.
Unspoken
.
Disclaimer: I do not own Naruto characters
Naruto © Masashi Kishimoto
Chapter 8: Physical Touch
Pagi itu, udara dingin menyelimuti puncak gunung dengan ketinggian lebih dari 3.400 mdpl, gunung tertinggi di provinsi. Kabut tipis masih menggantung, menciptakan suasana tenang di antara bebatuan dan vegetasi khas pegunungan. Ino berdiri di tepi puncak, membiarkan angin menerpa wajahnya sementara ia menikmati pemandangan luar biasa di hadapannya—hamparan lautan awan yang bergulung lembut, diterpa sinar keemasan matahari terbit. Cahaya hangat itu membelah kabut, menciptakan gradasi warna jingga dan biru yang menakjubkan di cakrawala.
Ia tidak sendiri.
Di sebelahnya, Deidara—seniornya di UKM pecinta alam yang sudah lebih dulu lulus kuliah—berdiri dengan tangan di saku jaketnya. Mata tajam pria berambut pirang itu menyapu pemandangan sebelum akhirnya beralih ke Ino dengan senyum khasnya.
Jika tidak mengenalnya, orang pasti bisa salah sangka dan mengira mereka saudara. Warna rambut mereka hampir identik—pirang keemasan yang berkilau saat terkena cahaya matahari. Bahkan, gaya rambut mereka pun mirip, sama-sama panjang dan biasanya diikat tinggi saat sedang beraktivitas. Yang membedakan adalah bentuk wajah mereka, Deidara memiliki garis rahang yang lebih tegas. Juga ekspresi mereka—Ino lebih elegan dan tenang, sementara Deidara selalu memiliki senyum jahil yang menggoda.
"Jadi," kata Deidara santai, "aku dengar kau sekarang tinggal satu atap sama Naruto?"
Ino, yang sedang menikmati pemandangan, meliriknya dari ekor mata. Sedikit terkejut topik itu muncul begitu saja, tapi ia tetap tenang. Ia mengangkat bahu sebelum mengangguk.
"Benar."
"Hmm…" Deidara mengangguk-angguk dengan ekspresi penuh arti. "Aku nggak nyangka. Kukira kau bakal langsung mengusirnya kalau dia macam-macam."
Ino terkekeh kecil. "Dia nggak berani."
Deidara menaikkan sebelah alisnya, senyumnya semakin lebar. "Oh? Apa jangan-jangan... kalian sudah jadian?"
Ino hanya tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Nggak."
Deidara menatapnya lebih dalam, lalu menghela napas dramatis. "Sayang sekali. Padahal kalau kalian jadian, aku pasti bakal menang taruhan."
Ino mengernyit. "Taruhan?"
"Ya. Aku dan beberapa anak lintas alam sempat bercanda soal itu waktu dengar kalian tinggal serumah," katanya santai. "Aku bilang, paling lama enam bulan, salah satu dari kalian pasti nembak duluan."
Ino mendengus, mendecakkan lidahnya. "Kalian ini memang nggak ada kerjaan lain, ya?"
"Hei, jangan salah. Ini bukan cuma taruhan iseng." Deidara menyeringai. "Aku hanya pakai logika. Kalian sudah akrab sejak kecil, sudah mulai berdamai, tinggal serumah, dan dari yang kudengar, si Naruto itu cukup protektif padamu."
Ino terdiam sejenak. Ia tidak bisa membantah.
Deidara menatap hamparan awan di hadapan mereka, lalu tertawa kecil. "Lucu juga melihat perkembangan kalian. Aku masih ingat pertama kali ketemu Naruto di komunitas pecinta alam dulu."
Ino menoleh, tertarik dengan apa yang akan dikatakan Deidara.
"Waktu itu dia masih anak SMA berandalan yang sok jago. Aku ingat dia nggak mau ikut aturan kelompok, mendaki seenaknya, dan akhirnya kena batunya sendiri," Deidara terkekeh. "Nyaris hipotermia di camp karena gear-nya nggak proper. Kalau bukan karena senior yang waktu itu membantu, mungkin dia bakal kapok mendaki seumur hidup."
