.

Unspoken

.

Disclaimer: I do not own Naruto characters

Naruto © Masashi Kishimoto


Chapter 12: Black Rose

Naruto duduk di sofa ruang keluarga rumahnya di Konoha, menyandarkan tubuhnya dengan malas, tatapan kosong mengarah ke layar TV yang menyala tanpa benar-benar ia perhatikan. Hanya ada suara latar dari acara berita malam, tapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana.

Sejak siang tadi, bayangan pertemuannya dengan Ino terus berputar di kepalanya.

Butik yang dulu hanya rumah kosong kini menjadi sesuatu yang baru—megah, elegan, profesional. Sama seperti pemiliknya, yang kini juga terasa semakin jauh. Ia bisa melihat kesibukan di mata Ino, cara bicaranya yang semakin tegas, posturnya yang semakin tegak. Ia berkembang, dan Naruto bangga. Tapi… ada sesuatu yang terasa berbeda.

Dulu, di ibu kota, ada kehangatan dalam cara Ino berbicara dengannya. Bahkan dalam kesibukannya, selalu ada ruang kecil untuk Naruto.

Tapi hari ini?

Ino tetap ramah, tapi ia tidak lagi terlihat sebagai seseorang yang memiliki banyak waktu untuknya. Dan Naruto tidak bisa mengabaikan perasaan itu.

Pintu depan terbuka, suara langkah heels terdengar di lantai kayu. Naruko baru saja pulang dari kantor, blazer masih ia kenakan, rambut panjangnya dikuncir rapi. Begitu masuk ke ruang keluarga, matanya langsung tertuju pada sosok kakaknya yang duduk di sofa.

Ada yang aneh.

Biasanya, Naruto akan menyapa atau minimal meliriknya sekilas. Tapi kali ini? Ia bahkan tidak sadar Naruko baru saja masuk. Naruko melepaskan blazer dan duduk di sofa seberang Naruto. Ia tidak langsung berbicara. Sebagai kembar, ia punya feeling kalau kakaknya sedang menghadapi sesuatu yang berat. Jadi, ia memilih diam dulu.

Beberapa menit berlalu, barulah Naruto menyadari kehadiran Naruko.

Ia mengerjap pelan, lalu menatap saudari kembarnya. "Oh, kau sudah pulang."

Naruko menaikkan alis. "Baru sadar?"

Naruto nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tak gatal. Lalu hening tercipta setelahnya.

Naruto menghela napas, lalu mendadak bertanya, "Mantan pacarmu waktu SMA dan kuliah, siapa namanya? Aku lupa."

Naruko sedikit terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu, tapi ia tetap menjawab. "Kau maksud Takumi?"

Naruto mengangguk pelan. "Ya… Takumi."

Naruko menyandarkan tubuh ke sofa, mencoba menebak arah pembicaraan ini. "Kenapa tiba-tiba menanyakan dia?"

Naruto tidak langsung menjawab. Ia memandang lurus ke layar TV sebelum akhirnya berkata, "Hubungan kalian lama, kan? Kenapa bisa putus?"

Naruko menghela napas, tersenyum kecil seolah mengenang sesuatu yang tidak terlalu menyenangkan.

"Karena LDR," jawabnya santai.

Naruto menoleh, menunggu penjelasan lebih lanjut.

Naruko melanjutkan, "Awalnya baik-baik saja. Kami masih sering video call, masih rajin memberi kabar. Tapi semakin lama, komunikasi jadi makin jarang. Rasanya seperti… aku punya pasangan, tapi tidak benar-benar punya."

Naruto tetap diam, menyimak.

Naruko tersenyum miring. "Aku tipe orang yang selalu butuh perhatian. Aku nggak cocok dengan hubungan jarak jauh. Akhirnya, daripada terus bertahan dan menyakiti diri sendiri, aku memilih mengakhiri semuanya."

Naruto berpikir sejenak sebelum akhirnya berkomentar, "Mungkin karena kita kembar, kita punya sifat yang sama."

Naruko meliriknya, menunggu lanjutannya.

