.
Unspoken
.
Disclaimer: I do not own Naruto characters
Naruto © Masashi Kishimoto
Chapter 7: Home Mate
Pendakian ke puncak gunung itu meninggalkan kesan mendalam di hati Ino. Ia tidak hanya berhasil meluapkan perasaannya tentang perceraian orang tuanya, tetapi juga mendapat banyak pelajaran baru—tentang dirinya sendiri, tentang batas kemampuannya, dan tentang… Naruto.
Selama ini, ia tahu Naruto selalu aktif di UKM pecinta alam. Mereka juga sering mendaki gunung bersama. Namun ini pertama kalinya Ino melihat Naruto mempraktekan seluruh softskill yang biasanya dikerjakan oleh beberapa orang dengan membagi tugas. Naruto bisa bertahan di alam bebas, mendirikan tenda, menyiapkan makanan, obat-obatan dan pertolongan pertama, bahkan menghadapi situasi tak terduga dengan tenang… itu sesuatu yang baru. Ilmu bertahan hidupnya telah teruji.
Setelah kembali dari pendakian, Naruto masih melanjutkan kebiasaannya menemani Ino. Mereka sering makan bersama, mengobrol di kosan Ino, hingga tanpa sadar waktu selalu berlalu begitu cepat. Naruto jadi sering pulang malam dari kosannya, sampai pada satu titik, Ino akhirnya mengizinkan Naruto menginap—meskipun awalnya sempat ragu.
Suatu malam, Naruto menguap lebar sambil meregangkan tubuhnya di kursi kosan Ino. "Astaga, sudah hampir jam dua belas malam," gumamnya, melihat jam di ponselnya.
"Kau belum pulang?"
Ino melirik ke arah Naruto yang masih duduk santai di sofa, kakinya terlipat di atas sandaran, seolah tidak ada niatan untuk pulang. Biasanya, di jam segini, pria itu sudah bersiap kembali ke kosnya. Tapi kali ini, ia terlihat nyaman, memainkan ponselnya dengan ekspresi tidak terburu-buru.
Naruto menggaruk tengkuknya dan terkekeh kecil. "Ya… aku malas jalan. Hahaha."
Ino menahan napas, menatapnya lekat. Naruto bisa pulang kalau mau.
Kosnya hanya berjarak beberapa puluh meter dari sini, dan ia bukan tipe orang yang malas bergerak. Tapi akhir-akhir ini, Naruto memang sering menemaninya, hampir setiap malam.
Entah sekadar ngobrol, menemani makan, atau membantu hal kecil di rumah.
Dan malam ini, melihat Naruto masih bertahan di sofa dengan tubuh sedikit lunglai, Ino tiba-tiba merasa… kasihan.
Naruto pasti lelah. Kuliahnya lebih berat dari Ino, tugas-tugasnya menumpuk, belum lagi kesibukannya di himpunan mahasiswa dan UKM pecinta alam. Tapi tetap saja, setiap malam ia selalu menyempatkan diri untuk menemaninya.
Jadi, apa salahnya jika kali ini ia membiarkannya menginap?
Ino menghela napas pelan, lalu akhirnya berkata, "…Tidur saja di sini."
Naruto menoleh begitu cepat hingga hampir kena tengkuknya sendiri. Mata birunya melebar, menatap Ino dengan ekspresi terkejut. "Serius?"
Keputusan itu keluar begitu saja sebelum sempat Ino pikirkan lebih jauh. Tapi sekarang, tidak ada jalan untuk menariknya kembali. Ia menatap Naruto sekilas sebelum akhirnya berbalik, berpura-pura terlihat santai.
"Hanya di sofa," tegasnya, nada suaranya mengandung peringatan. "Dan jangan macam-macam."
Naruto masih terdiam beberapa detik, seolah butuh waktu untuk memproses. Lalu, perlahan, sudut bibirnya melengkung membentuk senyum kecil.
