih dengan santai. Ino harus segera menemukan seseorang yang setidaknya ia kenal agar tidak tersingkir dan terjebak dengan orang asing sepenuhnya. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok yang familiar.

Lalu, matanya menangkap kilatan warna kuning.

Naruto.

Rambut pirangnya yang khas membuatnya mudah dikenali di antara lautan mahasiswa baru. Ino langsung bergegas menyusuri lapangan, berusaha melewati kerumunan tanpa tersandung kaki siapa pun. Ia tahu ini terdengar dramatis, tapi dalam situasi seperti ini, Naruto adalah satu-satunya orang yang bisa ia andalkan.

Ketika akhirnya sampai, Naruto yang sedang berbicara dengan beberapa orang menoleh ke arahnya.

"Ino?" Naruto mengangkat alis.

Ino menatapnya sebentar, sedikit ragu. Ia memang sudah beberapa kali bertemu Naruto sejak tiba di kota ini, tapi tetap saja, ada jarak di antara mereka yang belum sepenuhnya hilang. Namun, situasi saat ini tidak memberinya pilihan lain.

"Kau sudah punya kelompok?" tanyanya, berusaha terdengar santai meskipun dalam hati sedikit canggung.

Naruto menatapnya sejenak, lalu menggeleng. "Belum, sih. Aku baru ngobrol sama mereka." Ia melirik ke empat orang lain yang berdiri di dekatnya.

"Kalau begitu, boleh aku ikut?"

Naruto menatapnya lebih lama kali ini, seolah ingin memastikan sesuatu, sebelum akhirnya mengangkat bahu. "Ya, tentu saja."

Ino menghela napas lega dalam hati. Setidaknya, ia tidak akan berjuang sendirian di OSPEK ini.


Suasana pasar sore itu ramai. Pedagang berseru menawarkan dagangannya, pelanggan berlalu-lalang mencari barang, dan suara kendaraan sesekali membunyikan klakson, menambah hiruk-pikuk khas area perdagangan. Ino berjalan di antara kerumunan, matanya menyapu deretan toko kecil dan kios yang menjual berbagai macam barang.

Kelompok mereka sudah berpencar untuk mencari alat dan bahan yang diperlukan untuk tugas besok. Sesuai pembagian yang mereka buat sebelumnya, setiap anggota mendapat tugas membeli item tertentu agar lebih efisien. Namun, ada beberapa barang yang sulit ditemukan. Selain alat-alat sederhana seperti karton dan lem, mereka juga diminta mencari makanan dan minuman dengan istilah atau akronim yang sulit dimengerti, seolah hanya senior yang tahu artinya.

"Serius, mereka minta kita cari ini?" gumam Ino sambil menatap daftar di tangannya. "Bahkan aku nggak tahu ini makanan atau nama sandi militer."

Naruto tertawa kecil di sampingnya. "Tenang aja, aku udah searching internet siang tadi. Harusnya kita bisa dapat semuanya di pasar ini."

Ino menoleh padanya dengan ekspresi tidak percaya. "Kau bercanda?"

"Tentu saja nggak," jawab Naruto santai. "Aku nggak mau ribet di sore hari. Jadi aku cari informasi lebih dulu tentang tempat jualnya."

Ino diam, sedikit terkejut. Setahu dia, Naruto tidak pernah berpikir sejauh ini. Ia selalu menganggap Naruto hanyalah pemuda sembrono yang bertindak tanpa berpikir panjang. Tapi kali ini, Naruto justru lebih siap daripada dirinya dan anggota lainnya.

"Beres, kita tinggal beli beberapa barang lagi," ujar Naruto sambil menggulung daftar belanjaan. "Ayo, kita cari yang lainnya."

Mereka pun kembali menyusuri pasar, memastikan semua kebutuhan mereka lengkap sebelum hari esok tiba.


Siang itu, Ino dan kelompoknya duduk bersila di bawah pepohonan kampus. Matahari bersinar terik, tapi untungnya, panitia sudah mengatur agar kegiatan OSPEK tidak hanya terpaku di aula yang pengap. Setiap kelompok kini berkumpul di berbagai titik, ada yang di taman, lapangan, bahkan di dekat perpustakaan.

