.

Unspoken

.

Disclaimer: I do not own Naruto characters

Naruto © Masashi Kishimoto


Chapter 10: Farewell

Sore itu, Naruto berdiri di taman kecil depan kontrakan mereka, menyiram tanaman dengan selang di tangannya. Taman ini tidak luas, tapi cukup asri. Ada beberapa pot bunga yang tertata rapi di sepanjang pagar, sebagian besar hasil dari tangan dingin Ino yang memang gemar berkebun. Di sudut taman, ada bangku kayu tempat mereka sering duduk bersantai sepulang kuliah, sekarang kosong tanpa kehadiran Ino.

Naruto mematikan aliran air sebelum menyandarkan diri ke pagar. Sejak Ino sering pulang ke Konoha, rumah ini terasa… berbeda. Lebih sepi, lebih hening.

Ia merogoh ponselnya dan tanpa banyak berpikir, menekan kontak favorit di layar.

Panggilan tersambung hanya dalam dua detik.

"Halo?" Suara khas Ino terdengar dari seberang.

Naruto menyeringai tipis. "Hei, kau sibuk?"

"Tidak terlalu sih," jawab Ino santai. Ada suara kertas yang bergeser di latar belakang, mungkin ia sedang membaca sesuatu.

Naruto menatap tanaman di depannya, memainkan selang air di tangannya. "Bagaimana perkembangan skripsimu?"

Ino menghela napas pelan. "Data yang kubutuhkan sudah terkumpul. Aku sudah bisa menyelesaikan bagian analisisnya. Tapi… sayang juga kalau sudah jauh-jauh ke Konoha cuma untuk itu, jadi sekalian aku mempelajari cara kerja butik ibu. Aku ingin tahu bagaimana sistem manajemen di perusahaan fashion yang sebenarnya."

Naruto terdiam sejenak sebelum bergumam pelan, "Hm…"

Ino mengangkat alis meski Naruto tidak bisa melihatnya. "Kau nggak banyak komentar?"

Naruto terkekeh, menendang-nendang kerikil kecil di tanah. "Aku nggak tahu banyak soal fashion. Lagipula, aku cuma ingin ngobrol denganmu."

Sejenak, di seberang sana, Ino terdiam. Kata-kata polos tersebut secara tidak langsung menggambarkan kalau Naruto sangat merindukan dirinya. Ino merasakan hal yang sama, tapi rasanya tidak perlu diungkapkan secara terang-terangan. Ia tersenyum kecil, menutup laptopnya karena merasa mengobrol dengan Naruto lebih menyenangkan. Lagipula, sudah waktunya ia istirahat setelah seharian mengumpulkan data dan belajar banyak hal tentang butik.

"Kau sedang apa sekarang?" tanya Ino akhirnya.

"Sedang menyiram bunga-bunga milikmu," jawab Naruto santai. "Oh, ngomong-ngomong… salah satu tanamanmu kelihatan hampir mati. Aku nggak tahu ini karena aku yang nggak bisa merawatnya atau karena dia ikut merindukan pemiliknya."

Ino mendengus geli. "Naruto, itu monstera. Memang daunnya menguning kalau terlalu sering kena sinar matahari langsung. Jangan-jangan kau meletakkannya di tempat yang salah?"

Naruto menatap pot yang dimaksud, lalu menggaruk tengkuknya. "Eh… mungkin? Aku cuma menyiramnya tanpa berpikir panjang. Bunga itu kan hanya butuh air dan matahari, ya?"

"Ugh, dasar pria," gerutu Ino. "Tolong letakkan di tempat yang lebih teduh. Dan jangan terlalu banyak menyiramnya, nanti akarnya busuk."

Naruto terkekeh. "Oke, oke. Aku mengerti. Jadi, kau benar-benar memantau kesehatan tanamanmu lebih dari kesehatan pria yang tinggal bersamamu, ya?"

Ino tertawa kecil. "Tentu saja. Mereka lebih banyak menemaniku dibanding kau yang sibuk kuliah dan sibuk di himpunan."

Naruto memutar mata, meski senyum kecil tetap ada di wajahnya. Ia melirik bangku kayu yang kosong di taman. "Tapi serius… aneh sekali rumah ini tanpamu."

Ino tersenyum, meski Naruto tidak bisa melihatnya. "Aku cuma di sini dua minggu, Naruto. Aku perlu data buat finishing skripsiku, lalu aku kembali lagi."

