.
Unspoken
.
Disclaimer: I do not own Naruto characters
Naruto © Masashi Kishimoto
Chapter 9: Between the Lines
Naruto duduk di bangku ruang kelas, memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan materi dengan tatapan kosong. Biasanya, ia adalah salah satu mahasiswa yang paling aktif, terutama dalam diskusi yang berkaitan dengan teknologi dan pengembangan aplikasi. Tapi hari ini, pikirannya melayang ke tempat lain. Tepatnya, ke beberapa malam yang lalu.
Sejak malam itu, sejak ia dan Ino tidur dalam pelukan, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Pikiran tentang Ino selalu muncul di saat yang tidak tepat. Apakah itu hanya kebetulan? Atau... ada sesuatu yang lebih dalam yang tidak bisa ia abaikan?
"Naruto, bisa tolong jelaskan kembali poin terakhir?"
Suara dosen membuatnya tersentak. Seluruh kelas menoleh ke arahnya, menunggu jawaban.
Naruto mengerjapkan mata, berusaha mengingat apa yang baru saja dibahas. Namun, tidak ada yang masuk ke otaknya.
"Uh..."
Beberapa temannya terkikik. Dosen hanya geleng-geleng kepala sebelum melanjutkan. Naruto mengusap wajahnya, mencoba fokus kembali.
Tapi masalahnya, fokus adalah hal yang sulit dilakukan ketika setiap kali ia menutup mata, ia selalu mengingat momen itu—momen di mana Ino bersandar padanya, momen di mana ia bisa merasakan napasnya yang teratur.
Dan yang semakin mengganggu saat di kampus, ia mulai menyadari sesuatu yang lain: banyak pria yang tertarik pada Ino. Tentu saja, Ino adalah gadis yang menarik. Cantik, cerdas, karismatik. Sudah beberapa kali Naruto melihat mahasiswa lain mencoba mendekatinya, bahkan sejak tahun pertama mereka kuliah. Ada yang sekadar berbasa-basi, ada yang terang-terangan menyatakan perasaan.
Naruto baru menganggap itu serius saat ini, saat ia merasa cukup dekat dengan Ino. Selain karena ingin melindungi Ino dari pria sembarangan, Naruto berpikir Ino hanyalah miliknya. Sayangnya Naruto tak bisa menunjukkan itu secara blak-blakan karena status mereka tidak lah jelas.
Dan meskipun ia tahu bahwa Ino menolak mereka semua, tetap saja ada sesuatu di dalam dirinya yang mulai bergejolak setiap kali melihat orang lain mencoba menarik perhatian Ino.
Sebuah perasaan yang sulit diakui. Perasaan bahwa ia tidak ingin ada orang lain yang mendekati Ino. Dan tanpa ia sadari, sifat protektifnya terhadap Ino semakin meningkat pasca kedekatan mereka malam itu.
Seperti hari ini.
Di kantin kampus, Naruto duduk dengan punggung bersandar santai di kursinya, sesekali menyeruput jus jeruknya sambil mendengarkan obrolan Ino dan teman-temannya. Seharusnya, ia tak perlu memperhatikan siapa yang mengobrol dengan siapa. Tapi matanya tetap terpaku pada pria yang duduk di depan Ino.
Namanya Ryo. Mahasiswa dari jurusan Ekonomi, cukup populer karena wajahnya yang good-looking dan gaya bicaranya yang santai. Naruto tidak pernah benar-benar memedulikannya… sampai sekarang.
"Jadi, Ino, ada rencana akhir pekan ini?" tanya Ryo dengan senyum percaya diri.
Naruto langsung berhenti mengunyah.
Ia menatap Ino yang tampak berpikir sebentar sebelum menjawab, "Belum ada sih. Kenapa?"
Ryo semakin lebar senyumnya. "Aku tahu tempat bagus buat nongkrong. Café rooftop baru buka dekat area pusat kota, vibe-nya cozy banget. Mau coba?"
Naruto meletakkan jusnya sedikit lebih keras dari seharusnya. Ino menoleh sekilas ke arahnya, tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Oh… aku nggak tahu ya," jawab Ino, nada suaranya sedikit ragu.