"Aku bukan tipe orang yang akan merusak kepercayaanmu, Ino."
Ino menelan ludah.
Kenapa… ucapan itu justru membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat?
Ia mengangguk pelan, memilih tidak menanggapi lebih jauh. Keputusannya sudah dibuat, dan meskipun ada sedikit keraguan, ia tidak akan menariknya kembali.
Naruto akhirnya bangkit, mengambil bantal dan selimut dari rak, lalu berbaring di sofa yang hanya berjarak beberapa meter dari kasur Ino. Ruangan ini memang kecil, jadi kasur dan sofa berada di ruangan yang sama.
Saat Ino naik ke tempat tidurnya, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Naruto bersiap untuk tidur—menyesuaikan posisi di sofa sempit itu, menarik selimutnya dengan santai, dan membiarkan satu tangannya terangkat untuk menutup mata.
"Baiklah," katanya ringan, seperti ini bukan hal besar. "Aku janji tidak akan macam-macam."
Ino melirik ke arahnya sekali lagi sebelum akhirnya menarik selimutnya sendiri. Ruangan ini tiba-tiba terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.
Dari tempatnya berbaring, ia masih bisa mendengar napas Naruto yang mulai teratur.
Satu ruangan. Satu malam.
Apa ini keputusan yang benar?
Tidak perlu memikirkan ini lebih jauh.
Ino membalikkan tubuhnya, membelakangi Naruto sebelum akhirnya mematikan lampu kamar. Membiarkan kegelapan malam menyelimuti mereka berdua.
Suara kicauan burung samar-samar terdengar dari luar jendela, menandakan pagi mulai menjelang. Sinar matahari yang mengintip dari celah tirai membuat Ino mengerjap pelan.
Ia mengeliat kecil di tempat tidurnya, mengumpulkan nyawa setelah tidur yang cukup nyenyak semalam. Namun, begitu kepalanya menoleh ke arah sofa, ia sedikit terlonjak.
Di sana, Naruto masih tertidur pulas, wajahnya setengah tertutup selimut, rambut pirangnya berantakan. Dengkuran pelan terdengar dari bibirnya.
Butuh beberapa detik bagi Ino untuk mengingat kejadian semalam. Ia lupa kalau Naruto menginap.
Refleks, tangannya bergerak menutupi dadanya, seolah memastikan sesuatu.
Apa Naruto… berbuat macam-macam saat ia tidur?
Mata Ino kembali mengarah ke Naruto, mengamati sosok itu lebih seksama. Tapi yang terlihat hanyalah Naruto yang masih terlelap, sepertinya bahkan belum bergeser dari posisi tidur awalnya.
Ino mendesah pelan.
"Astaga, aku terlalu banyak berpikir," gumamnya dalam hati.
Keputusannya menyuruh Naruto menginap sudah benar. Kalau memang Naruto punya niat macam-macam, ia pasti sudah melakukannya saat mereka tidur di tenda di gunung—ketika jarak mereka lebih dekat dibandingkan sekarang.
Pikiran itu membuatnya sedikit lebih tenang.
Namun, satu hal tetap mengganggunya—sejak kapan ia merasa begitu nyaman dengan Naruto?
Dengan hati-hati, ia bangkit dari tempat tidur, berusaha tidak membuat suara berisik yang bisa membangunkan Naruto. Bagaimanapun juga, pria itu sudah menemaninya seharian kemarin. Setidaknya, biarkan ia tidur sedikit lebih lama.
Ino berjalan ke dapur kecil di sudut kamarnya, tidak bisa disebut dapur juga sih sebenarnya karena hanya ada meja kecil, penanak nasi, dan lemari makanan kecil. Ia membuka lemari makanan dan menatap isinya dengan ekspresi sedikit pasrah.
Hanya ada beberapa lembar roti tawar, selai cokelat, dan susu kotak.
Yah… setidaknya cukup untuk sarapan.