Naruto terkekeh. "Ya, pastikan kau kembali. Aku nggak bisa bayangkan rumah ini tanpa kehadiranmu yang selalu berisik. Bahkan tanaman-tanaman ini mungkin mulai bosan mendengar suaraku."

"Kalau begitu, kau harus sering mengajak mereka ngobrol," timpal Ino dengan nada menggoda. "Bilang saja, 'Halo bunga, aku rindu pemilikmu yang cantik dan luar biasa'—mungkin mereka akan tumbuh lebih sehat karena bahagia."

Naruto mendengus. "Atau mereka malah layu karena muak mendengar pujian narsis semacam itu?"

Ino tertawa, menikmati permainan kata-kata mereka. Ia bisa membayangkan ekspresi Naruto di seberang sana, pasti pura-pura kesal tapi sebenarnya menikmati percakapan ini.

Mereka mengobrol sebentar lagi sebelum akhirnya menutup telepon. Naruto menatap layar ponselnya yang kini gelap, tapi senyumnya tetap bertahan.

Ia menatap taman kecil di depannya, mengingat bagaimana Ino selalu menghabiskan waktu di sini, menyiram bunga-bunga dengan penuh perhatian. Rasanya aneh melihat tempat ini tanpa dirinya.

Sementara itu, di Konoha, Ino menatap laptopnya yang kini tertutup. Dalam hati, ia mulai merasa yakin. Jika Naruto bisa serius dengan startup-nya, maka ia juga harus serius dengan jalannya sendiri.

Dan mungkin… suatu hari nanti, mereka akan mencapai impian masing-masing.


Malam itu, Naruto duduk bersandar di kepala tempat tidur dengan laptop di pangkuannya, mengetik cepat sambil sesekali menyesap kopi yang mulai mendingin. Di sampingnya, Ino juga bersandar di kasur, laptopnya terbuka di hadapannya, alisnya sedikit berkerut saat membaca kembali dokumen skripsinya.

Baru kemarin Ino tiba dari Konoha. Setelah hampir dua minggu sibuk dengan urusan butik dan bisnis ibunya, ia akhirnya kembali ke ibu kota. Sejujurnya, Naruto senang melihatnya kembali. Rumah ini terasa lebih hidup.

"Skripsiku sudah hampir selesai," kata Naruto tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Secara dokumen sih udah siap, tinggal ngecek kesiapan demo aplikasinya pas sidang."

Ino meliriknya sekilas sebelum kembali menatap layar. "Enaknya jadi anak teknik, tinggal nunjukin aplikasi jadi udah ada nilai tambah. Aku masih harus memastikan bab penutupku rapi."

Naruto terkekeh, menatapnya dengan sudut mata. "Ya, tapi kalau aplikasinya crash di tengah sidang, tamatlah aku."

Ino mendengus kecil, lalu kembali fokus pada skripsinya. Tangannya mengetik beberapa kata. Dengan sedikit frustrasi, ia menyimpan laptopnya dan menghempaskan dirinya ke kasur, membiarkan rambut pirangnya tergerai.

Naruto meliriknya, lalu tanpa berpikir, ia menepis beberapa helai rambut yang jatuh ke wajah Ino, memperlihatkan wajah putih dan cantik itu lebih jelas di hadapannya. "Kau kelihatan lelah."

Ino menoleh sedikit, lalu terkekeh kecil. "Lumayan."

Setelah beberapa detik hening, ia menatap Naruto. "Naruto, bisa lihat skripsiku sebentar?"

Naruto menoleh, lalu bergeser lebih dekat. Ino memiringkan laptopnya agar bisa dibaca oleh Naruto. Judul skripsinya terpampang jelas:

"Analisis Tren Busana Wanita dalam Strategi Bisnis Fashion Berbasis Konsumen: Studi Kasus pada Yamanaka Design."

Naruto membaca dokumen skripsi Ino cukup lama. "Secara laporan sih udah rapi. Argumentasimu kuat, analisis datanya juga masuk akal."

"Tapi?" Ino menatapnya penuh harap.

Naruto mengangkat bahu. "Aku nggak tahu ya kalau dari segi kaidah desain. Soalnya desain bukan bidangku."

Ino menyandarkan diri lebih dalam ke kasur. Naruto melihatnya memijat pelipisnya perlahan, mungkin karena terlalu lama menatap layar.

Refleks, Naruto mengulurkan tangan dan mengusap pelipisnya dengan ibu jari. "Kau butuh istirahat sebentar."