Ryo terkekeh. "Santai aja. Nggak harus sekarang. Aku bisa jemput kalau mau."
Naruto mencondongkan tubuhnya ke depan, menyilangkan tangan di atas meja. Tatapannya mengunci pada Ryo.
"Kau ngajak Ino kencan?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi.
Ryo terdiam sesaat, lalu tertawa kecil. "Ya… bisa dibilang begitu."
Naruto menghela napas pelan, lalu menoleh ke Ino. "Kalau kau nggak ada rencana, kita kan biasanya ke tempat favorit kita, bukan?"
Ino berkedip. "Hah?"
Naruto tidak memberi Ino kesempatan untuk menjawab. Ia menatap Ryo lagi dengan senyum tipis yang tidak benar-benar ramah.
"Jadi, kayaknya dia sibuk," lanjut Naruto dengan nada santai, tapi ada ketegasan dalam suaranya.
Ryo mengangkat alis, tapi tetap tersenyum sopan. "Oh, gitu ya?"
Ino menatap Naruto lama, lalu akhirnya mendecak pelan. "Naruto, aku bisa menjawab sendiri, tahu."
Tapi anehnya, ia tidak langsung membantah ucapan Naruto.
Ryo akhirnya mengangkat bahu. "Baiklah, lain kali aja kalau begitu." Ia berdiri dan menatap Ino sekali lagi sebelum pergi.
Begitu Ryo menjauh, Ino menoleh ke Naruto dengan ekspresi tidak percaya. "Serius, Naruto?"
Naruto pura-pura tidak peduli, mengangkat bahu santai. "Apa? Aku cuma bilang yang sebenarnya."
"Bukan urusanmu siapa yang mengajakku pergi," balas Ino, matanya menyipit.
Naruto menatapnya sebentar, lalu menyandarkan diri ke kursinya. "Ya, terserah sih. Kalau kau mau pergi sama dia, silakan."
Nada suaranya terdengar biasa saja, tapi ada sesuatu dalam ekspresinya yang membuat Ino menatapnya lebih lama. Dan saat itulah, sesuatu menyentaknya. Ini bukan sekadar sikap overprotektif biasa.
Naruto… cemburu.
Malam itu, Naruto dan Ino kembali ke rutinitas mereka. Ino duduk santai di sofa, scrolling ponselnya sambil sesekali memainkan ujung rambutnya, sementara Naruto duduk di lantai, laptop terbuka di meja.
Ia terlihat serius mengetik, seolah-olah percakapan tadi siang tidak pernah terjadi. Tapi Ino tahu lebih baik dari itu.
"Jadi… tadi siang," kata Ino tiba-tiba, suaranya pelan.
Naruto hanya bergumam tanpa menoleh. "Hmm?"
Ino menyipitkan mata, lalu memiringkan kepala. "Aku bisa menjawab sendiri, tahu."
Naruto akhirnya menoleh, ekspresinya datar. "Soal Ryo?"
Ino mengangguk. "Kenapa kau seperti itu?"
Naruto diam sebentar, lalu menghela napas. "Nggak ada alasan khusus."
Ino menatapnya lebih lama, lalu menyandarkan diri ke sofa. "Naruto, kau cemburu ya?"
Naruto langsung tersedak. "Hah?!"
Ino terkekeh, tapi tetap menatapnya serius. "Aku cuma ingin tahu."
Naruto menggaruk tengkuknya, berusaha mencari jawaban yang masuk akal. "Aku cuma… ya, kupikir dia agak terlalu percaya diri saja."
Ino mendecak. "Tapi kau tahu nggak? Kau juga terlalu percaya diri."
Naruto mengangkat alis. "Maksudmu?"
Ino menatapnya lekat. "Mahasiswi junior di himpunanmu. Yang rambutnya pendek sebahu, dengan pita di kepala, dan selalu berbicara dengan suara yang terlalu manis untuk ukuran orang normal."
Naruto mengerutkan dahi, mencoba mengingat. "Siapa?"
Ino mendengus pelan. "Siapa lagi kalau bukan Moegi?"
