.
Unspoken
.
Disclaimer: I do not own Naruto characters
Naruto © Masashi Kishimoto
Chapter 11: Distance
Di tahun pertama setelah kelulusan, CampusLink berkembang pesat. Awalnya, startup ini hanya dijalankan oleh Naruto dan dua rekannya dari jurusan Informatika, Chojuro dan Omoi, yang dulu sama-sama aktif di komunitas teknologi kampus. Anggaran dari investor sebagian besar dihabiskan untuk membangun infrastruktur server. Sedangkan gaji untuk mereka bertiga hanya disesuaikan dengan upah minimum, agar dana bisa digunakan untuk pengembangan produk.
Chojuro, seorang full-stack developer berbakat, menangani aplikasi bagian front-end dan UI/UX.
Chojuro memiliki penampilan yang khas seorang programmer yang selalu sibuk dengan kodenya. Ia masih mengenakan kacamata bulat khasnya, tetapi kini dengan lensa anti-radiasi untuk melindungi matanya dari layar komputer. Rambutnya tetap agak berantakan seperti masa kuliah, sering kali tidak terlalu diperhatikan karena dia lebih fokus menyelesaikan bug daripada styling. Ia sering memakai hoodie gelap atau sweater kasual, dengan celana jeans atau jogger yang nyaman untuk duduk lama di depan laptop. Di meja kerjanya, selalu ada dua monitor, keyboard mekanikal, dan secangkir kopi yang sering lupa ia minum sampai dingin. Jika keluar, ia membawa tas messenger atau backpack, penuh dengan laptop, charger, dan gadget.
Chojuro adalah seorang yang teliti, selalu memastikan setiap baris kode yang ia tulis optimal dan bebas bug. Ia tidak banyak bicara dalam rapat, tapi ketika memberi masukan, idenya selalu tepat dan efektif. Ia juga seorang yang loyal terhadap timnya, rela begadang demi menyelesaikan proyek tanpa mengeluh. Meskipun pendiam, ia sangat peduli dengan rekan-rekannya dan selalu siap membantu ketika ada masalah teknis. Ia juga lebih nyaman bekerja sendirian di malam hari, ketika suasana lebih tenang dan ia bisa fokus menulis kode tanpa gangguan. Di balik sikapnya yang serius, ada sisi canggung dan rendah hati, membuatnya dikenal sebagai developer jenius yang tidak suka menyombongkan kemampuannya.
Omoi, yang lebih teknikal, mengurus back-end aplikasi dan database.
Sebagai seorang back-end developer dan database engineer, Omoi memiliki penampilan yang mencerminkan kepribadiannya yang serius dan sedikit perfeksionis dalam pekerjaannya. Rambut putih khasnya tetap terjaga rapi, meskipun sesekali terlihat berantakan karena begadang debugging hingga larut malam. Ia lebih suka memakai kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku atau sweater polos, mencerminkan sisi profesionalnya meskipun tetap ingin nyaman saat bekerja. Celana jeans atau chino selalu jadi pilihannya, dipadukan dengan sneakers hitam yang simpel. Omoi juga selalu membawa laptop ultra-thin yang powerful, lengkap dengan segudang script dan dokumen penting tentang server serta database. Di mejanya, sering terlihat beberapa sticky notes dengan catatan penting dan monitor dengan terminal penuh kode SQL dan backend logs. Tak lupa, secangkir kopi hitam pekat selalu ada di sampingnya, karena menurutnya, "Developer sejati nggak bisa kerja tanpa kafein."