Naruto mengusap wajahnya pelan, lalu berkata lebih pelan, "Mungkin aku juga tipe yang butuh perhatian."

Naruko menatapnya lebih tajam sekarang.

"Ini tentang Ino, kan?" tanyanya langsung.

Naruto tidak menjawab.

Tapi diamnya sudah cukup sebagai jawaban.

Ia hanya bersandar lebih dalam ke sofa, menatap langit-langit dengan mata yang penuh keraguan.

"Dia mungkin memang sedang sibuk," kata Naruko akhirnya, suaranya terdengar lebih pelan. "Atau mungkin… kedekatan kalian di ibu kota dulu hanya karena keadaan."

Naruto tidak langsung menanggapi. Tapi ia tahu perkataan adiknya ada benarnya.

Tapi rasanya terlalu pecundang jika sekadar menyerah tanpa alasan. Tapi di saat yang sama, ia bukan tipe orang yang akan memaksa sesuatu yang sudah mulai berubah.

Untuk pertama kalinya, Naruko tidak tahu harus berkata apa.

Jadi, ia hanya diam dan menemani Naruto di sana.

Karena sebagai seorang kembar, ia tahu ada hal-hal yang hanya bisa dipahami dalam keheningan saat mereka berdua saling menenangkan.


Naruto berjalan pelan menuju kontrakannya, tangannya dimasukkan ke saku, pikirannya berantakan. Perasaan yang bercampur aduk—sedih, kecewa, cemburu—semua bercokol di dadanya, menciptakan beban yang sulit dijelaskan.

Selama ini, ia selalu berpikir bahwa meski mereka berpisah untuk mengejar impian masing-masing, ada sesuatu yang tetap sama. Bahwa Ino masih berada dalam jangkauan.

Tapi ternyata, dunia terus berputar.
Dan mungkin, perlahan dunia Ino sudah berputar tanpa dirinya.

Naruto menghela napas panjang begitu sampai di halaman depan rumah, tempat taman kecil yang dulu Ino rawat. Ia melangkah mendekati deretan bunga-bunga itu, duduk di bangku kayu di sudut taman.

"Hei… apa kalian masih mengenaliku?" gumamnya, menatap bunga-bunga yang masih tumbuh subur meski kini hanya ia yang menyiramnya. Mawar, lavender, anggrek. Semua masih tampak sama—berbeda dengan pemiliknya yang perlahan terasa semakin jauh.

Naruto menyentuh kelopak salah satu bunga dengan ujung jarinya.

"Aku selalu menyirami kalian sesuai jadwal yang Ino buat. Kalian baik-baik saja, kan?"

Ia tersenyum miris.

"Beruntung sekali kalian… Masih bisa menunggu seseorang tanpa khawatir akan dilupakan."

Angin sore berembus, menerbangkan dedaunan kering di sekitarnya. Taman ini dulu terasa begitu hidup, sama seperti saat Ino masih sering menghabiskan waktu di sini.

Tapi sekarang?

Hanya ada Naruto, bunga-bunga, dan sunyi.

Naruto mengusap wajahnya dengan satu tangan, mendongak menatap langit yang mulai memerah.

"Sudahlah."

Berdiri dengan cepat, ia meraih ponsel, beberapa baju ganti, dan tas laptopnya.

Pelariannya selalu sama.

Pekerjaan.

Jika ia tidak bisa mengontrol perasaannya, setidaknya ia masih bisa mengontrol pekerjaannya.

Naruto berjalan keluar dari taman, meninggalkan bunga-bunga yang tetap diam di tempatnya—menunggu, seperti yang dulu selalu ia lakukan untuk seseorang yang kini mungkin tidak lagi melihat ke belakang.


Pagi itu, Omoi dan Moegi tiba bersamaan di kantor. Kantor CampusLink yang terletak di pusat kota ini mengusung konsep startup modern—terbuka, fleksibel, dan santai.

Alih-alih ruangan kantor kaku dengan cubicle, ruangan didominasi oleh meja kerja panjang, bean bag, serta beberapa sofa di sudut untuk diskusi santai. Dindingnya penuh dengan whiteboard besar yang dipenuhi coretan strategi bisnis dan ide-ide pengembangan.