Ino sedikit terkejut, tapi tidak menolak. Ia hanya menutup matanya sejenak dan menikmati sentuhan Naruto. "Aku tahu… Tapi aku ingin ini selesai secepatnya."

Naruto menatap layar laptopnya sendiri, di mana judul skripsinya terpampang:

"CampusLink: Platform Digital untuk Menghubungkan Kebutuhan Perusahaan dengan Proyek Kampus."

Ia menyimpan laptopnya dan menatap Ino. "Yaudah, aku bantu baca dari sisi logikanya aja. Nanti kau juga lihat punyaku, siapa tahu ada yang bisa diperbaiki."

Ino tersenyum tipis, lalu dengan santai menepuk pipi Naruto pelan. "Baiklah, deal."

Mereka pun bertukar laptop, membaca skripsi masing-masing, dan memberikan pendapat. Mereka terlibat diskusi panjang hingga sekitar pukul 9 malam.

Tanpa sadar, mereka berbaring bersebelahan di kasur, sama-sama menatap langit-langit.

"Ayo, kita saling mendoakan," kata Ino tiba-tiba.

Naruto mengangguk, lalu menautkan kedua tangannya di atas dada. "Oke. Kau duluan."

Mata Ino terpejam sejenak sebelum berbisik pelan, "Semoga Naruto lulus dengan hasil terbaik, aplikasinya sukses, dan tidak mengalami error pas sidang."

Naruto terkekeh. "Kenapa aku merasa kau meragukan programku?"

"Aku hanya realistis," jawab Ino santai. "Sekarang giliranmu."

Naruto menoleh ke samping, menatap Ino yang masih terpejam. "Semoga Ino lulus dengan hasil terbaik, butik dan bisnisnya berjalan lancar, dan dia tetap punya waktu buat makan dan istirahat."

Ino membuka matanya dan menoleh, tersenyum tipis. "Kau terdengar seperti ibuku."

Naruto hanya mengedikkan bahu, ikut tersenyum.

Lalu mereka tetap berbaring dalam diam, tapi kali ini saling menatap.

Naruto menyelipkan beberapa helai rambut Ino ke balik telinganya, memperjelas wajah gadis itu di hadapannya. "Kau sudah sejauh ini... Aku bangga padamu."

Mata Ino melembut. "Aku juga bangga padamu."

Naruto mengusap pipi Ino dengan lembut, merasakan kehangatan di kulitnya. Ino menatapnya lekat-lekat, tidak menghindar.

Seolah waktu melambat, atmosfer di antara mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda.

Namun tiba-tiba, suara growl terdengar.

Naruto membeku.

Ino berkedip. Lalu, ia menahan tawa. "Perutmu lapar?"

Naruto langsung menutup wajahnya dengan satu tangan, malu. "Sial... Ini merusak suasana."

Ino akhirnya tertawa.

Naruto meringis. "Jangan tertawa. Kau lupa siapa yang dulu datang ke ibu kota dan hampir diculik preman? Kau juga lapar waktu itu dan mengeluarkan suara yang sama."

"Brengsek! Kau harusnya tidak mengungkitnya." Ino terkikik dan memukul pundak Naruto.

"Hahaha, kau yang mulai duluan."

Ino bangun dari kasur. "Tapi aku juga mulai lapar sih."

Naruto ikut bangkit, meregangkan tubuh. "Masak, ya?"

Ino melirik jam di dinding dan langsung mengerutkan kening. "Kita sudah cukup lelah hari ini. Masak butuh waktu."

Naruto mengangguk setuju. "Kalau begitu... kita pergi ke warung nasi goreng favoritmu aja?"

Mata Ino berbinar seketika. "Yang di dekat kosanku dulu?"

Naruto menyeringai. "Ya, kita belum ke sana lagi sejak pindah."

Tanpa berpikir panjang, mereka memutuskan untuk makan di sana.


Malam itu, di bawah langit kota yang dipenuhi lampu-lampu jalan, mereka kembali ke tempat yang penuh kenangan—warung nasi goreng sederhana yang dulu menjadi tempat makan pertama mereka di ibu kota.

Warung itu masih sama seperti dulu. Beberapa meja kayu berjejer rapi, kursi-kursi plastik sederhana menemani suasana hangat para pelanggan yang datang silih berganti. Bau wajan panas yang beradu dengan bumbu khas menguar di udara, menggelitik perut yang sudah lama kosong.

Pemilik warung, seorang pria paruh baya bertubuh agak tambun dengan kaus oblong dan celemek hitam khasnya, melirik mereka dengan mata berbinar.