Ia mengeluarkan dua lembar roti, mengoleskan selai secara merata, lalu menumpuknya menjadi sandwich sederhana. Ia menuangkan susu ke dalam gelas, kemudian meletakkan semuanya di meja kecil di samping sofa tempat Naruto masih terlelap.
Sesekali, ia melirik ke arah pemuda itu.
Masih belum bangun juga?
Ino melipat tangan di dada, memperhatikan bagaimana Naruto masih terlelap tanpa tanda-tanda akan segera sadar. Wajahnya terlihat damai, napasnya teratur.
Tidak seperti biasanya… pikir Ino. Biasanya, Naruto selalu terlihat penuh energi—terkadang malah terlalu berlebihan. Tapi sekarang, ia tampak begitu tenang. Mungkin karena terlalu lelah setelah semalam membantu Ino beres-beres.
Ino menghela napas pelan, lalu berbalik menuju kamar mandi. Biar saja. Begitu bangun nanti, setidaknya Naruto tidak perlu repot mencari sarapan. Dengan pikiran itu, ia mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi, membiarkan air hangat menyegarkan tubuhnya setelah semalam tidur cukup nyenyak.
Naruto bangun dengan perasaan yang lebih ringan dari biasanya. Tubuhnya terasa segar, meskipun ia hanya tidur di sofa kecil yang seharusnya tidak senyaman kasurnya sendiri. Tapi entah kenapa, ia tidur lebih nyenyak dari biasanya.
Mungkin karena suasananya.
Ia membuka mata perlahan, membiarkan cahaya pagi yang masuk dari jendela menyapa wajahnya. Udara di kamar Ino terasa lebih hangat dibandingkan kamarnya sendiri, mungkin karena aromanya yang khas—campuran wangi bunga dari diffuser di sudut ruangan dan sedikit aroma sampo milik Ino yang samar-samar tercium di udara.
Jadi begini rasanya bangun pagi di kamar Ino.
Ia melirik sekeliling. Kamar ini memang cukup kecil, tapi terasa nyaman dengan warna-warna lembut dan dekorasi yang tidak berlebihan. Di meja kecil di sebelahnya, matanya menangkap sesuatu yang membuat senyumnya semakin lebar.
Sepotong roti dan segelas susu. Pasti ini disiapkan oleh Ino sebelum dia masuk ke kamar mandi.
Dia perhatian juga, ya…
Dengan senyum kecil, Naruto mengambil roti itu dan langsung menggigitnya. Manisnya selai coklat langsung menyebar di lidahnya, dan ia mengunyah dengan santai.
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka, dan dari baliknya muncul Ino.
Naruto refleks menoleh, masih dengan roti di mulutnya.
Ino baru selesai mandi. Handuk melilit rambutnya, beberapa tetes air masih tersisa di lehernya, dan kaus longgar serta celana pendek yang dikenakannya membuatnya terlihat lebih santai dari biasanya.
Mereka bertatapan.
Ino berhenti di ambang pintu, menatap Naruto yang masih setengah duduk di sofa, dengan rambut acak-acakan dan roti di tangan.
Hening.
Lalu—
Ino tertawa.
Tawa kecil yang terdengar ringan, tapi semakin lama semakin sulit ia tahan.
Naruto mengerutkan dahi. "Kenapa?" tanyanya dengan mulut masih penuh roti.
Ino menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawanya. "Astaga, Naruto… wajahmu…"
Naruto mengunyah cepat dan menelan. "Wajahku kenapa?"
Ino terkikik lagi. "Berantakan. Rambutmu acak-acakan, wajahmu masih setengah ngantuk… dan kau makan roti sambil begitu?"
Naruto mengusap wajahnya dengan satu tangan, lalu mengacak rambutnya sendiri. "Ya ampun, kau berlebihan."
Tapi, dalam hati, ia tidak bisa menahan senyum kecil.
Pagi ini terasa berbeda.