Ino menatapnya kaget, lalu melirik Naruto yang masih sibuk membantu beberapa junior di kejauhan. "Serius? Naruto yang sekarang?"
Deidara mengangguk, senyum kecil tersungging di bibirnya. "Dia berubah banyak. Aku lihat sendiri bagaimana dia mulai lebih bertanggung jawab. Dan yang lebih mengejutkan… dia peduli banget padamu."
Ino tidak menjawab, hanya menunduk sedikit.
"Tapi bukan cuma dia yang berubah," lanjut Deidara, kini menatap Ino dengan lebih serius. "Kau juga berkembang luar biasa, Ino."
Ino mengerutkan kening. "Benarkah?"
"Ya, lihat saja dirimu sekarang." Deidara menyandarkan tubuh ke batu besar di belakangnya. "Dulu aku pikir kau hanya gadis cantik yang suka fashion dan ribet soal penampilan. Tapi ternyata, kau punya mental baja. Kau bukan cuma semakin cantik dan elegan, tapi juga tangguh secara fisik dan mental."
Ino terdiam, ia tahu Deidara belum selesai bicara.
"Oh Princess, sejak dulu kau memang gambaran wanita idamanku," tambah Deidara dengan nada menggoda, meski Ino tahu ada ketulusan di dalamnya. "Tapi… kalau belum jadian, berarti masih ada harapan untukku, ya?"
Ino meliriknya tajam. "Jangan mulai deh."
Deidara tertawa kecil, mengangkat tangannya seolah menyerah. "Tenang saja. Aku bercanda. Naruto bisa membunuhku kalau dia dengar."
Seolah dipanggil, suara berat terdengar dari belakang mereka.
"Hei, kalian adik-kakak sedang apa?"
Naruto baru saja tiba di puncak bersama beberapa anggota pendakian junior. Ia menatap Deidara dan Ino dengan ekspresi penasaran, seolah baru saja memergoki sesuatu. Napasnya masih stabil meski baru saja melewati trek terakhir yang cukup menantang. Sebagai sweeper, ia memang harus memastikan semua anggota pendakian tiba dengan selamat.
Deidara hanya nyengir. "Ngobrolin elo lah, tentu saja."
Naruto mendengus, melirik Ino yang hanya tersenyum samar.
Deidara meregangkan tubuhnya, lalu menepuk bahu Naruto dengan santai. "Baiklah, aku pergi dulu. Masih banyak junior yang harus kubantu buat dokumentasi."
Naruto hanya mengangguk sementara Deidara berjalan menjauh, meninggalkan mereka berdua di puncak.
Angin gunung berhembus pelan, menerbangkan beberapa helaian rambut pirang Ino yang sedikit berantakan. Naruto tersenyum kecil, matanya menatap gadis itu dengan kagum.
"Kau semakin kuat sekarang," katanya.
Ino menoleh, sedikit terkejut dengan pujian itu. Tapi kemudian ia tersenyum tipis. "Tentu saja. Aku punya partner pendakian yang nggak pernah bosan mengajariku," balasnya.
Hening sejenak.
Mereka berdua sama-sama ingin memulai pembicaraan, tapi malah bersuara di waktu yang bersamaan.
"Naruto, aku—"
"Ino, aku—"
Mereka saling menatap, lalu tertawa kecil.
"Kau duluan," kata Ino, masih terkekeh.
Naruto menggaruk tengkuknya, sedikit ragu, tapi akhirnya berbicara. "Aku senang kita tinggal serumah. Aku merasa... aku ingin melakukan ini selamanya. Maksudku, bukan hanya tinggal bersama di rumah sewaan... tapi punya rumah sungguhan di gunung, atau setidaknya di dataran tinggi."
Ino membelalakkan mata. Ia menutup mulutnya dengan tangan, ekspresi kagetnya jelas terlihat. "Kau bercanda?"
Naruto mengerutkan dahi. "Hah? Kenapa?"
