.

Unspoken

.

Disclaimer: I do not own Naruto characters

Naruto © Masashi Kishimoto


Chapter 13: Something Missing

Hari-harinya semakin padat. Setelah sukses mengelola butik ibunya, kini ia tengah mempersiapkan sesuatu yang lebih besar—launching butik barunya di Konoha.

Butik ini bukan hanya sekadar toko, tetapi representasi dari mimpinya. Rumah lamanya yang dulu kosong kini telah direnovasi menjadi butik eksklusif yang menggabungkan unsur klasik dan modern, tempat ia benar-benar bisa mengekspresikan kreativitasnya dalam dunia fashion.

Pagi ini, Ino berdiri di ruang kerja butik, mengamati beberapa sketsa desain yang tersebar di meja. Laporan stok, rencana pemasaran, dan undangan acara launching memenuhi mejanya. Timnya sudah mulai berdatangan, menyampaikan laporan harian.

"Ino-san, kita butuh konfirmasi final untuk desain interior butik Konoha."

"Ino, ada tawaran kerja sama dari brand aksesoris lokal, bagaimana menurutmu?"

"Media ingin wawancara eksklusif sebelum acara."

Ino menjawab semuanya dengan cepat, kepalanya dipenuhi strategi dan jadwal yang harus dipastikan berjalan lancar. Ia tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain.

Setidaknya, itulah yang ia yakinkan pada dirinya sendiri.

Namun, ponselnya kembali bergetar di meja.

Naruto.

Sempat terlintas di benaknya untuk tidak menjawab—bukan karena tidak ingin, tetapi karena ia tahu percakapan mereka akan terasa… canggung.

Akhirnya, ia menarik napas dan mengangkat panggilan itu.

"Halo?"

Di seberang sana, suara Naruto terdengar santai seperti biasa. "Hei, kau sibuk?"

Ino melirik sekelilingnya. Ruangan masih penuh dengan pegawai yang lalu lalang. Ia menghela napas kecil sebelum menjawab, "Lumayan. Ternyata membangun bisnis tak semudah yang kukira. Hehe."

Terdengar tawa kecil Naruto. "Jadi, bagaimana perkembangan bisnismu?"

"Cukup sibuk. Hari ini aku baru selesai meeting dengan supplier. Aku juga sedang menyiapkan katalog koleksi terbaru. Desainnya sudah selesai, tapi aku harus menyesuaikan strategi pemasaran."

Ino bisa membayangkan Naruto yang sekarang. Mungkin ia sedang duduk santai di taman kontrakan, menyiram bunga-bunga miliknya seperti yang biasa ia lakukan saat Ino masih tinggal di sana. Saat Naruto bilang kontrakan itu akan dijadikan kantor sementara, Ino bisa bayangkan mungkin sekarang di kamar Naruto ada server besar dan kabel-kabel listrik dan telekomunikasi berjuntai.

"Jadi kau sudah semakin mendalami bisnis ini?" tanya Naruto lagi.

"Sepertinya begitu... Aku ingin butikku berkembang lebih besar bukan hanya meneruskan milik Ibu. Ini bukan sekadar usaha keluarga lagi, Naruto. Doakan aku agar bisa segera launching brand-ku di rumah lamaku di Konoha ya. Aku ingin brand-ku punya identitas sendiri."

"Wah itu bagus. Bukankah itu tujuan utamamu pulang ke Konoha?"

"Iya, makanya. Kini fokusku terbagi antara mendelegasikan pekerjaan di butik Ibu, dan menyiapkan butik baru milikku."

"Semangat, Ino! Tapi jangan terlalu memaksakan diri ya."

Ino tertawa kecil. "Hei, aku bukan kau yang kerja sampai begadang tiap malam."

"Hei, aku tidak sering begadang."

"Omong kosong. Aku sering lihat statusmu tengah malam."

Naruto meringis, tahu bahwa Ino benar. "Baiklah, baiklah. Aku akui. Akan kukurangi. Tapi kalimatmu barusan juga ikut menjelaskan kalau kau juga begadang, makanya bisa lihat statusku."

"Hahaha, benar juga."