Dan anehnya, ia menyukainya.
Sejak malam itu, Naruto sering menginap di kosan Ino. Biasanya ketika sedang tidak ada tugas kuliah, atau sekedar 'malas' pulang. Dan yang paling mengejutkan Ino adalah… Naruto tidak pernah sekali pun berbuat sesuatu yang tidak pantas.
Ia tidur di sofa, tidak pernah mencoba mendekatinya dengan cara yang aneh, dan tetap menjaga batas di antara mereka. Itu yang akhirnya membuat Ino perlahan merasa nyaman. Naruto menghormatinya.
Suatu sore, setelah beberapa bulan berlalu dengan kebiasaan yang sama, Naruto akhirnya mengutarakan idenya.
"Ino, bagaimana kalau kita menyewa rumah saja?"
Ino, yang sedang duduk di meja belajarnya, langsung menoleh dengan alis terangkat. "Menyewa rumah?"
Naruto duduk di sofa, menyesap minuman kalengnya sebelum menjawab, "Aku pikir… akan lebih hemat kalau kita patungan menyewa rumah. Lagipula, kosan ini terlalu sempit untuk semua barangmu."
Ino mengernyit, menatap ruangan yang memang terasa penuh dengan barang-barangnya. Apalagi setelah semua barang dari rumahnya di Konoha diangkut ke sini pasca perceraian orang tuanya. Dan meskipun sudah mencoba mengaturnya, tetap saja terasa sesak. Karena pada dasarnya ini hanya kosan yang dirancang untuk jumlah barang yang terbatas.
Naruto melanjutkan, "Bukan cuma itu. Ibuku bilang aku harus menjagamu. Dan… aku juga tidak mau kau sendirian di sini."
Ino terdiam, tidak langsung menjawab. Ia menimbang semua kemungkinan—positif dan negatif.
Tinggal bersama Naruto?
Dulu, ide itu mungkin terdengar gila. Tapi sekarang… setelah semua yang mereka lalui…
Ino menatap Naruto, yang terlihat menunggu jawaban dengan sedikit ragu.
Beberapa bulan terakhir, Naruto sering menghabiskan waktu di kosannya. Mereka makan bersama, berbagi cerita, dan bahkan Naruto sering menginap beberapa kali saat pulang terlalu malam. Selama itu, tidak pernah ada masalah. Naruto selalu menjaga sikapnya, tidak pernah sekalipun melanggar batas atau membuatnya merasa tidak nyaman.
Dan kalau dipikir-pikir, kosan ini memang terlalu sempit.
Ruangan 3x4 meter yang penuh dengan barang-barangnya terasa semakin sesak setiap harinya. Setiap kali ia butuh sesuatu, ia harus berdesakan dengan koper atau rak yang hampir penuh. Ruang geraknya semakin terbatas.
Jadi, mungkin… ini adalah keputusan yang masuk akal.
"Baiklah, kita cari rumah." Akhirnya, ia tersenyum kecil. "Kalau dipikir-pikir, lebih banyak untungnya daripada ruginya."
Naruto terkekeh. "Aku kira kau akan menolak mentah-mentah."
Ino hanya mengangkat bahu. "Dulu mungkin iya. Tapi sekarang… aku tahu kau bukan orang yang akan menyalahgunakan kepercayaanku."
Naruto tersenyum kecil, merasa lega karena keputusannya tidak salah.
Dan begitulah, keputusan besar itu akhirnya diambil—mereka akan tinggal bersama.
Dua minggu kemudian, setelah mencari berbagai pilihan tempat tinggal, mereka akhirnya menemukan rumah kecil yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Rumah itu tidak terlalu besar, hanya satu lantai dengan dua kamar tidur, ruang tamu yang nyaman, dan dapur yang cukup luas. Yang membuat tempat ini terasa lebih menarik adalah lingkungannya yang asri. Ada taman kecil di depan rumah dengan beberapa pot bunga yang tertata rapi, serta tanaman rambat yang menghiasi pagar kayu di sisi rumah.