Ino tiba-tiba menggenggam kedua tangan Naruto tanpa ragu, matanya berbinar penuh antusias. "Karena aku juga ingin mengatakan hal yang sama!" serunya histeris. "Aku juga ingin tinggal di dataran tinggi, dengan udara segar dan pemandangan seperti ini setiap hari!"
Naruto menatapnya, tak tahu harus bereaksi bagaimana. Ia hanya bisa terkekeh pelan, merasa sedikit kewalahan dengan energi yang tiba-tiba terpancar dari Ino.
Tuh kan, mulai lagi. Kini gadis ini benar-benar tidak ragu dalam membuat kontak fisik dengannya.
Sejak kejadian canggung di rumah beberapa minggu lalu, Naruto sempat berpikir bahwa Ino akan menjaga jarak darinya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Ino tetap berkomunikasi seperti biasa, tetap perhatian, tetap mengomel jika Naruto pulang larut malam. Seakan-akan kejadian itu sama sekali tidak mengubah apapun. Naruto, yang awalnya memilih untuk mengikuti cara bermain Ino, mulai menyadari sesuatu yang berbeda.
Sentuhan.
Physical touch Ino terhadapnya meningkat secara signifikan.
Awalnya, ia pikir hanya kebetulan. Tapi kalau dirunut lagi dari waktu perubahan sikap tersebut, Naruto pastikan perubahan sikap Ino ini terjadi pasca kejadian tersebut.
Dulu, Ino tidak akan sembarangan memegang tangannya tanpa alasan. Tapi kini, ia melakukannya tanpa ragu—entah itu saat mereka berjalan bersama, atau bahkan sekadar menyenggol pundaknya saat menonton TV di rumah.
Lebih dari sekali, ia menemukan dirinya jadi lebih waspada ketika Ino tanpa sadar bersandar padanya saat tertawa, atau ketika jemarinya menyentuh lengannya lebih lama dari yang seharusnya.
Naruto tidak tahu harus berpikir apa. Apakah ini sekadar efek dari peningkatan kedekatan mereka karena tinggal bersama? Efek perkataannya malam itu? Atau… lebih dari itu?
Ia harus mencari tahu.
Suatu hari, Naruto pulang ke rumah keluarganya di Konoha ditemani Ino.
Saat di rumah, ia menemukan ibunya dan Ino sibuk di dapur, sementara Naruko—saudari kembarnya—duduk santai di sofa ruang tengah dengan laptop terbuka di pangkuannya.
Naruto duduk di sebelahnya sambil melamun.
Naruko, yang sejak tadi sibuk mengetik di laptopnya, langsung menangkap sesuatu. Tanpa perlu menoleh, ia sudah tahu ada yang mengganggu pikiran kakak kembarnya.
"Kau kenapa?" tanyanya santai, masih fokus pada layar.
Naruto meliriknya sekilas. Sudah biasa. Mereka memang kembar, tapi Naruko selalu lebih peka dalam membaca ekspresi—sebuah keahlian yang semakin terasah karena jurusan Psikologi yang diambilnya. Ditambah dengan jurusan Ilmu Komunikasi sebagai double degree, tidak heran jika ia bisa memahami orang lain hanya dari perubahan sekecil apa pun.
Naruto menatap saudari kembarnya. Tidak banyak orang yang tahu, tapi meskipun mereka lahir hanya berjarak sepuluh menit, Naruko selalu terlihat lebih dewasa. Sikap dasarnya memang cuek, tapi di balik itu, ia perhatian dengan caranya sendiri.
Sejak kecil, Naruko tidak pernah memanggil Naruto dengan sebutan "kakak". Mungkin karena perbedaan usia mereka yang begitu tipis, atau mungkin karena sejak dulu Naruko merasa tidak perlu. Justru terkadang, ia yang lebih sering bersikap seperti kakak—lebih tenang, lebih logis, dan lebih cepat memahami situasi dibanding Naruto.
Ia cerdas—terlalu cerdas bahkan. Double degree di jurusan Psikologi dan Komunikasi, lulus lebih cepat karena sering lompat kelas, dan sekarang mulai membantu ayah mereka mengurus perusahaan.
