.

Unspoken

.

Disclaimer: I do not own Naruto characters

Naruto © Masashi Kishimoto


Chapter 5: Trauma

Ospek berakhir dengan lancar bagi Naruto dan Ino. Pasca Ospek Naruto cukup dikenal oleh mahasiswa lain karena sigap dalam menyelesaian quiz dan tantangan dari senior. Ino dikenal karena masuk ke kategori mahasiswa cantik, calon bintang kampus, mirip Barbie kalau kata orang-orang.

Kuliah berjalan lebih cepat dari yang Ino bayangkan. Tugas, proyek, dan kegiatan organisasi menyita sebagian besar waktunya. Namun, di tengah semua kesibukan itu, ada satu hal yang semakin jelas di matanya—Naruto bukan lagi anak laki-laki yang ia kenal dulu.

Sejak awal semester pertama, kepintaran Naruto semakin terlihat. Ino tak lagi heran bagaimana dia bisa masuk jurusan Teknik Informatika hanya dengan keseriusan belajar yang dimulai setahun sebelum kelulusan SMA. Sepertinya Naruto memang sudah punya modal otak encer keturunan ayahnya. Jika saja ia mau serius sejak awal, mungkin ia sudah jadi anak jenius yang diakui sejak dulu.

Sementara itu, Ino sendiri mengambil jurusan Fashion Design. Ketika pertama kali memberitahu Naruto tentang pilihannya, reaksi laki-laki itu di luar dugaan.

"Cocok," kata Naruto sambil mengangguk mantap. "Seperti ibumu."

Ino sempat menatapnya dengan sedikit terkejut. "Kau ingat?"

"Tentu saja," jawab Naruto santai. "Ibumu selalu bilang kalau kau berbakat mendesain baju sejak kecil."

Ino tidak segera menanggapi. Pikirannya sedikit melayang ke masa lalu. Ia tidak menyangka Naruto masih mengingat hal kecil seperti itu.

Naruto memperhatikan ekspresinya, lalu dengan sedikit ragu, ia melanjutkan, "Kau pasti bakal jadi desainer hebat suatu hari nanti."

Ino meliriknya sekilas. "Semoga," katanya akhirnya.


Naruto dan Ino sama-sama mulai sibuk dengan jadwal perkuliahan mereka. Selain kuliah, Naruto bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Informatika (HMIF) serta Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (UKM PA). Sementara itu, Ino memilih Unit Kegiatan Mahasiswa Teater dan—anehnya—juga Pecinta Alam.

Saat pertama kali mendengar Ino bergabung dengan UKM Pecinta Alam, Naruto sempat mengerutkan dahi.

"Kau? Pecinta alam?" tanyanya skeptis.

"Apa yang salah?" balas Ino santai.

"Aku cuma heran. Sejak kapan kau suka kegiatan outdoor? Manaiki bukit belakang SD saja kau kerepotan."

Ino mendengus. "Bukan karena aku suka, sih. Tapi… rasanya seru saja. Naik gunung bisa jadi pengalaman keren, lagipula, fotonya pasti bagus buat konten."

Naruto menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. "Jadi kau gabung cuma karena FOMO?"

"Persis!" jawab Ino tanpa rasa bersalah. Yup, tipikal Ino sekali, selalu ingin tampil sempurna di media sosialnya.

Naruto menggeleng pelan. "Ya ampun. Kau ini..."

Meski begitu, ia tidak terlalu mempermasalahkan keputusan Ino.


Mereka sering janjian makan bersama karena kos mereka berdekatan. Kadang-kadang, Ino yang mampir ke kos Naruto, dan terkadang Naruto yang mengunjungi kos Ino. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga tahun kedua kuliah.

Namun, suatu hari, saat Ino sedang berkunjung ke kos Naruto, suasana tiba-tiba berubah.

Ino yang sedang duduk santai di lantai sambil ngemil, tiba-tiba menerima telepon. Saat membaca nama di layar, ekspresinya langsung berubah.

Naruto tidak bisa mendengar isi percakapan itu dengan jelas, tapi dari raut wajah Ino, ia tahu sesuatu yang buruk telah terjadi. Setelah menutup telepon, Ino terdiam sejenak.

"Ino?" panggil Naruto pelan.

Ino mengangkat kepalanya dan menatap Naruto dengan mata yang sedikit meredup. "Ayah dan Ibuku akan bercerai."

