.

Unspoken

.

Disclaimer: I do not own Naruto characters

Naruto © Masashi Kishimoto


Chapter 6: Summit Attack

Gunung yang mereka daki adalah yang tertinggi di kota tempat mereka tinggal—gunung megah dengan punggungan panjang yang membelah cakrawala. Jalur pendakiannya terkenal menantang, dengan tingkat kesulitan medium yang mendekati ekstrem, terutama bagi pendaki yang belum terbiasa dengan ketinggian. Vegetasi di jalur awal masih cukup ramah, didominasi oleh pepohonan hijau yang rimbun dan udara sejuk yang menyegarkan paru-paru. Namun, semakin naik, jalurnya akan semakin terjal, dengan bebatuan besar dan tanah berpasir yang membuat pijakan lebih licin.

Di sekitar ketinggian 1000 mdpl, semangat Ino masih membara. Langkahnya ringan, nyaris tak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Ia berjalan di depan Naruto, sesekali berhenti untuk mengambil foto dan video. Tangannya cekatan mengarahkan kamera ponselnya ke berbagai sudut, mengabadikan pemandangan jalur pendakian yang masih hijau, langit biru tanpa awan, serta lembah luas yang mulai terlihat dari kejauhan.

"Gila, ini bagus banget," gumamnya antusias, menekan layar ponsel beberapa kali untuk mengambil foto panorama.

Naruto yang berjalan di belakangnya hanya tersenyum tipis. Setidaknya, untuk saat ini, Ino terlihat benar-benar menikmati pendakian ini. Mungkin, di sini, di tengah alam yang luas dan jauh dari hiruk-pikuk kota, ia bisa sejenak melupakan masalah yang sedang membebani pikirannya.

"Naruto, sini! Aku mau foto bareng!" serunya riang.

Naruto hanya tertawa kecil dan mendekat, membiarkan Ino mengambil beberapa selfie bersama dirinya. Ia lega melihat Ino bisa sejenak melupakan masalahnya, menikmati perjalanan tanpa beban. Setidaknya, untuk sementara waktu.

Namun, dugaan Naruto benar.

Memasuki ketinggian 2000 mdpl, 8 jam perjalanan dari basecamp, Ino mulai melambat. Langkahnya semakin berat, nafasnya memburu, dan ia lebih sering meminta istirahat. Semangat yang tadi membara kini mulai meredup, tergantikan oleh kelelahan yang nyata.

"Tunggu… aku butuh istirahat sebentar," ujar Ino dengan suara putus-putus.

Ia bersandar di batang pohon besar di tepi jalur, tapi lututnya yang lemas tak lagi bisa menahan tubuhnya. Napasnya tersengal, dadanya naik-turun cepat, dan tanpa pikir panjang, ia langsung menjatuhkan dirinya duduk di tanah. Kakinya terasa berat seperti diisi batu, sementara dahinya berkilau karena keringat yang terus mengalir.

Naruto, yang berjalan di belakangnya, segera menghentikan langkahnya. Ia menatap Ino dengan ekspresi cemas. Gadis itu benar-benar kelelahan. Bahkan tangannya yang terkulai di lutut tampak gemetar halus.

"Kau yakin bisa lanjut?" tanyanya cemas.

Ino mengangguk cepat, meski ekspresi wajahnya mengatakan sebaliknya. Tatapannya mulai kosong, kulitnya yang biasanya cerah terlihat lebih pucat, dan bahunya terus naik-turun berusaha mengambil napas.

Di belakang mereka, Sweeper yang bertugas menjaga pendaki paling belakang—seorang pria bertubuh lebih kecil dari Naruto dengan wajah santai—mengamati kondisi Ino dengan raut serius. Namanya Deidara, mahasiswa tingkat akhir yang sudah terbiasa menghadapi berbagai kondisi pendakian ekstrem. Ia bukan hanya anggota UKM Pecinta Alam, tapi juga seorang senior yang sudah berkali-kali mendaki bersama Naruto di medan yang jauh lebih sulit. Karena itu, ia cukup mengenal kemampuan Naruto dan mempercayainya.