"Lah, anak kos favorit saya nih! Udah lama nggak nongol. Sibuk kuliah, ya?" godanya sambil tetap sibuk mengaduk nasi goreng di wajan besar.

Naruto tertawa kecil, sementara Ino hanya tersenyum tipis. "Iya, Pak. Kami pindah rumah, jadi agak jauh ke sini."

"Lah, pantes. Saya kira udah lupa sama nasi goreng saya," tukang nasi goreng itu terkekeh.

"Tentu aja nggak, Pak," sahut Naruto cepat. "Mana mungkin kami lupa sama nasi goreng terenak se-ibu kota?"

Tukang nasi goreng itu tertawa bangga. "Oke, jadi kayak biasa? Satu porsi porsi jumbo buat kamu, pakai telur ceplok setengah matang, plus kerupuk ekstra? Dan satu buat Mbaknya, nggak pedas, plus banyak acar?"

Ino mengangguk senang. "Masih hafal aja, Pak."

"Ya iyalah, kalian pelanggan favorit saya dulu. Oke, tunggu sebentar ya!"

Mereka memilih duduk di meja paling pojok, tempat favorit mereka dulu.

Saat pesanan datang, aroma nasi goreng yang masih mengepul langsung menyeruak di udara. Naruto menatap piringnya penuh antusias, siap melahap makanannya, tapi tiba-tiba Ino bergerak lebih dulu.

"Jangan makan dulu," katanya sambil mengambil sendok Naruto.

Naruto mengernyit. "Kenapa?"

Ino mengaduk nasi gorengnya sebentar, lalu meletakkan telur ceploknya di atas nasi Naruto dengan rapi. "Nah, begitu lebih enak. Aku tahu kau suka telurnya di atas, kan?"

Naruto menatapnya beberapa detik sebelum tersenyum kecil. "Terima kasih."

Mereka mulai makan dalam diam, menikmati setiap suapan yang membawa kembali kenangan malam pertama mereka makan di tempat ini.

Namun, semakin malam, angin dingin mulai berembus. Ino menggigil sedikit, tanpa sadar mengusap lengannya sendiri. Naruto yang melihat itu langsung melepas jaketnya dan menyerahkannya ke Ino.

"Pakai ini," katanya tanpa memberi kesempatan untuk menolak. Naruto juga merapikan rambut Ino yang sedikit berantakan tertiup angin. Ino hanya menatapnya sekilas sebelum kembali menyeruput teh hangatnya.

Mereka mengobrol santai, ditemani suara wajan yang terus berbunyi di belakang mereka. Obrolan mereka mengalir ringan—tentang sidang skripsi yang semakin dekat, tentang bagaimana Ino merasa semakin percaya diri dengan bisnisnya, tentang Naruto yang masih sibuk dengan startup-nya.

Dan untuk malam ini, dunia boleh saja terus berjalan. Namun bagi mereka, momen-momen kecil seperti ini adalah yang paling berharga.


Matahari siang menyinari gedung kampus, menyisakan bayangan panjang di koridor tempat Ino berdiri. Dari balik jendela kaca besar kelas, ia memperhatikan Naruto yang sedang menjalani sidang skripsinya.

Ino sudah lebih dulu menyelesaikan sidangnya pagi tadi, dan sekarang gilirannya untuk melihat bagaimana Naruto menghadapi dosen penguji. Ia tidak bisa mendengar percakapan mereka dari luar, tapi dari ekspresi dan gestur Naruto, ia tahu bahwa lelaki itu menguasai materinya dengan lancar.

Naruto berbicara dengan percaya diri, sesekali mengangguk saat dosen penguji melemparkan pertanyaan, lalu menjawabnya dengan tenang. Ino bisa melihat dosen-dosen itu sesekali saling bertukar pandang sebelum mengangguk puas.

Bagian yang paling dinantikan tiba—demo aplikasi CampusLink, startup yang Naruto rintis. Naruto memindahkan tampilan di proyektor ke tampilan aplikasinya, lalu mulai mempresentasikan bagaimana sistemnya bekerja.

Di ujung ruangan, seorang pria berkacamata duduk dengan tangan terlipat di dada. Itu adalah salah satu investor yang secara khusus diizinkan oleh kampus untuk menonton sidang Naruto. Jika aplikasi ini berhasil dan mendapatkan pendanaan lebih besar, bukan tidak mungkin CampusLink akan menjadi produk yang berguna bagi kampus dan mahasiswa.