Secara sifat, Omoi adalah tipe yang analitis, teliti, dan sedikit overthinking, terutama dalam hal keamanan dan efisiensi sistem. Ia sering memikirkan skenario terburuk sebelum menerapkan sesuatu, membuatnya terkadang lebih lama dalam mengambil keputusan. Namun, ketika sudah memulai, ia bekerja dengan efisiensi tinggi dan memastikan bahwa database serta server berjalan secepat dan seaman mungkin. Ia dikenal sebagai seseorang yang tidak suka bertele-tele dan lebih suka berkomunikasi dengan kode daripada dengan kata-kata. Meskipun sering terlihat serius atau skeptis, ia sebenarnya peduli dengan timnya. Jika ada masalah kritis seperti server down tengah malam, Omoi adalah orang pertama yang bangun dan langsung menyalakan laptopnya untuk mencari solusi.
Chojuro dan Omoi bergabung dengan CampusLink bukan hanya karena mereka lulusan teknik yang berbakat, tetapi juga karena mereka percaya pada visi Naruto. Chojuro, yang dikenal sebagai full-stack developer andal di komunitas teknologi kampus, awalnya ragu bergabung dengan startup kecil, tetapi setelah melihat bagaimana Naruto bisa menarik investor besar hanya dengan proposal bisnisnya, ia pun tertarik. Omoi, di sisi lain, adalah seorang back-end engineer dengan keahlian database yang kuat. Ia bergabung setelah Naruto meyakinkannya bahwa CampusLink bisa menjadi revolusi dalam dunia akademik dan industri, menghubungkan proyek mahasiswa dengan perusahaan. Keduanya tidak hanya melihat Naruto sebagai teman lama dari komunitas, tetapi juga sebagai pemimpin yang bisa membawa mereka lebih jauh.
Naruto sendiri? Ia mengurus hampir segalanya. Sebagai pendiri dan CEO, ia harus membangun fondasi perusahaannya dari nol. Setiap hari dimulai dengan rapat strategi, di mana ia berdiskusi dengan Chojuro dan Omoi tentang perkembangan aplikasi, kendala teknis, dan target selanjutnya. Setelahnya, ia berpindah peran menjadi developer, turun langsung dalam debugging kode, menguji fitur baru, dan memastikan pengalaman pengguna tetap optimal. Siang hingga sore, ia sibuk dengan pitching ke investor, mempresentasikan perkembangan CampusLink untuk meyakinkan mereka agar terus mendanai proyek ini. Malamnya, ia beralih menjadi pemasar, menghubungi universitas, menawarkan kerja sama, dan membangun relasi agar lebih banyak institusi tertarik menggunakan platformnya.
Rutinitas itu berlangsung hampir tanpa henti selama satu tahun pertama. Naruto bahkan jarang tidur lebih dari empat jam sehari. Kantornya adalah rumah, kafe, bandara, atau di mana pun ia bisa membuka laptop dan bekerja. Jika bukan karena Chojuro dan Omoi yang mengingatkannya untuk istirahat, ia mungkin sudah kelelahan. Namun, bagi Naruto, ini bukan sekadar pekerjaan—ini adalah misinya. Misi untuk membuktikan bahwa dirinya bisa sukses tanpa harus bergantung pada nama besar keluarganya, misi untuk mencapai kebebasan finansial agar bisa mengejar impiannya bersama Ino, membeli rumah di pegunungan.
Naruto, Chojuro, dan Omoi menjadikan kontrakan kecil milik Naruto sebagai kantor. Namun, seiring bertambahnya pengguna, mereka mulai kewalahan.
Suatu malam, di kantor kecil mereka yang masih terang meski sudah lewat tengah malam, Naruto duduk di meja dengan laptop terbuka, mengetik cepat sambil menyesap kopi yang sudah mendingin.
Chojuro yang baru saja melepas headset mengusap wajahnya. "Bro, lo harus mulai delegasi kerjaan. Lo udah kayak robot, serius."
Omoi mengangguk setuju. "Kita harus nambah tim. Nggak mungkin lo terus begini. Sekarang aja kita kesulitan nge-handle request dari beberapa universitas."
Naruto menghela napas panjang. Ia tahu mereka benar.