Namun, melihat keadaan Ino saat ini, Deidara tetap merasa ragu.

"Nar, kita masih jauh dari Pos 5," katanya sambil melirik jam tangannya. "Sudah hampir pukul lima, kalau kita terlalu lama di sini, bisa kemalaman di jalan."

Naruto ikut menatap langit yang mulai berubah warna. Mereka memang masih jauh dari Pos 5, dan jika dipaksakan, Ino mungkin bisa sampai... tapi dalam kondisi yang jauh lebih buruk.

Setelah mempertimbangkan situasi, Naruto akhirnya mengambil keputusan.

"Bro, kau lanjut aja ke Pos 5. Bantu yang lain mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam," katanya. "Aku akan tetap di sini menemani Ino. Kalau sampai dia benar-benar nggak kuat, aku putuskan untuk camping di Pos 4."

Deidara menatapnya lekat. "Lo yakin? Pos 4 kan nggak ada sumber air, Nar. Kalo kehabisan, bakal repot."

Naruto mengangguk mantap. "Aku familiar dengan gunung ini. Kita kan sudah beberapa kali ke sini bersama. Peralatan camping aman, sleeping bag ada dua, tenda juga ringan. Air minum & makanan juga ada lebihan."

Deidara terdiam sejenak, menimbang-nimbang keputusan Naruto. Namun, mengingat mereka sudah sering mendaki bersama dan Naruto bukan pendaki sembarangan, ia akhirnya menghela napas panjang lalu mengangguk.

"Oke, gue percayain Ino ke lo," katanya akhirnya. "Kalau ada apa-apa, usahakan hubungi via radio. Sinyal di sini jelek."

Sebelum melanjutkan pendakian, Deidara menepuk pundak Ino dengan ringan.

"Hei, Princess. Aku tahu kau keras kepala, tapi kau juga harus tahu kapan badanmu butuh istirahat. Jangan maksain diri, kau udah jauh lebih kuat dari yang kukira. Kalau tetap nekat sekarang, malah bisa makin susah besok. Jadi, istirahat yang bener malam ini."

Ia melirik Naruto sekilas sebelum melanjutkan dengan nada santai, "Besok pagi aku menunggumu di puncak. Aku yakin kau pasti bisa nyampe. Tapi kalau tetep maksa naik sekarang, ya... siap-siap Naruto bakal jadi babysitter sepanjang jalan."

Ino mengangkat wajahnya perlahan. Ada kelelahan di matanya, tapi juga semangat yang masih tersisa.

"...Iya, bawel," jawabnya jutek, meski masih terengah.

Deidara mengacungkan jempolnya, lalu bergegas menyusul pendaki lain ke Pos 5.

Sementara itu, Naruto berjongkok di depan Ino yang masih terduduk di tanah, kepalanya menunduk, napasnya masih berat.

"Ino, kita istirahat dulu, terus lanjut sampai Pos 4, paling cuma 5 menit lagi. Itu target kita sekarang," kata Naruto dengan suara tenang. "Kita nggak perlu maksain untuk gabung yang lain di camp Pos 5, keburu malam."

Ino menggigit bibirnya, lalu mengangguk kecil. Ia tahu, Naruto benar. Sekarang, yang terpenting adalah mencapai Pos 4 dan mengumpulkan kembali tenaganya.


Mereka pun melanjutkan perjalanan berdua. Naruto terus menyemangati Ino, memastikan langkahnya tetap stabil. Ternyata untuk mencapai Pos 4 saja, Ino harus berjuang keras. Berarti sesuai dugaan, mereka akan camp di Pos 4.

"Sedikit lagi, Ino. Pos 4 udah dekat," kata Naruto, menjaga nada suaranya tetap tenang.

