.
Unspoken
.
Disclaimer: I do not own Naruto characters
Naruto © Masashi Kishimoto
Chapter 14: Investigating
Ino menekan pedal gas lebih dalam, pikirannya penuh dengan berbagai emosi yang bercampur aduk. Rasa marah, kecewa, bingung, dan—di atas segalanya—keinginan untuk segera meminta penjelasan dari Naruto.
Seharusnya ia bisa mengabaikan ini, seharusnya ia bisa menunggu waktu yang tepat, tapi melihat mawar hitam itu, mendengar kata-kata Naruto di wawancara, dan menyadari bahwa Naruto menghilang begitu saja tanpa penjelasan membuatnya tak bisa tinggal diam.
Ponselnya bergetar di dasbor, menampilkan nama Fu Yamanaka di layar.
Ino menghela napas sebelum mengangkatnya dengan satu tangan. "Halo, Fu?"
"Ino-san," suara Fu terdengar stabil seperti biasa, tetapi ada sedikit nada waspada. "Aku baru dengar dari pegawai kalau kau tiba-tiba pergi. Kau sedang di mana?"
"Aku sedang di jalan, menuju ibu kota," jawab Ino singkat.
Fu terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan. "Menemui Naruto?"
Ino menggigit bibir, tangannya mencengkeram setir lebih erat. "Ya, aku harus menemui Naruto. Ada hal penting yang harus kubicarakan."
Kali ini, hening yang terjadi lebih lama.
Fu tentu saja tahu bagaimana hubungan mereka selama ini. Ia bukan sekadar tangan kanan di butik, tapi juga seseorang yang dipercaya oleh keluarga Yamanaka untuk mengawasi Ino—dan itu termasuk memahami keadaan emosinya.
Akhirnya, Fu menghela napas pelan. "Baiklah. Aku akan mengurus semuanya di sini."
"Fu…"
"Kau tidak perlu khawatir tentang promo besok," potong Fu cepat, suaranya penuh ketegasan. "Aku akan mendelegasikan tugas pemasaran kepada Santa dan Ryo. Santa bisa menangani presentasi produk, sementara Ryo mengurus media dan publikasi. Kita tidak bisa membatalkan acara, tapi aku pastikan semuanya berjalan sesuai rencana."
Santa Yamanaka adalah Manajer Operasional dan Pemasaran di Butik Yamanaka. Ia memiliki tubuh ramping dengan kulit cerah dan mata gelap yang sedikit sipit. Rambutnya panjang berwarna auburn (cokelat kemerahan) yang diikat dalam kuncir kuda tinggi, mencapai punggungnya. Sebagai Manajer Operasional dan Pemasaran di Butik Yamanaka, ia bertanggung jawab atas kelancaran operasional harian butik, memastikan ketersediaan stok barang, menyusun strategi pemasaran, dan menjaga hubungan baik dengan pelanggan. Salah satu stafnya adalah Ryo yang mengurusi keuangan, membuat konten promo dan media sosial.
Mata Ino sedikit membulat pada sikap Fu yang cekatan. "Kau sudah menyiapkan rencana cadangan?"
"Aku hanya mengantisipasi, Ino-san," jawab Fu tenang. "Aku sudah lama bekerja dengan keluarga Yamanaka. Aku tahu kapan sesuatu lebih penting daripada bisnis."
Dada Ino terasa sedikit lebih ringan mendengar itu. Ia tahu Fu adalah orang yang bisa ia andalkan, tapi tetap saja, tidak mudah meninggalkan butik di momen seperti ini.
"Terima kasih, Fu. Aku benar-benar menghargainya. Maaf merepotkanmu."
"Fokuslah pada urusanmu dulu," kata Fu, suaranya lebih lembut dari sebelumnya.
Ino mengangguk meskipun Fu tidak bisa melihatnya.
Begitu panggilan berakhir, Ino menatap lurus ke jalan di depannya.
Naruto, kau tidak bisa mengacuhkanku seperti ini. Aku ingin jawaban sekarang juga.