Naruto membelalak. "Moegi?! Dia cuma anak baru yang sopan, kok."
Ino menyipitkan mata. "Oh ya? Kalau dia cuma sopan, kenapa setiap aku lewat di kampus dia selalu melihatku seperti ingin melempar shuriken?"
Naruto terkekeh, akhirnya paham ke mana arah pembicaraan ini. "Ah, kau pasti salah paham."
"Tidak ada yang namanya salah paham dalam urusan perempuan, Naruto."
Naruto hanya bisa menghela napas, tahu bahwa berdebat soal ini tidak ada gunanya.
Keheningan aneh menyelimuti mereka.
Keduanya sama-sama menyadari satu hal. Mereka baru saja mendiskusikan bagaimana mereka tidak ingin ada orang lain mendekati satu sama lain. Dan itu terdengar… seperti pasangan yang sedang menetapkan batasan hubungan.
Naruto dan Ino saling melirik, lalu buru-buru mengganti topik.
"Jadi, besok kita belanja mingguan?" tanya Ino cepat.
"Oh, iya, iya! Kita butuh stok ramen instan lebih banyak," sahut Naruto.
"Dasar."
Mereka tertawa kecil, mencoba menepis kecanggungan yang baru saja mereka ciptakan sendiri.
Hari itu, Naruto duduk di ruang seminar fakultasnya, bersiap untuk presentasi di depan para investor yang tertarik mendanai startup-nya. Ruangan sudah dipenuhi dosen, mahasiswa, dan beberapa perwakilan perusahaan yang diundang khusus. Suasana cukup formal, berbeda dari kelas-kelas biasa yang lebih santai.
Di layar proyektor, terpampang nama startup yang tengah ia rintis: "CampusLink", sebuah platform yang menghubungkan kebutuhan perusahaan dengan proyek mahasiswa, memastikan hasil kerja akademis lebih aplikatif dan sesuai industri.
Namun, ada satu masalah…
Fokus Naruto goyah.
Sejak tadi, pikirannya masih dipenuhi satu hal—atau lebih tepatnya, satu orang.
Ino.
Setelah semua momen canggung yang terjadi beberapa hari terakhir, serta perasaan cemburu yang tidak ingin sama-sama mereka ungkapkan, Naruto masih belum bisa benar-benar mengerti apa yang ada di pikiran Ino.
Ia menggelengkan kepala, mencoba membuang pikiran itu. Fokus, Naruto. Ini penting.
Suara moderator memecah lamunannya.
"Baik, selanjutnya kita akan mendengarkan presentasi dari Uzumaki Naruto. Silakan."
Naruto menarik napas dalam, lalu berjalan ke depan dengan percaya diri yang sedikit dibuat-buat. Ia mengaktifkan pointer laser dan mulai berbicara.
"Terima kasih atas waktunya. Hari ini, saya ingin memperkenalkan konsep CampusLink…"
Kalimat pertama meluncur lancar. Kemudian yang kedua, ketiga… tetapi di tengah-tengah presentasi, pikirannya kembali melayang. Bagaimana kalau aku langsung tanya status kami nanti malam?
Naruto sedikit kehilangan ritme, tapi dengan cepat ia menguasai kembali alur pembicaraannya.
Setelah menjelaskan bagaimana platformnya bekerja, bagaimana sistem kecerdasan buatan di dalamnya dapat mencocokkan proyek mahasiswa dengan kebutuhan industri, dan bagaimana ini bisa menguntungkan baik mahasiswa maupun perusahaan, ia akhirnya menyelesaikan presentasinya.
Sesi tanya jawab dimulai. Seorang pria paruh baya dari salah satu perusahaan mitra mengangkat tangan.
"Konsep Anda cukup menarik. Tapi, bagaimana Anda berencana memastikan perusahaan benar-benar tertarik menggunakan platform ini?"
Naruto sempat terdiam. Untungnya, ini pertanyaan yang sudah ia antisipasi.
"Pada tahap awal, kami sudah memiliki beberapa universitas yang bersedia melakukan uji coba sistem ini. Kami juga akan bekerja sama dengan fakultas untuk menjadikan proyek ini bagian dari mata kuliah berbasis praktik, sehingga mahasiswa tidak hanya sekadar mengerjakan tugas, tetapi juga bisa mendapatkan pengalaman nyata."