Namun, ada satu hal yang menarik perhatian mereka pagi itu.

Naruto, CEO sekaligus pemimpin mereka, tertidur di ruang kerjanya sendiri.

Omoi mengerutkan kening. "Dia… tidur di sini?"

Moegi melirik pintu kaca yang sedikit terbuka dan menghela napas. "Kurasa begitu."

Mereka berdua bertukar pandang sebelum akhirnya masuk.

Di dalam, Naruto tertidur di sofa dengan laptop masih menyala di atas meja, beberapa dokumen berserakan di sekelilingnya. Gelas kopi kosong ada di dekatnya, menandakan semalam ia begadang lagi.

Moegi menatapnya sebentar lalu menggeleng. "CEO yang kelewat rajin."

Omoi mendecak. "Atau terlalu keras kepala."

Mereka tidak ingin membangunkannya, jadi mereka membiarkannya tidur sejenak sambil mulai menyiapkan pekerjaan masing-masing.

Sekitar pukul delapan pagi, Naruto mengerjap pelan dan bangun dari tidurnya. Ia mengusap wajahnya dengan satu tangan, lalu menatap sekeliling.

Kantor kecilnya mungkin tidak terlalu besar, tapi tempat ini adalah rumah kedua bagi dirinya dan timnya.

Beberapa orang sudah mulai bekerja, duduk di meja panjang dengan laptop terbuka, diskusi santai terdengar di sudut ruangan. Chojuro sedang mengetik cepat di komputer, Omoi mengobrol dengan Moegi sambil menyiapkan materi meeting.

Naruto tersenyum kecil. Ia membangun semua ini dari nol.

Namun, ini belum cukup.

Naruto menatap jam dinding. Ia harus mandi dan ganti baju. Ia meregangkan tubuh, lalu berjalan ke meja panjang di tengah ruangan.

Omoi melihatnya bangun dan langsung bertanya, "Bro, lo tidur di sini semalam?"

Naruto hanya mengangkat bahu. "Ada yang harus gue kerjakan."

Moegi melipat tangan. "Dan kau kerja sampai ketiduran?"

Naruto terkekeh kecil. "Yah… begitulah."

Lalu, ia menatap semua orang di ruangan. "Jam 9, kita mulai meeting. Aku punya ide hasil begadangku semalam."


Beberapa menit kemudian, tim inti sudah berkumpul di ruang meeting kecil mereka. Whiteboard diisi coretan strategi, angka-angka pertumbuhan bisnis, dan ide-ide baru.

Di tengah ruangan, Naruto berdiri tegap, menatap semua orang dengan mata tajam. Ekspresi wajahnya serius, penuh determinasi.

"Dia berubah."

Moegi melirik Omoi sekilas, yang juga tampak menyadari hal yang sama. Sejak Naruto kembali dari Konoha, ada sesuatu yang berbeda darinya. Lebih berambisi. Lebih berapi-api.

Bukan berarti Naruto dulu tidak visioner—justru sebaliknya, ia selalu punya mimpi besar. Tapi kali ini? Aura Naruto terasa lebih tegas, lebih agresif.

Namun, di balik semua itu, ada sekilas kesedihan dalam sorot matanya.

Chojuro bertukar pandang dengan Omoi dan Moegi. "Pasti pertemuannya dengan Ino membuatnya seperti ini."

Mereka tahu, Naruto mungkin tidak akan mengakuinya. Tapi bagi mereka yang sudah mengenalnya bertahun-tahun, semuanya terasa jelas.

Dan sebagai tim inti, mereka tahu apa yang harus dilakukan. Mereka harus mendukung CEO mereka untuk move on.

Naruto mengambil spidol dan mulai menulis di whiteboard.

"Aku sudah memikirkan ini sejak lama. Kalau kita ingin bertahan dan berkembang, kita harus lebih efisien."

Ia menulis tiga poin utama di papan.