Di depan mereka, seorang senior berdiri dengan clipboard di tangan, memberikan instruksi dengan nada tegas. "Dengar baik-baik! Tugas kalian hari ini adalah menyusun laporan dan menyiapkan presentasi berdasarkan barang yang kalian beli kemarin. Kami ingin melihat bagaimana kalian bekerja sama dan memahami makna dari tugas ini!"

Ino menatap barang-barang di hadapannya—sejumlah makanan dan minuman dengan nama yang masih terdengar asing di telinganya. Mereka harus menjelaskan hubungan barang-barang ini dengan kehidupan mahasiswa dan sejarah kampus.

"Siapa yang bisa menjelaskan makanan aneh ini?" tanya salah satu anggota kelompok, menatap sebuah kotak berisi camilan dengan ekspresi bingung.

Naruto menyeringai, mengangkat bahu santai. "Nggak usah pusing. Menurutku, senior nggak benar-benar peduli kita ngerti maknanya atau nggak."

Beberapa anggota kelompok menoleh ke arahnya dengan heran. "Maksudmu?"

"Ya, mereka cuma pengen kita aktif bicara," jelas Naruto. "Yang penting semua anggota kasih pendapat, dan kita nggak kelihatan pasif. Jadi ya, daripada sibuk nebak-nebak maksudnya apa, mending kita bagi tugas siapa ngomong apa nanti pas presentasi."

Ino mengerjapkan mata. Tadi ia sempat khawatir tidak bisa menjawab dengan benar, tapi sekarang, masuk akal juga. Senior pasti lebih ingin melihat bagaimana mereka berargumen dan bekerja sama daripada jawaban yang benar-benar akurat.

"Baiklah," katanya, menyilangkan tangan di dada. "Kalau gitu, ayo kita susun strategi."

Naruto tersenyum. "Nah, gitu dong!"

Dan dengan itu, mereka mulai menyusun presentasi, sedikit lebih percaya diri dari sebelumnya.


Di hari terakhir OSPEK, mahasiswa baru harus naik bus untuk perjalanan ke tempat acara penutupan. Satu peleton satu bus. Ada total sebelas bus dalam rombongan kampus mereka. Mereka akan mengikuti kegiatan outbond, dan bagi yang berminat, bisa ikut berkemah bersama. Namun, berkemah bukan kegiatan wajib, karena tidak semua mahasiswa terbiasa tidur di tenda dan berada di alam terbuka.

Bus dipenuhi suara obrolan, sebagian besar mahasiswa tampak bersemangat, meski ada juga yang terlihat kelelahan setelah seminggu penuh menjalani kegiatan OSPEK. Beberapa mahasiswa sibuk mencari tempat duduk, sementara yang lain sudah asyik berbicara dengan teman kelompoknya.

Ino duduk di dekat jendela, menikmati hembusan angin dari celah kecil yang terbuka. Tubuhnya masih sedikit pegal setelah menjalani serangkaian tugas OSPEK, tapi setidaknya ia merasa lebih tenang sekarang. Ia tidak menyangka seminggu terakhir akan seintens ini—berkelompok dengan orang-orang yang belum dikenalnya, bekerja sama dalam tugas-tugas yang kadang terasa tidak masuk akal, dan yang paling mengejutkan, melihat Naruto dalam versi yang berbeda.

Awalnya, ia ragu saat memutuskan untuk satu kelompok dengan Naruto. Ia selalu menganggapnya sebagai orang yang sembrono, ceroboh, dan lebih sering bertindak tanpa berpikir panjang. Tapi, selama OSPEK, Naruto justru membuktikan sebaliknya. Dia cekatan, bisa diandalkan, dan bahkan mampu mengoordinasi kelompok dengan baik. Mau tidak mau, Ino harus mengakui bahwa tanpa Naruto, kelompok mereka mungkin sudah berantakan sejak hari pertama.

Baru saja ia mulai tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba seseorang duduk di sebelahnya.

"Serius?!" keluhnya saat melihat siapa yang duduk di sana.

Naruto hanya mengangkat bahu dengan ekspresi tak berdosa. "Kursi lain penuh," katanya santai, seakan menantang Ino untuk membantah lebih jauh.

Ino melirik sekeliling bus. Memang benar, sebagian besar kursi sudah terisi. Meski begitu, tetap saja, dari semua orang, kenapa harus Naruto?