Investor itu mengangguk puas.
Pertanyaan-pertanyaan lain menyusul, tetapi di luar dugaan, banyak yang menyukai idenya. Bahkan beberapa perwakilan perusahaan langsung menunjukkan ketertarikan untuk mendukung pengembangan CampusLink lebih lanjut.
Setelah sesi presentasi selesai, Naruto akhirnya bisa menghela napas lega.
Ia keluar dari ruang seminar dan bersandar di dinding lorong, mencoba memproses semuanya.
Ini bisa jadi besar…
Pagi itu, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Ino baru saja selesai mandi dan bersiap untuk berangkat ke kampus. Biasanya, di jam segini, Naruto sudah sibuk di dapur atau setidaknya terdengar suara gaduh dari kamarnya. Namun, pagi ini, tidak ada suara apa pun.
Ino melirik pintu kamar Naruto yang tertutup rapat.
Itu… tidak biasa.
Naruto hampir selalu membiarkan pintunya terbuka. Mereka sudah tinggal bersama cukup lama hingga Ino terbiasa keluar-masuk kamar Naruto tanpa merasa perlu mengetuk lebih dulu.
Namun, kali ini, ia ragu sejenak.
"Apa dia masih tidur?" gumamnya dalam hati.
Merasa ada yang aneh, ia akhirnya meraih gagang pintu dan membukanya pelan.
Naruto masih terbaring di kasurnya, selimut menutupi tubuhnya hingga ke leher. Wajahnya tampak pucat, napasnya terdengar berat, dan matanya masih terpejam.
Ino mendekat, sedikit mengguncang bahunya. "Naruto, kau baik-baik saja?"
Naruto hanya menggumam pelan, menoleh sedikit ke arahnya sebelum kembali terpejam.
Begitu punggung tangannya menyentuh dahi Naruto, tubuhnya sedikit tersentak.
Panas.
Ino merasa sedikit kesal sekaligus khawatir. "Dasar… pasti ini gara-gara kau terlalu memforsir diri," gumamnya sambil berdiri. "Tunggu di sini. Aku buatkan sesuatu."
Naruto terlalu lemas untuk menjawab, hanya mengangguk kecil sebelum kembali tenggelam dalam tidurnya.
Beberapa saat kemudian, Ino kembali dengan semangkuk bubur hangat dan segelas air putih. Ia menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur, mengaduk bubur perlahan sebelum menyodorkan sendok ke arah Naruto.
"Coba bangun sebentar. Makan dulu," kata Ino sambil menyodorkan sendok ke arahnya.
Naruto melirik bubur di tangannya. Ia tidak berkata apa-apa, tapi juga tidak langsung bergerak. Bahunya tetap bersandar pada bantal, kepalanya sedikit menoleh ke arah Ino.
Ino menyipitkan mata, mendesah pelan. "Jangan bilang kau mau disuapi?"
Naruto tidak mengiyakan, tapi juga tidak membantah. Ia hanya menatapnya dengan sorot mata lelah yang… entah kenapa membuat Ino sedikit luluh.
"Kau ini, sudah sebesar ini tapi masih saja malas makan sendiri," gumamnya, tapi tetap menyendokkan bubur ke mulut Naruto.
Naruto hanya mengangkat bahu sedikit, ekspresinya tidak berubah. Ino akhirnya menyerah dan menyuapkan bubur ke mulutnya.
Saat suapan pertama masuk, Naruto lega. Rasa hangat dari bubur sedikit mengurangi ketidaknyamanan di tenggorokannya.
"Aku bersyukur ada kau di sini," gumamnya dengan suara serak.
Ino meliriknya sekilas, lalu mendecak. "Ya jelas. Kalau kau sendirian, mungkin kau sudah mati kelaparan di kasur."
Naruto terkekeh pelan, lalu menatap langit-langit.
"Dulu, pertama kali aku pindah ke ibu kota, aku sakit sendirian. Rasanya benar-benar menyebalkan," katanya tiba-tiba.