"Jadi, kita butuh:
Sysadmin buat maintain server
Database Administrator buat optimasi performa
Cyber Security buat ngejaga data pengguna
Finance buat ngelola keuangan kita
Sosial Media & Komunikasi buat branding"
Chojuro menyeringai. "Dan lo butuh satu lagi: Sekretaris. Lo nggak bisa terus atur jadwal sendiri."
Omoi terkekeh. "Gue setuju. Lo udah kayak CEO beneran sekarang. Harus mulai kelihatan profesional."
Naruto bersedekap, berpikir sejenak sebelum mengangguk. "Kita memang butuh tim inti."
Sebagai pemimpin, ia harus mulai berpikir jangka panjang. Mereka tidak bisa terus bekerja seperti ini selamanya.
"Aku bakal cari orang-orang yang cocok. Tapi kita harus tetap efisien. Kita nggak bisa langsung merekrut banyak orang tanpa perhitungan. Kita cari dulu yang paling mendesak."
Chojuro berpikir sejenak. "Gimana kalau Moegi? Dia dulu jago manajemen waktu di himpunan. Sekarang dia udah lulus, mungkin dia tertarik?"
Naruto mengangguk. Moegi memang terkenal rapi dalam mengatur jadwal.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Besok gue hubungi dia. Kalian coba cari kandidat untuk jabatan lain dari alumni kampus. Kalau nggak ada yang cocok, baru kita open rekrutmen. Weekend ini kita juga harus nyari tempat yang lebih luas. Kalau nambah tim, rumah ini nggak bakal cukup."
Omoi menatap Naruto. "Gue denger ada beberapa ruang kantor kosong di pusat kota. Dengan keuangan kita sekarang, mungkin bisa sewa untuk tiga tahun ke depan."
Naruto tersenyum kecil. "Setuju. Kita lihat nanti weekend."
Malam itu, keputusan besar dibuat. CampusLink bukan lagi proyek kecil. Ini sudah menjadi sesuatu yang lebih besar.
Setelah rapat kecil itu, Naruto merebahkan diri di kursi, mengusap wajahnya. Lelah, tapi pikirannya terus berputar. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Atau lebih tepatnya, seseorang.
Ia meraih ponselnya dan menekan nomor yang tanpa sadar selalu ada di daftar favoritnya.
Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum suara khas Ino menyapa dari seberang.
"Halo?"
Naruto tersenyum kecil. Hanya mendengar suaranya saja sudah cukup membuatnya merasa lebih baik.
"Hei, kau sibuk?" tanyanya santai.
Di seberang sana, terdengar suara berisik. Ada suara gesekan kertas, langkah kaki, dan samar-samar suara beberapa pegawai yang berdiskusi.
"Lumayan. Ternyata membangun bisnis tak semudah yang kukira. Hehe."
Naruto tertawa kecil. "Jadi, bagaimana perkembangan bisnismu?"
Ino menghela napas pelan. "Cukup sibuk. Hari ini aku baru selesai meeting dengan supplier. Aku juga sedang menyiapkan katalog koleksi terbaru. Desainnya sudah selesai, tapi aku harus menyesuaikan strategi pemasaran."
Naruto bisa membayangkan Ino yang sekarang. Duduk di balik meja di butik, mengenakan blazer modis, dengan setumpuk sketsa desain di depannya. Ia benar-benar berkembang di bidang ini.
"Jadi kau sudah semakin mendalami bisnis ini?"
"Sepertinya begitu... Aku ingin butik ini berkembang lebih besar bukan hanya meneruskan milik Ibu. Ini bukan sekadar usaha keluarga lagi, Naruto. Doakan aku agar bisa segera launching brand-ku di rumah lamaku di Konoha ya. Aku ingin brand-ku punya identitas sendiri."
Naruto tersenyum kecil, meskipun Ino tidak bisa melihatnya. "Wah itu bagus. Bukankah itu tujuan utamamu pulang ke Konoha?"
"Iya, makanya. Kini fokusku terbagi antara mendelegasikan pekerjaan di butik ibu, dan menyiapkan butik baru milikku."