1. Buang pos-pos yang tidak perlu..

"Banyak biaya operasional bisa dipangkas jika kita lebih fokus pada layanan inti. Delegasikan atau alihdayakan kepada vendor pekerjaan yang sifatnya hanya supporting. Sisakan layanan inti yang merupakan core perusahaan kita."

2. Terapkan kebijakan kerja remote.

"Pegawai tidak perlu datang ke kantor setiap hari untuk menghemat operasional kantor. Dengan sistem kerja remote, sebagian besar pekerjaan bisa dilakukan dari rumah, sehingga efisiensi meningkat. Optimalkan rapat secara virtual agar tidak menyita waktu dan tenaga."

3. Ekspansi ke bidang baru.

"CampusLink sudah cukup stabil, sekarang saatnya merambah ke sektor lain. Teknologi bergerak sangat cepat. Jika kita tak mengikuti perkembangan zaman, kita akan mati. Sudah banyak contoh startup yang gulung tikar hanya karena berhenti berinovasi."

Naruto berhenti sejenak, menatap semua orang sebelum akhirnya menyampaikan visi besarnya."Visi kita jelas," lanjutnya, matanya berbinar penuh semangat. "Dua tahun ke depan, kita harus jadi startup unicorn! Nilai valuasi kita harus mencapai lebih dari US$1 miliar!"

Ruangan hening sejenak.

Semua menyerap ambisi besar itu.

Moegi menyandarkan diri ke kursinya, melipat tangan di depan dada.
"Gila, dia benar-benar berubah."

Omoi mengangguk pelan, ikut berpikir.
"Kalau dia bisa seambisius ini hanya dalam beberapa minggu setelah dari Konoha… Seberapa dalam sebenarnya luka yang dia bawa pulang?"

Sementara itu, Chojuro menatap Naruto dengan ekspresi campuran—antara kagum dan sedikit khawatir.

"Ino benar-benar mengubahnya. Tapi kalau itu bisa membuatnya lebih maju… Maka kami harus mendukungnya."

Moegi akhirnya angkat bicara, mencoba meringankan suasana. "Baiklah, Boss. Gimana kalau kita mulai brainstorming buat ekspansi ini?"

Naruto tersenyum kecil. "Tentu. Kita mulai sekarang. Kalian punya ide ekspansi kita mau ke arah mana?"

Dan rapat pun dimulai, dengan ambisi besar yang kini mengikat mereka semua ke dalam satu tujuan.

Chojuro akhirnya angkat bicara. "Kalau mau ekspansi, kita butuh teknologi baru. Gimana kalau kita mulai pakai Artificial Intelligence?"

Omoi mengangguk. "AI bisa bantu banyak hal—otomatisasi data, analisis tren, customer service virtual."

Moegi menambahkan, "Itu ide bagus, tapi kita butuh tim khusus untuk pengembangannya."

Naruto menyilangkan tangan, berpikir sejenak. AI adalah teknologi masa depan. Jika mereka bisa mengintegrasikannya, ini bisa menjadi gebrakan besar.

Ia akhirnya tersenyum. "Baik. Kita mulai riset tentang AI. Chojuro, kau pimpin bagian ini. Cari tahu bagaimana kita bisa mengimplementasikannya ke CampusLink. Aku punya beberapa relasi yang expert di bidang AI yang mungkin bisa membantu kita."

Chojuro mengangguk mantap. "Serahkan padaku."

Naruto lalu menatap semua orang. "Meeting ini akan panjang. Siapkan semua data yang kita butuhkan. Ini bukan sekadar startup kecil lagi—kita sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar."

Dan begitu, meeting pun berlangsung lama.

Ambisi Naruto kini semakin jelas.
Ia akan membawa startup ini ke level berikutnya.
Tidak ada waktu untuk berpikir tentang perasaannya lagi.


Tiga tahun setelah kelulusan, inovasi AI yang digagas Chojuro menjadi fenomena di dunia teknologi. Aplikasi berbasis AI dari timnya kini dimanfaatkan dalam berbagai bidang, mulai dari otomatisasi bisnis hingga teknologi pembelajaran.

Di sisi lain, CampusLink berkembang pesat dan mulai diadopsi oleh lebih banyak universitas, menjembatani kebutuhan mahasiswa dengan dunia kerja secara lebih efektif.