Mereka masih bisa bercanda, masih bisa tertawa. Tapi entah kenapa, setiap kali percakapan mereka selesai, Ino selalu merasa aneh.

Ada sesuatu yang berbeda.


Ino menatap layar ponselnya sejenak saat mendengar notifikasi pesan.

Di sana masih terpampang pesannya pada Naruto tadi pagi.

06:47 AM –Naruto?
06:49 AM –Kau sudah bangun?

Dan barusan Naruto baru membalasnya.

08:12 AM – Maaf, tadi pagi aku masih tidur. Ada celah di sistem yang harus segera diperbaiki semalam.

Ia membaca pesan itu beberapa kali, lalu menghela napas. Tidak ada alasan untuk tidak membalas sekarang, tapi… apa yang harus ia katakan?

Akhirnya, Ino hanya meletakkan ponselnya kembali di meja, di antara tumpukan dokumen dan katalog desain. Ia tidak punya waktu untuk memikirkan hal ini sekarang.

Ino tahu ini bukan salah Naruto. Ia yang berubah. Ia yang semakin sibuk.

Ia juga sadar kalau Naruto tidak pernah mengeluh tentang ini. Mungkin karena ia tahu Ino sedang mengejar mimpinya. Mungkin karena ia ingin memberikan ruang.

Tapi, Ino juga tahu…

Naruto tidak bisa selamanya bersikap seperti ini.

Ino lupa kapan mereka mengobrol lama di chat, ia mengambil kembali ponsel. Jemarinya menggulir riwayat pesan mereka yang terakhir.

Ia melihat rentetan pesan dari Naruto yang hanya ia balas sepenggal-sepenggal.

"Maaf, aku sibuk hari ini."
"Lagi meeting, nanti kubalas ya."
"Besok ada event, aku harus siap-siap."

Dulu, setiap kali mereka berkirim pesan, percakapan akan mengalir panjang, penuh canda tawa. Kadang, salah satu dari mereka yang mengulur waktu hanya agar pembicaraan tidak cepat berakhir.

Sekarang? Semuanya terasa lebih… hambar. Lebih terasa seperti sebuah formalitas saja.

Dan yang paling menyakitkan…

Ia sadar, pesan-pesan itu bukan sekadar alasan karena sibuk.

Terkadang, ia memang tidak tahu harus membalas apa.

Setiap kali ponselnya berbunyi dengan nama Naruto di layar, hatinya berdebar aneh.

Bukan karena senang.

Tapi karena bingung.

Mereka jarang melakukan panggilan video lagi. Bahkan, ada hari-hari di mana mereka sama sekali tidak berkomunikasi.

Dulu, mereka bisa bicara berjam-jam. Sekarang? Kadang hanya pesan singkat.

Dan Naruto tidak pernah menuntutnya. Tidak pernah bertanya kenapa.

Namun justru karena itulah Ino merasa semakin bersalah.

Ia ingin berpikir bahwa ini hanya fase. Bahwa ketika butik sudah stabil, semuanya akan kembali seperti dulu.

Tapi apakah benar begitu?

Apa semua ini hanya sementara?

Atau… apakah ia memang perlahan mulai melepaskan Naruto tanpa sadar?

Ino menggigit bibirnya.

Tidak. Ia tidak mau berpikir seperti itu.

Ia masih peduli pada Naruto.

Bukan?

Ino menarik napas panjang dan menghela napas berat.

Pikirannya terlalu penuh untuk memikirkan ini sekarang.

Ia menutup ponselnya, lalu kembali fokus pada dokumen di depannya.

Tapi jauh di dalam hati, sesuatu tetap mengganggunya.

Jarak itu nyata.

Dan semakin lama, semakin sulit untuk mengabaikannya.


Ino berdiri di depan cermin besar di ruang belakang butik, merapikan setelan putih elegannya. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena gugup, tetapi karena antusiasme yang sulit ia sembunyikan.

Hari ini adalah hari besar.

Setelah bertahun-tahun mempersiapkan diri, akhirnya ia resmi meluncurkan Yamanaka Boutique, butik pribadinya yang beroperasi langsung di rumah lamanya di Konoha. Tempat yang dulu penuh kenangan masa kecil kini telah berubah total menjadi butik yang elegan, mencerminkan visi dan kerja kerasnya selama ini.