Ino mengangguk, tapi langkahnya semakin berat. Napasnya tersengal, dan kakinya mulai gemetar setiap kali menapak tanah berbatu. Saat akhirnya mereka tiba di Pos 4, langit sudah berubah jingga gelap. Waktu menunjukkan pukul 6 petang. Dari kejauhan, lampu-lampu senter rombongan utama di Pos 5 mulai terlihat, pertanda mereka sudah sampai lebih dulu.

Tanpa banyak bicara, Ino langsung menjatuhkan diri di tanah, berusaha mengatur napas. Wajahnya terlihat kelelahan, tangannya gemetar saat meraih botol minum di ransel.

Naruto memperhatikan kondisinya, lalu mengambil keputusan.

"Kita camp di sini saja," katanya tegas.

Ino mendongak, menatapnya dengan ekspresi ragu. "Tapi… kalau kita start dari sini, besok aku masih sempat ke puncak, kan?"

Naruto tersenyum kecil. "Tentu. Hanya selisih sekitar 45 menit dari Pos 5. Yang penting sekarang kau istirahat biar fisikmu siap."

Ino menghembuskan napas panjang. Ia masih ingin ke puncak, tapi tubuhnya sendiri sudah memberi batas. "Baiklah…" gumamnya akhirnya.

Naruto tak membuang waktu. Ia segera memasang tenda, memastikan Ino mendapatkan tempat istirahat yang nyaman. Suhu mulai turun, udara dingin perlahan merayapi kulit. Malam ini mungkin tidak sesuai rencana awal, tapi bagi Naruto, yang terpenting adalah memastikan mereka tetap aman.


Begitu tenda berdiri kokoh, Naruto segera mengeluarkan peralatan masak dari ranselnya. Ia menyalakan kompor portable, menuangkan air ke dalam panci kecil, lalu mulai menyiapkan sup ayam instan. Sementara itu, ia juga menyeduh dua gelas teh panas.

Dari dalam tenda, Ino memperhatikan semua yang dilakukan Naruto. Tangannya cekatan, tidak ada raut panik atau kebingungan di wajahnya. Naruto terlihat begitu terbiasa menangani situasi seperti ini. Dan ia bahkan masih punya tenaga untuk merawatnya setelah mendaki seharian?

Sebelum-sebelumnya, Ino memang tahu Naruto itu mandiri. Tapi melihatnya begini—mengurus segalanya tanpa mengeluh, memastikan dirinya tetap hangat dan nyaman—membuat Ino melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.

Saat sedang membolak-balik potongan ayam dalam panci, Naruto merogoh saku jaketnya, mengeluarkan radio komunikasi, lalu menekan tombolnya.

"Halo, Pos 5. Di sini Naruto dari Pos 4. Aku dan Ino fix bermalam di sini. Gimana kondisi di sana?"

Suara statis terdengar sebentar sebelum suara Deidara menjawab dengan nada santai.

"Yo, Nar. Paham, paham. Jangan macam-macam sama anak orang ya, biarin dia istirahat malam ini, hmm~?"

Naruto mendengus, menekan tombolnya lagi. "Lo pikir gue apa, hah? Buaya?"

Terdengar tawa di seberang.

"Baiklah. Besok kalau dia lemes nggak sampai puncak, gue tau lo penyebabnya! Hahaha."

"Brengsek!"

Naruto menyimpan radionya sambil menggeleng. Ino yang sejak tadi diam akhirnya ikut tertawa kecil.

"Senior yang satu itu memang selalu nyeleneh, ya," katanya.

"Memang," Naruto terkekeh, lalu menyodorkan secangkir teh hangat padanya. "Minum dulu."

Ino menerimanya dengan kedua tangan, membiarkan uap hangatnya menyentuh wajahnya sebelum menyesap pelan. "Terima kasih, Naruto."

"Ya, jangan sampai masuk angin," jawab Naruto santai sambil terus mengaduk sup ayamnya.