Naruto terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.

Setelah beberapa saat, Ino mengembuskan napas panjang dan mengalihkan pandangannya ke jendela. "Aku harus pulang ke Konoha."

Naruto menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah. Aku antar."


Sesampainya di depan rumah Ino, Naruto berniat langsung pamit karena tidak mau terkesan mencampuri urusan keluarga Ino. Namun tak lama ia berubah pikiran, ia justru tetap berdiri di sana. Bukan karena ingin menguping, tapi suara di dalam rumah terdengar jelas.

"Ino, kau harus memilih," suara ayahnya terdengar tegas. "Ikut Ayah atau Ibu?"

Suasana hening beberapa detik sebelum suara ibunya terdengar. "Kami tidak akan tinggal di Konoha lagi, Sayang. Kau harus memilih."

Naruto mengernyit.

Setelah beberapa saat, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Pintu rumah terbuka, dan Ino muncul dengan wajah memerah serta mata berkaca-kaca.

Naruto belum sempat berkata apa-apa ketika Ino berjalan melewatinya, "Antar aku ke rumahmu."

Naruto menatapnya dengan sedikit terkejut, tapi ia tidak banyak bertanya. Ia hanya mengangguk dan membiarkan Ino duduk di jok belakang motornya.


Di rumah Naruto, Ino langsung masuk ke kamar Naruko, saudara kembar perempuan Naruto. Sejak kecil, jika Ino menginap di rumah mereka, ia memang selalu tidur bersama Naruko. Malam ini pun tak berbeda.

Naruko tidak banyak bertanya. Begitu melihat Ino masuk dengan wajah lelah dan mata sembab, ia langsung menarik selimut dan membiarkan sahabatnya berbaring di sebelahnya. Tak butuh waktu lama sebelum Ino akhirnya tertidur, terlalu lelah secara fisik dan mental setelah semua yang terjadi.

Di luar kamar, Naruto duduk di sofa ruang keluarga sambil menunggu. Beberapa saat kemudian, Naruko keluar dengan langkah pelan, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak membangunkan Ino.

Naruto menatapnya. "Bagaimana keadaannya?" tanyanya dengan nada rendah.

Gadis berambut twintail pirang itu menghela napas sebelum menjawab, "Dia sangat terpukul, tapi sekarang sudah tidur karena kecapekan."

Naruto tidak langsung merespons. Ia hanya menatap pintu kamar itu dengan ekspresi sulit ditebak.

Kushina, yang sejak tadi memperhatikan mereka, ikut menghela napas. Ada rasa iba di matanya.

Sejak kecil, ia tahu betapa dekatnya Naruto dan Ino. Baru saja mereka mulai kembali akrab setelah bertahun-tahun menjauh, tapi sekarang, Ino harus menghadapi permasalahan lain yang begitu pahit. Perceraian orang tua pasti bukan hal mudah, apalagi untuk seorang anak perempuan yang selama ini tumbuh sebagai anak tunggal. Hubungan orang tua Ino memang tidak pernah baik sejak Ino kecil, sering bertengkar dan jarang ada di rumah. Ino muak pada hal itu tapi bukan berarti Ino mengizinkan mereka untuk bercerai. Perceraian akan merubah total hubungan antara Ino dan kedua orangtuanya ke arah yang lebih buruk.

Kushina meremas jemarinya sendiri, lalu berkata dengan suara pelan, "Di Konoha, Ino punya kita. Tapi di ibu kota, dia hanya punya kau."

Semua orang yang sedang duduk di sofa kini pandangan matanya tertuju pada Naruto, termasuk Minato yang dari tadi tak bersuara menyibukan diri dengan membaca tabletnya.

Naruto menoleh ke arah ibunya, menatapnya dalam diam.

"Jaga dia baik-baik, Naruto," lanjut Kushina.

Untuk sesaat, Naruto tidak berkata apa-apa. Tapi dalam tatapan matanya, ada sesuatu yang menunjukkan bahwa ia mengerti.

Ia lalu mengangguk. "Aku tahu, Bu."


Sudah seminggu sejak malam itu. Ino masih tinggal di rumah Naruto, tapi lebih banyak diam. Ia tidak banyak berbicara, tidak mengeluh, tidak menangis di depan siapa pun. Ia hanya menjalani hari dengan rutinitas biasa—bangun, makan, dan tidur—tapi dengan energi yang terasa hampa.