"Semangat Ino! Tapi jangan terlalu memaksakan diri ya."
Ino tertawa kecil. "Hei, aku bukan kau yang kerja sampai begadang tiap malam."
"Hei, aku tidak sering begadang."
"Omong kosong. Aku sering lihat statusmu tengah malam."
Naruto meringis, tahu bahwa Ino benar. "Baiklah, baiklah. Aku akui. Akan kukurangi."
"Tapi kalimatmu barusan juga ikut menjelaskan kalau kau juga begadang, makanya bisa lihat statusku."
"Hahaha, benar juga."
Mereka mengobrol lama setelah itu. Tidak membahas hal-hal besar, hanya berbicara tentang hari-hari mereka yang berjalan tanpa satu sama lain di sisi. Saling mengingatkan untuk jangan terlambat makan dan istirahat. Tapi, meskipun mereka masih bisa tertawa dan bercanda seperti biasa, Naruto tahu sesuatu mulai berubah.
Ada sesuatu yang hilang.
Naruto masih rutin mengirim pesan setiap hari. Namun, jawaban dari Ino kini sering datang berjam-jam kemudian, terkadang hanya singkat dan tanpa banyak penjelasan.
"Maaf, aku sibuk hari ini."
"Lagi meeting, nanti kubalas ya."
"Besok ada event, aku harus siap-siap."
Awalnya, Naruto tidak terlalu memikirkan hal ini. Ia tahu Ino sibuk. Lagipula, ia juga tidak ingin menjadi orang yang menuntut perhatian setiap saat.
Tapi… semakin lama, sesuatu terasa berbeda.
Dulu, setiap kali mereka berkirim pesan, percakapan akan mengalir panjang, penuh canda tawa. Kadang, salah satu dari mereka yang mengulur waktu hanya agar pembicaraan tidak cepat berakhir.
Sekarang? Semuanya terasa lebih… hambar.
Malam itu, Naruto memutuskan untuk menelepon. Ia merasa butuh berbicara langsung dengan Ino.
Panggilan tersambung setelah beberapa nada sambung.
"Halo?" Suara Ino terdengar di seberang, tetapi tidak ada kehangatan seperti biasa.
"Hei, kau sibuk?" Naruto berusaha terdengar santai.
"Lumayan. Ada banyak yang harus disiapkan untuk event besok," jawab Ino cepat.
Naruto tersenyum kecil meskipun Ino tidak bisa melihatnya. "Hebat. Brand-mu makin berkembang rupanya."
"Ya… aku harus memastikan semuanya berjalan lancar."
Hening.
Naruto menunggu Ino mengajukan pertanyaan balik, menanyakan kabarnya seperti biasa, tetapi itu tidak terjadi.
Akhirnya, ia yang berbicara lagi. "Oh ya, aku tadi lihat katalog desain barumu. Bagus. Kau semakin profesional."
"Terima kasih," kata Ino singkat.
Lagi-lagi hening.
Dulu, hening di antara mereka terasa nyaman.
Sekarang? Terasa seperti jarak.
"Ngomong-ngomong... kau masih rutin makan tepat waktu, kan?" Naruto mencoba mencari celah untuk membuat percakapan lebih cair.
"Tentu saja. Kau pikir aku ini siapa?" Ino terkekeh kecil, tapi tawanya terasa… berbeda.
Naruto ingin bertanya lebih banyak.
Bagaimana harimu?
Apa kau baik-baik saja?
Apa kau merindukanku, seperti aku merindukanmu?
Tapi, Ino terdengar terburu-buru, seperti ingin segera menyudahi panggilan ini.
"Baiklah, aku nggak mau ganggu kau lebih lama. Semoga acara besok sukses."
"Ya. Terima kasih, Naruto."
Klik.
Panggilan berakhir.
Naruto menatap layar ponselnya yang kini gelap. Dulu, ia selalu merasa tenang setelah berbicara dengan Ino. Sekarang? Ia justru merasa semakin jauh.