Beberapa menit kemudian, aroma sedap mulai menyebar di udara. Sup ayam sederhana itu akhirnya matang. Naruto menuangkannya ke dalam dua mangkuk plastik, lalu memberikan satu kepada Ino. Gadis itu meniup pelan sebelum mencicipi, lalu berdecak puas.

"Enak banget," gumamnya.

"Tentu dong," Naruto terkekeh, menyendok supnya sendiri. "Nggak nyesel kan aku ikut?"

Ino tersenyum kecil. "Nggak. Kalau kamu nggak ikut… aku pasti sudah menangis malu."

Naruto tertawa pelan, lalu menatapnya dengan ekspresi iseng. "Ngomong-ngomong soal Deidara… Aku dulu sempat mengira kalian ada hubungan kekerabatan."

Ino mengangkat alis. "Hah? Kenapa?"

Naruto menunjuk rambutnya yang pirang panjang. "Warna rambut, gaya rambut, postur… Kau dan dia mirip. Serius deh, kalau Deidara pakai make up, aku akan susah membedakan."

Ino mendelik, lalu memukul lengan Naruto dengan sendoknya. "Ih, Naruto! Jijik banget! Aku sama Deidara tuh beda jauh, tahu!"

Naruto tertawa semakin keras. "Tapi kau harus akui, kalau ada yang menyangka begitu, nggak sepenuhnya salah!"

Ino mendengus, pura-pura kesal, tapi akhirnya ikut terkekeh juga.

Obrolan mereka terus mengalir santai, membahas kekonyolan hari ini. Mulai dari perjuangan Ino yang hampir nyerah di tanjakan curam, bagaimana ia hampir terjungkal karena akar pohon yang licin, sampai Naruto yang kena omel senior karena over protektif kepada Ino.

Tawa mereka pecah di tengah malam yang dingin, menciptakan kehangatan tersendiri.

Begitu kantuk mulai menyerang, mereka masuk ke dalam tenda. Ino langsung menarik sleeping bag dan meringkuk di dalamnya. "Naruto," panggilnya pelan.

"Hmm?" Naruto yang baru saja meregangkan tubuhnya menoleh.

"Aku masih nggak percaya Ibuku menggugat cerai," katanya tiba-tiba. Suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh hembusan angin gunung.

Naruto terdiam, membiarkan Ino berbicara.

"Aku kira, kalau ada satu orang yang bakal bertahan dalam pernikahan sampai akhir, itu Ibuku," lanjutnya. "Dia kuat, dia mandiri, dia tahu apa yang dia mau. Aku bahkan memilih jurusan fashion karena dia… karena aku ingin seperti dia. Tapi sekarang…"

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, hanya menghela napas pelan.

Naruto tetap diam, mendengarkan. Ia tidak ingin menyela, tidak ingin memberikan kalimat basi seperti "Semuanya akan baik-baik saja." Karena ia tahu, bagi Ino, semua ini terasa jauh dari kata baik-baik saja.

Beberapa menit kemudian, suara napas Ino mulai melambat. Kelelahan akhirnya membuatnya tertidur lebih dulu.

Naruto menatap langit-langit tenda, lalu tersenyum kecil.

Ia habis mimpi apa bisa tidur setenda dengan Ino?

Ia laki-laki tulen. Dan jelas, situasi ini cukup luar biasa. Tidur satu tenda dengan Ino, di gunung, hanya berdua? Pikirannya bisa saja melayang ke hal-hal yang nggak seharusnya. Tapi Naruto bergegas mengenyahkan pikiran itu.

Malam ini bukan tentang dirinya, tapi tentang Ino.

Ino butuh ketenangan.

Dan Naruto akan memastikan ia mendapatkannya.


Pagi itu, udara dingin masih menyelimuti Pos 4 ketika Ino dan Naruto mulai bersiap melanjutkan pendakian. Setelah istirahat cukup lama, tubuh Ino memang terasa lebih kuat, tetapi jalur menuju puncak tetap menjadi tantangan berat.