Begitu mobilnya berhenti, Ino langsung keluar tanpa ragu. Tangannya meraih gerbang besi hitam yang sudah familiar dan mendorongnya terbuka—tanpa peduli seberapa keras suaranya.
Namun langkahnya terhenti.
Kontrakan itu… kosong.
Dadanya terasa sesak saat ia berdiri di depan rumah ini. Sejenak, pikirannya kembali ke masa lalu—saat ia pertama kali melihat tempat ini. Kontrakan sederhana ini adalah tempat yang membuatnya dan Naruto kembali dekat setelah sekian lama berpisah. Di sinilah mereka berbagi banyak momen bersama; bercanda di dapur, duduk berdua di teras saat hujan, bahkan sekadar mengobrol di ruang tamu hingga larut malam.
Rumah ini… adalah bagian dari mereka.
Dengan perasaan tak menentu, Ino melangkah ke teras, meraih gagang pintu—terkunci. Ia mengintip dari sela gorden ruang tamu yang sedikit terbuka, dan yang ia lihat hanya ruangan yang nyaris tak berisi apa-apa.
Tidak ada sepatu di dekat pintu. Tidak ada jaket Naruto yang biasanya tergantung di gantungan. Bahkan di meja yang biasanya penuh dengan tumpukan dokumen, kini kosong melompong.
Pikiran Ino mulai berputar.
Ia berlari ke sisi kontrakan, ke arah taman kecil tempat ia dulu merawat bunga-bunga. Tapi apa yang ia lihat justru membuat dadanya mencelos.
Tanaman itu… hilang.
Monstera yang dulu ia rawat dengan hati-hati? Tidak ada.
Pohon lemon kecil yang dulu ia hadiahkan untuk Naruto? Hilang.
Mawar hitam yang mereka rawat bersama? Itu jelas sudah tidak ada.
Anggrek yang pernah ia beli bersama Naruto? Tak terlihat.
Lavender di pot tanah liat yang selalu memberi aroma menenangkan? Juga lenyap.
Taman ini, yang dulu penuh warna dan kehidupan, kini kosong. Tanahnya hanya tersisa sedikit bekas tanaman yang dicabut. Seolah Naruto tidak ingin meninggalkan jejak apa pun di tempat ini.
Hatinya mencelos.
Naruto benar-benar pergi.
Tapi… ke mana?
Ino menatap sekeliling dengan linglung. Ia tidak tahu harus ke mana selanjutnya. Napasnya berat saat ia akhirnya duduk di bangku sudut taman—tempat favoritnya dan Naruto untuk duduk sore-sore sambil menikmati kopi. Ia menatap tanah kosong di depannya, membayangkan sosok Naruto yang dulu sering duduk di sampingnya, tertawa kecil sambil mengaduk kopinya.
Hening.
Yang tersisa sekarang hanya sepi.
Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya ia tersadar. Jika Naruto tidak ada di sini… mungkin ia ada di kantornya.
Dengan cepat, ia meraih ponselnya dan mencari informasi terbaru tentang CampusLink. Namun, yang ia temukan justru sesuatu yang mengejutkan.
Nama perusahaannya… berubah?
Di situs resminya, tertulis nama baru: UTS – Uzumaki Tech Solutions.
Ino membelalakkan mata. Sejak kapan?
Tanpa pikir panjang, ia segera kembali ke mobilnya dan melesat menuju alamat kantor tersebut.
Bangunan itu berdiri megah di tengah pusat bisnis ibu kota. Modern, minimalis, dengan dinding kaca besar yang memantulkan cahaya matahari sore. Logo "Uzumaki Tech Solutions" terpampang jelas di bagian depan, mencerminkan perusahaan yang kini telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah Ino bayangkan.
Sejak kapan ini semua berubah?
Ino berdiri di trotoar sejenak, menatap gedung itu dengan campuran perasaan yang sulit dijelaskan. Ia tahu Naruto bekerja keras membangun startup-nya, tapi ia tidak pernah menyangka perkembangannya secepat ini. Dulu, Naruto hanyalah pemuda yang selalu sibuk di depan laptopnya, bekerja keras sendirian di dalam kontrakan kecil mereka. Dan sekarang? Ia telah menjadi pemimpin dari perusahaan teknologi besar.