Saat mereka tiba dengan barang-barang pindahan, Ino berjalan mengelilingi halaman kecil itu, jemarinya menyentuh daun-daun hijau yang segar. Ia tersenyum kecil. "Meski kita hanya menyewa, aku ingin merawat tanaman dan bunga di sini," katanya. "Kalau lingkungannya nyaman, kita juga bakal betah tinggal di sini."
Naruto menatapnya, lalu mengangguk. "Ya, kupikir itu ide bagus. Tapi jangan paksa aku menyiram bunga setiap pagi."
Ino mendelik, lalu mendecak. "Jelas, aku tidak akan meminta bantuanmu untuk itu."
Setelah memasukkan barang-barang mereka ke dalam rumah, mereka mulai membagi tugas.
"Aku ambil kamar yang dekat dengan dapur," kata Naruto, meletakkan tasnya di pintu kamar yang ia pilih.
"Baiklah, aku ambil yang di depan dekat taman," jawab Ino sambil melirik jendela besar di kamarnya yang menghadap ke halaman. Cahaya matahari masuk dengan sempurna, membuat ruangan terasa lebih hidup.
Hari pertama mereka di rumah baru dihabiskan dengan membersihkan rumah, memasang tirai, dan mengatur barang-barang mereka. Mereka juga membeli beberapa perabot tambahan agar rumah terasa lebih lengkap.
Mereka menjalani hari-hari sebagai teman serumah dengan cukup baik. Awalnya, mereka bersikap seperti biasa—hanya berbagi tempat tinggal demi menghemat biaya dan hidup lebih nyaman. Namun, seiring berjalannya waktu, ada hal-hal kecil yang mulai terasa berbeda.
Naruto mulai menyadari bahwa ia semakin memperhatikan hal-hal sederhana, seperti cara Ino mengikat rambutnya saat sedang sibuk, atau bagaimana ia selalu memutar playlist lagu-lagu lawas saat sedang merapikan rumah.
Ino pun mulai sadar bahwa tanpa ia sadari, ia merasa lebih nyaman jika Naruto ada di rumah lebih awal, atau bagaimana rumah terasa lebih 'hidup' setiap kali Naruto memasak sesuatu di dapur.
Dan tanpa mereka sadari, kebersamaan ini mulai menjadi bagian dari keseharian mereka.
Ino mulai terbiasa dengan kehadiran Naruto di rumah. Terkadang, saat ia bangun pagi, aroma masakan sudah memenuhi dapur. Hari ini pun sama. Saat keluar dari kamar, matanya langsung menangkap sosok Naruto yang sibuk di dapur, mengaduk sesuatu di wajan dengan ekspresi serius.
"Pagi, putri tidur," sapa Naruto tanpa menoleh.
Ino menguap kecil, berjalan mendekat dengan rambut masih acak-acakan. "Jangan panggil aku begitu. Kau juga sering bangun lebih siang dariku," gerutunya sambil duduk di kursi. "Apa yang kau buat kali ini?"
"Salmon panggang dengan tumis sayur dan sup miso."
Ino menatap meja makan, melihat potongan salmon berwarna keemasan yang diletakkan di atas piring, lengkap dengan brokoli dan wortel yang masih segar. Sementara itu, semangkuk sup miso dengan potongan tahu dan daun bawang mengepul hangat di sebelahnya.
Ino mengangkat alis. "Oke… ini di luar ekspektasiku. Sehat banget."
Naruto menoleh sebentar sambil menyeringai. "Tentu saja. Kita kan butuh asupan protein dan serat. Lagipula, kau selalu makan sembarangan di kampus."
Ino menyilangkan tangan. "Hei, aku tidak makan sembarangan!"
Naruto hanya tertawa kecil sebelum kembali fokus ke dapur. "Kita lihat nanti."