Ino menoleh, tertarik dengan ceritanya. "Oh? Dan apa yang terjadi?"
Mata Naruto terlihat menerawang.
"Kosku dulu kecil, nggak ada yang bisa dimintai tolong. Kalaupun ada, tentu aku belum terlalu akrab. Aku demam tinggi, kepala pening, dan nggak ada energi untuk masak atau beli makanan. Akhirnya, aku cuma pesan makanan dan obat online. Tapi ya… tetap aja nggak ada yang nyodorin air minum, nggak ada yang ingetin makan, nggak ada yang pastiin aku baik-baik aja."
Ino terdiam sesaat, membayangkan Naruto yang dulu.
"Sakit sendirian memang menyebalkan," katanya pelan. "Tapi lihat sisi baiknya. Sekarang kau nggak perlu sendirian lagi."
Naruto menoleh ke arahnya dan tersenyum lemah. "Ya… makanya aku bersyukur tinggal sama kamu."
Ino mendengus kecil, tapi ada senyum samar di bibirnya.
"Tapi serius, Naruto. Kau ini benar-benar manja kalau sakit," katanya sambil menyendokkan bubur lagi.
Naruto menerima suapan itu dengan pasrah. "Aku pikir itu hal yang wajar," katanya santai. "Kalau sakit, wajar dong pengen diperhatiin."
Ino terkekeh. "Ya, tapi kalau dibandingkan denganku, aku jauh lebih kuat. Aku bahkan nggak merasa sakit kalau kau nggak mengingatkanku waktu itu. Beberapa bulan setelah kita mulai tinggal bersama, aku juga sempat sakit, ingat?"
Naruto berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan. "Ah… waktu kau kelelahan gara-gara tugas kuliah dan pulangnya kehujanan."
"Ya," jawab Ino. "Aku bahkan nggak sadar kalau aku demam sampai kau datang dan langsung panik."
Naruto tertawa kecil meski suaranya terdengar lemah. "Ya, aku panik karena kau tiba-tiba lemas di sofa. Aku langsung nyari teh hangat, masak bubur seadanya, terus jagain kau semalaman."
Ino menatapnya, sedikit geli melihat Naruto yang tetap ingat detailnya.
"Dan yang paling lucu, aku nggak semanja kau. Aku bahkan nggak banyak protes," katanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
Naruto pura-pura memasang ekspresi tak terima. "Itu karena kau keras kepala," katanya.
Ino hanya terkekeh kecil.
Naruto menutup matanya lagi, tubuhnya lebih rileks sekarang. "Tapi serius, aku nggak kebayang kalau sakit lagi sendirian. Mungkin sekarang aku bakal lebih sering pura-pura sakit biar kau rawat aku."
Ino menatapnya sekilas, tapi alih-alih mendecak atau mengomel seperti biasanya, ia justru tersenyum kecil. "Begitu? Kalau begitu, aku harus mulai menyetok bubur lebih banyak."
Naruto membuka matanya sedikit, terkejut dengan respons Ino yang terasa lebih lembut dari biasanya. Ia sempat berpikir Ino akan mencibirnya atau berkata bahwa ia terlalu manja. Tapi… tidak.
Tanpa sadar, tangan Naruto terangkat, menyelipkan helai rambut pirang Ino ke balik telinganya. Jemarinya kemudian melayang turun, menyentuh pipinya, membelainya lembut.
Tatapan mereka bertemu.
Sejenak, waktu terasa melambat.
Naruto membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Ini bukan waktu yang tepat.
Ia hanya tersenyum kecil dan berkata, "Terima kasih, Ino."
Ino tidak menjawab langsung, hanya mengangguk pelan sebelum menyendokkan bubur lagi untuk Naruto.
Naruto menerima suapan itu tanpa protes. Dalam hati, ia benar-benar bersyukur.
Tinggal bersama seseorang yang peduli padanya… ternyata memberikan kehangatan yang berbeda. Sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Sesuatu yang semakin membuatnya ingin mempertahankan apa yang mereka miliki sekarang.
Namun, sebuah pikiran lain menyusup ke benaknya.