Ia menghela napas, lalu membuka riwayat pesannya. Jemarinya menggulir layar hingga ke percakapan terakhir mereka.
06:47 AM – Pesan Masuk dari Ino: Naruto?
06:49 AM – Pesan Masuk dari Ino: Kau sudah bangun?
Naruto mengusap wajahnya lelah. Di pagi itu, ia bahkan tidak mendengar suara notifikasi karena baru saja tertidur setelah menghabiskan sepanjang malam memperbaiki celah keamanan di aplikasi.
Pikirannya langsung berkelana. Apa yang ingin Ino bicarakan? Kenapa ia menelepon pagi-pagi?
Tapi sekarang, percuma. Ino pasti sudah sibuk.
Naruto menatap layar ponselnya sejenak sebelum akhirnya mengetik balasan singkat.
08:12 AM – Maaf, tadi pagi aku masih tidur. Ada celah di sistem yang harus segera diperbaiki semalam.
Tidak ada harapan untuk balasan cepat. Tidak seperti dulu.
Mereka jarang melakukan panggilan video lagi. Terakhir mereka melakukan panggilan video, mereka sering kehabisan topik untuk dibahas. Tidak seperti awal-awal mereka berpisah, dulu panggilan video bisa berjam-jam hingga larut malam.
Pesan singkat kini lebih dipilih karena lebih cepat di sela kesibukan dan bisa memberi waktu kepada satu sama lain untuk mencari topik dan memikirkan balasannya.
Bahkan, ada hari-hari di mana mereka sama sekali tidak berkomunikasi.
Namun, Naruto tidak ingin berpikiran buruk. Ino sedang membangun kariernya, sama seperti dirinya. Jika ia benar-benar ingin bersama Ino di masa depan, maka ia harus menghormati proses ini.
Jadi, ia mencoba untuk tidak terlalu mempermasalahkannya.
Tapi… benarkah ini sesuatu yang bisa diabaikan?
Dua bulan kemudian, Naruto akhirnya kembali ke Konoha. Bukan karena alasan yang sebenarnya, tentu saja. Ia tidak akan mengaku kalau ia merindukan Ino. Jadi, saat ibunya menelepon dan bertanya kapan ia pulang, Naruto menggunakan itu sebagai alasan untuk sekalian menemui Ino. Naruto berharap hubungannya bisa membaik setelah bertemu Ino.
Dan kini, di sinilah dia berdiri.
Di depan butik yang baru saja diresmikan oleh Ino.
Rumah lama Ino yang dulu terasa kosong kini telah berubah. Di fasadnya tertulis Yamanaka Boutique, akhirnya ia telah resmi memisahkan diri dari brand butik ibunya.
Bangunan yang sebelumnya memiliki kesan tradisional kini dipoles dengan sentuhan modern, tetapi tetap mempertahankan nuansa klasik khas Konoha. Naruto memperhatikan kaca besar di bagian depan yang memberikan kesan elegan, rak-rak pakaian tertata rapi, dan lampu gantung yang memberikan pencahayaan mewah.
Dari luar, Naruto bisa melihat butik itu ramai dengan tamu undangan, pelanggan pertama, dan beberapa media lokal yang datang untuk meliput. Pegawai butik mengenakan seragam bernuansa soft beige, membantu pelanggan memilih koleksi pakaian terbaru.
Naruto menghela napas panjang.
Hari ini adalah hari besar bagi Ino. Tapi ia tidak tahu apakah kedatangannya benar-benar diperlukan di sini.
Namun, ia ingin melihat Ino. Dan itu saja sudah cukup sebagai alasan untuk melangkahkan kaki ke dalam butik.
Begitu memasuki butik, Naruto langsung disambut oleh Ino.
Rambut pirangnya ditata anggun, makeupnya sempurna, dan blazer putih yang membingkai tubuhnya memberikan aura seorang pebisnis sukses.