Ada rasa bangga yang tiba-tiba menyelinap di hatinya… tapi juga sesal yang tak bisa ia abaikan.
Kapan terakhir kali aku benar-benar melihat perjalanan Naruto?
Pikirannya mulai berputar. Sejak pulang ke Konoha, ia selalu terjebak dalam kesibukan butik. Ia sibuk membangun bisnisnya, sibuk dengan dunia fashion, sibuk dengan target-targetnya… hingga tanpa sadar, ia tidak pernah benar-benar memperhatikan perjalanan Naruto.
Ia tidak pernah menengok kembali rumah kenangan mereka di ibu kota.
Ia tidak pernah sekalipun mampir ke kantor Naruto untuk sekadar menyemangatinya.
Bahkan, ia tidak pernah lagi melihat perkembangan Naruto di media sosial.
Ia terlalu tenggelam dalam dunianya sendiri, berpikir bahwa waktu akan menunggu mereka berdua untuk kembali seperti dulu. Tapi sekarang… sepertinya sudah terlambat.
Dengan langkah cepat, Ino masuk ke dalam gedung. Begitu melewati pintu otomatis, ia mendapati lobi yang luas dengan nuansa futuristik—dominan warna putih dengan sentuhan biru tua khas branding perusahaan. Langit-langit tinggi dengan pencahayaan LED modern, layar digital besar yang menampilkan inovasi terbaru perusahaan, serta barisan pegawai yang sibuk berlalu-lalang dalam balutan pakaian smart casual.
Naruto benar-benar sudah melangkah jauh.
Ia melangkah ke meja front office, seorang resepsionis menyambutnya dengan ramah.
"Selamat datang di UTS. Ada yang bisa saya bantu?"
Ino menarik napas cepat. "Aku ingin bertemu Naruto."
Resepsionis itu tersenyum sopan, lalu mengecek sesuatu di komputernya. "Maaf, Nona… tapi Tuan Uzumaki sedang cuti sejak seminggu lalu. Apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya?"
Ino mengernyit. "Cuti?"
Resepsionis mengangguk. "Benar, beliau tidak ada di kantor. Mungkin saya bisa membantu menghubungi seseorang dari manajemen?"
"Dimana rumahnya?"
Resepsionis terdiam, lalu tersenyum sedikit canggung. "Maaf, kami tidak bisa memberikan informasi pribadi karyawan tanpa izin."
Ino mengepalkan tangan, perasaannya semakin tak menentu.
Naruto… bahkan tidak ada di sini?
"Apa ada masalah?"
Sebuah suara familiar terdengar di belakangnya.
"Ino?"
Ino menoleh dan mendapati seorang wanita berambut pirang berdiri di dekat meja resepsionis. Wanita itu mengenakan kemeja putih santai yang diselipkan rapi ke dalam rok pensil hitam, memberi kesan profesional namun tetap kasual.
Moegi.
Tatapan mereka bertemu, dan dalam sepersekian detik, keterkejutan tersirat di mata keduanya. Namun, baik Ino maupun Moegi tidak menunjukkannya dengan jelas.
Mereka tidak terlalu dekat.
Dulu, di masa kuliah, Moegi pernah menyukai Naruto. Semua orang di kampus tahu itu. Dan Moegi juga tahu bahwa Ino adalah penghalang terbesar dalam kedekatannya dengan Naruto. Meskipun saat itu Naruto dan Ino tidak memiliki hubungan yang jelas, kehadiran Ino selalu cukup untuk membuat Moegi memilih untuk mundur.
Sejak saat itu, hubungan mereka tidak pernah benar-benar baik. Mereka tidak pernah bertengkar secara langsung, tetapi selalu ada sesuatu di antara mereka—sebuah batas tak terlihat yang sulit ditembus.
Moegi menghela napas, lalu mengangkat dagunya sedikit. Nada suaranya terdengar netral, hampir profesional.
"Ayo ikut aku ke ruanganku," katanya singkat.