Di sepanjang perjalanan, napasnya masih berat, kakinya sesekali gemetar, dan langkahnya lebih lambat dari Naruto. Namun, kali ini, tekadnya jauh lebih kuat. Naruto tetap berada di sisinya, memastikan ia bisa melewati setiap tanjakan dan jalur berbatu dengan selamat.

"Butuh istirahat?" tanya Naruto ketika melihat Ino mulai melambat lagi di tengah jalur berbatu.

"Tidak," jawabnya, meskipun keringatnya sudah membasahi wajah. Ia tak ingin kehilangan momentum.

Waktu terus berjalan. Mereka membutuhkan sekitar 45 menit tambahan lebih lama dari rombongan utama yang berangkat dari Pos 5. Ino bisa merasakan matahari semakin meninggi, dan pikirannya sempat dihantui rasa takut kalau ia akan sampai saat semua orang sudah turun. Tapi ketika mereka akhirnya tiba di puncak, napasnya seolah tertahan—bukan hanya karena pemandangan yang luar biasa, tetapi juga karena sambutan hangat yang menunggunya.

"Oh, Princess-ku, akhirnya sampai juga!" seru Deidara dengan nada dramatis.

Ternyata, rombongan mereka tidak langsung turun. Beberapa orang bahkan membawa kompor portable dan duduk santai menikmati kopi dan teh hangat sambil menunggu.

"Kami sudah menunggu lama! Masa foto-foto tanpa personel lengkap?" kata salah satu senior sambil tersenyum.

Ino terpaku di tempatnya. Ia tidak menyangka mereka semua menunggunya hanya agar bisa menikmati momen ini bersama. Matanya sedikit memanas, dan tanpa sadar, ia menoleh ke arah Naruto.

"Terima kasih," bisiknya pelan.

Naruto hanya mengangkat bahu santai, tapi senyum kecil tersungging di wajahnya. "Kau pantas mendapatkannya."

Dengan langkah mantap, Ino bergabung dengan yang lain. Ia berdiri di tengah, diapit oleh Naruto dan Deidara, lalu tersenyum lebar untuk foto bersama. Ia mungkin bukan pendaki terbaik, tetapi momen ini akan menjadi salah satu yang paling berharga dalam hidupnya.


Saat rombongan akhirnya bersiap turun, udara di puncak semakin menusuk tulang. Terlalu lama di sini bukan ide yang baik, apalagi setelah energi mereka terkuras oleh pendakian panjang.

"Ayo turun! Aku butuh makanan berat, perutku keroncongan!" seru salah satu senior, diikuti tawa lainnya.

Dengan perlahan, satu per satu mulai meninggalkan puncak, menuruni jalur berbatu yang sempit. Namun, Ino tetap berdiri di tempatnya, tak bergerak sedikit pun. Naruto, yang sudah bersiap turun, menoleh dan mengangkat alis.

"Kau nggak ikut?" tanyanya.

Ino menggigit bibirnya, ragu. "Aku belum puas."

Naruto menghela napas kecil, lalu menendang batu kecil di kakinya. "Oke, kita bisa tinggal sebentar lagi."

Mereka berdua pun tetap di puncak, membiarkan rombongan menjauh. Saat akhirnya benar-benar hanya ada mereka berdua, keheningan menyelimuti, hanya suara angin yang berbisik di antara mereka.

Ino menatap cakrawala, matanya berbinar dalam kekaguman. Dari ketinggian ini, semuanya tampak begitu kecil. Seolah semua masalah yang selama ini membebani pikirannya tak lebih dari noktah tak berarti di dunia yang luas.

Di hadapannya, hamparan awan terbentang seperti lautan kapas yang tak berujung. Matahari terbit perlahan di ujung cakrawala, menyapu langit dengan gradasi warna oranye keemasan yang memukau. Cahaya keemasan itu menyelimuti puncak gunung, menciptakan siluet yang dramatis di antara batu-batu besar dan bunga edelweiss.