Rambut pirangnya yang panjang tergerai rapi dengan sedikit gelombang di ujungnya, memberikan kesan elegan namun tetap kasual. Mata biru cerah khas keluarga Uzumaki selalu memancarkan ketajaman, seolah bisa membaca pikiran orang lain hanya dengan sekali pandang.
Gaya berpakaiannya selalu modis dan berkelas, tidak pernah berlebihan tetapi selalu terlihat pas dan profesional. Baik dalam balutan setelan formal saat menemani ayahnya bekerja, maupun pakaian kasual saat bersantai di rumah, Naruko selalu tampak rapi dan menawan.
Kombinasi antara kepintaran dan daya tariknya membuatnya mudah menarik perhatian. Tak heran, beberapa kali ia sempat memiliki pacar, meskipun tidak ada yang bertahan lama. Naruto sering bercanda kalau itu karena standar Naruko terlalu tinggi, tetapi di sisi lain, ia juga mengakui bahwa saudari kembarnya memang jauh lebih berpengalaman dalam urusan asmara dibanding dirinya.
Naruto mendesah pelan, akhirnya memutuskan untuk bercerita. "Ini soal Ino."
Akhirnya, Naruko menoleh, mengangkat sebelah alisnya dengan ketertarikan. "Oh?"
Naruto menggaruk tengkuknya, tampak ragu sebelum melanjutkan. "Aku… bingung."
Naruko menyipitkan mata, tertarik. "Bingung kenapa?"
"Beberapa waktu lalu, aku nggak sengaja bilang sesuatu. Aku bilang kita—aku dan Ino—mirip seperti pasangan."
Naruko menahan tawa. "Dan?"
Naruto menggeleng. "Dia nggak marah. Nggak membantah juga. Cuma tersenyum kecil, lalu diam saja."
Naruko mengangguk pelan, mencerna. "Lalu, yang membuatmu bingung apa?"
"Itu tadi. Dia diam saja. Tapi setelah itu…" Naruto terdiam sebentar, sebelum melanjutkan dengan ekspresi frustasi. "Setelah itu, dia semakin sering mendekat. Dia mulai lebih sering menyentuhku, kadang menggenggam tanganku saat berjalan, atau tiba-tiba bersandar kalau kita sedang nonton TV. Seolah-olah kata-kataku waktu itu nggak salah, tapi juga nggak benar."
Naruko tersenyum miring. "Jadi kau bertanya-tanya, apakah dia mulai menyukaimu sebagai lebih dari teman, atau dia hanya nyaman karena kalian sudah tinggal bersama?"
"Tepat sekali!"
Naruko akhirnya menutup laptopnya dan menyandarkan diri ke sofa, menatap Naruto dengan penuh minat.
"Hei bodoh, kau ini benar-benar clueless, ya?"
Naruto mendengus. "Itulah kenapa aku bertanya padamu."
Naruko menatapnya lama sebelum tersenyum kecil. "Aku punya teorinya."
"Bagaimana?"
"Ino punya trauma dalam menjalin hubungan."
Naruto terdiam.
"Perceraian orang tuanya itu lebih besar dari yang terlihat. Kau ingat, kan? Dia dulu sempat diam di rumah kita selama seminggu setelah kejadian itu. Dia kehilangan kepercayaan pada konsep hubungan. Takut bahwa setiap hubungan romantis pasti akan berakhir buruk," jelas Naruko.
Naruto menatapnya dalam diam.
"Makanya," lanjut Naruko, "Kalau dia terlihat lebih nyaman secara fisik denganmu, itu karena dia percaya padamu. Kau adalah satu-satunya orang yang bisa dia andalkan di ibu kota. Tapi, kalau kau berpikir ini berarti dia ingin sesuatu yang lebih… aku rasa belum tentu."
Mulut Naruto membentuk huruf O. Jadi begitu?