Melihat pertumbuhan ini, Naruto memutuskan untuk membawa startup-nya ke level berikutnya: mengubah statusnya menjadi perusahaan terbuka agar bisa IPO (Initial Public Offering) dan melantai di lantai bursa saham. Dengan begitu perusahaan bisa berkembang lebih besar dan mendapatkan investasi lebih banyak. Setelah menjadi perusahaan terbuka (Tbk), startup CampusLink resmi berubah menjadi Uzumaki Tech Solutions (UTS).

Sebagai bagian dari restrukturisasi, Naruto mengembangkan struktur organisasi menjadi lebih spesifik dan melakukan rekrutmen besar-besaran.

CEO (Chief Executive Officer) – Naruto Uzumaki: Pendiri dan pemimpin utama, menjalin hubungan dengan investor, mengatur strategi ekspansi bisnis, bertanggung jawab atas keberlangsungan perusahaan secara keseluruhan.

CTO (Chief Technology Officer) – Chojuro: Bertanggung jawab atas riset dan pengembangan teknologi, termasuk inovasi AI dan software terbaru yang dikembangkan oleh perusahaan.

CISO (Chief Information Security Officer) – Omoi: Mengawasi keamanan infrastruktur TI perusahaan dan layanan cyber security bagi klien. Dengan semakin banyaknya ancaman digital, peran Omoi sangat krusial dalam melindungi data perusahaan dan klien.

COO (Chief Operating Officer) – Moegi: Mengatur operasional perusahaan sehari-hari, manajemen sumber daya manusia, memastikan bahwa setiap unit usaha berjalan sesuai dengan target bisnis dan efisiensi kerja di perusahaan.

CMO (Chief Marketing Officer) – Sai: Bertanggung jawab atas pemasaran, branding, dan strategi komunikasi perusahaan. Dengan pengalaman di bidang digital marketing, ia memimpin strategi promosi untuk menarik lebih banyak klien dan investor.

CFO (Chief Financial Officer) – Temari: Mengelola keuangan perusahaan, termasuk anggaran, investasi, dan hubungan dengan pemegang saham setelah IPO.

Adapun unit usaha inti Uzumaki Tech Solutions (UTS) kini ada 3 yaitu:

Uzumaki AI & Software Solutions

Produk: Pengembangan Artificial Intelligence, machine learning, dan aplikasi umum lainnya.

Tim: Data Scientist, Software Engineer, AI Developer.

Uzumaki Cyber Security & Infrastructure

Produk: Keamanan siber, cloud computing, enkripsi data, ethical hacking services dan infrastruktur teknologi perusahaan.

Tim : Cyber Security Analyst, Network Engineer, Ethical Hacker.

CampusLink & Digital Marketing

Fokus: Platform CampusLink untuk koneksi mahasiswa dengan dunia industri, serta digital marketing.

Tim: UX/UI Designer, Marketing Strategist, Content Creator.

Karena kebutuhan yang semakin luas dan spesifik itulah jumlah pegawai Uzumaki Tech Solutions (UTS) semakin bertambah. Dari asalnya hanya 3 orang di tahun pertama, 8 orang di tahun kedua, 50 orang di tahun ketiga, dan tahun ini melonjak menjadi 300 orang.


Empat tahun setelah kelulusan…

Di dalam studio yang dipenuhi pencahayaan profesional dan layar besar menampilkan logo "TechTalk Today", dua pria muda duduk bersebelahan di atas kursi dengan postur santai namun tetap berwibawa.

Naruto Uzumaki, CEO dari Uzumaki Tech Solutions (UTS), mengenakan jas navy dengan kemeja putih tanpa dasi. Sementara di sampingnya, Chojuro, CTO sekaligus arsitek utama divisi AI perusahaan mereka, mengenakan blazer hitam dengan kemeja biru muda.

Di hadapan mereka, seorang reporter wanita dengan wajah profesional membuka wawancara.