Saat demonstrasi berjalan tanpa kendala, Ino melihat dosen-dosen penguji saling mengangguk, sementara investor itu juga tampak tertarik, sesekali mencatat sesuatu di tabletnya.

Sidang berakhir dengan Naruto menyalami semua dosen penguji satu per satu. Terakhir, ia berjalan ke arah investor itu dan menjabat tangannya. Ada percakapan singkat di antara mereka, lalu diakhiri dengan Naruto kembali menjabat tangannya dengan lebih mantap.

Naruto keluar dari ruangan dengan senyum sumringah. Begitu melihatnya, Ino langsung mendekat.

"Aku lulus!" kata Naruto riang. "Dan yang lebih keren lagi—investor menyetujui suntikan dana tahap pertama untuk CampusLink!"

Sebelum Naruto bisa berkata lebih banyak, Ino sudah lebih dulu menghambur ke arahnya dan memeluknya erat. "Selamat, Naruto!" serunya.

Naruto membalas pelukan itu, sama eratnya. Namun, di balik kebahagiaan ini, ada sesuatu yang menusuk pikirannya—mereka sebentar lagi akan berpisah.

Ketika mereka akhirnya melepaskan pelukan, Naruto diam sejenak.

Ino memperhatikannya, lalu mengangkat alis. "Kenapa diam?"

"Sebentar lagi kita berpisah," ujar Naruto pelan.

Ino menatapnya beberapa detik sebelum tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangannya, menepuk pundak Naruto dengan lembut. "Kalau begitu… sebaiknya kita pulang dan masak yang enak," katanya. "Ayo bantu aku masak. Kita rayakan ini."

Naruto menatapnya, lalu tersenyum kecil. "Baiklah, Chef Ino."

Mereka pun berjalan pulang bersama—menikmati waktu kebersamaan mereka yang tinggal sedikit, sebelum takdir membawa mereka ke jalan masing-masing.


Mereka pulang dengan langkah ringan dengan kedua tangan yang bertautan, menikmati sore yang perlahan berubah menjadi senja. Begitu sampai di rumah, tanpa perlu banyak bicara, mereka langsung menuju dapur untuk mulai memasak.

Naruto membantu mencuci dan memotong bahan, sementara Ino mengatur bumbu di atas meja. Mereka bekerja berdampingan, sesekali bercanda atau saling menyentil satu sama lain.

"Naruto, tolong ambilkan saus tomat," kata Ino, masih sibuk dengan wajan.

Naruto dengan sigap mengambilnya, tapi sengaja menyembunyikannya di belakang punggung. "Bilang dulu, aku jago masak," godanya.

Ino memutar mata. "Kau bisa memasak, tapi soal jago… itu masih bisa diperdebatkan."

Naruto tertawa dan akhirnya menyerahkan saus tomat itu. Setelah beberapa saat, aroma masakan mulai memenuhi ruangan, membuat suasana semakin hangat.

Ketika semuanya siap, mereka duduk berdua di meja makan. Lampu dapur yang sedikit redup menambah suasana tenang di antara mereka. Ino menyuapkan suapan pertama, lalu mengangguk puas. "Ini enak," katanya.

Naruto tersenyum, memperhatikan bagaimana Ino menikmati makanannya. Ia menyadari bahwa ini mungkin kali terakhir mereka makan bersama seperti ini—setidaknya, dalam waktu dekat.

Makan malam mereka berlangsung dengan banyak tawa, tapi di balik itu, ada perasaan yang sama-sama mereka sembunyikan.

Setelah selesai, mereka merapikan meja dan duduk di ruang tamu, berbincang ringan. Namun, semakin larut malam, semakin terasa betapa heningnya rumah mereka.

Naruto berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar. Ia mencoba memejamkan mata, tapi pikirannya tidak bisa tenang. Ia memikirkan bagaimana esok hari segalanya akan berubah. Tidak akan ada lagi suara langkah Ino di pagi hari. Tidak akan ada lagi sosoknya di dapur atau di ruang tamu.

Akhirnya, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar. Dengan sedikit ragu, ia mengetuk pintu kamar Ino.

Pintu terbuka pelan, memperlihatkan Ino yang masih terjaga, mengenakan kaus longgar dan celana pendek tidur. "Naruto?" tanyanya heran.

Naruto menelan ludah, lalu menggaruk tengkuknya. "Aku nggak bisa tidur."

Ino menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil. Ia membuka pintu lebih lebar. "Masuklah."