Ino terdiam sejenak. Bagian dalam dirinya merasa enggan untuk mengikuti Moegi—orang yang dulu diam-diam menyimpan perasaan kepada Naruto. Tapi di sisi lain, ia tidak punya pilihan.
Ia membutuhkan jawaban.
Tanpa banyak bicara, Ino mengangguk dan mengikuti Moegi menuju ruangan yang berada di sisi dalam kantor.
Ino duduk di ruangan Moegi, menyapu pandangan sekilas ke sekeliling.
Ruangan itu tidak terlalu formal—seperti kebanyakan kantor startup modern. Ada meja kerja dengan beberapa tumpukan dokumen, tapi juga ada sofa kecil di sudut ruangan, rak buku dengan beberapa koleksi novel, serta action figure yang tertata rapi.
Namun, Ino tidak punya waktu untuk mengamati lebih lama.
Suasana di dalam ruangan terasa sedikit tegang. Moegi duduk di kursinya, menyilangkan tangan sambil menatap Ino dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Aku tidak suka padamu," kata Moegi tiba-tiba, membuka percakapan dengan nada datar.
Ino mengangkat alis, sedikit terkejut dengan kejujuran itu.
Moegi melanjutkan sebelum Ino sempat berbicara. "Dari dulu, di kampus, aku tidak pernah benar-benar menyukaimu. Aku tahu kau tidak melakukan apa-apa secara langsung, tapi keberadaanmu sudah cukup untuk menghalangi orang lain mendekati Naruto."
Ino terdiam.
Namun, ia bukan tipe yang bisa ditekan begitu saja. Ia mengangkat dagunya sedikit, lalu berkata, "Kalau kau menyukai Naruto, kenapa tidak kau ungkapkan saja dulu?"
Moegi terkekeh kecil, tatapannya tajam. "Seharusnya perkataan itu kau arahkan pada dirimu sendiri, Ino."
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang Ino kira.
Ia menggigit bibir, merasa dadanya sedikit sesak. Tapi ia tidak ingin terlihat goyah. Ia menatap balik Moegi dengan intensitas yang sama.
"Jadi kau ada di sini, itu berarti kau masih menyukai Naruto? Kau bekerja di sini sengaja ingin dekat Naruto?"
"Aku disini karena kemampuanku! Naruto sendiri yang merekrutku secara profesional!"
Moegi mendengus, lalu menyandarkan diri ke kursinya dengan kesal.
Tatapan Moegi kemudian beralih ke dinding kaca ruangannya, ke pemandangan pegawai-pegawai yang sedang bekerja di depan laptop mereka.
"Dulu, ya, aku memang menyukai Naruto. Tapi sekarang? Aku menghormatinya sebagai seorang pemimpin dan sahabat yang ingin aku lindungi. Aku di sini karena aku mampu. Aku di sini karena aku berguna dan ingin memajukan perusahaan ini. Tidak ada urusannya dengan perasaan pribadiku."
Ino mengepalkan tangannya di pangkuannya. Ia ingin membalas kembali tapi langsung dipotong oleh Moegi lagi.
"Aku tidak suka caramu memperlakukan Naruto, Ino. Kau egois." Moegi menatapnya dengan tajam. "Kau membiarkannya dalam ketidakpastian dan ketidakjelasan. Dan pada akhirnya, kau membuatnya kecewa."
Ino merasa jantungnya berdebar keras. Ia tahu, di balik kata-kata Moegi, ada kebenaran yang tidak bisa ia bantah.
Moegi melanjutkan, suaranya lebih tenang tetapi tetap tegas. "Untungnya, Naruto bukan tipe yang melampiaskan rasa sakitnya ke arah yang salah. Ia menggunakan itu sebagai bahan bakar untuk membangun sesuatu yang besar. Perusahaan ini."
Ino mengepalkan tangannya lebih erat.
"Kalau kau hanya ingin menghakimiku dan tidak mau memberitahu di mana Naruto, aku akan mencarinya sendiri," katanya akhirnya, suaranya lebih dingin dari sebelumnya.
Moegi tidak bergeming. Ia hanya menatap Ino dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan.