Naruko tersenyum simpul, menepuk pundaknya. "Aku sih bilang, jangan terburu-buru. Ikuti saja alurnya. Kalau memang harus berkembang jadi sesuatu yang lebih, itu akan terjadi secara alami."
Naruto mengangguk pelan. Kini ia merasa sedikit lebih mengerti situasi ini.
Tapi sebelum ia bisa membalas, suara ponsel Naruko berbunyi. Naruko melirik ponselnya sekilas.
"Harus kerja dulu," katanya sebelum berdiri dan berjalan ke ruang kerja.
Setelah Naruko pergi, Minato berjalan santai ke ruang tamu, membawa secangkir teh di tangannya. Wajahnya tenang seperti biasa, selalu memberikan kesan seorang pria yang bijak dan penuh perhitungan.
"Kalian lagi bicara soal apa?" tanyanya sambil duduk di sofa.
Naruto menatap ayahnya sekilas sebelum kembali menyeruput tehnya. Ia tersenyum kecil. "Ah, biasa… obrolan ringan antara kakak dan adik."
Minato mengangkat alis, jelas tidak sepenuhnya percaya, tapi ia tidak mendesak lebih jauh. "Begitu, ya?"
Naruto hanya mengangguk, berpikir tak mungkin membahas Ino dengan ayahnya.
Minato tersenyum kecil. Hubungan mereka memang baik-baik saja, meskipun dulu Naruto sempat jadi berandalan dan tidak mengikuti jejaknya di dunia bisnis. Berbeda dari Kushina yang sering khawatir, Minato lebih membiarkan Naruto menemukan jalannya sendiri. Tapi tentu saja, bukan berarti ia tidak memperhatikan perkembangan anaknya.
"Ngomong-ngomong, kupikir kau mulai serius dengan pekerjaan freelancemu," ujar Minato sambil menyesap tehnya. "Kau sering meng-handle proyek aplikasi, kan?"
Naruto mengangguk. "Lumayan. Aku belajar banyak soal manajemen proyek juga. Dari klien satu ke klien lainnya, selalu ada tantangan baru."
Minato mengangguk pelan, seolah menimbang sesuatu. "Pernah terpikir untuk merintis startup sendiri? Mungkin semacam konsultan aplikasi?"
Naruto terdiam sejenak sebelum menjawab, "Sebenarnya… aku memang mulai mempelajari bisnis dan manajemen. Tapi kalau untuk startup, aku masih ragu."
"Kenapa?" Minato menaikkan alis.
Naruto menatap secangkir tehnya, lalu tersenyum kecil. "Mungkin karena sekarang aku lebih ingin fokus ke hal lain dulu."
Minato menatapnya lebih tajam. "Seperti?"
Naruto menyandarkan diri ke sofa, matanya menatap ke luar jendela. "Aku kepikiran untuk beli rumah sendiri. Rumah kontrakanku memang nyaman dan membuat betah, tapi rasanya tidak benar-benar merasa 'memiliki'."
Minato mengangguk, tidak terkejut. "Ibumu bilang kau ingin rumah di pegunungan."
Naruto tersenyum kecil. "Aku suka tinggal bersama Ino. Tapi lebih dari itu… aku ingin punya rumah di dataran tinggi. Aku dan Ino suka naik gunung, kan?"
Minato terdiam sejenak sebelum tertawa pelan. "Jadi, ini bukan cuma soal rumah. Ini soal seseorang."
Naruto terkekeh. "Aku nggak bilang begitu."
Minato menatap anaknya dengan penuh arti. "Kalau kau ingin rumah itu lebih cepat, coba pikirkan startup. Dengan freelance, kau bisa mendapatkan penghasilan yang bagus, tapi skala pekerjaanmu terbatas. Kalau kau punya startup sendiri, kau bisa berkembang lebih cepat."
Naruto terdiam. Ia tahu ayahnya punya poin yang bagus. Dengan startup, ia bisa meningkatkan skala pekerjaannya, mendapatkan klien yang lebih besar, dan pada akhirnya—menghasilkan lebih banyak uang dalam waktu yang lebih singkat.