Reporter:
"Hari ini kita kedatangan dua sosok pemimpin di industri teknologi, Naruto Uzumaki dan Chojuro, yang perusahaannya telah merevolusi cara kita berinteraksi dengan teknologi, terutama dengan pengembangan AI yang semakin canggih."

Naruto dan Chojuro tersenyum sopan ke arah kamera.

Reporter:
"Kita semua tahu bahwa AI semakin banyak digunakan dalam berbagai bidang, dari IT, penulisan, multimedia, hingga desain—termasuk fashion. Namun, ada dua sudut pandang berbeda: AI membantu manusia menjadi lebih produktif, tetapi di sisi lain, AI juga dianggap sebagai ancaman yang mengambil alih pekerjaan. Bagaimana menurut Anda?"

Chojuro mengambil napas sebentar sebelum menjawab.

Chojuro:
"Kami memahami kekhawatiran itu. AI telah berkembang pesat, dari sekadar alat otomatisasi menjadi sistem yang dapat belajar dan menghasilkan karya sendiri. Tapi… jika kita melihat sejarah, setiap revolusi industri selalu diiringi dengan perubahan cara manusia bekerja. AI seharusnya tidak dilihat sebagai pengganti manusia, tetapi sebagai alat yang meningkatkan efisiensi dan membantu manusia mencapai level kreativitas yang lebih tinggi."

Reporter:
"Menarik. Tapi bagaimana dengan profesi yang selama ini berbasis kreativitas? Misalnya, AI yang mampu menulis artikel, membuat desain grafis, atau bahkan menciptakan pola fashion baru. Apakah ini tidak merugikan pekerja kreatif?"

Naruto, yang sedari tadi mendengar dengan tangan terlipat di pangkuannya, akhirnya angkat bicara.

Naruto:
"Ini pertanyaan besar di dunia industri saat ini. AI memang bisa melakukan banyak hal, tetapi tidak bisa menggantikan emosi dan pengalaman manusia. Sebagai contoh, di dunia fashion, AI bisa menganalisis tren dan menghasilkan desain baru secara otomatis. Tapi apakah desain itu memiliki sentuhan personal yang hanya bisa diberikan oleh seorang desainer berpengalaman? Tidak."

Reporter:
"Baik, kita sudah membahas bagaimana AI membantu berbagai industri. Tapi mari kita masuk ke pertanyaan yang sering menjadi perdebatan…"

Suasana sedikit menegang.

Reporter:
"Menurut Anda, lebih hebat mana: manusia atau AI?"

Chojuro sedikit menaikkan alis, menyadari pertanyaan ini bisa menjadi jebakan. Tapi sebelum ia sempat berbicara, Naruto yang langsung menjawab, terlalu spontan.

Naruto:

"Jelas AI lebih efisien daripada manusia. Bahkan dibanding desainer atau profesi lain yang berbasis kreativitas."

Naruto menjawab santai, tanpa berpikir panjang.
Sejenak, suasana hening.

Chojuro menoleh cepat di layar, ekspresinya memberi tanda Bro, serius?

Reporter mengangguk kecil, menangkap momen itu dengan cepat.

Reporter:
"Jadi, menurut Anda, AI lebih baik dari desainer manusia? Lebih unggul dari manusia dalam banyak aspek?"

Naruto yang baru sadar salah ucap sedikit membelalakkan mata.

Naruto:
"Ah, tunggu, maksudku bukan begitu."

Reporter menunggu, ekspresinya menunjukkan ketertarikan tinggi. Naruto menarik napas, lalu menjelaskan lebih hati-hati.

Naruto:
"Aku tidak mengatakan AI lebih baik secara keseluruhan. Yang kumaksud adalah AI lebih efisien dalam beberapa tugas tertentu—misalnya dalam analisis data tren, pembuatan variasi desain cepat, atau otomasi tugas teknis. AI bisa menghasilkan ribuan pola desain dalam hitungan detik, sedangkan manusia butuh waktu lebih lama."

Reporter mengangguk, masih memasang ekspresi ingin tahu.

Reporter:
"Tapi bukankah itu berarti AI bisa menggantikan peran manusia?"