Ino ingin protes, tapi lebih karena rasa terima kasihnya, ia membiarkan Naruto duduk di sana. Karena ia tahu, tanpa Naruto, OSPEK seminggu kemarin pasti akan terasa jauh lebih sulit. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kelompok mereka akan bertahan tanpa seseorang yang bisa berpikir cepat seperti Naruto.

Dengan enggan, Ino kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi, tapi ia sengaja menjaga jarak sejauh mungkin dari Naruto. Tangannya memeluk tasnya erat-erat, menjadikannya semacam 'batas' agar mereka tidak bersentuhan.

Naruto meliriknya sebentar sebelum akhirnya menyenderkan kepalanya ke kursi. Bibirnya sedikit melengkung ke atas, seolah menikmati ekspresi kesal Ino.

"Santai saja," katanya, nada suaranya terdengar sedikit menggoda. "Aku nggak akan menggigitmu."

Ino mendengus, memutar bola matanya dengan malas sebelum mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Di luar, bus mulai melaju, meninggalkan kampus mereka. Perjalanan ke tempat outbond baru saja dimulai.


Hutan pinus itu menjulang tinggi dengan batang-batangnya yang ramping, menciptakan kanopi alami yang meneduhkan area perkemahan. Cahaya matahari menyelinap di antara celah dedaunan, menimbulkan pola bayangan yang bergerak pelan di tanah berlapis jarum pinus. Angin sepoi-sepoi berembus, membawa aroma khas kayu dan tanah yang sedikit lembap, berpadu dengan semerbak asap samar dari dapur panitia yang mulai menyiapkan makan siang.

Suasana outbond sejak pagi terasa penuh energi. Mahasiswa baru, yang semula masih canggung, kini mulai menikmati berbagai tantangan yang diberikan oleh panitia. Ada yang berlarian menyelesaikan permainan estafet, ada yang berusaha menjaga keseimbangan di atas balok kayu, sementara suara sorak-sorai terdengar dari kelompok yang sedang berlomba memindahkan air dengan gelas bocor.

Ino dan Naruto tidak banyak berinteraksi sepanjang kegiatan ini. Meskipun berada dalam kelompok yang sama, mereka sibuk dengan tugas masing-masing. Namun, beberapa kali, Ino menangkap Naruto mencuri pandang ke arahnya. Ia tidak tahu apakah itu kebetulan atau memang Naruto sengaja meliriknya, tapi setiap kali ia balas menatap, Naruto buru-buru mengalihkan pandangannya.

Menjelang sore, acara semakin seru karena panitia mulai ikut berbaur dengan mahasiswa baru. Salah satu momen yang paling dinantikan adalah lomba tarik tambang. Begitu nama kelompok mereka dipanggil, teman-teman Naruto langsung menunjuknya sebagai peserta.

"Naruto aja! Dia pasti kuat!" seru seseorang dari kelompoknya.

"Benar! Kalau dia ikut, kita pasti menang!" tambah yang lain.

Naruto hanya bisa mengeluh pasrah sambil mengacak rambutnya. "Kenapa aku lagi?" keluhnya, tapi tetap maju ke garis depan dengan semangat.

Di sisi lain, sebagian besar mahasiswa perempuan memilih beristirahat dan menonton. Ino duduk bersama beberapa teman barunya di atas tikar yang digelar panitia, menikmati camilan sambil menonton pertandingan. Ia sudah mulai merasa lebih nyaman dengan lingkungan barunya, bahkan sesekali ikut bersorak saat tim mereka hampir menang.

Saat malam tiba, mahasiswa yang memilih untuk tidak berkemah mulai bersiap kembali ke kampus dengan bus. Ino memutuskan untuk tetap tinggal. Mau pulang juga ngapain? Kosnya juga sepi, dan entah kenapa, ia merasa ingin menikmati malam di alam terbuka ini.


Api unggun besar menyala di tengah area perkemahan, menjilat-jilat kayu kering yang ditumpuk rapi. Cahaya jingga kemerahan itu memantulkan bayangan bergetar di wajah-wajah mahasiswa yang berkumpul di sekitarnya. Beberapa panitia dan mahasiswa sibuk dengan permainan kecil, sementara yang lain hanya duduk menikmati kehangatan.