Naruto ingin mengatakan sesuatu. Ingin menyemangatinya. Tapi setiap kali melihat ekspresi datar Ino, kata-kata terasa tidak cukup.

Ia bukan orang yang paham bagaimana rasanya kehilangan keluarga seperti ini. Keluarga Naruto mungkin tidak sempurna, tapi ayah dan ibunya selalu ada. Ia tidak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Ino saat harus memilih antara dua orang yang sama-sama ia cintai. Terlepas dari sikap acuh mereka padanya selama ini.

Jadi, Naruto tidak memaksakan diri untuk sok-sokan menenangkan. Ia hanya ada di sana—menunggu, kalau-kalau Ino siap berbicara.

Sampai akhirnya, di hari ketujuh, Ino yang lebih dulu membuka suara.

"Naruto, bisa antar aku ke rumah dengan mobil?"

Naruto menoleh dari sofa tempatnya duduk. Ino berdiri di ambang pintu, matanya terlihat lebih jernih dari hari-hari sebelumnya.

"Tentu," jawabnya cepat, tanpa bertanya lebih lanjut.


Sesampainya di rumah, Ino berdiri di depan pintu kamarnya selama beberapa detik, menatap isinya seolah-olah ini adalah pertama kalinya ia melihatnya. Udara di dalam terasa berbeda—terlalu sunyi, terlalu hampa.

Dengan tarikan napas dalam, ia akhirnya melangkah masuk dan mulai mengemasi barang-barangnya. Tangannya meraih satu per satu pakaian di lemari, melipatnya dengan gerakan yang sedikit lebih lambat dari biasanya. Kadang, ia berhenti sejenak, menatap pakaian itu sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam koper.

Naruto memperhatikan dari ambang pintu, bersandar dengan tangan terlipat di dada. Ada sesuatu dalam cara Ino bergerak yang tidak biasa—terlihat seperti seseorang yang sudah lama memikirkan ini, tapi di saat yang sama, masih ragu untuk benar-benar melakukannya.

"Jadi… kau akan membawa semuanya?" tanyanya akhirnya.

Ino menghentikan gerakannya sebentar. Matanya menelusuri isi lemari, lalu ke meja riasnya, ke rak-rak kecil yang penuh barang-barang kecil yang selama ini menemani hari-harinya. Tangannya meraih sebuah pigura kecil—foto dirinya saat kecil bersama kedua orang tuanya di taman kota. Ia menatapnya lama, sebelum akhirnya meletakkannya dengan perlahan di atas koper.

"Ya," jawabnya, suaranya sedikit lebih pelan dari sebelumnya. "Aku akan membawa semuanya ke ibu kota."

Naruto diam. Matanya mengikuti setiap gerakan Ino—bagaimana ia menyusun pakaian ke dalam koper dengan hati-hati, bagaimana jemarinya menyentuh beberapa barang seakan menyentuh kenangan yang tersimpan di dalamnya.

Tapi meskipun terlihat ragu, Ino tetap melanjutkan. Tangannya masih bekerja, satu per satu barang masuk ke dalam koper, hingga akhirnya hanya menyisakan udara kosong di kamar itu.

Dari caranya bertindak, Naruto tahu.

Ino tidak akan kembali ke rumah ini.

Dan jujur saja, ia mengerti. Egois sekali orang tuanya jika memaksa Ino harus memilih.

Setelah koper dan tasnya siap, Ino berdiri di tengah kamar, menatap sekeliling. Rumah ini penuh kenangan, tapi untuk sekarang, ia tidak bisa tinggal di sini. Tidak ada lagi yang benar-benar tinggal di rumah ini—ayahnya dan ibunya, setelah bercerai, memilih untuk menetap di tempat lain, di rumah masing-masing. Rumah besar ini kini hanya bangunan kosong, tanpa kehangatan keluarga yang dulu selalu ada.


Naruto mengecek kembali tumpukan koper dan barang milik Ino agar tidak bergeser saat mobil melaju. Setelah memastikan semua aman, ia mengambil beberapa helai bajunya sendiri dan memasukkannya ke kursi belakang. Begitu selesai, Naruto menutup bagasi dengan suara klik pelan, lalu beranjak ke kursi pengemudi. Ia masuk, menyalakan mesin mobil, membiarkan suara dengungan halusnya memenuhi keheningan sore. Namun, ia tidak langsung berangkat. Dari kaca spion, ia bisa melihat Ino masih berada di depan rumah, berbicara dengan keluarganya.