Dan kalau itu bisa membantunya membeli rumah lebih cepat… kenapa tidak?
Suatu malam, suasana rumah terasa nyaman. Naruto dan Ino duduk di ruang tamu, menonton film di layar televisi mereka yang berukuran sedang. Makanan ringan berserakan di meja, selimut sudah melilit tubuh Ino, sementara Naruto duduk dengan kaki terlipat di sofa.
Di sela-sela menonton, Naruto tampak begitu bersemangat. Sebuah map tebal berisi dokumen tergeletak di atas meja, dan sesekali Naruto meliriknya dengan senyum yang sulit disembunyikan.
Ino meliriknya curiga. "Apa itu?" tanyanya sambil mengunyah camilan. "Ide skripsimu?"
Naruto menoleh cepat, seolah baru tersadar dari pikirannya sendiri. "Hah? Oh, bukan."
Ino mengerutkan kening. "Naruto, kita sudah masuk tahun terakhir. Fokus, oke? Target kita lulus tahun depan."
Naruto tertawa kecil. "Tenang saja, ini bukan sesuatu yang menghambat kuliahku. Justru sebaliknya." Ia menepuk map itu pelan. "Ini dokumen persyaratan buat bikin startup. Salah satu project di sini bisa aku jadikan bahan skripsi. Jadi di saat yang bersamaan, aku bisa menghasilkan uang lebih cepat."
Ino menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia tahu betul Naruto tidak main-main kalau sudah bertekad melakukan sesuatu.
Sambil membenarkan posisi duduknya, Ino tiba-tiba teringat sesuatu. "Ngomong-ngomong soal rencana masa depan… saat aku di Konoha, ibuku mengajakku bertemu di café."
Naruto menoleh dengan ekspresi tertarik. "Lalu?"
"Ia meminta maaf atas semuanya," kata Ino pelan. "Tapi sudah dipastikan ia dan ayah tidak akan bisa rujuk lagi."
"Oh, sayang sekali… lalu apa dia ingin membahas sesuatu yang lain?"
Ino mengangguk. "Ya. Ibu ingin aku belajar mengurus cabang kantor desainnya, sekaligus mengawasi pegawai-pegawainya. Dia bilang, bagaimanapun juga, butuh penerus. Sayang kalau ilmu kuliahku tidak dimanfaatkan."
Naruto mengangguk pelan, memahami situasinya.
"Menurutmu, apa aku harus menerimanya?" lanjut Ino, sedikit ragu. "Sempat terbersit ide… bagaimana kalau aku mengubah rumahku di Konoha yang sekarang terbengkalai untuk dijadikan toko baju hasil desainku?"
Naruto terdiam sejenak, menimbang perkataan Ino. Ia bisa melihat ada semangat dalam suaranya, tetapi juga keraguan.
"Itu ide yang bagus," kata Naruto akhirnya. "Tapi pertanyaannya… apakah kau benar-benar ingin melakukan itu?"
Ino menggigit bibirnya, berpikir. Ia tahu, keputusan ini bukan sesuatu yang bisa dibuat dalam satu malam.
Ino terdiam sejenak, menatap layar televisi tanpa benar-benar fokus pada film yang masih diputar. Pikirannya dipenuhi berbagai pertimbangan. Membuka toko sendiri adalah impian yang menarik, tetapi juga penuh tantangan.
"Aku harus memikirkannya dulu," katanya akhirnya, suaranya terdengar lebih pelan.
Naruto mengangguk mengerti. "Itu keputusan besar, jadi wajar kalau kau butuh waktu. Tapi kalau memang kau ingin melakukannya, jangan setengah-setengah, Ino," katanya dengan nada serius. "Jangan ragu di tengah jalan. Kalau kau benar-benar ingin membuka toko, lakukan dengan sungguh-sungguh."
Ino menatapnya sejenak sebelum tersenyum tipis. Ia tahu Naruto berkata seperti itu karena benar-benar ingin mendukungnya.
Sebagai balasan, ia meraih lengan Naruto dan menariknya agar bersandar lebih nyaman di sofa. Naruto mengerjap, sedikit terkejut dengan gestur itu, tapi tidak menolak.