"Aku juga tidak tahu di mana dia," katanya akhirnya.
Ino menyipitkan mata. "Jangan bohong."
"Aku tidak bohong, Ino," Moegi bersandar ke kursinya, menatapnya serius. "Naruto sedang cuti. Dan ini pertama kalinya ia mematikan alat komunikasi saat cuti. Biasanya sebagai seorang CEO, meski sedang cuti dia selalu memantau kinerja kami minimal 2 hari sekali."
Moegi menghela napas, lalu menatapnya dengan sorot mata yang lebih lembut.
"Tapi ini sudah lebih dari seminggu. Perusahaan memang tetap berjalan normal tanpa kehadirannya. Tapi aku merasa perusahaan ini seperti tak bernyawa. Kami khawatir pada kondisi mentalnya."
Ino terdiam. Ada rasa sesak yang mulai memenuhi dada Ino. Salah satu alasan Naruto menjadi seperti ini… adalah dirinya.
Moegi menghela napas pelan, lalu meraih sebuah dokumen dari meja kerjanya. Ia membukanya, lalu menatap Ino dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Ino menatapnya penasaran. "Itu apa?"
Moegi menatap dokumen itu sebentar sebelum meletakkannya kembali. "Saat mengajukan cuti kepadaku, ia pamit dalam kondisi yang murung. Bukan hanya itu, ia juga… Naruto menarik semua tabungannya."
Ino mengerutkan kening. "Tabungannya?"
Moegi menyandarkan diri ke kursinya. "Semua pendapatan yang ia kumpulkan sejak awal, ia tarik dalam satu transaksi besar. Pendapatan sejak jadi freelance, gaji sebagai CEO selama empat tahun terakhir, bonus, dividen dari UTS, investasi pribadinya… semuanya."
Jantung Ino berdegup kencang. "Untuk apa?"
"Itu dia." Moegi menatapnya dengan sorot mata serius. "Tidak ada yang tahu untuk apa. Dia tidak mengatakan apa pun pada kami, bahkan pada Chojuro sekalipun."
Ino mulai merasakan kegelisahan yang semakin kuat dalam dirinya.
Naruto bukan tipe orang yang melakukan sesuatu tanpa alasan.
Jika dia menarik semua tabungannya… itu berarti dia sudah memiliki rencana yang matang.
Dan jika Moegi, orang yang bekerja paling dekat dengannya, tidak tahu apa-apa… maka ini benar-benar sesuatu yang serius.
Moegi mengamati ekspresi Ino sebelum akhirnya berkata, "Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian sebenarnya, dan aku tidak akan ikut campur. Tapi satu hal yang pasti, jika kau bisa mengemballikan Naruto seperti sedia kala aku akan membantu."
Moegi menyerahkan bukti penarikan dana Naruto, lokasi GPS terakhir Naruto saat melakukan panggilan kepada Moegi, dan kalender bertuliskan "Next Year, Our Dream" yang dicoret, dikoreksi menjadi My Dream.
Ino membawa bukti-bukti itu dan pamit. Ia tak berjanji bisa menemukan Naruto, tapi ia bilang akan berusaha karena ia pun punya banyak hal yang ingin ditanyakan kepada Naruto.
Ino keluar dari gedung UTS dengan langkah cepat, napasnya sedikit berat. Percakapannya dengan Moegi tadi masih terngiang di kepalanya, tapi belum ada kesimpulan yang jelas. Naruto pergi, itu fakta. Tapi ke mana?
Ia masuk ke mobilnya dan menyalakan mesin, lalu meraih ponselnya. Diarahkannya navigasi ke lokasi terakhir GPS Naruto yang diberikan Moegi sebelum perangkatnya tidak lagi aktif.
Ino menatap layar ponselnya, melihat titik koordinat yang ditunjukkan GPS. Titik itu ternyata mengarah ke sebuah pintu tol yang mengarah ke luar kota. Tol ini bisa mengarah ke mana saja ke seluruh penjuru negeri. Disini jejak terakhir ponsel Naruto terdeteksi.
Ino menghentikan laju mobilnya dan menepi.