Naruto:
"Tidak juga. AI tidak bisa menggantikan intuisi, pengalaman, dan emosi manusia. AI hanya mengolah data dan membuat prediksi berdasarkan pola. Tapi ketika berbicara soal sentuhan personal, kreativitas unik, dan interaksi emosional dalam desain atau bidang lain, manusia tetap tak tergantikan."

Chojuro menyela, mendukung penjelasan Naruto.

Chojuro:
"Kita bisa melihatnya dari perspektif lain. Kamera tidak menggantikan pelukis, Photoshop tidak menggantikan ilustrator, dan kalkulator tidak menggantikan ahli matematika. AI bukan pengganti, melainkan alat bantu untuk meningkatkan produktivitas manusia."

Reporter tersenyum, tampak puas dengan jawaban mereka.

Reporter:
"Jadi, menurut kalian, AI dan manusia bisa berkolaborasi?"

Naruto:
"Tepat. Mereka yang bisa memanfaatkan AI sebagai alat bantu justru akan lebih unggul dibanding mereka yang menolaknya. AI bisa menghemat waktu dan tenaga, tapi tetap butuh manusia yang memberikan sentuhan akhir dan kreativitas unik. Kuncinya adalah kolaborasi, bukan kompetisi. Jika AI bisa menghasilkan desain fashion dalam hitungan detik, tugas manusia adalah memberikan sentuhan khas yang membuatnya unik. Sama halnya di dunia IT, AI bisa menulis kode, tapi seorang programmer yang ahli akan tahu bagaimana membuatnya lebih efisien dan sesuai dengan kebutuhan pasar."

Reporter:
"Baiklah, saya suka perspektif Anda. Terakhir, menurut Anda, apa yang harus dilakukan oleh pekerja kreatif atau mereka yang khawatir pekerjaannya digantikan oleh AI?"

Naruto dan Chojuro saling bertukar pandang, lalu Naruto yang menjawab.

Naruto:
"Belajar dan beradaptasi. Jangan takut dengan teknologi—manfaatkanlah. AI bukan ancaman jika kita tahu cara menggunakannya dengan benar. Jika Anda seorang desainer, pelajari cara AI bisa membantu mempercepat proses kreatif Anda. Jika Anda seorang penulis, gunakan AI untuk riset dan mendapatkan inspirasi. Dan yang paling penting, jangan berhenti belajar. Karena di dunia teknologi, yang tidak berkembang akan tertinggal."

Reporter akhirnya mengangguk puas. Reporter tersenyum, lalu menatap kamera.

Reporter:
"Luar biasa. Jadi, pemirsa sekalian, AI bukanlah pengganti manusia, melainkan alat untuk membuat kita bekerja lebih baik. Tinggal bagaimana kita memilih untuk beradaptasi atau tertinggal."

Naruto dan Chojuro tersenyum, lalu berjabat tangan dengan reporter sebelum sesi wawancara berakhir.

Reporter akhirnya mengangguk puas. Lalu ia tertawa kecil.

Reporter:
"Hampir saja kami mendapat headline besar di sini. 'Naruto Uzumaki: AI Lebih Baik dari Manusia!'"

Chojuro ikut tertawa, sementara Naruto menutup wajahnya dengan satu tangan, setengah frustasi.

Naruto:
"Sial, aku hampir membuat skandal."

Terdengar tawa lagi dari Reporter dan Chojuro.

Reporter:
"Baiklah, ini diskusi yang menarik! Terima kasih, Naruto dan Chojuro, atas waktunya. Sampai jumpa di lain kesempatan!"


Saat mobil berhenti di depan kontrakan, Naruto melepas sabuk pengamannya dan menghela napas panjang. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaannya saja.

Chojuro tetap duduk di kursi kemudi, menatap Naruto dari samping dengan ekspresi yang sulit ditebak. Setelah beberapa detik hening, ia akhirnya tertawa kecil.

"Kau benar-benar harus belajar berpikir sebelum bicara, bro," katanya, mengingatkan Naruto pada insiden wawancara tadi.

Naruto mengerang pelan, memijat pelipisnya. "Aku tahu, aku tahu. Ini yang terakhir kalinya aku melakukan wawancara tanpa briefing dulu."