Jika mereka terus seperti ini… tanpa status yang jelas…
Apa Ino suatu saat akan meninggalkannya?
Naruto menatap Ino yang masih fokus menyuapinya. Wajahnya terlihat begitu tenang, seakan tak ada yang mengganggu pikirannya.
Tapi Naruto tidak bisa menepis perasaan tidak tenang yang kini muncul di hatinya.
Karena jika ia jujur pada dirinya sendiri… ia tidak ingin Ino pergi.
Tidak sekarang. Tidak nanti. Tidak pernah.
Malam itu, Naruto berbaring di kasurnya, laptop terbuka di hadapannya, menampilkan wajah Naruko yang sedang mengenakan hoodie oversized. Rambut panjangnya digulung seadanya, dan ada cangkir di tangannya, kemungkinan besar kopi.
"Kau kelihatan nggak sehat," kata Naruko sambil mengerutkan kening. "Kau sakit?"
Naruto mengangkat bahu. "Kemarin iya, demam. Tapi sekarang sudah mendingan."
"Dirawat sama Ino?" tanya Naruko dengan nada menggoda.
Naruto mendengus kecil. "Ya, dan aku jadi tahu rasanya dilayani kayak pangeran."
Naruko mendecak geli. "Dasar kau ini…"
Naruto hanya terkekeh kecil, lalu meregangkan tubuhnya sebelum menyandarkan diri ke kasur. "Tapi serius, aku nggak kebayang kalau sakit sendirian. Sekarang aku benar-benar bersyukur tinggal sama Ino."
Naruko menatapnya sejenak, lalu menyeringai. "Tunggu… apa ini awal dari curhat galau tentang Ino?"
Naruto menghela napas panjang. "Aku pikir, setelah malam itu, Ino akan—aku nggak tahu, mungkin bersikap canggung, atau setidaknya bereaksi? Tapi dia biasa saja. Seolah itu bukan hal besar."
Naruko mengangkat alis. "Dan itu masalahnya?"
"Ya," Naruto mengusap wajahnya frustrasi. "Maksudku, aku nggak ngerti ini apa. Dia bukan pacarku, tapi dia lebih dekat dari sekadar teman. Dia bukan orang yang suka skinship, tapi sekarang dia sering bersandar atau menggandeng tanganku. Aku nggak tahu apa ini tanda atau cuma... kebiasaannya sekarang."
Naruko terdiam sejenak, lalu tertawa kecil tanpa menanggapi.
Naruto cemberut. "Bantu aku, jangan malah menertawakan."
Naruko lalu menatap layar dengan lebih serius. "Baiklah. Ini pendapatku sebagai adikmu dan juga seorang yang belajar psikologi: Ino kemungkinan besar sedang menghadapi fase transisi."
Naruto mengerutkan dahi. "Transisi?"
"Sebelumnya, dia takut untuk membiarkan seseorang masuk ke dalam hidupnya, kan? Terutama setelah perceraian orang tuanya. Tapi sekarang, dia sudah nyaman denganmu. Mungkin dia masih belum siap memberi label pada hubungan kalian, tapi secara naluriah, dia bergantung padamu. Itu sebabnya dia lebih sering melakukan kontak fisik. Itu seperti jaminan bahwa kau ada di sana."
Naruto terdiam. Ia tidak bisa menyangkal ada benarnya.
"Tapi..." Naruko melanjutkan, "kau harus hati-hati. Kalau Ino masih belum sadar atau belum siap mendefinisikan hubungan kalian, bisa saja suatu saat dia mundur. Dan itu bisa jadi lebih menyakitkan untuk kalian berdua."
Naruto menatap layar, mencerna ucapan adiknya. "Jadi, aku harus bagaimana?"
"Tunggu… kenapa kau terburu-buru sekali ingin memperjelas status kalian? Apa dekat dengannya saja kurang cukup bagimu? Atau jangan-jangan kau ingin…" Naruko menyipitkan mata, lalu menyeringai jahil. "Kau ada niat mesum, ya?"
Naruto langsung tersedak. "Hah?! Bukan begitu, Sis!"