Kemudian, tanpa banyak bicara, Ino menyelimuti mereka berdua dengan selimut yang sama, lalu bersandar di pundak Naruto.
Naruto menegang sesaat, tapi kemudian membiarkan dirinya rileks. Ia tidak ingin berlebihan mengartikan ini, tapi yang jelas… ia merasa nyaman.
Suasana rumah mereka semakin nyaman seiring waktu berlalu. Naruto dan Ino mulai terbiasa berbagi ruang, saling membantu, dan bahkan saling menunggu kepulangan masing-masing. Dari sekadar teman serumah, mereka menjadi sahabat yang bisa mengobrol lebih dalam tentang banyak hal.
Malam itu di kamar Naruto, ia sedang sibuk dengan keyboard yang dibawanya dari rumah di Konoha, sementara Ino tiduran di kasur.
"Kau mau belajar keyboard?" tanya Ino, menopang dagunya di telapak tangan.
Naruto tidak langsung menjawab. Jarinya bergerak pelan, menekan tuts dengan hati-hati.
"Sembarangan," sahutnya ketus, meski bibirnya melengkung sedikit. "Aku bisa memainkan ini sejak SMP. Aku dulu aktif di band sekolah, ya meskipun lebih seringnya main gitar sih."
Ino mengerutkan dahi, menatapnya dengan ekspresi tak percaya. "Seorang Naruto bisa main musik?"
Naruto akhirnya menoleh, menatapnya sejenak sebelum mendengus. "Kok kayaknya kaget banget sih?"
Ino mendecak. "Serius, Naruto. Setelah sekian lama tinggal bersama, kau masih saja punya kejutan. Aku bahkan jarang melihatmu main musik. Tapi kenapa sekarang kau terlihat seperti seorang... multitalenta?"
Naruto terkekeh kecil, lalu mulai memainkan nada-nada sederhana, menguji suara keyboardnya. "Ya wajar saja, kan? Sejak SMP kau jarang mempedulikanku. Banyak hal yang tidak kau tahu."
"Tapi itu salahmu sendiri," balas Ino cepat. "Kau selalu bertingkah bodoh dan membuatku ilfeel."
Naruto mendesah dramatis. "Ya maaf dong."
Tiba-tiba, Ino menyeringai jahil. "Coba mainkan Topeng."
Naruto menatapnya tajam. "Kau menyindirku?" Ia tahu persis lagu itu. Lagu yang liriknya penuh makna tentang seseorang yang menyembunyikan jati diri di balik kepalsuan. Dan itu… benar-benar menggambarkan dirinya di masa lalu.
"Hahaha!" Ino tertawa puas melihat ekspresinya.
Namun, bukannya menolak, Naruto malah mulai memainkan intro lagu itu, jemarinya bergerak lincah di atas tuts keyboard. Ino, yang hafal liriknya, spontan ikut bernyanyi.
Setelah lagu itu selesai, Naruto melanjutkan ke lagu-lagu lain dengan berbagai genre. Mulai dari pop, rock, hingga balada. Seiring berjalannya waktu, permainannya mulai melambat, berubah menjadi nada-nada slow karena rasa lelah mulai merayapi tubuhnya.
Saat ia menoleh, Ino sudah diam.
Naruto menyeringai kecil. "Oi, jangan bilang kau tidur?"
Tak ada jawaban.
Ia mendekat, dan benar saja. Ino sudah terlelap, napasnya teratur, wajahnya terlihat begitu damai.
Naruto menghela napas panjang, lalu mengguncang pundaknya pelan. "Ino, bangun. Cepat pindah ke kamarmu."
"Hmm…" Ino bergumam setengah sadar. "Aku di sini saja…"
Naruto menatapnya frustasi. "Kalau kau di sini, aku takut memelukmu saat tidur."
Mata Ino masih tertutup, tapi bibirnya melengkung nakal. "Maksudmu seperti ini?"