Ino duduk di salah satu batang kayu panjang yang disusun mengelilingi api. Ia mengangkat tangannya sedikit ke depan, membiarkan kehangatan api menjalari telapak tangannya yang dingin.

Naruto tiba-tiba duduk di sampingnya, menyandarkan lengannya di lutut dengan ekspresi santai.

"Kau tidak pulang?" tanyanya sambil melirik sekilas ke arahnya.

Ino menggeleng. "Kosku sepi. Lagipula, kapan lagi bisa berkemah seperti ini?"

Naruto terkekeh pelan. "Benar juga."

Tidak banyak percakapan yang terjadi di antara mereka. Mereka sedang menikmati malam kebersamaan bersama teman-teman kuliah yang akan sama-sama berjuang menuntut ilmu empat tahun ke depan. Sesekali, Naruto dan Ino ikut tertawa menanggapi cerita senior mereka, menikmati suasana tanpa banyak berpikir.

Api unggun berderak pelan, cahayanya memantulkan siluet hangat di wajah-wajah yang duduk melingkar di sekitarnya. Gelak tawa kembali pecah saat salah satu senior menceritakan pengalaman konyolnya di masa kuliah. Ino melirik sekilas ke arah Naruto, yang tampak santai dengan senyum lebar di wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak OSPEK dimulai, ia benar-benar merasa nyaman—tanpa beban, tanpa tuntutan. Hanya kebersamaan, hangatnya api unggun, dan tawa yang menggema di bawah langit malam.


Ino sudah duduk di dalam bus, bersandar lelah pada jendela sambil melihat pepohonan yang perlahan menjauh. Tubuhnya masih terasa pegal setelah dua hari penuh berkegiatan di alam terbuka. Namun, di antara kelelahan itu, ada perasaan lega karena OSPEK akhirnya selesai.

Dari sudut matanya, ia menangkap sosok di sebelahnya yang tampak kelelahan. Naruto duduk dengan kepala sedikit tertunduk, matanya sudah hampir tertutup sepenuhnya.

Pantas saja, semalam dia begadang, pikir Ino.

Sesekali, bus yang melewati jalanan tak rata membuat tubuh Naruto sedikit terhuyung, dan tanpa sadar kepalanya bersandar ke pundak Ino. Gadis itu menegang sejenak, ingin menggeser diri tapi urung melakukannya. Namun, beberapa detik kemudian, Naruto tersadar dan buru-buru mengangkat kepalanya, kembali ke posisi semula dengan wajah sedikit mengantuk tapi tetap menjaga jarak.

Ino meliriknya sekilas, nyaris ingin menertawakan wajah setengah sadar itu. Namun, ia memilih diam dan kembali menatap ke luar jendela, membiarkan Naruto berusaha tetap terjaga meski matanya terus saja berusaha menutup.

Ia tak tahu pasti Naruto tidur jam berapa semalam. Yang jelas, saat ia pamit menuju tenda perempuan, mayoritas mahasiswa baru laki-laki masih berkumpul di sekitar api unggun, tertawa bersama para senior. Sepertinya mereka masih asyik bercengkerama hingga larut, menikmati malam terakhir sebelum kembali ke rutinitas baru sebagai mahasiswa.

Setelah beristirahat di rest area, bus kembali melanjutkan perjalanan. Naruto kini tampak lebih segar. Rambutnya sedikit basah, kemungkinan karena ia baru saja mencuci muka, dan di tangannya ada kopi panas yang masih mengepul.

Namun, satu hal yang terasa aneh bagi Ino—Naruto tidak banyak bicara.

Biasanya, saat mereka masih di SMA, Naruto selalu punya sesuatu untuk dikomentari. Entah itu sekadar mengeluh tentang tugas sekolah, bercerita tentang kejadian konyol, atau bahkan bercanda tanpa alasan yang jelas. Tapi sekarang? Ia hanya duduk diam, menyesap kopinya perlahan sambil menatap ke TV di area depan bus.

Ino mengerutkan dahi. Entah kenapa, sikap ini membuatnya sedikit… gregetan.

Sejak kapan Naruto jadi setenang ini? pikirnya.