Naruko tertawa lepas, puas melihat reaksi kakaknya yang panik. Tapi kemudian, ia kembali menatap Naruto dengan lebih serius. "Sabar, Bro. Jangan terburu-buru. Nikmati prosesnya. Kau tahu Ino bukan tipe yang bisa dipaksa dalam hal perasaan. Kalau memang ada rasa, dia sendiri yang akan menyadarinya suatu saat nanti."
Naruto menghela napas panjang, menyandarkan diri ke kursi. "Aku tahu… tapi tetap saja, menunggu tanpa kepastian itu bukan hal yang mudah."
Naruko tersenyum tipis. "Kalau memang worth it, pasti worth the wait juga, kan?"
Naruto terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Iya… kau ada benarnya juga."
Namun sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, suara pintu kamarnya terbuka. Naruto menoleh, dan matanya membulat kaget.
Ino berjalan ke arahnya dengan wajah bosan. "Naruto, aku bosan. Aku mau main game di laptopmu."
Naruko di layar membeku.
Sementara itu, Naruto hanya bisa menatap Ino yang dengan santainya masuk dan langsung naik ke kasurnya. Lalu, tanpa aba-aba, Ino merangkak mendekat, menatap wajah Naruto dengan sedikit menyipitkan mata.
Naruto yang masih belum move on dari percakapannya dengan Naruko langsung panik. "Eh, kenapa?"
Ino mendekatkan wajahnya, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Naruto. "Hanya mengecek. Kau benar-benar sudah sembuh atau hanya pura-pura biar diperhatikan?" tanyanya dengan nada menggoda.
Naruto menghela napas, sedikit malu karena refleksnya barusan. "Aku beneran sudah baikan. Nggak usah lebay."
Ino mengamati wajahnya sebentar sebelum akhirnya mengangguk, puas dengan jawabannya. "Ya sudah, bagus. Kalau kau sakit lagi, aku bakal malas repot-repot merawatmu," katanya, lalu dengan santainya mengambil laptop Naruto dan bersiap membuka game.
Naruto yang masih menatapnya tidak bisa menahan senyum kecil.
Naruko yang menyaksikan semua itu dari layar laptop hanya bisa mendecak geli. "Kau masih butuh penjelasan, Naruto?" tanyanya sinis.
"Oh, hai, Naruko, kau rupanya. Penjelasan apa?" tanya Ino. Ia baru sadar kalau Naruto sedang video call dengan saudarinya.
"Hei, ssstttttt! Jangan mulai!" cegah Naruto panik, memberikan kode agar obrolan mereka tidak diperpanjang.
"Bukan apa-apa, Ino. Naruto hanya konsultasi masalah kehidupan. Hehe."
Naruko melirik kakaknya yang tampak menghela napas dan canggung, sementara Ino malah terlihat santai.
"Oh begitu."
Naruko hanya tertawa kecil. "Baiklah, aku nggak akan mengganggu kalian lebih lama. Selamat menikmati malam kalian," katanya dengan nada penuh makna sebelum mematikan panggilan.
"Salam untuk ibu dan ayahmu ya," kata Ino. Naruko mengangguk.
Layar laptop menjadi hitam, meninggalkan Naruto yang masih terdiam dan Ino yang tampak tidak peduli, malah sibuk membuka game di laptop Naruto.
Malam itu, seperti biasa, Ino sibuk di dapur, menyiapkan makan malam. Aroma bumbu yang sedang ditumis memenuhi ruangan, menciptakan kehangatan yang membuat rumah kecil mereka terasa lebih nyaman.
Di ambang pintu, Naruto bersandar lemah, masih sedikit pusing meskipun demamnya sudah turun sejak kemarin. Ia tidak bisa berbuat banyak hari ini, hanya menghabiskan waktu di rumah sambil memulihkan diri.
Matanya tertuju pada punggung Ino yang bergerak lincah. Gadis itu dengan cekatan mengaduk sayuran di wajan, sesekali mengecek air mendidih di panci. Kaos longgar dan celana pendeknya bergoyang ringan mengikuti gerakannya, dan Naruto mendapati dirinya menatap terlalu lama.