"Ino, semuanya sudah siap," suara Ryo terdengar dari ambang pintu.

Ino menoleh dan tersenyum tipis. "Bagaimana tanggapan tamu-tamu undangan?"

Ryo menyelipkan tangannya ke saku celana. "Mereka terkesan. Banyak investor lokal yang tertarik. Ini lebih dari sekadar butik, Ino. Kau menciptakan tren baru di Konoha."

Mendengar itu, Ino menghela napas lega. Semua kerja kerasnya tidak sia-sia.

Mereka berjalan keluar ke area butik. Ruangan itu dipenuhi tamu, rekan bisnis, media, dan beberapa wajah familiar dari dunia fashion. Ino melihat ibunya sedang berbincang dengan beberapa pengusaha tekstil. Butik ini bukan hanya tempat berjualan pakaian, tetapi juga pusat desain dan konsultasi fashion. Konsepnya adalah custom fashion, di mana pelanggan bisa mendesain sendiri atau memilih dari koleksi eksklusif yang Ino buat.

Salah satu tamu datang menghampiri. "Nona Yamanaka, desain koleksi ini benar-benar unik. Apa inspirasi Anda?"

Ino tersenyum profesional, sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti ini. "Saya ingin menciptakan sesuatu yang merepresentasikan elegansi tanpa kehilangan sentuhan khas Konoha."

Saat ia sedang berbincang, matanya tanpa sadar melirik ke arah pintu.

Naruto.

Ia mengenakan polo shirt hitam dan chinos, tampak sedikit santai dibandingkan tamu lainnya yang mayoritas mengenakan pakaian formal. Sejenak, perasaan hangat muncul di dadanya. Ia tahu Naruto pasti datang.

Namun, sesuatu terasa berbeda.

Mereka sudah lama tidak bertemu, dan ada jarak yang lebih nyata daripada sekadar fisik. Ino tahu Naruto mungkin merasa sedikit canggung di tempat ini, dan ia tidak ingin membuatnya semakin tidak nyaman.

Ino melangkah mendekat. "Hei," sapanya dengan senyum lembut.

Naruto membalas senyum itu, tetapi tidak sehangat dulu. "Butikmu keren. Selamat atas pembukaannya."

"Terima kasih." Ino menyilangkan tangannya, mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk mengobrol seperti biasa. "Aku tidak menyangka kau akan datang."

Naruto mengangkat bahu. "Aku di Konoha, jadi sekalian mampir."

Jawaban itu membuat dada Ino sedikit sesak, tetapi ia tidak menunjukkannya.

Mereka sempat mengobrol singkat, tapi tidak seperti dulu. Percakapan mereka kini lebih terasa formal. Sebelum sempat berbicara lebih banyak, Ryo datang menghampiri.

"Ino, aku sudah atur meeting dengan brand lokal untuk kolaborasi. Nanti kita bahas detailnya."

Naruto menoleh ke arah Ryo, lalu kembali menatap Ino.

"Aku harus kerja," kata Ino dengan nada menyesal. "Kita bertemu lagi malam nanti?"

Naruto diam sejenak sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Oh nggak apa-apa, tidak perlu. Aku cuma mampir sebentar kok sambil menemui Ibu di Konoha."

Ino terdiam, sedikit terkejut dengan jawaban Naruto.

Ia pikir… dengan kedatangannya ke butik, Naruto ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya.

Ia tahu dirinya sibuk, ia tahu hari ini bukan momen terbaik untuk berbincang lama. Tapi ia benar-benar berharap Naruto bisa mengerti dan bersedia menemuinya nanti malam, saat semuanya sudah lebih tenang.

Tapi ternyata, Naruto memilih untuk tidak melakukannya.

Untuk pertama kalinya, Ino merasakan ada jarak yang nyata di antara mereka—bukan hanya karena kesibukan, tetapi karena ada sesuatu yang berubah dalam cara Naruto menanggapinya.

Dulu, Naruto mungkin akan menunggu, atau setidaknya berusaha mencari waktu lain.