Saat sarapan sudah siap, Ino mengambil sumpit dan mencicipi salmonnya. Ia mengunyah perlahan, lalu mengangguk pelan.
"Hmm… ini lebih baik dari eksperimenmu yang terakhir."
"Jadi enak?" Naruto menatapnya penuh harap.
Ino berpikir sejenak sebelum menjawab dengan nada santai, "Bisa dimakan."
Naruto mendengus. "Aduh, lidahmu susah sekali dimanjakan."
Ino terkikik, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Hei, setidaknya lebih baik dari waktu itu, kau ingat? Saat kau mencoba membuat kari hijau tapi malah keasinan, dan kita harus memakannya sambil minum air segelas penuh setelah setiap 5 suapan?"
Naruto meringis mengingat insiden itu. "Jangan diingat-ingat… Itu gara-gara aku salah takaran garam."
Ino tertawa kecil. "Dan jangan lupakan sup rumput laut yang kau buat pakai terlalu banyak kecap ikan! Rasanya seperti minum air laut!"
Naruto menutup wajahnya dengan satu tangan. "Itu juga kecelakaan kecil…"
"Tapi kita tetap makan semuanya." Ino tersenyum kecil, mengenang momen itu. "Karena kau bilang, 'pejuang tidak boleh menyia-nyiakan makanan'."
Naruto terkekeh. "Dan aku masih percaya itu sampai sekarang."
Mereka makan bersama sambil mengobrol ringan tentang kehidupan kampus. Meskipun awalnya terasa aneh berbagi tempat tinggal dengan seseorang, sekarang, bagi Ino, kehadiran Naruto justru menjadi bagian dari kesehariannya.
Belakangan ini, Naruto sering pulang lebih malam dari biasanya. Sebagai mahasiswa Teknik Informatika, beban kuliahnya memang lebih berat dibandingkan Ino. Tugas-tugas pemrograman yang kompleks, proyek kelompok yang memakan waktu, serta laporan-laporan praktikum yang menumpuk sering membuatnya harus menghabiskan waktu berjam-jam di kampus. Belum lagi, Naruto cukup aktif di Himpunan Mahasiswa Informatika (HMIF), sehingga ia sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan organisasi yang menyita waktunya.
Di sisi lain, Ino yang awalnya tidak begitu peduli dengan jam pulang Naruto, mulai terbiasa menunggunya. Ia tidak tahu sejak kapan, tapi rasanya aneh jika rumah sudah sepi dan Naruto belum juga pulang.
Malam ini, seperti biasa, Naruto pulang dengan wajah kelelahan. Begitu masuk rumah, ia langsung menjatuhkan diri di sofa, melempar tasnya ke lantai tanpa peduli.
"Capek banget?" tanya Ino sambil menatapnya dari meja makan.
"Banget," jawab Naruto dengan mata tertutup.
Ino mendesah pelan. Naruto memang keras kepala. Ia tahu jurusan Teknik itu berat, apalagi ditambah dengan kesibukannya di organisasi. Tapi tetap saja, melihat Naruto pulang dalam keadaan seperti ini membuatnya merasa… tidak nyaman.
Tanpa banyak bicara, Ino bangkit dari kursinya dan berjalan ke dapur. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan sepiring makanan yang ia hangatkan di microwave dan segelas teh hangat.
Naruto membuka matanya perlahan saat Ino meletakkan piring itu di meja makan. "Apa itu?" tanyanya bingung.
"Makan malam. Aku sudah masak tadi, tapi kau belum pulang juga, jadi kusisakan buatmu."
Naruto mengerjapkan mata, lalu beranjak dari sofa dan duduk di meja makan. Ino ikut duduk di depannya, menopang dagu dengan tangannya.
Naruto menatap makanannya sejenak sebelum menyendoknya perlahan. "Terima kasih," gumamnya.
Ino hanya mengangkat bahu. "Jangan terlalu memaksakan diri, Naruto."