Hampir putus asa, Ino mendesah panjang. Apa Naruto benar-benar ingin menghilang sejauh itu?
Ia mengusap wajahnya, berusaha berpikir. Haruskah ia terus mengejar tanpa petunjuk yang jelas? Ataukah ia harus mundur?
Tidak! Aku tidak akan mundur!
Tangannya meraih sesuatu di kursi penumpang—sebuah kalender meja. Barang yang diambil Moegi dari ruang kerja Naruto dengan harapan ada petunjuk disana.
Di salah satu halaman, tertulis "OUR DREAM, NEXT YEAR!"berwarna hitam yang dicoret dengan spidol dengan warna berbeda. Lalu di atasnya dikoreksi menjadi tulisan "MY DREAM".
Ino menyipitkan mata, menyadari sesuatu. Ini bukan sekadar tulisan iseng. Ini ditulis di waktu yang berbeda. Ia membalik halaman kalender itu dan mendapati sesuatu yang lain.
Sebuah gambar rumah.
Detak jantungnya semakin cepat. Rumah impian?
Naruto… membeli rumah? Tapi di mana?
Pikirannya bekerja cepat, mengingat sesuatu.
Rumah impian. Tempat yang dulu mereka bicarakan…
Gunung!
Naruto pasti ada di gunung! Ya, tempat yang cocok untuk menenangkan pikiran!
Ino langsung meraih ponselnya, menekan kontak yang ia butuhkan.
Beberapa detik kemudian, panggilannya tersambung.
"Oi, Ino? Lama nggak ada kabar, nih." Suara Deidara terdengar di seberang, terdengar santai seperti biasa.
"Deidara, aku butuh bantuanmu," kata Ino tanpa basa-basi.
Nada suara Deidara langsung berubah serius. "Ada apa?"
Ino menelan ludah, pikirannya masih berkecamuk dengan semua informasi yang baru saja ia dapatkan dari Moegi. "Aku harus menemukan Naruto. Dia menghilang, pergi entah kemana. Tapi aku menduga ia pergi mendaki gunung sejak seminggu lalu. Kau punya nomor kontak atau grup berisi orang-orang basecamp semua gunung dengan ketinggian di atas 2000 meter? Bisa kau cek apakah nama Naruto ada di daftar pendaki yang naik dalam seminggu terakhir?"
Hening sesaat di seberang.
"Naruto? Menghilang?" Deidara terdengar tidak percaya. "Tapi, biasanya dia nggak pernah sendirian kalau naik gunung. Pasti dia akan mengabariku atau anak-anak lintas alam lain yang bisa bareng."
"Aku nggak tahu pasti, tapi dia sedang… seperti sengaja menjauh," kata Ino lirih. "Aku menduga dia membeli rumah di sekitar gunung agar bisa menenangkan diri. "
Deidara menghela napas. "Oke, semua gunung di atas 2000mdpl ya? Ada belasan gunung dengan ketinggian di atas 2000mdpl. Kasih gue waktu, gue coba cari tahu di grup dan menghubungi beberapa nomor basecamp yang gue kenal."
Deidara menutup telpon, membiarkan Ino berharap-harap cemas akan adanya informasi keberadaan Naruto. Ino menggigit bibirnya, tangannya mencengkeram erat kemudi mobilnya. Waktu terasa berjalan lambat. Ia hanya bisa menunggu.
Lima belas menit kemudian, ponselnya kembali bergetar.
"Dapat." Suara Deidara terdengar lebih serius dari sebelumnya. "Naruto terdaftar mendaki di Gunung Hoshigakure, 2900 mdpl, perbatasan ibu kota dan Konoha. Dia tercatat naik delapan hari lalu."
Jantung Ino mencelos.
"Lalu? Dia sudah turun belum?"
Hening.
"Itu dia, Ino," Deidara menghela napas. "Dia belum tercatat turun."
Ino merasakan dingin merayap ke seluruh tubuhnya. "Apa?"