Naruto melangkah masuk dan berbaring di samping Ino. Begitu kepalanya menyentuh bantal, mereka bertatapan singkat dalam keheningan. Ino lalu bergeser, menyandarkan kepalanya ke dada Naruto.

Tidak ada kata-kata yang terucap.

Naruto membiarkan dirinya menikmati kehangatan ini. Tapi pikirannya terus dipenuhi oleh bayangan tentang bagaimana kamar ini akan terasa kosong setelah besok.

Sementara itu, Ino merasakan debaran halus di dada Naruto. Perlahan, ia mendongak, menatap wajahnya dalam jarak yang begitu dekat.

Naruto juga menatapnya. Matanya sedikit sendu, seolah masih ingin mengatakan sesuatu yang tak terucapkan.

Dan tanpa mereka sadari siapa yang lebih dulu bergerak, bibir mereka saling bersentuhan dalam kecupan singkat—sekilas, sederhana, tapi cukup untuk membuat dunia di sekitar mereka seolah berhenti berputar.

Saat mereka menarik diri, tidak ada yang berbicara.

Ino hanya menatap Naruto sejenak, lalu tersenyum kecil dan kembali menyandarkan kepalanya ke dada Naruto, mendengar detak jantungnya yang masih sedikit lebih cepat dari biasanya.

Naruto menutup matanya, membiarkan dirinya larut dalam momen ini.

Dan malam itu, untuk terakhir kalinya sebelum mereka berpisah, mereka tertidur dalam keheningan, menikmati kebersamaan yang mereka miliki saat ini.


Kampus dipenuhi oleh lautan toga hitam, keluarga yang datang dengan bangga, dan teman-teman yang sibuk berfoto bersama. Hari ini adalah puncak dari semua kerja keras mereka selama bertahun-tahun.

Di antara kerumunan, Naruto berdiri dengan kedua tangan di saku jubah kelulusannya, matanya mencari sosok yang sudah ia kenal luar dalam. Tak butuh waktu lama sebelum ia menemukannya—Ino berdiri sedikit jauh, tersenyum sambil berbicara dengan ibunya.

Naruto tersenyum tipis. Ia masih ingat betul bagaimana mereka pertama kali bertemu di kampus, bagaimana hubungan mereka berkembang, dan bagaimana kini mereka berada di titik ini—di ambang perubahan besar dalam hidup mereka.

Setelah beberapa saat, Ino akhirnya melihatnya. Ia pamit sebentar pada ibunya dan berjalan mendekat.

"Hei," sapanya ringan.

"Hei," balas Naruto dengan senyum kecil.

Mereka berdiri bersebelahan, menikmati suasana tanpa banyak kata. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hati Naruto—sesuatu yang sudah lama ingin ia tanyakan.

"Ino," panggilnya akhirnya.

"Hmm?"

Naruto menggaruk tengkuknya, matanya melirik ke arah lain sebelum akhirnya kembali menatap Ino.

"Ino… Aku cuma ingin…" Ia berhenti sejenak, mencari kata-kata yang tepat. "Maksudku, kita sudah melewati banyak hal bareng. Dari dulu sampai sekarang. Kita tinggal serumah, kita saling bantu, kita… ya, kau tahu…"

Ino menyipitkan mata, menunggu kelanjutannya.

Naruto lalu melanjutkan, "Aku cuma merasa… hubungan kita ini…"

Ino mengangkat alis, ia mengerti arah pembicaraan Naruto. "Apa?"

Naruto membuka mulut, tapi sebelum kata-kata itu keluar, Ino sudah memotongnya. Ia tahu cepat atau lambat Naruto akan mempertanyakan masalah hubungan mereka.

"Aku tahu kau akan menanyakan ini."

Naruto mengerjap, sedikit terkejut dengan reaksi cepatnya.

Ino tersenyum tipis, tapi ada ketegasan di matanya. "Aku juga sudah memikirkannya, Naruto."

Naruto menatapnya, bisa melihat ada sesuatu di balik senyuman itu.

Ino menarik napas pelan sebelum melanjutkan, "Aku… merasa ini masih terlalu cepat untuk mengambil keputusan. Aku ingin kita memberi waktu untuk diri kita sendiri."

Naruto terdiam, menunggu kelanjutannya.

Ino menatapnya dengan mata yang penuh keyakinan. "Aku ingin kita bertemu lagi… lima tahun dari sekarang. Lima tahun lagi kita akan membahas lagi ini."