Rasa penasaran membuatnya gelisah. Ia ingin mencairkan suasana, tapi lebih dari itu—ia ingin tahu alasan di balik perubahan sikap Naruto.

Akhirnya, dengan sedikit berdeham, Ino menoleh ke arahnya.

"Naruto, kau kenapa sih?" tanyanya langsung.

Naruto menoleh, sedikit terkejut. "Hah? Kenapa apa?"

"Apa kau selalu begini?"

Naruto mengerutkan kening. "Maksudmu?"

"Tenang. Pintar. Tidak jahil. Terlihat…" Ino memberikan jeda, mencari kata yang pas. "Dewasa."

Naruto terdiam sebentar, lalu nyengir lebar. "Kau ini gimana, Ino? Aku bingung. Dulu aku jahil kau protes. Sekarang aku tidak jahil kau masih saja berkomentar."

Ino melipat tangan di dadanya. "Bukan begitu, maksudku…"

Ia menggigit bibir bawah, mencoba merangkai kata yang tepat.

"Kita tak banyak berkomunikasi sekitar setahun. Tapi aku merasa seperti tak mengenalmu lagi," lanjutnya. Ino menatapnya lama, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela. Mungkin, hanya mungkin, Naruto bukan lagi orang yang ia kenal dulu.

Naruto tidak langsung menjawab. Ia menyesap kopinya sebentar sebelum akhirnya berkata, "Aku sedang menata hidupku yang berantakan. Bisa dibilang aku sudah membuka 'topeng' yang selama ini kupakai."

Ino mengerutkan kening, ingin bertanya lebih lanjut, tapi kemudian Naruto menambahkan, "Terutama sejak insiden…"

Kalimatnya terputus.

Mereka saling bertatapan sejenak sebelum akhirnya mengalihkan pandangan. Tidak perlu disebutkan insiden apa yang dimaksud, karena mereka berdua tahu persis.

Ino menggenggam tali tasnya lebih erat, perasaan tak nyaman merayapi pikirannya. Ada sesuatu dalam nada suara Naruto yang terasa berbeda. Sesuatu yang membuatnya ingin bertanya lebih lanjut.

Ia menarik napas pelan, lalu menoleh kembali ke arah Naruto.

"Topeng yang kau maksud… apa?" tanyanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari yang ia maksudkan.

Naruto menghentikan gerakan tangannya yang hendak mengangkat kopi ke mulutnya. Matanya melirik ke arah Ino sebentar sebelum akhirnya kembali menatap ke depan.

Ia terdiam, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat.

"Selama ini aku selalu berusaha terlihat ceria, tanpa peduli apa yang sebenarnya kurasakan. Aku pikir, kalau aku selalu tertawa dan bersikap konyol, semuanya akan baik-baik saja."

Ia menyesap kopinya perlahan sebelum melanjutkan.

"Selain itu, aku juga memakai topeng lain—topeng kebodohan," lanjutnya dengan nada lebih rendah. "Bukan karena aku benar-benar bodoh, tapi karena aku tidak mau repot dan tidak mau mengikuti ekspektasi ayahku."

Ino menatapnya dengan sedikit terkejut.

"Tapi ternyata… topeng itu malah menjauhkanku dari seseorang yang berharga."

Hening.

Ino tahu siapa yang dimaksud.

Jawaban Naruto barusan membuatnya terdiam. Ia tidak menyangka selama ini Naruto menyadari hal itu—bahwa jarak di antara mereka bukan sekadar kebetulan, melainkan sesuatu yang ia ciptakan sendiri.

Sejak insiden di festival SMA, Ino memang sengaja menjaga jarak. Ino muak. Saat itu, Naruto masih menjadi sosok yang menurutnya kekanakan, ceroboh, dan sering bertindak tanpa berpikir panjang. Tapi sekarang?

Naruto yang ada di hadapannya terasa berbeda. Lebih tenang, lebih matang. Dan untuk pertama kalinya, Ino melihat sisi Naruto yang selama ini tersembunyi di balik topeng yang ia kenakan.

Naruto tidak melanjutkan kata-katanya, dan Ino pun tidak bertanya lebih jauh. Ada banyak hal yang ingin ia ucapkan, tetapi untuk saat ini, ia memilih membiarkan momen itu berlalu.

.

.

To be continued…