Tapi kali ini, ia justru mundur.

Dan entah kenapa, itu lebih menyakitkan daripada sekadar tidak punya waktu.

Ino mengangguk, tetapi ada perasaan sakit di dadanya.

Naruto lalu melangkah pergi, meninggalkan butik yang seharusnya menjadi awal baru bagi dirinya.

Namun bagi Ino, kepergian Naruto justru terasa seperti akhir dari sesuatu yang dulu mereka miliki.


Ponselnya bergetar di meja, menampilkan pesan singkat dari Naruto.

"Pagi, sudah sarapan?"

Ino menatap layar beberapa detik, lalu meletakkannya kembali.

Nanti saja, pikirnya.

Namun, ia tahu betul kalau "nanti" sering kali berubah menjadi "lupa".

Awalnya, hanya hitungan jam yang memisahkan mereka dalam membalas pesan. Lalu, menjadi sehari. Dari sehari berubah menjadi beberapa hari. Hingga tanpa sadar, komunikasi mereka mulai terputus dari hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, dan bulan menjadi tahun.

Bukan berarti ia tidak peduli. Justru sebaliknya. Tapi setiap kali ia ingin membalas, ada rasa ragu yang mengganjal.

Apa yang harus ia katakan?

Bagaimana ia bisa berbicara dengan Naruto seolah semuanya masih sama, padahal jelas tidak?

Bagaimana ia bisa membalas tanpa terdengar canggung?

Makin lama, makin sulit untuk memulai.

Apa lebih baik memang seperti ini?

Tetapi, jika memang lebih baik, kenapa perasaan ini terasa begitu menyakitkan?

Ino menghela napas panjang, meletakkan ponselnya di meja kerja berbahan marmer putih yang mengkilap. Cahaya lampu gantung kristal di atasnya memantulkan bias cahaya ke permukaan, menambah kesan elegan di ruangan itu.

Ruang kerjanya adalah perpaduan sempurna antara modern dan klasik, mencerminkan gaya butik yang ia bangun sejak dua tahun lalu.

Di belakangnya, sebuah rak besar berisi koleksi fashion book dari berbagai desainer ternama, bersanding dengan pot-pot kecil berisi tanaman hias yang memberikan sentuhan alami. Di satu sudut ruangan, ada sofa beludru berwarna biru navy dengan meja kaca kecil di depannya, tempat ia biasa menerima tamu-tamu penting atau sekadar beristirahat di sela kesibukan.

Salah satu sisi dinding dipenuhi dengan jendela kaca besar yang menghadap ke jalan utama Konoha. Dari sini, ia bisa melihat kesibukan kota, lalu-lalang orang yang keluar masuk butik, serta papan nama "Yamanaka Boutique" yang berdiri megah dengan lampu emas yang menyala lembut.

Semuanya terasa seperti mimpi yang menjadi nyata.

Dulu, tempat ini hanyalah rumah lamanya yang kosong dan penuh kenangan. Kini, butik miliknya sudah menjadi salah satu yang paling berkembang di industri fashion Konoha, bahkan terkenal hingga ke luar kota. Dalam dua tahun sejak launching, ia berhasil menciptakan brand dengan identitas kuat, dikenal karena desainnya yang elegan dan premium.

Setiap harinya, jadwalnya penuh dengan meeting bersama supplier, desainer, dan tim pemasaran. Setiap koleksi baru yang ia rancang selalu menjadi perbincangan di kalangan pelanggan setianya. Ia bekerja keras untuk sampai di titik ini, memastikan bisnisnya terus berkembang.

Tetapi, di antara semua kesuksesan ini, kenapa ada bagian dari dirinya yang terasa kosong?

Matanya kembali melirik ponsel di meja. Pesan dari Naruto masih belum ia balas.

Dulu, ia selalu menunggu-nunggu pesan darinya. Sekarang?

Ia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa.

Mungkin, dunia mereka memang sudah terlalu jauh berbeda…


Suatu sore, suara ketukan terdengar di pintu ruang kerja Ino sebelum akhirnya terbuka. Seorang pria bertubuh tegap dengan rambut oranye pendek melangkah masuk, mengenakan kemeja hitam rapi dengan lengan digulung hingga siku. Fu Yamanaka—orang kepercayaan ibu Ino yang kini ditugaskan untuk membantunya mengelola butik.