Naruto menatapnya sebentar sebelum tersenyum kecil. "Baiklah, bu guru."
Ino mendecak, tapi tidak bisa menyembunyikan sedikit senyum di sudut bibirnya.
Mereka makan dalam keheningan yang nyaman, hanya sesekali diselingi obrolan ringan tentang perkuliahan dan hal-hal kecil yang terjadi hari itu.
"Ngomong-ngomong," kata Ino sambil meliriknya, "aku dengar kau sekarang jadi andalan di himpunan mahasiswa, ya?"
Naruto terkekeh. "Hanya kebetulan. Aku cuma sering diminta bantuin ini-itu karena aku nggak bisa bilang 'tidak'."
Ino memutar matanya. "Terlalu baik hati itu bisa menyusahkan diri sendiri, tahu?"
Naruto hanya mengangkat bahu, lalu kembali melanjutkan makannya.
Malam itu, Ino tidur lebih nyenyak dari biasanya. Entah kenapa, mengetahui Naruto ada di rumah dan sudah makan dengan baik membuatnya merasa lebih tenang.
Suatu malam, Naruto dan Ino duduk di ruang tamu, menikmati camilan sambil menonton acara televisi yang bahkan tidak benar-benar mereka perhatikan. Lampu ruangan redup, hanya menyisakan cahaya hangat dari layar TV.
Naruto sedang sibuk membuka bungkus snack ketika tiba-tiba Ino bersuara.
"Lucu juga, ya."
Naruto menoleh, alisnya sedikit terangkat. "Apa yang lucu?"
Ino tidak langsung menjawab. Ia memandang sekeliling ruangan, melihat dekorasi yang mereka pilih bersama, sofa yang mereka beli berdua, bahkan gelas-gelas di meja yang sudah tidak bisa lagi disebut sebagai 'milik Naruto' atau 'milik Ino'—semuanya sudah bercampur begitu saja dalam keseharian mereka.
"Jadi... kita benar-benar tinggal bersama," katanya akhirnya.
Naruto ikut bersandar ke sofa, mendengus kecil. "Kelihatannya begitu."
"Aku masih belum percaya kita sampai di titik ini," gumam Ino, menatap langit-langit. "Dulu, kalau ada yang bilang kita akan serumah, aku pasti tertawa dan bilang itu tidak mungkin."
Naruto tertawa ringan. "Ya, sama. Kalau ada yang bilang aku bakal berbagi rumah sama Ino Yamanaka, aku pasti bakal—"
Ia berhenti di tengah kalimatnya, lalu menoleh ke arah Ino yang juga sedang melihatnya.
Entah dorongan dari mana, Naruto tiba-tiba berkata, "Kita jadi seperti pasangan ya?"
Kalimat itu meluncur begitu saja sebelum otaknya sempat berpikir lebih jauh.
Detik itu juga, suasana berubah.
Ino tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatap Naruto dengan ekspresi sulit ditebak, lalu tersenyum tipis. Tapi bukan senyum yang bisa Naruto artikan dengan pasti—bukan senyum setuju, tapi juga bukan senyum yang menyiratkan ketidaksetujuan.
Naruto menelan ludah. Apakah ia baru saja salah bicara?
Sial.
Ia ingin segera mengalihkan pembicaraan, tapi Ino tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya kembali bersandar ke sofa, matanya tetap tertuju ke layar TV, seolah-olah Naruto tidak baru saja mengeluarkan pernyataan yang sangat… canggung.
Naruto menggaruk tengkuknya pelan, merasa sedikit gelisah.
Apa itu berarti dia tidak marah?
Atau justru… dia tidak peduli?
Naruto tidak tahu. Tapi satu hal yang pasti—dadanya terasa sedikit lebih berdebar dari biasanya.
Dan dengan begitu, malam itu berakhir dalam keheningan yang aneh.
.
.
To be continued…