"Gue udah tanya ke basecamp, mereka nggak punya catatan dia turun sejak hari pertama dia naik. Harusnya kalau dia cuma camping sebentar, dia udah turun lima atau empat hari lalu. Tapi kalau sampai seminggu... itu aneh."
Ino langsung menyalakan mesin mobilnya. "Aku ke sana sekarang."
"Ino, dengar," Deidara terdengar ragu. "Gue lagi di luar pulau, jadi nggak bisa nyusul. Tapi kalau lo benar-benar mau ke sana, pastikan lo nggak nekat. Lo harus minta bantuan ranger atau tim penyelamat kalau Naruto memang belum turun."
"Aku tahu," jawab Ino cepat. "Yang terpenting sekarang aku harus ke basecamp dulu mencari info yang lebih jelas."
Deidara menghela napas panjang. "Hati-hati, ya."
"Terima kasih, Deidara."
Ino mengakhiri panggilan dan langsung menginjak pedal gas.
Gunung Hoshigakure.
Naruto ada di sana.
Dan ia akan menemukannya.
Lampu-lampu kota mulai menyala di kaca spionnya, semakin lama semakin jauh tertinggal di belakang. Hanya ada jalan panjang yang membentang di hadapannya, menuju pegunungan tempat Naruto terakhir kali terlihat.
Hatinya berdebar tak karuan.
Naruto…
Kenapa dia tidak turun? Apa yang sebenarnya terjadi di atas sana?
Tangan Ino mencengkeram setir dengan erat, buku-buku jarinya memutih.
Sial. Kenapa semua ini terasa salah? Kenapa selama ini ia begitu sibuk hingga tidak menyadari sesuatu yang jelas-jelas terjadi pada Naruto? Kenapa baru sekarang ia menyadari betapa jauhnya jarak mereka?
Pikiran-pikiran itu berputar liar di kepalanya. Rasa bersalah menyesak di dada, bercampur ketakutan yang semakin besar.
Apa dia terluka?
Apa dia tersesat?
Atau…
Ino menggeleng cepat, menepis pikiran buruk yang tiba-tiba muncul. Tidak. Ini Naruto. Ia bukan orang ceroboh yang mudah melakukan kesalahan di gunung. Tapi tetap saja…
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Lalu pikirannya terlempar ke memori terakhirnya tentang Naruto. Wajahnya yang tetap tersenyum di depan butik, meskipun jelas ada kekecewaan di sana. Suaranya yang semakin datar setiap kali mereka berbicara di telepon. Dan akhirnya, mawar hitam dalam pot itu.
Seolah… perpisahan.
Seolah… itu adalah cara Naruto mengucapkan selamat tinggal.
"Berhenti, berhenti berpikir yang aneh-aneh, Ino," bisiknya pada diri sendiri, tapi suaranya terdengar goyah.
Ia menginjak pedal gas lebih dalam. Ia harus sampai di sana secepat mungkin. Jika sesuatu terjadi pada Naruto—
Tidak.
Ia tidak akan membiarkan pikirannya berkelana lebih jauh. Tidak ada yang terjadi pada Naruto. Tidak boleh terjadi apa-apa pada Naruto.
Tapi ketika ia akhirnya melihat plang besar bertuliskan BASECAMP GUNUNG HOSHIGAKURE, sesuatu di dalam dirinya terasa jatuh. Suasana di basecamp tampak biasa. Para pendaki baru saja turun, beberapa baru sampai di basecamp dan sedang bersiap-siap untuk mendaki besok dini hari. Tidak ada tanda-tanda kepanikan. Tidak ada yang terlihat sedang mencari seseorang yang hilang.
Ino turun dari mobil dengan napas memburu, langsung berjalan cepat ke arah pos pendaftaran. Tangannya mengepal. Setengah berharap, setengah takut akan jawaban yang akan ia dapatkan.
Ia menarik napas dalam, lalu berbicara.
"Aku ingin menanyakan seseorang yang naik ke gunung ini delapan hari lalu."
Petugas basecamp menoleh.
"Namanya Naruto Uzumaki."
Tatapan petugas berubah serius.
Dan saat itu, Ino tahu—
Sesuatu telah terjadi.
.
.
To be continued…