Naruto mengerjap, sedikit terkejut. "Lima tahun?" ulangnya pelan.

Ino mengangguk. "Saat kita sudah lebih baik, lebih matang, dan lebih siap. Kalau kita masih menginginkan hal yang sama, kita bisa membicarakan ini lagi."

Naruto terdiam. "Aku nggak menyangka kau sudah memikirkan ini sejauh itu…"

Ino tersenyum kecil. "Tentu saja. Aku sudah memikirkan ini sejak lama, Naruto. Aku nggak mau mengambil keputusan hanya karena emosi sesaat atau karena kita sudah terbiasa tinggal bersama."

Naruto menatapnya lekat. "Tapi… lima tahun? Kenapa selama itu?"

"Karena aku tahu kita akan sibuk. Kau dengan startup-mu, aku dengan butik yang ingin kudirikan di Konoha."

Naruto mendengarnya dengan saksama.

Ino melanjutkan, suaranya mantap, "Startup-mu baru saja mendapatkan investor. Aku tahu itu berarti kau harus membangun perusahaan kecilmu dari nol, membuktikan kalau ide bisnismu benar-benar bisa berkembang dan menguntungkan. Kau butuh fokus, Nar."

Naruto tidak langsung menjawab. Ia menatap ke bawah, mengangguk pelan. "Aku memang harus membuktikan kalau platform ini bisa berjalan. Kalau mahasiswa benar-benar bisa menghubungkan project kampus mereka dengan kebutuhan industri."

Ino tersenyum tipis. "Dan aku juga harus membuktikan kalau aku bisa menjalankan bisnis fashion ibuku. Aku harus belajar banyak. Aku harus memastikan bahwa butik yang ingin kubuka di rumah Konoha benar-benar bisa berjalan."

Naruto menatapnya lama, lalu terkekeh kecil. "Jadi kita berdua akan sibuk, ya?"

Ino mengangguk. "Ya. Kita punya prioritas yang harus didahulukan untuk menjamin karir dan masa depan kita terjamin. Tapi bukan berarti kita melupakan impian kita yang lain, kan?"

Naruto menaikkan alis. "Maksudmu?"

Ino tersenyum lebih lebar. "Rumah di pegunungan."

Naruto terdiam, tapi kemudian tertawa pelan, menggelengkan kepala. "Jadi kau masih mengingat itu?"

"Tentu saja." Ino menatapnya penuh arti. "Aku ingin kita membangun rumah itu. Tapi aku ingin kita melakukannya dengan cara yang benar—dengan pondasi yang kuat, baik dalam hidup kita maupun dalam hubungan kita."

Naruto menatap langit malam yang terbentang di atas mereka. "Jadi lima tahun, ya?" ulangnya lagi, kali ini dengan nada berbeda.

Ino mengangguk mantap. "Lima tahun. Saat kita sudah menjadi versi terbaik dari diri kita masing-masing, kita akan bertemu lagi… membahas hal ini lagi… dan kalau kita masih menginginkan hal yang sama, kita bisa mewujudkannya bersama."

Naruto diam sesaat, lalu tersenyum kecil. "Baiklah… Lima tahun."

Mereka saling menatap. Ada banyak hal yang tidak terucapkan, tetapi tidak perlu dikatakan.

Di antara lautan orang yang merayakan kelulusan mereka, Naruto dan Ino berdiri di sana—bukan sebagai pasangan, bukan sebagai teman biasa, tapi sebagai dua orang yang berjanji untuk bertemu lagi di masa depan.

Dan siapa yang tahu? Mungkin lima tahun dari sekarang, mereka akan bertemu dalam versi terbaik dari diri mereka masing-masing, di rumah impian mereka sendiri—di puncak yang lebih tinggi, tempat mereka selalu ingin kembali.

Naruto menatap Ino lama, seolah ingin menghafal setiap detail wajahnya sebelum mereka berpisah.

Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah maju dan menariknya ke dalam pelukan.

Pelukan itu erat. Lama.

Ino tidak menolak, malah membalas pelukan itu dengan sama kuatnya. Ia bisa merasakan betapa beratnya perpisahan ini bagi mereka berdua.

Naruto menutup mata, membiarkan kehangatan ini meresap ke dalam dirinya. Di balik kelopak matanya yang terpejam, ingatan-ingatan mulai bermunculan, seperti kilasan film yang berjalan cepat di benaknya.