Saking indahnya, ia bahkan tak sempat mengabadikan momen itu dengan ponselnya. Padahal, niat awalnya mendaki gunung ini adalah untuk konten. Tapi sekarang, ia justru melupakan semua itu.

Naruto, yang memperhatikannya dari samping, tersenyum kecil. Tanpa disuruh, ia mengangkat ponselnya dan mulai merekam. Ino yang berdiri dengan ekspresi kagum, rambutnya tertiup angin, wajahnya yang berseri-seri seperti anak kecil menemukan dunia baru.

"Naruto, lihat! Ini luar biasa…" bisik Ino, seolah takut suara keras akan merusak keindahan ini.

Naruto menahan tawa. "Aku tahu."

Ia tetap merekam, menangkap momen alami ini. Hingga akhirnya, Ino menoleh dan menyadari apa yang ia lakukan.

"Heh?! Kau merekamku diam-diam!"

Naruto menurunkan ponselnya dengan ekspresi santai. "Kau terlalu sibuk mengagumi pemandangan sampai lupa mengambil foto. Jadi, aku bantu mendokumentasikan momen berhargamu."

Ino melipat tangan di dadanya, pura-pura cemberut. "Aku bisa mengambilnya sendiri nanti, tahu."

"Ya, tapi ekspresi asli seperti ini nggak bisa diulang," ujar Naruto dengan seringai khasnya. "Percayalah, kau pasti akan berterima kasih padaku nanti."

Ino mendengus kecil, tapi diam-diam ia tersenyum. Ia kembali menatap cakrawala, membiarkan angin dingin menerpa wajahnya.

Lalu, tanpa aba-aba, ia menarik napas dalam-dalam.

Naruto menoleh, melihat ekspresi yang berbeda dari Ino. Ada sesuatu di balik sorot matanya—beban yang selama ini ia tahan.

Tiba-tiba, Ino membuka mulut dan berteriak sekuat tenaga.

"AKU BENCI HARUS MEMILIH!"

Suaranya bergema, membelah kesunyian gunung. Hanya ada angin yang menjawabnya.

Naruto membeku sejenak, tapi memilih untuk diam. Ia tahu ini bukan saatnya untuk bicara.

Ino menghela napas, lalu berteriak lagi. Kali ini lebih lantang, lebih penuh emosi.

"AKU PUNYA JALAN HIDUPKU SENDIRI!"

Terbebas.

Semua emosi yang ia pendam, semua tekanan yang menghimpitnya selama ini, akhirnya ia lepaskan di tempat ini. Tidak ada yang menilai, tidak ada yang menghakimi. Hanya ada langit luas dan suara angin yang menyapu wajahnya.

Setelah beberapa kali berteriak, napasnya terengah, tapi dadanya terasa lebih ringan. Ia menunduk, kedua tangannya mengepal, dan matanya mulai basah.

Naruto mendekat, menepuk pundaknya pelan. "Sudah merasa lebih baik?" tanyanya, suaranya lebih lembut dari biasanya.

Ino mengusap wajahnya cepat-cepat, lalu mengangguk kecil. "Iya… ternyata gunung memang tempat terbaik untuk menjernihkan pikiran."

Naruto tersenyum, mengangguk setuju. "Nah, itu baru Ino yang kukenal."

Ino tertawa kecil, meski matanya masih berkabut. "Terima kasih, Naruto. Kurasa… aku mulai melihat kembali teman kecilku pada dirimu."

Naruto menoleh, sedikit terkejut.

"Teman baik yang selalu mengajakku ke bukit belakang sekolah setiap akhir pekan," lanjut Ino dengan senyum tipis.

Naruto terdiam sejenak, lalu matanya melembut.

"Dan sekarang aku tetap di sini, menemanimu menikmati puncak yang lebih tinggi," gumam Naruto pelan.

Mereka kembali menatap cakrawala bersama, membiarkan kebersamaan itu berbicara lebih dari kata-kata.

.

.

To be continued…