"Ino-san, ada paket untukmu," katanya, menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang.

Ino mengerutkan kening. Ia tidak ingat memesan sesuatu. Dengan sedikit penasaran, ia mengulurkan tangan, menerima kotak itu, lalu membuka tutupnya.

Seketika, jantungnya berdetak lebih cepat.

Di dalamnya, terdapat sebuah pot mawar hitam.

Tangannya terhenti di atas kelopak bunga itu, mengenali simbolismenya dengan sangat baik.

Mawar hitam… simbol perpisahan, kehilangan, atau akhir dari sesuatu yang berharga.

Dan di sana, di bagian bawah kotak, tertulis nama pengirimnya: Naruto Uzumaki.

Ino menelan ludah. Tangannya menggenggam erat sisi kotak, seolah ingin memastikan ini nyata.

Perasaan aneh menyerangnya—sebuah kesadaran yang menyakitkan.

Naruto… akhirnya menyerah?

Setelah bertahun-tahun mempertahankan komunikasi, menunggu, berharap… apakah ini caranya untuk mengatakan bahwa semuanya sudah selesai?

Dadanya terasa sesak. Entah kenapa, meskipun selama ini ia selalu berusaha mengabaikan perasaan itu, kali ini rasa sakitnya terasa nyata.

Sebuah lubang kosong di dalam hatinya semakin melebar.

Fu memperhatikan ekspresi Ino yang tiba-tiba berubah. "Ada sesuatu yang salah?" tanyanya dengan nada profesional, tapi ada sedikit kekhawatiran di matanya.

Fu masih berdiri di dekatnya, menunggu respons. Namun, Ino hanya menggelengkan kepala cepat. "Tidak, tidak apa-apa. Terima kasih, Fu."

Pria itu tidak banyak bertanya. Ia hanya mengangguk sebelum kembali keluar, meninggalkan Ino dengan pikirannya yang kini berantakan.

Ino seharusnya bahagia sekarang. Ia telah mendapatkan mimpinya. Butiknya berkembang pesat, namanya dikenal di dunia fashion, dan usahanya terus maju tanpa hambatan.

Tetapi kenapa… ia merasa kehilangan sesuatu yang lebih penting?

Kenapa, di puncak kesuksesannya, ada bagian dari dirinya yang terasa kosong?

Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya dan mencari nomor Naruto.

Ia mencoba menghubunginya, tapi tidak tersambung.

Dua panggilan… tiga panggilan… lima panggilan. Ia mencoba lagi, tetapi tetap sama.

Tidak tersambung.

"Ino-san, meeting sebentar lagi dimulai," suara seorang pegawainya terdengar dari ambang pintu, membuyarkan lamunannya.

Ino menggigit bibirnya, menatap layar ponselnya yang tetap sunyi.

Naruto… kau di mana?

Kenapa saat aku akhirnya ingin bicara, kau malah pergi?

Ia memejamkan mata sesaat, mencoba menenangkan diri.

Ia tidak bisa membiarkan emosinya mengganggu pekerjaannya.

Tapi kali ini, perasaan gelisah itu tidak mau pergi.


Ino sedang duduk di meja kerjanya, meninjau laporan keuangan dan strategi pemasaran terbaru. Ia mencoba tetap fokus, tetapi pikirannya terus melayang ke satu hal.

Sebuah pot berisi mawar hitam yang dikirim Naruto.

Setiap kali matanya menangkap bunga itu, dadanya terasa sesak. Nama pengirim yang tertera pada paket itu masih terpatri di pikirannya, membuat perasaan bersalah dan nyeri bercampur menjadi satu.

Ia tahu apa arti bunga itu.

Mawar hitam melambangkan perpisahan. Sebuah simbol akhir dari sesuatu yang dulu berharga.

Jadi… ini keputusan Naruto?

Ia benar-benar melepaskannya?