Mereka kecil, berlarian di bukit belakang sekolah, tertawa tanpa beban di bawah langit biru. Ino yang dulu begitu ceria, menarik tangan Naruto ke sana kemari, mengajaknya bermain tanpa memedulikan waktu.

Lalu, mereka tumbuh.
Masa sekolah menengah adalah titik di mana segalanya berubah. Naruto melihat Ino menjauh, semakin tenggelam dalam lingkaran pergaulan barunya. Sementara dirinya, dengan semua topeng dan kebodohan yang ia pakai, pura-pura tidak peduli. Tapi ia peduli. Sangat peduli.

Kemudian ada masa di mana mereka nyaris seperti orang asing. Tidak saling bicara. Tidak saling mencari. Naruto mulai terbiasa hidup tanpa kehadiran Ino, dan mungkin Ino juga begitu.

Tapi takdir berkata lain.

Kuliah menyatukan mereka kembali. Awalnya canggung, penuh batas yang tak terlihat. Tapi perlahan, batas itu memudar. Mereka mulai mengobrol lagi, tertawa lagi. Sampai akhirnya, tanpa mereka sadari, kedekatan itu kembali seperti dulu—atau mungkin lebih dari sekadar dulu.

Tinggal bersama, berbagi hari-hari mereka. Dari sekadar teman serumah, menjadi seseorang yang tidak bisa dipisahkan dalam keseharian. Dari berbagi makanan, berbagi cerita, hingga berbagi kehangatan dalam pelukan.

Naruto mengeratkan pelukannya, seolah tidak ingin melepaskan. "Lima tahun bukan waktu yang sebentar."

Ino mengangguk di bahunya, suaranya pelan tapi penuh keyakinan. "Tapi kita bisa melewatinya."

Naruto menarik napas dalam-dalam, membiarkan kata-kata itu menenangkan kegelisahannya. Ya, mereka bisa melewatinya.

Mereka harus.

Naruto perlahan mengendurkan pelukannya, meskipun sebenarnya ia ingin bertahan lebih lama lagi. Ia menatap Ino dengan tatapan mantap.

"Aku akan percaya pada kita, Ino. Ini bukan akhir. Ini kesempatan."

Ino tersenyum tipis, meski matanya sedikit berkabut. "Aku juga percaya."

Dengan berat hati, mereka akhirnya melepaskan pelukan.

Ino melangkah mundur, berusaha menjaga ekspresinya tetap tegar. Ia lalu masuk ke dalam mobil, di mana ibunya sudah menunggu di kursi penumpang.

Di kursi pengemudi, ayah Ino juga ada di sana. Rupanya, ia menyempatkan diri untuk menghadiri wisuda putrinya.

Tak jauh dari sana, sebuah mobil lain terlihat siap berangkat, mengangkut barang-barang Ino dari kontrakan untuk kembali ke Konoha.

Naruto tetap berdiri di tempatnya, menatap mobil itu perlahan bergerak menjauh, membawa pergi seseorang yang selama ini selalu ada di sisinya.

Di belakangnya, Kushina dan Minato saling bertukar pandang sebelum mendekat. Kushina, dengan tatapan keibuannya, mengusap lengan putranya dengan lembut. "Kau baik-baik saja, Nak?"

Naruto menelan ludah, lalu tersenyum kecil. "Ya. Aku baik-baik saja."

Tapi dalam hatinya, ia tahu… tidak semudah itu.

Pikirannya masih dipenuhi oleh ingatan semalam—saat mereka berbaring berdampingan untuk terakhir kalinya, saat Ino menyandarkan kepalanya di dadanya, dan saat bibir mereka sempat bersentuhan dalam kecupan singkat.

Bukan sekadar kebersamaan, tapi sebuah janji yang tak terucap.

Ia ingin percaya bahwa itu adalah kode hijau dari Ino—bahwa lima tahun ke depan, mereka masih akan berjalan ke arah yang sama. Bahwa di ujung perjalanan ini, mereka tetap akan bersama.

Naruko berdiri di sampingnya, menepuk pundaknya dengan santai. "Hei, lima tahun itu cepat kalau kau sibuk. Jangan melamun di sini terus."

Naruto menghela napas panjang. Ia tahu adiknya benar. Kalau ia ingin waktu berjalan lebih cepat, ia harus terus bergerak.

Ia menatap ke depan lagi, tapi kali ini bukan dengan kesedihan—melainkan dengan tekad yang lebih kuat.

Tidak.

Ini bukan akhir.

Ini adalah awal dari perjalanan baru mereka.

.

.

To be continued…