Ino tersenyum. "Kau datang juga."
Naruto mengangkat bahu, mencoba bersikap santai. "Tentu saja. Aku tidak akan melewatkan hari penting ini."
Mereka berbicara sebentar, membahas renovasi butik dan kesibukan masing-masing. Namun, tidak seperti dulu, percakapan mereka terasa lebih formal. Tidak ada obrolan santai yang biasanya mengalir begitu saja.
Naruto menyadari satu hal: Ino kini benar-benar sibuk.
Saat mereka duduk di sudut butik, Naruto masih mencoba menyesuaikan diri dengan suasana di sekelilingnya. Butik ini terasa begitu… profesional. Tidak ada lagi jejak rumah yang dulu penuh kenangan.
Ino tampak berbeda. Tidak hanya dalam cara ia berbicara—lebih tegas dan percaya diri—tetapi juga dalam cara ia berpakaian. Blazer putih yang membingkai tubuhnya, kemeja satin yang diselipkan rapi ke celana bahan, heels yang menopang langkahnya dengan anggun.
Naruto melirik sekilas ke pantulan kaca di dekatnya.
Ia hanya mengenakan polo shirt hitam dan chinos. Smart casual—tapi tetap terasa terlalu santai untuk dunia yang kini dijalani Ino.
Dan entah kenapa, perbedaan kecil itu terasa begitu besar.
Saat mereka berbincang, seorang pria tiba-tiba datang menghampiri meja mereka.
"Ino, aku sudah atur meeting dengan brand lokal untuk kolaborasi. Nanti kita bahas detailnya."
Naruto menoleh. Ryo.
Dulu di kampus, Ryo adalah salah satu dari sekian banyak pria yang mencoba mendekati Ino—dan ditolak.
Tapi sekarang?
Naruto mengamati interaksi mereka. Nada bicara Ryo santai, tetapi ada nada familiar dalam caranya berbicara dengan Ino. Bukan sekadar profesional. Ada kenyamanan di sana.
Terlalu nyaman.
"Aku segera ke sana," jawab Ino sebelum menoleh ke Naruto. "Maaf, Naruto. Aku harus kerja. Kita bertemu lagi malam nanti?"
Naruto menahan napas. Sejenak, ia ingin menjawab ya.
Tapi kemudian ia sadar sesuatu.
Ino mungkin menawarkan pertemuan nanti malam, tetapi apakah ia benar-benar punya waktu? Ataukah ini hanya cara halus untuk membuat Naruto tidak merasa diabaikan?
Dan sekali lagi, Naruto merasa out of place.
Startup dan bisnis fashion mungkin sama-sama dunia kerja, tetapi lingkungannya berbeda.
Di sini, semua orang berpakaian rapi, penuh estetika, berkelas.
Ia hanyalah seorang CEO startup dengan gaya kerja fleksibel, lebih sering mengenakan hoodie atau kaus dibandingkan kemeja formal.
Mereka dulu berbagi dunia yang sama.
Tapi sekarang?
Dunia mereka mulai berjalan di jalur yang berbeda.
Naruto tersenyum kecil, menyesuaikan ekspresinya.
"Oh nggak apa-apa, tidak perlu. Aku cuma mampir sebentar kok sambil menemui Ibu di Konoha."
Ino mengangguk, tersenyum tipis sebelum beranjak pergi.
Naruto hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh—seperti banyak hal yang perlahan mulai menjauh dari dirinya. Dulu, ia selalu berpikir bahwa jarak tidak akan menjadi masalah. Bahwa selama mereka masih saling memahami, mereka akan tetap sama. Tapi sekarang, ia mulai bertanya-tanya…
Apakah jarak benar-benar tidak mengubah apa pun?
Atau justru selama ini ia hanya menutup mata?
Naruto menarik napas dalam.
Lalu tersenyum kecil, entah untuk siapa.
Mungkin, memang begini akhirnya.
.
.
To be continued…