Kejadian malam itu… sudah benar-benar menyiksa pikirannya.
Pelukan mereka waktu itu.
Apakah Ino sadar? Apakah ia ingat?
Sejak hari itu, Ino tidak pernah membahasnya. Tidak ada perubahan mencolok dalam sikapnya. Ia tetap memperlakukan Naruto seperti biasa—tetap perhatian, tetap berbicara dengannya dengan nada yang sama seperti sebelumnya. Kalaupun ada perubahan, justru malah perubahan ke arah positif, yaitu semakin akrabnya mereka.
Jadi… apakah hanya Naruto yang memikirkannya? Tapi kalau memang begitu, kenapa Ino tampak begitu nyaman?
Naruto menggigit bibirnya, perasaan tak menentu berputar di dadanya. Ada sesuatu yang terus menghantuinya, sesuatu yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.
Bagaimana jika Ino berubah pikiran suatu saat nanti? Bagaimana jika semua ini hanya sementara? Bagaimana jika, tanpa peringatan, Ino pergi dan meninggalkannya?
Tapi sebelum ia tenggelam dalam ketakutan itu, ada satu hal lain yang membuatnya semakin gelisah.
Apakah malam itu... benar-benar berarti sesuatu bagi Ino? Ataukah ia hanya setengah sadar karena mengantuk? Naruto harus tahu. Ia harus mengujinya.
Satu-satunya cara adalah melakukannya lagi.
Tanpa banyak berpikir, Naruto berdiri di belakangnya, lalu melingkarkan lengannya ke pinggang Ino dan bersandar padanya.
Ino terdiam sejenak.
Jantung Naruto berdebar kencang. Ia menunggu reaksi.
Jika Ino menolak, maka ia tahu semuanya hanya kebetulan. Jika ia tak menolak, berarti malam itu Ino sadar betul apa yang dilakukannya.
Di luar dugaan… Ino tetap diam, hanya mengaduk masakannya dengan santai.
Naruto menghela napas pelan, lalu memejamkan mata sebentar, mengistirahatkan kepalanya di pundak Ino. Kehangatan tubuh gadis itu terasa begitu nyata. Ia bisa mencium samar aroma sampo yang biasa dipakai Ino.
Tapi tetap… tidak ada reaksi.
Tidak ada protes.
Naruto mulai bingung. Apakah ini masih dianggap wajar oleh Ino? Sejauh mana batas yang dimaksud Naruko?
Dorongan untuk mengetahuinya semakin besar. Maka sebelum ia bisa menahan diri lebih jauh, Naruto bergerak. Ia mengecup pipi Ino—hanya sekilas, tapi cukup untuk membuatnya merasakan kehangatan kulit gadis itu.
Ino sedikit tersentak, tapi tetap tidak menjauh. Ia hanya terdiam beberapa detik, lalu kembali mengaduk masakannya dengan tenang.
"Kau lapar?" tanyanya ringan, seolah tidak terjadi apa-apa.
Naruto menegang.
Ia menelan ludah, lalu mengangguk pelan. "Lumayan."
"Tunggu di meja makan ya, sebentar lagi siap," kata Ino, masih dengan nada biasa, meskipun Naruto bisa merasakan sedikit senyum di suaranya.
Naruto akhirnya melepaskan pelukannya perlahan, lalu duduk di meja makan. Ia mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
Jadi, Ino tidak keberatan?
Ia menatap gadis itu yang masih sibuk di depan kompor, seolah tidak terjadi apa-apa.
Ya… mungkin Naruko benar. Tidak perlu terburu-buru.
Naruto menyandarkan tubuhnya ke kursi, membiarkan aroma masakan Ino memenuhi ruangan. Kalau Ino bisa tetap tenang setelah semua ini, maka ia juga akan melakukan hal yang sama.
Ia akan mengikuti cara bermain Ino—sambil terus mengukur batas yang ada di benak gadis itu. Sejauh mana kontak fisik ini dianggap wajar olehnya? Apa yang sebenarnya ia pikirkan tentang mereka?
Tapi satu hal yang pasti…
Naruto menikmati semua ini.
.
.
To be continued…