Tiba-tiba, tanpa peringatan, tangannya terulur dan memeluk Naruto.
Naruto membeku.
Astaga. Rejeki nomplok.
Namun, bukannya menikmati, ia justru menegang. Napasnya tercekat, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
Semalaman, Naruto malah tidak bisa tidur nyenyak. Ia lebih banyak memperhatikan wajah Ino yang begitu dekat di pelukannya. Wajah yang selama ini ia kenal, tapi kini terasa begitu… menggoda.
Naruto berkali-kali mengatur napas, berusaha keras menepis segala pikiran liar yang mulai muncul di kepalanya.
Jangan kebablasan. Jangan kebablasan.
Tapi semakin ia menanamkan kalimat itu di kepalanya, semakin besar godaan untuk melanggar. Ia bisa saja berpura-pura menggerakkan tangannya lebih erat, mendekatkan wajahnya sedikit, membiarkan dirinya menikmati kehangatan ini lebih lama.
Namun, di saat yang sama, otaknya juga penuh dengan alarm bahaya.
Kalau aku kebablasan, bagaimana kalau Ino merasa keberatan?
Bagaimana kalau setelah ini hubungan kami hancur?
Bagaimana kalau ia merasa dikhianati dan tidak mau lagi tinggal bersamaku?
Rasanya tidak gentle juga kalau memanfaatkan kondisi Ino yang sedang tidur. Kalau ia benar-benar ingin lebih dari sekadar teman serumah, seharusnya ia mendapatkan Ino dengan cara yang benar. Dengan keberanian yang jantan, bukan dengan memanfaatkan keadaan.
Dan… rasanya juga tidak menantang kalau Ino tidak dalam keadaan sadar penuh.
Entah sampai jam berapa Naruto sibuk dengan pikiran-pikirannya. Tanpa ia sadar ia sudah tertidur dengan kondisi memeluk Ino.
Pagi harinya, Naruto bangun lebih dulu karena ada kuliah pagi. Ia duduk di meja belajar samping tempat tidurnya, menyesap kopi hitamnya sambil menatap ke Ino.
Naruto mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Langit belum sepenuhnya terang, masih bercampur antara gelapnya malam dan samar-samar cahaya fajar yang mulai muncul di cakrawala. Udara pagi yang dingin menyelusup ke dalam kamar, sedikit membantu menenangkan pikirannya yang masih berantakan.
Namun, sebelum ia benar-benar bisa merasa nyaman, Ino bergerak dalam tidurnya.
Gadis itu menggeliat pelan, berguling ke samping, lalu tanpa sadar menarik selimut lebih erat ke tubuhnya. Rambut pirangnya berantakan, beberapa helai jatuh menutupi wajahnya yang masih tampak damai dalam tidur.
Tapi bukan itu yang membuat Naruto menegang.
Celana tidur hitamnya yang ketat memperjelas bentuk kakinya, dan kaus oversized yang dikenakannya sedikit terangkat, memperlihatkan sebagian kulit perutnya yang mulus.
Naruto buru-buru menatap ke arah lain, mengumpat dalam hati. Oh sial. Ini benar-benar ujian.
Ia menyesap kopinya lagi, tapi rasanya sudah hambar. Bukan karena suhunya yang mulai dingin, tapi karena pikirannya masih sibuk dengan sesuatu yang lain.
Ia kembali menoleh ke kasur, melihat Ino yang masih tertidur dengan wajah tenang.
Mereka bukan pacaran. Tapi mereka juga bukan sekadar teman biasa.
Tanpa status, tanpa definisi yang jelas, tapi kedekatan mereka terasa begitu alami. Ino menggenggam tangannya tanpa ragu, bersandar padanya seolah itu hal yang wajar, dan sekarang, ia bahkan bisa tidur di kamarnya tanpa ada canggung sedikit pun.
Tapi... apa hubungan seperti ini benar-benar normal?
Naruto menghela napas panjang, mengusap wajahnya, berusaha menemukan jawabannya sendiri.
Entahlah.
Ia benar-benar tidak tahu.
.
.
To be continued…