Ino menghela napas panjang, menatap ponselnya di meja. Sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi Naruto sejak menerima bunga itu, tapi tidak pernah tersambung. Bahkan ia sudah mencoba bertanya kepada adik kembarnya, Naruko, barangkali ia tahu keberadaannya. Namun hasilnya nihil.

Ino mencoba menghubungi Naruto lagi.

Tidak ada nada sambung. Ponsel Naruto sedang di luar jangkauan.

Entah sengaja dimatikan.

Perasaan gelisah semakin menghantuinya. Kenapa Naruto tidak bisa dihubungi? Apa ini kesengajaan? Apa Naruto benar-benar tidak ingin berbicara dengannya lagi?

Ino menggigit bibirnya. Ia tidak bisa menerima ini begitu saja. Ia butuh jawaban.

Karena penasaran, ia membuka media sosial Naruto, berharap bisa menemukan sesuatu. Dan di sanalah ia melihatnya.

Naruto.

Di sebuah acara teknologi.

Diwawancarai dalam sebuah kanal TV nasional.

Jari-jarinya membeku di layar ponsel, matanya terpaku pada sosok pria itu—mengenakan jas navy yang membuatnya terlihat lebih berwibawa, lebih percaya diri, lebih… berbeda dari Naruto yang dulu ia kenal.

Pria itu tidak lagi sama.

Raut wajah itu… Naruto benar-benar berubah.

Suara reporter menarik perhatiannya.

"Menurut Anda, lebih hebat mana: manusia atau AI?"

Tanpa ragu, Naruto menjawab dengan nada tegas.

"Jelas AI lebih efisien daripada manusia. Bahkan dibanding desainer atau profesi lain yang berbasis kreativitas."

Darah Ino langsung berdesir.

Apa?

Matanya membelalak.

Apa Naruto baru saja mengatakan bahwa AI lebih efisien dari manusia? Bahkan dari desainer?

Jadi, ini pendapat Naruto sekarang?

Pria yang dulu selalu mendukungnya. Pria yang pernah berdiri di sampingnya, menyemangatinya untuk membangun bisnis fashion impiannya. Sekarang, pria itu mengatakan AI lebih baik dari profesinya?

Dada Ino terasa panas.

Tiba-tiba, semua kerja kerasnya terasa disepelekan.

Ia sudah berjuang mati-matian membangun brand fashionnya. Menjaga keunikan desainnya, mempertahankan sentuhan personal dalam setiap koleksi. Ia ingin membuktikan bahwa kreativitas manusia adalah sesuatu yang tak tergantikan.

Dan sekarang Naruto, orang yang paling ia percaya, justru berkata seperti ini di depan jutaan orang?

Tangan Ino mengepal kuat.

Namun, sebelum emosinya meledak, ia melihat Naruto buru-buru mengoreksi.

"Ah, tunggu, maksudku bukan begitu."

Naruto lalu menjelaskan lebih lanjut—tentang bagaimana AI hanya membantu dalam analisis tren, bukan menggantikan kreativitas manusia. Bagaimana AI tetap membutuhkan sentuhan manusia untuk memberikan nilai lebih.

Tapi bagi Ino… ucapan awalnya sudah cukup untuk menusuk.

Pikiran Ino berkecamuk.

Belum juga ia menerima jawaban soal mawar hitam yang dikirim Naruto, sekarang ia malah mendapat tamparan lain.

Perasaan yang ia pendam selama ini—tentang bagaimana Naruto semakin menjauh, tentang bagaimana ia merasa diabaikan, tentang bagaimana Naruto seolah tidak lagi menjadi bagian dari hidupnya—semuanya pecah saat ini.

Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Tangannya langsung meraih ponsel, menekan nomor Naruto lagi. Nada sambung tidak terdengar.

Sekali lagi.

Masih sama. Tidak tersambung.

Ino merasakan amarah dan frustrasi menumpuk di dadanya. Naruto menghindarinya?

Ia tidak bisa diacuhkan seperti ini. Tidak setelah semua yang terjadi.

Tanpa berpikir panjang, Ino meraih kunci mobilnya dan berjalan cepat menuju pintu.

Tujuannya sudah jelas.

Ibu Kota.

Naruto harus memberinya jawaban.

Sekarang juga..

.

.

To be continued…