Chojuro menyeringai. "Bagus kalau sadar. Tapi serius, kau baik-baik saja?"

Naruto tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, ke arah lampu-lampu kota yang berpendar di kejauhan. Dalam pikirannya, segala hal bercampur aduk—pekerjaan, ekspansi bisnis, rencana jangka panjang, dan… seseorang yang perlahan mulai menjauh darinya.

"Aku hanya lelah," akhirnya Naruto berkata, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Terlalu banyak hal di kepala."

Chojuro menatapnya beberapa detik sebelum mengangguk. Ia tidak langsung menekan lebih jauh, tapi Naruto tahu bahwa sahabatnya ini bisa membaca keadaan lebih baik dari yang ia tunjukkan.

"Kalau ada yang perlu kau bicarakan, aku ada di sini," kata Chojuro dengan nada santai, tapi serius.

Naruto tersenyum kecil, meskipun hatinya terasa berat. "Ya… aku tahu."

Hening kembali menyelimuti mereka. Naruto membuka pintu mobil, bersiap turun, tapi sebelum itu, ia berkata, "Aku ingin cuti beberapa minggu. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri."

Chojuro mengangkat alis, sedikit terkejut, tapi tidak benar-benar kaget. "Tentu, istirahatlah. Ajukan cuti ke Moegi. Dia yang akan mengatur disposisi pekerjaan selama kau pergi agar semua aku yang ambil alih."

Naruto mengangguk pelan. "Thanks, Bro."

Chojuro tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menunggu sampai Naruto menutup pintu mobil dan melangkah masuk ke kontrakannya sebelum akhirnya menghela napas panjang.

Ia tahu Naruto butuh waktu. Dan mungkin, kali ini, ia harus membiarkan sahabatnya menemukan jawabannya sendiri.


Saat memasuki kontrakan, Naruto tidak langsung masuk. Ia duduk di bangku taman, menyesap kopi sambil menatap langit.

Empat tahun lalu, ia bekerja siang-malam membangun segalanya dari nol. Kini perusahaannya sudah mandiri. Ia bisa bekerja dari mana saja, cuti kapan saja.

Dulu, alasan ia bekerja keras sederhana: agar bisa kembali ke Konoha, agar tetap dekat dengan Ino. Tapi sekarang?

Naruto menatap ponselnya. Chat terakhir mereka masih ada di layar.
Setahun lalu.
Terbaca.
Tanpa balasan.

Ia bisa pindah ke mana saja, jauh dari semua ini. Tapi kenapa rasanya berat?

Pandangan Naruto jatuh pada pot mawar hitam. Salah satu peninggalan Ino di rumah ini. Bunga kesayangannya.

Ia mengangkat pot itu, merasakan dinginnya. Berat. Bukan karena fisiknya, tapi karena… ini satu-satunya yang tersisa darinya.

Perlahan, Naruto membawanya ke mobil. Tangannya erat menggenggam setir, pikirannya kosong.

Di kantor ekspedisi, ia meletakkan pot di atas meja.
"Alamat tujuan?"
Tangannya menulis cepat.

Yamanaka Boutique
Konoha
Penerima: Ino Yamanaka

Saat menulis nama itu, dadanya berdenyut perih.

Kemarin, ia tanpa sengaja membuka media sosial Ino. Foto-foto butik. Model dengan desainnya. Komentar pelanggan. Dan Ryo.

Sebagai rekan bisnis? Pegawai kepercayaan? Atau lebih?
Naruto tidak tahu. Tidak berhak tahu.

Pegawai ekspedisi mengangguk. "Sampai dua hari lagi."
Naruto hanya tersenyum tipis. "Terima kasih."

Ia mengambil resi, memasukkannya ke saku, lalu pergi tanpa menoleh.

Saat masuk ke mobil, ia menyandarkan kepala, menatap langit mendung.

"Ini bukan salah siapa-siapa."
"Aku sudah cukup berusaha."
"Kini, aku hanya perlu berjalan ke depan."

.

.

To be continued…