Di depan pintu rumah, Kushina memegang tangan Ino dengan lembut. "Jadi, kau benar-benar akan kembali hari ini?" tanyanya, suaranya penuh kehangatan seorang ibu.

Ino mengangguk pelan. "Ya, aku harus kembali. Sudah seminggu tidak kuliah, dan… aku ingin segera beres-beres barang di kos."

Naruko, yang berdiri di samping ibunya. "Yakin nggak mau tinggal lebih lama? Perasaanmu sudah lebih baik? " tanyanya, jelas ada nada kekhawatiran dalam suaranya.

Ino tersenyum kecil. "Perasaanku sudah lebih baik. Terima kasih, Naruko, tapi aku harus pergi." Ia lalu menatap Minato yang berdiri di samping Kushina. "Terima kasih sudah mengizinkan aku menginap di sini… juga untuk mobilnya. Aku benar-benar menghargainya."

Minato tersenyum lembut. "Tidak masalah. Hati-hati di jalan," ujarnya.

Kushina menepuk bahu Ino lembut. "Kalau butuh tempat singgah kapan saja, kau tahu pintunya selalu terbuka untukmu."

Ino menatap mereka satu per satu—keluarga yang hangat, yang bahkan lebih terasa seperti rumah daripada rumahnya sendiri. Ia menarik napas dalam, lalu tersenyum. "Terima kasih… semuanya."

Setelah berpamitan sekali lagi, Ino akhirnya berjalan menuju mobil. Ia membuka pintu, melangkah masuk, dan duduk di kursi penumpang. Naruto meliriknya sebentar sebelum melepaskan rem tangan.

"Siap?" tanyanya.

Ino menatap rumah itu sekali lagi, lalu mengangguk. "Ya, ayo berangkat."

Tanpa menunggu lagi, Naruto menekan pedal gas, membawa mereka meninggalkan rumah Uzumaki dan kembali ke perjalanan yang sunyi.


Suara mesin yang lembut mengisi keheningan di antara mereka.

Setelah beberapa saat berkendara, Ino akhirnya bersuara, suaranya pelan namun penuh keraguan. "Naruto… menurutmu, aku sudah mengambil keputusan yang benar? Maksudku, dengan membawa semua barangku. Meninggalkan rumah itu sepenuhnya…"

Naruto berpikir sejenak sebelum menjawab, suaranya tenang tapi tegas. "Kalau kau tidak membawa barang-barangmu, siapa yang akan mengurusnya? Kedua orang tuamu juga tidak tinggal di sana lagi."

Ino terdiam, merenungkan kata-kata Naruto. Dan memang benar, rumah itu tidak lagi menjadi 'rumah' baginya.

Setelah itu, tak banyak lagi yang dibicarakan.

Perjalanan berlangsung dalam kesunyian. Ino menatap keluar jendela, pikirannya melayang entah ke mana. Naruto tetap fokus menyetir, sesekali meliriknya, tapi membiarkan keheningan tetap ada. Kadang, diam lebih nyaman daripada kata-kata yang dipaksakan.


Ino meletakkan koper dan tasnya di sudut kamar, lalu duduk di tepi ranjang dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Naruto tidak akan bertanya apakah Ino benar-benar baik-baik saja. Ia tidak akan memaksanya untuk bercerita. Tapi satu hal yang pasti—ia tidak akan membiarkan Ino melewati ini sendirian.

"Aku bakal lebih sering main ke sini," kata Naruto akhirnya, setengah bercanda, setengah serius.

Ino meliriknya. "Bukan berarti aku akan menyambutmu dengan karpet merah."

Naruto nyengir. "Nggak perlu. Asal ada nasi goreng di dekat sini, aku udah senang."

Menanggapinya, bibir Ino sedikit melengkung.

Naruto merasa sedikit lega.

Ia akan ada di sini. Selalu menemani.

Seperti dulu. Seperti seharusnya.


Seminggu kemudian…

Di kamar kost yang kini terasa lebih penuh dari sebelumnya, Ino sibuk beres-beres peralatan mendakinya. Di sudut ruangan, koper besar yang dulu ia bawa dari Konoha masih tergeletak dengan beberapa barang yang belum sempat ia tata. Sejak kepulangannya dari Konoha, kamarnya memang jadi sedikit berantakan dengan barang-barang tambahan yang ia bawa dari rumah.

Naruto duduk bersila di lantai dekat meja kecil, membuka kemasan snack sambil mengamati Ino yang sibuk mondar-mandir. Sesekali ia melirik tumpukan perlengkapan mendaki yang tergeletak di kasur.

"Aku akan ikut pendakian ke gunung tertinggi di kota," kata Ino tiba-tiba, dengan nada mantap.

Gerakan tangan Naruto langsung berhenti. Ia menatap Ino dengan alis terangkat. "Serius?"

"Ya." Ino mengangguk, masih sibuk melipat jaket gunungnya. "Aku sudah daftar. Minggu depan berangkat."

Naruto menyandarkan punggung ke kursi, menatapnya lebih serius.

"Ino, kau sadar nggak kalau ini beda level?" katanya, sambil menunjuk tumpukan peralatan di kasur. "Gunung itu ketinggiannya lebih dari 3000 mdpl, dan kita baru mendaki di kisaran 2000. Itu pun kau masih ngos-ngosan setiap kali sampai di puncak."

"Itu dulu." Ino bersikeras. "Aku sudah lebih kuat sekarang."

Naruto menghela napas. Mereka memang sering mendaki bersama UKM pecinta alam selama dua tahun terakhir. Tapi dari pengamatannya, fisik Ino masih butuh latihan lebih sebelum menghadapi gunung yang lebih ekstrem.

"Ino, dengar," katanya lebih serius. "Kau tahu aku nggak meremehkanmu, tapi ini bukan sekadar naik gunung untuk konten atau ikut-ikutan tren."

Mata Ino menyipit. "Pendakian kali ini bukan untuk konten!"

"Tapi ini lebih ke soal pelarian, kan?" Naruto menebak.

Ino terdiam sejenak. Tapi kemudian ia menegakkan bahunya. "Bukankah kau sendiri yang pernah bilang, mendaki bisa membantu mengosongkan pikiran?"

Naruto mengusap wajahnya, merasa frustrasi. "Iya, tapi kau juga harus realistis. Gunung setinggi itu beda dengan yang kita daki sebelumnya. Kau bisa kena altitude sickness, cuaca bisa berubah ekstrem, oksigen minim, jalurnya lebih berat. Kau sendiri tahu, terakhir kali naik ke gunung 2000 mdpl aja kau hampir kram."

"Itu karena aku kurang pemanasan waktu itu."

Naruto mendengus. "Tapi tetap aja, kau butuh latihan lebih kalau mau naik gunung setinggi itu."

Ino menarik napas panjang. "Aku akan baik-baik saja."

Naruto menatapnya lama, mencoba membaca pikirannya. Tapi ia tahu satu hal—sekali Ino memutuskan sesuatu, ia tidak akan mundur.

Akhirnya, ia menyandarkan kepala ke kursi dan menghela napas panjang.

"Baiklah."

"Jadi kau nggak akan melarangku?"

"Aku nggak akan melarangmu. Tapi aku juga nggak akan membiarkanmu pergi sendiri. Aku akan ikut mendaki."

Ino membuka mulut, siap membantah, tapi kemudian menutupnya lagi. Ia menatap Naruto dengan campuran bingung dan mungkin sedikit lega.

Naruto melipat tangan di dada. "Aku tahu kau keras kepala. Tapi aku juga tahu batasanmu. Jadi kalau kau benar-benar mau naik, aku harus ada di sana untuk memastikan kau nggak kenapa-kenapa."

Ino tidak membantah lagi. Dalam hatinya, ia tahu. Ia ingin Naruto ada di sana.

Ino menunduk sedikit, menyembunyikan senyum tipis yang tanpa sadar muncul di wajahnya. Rasanya aneh—tapi juga melegakan. Selama ini, ia merasa harus menanggung segalanya sendiri, harus menjadi kuat tanpa bergantung pada siapa pun. Namun, Naruto selalu ada, entah bagaimana caranya.

"Baiklah," katanya akhirnya, menatap Naruto dengan lebih tenang.

Mungkin, untuk sekali ini, ia bisa berhenti berusaha terlihat terlalu tangguh. Mungkin, untuk sekali ini, tidak apa-apa jika ada seseorang yang berjalan di sampingnya.

.

.

To be continued…